CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Hello, Good Bye Bae (Ver. 2)
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5e3d27cc337f934cd827c7ce/hello-good-bye-bae-ver-2

Hello, Good Bye Bae (Ver. 2)

Hello, Good Bye Bae (Ver. 2)

Blurb :

"Kita tidak saling pergi, tidak juga ingin bersama lagi"

Kalau ditanya kenapa Karif dan Dias terlibat hubungan, bahkan bertahan 2 tahun lamanya maka baik Karif ataupun Dias tidak tahu bagaimanya untuk menjawabnya. Bukan karena saling menyukai tanpa alasan, atau ada alasan yang membuat mereka bisa bersama. Entahlah.

Karif betah mempunyai pacar seperti Dias, perempuan itu unik saja bagi Karif. Terkadang ada satu dua sifat perempuan itu yang tidak dimengerti Karif. Tapi tak apa, Dias bukan tipe perempuan yang menganut paham 'perempuan selalu benar'. Intinya Karif menyukai Dias karena Dias adalah Dias. Kalau Dias bukan Dias, Karif mungkin tidak menyayanginya sebesar perasaannya saat ini.

Bagi Dias, Karif cukup membumbui hari-harinya. Ya, katakanlah itu alasan ketika Dias ditanya kenapa ia menyukai Karif. Sejauh ini Dias menjalin hubungan paling lama dengan Karif, sebelumnya Dias selalu putus dengan mantannya tidak lebih dari seminggu pacaran. Dan ya Dias tidak butuh waktu lama untuk move on, karena Dias selalu membentengi hatinya untuk tidak terlalu jatuh mencintai seseorang. Namun, saat ini Dias menjadi berpikir apakah ia akan baik-baik saja jika nantinya ia tidak bersama Karif. Ternyata rasa semakin terasa ketika terbiasa bersama. Ah biarlah itu menjadi urusan nanti.

Pasangan yang satu ini jauh kalau dibilang sempurna, hanya saja kisah mereka setingkat lebih berwarna dari cinta monyet anak SMA.


***




Haiii guys emoticon-Kiss (S)

Pasti ada yang bingung kan kenapa Hello, Good Bye Bae aku post dua kali di thread yang berbeda?

Sebelumnya aku minta maaf banget soalnya gajelas banget yakan jadi penulis. Tapi yaudah gini lah aku hehe. Jadi guys, mungkin saat kalian baca versi yang ini kalian akan menemukan part yang sama dengan versi Hello, Good Bye Bae yang sebelumnya. Kenapa ada versi keduanya? Karena ketika aku lanjutin nulis versi satu aku ngga ngerasain feel nya sama sekali, kayak nggantung gitu ceritanya. Kayak ngga nemuin masa depan wkwk, ngga ngga bercanda emoticon-Cape d... (S)emoticon-Cape d... (S)

Oiya alasan lain karena yang versi satu yang aku tulis di Wattpad juga udah aku hapus, gantinya sama kayak yang ini. Kalau kalian mau lebih merasakan baca novel yang ngga per thread kalian bisa banget baca Hello, Good Bye Bae di Wattpad.

Dan alasan terakhir adalah, karena visual pemeran utama cowoknya ganti wkwk. Aku ngga tahu sih kalian bakal suka atau ngga, tapi ganteng kok emoticon-Ngakak (S)

Akhirnya karena ada beberapa part yang bagus, sayang aja kalau nggak dilanjut. Yahh inilah versi terbaru dari Hello, Good Bye Bae. Semoga kalian lebih suka ceritanya emoticon-I Love Kaskus (S)
profile-picture
profile-picture
profile-picture
rinafryanie dan 2 lainnya memberi reputasi

Hello #1 (a)

“ Tolong mengertilah, aku tidak begitu terluka namun tidak juga baik-baik saja.”

-Hello, Good Bye Bae-

Saat ini tak mengapa bukan tertawa mengingat potongan memori saat itu, rasanya seperti menjatuhkan harga diri sendiri. Tetapi, memang begitu adanya. Mau bagaimana lagi?

