- Beranda
- Komunitas
- Entertainment
- The Lounge
Inilah Ajaran Sunda Wiwitan, Aliran Kepercayaan Asli Sunda
TS
kutarominami69
Inilah Ajaran Sunda Wiwitan, Aliran Kepercayaan Asli Sunda
Bikin Gubernur Dedi Mulyadi Penasaran, Inilah Ajaran Sunda Wiwitan, Aliran Kepercayaan Asli Sunda
Tayang: Kamis, 1 Mei 2025 10:48 WIB
Penulis: khairunnisa | Editor: khairunnisa

Youtube channel Kang Dedi Mulyadi
AJARAN SUNDA WIWITAN: Tangkapan layar momen Dedi Mulyadi menyapa remaja penganut sunda wiwitan bernama Adit, disadur pada Kamis (1/5/2025). Mengenal ajaran sunda wiwitan yang belakangan disorot Gubernur Dedi Mulyadi. Sunda wiwitan ternyata merupakan aliran kepercayaan asli orang sunda.
A-A+
TRIBUNNEWSBOGOR.COM - Ajaran kepercayaan sunda wiwitan belakangan disorot Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi.
Tak hanya menyoroti, Dedi Mulyadi juga memuji penganut sunda wiwitan yang baru-baru ini ia temui.
Hal tersebut terlihat saat Dedi Mulyadi bertemu dengan siswa SMP 1 Panawangan, Ciamis bernama Adit yang mengakui aliran kepercayaannya adalah sunda wiwitan.
Dedi Mulyadi tampaknya kagum dengan Adit yang bisa hidup berdampingan dengan masyarakat agama lain di Ciamis.
Untuk diketahui, Adit tinggal di Dusun Susuru, Desa Kertajaya, Kecamatan Panawangan, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat.
"Adit nih keren, kamu agamanya apa?" tanya Dedi Mulyadi, dilansir TribunnewsBogor.com dari Youtube-nya, Kamis (1/5/2025).
"Sunda wiwitan," jawab Adit usai menyalami sang Gubernur.
"Wah hebat. Hidup berdampingan kan, enggak ada problem kan?" tanya Dedi lagi.
"Iya enggak ada," akui Adit.
Penasaran, Dedi pun bertanya soal aliran sunda wiwitan yang dianut Adit.
Diakui Adit, ajaran sunda wiwitan adalah warisan dari sang ayah.
"Ajaran dari papa sunda wiwitannya?" tanya Dedi Mulyadi.
"Iya," kata Adit.
"Berarti ngajarin ngejaga alam, lingkungan?" tanya Dedi lagi.
"Iya," pungkas Adit.
Tertarik dengan ajaran sunda wiwitan dan Dusun Susuru, Dedi mengaku akan mendatangi wilayah tersebut dalam waktu dekat.
"Di kampung susuru kan ada masjid, gereja, dan penganut wiwitan. Kalau penganut wiwitan kan enggak ada tempat ibadah kan, tempat ibadahnya semesta. Keren. Kata siapa Ciamis intoleran? Ciamis tuh contoh nyata toleransi di Indonesia," imbuh Dedi Mulyadi.
Mengenal sunda wiwitan
Penganutnya dipuji dan disorot Dedi Mulyadi, apa sebetulnya aliran sunda wiwitan?
Ditelusuri TribunnewsBogor.com dari berbagai sumber, sunda wiwitan merupakan aliran kepercayaan yang asli berasal dari sunda.
Terkait rincian sejarah dan pengertian sunda wiwitan, salah satu pengurus ajaran tersebut yakni Dewi Kanti sempat menjelaskannya dalam podcast Berbeda Tapi Bersama Habib Jafar.
Dewi Kanti yang kini menjabat sebagai girang pangaping alias pendamping komunitas di level pengurus adat mengungkap apa itu sunda wiwitan dari mulai sejarah hingga cara beribadah penganut sunda wiwitan.
