- Beranda
- Komunitas
- Story
- Stories from the Heart
[CERPEN] Kasus KDRT yang menewaskan tanteku
TS
aurora..
[CERPEN] Kasus KDRT yang menewaskan tanteku
Malam itu, suasana kota Yogyakarta sedang tenang, dengan suara jangkrik yang merayap pelan dari pekarangan dan kipas angin tua yang berderit di sudut ruang keluarga. Dea, anak kecil itu, baru saja memejamkan matanya ketika telepon rumah berdering panjang dan memecah kesunyian. Jam dinding menunjukkan pukul 22:47 WIB. Ibunya Dea, Bu Evi, terbangun lebih dahulu, berjalan tergesa-gesa, dan mengangkat gagang telepon dengan suara yang masih berat oleh kantuk.
Di ujung sana, suara seorang perempuan terdengar terguncang, yaitu Bu Yayuk, tetangga Tante Amelia di Sidoarjo. Bu Evi berbicara terbata-bata, seolah kalimatnya tertahan oleh napas yang tidak kunjung stabil. Dea, yang berdiri di ambang pintu kamar, mendengar potongan kata yang berantakan.
“Amelia… kamar… lebam… polisi…”
Dalam waktu singkat, suasana rumah kecil di Yogyakarta itu berubah dingin. Dea, yang baru berusia 9 tahun, tidak sepenuhnya mengerti apa arti semua kata itu. Namun, Dea merasakan sesuatu yang berat, sesuatu yang membuat Bu Evi terduduk dan menutup mulutnya dengan telapak tangan, matanya membesar, seperti hendak menahan air mata yang meluap.
Tante Amelia, adiknya Bu Evi, ditemukan tewas di kamarnya.
***
Amelia berusia 35 tahun. Amelia menikah dengan Rendra 12 tahun yang lalu dan menetap di Sidoarjo, di sebuah gang yang padat dan akrab, tempat orang-orang saling mengenal kebiasaan satu sama lain. Amelia dikenal ramah, pekerja keras, dan jarang mengeluh. Amelia membuka usaha kecil-kecilan dari rumah, menjahit pakaian pesanan tetangga. Rendra, suaminya, bekerja di sebuah kantor ekspedisi. Mereka memang bukan pasangan yang sempurna, tetapi di mata orang-orang, mereka tampak wajar. Terkadang bertengkar, tetapi terkadang juga tertawa bersama.
Namun, pada malam ketika Amelia ditemukan tidak bernyawa, semua kenangan itu berubah makna.
Polisi datang sebelum fajar. Kamar Amelia menjadi pusat perhatian. Ada sprei kusut, lemari yang sedikit terbuka, dan tubuh Amelia yang penuh lebam, dengan perut kiri bengkak dan menghitam sempurna. Hasil pemeriksaan awal menunjukkan ada banyak memar di lengan, pinggang, dan paha. Beberapa jam kemudian, hasil otopsi memastikan penyebab kematian, yaitu limpa yang pecah akibat benturan keras, kemungkinan besar karena tendangan brutal.
Kabar itu menyebar cepat. Warga kampung berkerumun, berbisik-bisik, saling bertanya. Mereka mengingat kembali pertengkaran-pertengkaran yang sering terdengar dari rumah Amelia. Seorang pria kerap terlihat membentak dan memukul Amelia di gang sempit itu, menarik rambutnya, dan memaksanya masuk ke rumah. Pria itu mirip Rendra, mulai dari wajahnya, rambutnya, hingga caranya berjalan.
“Ya jelas Rendra, lah,” ucap seorang ibu kampung dengan nada yakin
“Siapa lagi kalau bukan Rendra?”
Kemarahan yang menumpuk selama bertahun-tahun, yang mereka kira sebagai kasus kekerasan dalam rumah tangga, akhirnya meledak. Tanpa menunggu hasil penyelidikan lengkap, sekelompok warga mendatangi kantor ekspedisi tempat Rendra bekerja. Mereka membawa pentungan, kayu, dan kemarahan yang tidak terkendali. Rendra diseret keluar, wajahnya pucat, matanya kebingungan.
