Kaskus

Story

fanya06Avatar border
TS
fanya06
Lima Belas Hari (Ketika Cinta Berakhir Tanpa Kata)
Lima Belas Hari (Ketika Cinta Berakhir Tanpa Kata)

Perempuan itu berbaring di kursi kayu, matanya sembab, rambutnya terurai berantakan, wajahnya terlihat sangat letih. Sebuah ponsel yang masih terhubung dengan charger dipegang erat di depan dadanya. Rania memandangi sebuah foto yang terpampang di layar benda pipih itu. Gadis itu memperhatikan potret seorang pria yang sedang tersenyum. Wajahnya teduh, alisnya hitam tebal, senyuman nya yang menawan. Ia teringat dengan sikap pria itu yang hangat dan dewasa, mampu menghadirkan kembali rasa yang sudah mati. Pria yang datang dari masa lalu. Namun, kembali hanya untuk merobek dunia Rania.

Ting!

Sebuah notif ponsel membuyarkan lamunan Rania. Ia membuka benda pipih itu dengan cepat. Namun, raut wajahnya kembali memperlihatkan kekecewaan.

[Kumohon, bicaralah] pesan terkirim. Centang dua. Namun, Jove tak membalas.

[Jove!] Rania kembali mengirim pesan.

Namun kini foto profil pria itu tiba-tiba menghilang, dan pesan Rania hanya centang satu. Perempuan itu sadar nomor WhatsAppnya diblokir.

Rania melempar ponselnya dengan kasar ke sembarang arah. Ia terperangah tak percaya, bagaimana mungkin hal yang tidak terpikirkan olehnya dilakukan oleh lelaki yang sedang dicintainya? Cinta di hatinya tengah mekar, namun Jove malah meninggalkannya tanpa kata.

"Apa aku semenjijikkan itu? Sampai mendengar kata perpisahan saja aku tidak pantas mendapatkannya?" Rania meneteskan air mata lagi.

Rania menjalin kasih dengan Jove memang baru sebentar, hanya lima belas hari. Namun sebelumnya, ia telah mengagumi Jove dari dua belas tahun yang lalu. Kini gadis itu merasa kehilangan seperti orang yang sudah dekat terlalu lama.

"Aku tidak mengerti, mengapa aku harus merasakan ini semua?" gumam Rania. Ia bergeming, dari sudut-sudut matanya kembali berjatuhan buliran bening. Perempuan itu lalu terduduk di lantai memeluk kedua kakinya, tubuhnya bergetar hebat, ia menangis tersedu-sedu.


******

Dua bulan yang lalu, ketika Rania sedang duduk di depan rumahnya, menikmati secangkir teh dengan sepiring cemilan manis buatannya. Ajeng, sepupu Rania datang berkunjung menemui gadis itu.

"Kak Rania, kenal Jove?" Tanya Ajeng membuka percakapan.

Rania hampir tersedak saat sedang minum teh ketika mendengar nama itu. Nama yang bahkan dia sendiri tidak menyangka akan mendengarnya lagi setelah 12 tahun.

Ajeng memiliki motivasi untuk membantu Rania dan Jove bertemu kembali karena ia melihat potensi hubungan yang baik antara keduanya. Ia ingin melihat sepupunya bahagia. "Dulu kakak pernah simpan foto dia kan?" Tanya Ajeng lagi. Rania sedikit malu saat mengingatnya. Memang benar dulu ketika Rania duduk di bangku SMA begitu menyukai pria yang memiliki crooked teeth itu.

"Hahah. Benar!" Jawabnya semringah. "Dulu kakak, selalu melihatnya saat sedang upacara Senin di sekolah. Karena hanya saat upacara saja kakak bisa bebas melihatnya tanpa ketahuan" Rania sedikit tertawa saat bercerita sambil mengingat masa SMA dulu.

"Dia tahu tidak , kalau kakak menyukainya diam-diam?" Selidik Ajeng.

"Tentu saja tidak."

"Tapi sekarang dia sudah tahu, Kak!"

"Tidak mungkin, Ajeng! Dia mengenal kakak saja tidak, kok."

"Beberapa hari yang lalu aku sempat bertemu dengannya. Aku mengenalnya dari Instagram, Kak. Kukatakan padanya, aku pernah melihat fotonya di rumahmu. Lalu ia bertanya banyak hal tentang kakak, kujelaskan sedikit yang kutahu. Dia menitip maaf, karna tak tahu dulu kakak menyukainya." Tutur Ajeng panjang.

Rania yang mendengarnya hampir saja pingsan. Dadanya tiba tiba terasa sesak. Bagaimana mungkin sepupunya berbuat sejauh itu.

"Dia meminta maaf? Bukankah ini aneh? " Tanya Rania penasaran.

"Mungkin saja dia juga menyukai kakak?" Jawab Ajeng dengan mata berbinar.

"Yang benar saja, Ajeng!" Teriak Rania ketika melihat sepupunya itu melangkah jauh keluar dari halaman rumah.