Diungkap Dewi Kanti, sunda wiwitan memiliki pemimpin ritual yang dinamakan rama pupu adat.
Umat atau penganut sunda wiwitan disebut sebagai warga adat.
Terkait konsep ketuhanan sunda wiwitan, Dewi mengurai penjelasan detail.
Bahwa penganut sunda wiwitan percaya terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
"Kalau di dalam sunda wiwitan itu Tuhannya dikatakan sebagai Sang Hyang Maha Kersa atau yang maha berkehendak. Kami menyebutnya dengan Sang Hyang Tunggal, itu antara yang maha pencipta dan ciptaannya satu menyatu. Kalau bahasa jawa itu istilahnya manunggaling kawula gusti," imbuh Dewi Kanti.
Diungkap Dewi, dalam konsep ketuhanan sunda wiwitan, Tuhan tidak bisa diwujudkan dengan apapun tapi menyatu dengan ciptaan-Nya.
"Kalau di dalam bahasa sunda ada istilah Bukan migusti atau menuhankan tetapi menghormati. Jadi ketika kita melakukan penghormatan terhadap semesta, itu kita bukan menuhankan batu atau gunung atau semesta, tapi ita percaya bahwa di tiap ciptaan Yang Maha Kuasa itu ada tunggal agung," kata Dewi Kanti.
Artinya dalam ajaran sunda wiwitan, tiap ciptaan Tuhan itu dianggap sakral dan dianggap memiliki ikatan spiritual juga dengan manusia.
Perihal jumlah penganut sunda wiwitan, Dewi blak-blakan.
Bahwa hingga kini penganut sunda wiwitan kurang adri 3.000 orang.
Penganut sunda wiwitan itu tersebar di wilayah Jawa Barat yakni Kuningan, Tasikmalaya, Ciamis, Banjar, Bandung, Garut, dan Majalengka.
"Kalau kita membandingkan tentunya bukan bisa dibandingkan. Tapi kalau secara pencatatan administrasi negara itu warga kami hanya di Jawa Barat kurang dari 3 ribu, ada di beberapa kabupaten tersebar. Pada prinsipnya sunda wiwitan bukan agama syiar, bukan penyebaran gitu, tapi agama atau tuntunan spiritual yang mengajarkan pada kesadaran asali," akui Dewi Kanti.
Terkait dengan siapa saja yang boleh menganut sunda wiwitan, Dewi menjelaskan detail.
Bahwa penganut sunda wiwitan tidak harus berasal dari tanah sunda.
"Sunda wiwitan ini kan ada di beberapa tempat termasuk di Kanekes, Badui. Itu juga menamakan sunda wiwitan, namun yang jadi spesifik di tempat kami adalah yang dikembangkan pada periode (tahun) 1800-an," pungkas Dewi.
"Pemaknaan sunda yang kami pahami bukan pada sunda etnis atau sunda suku, tapi sunda filosofi. Jadi sunda itu sebagai titik pencerahan yang menyebarkan damai atau penyempurna. Jadi sebagai manusia yang memiliki akal, budi, dan pikir, kita diberikan daya oleh yang maha kuasa untuk bisa menyempurnakan apa yang ada di alam semesta ini," sambungnya.
Adapun asal-usul sunda wiwitan, Dewi menceritakan sedikit sejarah.
Bahwa sunda wiwitan sudah ada di tahun 1800-an di Indonesia.
Artinya aliran kepercayaan sunda wiwitan sudah eksis sebelum masuknya agama lain di tanah air.
"Satu tokoh adat bernama Pangeran Sadeo Madrais, pada periode itu kita sebagai sebuah bangsa yang memang dalam posisi keterjajahan oleh asing, Belanda, mengapa pangeran Sadewa Madrais menggali ulang tuntutan spiritual leluhur sunda, sebetulnya untuk menggugah kesadaran nasionalisme. Ketika kita sadar pada tuntunan leluhur, kita punya kekuatan kalau kita mau jadi bangsa merdeka, kita harus mengenal diri, sehingga bisa jaga diri," kata Dewi.