“Apa salah saya?” teriak Rendra, suaranya tenggelam oleh teriakan orang-orang
Rendra dibawa ke kantor polisi. Di sana, Rendra bersumpah berulang kali bahwa ia tidak pernah menyakiti istrinya. Rendra mengaku memang sering bertengkar, tetapi tidak pernah memukul, apalagi sampai menghajar. Namun, sumpah itu terdengar palsu di telinga warga. Semua bukti tampak mengarah padanya.
Terlebih lagi, rekaman CCTV kampung memperlihatkan seorang pria mirip Rendra. Dalam video yang buram tetapi cukup jelas, pria itu tampak sedikit lebih tinggi dari Rendra yang dikenal warga. Pria itu memukuli dan menarik rambut Amelia, membentaknya dengan kasar, dan memaksanya masuk rumah. Waktu pada rekaman itu tercatat saat Rendra seharusnya sedang mengikuti pelatihan kerja di Jakarta.
Perbedaan tinggi badan yang kecil itu menjadi detail yang nyaris diabaikan warga. Bagi warga, wajah dan kemiripan itu sudah cukup. Rendra tetap diproses secara hukum. Rendra menerima semua hukuman itu tanpa melawan, tidak melarikan diri, seolah percaya bahwa kebenaran akan menemukan jalannya sendiri.
Di dalam sel tahanan, Rendra duduk berjam-jam memandangi dinding. Dalam kepalanya, wajah istrinya muncul bergantian dengan kenangan kecil. Cara Amelia menertawakan hal sepele, kebiasaannya menyeduh teh terlalu manis, dan beberapa pertengkaran yang berakhir dengan diam panjang. Rendra menggenggam tangannya sendiri, menahan getaran antara amarah dan duka.
“Siapa pun yang berani menyakiti istriku,” gumam Rendra pada dirinya sendiri
“Akan aku balas.”
***
Dea dan keluarganya berangkat ke Sidoarjo 2 hari kemudian. Dea melihat kamar Tante Amelia untuk terakhir kalinya, sebuah ruangan yang terasa kosong meski dipenuhi barang. Dea tidak menangis, karena Dea masih terlalu kecil dan belum sepenuhnya memahami kematian. Namun, ada rasa aneh di dadanya, seperti kehilangan sesuatu berharga yang belum sempat ia lindungi.
Di pemakaman, Bu Evi menangis terisak. Dea memegangi tangan ibunya, menatap tanah merah yang perlahan menutup peti. Di antara para pelayat, Dea melihat seorang wanita tua dengan wajah lelah, yang ternyata adalah ibunya Rendra. Wanita tua itu berdiri kaku, matanya kosong, seolah menahan rasa bersalah yang tidak bisa ia ucapkan.
Beberapa hari setelah pemakaman, ibunya Rendra menjenguk Rendra di penjara. Di ruang besuk yang dingin, wanita tua itu duduk berhadapan dengan Rendra, dipisahkan oleh meja dan pandangan para petugas. Rendra tampak lebih kurus, matanya cekung.
“Ada yang harus Mama ceritakan,” ucap perempuan itu pelan
Rendra mengangkat wajahnya.
“Waktu kamu masih bayi 3 bulan,” lanjutnya
“Kita sekeluarga pergi ke pantai selatan Jawa, lalu tiba-tiba ada tsunami.”
Rendra tahu kisah itu, tetapi hanya sepotong-sepotong. Rendra tahu ayahnya hilang. Rendra tahu keluarganya berantakan setelah itu. Namun, ibunya belum pernah bercerita sedetail ini.
“Kamu bukan anak tunggal,” ucap ibunya Rendra dengan suara bergetar
“Kamu punya saudara kembar identik. Namanya Hendra.”
Rendra terdiam. Kata-kata itu terasa seperti batu yang dijatuhkan ke dalam air tenang, menciptakan riak yang tidak berujung.
“Papamu dan Hendra hilang saat tsunami. Mama pikir… Mama pikir mereka berdua sudah meninggal.”
Ibunya Rendra menunduk, air matanya jatuh ke tangannya sendiri.
