- Beranda
- Komunitas
- News
- Sejarah & Xenology
Biografi Qasim Amin, Tokoh Pejuang Emansipasi Wanita
TS
wxrdana28
Biografi Qasim Amin, Tokoh Pejuang Emansipasi Wanita
Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi modern memasuki dunia Islam pada awal abad ke-19 M, yang di dalam sejarah Islam dipandang sebagai permulaan periode modern. Salah satu gerakan pembaharuan waktu itu ialah emansipasi wanita. Artinya, untuk menghentikan perlakuan diskriminatif terhadap perempuan yang sudah berlangsung berabad-abad, pada sisi lain hal ini merupakan suatu tindakan tercapainya kesetaraan dan keadilan diantara laki-laki dan perempuan. Timbulnya pemikiran ke arah itu disebabkan karena persepsi masyarakat Mesir terhadap wanita sudah demikian merosot. Mereka menganggap wanita adalah alat untuk memuaskan nafsu lelaki semata dan wanita harus tinggal di rumah. Akibatnya, wanita tidak diberi kesempatan memasuki lembaga pendidikan serta tidak berhak ikut campur dalam berbagai kegiatan selain dari mengurus rumah tangga semata. Dari adanya kondisi tersebut sehingga terdapat tokoh pemikir Islam Mesir yang memunculkan ide-ide emansipasi wanita salah satunya adalah Qasim Amin.

sumber: https://www.google.com/url?sa=i&url=https%3A%2F%2Fff.wikipedia.org%2Fwiki%2FQasim_Amin&psig=AOvVaw2CawU7aegFCyFdPtFWpZGU&ust=1763604762402000&source=images&cd=vfe&opi=89978449&ved=0CBoQjhxqFwoTCIDonI6S_ZADFQAAAAAdAAAAABAE
Dia melihat wanita Mesir tidak saja terpinggirkan dalam relasi laki-laki dan wanita serta struktur sosiologis, tetapi juga hak-hak mereka sebagai individu merdeka telah terenggut oleh keyakinan tradisional dan berbagai praktek patriarki mengatasnamakan agama yang dianggap sudah mapan. Menurutnya terlalu banyak Praktek pemarginalan dan pensubordinasian kaum wanita yang sudah begitu menyatu dengan gaya hidup masyarakat Mesir dilihat sebagai masalah keagamaan yang besar bagi bangsanya.
Qasim Amin merupakan tokoh pembaharu muslim dari Mesir yang populer. Beliau dilahirkan di Iskandariyah pada 1 Desember 1863. Ayahnya bernama Muhammad Bek Amin keturunan Turki, berprofesi sebagai seorang tentara dari Iraq kemudian dipindahkan ke Mesir. Sementara ibunya seorang wanita keturunan Mesir bernama Karimah Ahmad Khitob. Untuk riwayat pendidikannya, Qasim Amin memperoleh pendidikan dasar di madrasah ra's al-tin di wilayah Iskandariah, kemudian ia melanjutkan pendidikannya ke sekolah menengah madrasah alTajhiziyyun yang ada di Kairo karena orang tuanya saat itu pindah di dekat Kairo. Setelah tamat, ia pun melanjutkan lagi studinya ke sekolah tinggi hukum (madrasah al-huquq), dan berhasil memperoleh ijazah lesence tahun 1881 M.
Setelah pendidikannya selesai kemudian ia bekerja di sebuah kantor pengacara milik Mustafa Fahmi di kota Kairo. Namun, tidak lama kemudian, ia berangkat ke Perancis untuk mendalami ilmu hukum di Universitas Montpellier sehingga ia harus keluar dari kantor tersebut. Disamping menekuni studi hukum disana, ia juga mempelajari bidang lain seperti etika, sosiologi, ilmu jiwa dan beberapa disiplin ilmu lainnya. Qasim Amin berhasil meraih gelar sarjana hukum di universitas tersebut, yang dengan ilmunya itu telah membawanya menjadi hakim terkenal di Mesir.