Hampir sebagian orang percaya, sesuatu yang datang erat kaitannya dengan siap menerima kehilangan kapanpun itu, katakanlah perasaanmu harus siap terluka. Namun, bukankah pernyataan ini seperti menghakimi hati untuk melepaskan seseorang saat hatimu benar-benar tidak siap menerima semuanya?

Terlalu banyak kata dan tanya untuk takdir yang belum tahu jawabannya.

“Kak, stop! Please...” entah berapa kalinya Yola-perempuan yang duduk di kursi penumpang sebelah kemudi meminta perempuan yang saat ini tengah mengemudi diantara hiruk pikuk kepadatan lalu lintas kota Jakarta dini hari untuk menghentikan laju mobilnya.

Namun bukannya menuruti, perempuan yang lebih tua empat tahun dari Yola itu memilih mengabaikan saja dan semakin dalam menginjak gas setelah melewati persimpangan jalan. Ia benar-benar fokus menyetir dan mengacuhkan Yola yang semakin kencang menangis di sampingnya.

“Yas... Dias... Yas please! Gue nggak mau pulang!” kali ini Yola berganti memohon kepada satu lagi perempuan di dalam mobil itu yang duduk di kursi belakang. Yola berharap perempuan itu mengerti dirinya.

Dias Maharani, perempuan itu hanya menatap Yola tanpa berkata apapun.

Yola menghela napas berat, percuma saja berbicara dengan dua orang yang tidak berada dipihaknya. “Kalian buang-buang waktu gagalin rencana gue, percuma juga Kak Jeje bawa gue pulang, percuma juga lo sebagai sahabat nggak ngertiin gue Yas. Gue muak dengan semua ini. Kalian lebih milih melihat gue mati pelan-pelan saking muaknya terperangkap melihat keadaan keluaga gue!”

Ciiitttttttttttt

Jeje mengerem kejut mobilnya, membuat suara decitan yang timbul dari gesekan ban mobilnya dengan aspal jalam. Tubuh mereka bertiga terdorong kedeoan, Yola dan Dias terkejut atas tindakan Jeje yang di luar dugaan.

Jeje memegang kedua bahu Yola, membuat perempuan itu sepenuhnya menghadap ke arahnya. “Kenapa? Kamu mau coba cara lain untuk bunuh diri?” tanya Jeje. Yola terdiam, masih terbawa keterkejutannya barusan. “Kamu mau tabrakin diri kamu di jalanan sana, atau lompat dari jembatan atau kamu mau coba gantung diri?”

“Kamu pikir selama ini Kakak nggak buang-buang waktu buat nyembuhin kamu?”

Yola tidak mampu menahan air mata dipelupuknya untuk jatuh semakin deras saat menatap Jeje. “Sampai kapan kamu seperti ini terus La?” Jeje bertanya dengan nada yang terdengar begitu frustasi.

“Kak, kalian perlu waktu bicara berdua, biar aku tunggu di luar.” Sebelum turun, Dias menepuk bahu Yola. “La, jangan pernah lo lupa gue masih ada di sini sekarang karena perkataan lo waktu itu.”

Setelah berkata demikian, tanpa menunggu tanggapan Yola, Dias sudah lebih dulu keluar mobil. Perempuan itu merapatkan mantelnya, karena cuacanya lumayan dingin. Ia berjalan memasuki supermarket diseberang jalan dekat mobil Jeje berhenti. Dias duduk di kursi depan supermarket setelah kembali dari membeli beberapa susu kotak.

Hello, Good Bye Bae (Ver. 2)

Perempuan itu duduk sambil meminum susu kotaknya, pandangannya tak lepas dari mobil Jeje.

Dias tidak berpikir bahwa masalah Yola, teman sekaligus salah satu pasien Kak Jeje bisa serunyam ini.