"Jadi sebelum agama-agama masuk ke tatar sunda itu juga sudah punya sistem spiritualitas. Kita bisa mendapatkan dari artefak kebudayaan bahwa peradaban manusia sunda ribuan tahun lalu itu sudah memiliki nilai spiritualitas dan religius," sambungnya.
Sama seperti agama lain, sunda wiwitan kata Dewi juga memiliki kitab suci.
"Tuntunan suci atau tuntunan laku itu kita ada di beberapa kitab tertulis ada sang hyang siksa kandang karsihan dan kalau di leluhur kami ada manuskrip yang ditulis secara langsung sebagai tuntunan hukum adat," imbuh Dewi.
Perihal pernikahan, Dewi menyebut bahwa penganut sunda wiwitan boleh menikah dengan agama lain asalnya masih berasal dari Indonesia.
"Kalau di dalam tuntunan leluhur kami, yang tidak disarankan itu adalah menikah antar bangsa, yang berbeda ras. Kalau satu ras dengan satu kultur yang sama itu bisa," kata Dewi.
Adapun terkait tempat ibadah, penganut sunda wiwitan tidak memiliki ketentuan saklek soal rumah ibadah.
Bentuk ibadah penganut sunda wiwitan adalah meditasi.
"Bagi kami, untuk ibadah itu tidak terbatas pada satu bangunan tertentu. Tapi bahwa memang ada titik-titik yang kami biasa untuk bermeditasi, ruang-ruang. Contohnya ada satu ruang namanya dapur ageng untuk bermeditasi, di situ tempat kami mengolah rasa," ujar Dewi.
Artikel ini telah tayang di TribunnewsBogor.com dengan judul Bikin Gubernur Dedi Mulyadi Penasaran, Inilah Ajaran Sunda Wiwitan, Aliran Kepercayaan Asli Sunda, https://bogor.tribunnews.com/2025/05/01/bikin-gubernur-dedi-mulyadi-penasaran-inilah-ajaran-sunda-wiwitan-aliran-kepercayaan-asli-sunda?page=4.
Penulis: khairunnisa | Editor: khairunnisa
Tayang: Kamis, 1 Mei 2025 10:48 WIB
Penulis: khairunnisa | Editor: khairunnisa

Youtube channel Kang Dedi Mulyadi
AJARAN SUNDA WIWITAN: Tangkapan layar momen Dedi Mulyadi menyapa remaja penganut sunda wiwitan bernama Adit, disadur pada Kamis (1/5/2025). Mengenal ajaran sunda wiwitan yang belakangan disorot Gubernur Dedi Mulyadi. Sunda wiwitan ternyata merupakan aliran kepercayaan asli orang sunda.
A-A+
TRIBUNNEWSBOGOR.COM - Ajaran kepercayaan sunda wiwitan belakangan disorot Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi.
Tak hanya menyoroti, Dedi Mulyadi juga memuji penganut sunda wiwitan yang baru-baru ini ia temui.
Hal tersebut terlihat saat Dedi Mulyadi bertemu dengan siswa SMP 1 Panawangan, Ciamis bernama Adit yang mengakui aliran kepercayaannya adalah sunda wiwitan.
Dedi Mulyadi tampaknya kagum dengan Adit yang bisa hidup berdampingan dengan masyarakat agama lain di Ciamis.
Untuk diketahui, Adit tinggal di Dusun Susuru, Desa Kertajaya, Kecamatan Panawangan, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat.
"Adit nih keren, kamu agamanya apa?" tanya Dedi Mulyadi, dilansir TribunnewsBogor.com dari Youtube-nya, Kamis (1/5/2025).
"Sunda wiwitan," jawab Adit usai menyalami sang Gubernur.
"Wah hebat. Hidup berdampingan kan, enggak ada problem kan?" tanya Dedi lagi.
"Iya enggak ada," akui Adit.
Penasaran, Dedi pun bertanya soal aliran sunda wiwitan yang dianut Adit.