Saat berada di Prancis, Qasim Amin senantiasa memantau dan mengikuti perkembangan situasi yang terjadi di negeri asalnya, yaitu Mesir. Saat itu kelompok nasionalis yang dimotori oleh Urabi Pasha berhasil mengambil alih pemerintahan dari tangan bangsa Turki. Tetapi kemudian, Inggris merasa kepentingannya di negeri Mesir terancam, sehingga memutuskan menyerbu Mesir dan mengalahkan gerakan Urabi Pasha, dan Inggris berhasil menduduki Mesir. Serta beberapa orang dari pemimpin revolusi Urabi Pasha, seperti Muhammad Abduh ditangkap dan lalu diasingkan ke Perancis sehingga Qasim Amin sempat berteman dengan Muhammad Abduh serta Jamaluddin al-Afghani yang ternyata diusir dari Mesir atas tekanan dari Inggris. Oleh karena itu, Qasim Amin juga berkesempatan membantu penerbitan majalah Islam populer yang bernama al-urwah al-wuthqa yang berpusat di Perancis. Ketika itu ia juga akrab dengan buku karangan Nazi (1844-1900 M), Darwin (1809 1882 M) dan Karl Marx (1818-1883) dan sebagainya.
Kemudian, sepulang dari Perancis tahun 1885, ia bekerja di pengadilan Mesir. Semenjak itu karirnya sebagai hakim semakin menanjak. Ia pernah menjadi kepala cabang di beberapa pengadilan daerah yaitu di Bani Suif tahun 1889 dan di Thonto tahun 1891. Lalu pada Juni 1892 ia diangkat menjadi wakil hakim di Mahkamah Al-Isti’naf selama dua tahun kemudian menjadi penasehat hakim. Pada tahun 1894 ia menikah dengan gadis Mesir bernama Zainab. Dari pernikahannya tersebut dikaruniai dua putri yaitu Zainab dan Geisen. Selanjutnya pada tahun 1900, ia mendirikan lagi sebuah organisasi sosial Islam yang diberi nama al-Jamiyah al- khayriyah al-Islamiyah bersama temannya, Sa’ad Zaglul.
Qasim Amin dikenal sebagai seorang yang pernah belajar di Barat, disana ia menyaksikan peradaban Barat yang modern. Kehidupan para wanita di Barat telah maju karena mendapat kedudukan yang seimbang dengan pria salah satunya menyangkut pendidikan. Sehingga dikatakan wanita telah memperoleh haknya sebagai manusia sesuai dengan harkat dan martabatnya. Keadaan seperti itu berbanding terbalik dengan di Mesir, yang mana masyarakat Mesir berada dalam keadaan miskin dan terbelakang. Perhatian Qasim Amin terhadap ernansipasi wanita terdapat pengaruh dan pemikiran Muhammad Abduh. Menurut Muhammad Abduh, wanita dalam Islam sebenarnya mempunyai kedudukan yang tinggi, tetapi adat istiadat yang dari luar Islam merubah hal itu sehingga wanita Islam akhirnya mempunyai kedudukan rendah dalarn mayarakat. Adat istiadat itu seperti wanita harus dipingit dalam adat yang harus dipelihara yang tidak boleh berubah, dan tidak bisa disesuaikan dengan perkembangan zaman. Para wanita tidak berkesempatan untuk belajar selain untuk kebutuhan memasak dan menjahit. Dari adanya keadaan seperti itu Mesir akan tetap tertinggal dan tidak akan dapat mengejar ketinggalannya dari dunia Barat.