Beberapa Jam lalu, tepat sebelum jarum pendek menyentuh angka satu dini hari Dias mendapat telepon dari Kak Jeje bahwa pasiennya kabur dan mencoba melakukan percobaan bunuh diri dengan berniat melompat dari atap gedung rumah sakit. Dan ya betapa paniknya Dias bahwa pasien yang dimaksud Jeje adalah teman sekelasnya. Untung saja mereka berhasil menggagalkan tindakan bodoh Yola.

Dias membiarkan Jeje menenangkan Yola. Hanya saja, Dokter cantik itu kelihatan berbeda hari ini. Entah apa yang membuat Jeje tidak setenang biasanya ketika menghadapi pasiennya.

Dias menyesap susu kotak rasa coklat, menikmati udara malam dengan beberapa kendaraan melintas di jalan di depan supermarket.
Lalu, saat tak sengaja menatap jalanan matanya menangkap segerombolan pengendara motor gede yang begitu familiar dipenglihatannya.

Langsung saja, Dias mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang.

Panggilannya tidak dijawab, bahkan sampai panggilan kedelapan seseorang yang Dias hubungi tidak menjawab. “Sampai benar yang gue lihat adalah lo, habis lo Rif!” umpat Dias, tangannya meremas bungkus susu kotaknya yang sudah habis dan melemparnya ke dalam tempat sampah.

Ia mencoba menghubungi orang yang berbeda. Dan, panggilan tersambung.

“Halo.” Ucap Dias, suara gaduh langsung menyambut pendengarannya. “Abang dimana?”

“Tempat biasa, kenapa?” jawab seseorang dari seberang telepon.

“Karif ada disitu juga?”

“Hah apa? Suara lo gak jelas, putus-putus di sini berisik banget ngga kedengeran. Nanti gue telfon balik.”

“Tapi-”

Tut

Dias menggeram kesal, kakak laki-lakinya itu menutup panggilan secara sepihak. Kemudian Dias mengirim pesan kepada nomor yang sejak tadi tidak bisa dihubungi sebelum ia memasukkan ponselnya ke dalam saku, dan kembali ke mobil karena Jeje menyuruhnya masuk.

Bukan Pacar Gue: pulang Karif! Besok ada UAS jangan balapan!

Bersambung...
profile-picture
puputhw memberi reputasi

Hello #1 (b)

-Hello, Good Bye Bae-


“Kakak ngga mau mampir dulu?” tanya Dias, saat mobil Jeje berhenti di depan gerbang rumahnya. Ia melepas sabuk pengaman, pada saat yang bersamaan Dias menyadari bahwa perempuan disebelahnya tampak menghela napas panjang namun kemudian mengulas senyum.

“Langsung pulang saja, Yas, kasihan Yola dia pasti lelah dan butuh istirahat,” tolaknya, kepalanya berputar ke belakang menatap Yola.
Setelah tadi, Jeje berhasil menenangkan Yola. Yola minta pindah ke kursi belakang dan tertidur selama perjalanan.

Dias mengelus lembut punggung tangan Jeje yang masih berada diatas setir. “Kak Je...” Jeje beralih menatap Dias, menunggu perempuan yang dikenalnya 3 tahun lalu yang sudah ia anggap seperti adik kandung sendiri itu melanjutkan ucapannya. “Aku belum pernah melihat kakak seemosional tadi, bahkan meskipun Yola ataupun pasien kakak yang lain begitu merepotkan kakak. Kenapa kak? Kakak lagi ada masalah pribadi?”

Hello, Good Bye Bae (Ver. 2)

Jeje tersenyum. “Aduh kamu jangan sotoy deh,” Ia menepuk dahi Dias, membuat perempuan itu menggerutu. “Kakak baik-baik aja kok, Cuma...” Jeje menghentikan ucapannya, membuat Dias penasaran.

“Cuma apa?”

“Gaji kakak belum keluar Yas, makanya kakak pusing.” Jeje tertawa pelan, takut suaranya sampai membangunkan Yola.

Dias konsisten dengan wajah seriusnya, tidak terpengaruh dengan lelucon Jeje yang terdengar sangat garing ditelinganya. “Kakak ada masalah sama abang?” desaknya.