Rendra mengingat rekaman CCTV. Pria itu memang sedikit lebih tinggi. Wajahnya terlalu mirip untuk kebetulan. Sebuah kemungkinan yang selama ini tidak terpikirkan, kini berdiri jelas di hadapannya, sangat aneh sekaligus sangat masuk akal.
“Mama,” ucap Rendra pelan
“Ceritakan semuanya.”
Wanita tua itu menarik napas panjang. Wanita itu bercerita tentang pertengkaran lama dengan suaminya, tentang dorongan yang tidak sengaja membuat ayah Rendra jatuh. Tentang rasa bersalah yang tidak pernah selesai. Tentang bagaimana ayah Rendra, yang selamat bersama Hendra, menyimpan dendam. Tentang bagaimana kedua orang itu menghilang dari hidup mereka.
“Papamu sangat sakit hati,” ucap ibunya Rendra
“Dan mungkin, Papamu menanamkan itu pada Hendra.”
***
Penyelidikan polisi seketika berubah arah. Dengan informasi baru tentang saudara kembar identik, mereka menelusuri jejak ayah dan anak yang hilang itu. Data kependudukan lama, laporan orang hilang, dan jaringan ekspedisi dijadikan petunjuk. Perlahan, sebuah nama muncul di Makassar, nama seorang pria berusia 37 tahun dengan wajah yang terlalu mirip Rendra.
Hendra.
Hendra ditangkap saat hendak meninggalkan kota. Dalam interogasi polisi, Hendra tidak langsung mengakui perbuatannya. Namun, bukti-bukti sudah menumpuk, mulai dari rekaman CCTV, jejak perjalanan, dan dari kesaksian beberapa orang yang melihatnya bersama Amelia. Akhirnya, Hendra bicara.
Hendra ternyata tumbuh dengan cerita-cerita provokatif tentang pengkhianatan, tentang ibunya yang tega mendorong ayahnya, dan tentang kenyamanan yang direnggut. Ayah mereka mengajari Hendra untuk membenci Rendra, saudara kembarnya yang “direbut” oleh sang ibu. Bagi Hendra, Rendra adalah simbol kenyamanan yang seharusnya menjadi miliknya.
Hendra mendekati Amelia dengan menyamar sebagai Rendra. Amelia, yang mengenal suaminya luar dalam, mulai merasa aneh, tetapi Hendra memanfaatkan kebingungan itu. Pertengkaran menjadi alatnya, kekerasan menjadi bahasa dendamnya. Malam itu, tendangan Hendra terlalu keras, bahkan membuat limpa Amelia pecah dan Amelia meninggal kehabisan darah. Hendra tidak berniat untuk membunuh, setidaknya begitu katanya, tetapi kebencian jarang mengenal batas.
Kebenaran itu menghantam semua orang dengan cara yang berbeda. Rendra dibebaskan, tetapi kebebasan itu terasa pahit. Rendra kehilangan istrinya, kehilangan tahun-tahun yang tidak akan kembali. Warga kampung diliputi rasa bersalah, karena kemarahan mereka telah salah sasaran.
Dea mendengar semua ini dari orang dewasa yang berbicara pelan di ruang tamu. Ia duduk di sudut, menggambar dengan pensil warna, mencoba memahami dunia yang tiba-tiba menjadi rumit. Dalam benak Dea, Tante Amelia bukan korban KDRT atau bagian dari kasus besar. Tante Amelia dalah perempuan yang pernah mengajari Dea cara menjahit kancing, yang membelikan Dea es krim saat berkunjung.
Kasus itu ditutup dengan vonis hukuman bagi Hendra. Di ruang sidang, Rendra dan ibunya duduk bersebelahan, menatap seorang pria yang wajahnya seperti kaca yang retak. Tidak ada kemenangan di sana. Hanya akhir dari sebuah rangkaian kesalahan panjang.
Di Yogyakarta, Dea kembali ke rutinitasnya. Namun, setiap kali telepon berdering di malam hari, Dea masih teringat malam itu, malam ketika dunia orang dewasa memperlihatkan sisi gelapnya. Dea belum mengerti semuanya, tetapi ia tahu satu hal, bahwa kebenaran bisa tersembunyi di balik wajah yang paling dikenalnya. Dan di antara semua kebenaran pahit itu, kenangan tentang Tante Amelia tetap tinggal. Tenang, sederhana, dan terlalu cepat pergi.