Diakui Adit, ajaran sunda wiwitan adalah warisan dari sang ayah.
"Ajaran dari papa sunda wiwitannya?" tanya Dedi Mulyadi.
"Iya," kata Adit.
"Berarti ngajarin ngejaga alam, lingkungan?" tanya Dedi lagi.
"Iya," pungkas Adit.
Tertarik dengan ajaran sunda wiwitan dan Dusun Susuru, Dedi mengaku akan mendatangi wilayah tersebut dalam waktu dekat.
"Di kampung susuru kan ada masjid, gereja, dan penganut wiwitan. Kalau penganut wiwitan kan enggak ada tempat ibadah kan, tempat ibadahnya semesta. Keren. Kata siapa Ciamis intoleran? Ciamis tuh contoh nyata toleransi di Indonesia," imbuh Dedi Mulyadi.
Mengenal sunda wiwitan
Penganutnya dipuji dan disorot Dedi Mulyadi, apa sebetulnya aliran sunda wiwitan?
Ditelusuri TribunnewsBogor.com dari berbagai sumber, sunda wiwitan merupakan aliran kepercayaan yang asli berasal dari sunda.
Terkait rincian sejarah dan pengertian sunda wiwitan, salah satu pengurus ajaran tersebut yakni Dewi Kanti sempat menjelaskannya dalam podcast Berbeda Tapi Bersama Habib Jafar.
Dewi Kanti yang kini menjabat sebagai girang pangaping alias pendamping komunitas di level pengurus adat mengungkap apa itu sunda wiwitan dari mulai sejarah hingga cara beribadah penganut sunda wiwitan.
Diungkap Dewi Kanti, sunda wiwitan memiliki pemimpin ritual yang dinamakan rama pupu adat.
Umat atau penganut sunda wiwitan disebut sebagai warga adat.
Terkait konsep ketuhanan sunda wiwitan, Dewi mengurai penjelasan detail.
Bahwa penganut sunda wiwitan percaya terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
"Kalau di dalam sunda wiwitan itu Tuhannya dikatakan sebagai Sang Hyang Maha Kersa atau yang maha berkehendak. Kami menyebutnya dengan Sang Hyang Tunggal, itu antara yang maha pencipta dan ciptaannya satu menyatu. Kalau bahasa jawa itu istilahnya manunggaling kawula gusti," imbuh Dewi Kanti.
Diungkap Dewi, dalam konsep ketuhanan sunda wiwitan, Tuhan tidak bisa diwujudkan dengan apapun tapi menyatu dengan ciptaan-Nya.
"Kalau di dalam bahasa sunda ada istilah Bukan migusti atau menuhankan tetapi menghormati. Jadi ketika kita melakukan penghormatan terhadap semesta, itu kita bukan menuhankan batu atau gunung atau semesta, tapi ita percaya bahwa di tiap ciptaan Yang Maha Kuasa itu ada tunggal agung," kata Dewi Kanti.
Artinya dalam ajaran sunda wiwitan, tiap ciptaan Tuhan itu dianggap sakral dan dianggap memiliki ikatan spiritual juga dengan manusia.
Perihal jumlah penganut sunda wiwitan, Dewi blak-blakan.
Bahwa hingga kini penganut sunda wiwitan kurang adri 3.000 orang.
Penganut sunda wiwitan itu tersebar di wilayah Jawa Barat yakni Kuningan, Tasikmalaya, Ciamis, Banjar, Bandung, Garut, dan Majalengka.
"Kalau kita membandingkan tentunya bukan bisa dibandingkan. Tapi kalau secara pencatatan administrasi negara itu warga kami hanya di Jawa Barat kurang dari 3 ribu, ada di beberapa kabupaten tersebar. Pada prinsipnya sunda wiwitan bukan agama syiar, bukan penyebaran gitu, tapi agama atau tuntunan spiritual yang mengajarkan pada kesadaran asali," akui Dewi Kanti.