“Hahaha, nggak kok. Udah sana masuk, terus tidur katanya nanti pagi ada UAS. Jangan sampai bangun telat.”

Akhirnya, Dias menyerah. Jeje benar-benar manusia pemegang akting terbaik. “Iya iya, kakak hati-hati nyetirnya. Kabarin aku kalau sudah sampai.”

Kemudian Dias keluar dari mobil dan menutup pintu mobil dengan pelan. Jeje menurunkan kaca mobilnya. “Makasih sudah menemani kakak.”
“Jangan ngaco deh, Yola kan teman aku. Masa iya aku diam saja melihat dia hampir melakukan hal bodoh seperti tadi.”

Jeje tersenyum lagi, perempuan itu memang sangat tidak pelit membagi senyumnya. “Oke Yas, kakak balik dulu.” Jeje menyalakan mesin mobilnya dan menaikkan kaca mobilnya, bersiap untuk pergi. Namun, sebelum itu suara Dias menghentikan Jeje.

“Kak.”

“Ya?”

“Jaga Yola baik-baik,” ujarnya. Jeje mengangguk. “Dan...” Dias menggantung ucapannya sebelum menyembungnya dengan sebuah senyum kecut, “sepertinya aku juga mulai baik-baik saja.”

Jeje hanya tersenyum. Kemudian perempuan itu menyalakan mesin mobilnya lagi, saat mobilnya melewati Dias, Jeje menekan klakson sekali lalu melajukan mobilnya melesat menjauh.

Hello, Good Bye Bae (Ver. 2)

Dias menatap mobil Jeje yang sudah hilang dipertigaan komplek rumahnya. Kemudian ia memasuki rumah. Dias berharap Jeje dapat membantu Yola-sahabatnya melewati masa-masa mental down-nya. Penyakit seperti kasus Yola tidak bisa disembuhkan hanya dengan obat.

Lingkungan yang mendukung dan orang-orang disekitarnya menjadi salah satu penenang paling baik untuk membantu pengobatannya.

Bagaimana jika dirinya yang berada diposisi Yola, Dias pikir ia sendiri tidak mungkin mampu bertahan sejauh Yola. Akan seberapa lebih depresi dirinya ketimbang Yola. Untuk saat ini saja, Dias tidak yakin dengan kondisi dirinya yang... ah sudahlah.

Dias memasukkan sisa susu kotak yang tadi belum sempat diminum ke dalam kulkas, ia mengambil air dan menuangkannya sedikit kedalam gelas. Sambil minum, Dias melirik jam dinding di dekat daput. Jam sudah menunjukan pukul setengah tiga pagi namun tidak tampak tanda-tanda abangnya itu di rumah. Motornya saja tidak terlihat di garasi depan.

Selesai minum, Dias hendak naik ke kamarnya yang berada di lantai 2. Namun belum sempat kakinya menyentuh anak tangga pertama. Terdengar ketukan dari pintu depan, Dias berpikir oh mungkin itu abangnya.

Ia bergegas membuka pintu. Dan...

“Karif?”

Hello, Good Bye Bae (Ver. 2)

Laki-laki dengan tampang urakan dihadapannya itu memegang kedua bahu Dias. “Sayang....”

“Lo... jangan bilang lo habis balapan?” tanya Dias menintimidasi.

“Yas!”

“Kenapa,sih?”

“Abang-abang gue ditahan polisi,” ujarnya lalu memeluk Dias.

Bersambung...

Lanjut Part #2 guysss emoticon-Sundul Up
profile-picture
puputhw memberi reputasi
Lihat 2 balasan
Balasan post Puputhw199
Quote:


Gimana guys visual barunya Karif? emoticon-Wagelaseh
profile-picture
puputhw memberi reputasi
Diubah oleh Puputhw199
Balasan post Puputhw199

Hello #2 (a)

#2

“Hari ini aku mengerti kamu, besok mungkin tidak. Jadi bersikaplah, bagaimana supaya aku selalu tahu apa maumu.”