TAMAT
@itkgid @siloh @pabuaranwetan
Di ujung sana, suara seorang perempuan terdengar terguncang, yaitu Bu Yayuk, tetangga Tante Amelia di Sidoarjo. Bu Evi berbicara terbata-bata, seolah kalimatnya tertahan oleh napas yang tidak kunjung stabil. Dea, yang berdiri di ambang pintu kamar, mendengar potongan kata yang berantakan.
“Amelia… kamar… lebam… polisi…”
Dalam waktu singkat, suasana rumah kecil di Yogyakarta itu berubah dingin. Dea, yang baru berusia 9 tahun, tidak sepenuhnya mengerti apa arti semua kata itu. Namun, Dea merasakan sesuatu yang berat, sesuatu yang membuat Bu Evi terduduk dan menutup mulutnya dengan telapak tangan, matanya membesar, seperti hendak menahan air mata yang meluap.
Tante Amelia, adiknya Bu Evi, ditemukan tewas di kamarnya.
***
Amelia berusia 35 tahun. Amelia menikah dengan Rendra 12 tahun yang lalu dan menetap di Sidoarjo, di sebuah gang yang padat dan akrab, tempat orang-orang saling mengenal kebiasaan satu sama lain. Amelia dikenal ramah, pekerja keras, dan jarang mengeluh. Amelia membuka usaha kecil-kecilan dari rumah, menjahit pakaian pesanan tetangga. Rendra, suaminya, bekerja di sebuah kantor ekspedisi. Mereka memang bukan pasangan yang sempurna, tetapi di mata orang-orang, mereka tampak wajar. Terkadang bertengkar, tetapi terkadang juga tertawa bersama.
Namun, pada malam ketika Amelia ditemukan tidak bernyawa, semua kenangan itu berubah makna.
Polisi datang sebelum fajar. Kamar Amelia menjadi pusat perhatian. Ada sprei kusut, lemari yang sedikit terbuka, dan tubuh Amelia yang penuh lebam, dengan perut kiri bengkak dan menghitam sempurna. Hasil pemeriksaan awal menunjukkan ada banyak memar di lengan, pinggang, dan paha. Beberapa jam kemudian, hasil otopsi memastikan penyebab kematian, yaitu limpa yang pecah akibat benturan keras, kemungkinan besar karena tendangan brutal.
Kabar itu menyebar cepat. Warga kampung berkerumun, berbisik-bisik, saling bertanya. Mereka mengingat kembali pertengkaran-pertengkaran yang sering terdengar dari rumah Amelia. Seorang pria kerap terlihat membentak dan memukul Amelia di gang sempit itu, menarik rambutnya, dan memaksanya masuk ke rumah. Pria itu mirip Rendra, mulai dari wajahnya, rambutnya, hingga caranya berjalan.
“Ya jelas Rendra, lah,” ucap seorang ibu kampung dengan nada yakin
“Siapa lagi kalau bukan Rendra?”
Kemarahan yang menumpuk selama bertahun-tahun, yang mereka kira sebagai kasus kekerasan dalam rumah tangga, akhirnya meledak. Tanpa menunggu hasil penyelidikan lengkap, sekelompok warga mendatangi kantor ekspedisi tempat Rendra bekerja. Mereka membawa pentungan, kayu, dan kemarahan yang tidak terkendali. Rendra diseret keluar, wajahnya pucat, matanya kebingungan.
“Apa salah saya?” teriak Rendra, suaranya tenggelam oleh teriakan orang-orang
Rendra dibawa ke kantor polisi. Di sana, Rendra bersumpah berulang kali bahwa ia tidak pernah menyakiti istrinya. Rendra mengaku memang sering bertengkar, tetapi tidak pernah memukul, apalagi sampai menghajar. Namun, sumpah itu terdengar palsu di telinga warga. Semua bukti tampak mengarah padanya.