Terkait dengan siapa saja yang boleh menganut sunda wiwitan, Dewi menjelaskan detail.
Bahwa penganut sunda wiwitan tidak harus berasal dari tanah sunda.
"Sunda wiwitan ini kan ada di beberapa tempat termasuk di Kanekes, Badui. Itu juga menamakan sunda wiwitan, namun yang jadi spesifik di tempat kami adalah yang dikembangkan pada periode (tahun) 1800-an," pungkas Dewi.
"Pemaknaan sunda yang kami pahami bukan pada sunda etnis atau sunda suku, tapi sunda filosofi. Jadi sunda itu sebagai titik pencerahan yang menyebarkan damai atau penyempurna. Jadi sebagai manusia yang memiliki akal, budi, dan pikir, kita diberikan daya oleh yang maha kuasa untuk bisa menyempurnakan apa yang ada di alam semesta ini," sambungnya.
Adapun asal-usul sunda wiwitan, Dewi menceritakan sedikit sejarah.
Bahwa sunda wiwitan sudah ada di tahun 1800-an di Indonesia.
Artinya aliran kepercayaan sunda wiwitan sudah eksis sebelum masuknya agama lain di tanah air.
"Satu tokoh adat bernama Pangeran Sadeo Madrais, pada periode itu kita sebagai sebuah bangsa yang memang dalam posisi keterjajahan oleh asing, Belanda, mengapa pangeran Sadewa Madrais menggali ulang tuntutan spiritual leluhur sunda, sebetulnya untuk menggugah kesadaran nasionalisme. Ketika kita sadar pada tuntunan leluhur, kita punya kekuatan kalau kita mau jadi bangsa merdeka, kita harus mengenal diri, sehingga bisa jaga diri," kata Dewi.
"Jadi sebelum agama-agama masuk ke tatar sunda itu juga sudah punya sistem spiritualitas. Kita bisa mendapatkan dari artefak kebudayaan bahwa peradaban manusia sunda ribuan tahun lalu itu sudah memiliki nilai spiritualitas dan religius," sambungnya.
Sama seperti agama lain, sunda wiwitan kata Dewi juga memiliki kitab suci.
"Tuntunan suci atau tuntunan laku itu kita ada di beberapa kitab tertulis ada sang hyang siksa kandang karsihan dan kalau di leluhur kami ada manuskrip yang ditulis secara langsung sebagai tuntunan hukum adat," imbuh Dewi.
Perihal pernikahan, Dewi menyebut bahwa penganut sunda wiwitan boleh menikah dengan agama lain asalnya masih berasal dari Indonesia.
"Kalau di dalam tuntunan leluhur kami, yang tidak disarankan itu adalah menikah antar bangsa, yang berbeda ras. Kalau satu ras dengan satu kultur yang sama itu bisa," kata Dewi.
Adapun terkait tempat ibadah, penganut sunda wiwitan tidak memiliki ketentuan saklek soal rumah ibadah.
Bentuk ibadah penganut sunda wiwitan adalah meditasi.
"Bagi kami, untuk ibadah itu tidak terbatas pada satu bangunan tertentu. Tapi bahwa memang ada titik-titik yang kami biasa untuk bermeditasi, ruang-ruang. Contohnya ada satu ruang namanya dapur ageng untuk bermeditasi, di situ tempat kami mengolah rasa," ujar Dewi.
Artikel ini telah tayang di TribunnewsBogor.com dengan judul Bikin Gubernur Dedi Mulyadi Penasaran, Inilah Ajaran Sunda Wiwitan, Aliran Kepercayaan Asli Sunda, https://bogor.tribunnews.com/2025/05/01/bikin-gubernur-dedi-mulyadi-penasaran-inilah-ajaran-sunda-wiwitan-aliran-kepercayaan-asli-sunda?page=4.
Penulis: khairunnisa | Editor: khairunnisa
0
120
0
Komentar yang asik ya
Komentar yang asik ya
Komunitas Pilihan