Qasim Amin adalah seorang pemikir muslim yang tenang, seorang patriot sekaligus nasionalis yang berfahamkan Islam. Selain sebagai hakim, ia juga melakoni profesi sebagai seorang sastrawan, sehingga semasa hidupnya aktif menulis artikel dan buku. Di antara karyanya adalah al-Misriyun (Bangsa Mesir) diterbitkan tahun 1894 berbahasa Perancis, Tahrir al-Mar'ah (Emansipasi Wanita) diterbitkan tahun 1899, dan al-Mar'ah Al Jadidah (Wanita Modern) diterbitkan tahun 1890.17 Sedangkan artikelnya telah dikumpulkan dan diterbitkan setelah ia wafat dalam kumpulan tulisan berjudul Asbab wa Nataij (Sebab dan Akibat) dan Kalimat li Qasim Amin (Ide-Ide Qasim Amin). Qasim Amin ini menghembuskan nafas terakhirnya pada 22 April 1908 dalam usia 55 tahun.
sumber: buku Qasim Amin, "Tahrir al-Mar’ah".

sumber: https://www.google.com/url?sa=i&url=https%3A%2F%2Fff.wikipedia.org%2Fwiki%2FQasim_Amin&psig=AOvVaw2CawU7aegFCyFdPtFWpZGU&ust=1763604762402000&source=images&cd=vfe&opi=89978449&ved=0CBoQjhxqFwoTCIDonI6S_ZADFQAAAAAdAAAAABAE
Dia melihat wanita Mesir tidak saja terpinggirkan dalam relasi laki-laki dan wanita serta struktur sosiologis, tetapi juga hak-hak mereka sebagai individu merdeka telah terenggut oleh keyakinan tradisional dan berbagai praktek patriarki mengatasnamakan agama yang dianggap sudah mapan. Menurutnya terlalu banyak Praktek pemarginalan dan pensubordinasian kaum wanita yang sudah begitu menyatu dengan gaya hidup masyarakat Mesir dilihat sebagai masalah keagamaan yang besar bagi bangsanya.
Qasim Amin merupakan tokoh pembaharu muslim dari Mesir yang populer. Beliau dilahirkan di Iskandariyah pada 1 Desember 1863. Ayahnya bernama Muhammad Bek Amin keturunan Turki, berprofesi sebagai seorang tentara dari Iraq kemudian dipindahkan ke Mesir. Sementara ibunya seorang wanita keturunan Mesir bernama Karimah Ahmad Khitob. Untuk riwayat pendidikannya, Qasim Amin memperoleh pendidikan dasar di madrasah ra's al-tin di wilayah Iskandariah, kemudian ia melanjutkan pendidikannya ke sekolah menengah madrasah alTajhiziyyun yang ada di Kairo karena orang tuanya saat itu pindah di dekat Kairo. Setelah tamat, ia pun melanjutkan lagi studinya ke sekolah tinggi hukum (madrasah al-huquq), dan berhasil memperoleh ijazah lesence tahun 1881 M.
Setelah pendidikannya selesai kemudian ia bekerja di sebuah kantor pengacara milik Mustafa Fahmi di kota Kairo. Namun, tidak lama kemudian, ia berangkat ke Perancis untuk mendalami ilmu hukum di Universitas Montpellier sehingga ia harus keluar dari kantor tersebut. Disamping menekuni studi hukum disana, ia juga mempelajari bidang lain seperti etika, sosiologi, ilmu jiwa dan beberapa disiplin ilmu lainnya. Qasim Amin berhasil meraih gelar sarjana hukum di universitas tersebut, yang dengan ilmunya itu telah membawanya menjadi hakim terkenal di Mesir.
Saat berada di Prancis, Qasim Amin senantiasa memantau dan mengikuti perkembangan situasi yang terjadi di negeri asalnya, yaitu Mesir. Saat itu kelompok nasionalis yang dimotori oleh Urabi Pasha berhasil mengambil alih pemerintahan dari tangan bangsa Turki. Tetapi kemudian, Inggris merasa kepentingannya di negeri Mesir terancam, sehingga memutuskan menyerbu Mesir dan mengalahkan gerakan Urabi Pasha, dan Inggris berhasil menduduki Mesir. Serta beberapa orang dari pemimpin revolusi Urabi Pasha, seperti Muhammad Abduh ditangkap dan lalu diasingkan ke Perancis sehingga Qasim Amin sempat berteman dengan Muhammad Abduh serta Jamaluddin al-Afghani yang ternyata diusir dari Mesir atas tekanan dari Inggris. Oleh karena itu, Qasim Amin juga berkesempatan membantu penerbitan majalah Islam populer yang bernama al-urwah al-wuthqa yang berpusat di Perancis. Ketika itu ia juga akrab dengan buku karangan Nazi (1844-1900 M), Darwin (1809 1882 M) dan Karl Marx (1818-1883) dan sebagainya.