Terlebih lagi, rekaman CCTV kampung memperlihatkan seorang pria mirip Rendra. Dalam video yang buram tetapi cukup jelas, pria itu tampak sedikit lebih tinggi dari Rendra yang dikenal warga. Pria itu memukuli dan menarik rambut Amelia, membentaknya dengan kasar, dan memaksanya masuk rumah. Waktu pada rekaman itu tercatat saat Rendra seharusnya sedang mengikuti pelatihan kerja di Jakarta.
Perbedaan tinggi badan yang kecil itu menjadi detail yang nyaris diabaikan warga. Bagi warga, wajah dan kemiripan itu sudah cukup. Rendra tetap diproses secara hukum. Rendra menerima semua hukuman itu tanpa melawan, tidak melarikan diri, seolah percaya bahwa kebenaran akan menemukan jalannya sendiri.
Di dalam sel tahanan, Rendra duduk berjam-jam memandangi dinding. Dalam kepalanya, wajah istrinya muncul bergantian dengan kenangan kecil. Cara Amelia menertawakan hal sepele, kebiasaannya menyeduh teh terlalu manis, dan beberapa pertengkaran yang berakhir dengan diam panjang. Rendra menggenggam tangannya sendiri, menahan getaran antara amarah dan duka.
“Siapa pun yang berani menyakiti istriku,” gumam Rendra pada dirinya sendiri
“Akan aku balas.”
***
Dea dan keluarganya berangkat ke Sidoarjo 2 hari kemudian. Dea melihat kamar Tante Amelia untuk terakhir kalinya, sebuah ruangan yang terasa kosong meski dipenuhi barang. Dea tidak menangis, karena Dea masih terlalu kecil dan belum sepenuhnya memahami kematian. Namun, ada rasa aneh di dadanya, seperti kehilangan sesuatu berharga yang belum sempat ia lindungi.
Di pemakaman, Bu Evi menangis terisak. Dea memegangi tangan ibunya, menatap tanah merah yang perlahan menutup peti. Di antara para pelayat, Dea melihat seorang wanita tua dengan wajah lelah, yang ternyata adalah ibunya Rendra. Wanita tua itu berdiri kaku, matanya kosong, seolah menahan rasa bersalah yang tidak bisa ia ucapkan.
Beberapa hari setelah pemakaman, ibunya Rendra menjenguk Rendra di penjara. Di ruang besuk yang dingin, wanita tua itu duduk berhadapan dengan Rendra, dipisahkan oleh meja dan pandangan para petugas. Rendra tampak lebih kurus, matanya cekung.
“Ada yang harus Mama ceritakan,” ucap perempuan itu pelan
Rendra mengangkat wajahnya.
“Waktu kamu masih bayi 3 bulan,” lanjutnya
“Kita sekeluarga pergi ke pantai selatan Jawa, lalu tiba-tiba ada tsunami.”
Rendra tahu kisah itu, tetapi hanya sepotong-sepotong. Rendra tahu ayahnya hilang. Rendra tahu keluarganya berantakan setelah itu. Namun, ibunya belum pernah bercerita sedetail ini.
“Kamu bukan anak tunggal,” ucap ibunya Rendra dengan suara bergetar
“Kamu punya saudara kembar identik. Namanya Hendra.”
Rendra terdiam. Kata-kata itu terasa seperti batu yang dijatuhkan ke dalam air tenang, menciptakan riak yang tidak berujung.
“Papamu dan Hendra hilang saat tsunami. Mama pikir… Mama pikir mereka berdua sudah meninggal.”
Ibunya Rendra menunduk, air matanya jatuh ke tangannya sendiri.
Rendra mengingat rekaman CCTV. Pria itu memang sedikit lebih tinggi. Wajahnya terlalu mirip untuk kebetulan. Sebuah kemungkinan yang selama ini tidak terpikirkan, kini berdiri jelas di hadapannya, sangat aneh sekaligus sangat masuk akal.
“Mama,” ucap Rendra pelan
“Ceritakan semuanya.”
