Kaskus

Story

nanitrianiAvatar border
TS
nanitriani
Sebuah Racauan dari Kedewasaan
Sebuah Racauan dari Kedewasaan

Perkenalkan, aku seorang wanita yang sudah menginjak usia dewasa. Betul, mau tidak mau, siap tidak siap, dewasa itu harus kualami. Bukan sekadar usia, tapi tentang mental, kepribadian, dan masih banyak lagi.

Tak jarang aku termangu, melihat jam di dinding, memutar kembali ingatan. Rasanya seperti suasana yang sama, cahaya jingga yang sama, ketika matahari hampir pamit dari peraduan.

Kala itu, usai rutinitas mandi sore, aku sering diajak ibu jalan-jalan, entah ke rumah saudara atau sekadar ke warung. Aroma tubuh ibu, perpaduan sabun mandi batang dan bedak kuning langsat yang khas, semakin tercium bersamaan dengan bertiupnya angin sore.

Sore ini, mungkin di jam yang sama percis seperti waktu itu, sekitar pukul 4, dengan cahaya jingga yang tampak sama. Ya, hanya tampak saja, karena sekarang, aku hanya merasakan cahaya jingga dan angin sore itu lewat jendela kamar. Di ruangan ini, di suatu tempat, yang tak terhitung entah seberapa jauhnya jarak aku dan keluargaku sekarang. Sebuah tempat, yang kusebut perantauan. Itulah salah satu hal yang membuatku menjadi dewasa, bukan?

Tulisan ini bukan cerpen, cerbung, atau apalah itu. Ini hanyalah sebuah ungkapan hati yang sangat sulit aku ungkapkan namun biar kucoba merangkainya lewat tulisan.

Aku, yang katanya telah dewasa ini, selalu melempar pertanyaan kepada Tuhan meski hanya dalam bentuk bisikan di dalam hati. Ya Tuhan, aku percaya, Engkau Maha Mendengar. Maka, bisikku pun Kau selalu dengar, kan?

Tuhan, seringkali aku bertanya, mengapa orang sepertiku harus hidup, hanya menjadi pelengkap dunia? Pikiran kotor itu selalu menghantuiku kala sendiri; entah saat sedang mencuci pakaian, makan, menonton TV, dan lainnya. Namun aku teringat, katanya, dulu, bahkan sebelum aku lahir ke dunia, aku dengan mantap memilih untuk hidup. Tuhan, aku bahkan tak pernah mengingatnya.

Tuhan, banyak yang membingungkan dari kedewasaan ini. Kita diharuskan untuk berdoa, tapi banyak yang bilang, "jangan terlalu berharap dengan suatu hal". Lantas, apa tujuannya berdoa jika tidak disertai harapan?

Tuhan, katanya, "Jangan terlalu bersikeras menunggu sesuatu. Suatu hal bahkan akan datang saat tidak ditunggu." Aku bingung Tuhan, sedangkan, saat mengusahakan sesuatu, dengan sendirinya, sadar tidak sadar, aku menunggu hasilnya. Apakah setelah berusaha, hanya lupakan saja?
Sangat sulit untukku, Tuhan.

Tuhan, ada yang bilang "Jika kau punya harapan, maka kau harus diam, jadikanlah rahasia pribadi." Pun ada yang bilang, "Jika kau punya harapan, beritahukan orang-orang, agar mereka ikut mendoakan". Aku harus pilih yang mana, Tuhan?

Tuhan, jika aku terus bertanya demikian, pertanyaan-pertanyaan yang seolah meracau saat demam, apakah aku berdosa?

Tuhan, hidup ini, di usia dewasa ini, banyak sekali yang membuatku bingung. Aku harus melangkah kemana? Kembali lagi menjadi anak kecil? Apa bisa? Kembali lagi menjadi anak kecil lagi, lalu tumbuh dewasa, anak kecil lagi, dewasa lagi, terus seperti itu? Bagaikan jatuh ke lubang yang sama seribu kali? Tidak! Yang hidup akan mati, kan? Semuanya hanya terjadi satu kali, kan?

Tuhan, nalarku hanya sebatas otak manusia, sedangkan takdir-Mu tidak ada yang setara dengan pikiranku. Sebanyak apapun pertanyaanku tentang makna hidup dan takdir yang Kau beri, tetap saja, aku hanyalah manusia. Bentuk kasih sayang dari-Mu tidak akan terasa olehku jika aku hanya berpikir dengan otakku. Karena sejatinya, udara yang selalu menyentuh kulit pun tidak akan terasa jika rasa syukur itu telah berkurang bahkan hilang.

Itulah aku, yang katanya si "dewasa" ini, kurang pandai bersyukur dan selalu mempertanyakan hal-hal yang seharusnya "cukup jalani saja".

Banyak yang mengumumkan pencapaian dan banyak juga yang menyuarakan keluhan. Dengan demikian, muncullah kata "persaingan hidup" yang diciptakan oleh manusia sendiri. Karena, siapa yang tidak mau memperolah pencapaian dibandingkan keluhan, bukan? Namun, berbicara soal pencapaian apalagi "pencapaian" yang hanya Engkau yang tahu. Seperti menikah, mempunyai anak, dan lain-lain, semuanya rahasia, kan? Tidak ada satu manusia pun yang patut mempertanyakan hal demikian. Karena aku pun tidak tahu, bahkan yang bertanya pun "have no clue" Hahaa.

Oh, ya, mengenai beberapa pertanyaanku sebelumnya, sebenarnya aku juga punya jawaban yang kubuat sendiri sebagai perlawanan saat aku mulai meracau terlalu jauh dan semakin ngaco. Ya, "Jika dalam hidup ini, semua yang diinginkan selalu ada di depan mata, kehidupan selalu berjalan sesuai apa yang diinginkan manusia. Maka, tidak akan ada makna yang berarti di balik kata "doa, harapan, dan perjuangan"".

Sekali lagi, jika aku selalu mempertanyakan pertanyaan versi manusia kepada Tuhan, maka Tuhan akan menjawabnya dengan versi Tuhan. Begitulah, tidak semua kalimat tanya bertemu kalimat positif atau negatif. Maka, teruslah bertanya, mungkin itulah salah satu caraku agar terus berkomunikasi dengan Tuhan.

Ini bukan tentang manusia lain, tapi tentang "AKU", si dewasa ini yang sudah tahu mana yang baik dan mana yang buruk, tapi masih bingung memaknai hidup.

Aku tidak mengajak kalian untuk berpikir terlalu jauh, untuk memikirkan hal yang tidak-tidak, bahkan sampai lupa bersyukur bahwa sampai detik ini, tanpa sadar, napas kita masih berhembus.

Dan terakhir... Untuk-Mu, Tuhan, maafkan aku jika aku terlalu jauh berpikir, terlalu jauh bertanya, dan terlalu jauh dariMu. Aku tahu, suatu hari, bahkan seberapa jauh pun aku melangkah, pada akhirnya, aku akan pulang juga kepada-Mu, kan? Oleh sebab itu, mereka bilang, "Santai saja, tidak usah mengusahakan dunia terlalu keras, karena pada akhirnya, kau akan meninggalkannya".


Diubah oleh nanitriani 16-08-2025 21:02
tiokyapcingAvatar border
bukhoriganAvatar border
bukhorigan dan tiokyapcing memberi reputasi
2
60
0
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Komunitas Pilihan