- Beranda
- Komunitas
- News
- Media Indonesia
Gaya Hidup Pekerja dan Dana Pensiun?
TS
sy15
Gaya Hidup Pekerja dan Dana Pensiun?
Ada dugaan, gaya hidup seseorang memengaruhi minat dan kepesertaan di dana pensiun? Apa iya begitu? Sederhananya, bisa iya bisa tidaklah yauw. Mari kita bahas di sini.
Kita sepakat, gaya hidup itu cara seseorang atau sekelompok orang menjalani kehidupan, termasuk kebiasaan, perilaku, aktivitas, minat. Gaya hidup jadi simbol tentang gima seseoarang menghabiskan waktu dan uangnya. Maka di gaya hidup tercermin nilai-nilai dan sikap seseorang terhadap dunia. Tapi jangan lupa, gaya hidup tidak bersifat permanen. Gaya hidup juga bisa berubah seiring waktu karena dipengaruhi oleh pergaulan, pengalaman, atau keinginan untuk berubah.
Kita coba jabarkan dulu. Biar sama pemahaman dan persepsi. Kita bisa cek nareng-bareng, kita termauk bergaya hidup seperti apa? Sejatinya, gaya hidup seseorang bisa dipilah berdasarkan 3 (tiga) bagian;
1. Gaya hidup murah (hemat dan sederhana), Biasanya orang bergaya hidup murah lebih mengutamakan kebutuhan pokok dan efisiensi biaya. Cenderung naik kendaraan umum atau motor, rumahnya sederhan, makan bisa masak sendiri atau beli di warung kaki lima. Hiburanya pun murah, nonton YouTube atau jalan-jalan ke taman kota. Contoh gaya hidup murah terlihat pada mereka yang ngopi cukup kopi sachet atau di warung kopi, HP juga tidak pernah Ganti bila tidak rusak. Fashion sederhana, belanja bila perlu, dan masih bisa menabung rutin meskipun kecil (Rp100–200 ribu/bulan).
2. Gaya hidup cukup (moderat dan seimbang). Biasanya orang bergaya hidup cukup selalu menyeimbangkan antara kebutuhan dasar dan kesenangan. Bila kost-pun biasanya sharing, transportasi ojekonlien atau pakai mobil pribadi tapi jarang. Makan bisa di mana saja, resto mahal ok tapi lebih sering di warung. Hiburannya sudah mulai berbayar seperti Netflix, gym mingguan, nongkrong di kafe tiap akhir pekan. Gaya hidup cukup terlihat pada mereka yang ngopi di kafe-kafe bisa 2–3 kali seminggu. Ganti HP bisa 3 tahunan, fashion beli bila perlu. Mulai suka liburan tipis-tipis (staycation) tiap 6 bulanan. Nabung sudah rutin, bahkan bisa di beberapa instrumen investasi.
3. Gaya hidup mahal (hedonis dan prestisius). Biasanya orang bergaya hidup mahal fokusnya pada citra diri, gaya hidup tinggi, dan sosial media banget. Tinggalnya di apartemen atau pemukiman elit. Transportasi harus mobil pribadi, nggak bisa naik kenadaraan umum. Makanan pun rutin di restoran atau food delivery. Hiburannya berkelas, golf atau traveling ke luar negeri. Gaya hidup mahal terlihat pada mereka yang ngopi-nya harus di Starbucks, setiap hari lagi. HP asal edisi baru pasti ganti. Fashion dan belanja di brand global. Liburan ke Bali atau luar negeri minimal 3x setahun. Gaya hidupnya sering paylater dan tergolong minim tabungan.
Apa hubungannya gaya hidup dengan dana pensiun? Ternyata gaya hidup bisa mendefinisikan minat dan kebiasaan seseorang terhadap dana pensiun. Bagi mereka yang bergaya hidup murah, cenderung aware pada dana pensiun walau belum tentu punya dana pensiun. Sedangkan mereka yang bergaya hidup cukup biasanya sudah punya dana pensiun, aware aan pentingnya Bersiap hari tua. Tinggal konsistensinya dalam menabung di dana pensiun dan tidak terjebak utang konsumtif. Nah yang repot gaya hidup mahal, justru mereka tergolong rentan menglami krisis keuangan di masa tua. Sebab hidupnya habis untuk perilaku konsumtif, terjadang hedonis dan mengutamakan citra personal.
[url=][font=Cambria, serif]Sebuah penelitian Syarifuidn Yunus, educator dana pensiun DPLK Sinarmas Asset management dan asesor LSP Dana Pensiun (Juli 2025) menyimpulkan ternyata [/font][/url]46% pekerja muda tergolong memiliki gaya hidup murah – tidak mahal sehingga punya potensi memiliki dana pensiun,sisanya 36% bergaya hidup cukup, dan 20% lainnya bergaya hidup mahal. Dengan sampel 42 pekerja muda di Jakarta, 46% menyatakan dana pensiun penting dipersiapkan dan bahkan 46% dari mereka memiliki kemampuan untuk menabung di DPLK dengan iuran antara Rp. 100.000 – Rp. 300.000 per bulan, sedangkan 28% mampu di atas Rp. 300.000 per bulan, dan 26% hanya bisa di bawah Rp. 100.000 per bulan.
Terbukti pula pekerja dengan gaya hidup yang konsumtif cenderung menunda kepesertaan dana pensiun. Tapi sayangnya, banyak pekerja di Jakarta tidak paham pentingnya dahna pensiun akibat rendahnya literasi dana pensiun. Tidaksedikit dari mereka yang memiliki persepsi masa pensiun masih jauh, jadinanti saja.
Saat ini setidaknyaada 5,4 juta pekerja muda (Gen Z dan milenial) atau 46% dari total penduduk Jakarta. Secara potensi, bila 10% saja dari pekerja muda atau berarti 540.000 orang menjadi peserta DPLK dengan iuran Rp. 300.000 per bulan maka akan terkumpul akumulasi dana DPLK mencapai Rp. 1,944 triliun per tahun atau mencapai Rp. 19,4 tiliun dalam 10 tahun. Maka jangan anggap remeh pekerja muda yang jumlahnya besar. Apalagi survei membuktikan mereka tidak terlalu terbuai gaya hidup, 46% masih bergaya hidup murah (mau dan mampu punya dana pensiun) dan hanya 20% yang bergaya hidup mahal (tidak mau punya dana pensiun).
Karenanya menjaring pekerja muda untuk menjadi peserta DPLK (Dana Pensiun Lembaga Keuangan) adalah keharusan. Tidak ada soal dengan gaya hidup mereka. Justru dana pensiun yang harus menyesuaikan, dengan pendekatan yang relevan dan personal, edukasi dan sediakan akses digital untuk mereka punya dana pensiun. Terbukti, gaya hidup bukan kendala bagi dana pensiun. Bila pekerja muda di Jakarta digarap serius untuk punya DPLK, maka dana pensiun berada di era “sunrise”, bukan “sunset”. Salam #YuKSiapkanPensiun #EdukasiDanaPensiun #DPLKSAM

Gaya hidup dan dana pensiun?
0
113
0
Komentar yang asik ya
Komentar yang asik ya
Komunitas Pilihan