-Hello, Good Bye Bae-


Kerumuan orang-orang yang berada disisi jalan semakin bersorak mendukung jagoan mereka masing-masing. Di garis start sana, dua orang sudah bertengger di atas motornya, bersukarela memeriahkan jalanan malam ini. Mereka saling memainkan setang gas, memacu adu nyaring suara knalpot hingga mengeluarkan kebulan asap.

Dari balik helm cakilnya, laki-laki yang sudah bersiap melesat dengan motor gede warna hijaunya itu melirik lawannya dari sudut matanya. Yang langsung dibalas dengan tatapan yang sama tajamnya. Bahkan tanpa melepas helm yang menutupi hampir sebagian wajah kecuali mata, laki-laki itu tahu bahwa lawannya menyeringai kepadanya. Namun bukannya menciutkan nyalinya, hal itu semakin memancing dirinya untuk bertekad memenangkan balapan ini.

Saat itu, seorang perempuan cantik memasuki arena dan berdiri diantara kedua pembalap itu, ia tersenyum cantik sambil mengangkat ke atas sebuah kain yang berada di tangan kanannya.

“Kalian siap?” tanyanya kepada si pemilik motor hijau dan si pemilik motor hitam.

Keduanya mengangguk.

Perempuan itu mulai menghitung. “Satu.... dua.... tiga.... go!”

Setelah hitungan ketika, keduanya melesat meninggalkan garis start dengan sama kencangnya. Saling bergantian menyalip satu sama lain.

Sementara itu, tak jauh dari garis start.

Hello, Good Bye Bae (Ver. 2)

“Gue khawatir,” ungkap seseorang yang berdiri bersandar pada motor gede miliknya saat melihat dua motor itu saling salip menyalip, dia Karif. Karif Jeka Elhanan.


Hello, Good Bye Bae (Ver. 2)

Nanda, lelaki yang saat itu duduk di atas motor yang terparkir bersebelahan dengan motor Karif menaikkan sebelah alisnya. “Kenapa?” tanyanya.

“Bang Saga sudah tua, dari sekian banyak hal yang bisa dia lakukan dia milih nerima tantangan si tai itu buat balapan.”

Sebuah jitakan mendarat di kepala Karif, ia mengaduh dan hendak menyumpah serapah orang yang berani menistakan kepalanya yang berharga. Namun semua itu batal Karif lakukan saat menyadari siapa yang melakukan itu kepadanya.

“Umur dia cuma beda 5 tahun dari lo,” balas laki-laki itu.

“Bang Januar?”

Hello, Good Bye Bae (Ver. 2)

“Kamu kalau mau pergi diam-diam dari rumah, motornya jangan dihidupin di garasi. Gue jadi dengar,” sindir laki-laki bernama lengkap Januar Elhanan itu merangkul Karif-adik laki-lakinya. Karif tertawa cengengesan, iya dia ketahuan.

“Demi bang demi kakak ipar,” kilahnya. Karif menyambung ucapannya. “Bang Saga suka bikin khawatir kalau lagi seperti itu dibiarin sendiri.”

Baik Nanda maupun Januar mengangguk. Mengiyakan ucapan Karif. “Sudahlah biarin manusia satu itu ngelakuin hal yang menurut dia benar,” balas Januar.

Disisi lain, tinggal berapa meter lagi keduanya memasuki garis finish, dan tampaknya persaingan semakin sengit. Namun, malam ini keberuntungan berpihak pada Saga, ia melewati garis finish lebih dulu daripada lawannya.

Hello, Good Bye Bae (Ver. 2)

Saga menstandar motornya dan melepas helmnya. Laki-laki itu turun dan bereuphoria bersama pendukungnya atas kemenangannya. Tapi hal tersebut tidak berlangsung lama, Angelo-lawannya melempar helm yang ia pakai kepada Saga. Membuat Saga yang tidak siap dengan serangan tiba-tiba Angelo terhuyung ke belakang.

BRUK!