Wanita tua itu menarik napas panjang. Wanita itu bercerita tentang pertengkaran lama dengan suaminya, tentang dorongan yang tidak sengaja membuat ayah Rendra jatuh. Tentang rasa bersalah yang tidak pernah selesai. Tentang bagaimana ayah Rendra, yang selamat bersama Hendra, menyimpan dendam. Tentang bagaimana kedua orang itu menghilang dari hidup mereka.
“Papamu sangat sakit hati,” ucap ibunya Rendra
“Dan mungkin, Papamu menanamkan itu pada Hendra.”
***
Penyelidikan polisi seketika berubah arah. Dengan informasi baru tentang saudara kembar identik, mereka menelusuri jejak ayah dan anak yang hilang itu. Data kependudukan lama, laporan orang hilang, dan jaringan ekspedisi dijadikan petunjuk. Perlahan, sebuah nama muncul di Makassar, nama seorang pria berusia 37 tahun dengan wajah yang terlalu mirip Rendra.
Hendra.
Hendra ditangkap saat hendak meninggalkan kota. Dalam interogasi polisi, Hendra tidak langsung mengakui perbuatannya. Namun, bukti-bukti sudah menumpuk, mulai dari rekaman CCTV, jejak perjalanan, dan dari kesaksian beberapa orang yang melihatnya bersama Amelia. Akhirnya, Hendra bicara.
Hendra ternyata tumbuh dengan cerita-cerita provokatif tentang pengkhianatan, tentang ibunya yang tega mendorong ayahnya, dan tentang kenyamanan yang direnggut. Ayah mereka mengajari Hendra untuk membenci Rendra, saudara kembarnya yang “direbut” oleh sang ibu. Bagi Hendra, Rendra adalah simbol kenyamanan yang seharusnya menjadi miliknya.
Hendra mendekati Amelia dengan menyamar sebagai Rendra. Amelia, yang mengenal suaminya luar dalam, mulai merasa aneh, tetapi Hendra memanfaatkan kebingungan itu. Pertengkaran menjadi alatnya, kekerasan menjadi bahasa dendamnya. Malam itu, tendangan Hendra terlalu keras, bahkan membuat limpa Amelia pecah dan Amelia meninggal kehabisan darah. Hendra tidak berniat untuk membunuh, setidaknya begitu katanya, tetapi kebencian jarang mengenal batas.
Kebenaran itu menghantam semua orang dengan cara yang berbeda. Rendra dibebaskan, tetapi kebebasan itu terasa pahit. Rendra kehilangan istrinya, kehilangan tahun-tahun yang tidak akan kembali. Warga kampung diliputi rasa bersalah, karena kemarahan mereka telah salah sasaran.
Dea mendengar semua ini dari orang dewasa yang berbicara pelan di ruang tamu. Ia duduk di sudut, menggambar dengan pensil warna, mencoba memahami dunia yang tiba-tiba menjadi rumit. Dalam benak Dea, Tante Amelia bukan korban KDRT atau bagian dari kasus besar. Tante Amelia dalah perempuan yang pernah mengajari Dea cara menjahit kancing, yang membelikan Dea es krim saat berkunjung.
Kasus itu ditutup dengan vonis hukuman bagi Hendra. Di ruang sidang, Rendra dan ibunya duduk bersebelahan, menatap seorang pria yang wajahnya seperti kaca yang retak. Tidak ada kemenangan di sana. Hanya akhir dari sebuah rangkaian kesalahan panjang.
Di Yogyakarta, Dea kembali ke rutinitasnya. Namun, setiap kali telepon berdering di malam hari, Dea masih teringat malam itu, malam ketika dunia orang dewasa memperlihatkan sisi gelapnya. Dea belum mengerti semuanya, tetapi ia tahu satu hal, bahwa kebenaran bisa tersembunyi di balik wajah yang paling dikenalnya. Dan di antara semua kebenaran pahit itu, kenangan tentang Tante Amelia tetap tinggal. Tenang, sederhana, dan terlalu cepat pergi.
TAMAT
@itkgid @siloh @pabuaranwetan
teguhjepang9932 dan 12 lainnya memberi reputasi
13
5.2K
2
Thread Digembok
Urutan
Terbaru
Terlama
Thread Digembok
Komunitas Pilihan