anus.buswedanAvatar border
TS
anus.buswedan
Denny Siregar: Aksi 212, Ahok dan Tito Karnavian
Aduh saya sampai lupa membahas aksi 212 kemarin. Habis beritanya sepi sih. Media sudah pada bosan dengan model tekanan massa seperti itu. Pesertanya juga sekarang cuma diklaim "ratusan ribu". Biasanya sih ada angka jutanya.

Tapi angka ratusan ribu itu juga sulit dipercaya. Karena mereka biasa bohong, suka menaikkan harga kayak pedagang curang. Kalau ribuan, mungkin lah.

Tuntutan mereka juga enggak solid. Macam-macam. Mulai turunkan Jokowi, kesal sama Ngabalin sampai Harun Masiku segala. Pada intinya, itu demo sia-sia. Kayaknya sponsornya juga enggak ada. Ada yang dipenjarakan, ada yang diancam, dan ada juga yang dirangkul pemerintah.

Saya jadi ingat pembicaraan Ahok yang viral kemarin, yang bertanya kenapa pemerintah diam saja ketika ia dijadikan tersangka.

Antara diam dan strategi penyelamatan negara itu beda. Saya sejak lama sudah mengira bahwa apa yang dilakukan aparat pada waktu itu adalah menyelamatkan negara dari masalah yang lebih besar.

Harus diakui, di sinilah kehebatan mantan Kapolri Tito Karnavian.

Bayangkan, seandainya waktu itu Ahok tidak "dilapaskan". Pasti situasi akan chaos, karena tekanan massa yang didorong oleh miliaran rupiah dana dari politisi dan pengusaha yang punya kepentingan.

Dan ketika itu terjadi, kelompok 212 dan Rizieq Shihab pemimpin mereka, akan mendapat legitimisasi kuat dari rakyat. Mereka akan jauh lebih besar dari sekarang. Dan situasi Indonesia belum tentu sebaik ini sekarang.

Sekarang si 212 sudah gembos kayak ban motor lama yang penuh lubang. Mau di-branding apa juga, masyarakat ketawa saja. Malah mereka dicemooh karena orang sudah pada bosan. Rizieq juga sampai enggak pulang-pulang.

Harus diakui, di sinilah kehebatan mantan Kapolri Tito Karnavian.

Dia tidak menghajar kelompok rusuh itu, tapi membangun pipa yang menyalurkan aksi itu ke selokan. Hasilnya kita rasakan sekarang. Kita masih bekerja seperti biasa, dan kelompok itu terus-menerus sibuk memikirkan, "Jualan apa lagi yang bisa laku ya sekarang?"

212 itu seperti Nokia. Mereka dulu sepertinya gagah perkasa, sekarang orang mau memakai saja sudah ogah. Sudah jadul, enggak sesuai masa.

Sekarang kelompok itu seperti sendirian. Yang mau rangkul saja malas, soalnya nasi bungkusnya sekarang minta karet dua, mau nambah rendang segala. Padahal biaya yang disediakan cuma buat nasi separuh sama sepotong kecil udang, tapi buntutnya saja. "Yang penting kenyang," kata donatur.

Eh, gimana kabar 212 Mart?

Juga enggak kedengaran suaranya. Mungkin sudah mati diam-diam, enggak ada yang beli karena harganya mahal. Mereka yang jualan agama itu enggak paham, pasar hanya mengenal mana barang yang murah, bukan mana barang yang syariah.

Dua satu dua bentar lagi akan tinggal kenangan. Akan diingat sebagai kelompok parodi dengan hiburan gratis dan menjadi lawakan.

Mungkin kelak akan ada film layar lebarnya, dengan judul, "212 SAMA DENGAN 5". Lumayanlah, biar mereka dianggap bisa berhitung. Masak selalu dianggap enggak bisa apa-apa.

Sumur
https://www.tagar.id/denny-siregar-a...tito-karnavian

Kadrun fpi hti dulu ngarep niru skenario kejadian arab spring kek yang sukses di negara2 timteng demo jatuhin rezim lama
Skrg tinggal ngarep si anus yemen haha
shinkutouAvatar border
sebelahblogAvatar border
4iinchAvatar border
4iinch dan 9 lainnya memberi reputasi
10
2.5K
33
GuestAvatar border
Guest
Tulis komentar menarik atau mention replykgpt untuk ngobrol seru
Urutan
Terbaru
Terlama
GuestAvatar border
Guest
Tulis komentar menarik atau mention replykgpt untuk ngobrol seru
Komunitas Pilihan