Tubuh Saga terhempas ketika Angelo mendorongnya dengan cukup keras. Tak terima, Saga balas mendorong Angelo lalu melihat kesempatan ia menduduki perut Angelo dan menghajar habis-habisan wajah tampan lelaki itu.

Nanda, Karif dan Januar yang menyaksikan itu langsung berlari menghampiri keduanya.

“Saga! Sudah Ga!” seru Januar, berusaha menahan Saga yang emosinya mulai lepas kendali.

“Bajingan lo emang!” desis Saga meninju wajah Angelo sekali lagi.

Lelaki itu tidak membalas, ia hanya menarik ujung bibirnya yang sobek karena tinjuan Saga membentuk seringai meremahkan.

Keributan tidak berhenti disitu, teman-teman dari pihak Angelo ikut menyerang Karif, Nanda, dan Januar yang awalnya berniat memisahkan. Mereka sempat kewalahan menghadapi teman-teman Angelo yang jumlahnya lumayan banyak, untung saja tak berselang lama teman-teman dari pihak Saga segera datang dan ikut membantu.

Alhasil, jadilan jalanan tempat mereka balapan menjadi tempat perkelahian dua kubu.

Bug!

Karif mendapat tinjuan di rahangnya, dan membuat tubuhnya sedikit terhuyung. “Shit! Heh babi! Beraninya lu mukul anak di bawah umur!” umpat Karif menarik ujung kerah kemeja seseorang yang melayangkan tinjuan ke wajah tampannya. Sedekit lagi kepalan Karif menyentuh kulit lelaki itu, namun suara sirine polisi menghentikan semuanya. Tanpa berniat melanjutkan pertikaian, mereka kemudian segera pergi untuk melarikan diri.

Karif berusaha membantu Januar yang memapah Saga yang sudah babak belur untuk pergi juga dari tempat itu. “Rif, ambil mobil abang dipertigaan sana,” perintah Januar melemparkan kunci mobilnya.

Karif bergegas berlari ke tempat di mana mobil kakaknya terparkir. Namun tampaknya Karif terlambat menyelamatkan kakak-kakaknya dan sepertinya mereka akan berakhir menginap di kantor polisi malam ini.

“Ssttt... aww...” Karif terkejut saat Dias menekan luka memarnya dengan handuk yang berisi es batu untuk mengompres lukanya.

Hello, Good Bye Bae (Ver. 2)

Dias bangkit berdiri, melempar handuk itu dipangkuan Karif. Ia menjadi sangat kesal mendengar pengakuan jujur Karif saat tadi laki-laki itu datang dan bilang abang-abangnya ditahan polisi. Termasuk kakak laki-lakinya.

“Kenapa lo nggak larang abang gue ikut balapan?” tanya Dias ketus.

“Gue takut dipecat jadi calon adik ipar.”

“Ohh jadi lo lebih milih gue yang pecat lo sebagai pacar.”

“Eh, jangan dong,” Karif berdiri, berusaha meraih tangan perempuan itu. Namun kalah cepat Dias lebih dulu menghindar.

“Sudahlah, gue males ngomong sama lo. Pulang sana!” Dias berjalan menaiki anak tangga, meninggalkan Karif yang masih berdiri di ruang tamu.

“Bang Saga, bang Januar, sama abang-abang gue yang lain gimana nasibnya?” tanya Karif teringat nasib abang-abangnya.

Tanpa menoleh Dias menjawab. “Gue sudah hubungi pengacara Mami, dia bakal urus bang Saga dan yang lain. Tapi mungkin malam ini mereka tetap menginap dikantor polisi.”

Bersambung...
profile-picture
puputhw memberi reputasi

Hello #2 (b)

-Hello, Good Bye Bae-


Hari pertama Ujian Akhir Semester Gasal telah berakhir, Dias memasukkan barang-barangnya ke dalam tas dan bersiap untuk pulang setelah bilang gue duluan ke teman-temannya. Perempuan itu ingin segera tidur, ia melewati ujian hari ini dengan mata yang rasanya ingin terpejam saja dan mulutnya tidak berhenti menguap.