Kemudian, sepulang dari Perancis tahun 1885, ia bekerja di pengadilan Mesir. Semenjak itu karirnya sebagai hakim semakin menanjak. Ia pernah menjadi kepala cabang di beberapa pengadilan daerah yaitu di Bani Suif tahun 1889 dan di Thonto tahun 1891. Lalu pada Juni 1892 ia diangkat menjadi wakil hakim di Mahkamah Al-Isti’naf selama dua tahun kemudian menjadi penasehat hakim. Pada tahun 1894 ia menikah dengan gadis Mesir bernama Zainab. Dari pernikahannya tersebut dikaruniai dua putri yaitu Zainab dan Geisen. Selanjutnya pada tahun 1900, ia mendirikan lagi sebuah organisasi sosial Islam yang diberi nama al-Jamiyah al- khayriyah al-Islamiyah bersama temannya, Sa’ad Zaglul.
Qasim Amin dikenal sebagai seorang yang pernah belajar di Barat, disana ia menyaksikan peradaban Barat yang modern. Kehidupan para wanita di Barat telah maju karena mendapat kedudukan yang seimbang dengan pria salah satunya menyangkut pendidikan. Sehingga dikatakan wanita telah memperoleh haknya sebagai manusia sesuai dengan harkat dan martabatnya. Keadaan seperti itu berbanding terbalik dengan di Mesir, yang mana masyarakat Mesir berada dalam keadaan miskin dan terbelakang. Perhatian Qasim Amin terhadap ernansipasi wanita terdapat pengaruh dan pemikiran Muhammad Abduh. Menurut Muhammad Abduh, wanita dalam Islam sebenarnya mempunyai kedudukan yang tinggi, tetapi adat istiadat yang dari luar Islam merubah hal itu sehingga wanita Islam akhirnya mempunyai kedudukan rendah dalarn mayarakat. Adat istiadat itu seperti wanita harus dipingit dalam adat yang harus dipelihara yang tidak boleh berubah, dan tidak bisa disesuaikan dengan perkembangan zaman. Para wanita tidak berkesempatan untuk belajar selain untuk kebutuhan memasak dan menjahit. Dari adanya keadaan seperti itu Mesir akan tetap tertinggal dan tidak akan dapat mengejar ketinggalannya dari dunia Barat.
Qasim Amin adalah seorang pemikir muslim yang tenang, seorang patriot sekaligus nasionalis yang berfahamkan Islam. Selain sebagai hakim, ia juga melakoni profesi sebagai seorang sastrawan, sehingga semasa hidupnya aktif menulis artikel dan buku. Di antara karyanya adalah al-Misriyun (Bangsa Mesir) diterbitkan tahun 1894 berbahasa Perancis, Tahrir al-Mar'ah (Emansipasi Wanita) diterbitkan tahun 1899, dan al-Mar'ah Al Jadidah (Wanita Modern) diterbitkan tahun 1890.17 Sedangkan artikelnya telah dikumpulkan dan diterbitkan setelah ia wafat dalam kumpulan tulisan berjudul Asbab wa Nataij (Sebab dan Akibat) dan Kalimat li Qasim Amin (Ide-Ide Qasim Amin). Qasim Amin ini menghembuskan nafas terakhirnya pada 22 April 1908 dalam usia 55 tahun.
sumber: buku Qasim Amin, "Tahrir al-Mar’ah".
0
67
0
Komentar yang asik ya
Komentar yang asik ya
Komunitas Pilihan