CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
A Terror (Cerita Mini)
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5ec46ba58d9b175037356a69/a-terror-cerita-mini

A Terror (Cerita Mini)

A Terror (Cerita Mini)

Pagi yang permai itu pecah. "Glock 20" miliknya sedemikian beringas. Memuntahkan dentum kebencian yang selama ini mengendap. Seperti juga jerit memohonnya yang pernah senyap pada deras angin yang tak pernah peduli. Ia melampiaskan apa-apa yang selama ini menyemaki dada. Entah sudah berapa raga, lima, tujuh? Entah. Biar saja deret nama itu menjadi naskah berita koran-koran nasional esok hari. Menjadi pelengkap 'running teks' di layar televisi. Atau biarkan perusahaan asuransi yang mengambilalih kepedulian itu dan disampaikan dalam konferensi pers kepolisian sore nanti.

Kerumunan di hadapannya tercerai berai serupa sekumpulan semut yang didekati api. Jerit berhamburan. Beberapa dari mereka tumbang tanpa sempat mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Dan ia tersenyum. Memuaskan diri dengan kemarahan dan perasaan perih. Seperih ketika ia kehilangan senyum mungil di paras Aska.

"Ayah pulang! Ayah pulang!" Aska menghambur ke arahnya. Si kecil itu begitu polos dalam perasaan gembira. Lalu ia akan mendapatkan gelayut manja putranya itu.

"Aska mau es krim?" Ia melihat binar di wajah sang buah hati saat bersama-sama membuka tas lusuh yang selalu dipakai untuk membawa bekal kerja, mengeluarkan oleh-oleh yang sangat digemari Aska.

Aska adalah kebahagiaan terbesarnya. Cahaya yang akhirnya harus terenggut oleh satu vonis dokter. Kanker hati stadium akhir. Dan purnama di langit-langit rumah kecil itu pun menjelma gerhana.

Kebobrokan administrasi desa tak mencantumkannya sebagai keluarga miskin yang berhak atas subsidi pemerintah untuk Jaminan Kesehatan Nasional. Kolusi yang begitu terpelihara. Maka, hari itu adalah terakhir kali ia mengemis sepotong asa dari lima rumah sakit yang menolak merawat putranya. Korps Bhakti Husada itu hanya mampu melihat ketika ia bersimpuh mengiba uluran kasih. Apa nyana, nyawa kapitalisme bukanlah kawan dari perasaan iba. Tangan Aska membeku dalam dekapannya. Denyut nadinya melemah dan terhenti. Semua mata berpaling ketika itu.

"Aska!" Ia menggerung pilu, merengkuh tubuh mungil Aska.

Kenangan itu diputar berulang-ulang, menyulut api ke dalam hati.

Dia terus menarik pelatuk pistol genggamnya. Peluru tersisa masih berhamburan. Ia tak lagi peduli pada suara sirine yang meraung-raung di belakang. Hingga sebuah terjangan mendarat di punggung. Tubuhnya tersentak, mengejang dijalari hawa perih.

Lalu dua butir peluru kembali melubangi punggungnya.
****


Senja itu berkabut mendung dalam berita duka.
Spoiler for Breaking News:





Jejak catatan 2019. Cerita fiktif belaka.
profile-picture
bukhorigan memberi reputasi
Diubah oleh Ilal303


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di