"Nomermu sudah kuberikan padanya, Kak." Sahut Ajeng dari kejauhan sambil terkikik berlari menjauh.

Malam hari, setelah selesai makan malam. Rania mengambil ponselnya yang tersimpan di atas nakas. Gadis itu membuka aplikasi berwarna hijau, melihat banyak pesan yang masuk. Namun matanya tertuju pada pesan dari nomer baru yang bertuliskan Jove.

Berawal dari sapaan singkat Jove di malam itu komunikasi mereka semakin intens. Selama dua bulan, mereka sering bertemu dan menghabiskan waktu bersama, baik itu dengan berjalan-jalan di taman, menonton film di bioskop, atau hanya sekedar berbicara tentang impian dan harapan mereka. Rania merasa sangat nyaman dengan Jove, dan gadis itu tahu bahwa Jove juga merasakan hal yang sama.

Jove seringkali menunjukkan perasaannya kepada Rania dengan cara yang sederhana namun bermakna. Ia selalu ada untuk Rania mendengarkan keluh kesahnya, dan memberikan dukungan yang gadis itu butuhkan. Rania merasa bahwa Jove adalah pasangan yang sempurna baginya, dan ia tidak sabar untuk melihat masa depan mereka bersama.

Namun hari itu berbeda. Tepat di hari ke lima belas setelah mereka resmi berpacaran, sikap Jove berubah. Jove bertingkah seperti menjauh dari Rania. Gadis itu mengirimi banyak pesan namun tak pernah dibaca oleh Jove.

[Berhari-hari aku menunggu, meninggalkan banyak pesan, tapi tidak pernah ada balasan. Aku mengerti sibuknya kamu, tapi kamu tidak mengerti aku menunggumu!] Rania mengirim pesan pada Jove dengan kesal di siang hari, setelah empat hari tidak ada kabar dari kekasihnya itu.

[Maaf, aku sibuk!] Jawab Jove singkat.

Rania tak membalas lagi. Rasanya tak ingin lagi mengganggu Jove. Kian hari pria itu semakin diam, tak memberi kabar pada Rania. Gadis itu memberanikan diri mengirim pesan pada jove di malam hari.

"jove?"

Lima menit kemudian

"Iyaa" balas Jove singkat.

"Tidak memberi kabar lagi?."

"Aku baru sempat melihat ponsel, ini baru saja selesai mandi, dan makan, bahkan ponselku juga lowbath mau di-isi daya dulu."

"Katamu sibuk seharian. Tak sempat melihat ponsel. Tapi habis baterai?"

"Tidak usah berpikiran macem macem bisa, tidak? Sejak kemarin aku tak melihat ponsel. Aku bahkan lupa meletakkan nya di mana, sampai tak sempat mengisi daya. Aku sangat lelah. Mau istirahat."

Tak ingin berdebat, Rania tak membalas lagi. Tapi sejam kemudian saat membuka aplikasi Instagram muncul notif Jove sedang live, dia bahkan memposting sebuah story.

[Jove, kamu pasti mengerti rasa sakit dari kehilangan saat hatimu sedang sangat mencintai. Harusnya bilang saja jika sudah tak ingin. Jangan biarkan aku porak poranda sendirian. Sebab aku bukan sebuah angin. Kamu hanya berusaha ingin pergi, namun enggan untuk terlihat menyakiti kan?]

[Tolong temui aku sekali lagi. Katakan dengan jelas kalau kamu memang sudah tidak lagi mencintaiku. Agar aku berhenti berharap, agar aku tidak terus terusan menunggu. Bantu aku. Aku ingin segera lupa. ]

Rania masih tetap terus mengirimi pesan pada Jove meski ia tau nomernya sudah diblokir.
Gadis itu merasa sedih dan kecewa karena ia telah memberikan sepenuh hatinya kepada Jove. Ia tidak mengerti mengapa sikap pria itu mendadak berubah bahkan sekarang meninggalkannya tanpa kata. Ia merasa seperti sedang berada di dalam badai yang tidak tahu kapan akan reda.

Setelah semua sosial media nya diblokir oleh Jove, Rania merasa seperti sedang berada di dalam kegelapan. Ia tidak tahu bagaimana cara menghadapi kehilangan cinta tersebut. Namun, ia tahu bahwa ia harus bangkit dan melanjutkan hidupnya. Ia tidak bisa terus-menerus terjebak dalam kesedihan.

"Aku akan baik-baik saja," gumam Rania. Ia mengambil napas dalam-dalam dan mencoba untuk tersenyum. Ia tahu bahwa waktu akan menyembuhkan luka hatinya. Ia hanya perlu sabar dan percaya bahwa ada yang lebih baik di masa depan.
Diubah oleh fanya06 03-08-2025 18:17
bukhoriganAvatar border
viper990Avatar border
tiokyapcingAvatar border
tiokyapcing dan 2 lainnya memberi reputasi
3
222
8
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Urutan
Terbaru
Terlama
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Komunitas Pilihan