Iya Dias sangat mengantuk, ia baru bisa tidur dengan tenang setelah Karif pulang dan karena saat itu sudah pukul setengah lima, Dias sholat subuh terlebih dahulu kemudian benar-benar tidur dan bangun kurang lebih setengah tujuh. Untung saja ujian dimulai pukul delapan, jadi ia masih punya cukup waktu untuk bersiap-siap.

“Dias!” panggil seseorang dari belakang saat Dias melewati koridor gedung IPS.

Dias menoleh dan menemukan guru wali kelasnya berjalan menghampirinya. “Ada yang bisa saya bantu, Pak?” tanyanya sopan.

“Tolong sampaikan surat ini kepada orang tua Yola, sudah seminggu dia tidak masuk dan hari ini dia juga tidak mengikuti ujian.” Dias menerima amplop yang disodorkan oleh Pak Farhan, guru wali kelasnya. “Kamu kan teman sebangkunya, masa kamu tidak tahu dia kenapa?”

Dias menegang seketika, namun ia bisa segera menetralkan raut wajahnya. Perempuan itu tersenyum. “Saya kurang tahu Pak, sepertinya sedang ada acara keluarga.” Dias melanjutkan. “Bapak tahu sendiri, kan, bagaimana orang tua Yola?”

“Iya juga sih, anak orang penting,” balas Pak Farhan, setuju dengan Dias. “Tapi tetap saja seharusnya dia lebih mementingkan sekolah.”
Dias tersenyum kikuk. Andaikan bapak tahu yang sebenarnya, ujarnya dalam hati.

“Baik Pak nanti saya sampaikan surat ini ke rumah Yola, kalau sudah tidak ada yang disampaikan lagi saya permisi dulu,” Dias ingin bergegas pergi sebelum lebih banyak pertanyaan yang akan membuatnya bingung untuk menjawabnya, sebelum itu ia menyalami Pak Farhan terlebih dahulu.

Baru beberapa langkah berjalan, wali kelasnya itu kembali menghentikan Dias. “Dias tunggu sebentar.”

Dias membalikkan lagi badannya menghadap Pak Farhan. “Iya Pak, ada lagi yang bisa saya bantu?”

“Pacar kamu itu kenapa tidak ikut ujian?” tanya Pak Farhan.

“Siapa pak?”

“Karif lah siapa lagi memang?” ujar Pak Farhan. “Atau kamu sudah putus dengan dia?”

Mulut Dias terkatup ketika hendak menjawab pertanyaan Pak Farhan, namun laki-laki seumuran ayahnya itu malah menjawab pertanyaannya sendiri. “Baguslah kalau kamu putus dari dia, anak itu nakalnya bikin pusing kepala saya.” Ujarnya.

“Yasudah bapak kembali ke kantor dulu,” sambung Pak Farhan menepuk pundak dua kali pundah Dias. “Iya pak silahkan.”

Hello, Good Bye Bae (Ver. 2)

Ditempatnya Dias menenggerkan satu tangannya dipinggangnya, dan tangan satunya lagi mengibas-kibaskan amplop surat itu ke wajahnya. Dias mendadak merasa panas. “Nggak teman, nggak kakak, nggak pacar. Sama-sama nyebelin!”

Bersambung...

Skuyy lanjut part #3 emoticon-Wagelaseh
profile-picture
puputhw memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Balasan post Puputhw199
Sebelum lanjut part #3 gimana kalau kenalan sama semua visual Hello, Good Bye Bae?

Hello, Good Bye Bae Main Visual

1. Claudine Atitaya Craig as Dias Maharani
Ngga ada yang beda dari Hello, Good Bye Bae ver. 1 untuk karkter Dias Maharani tetap Claudine Craig. Pokoknya tuh visual dia sesuai aja untuk aku berimajinasi menulis tokoh Dias.

Hello, Good Bye Bae (Ver. 2)


Hello, Good Bye Bae (Ver. 2)

2. Jeon Jungkook as Karif Jeka Elhanan
Dan... untuk visual tokoh utama laki-lakinya adalah Kooky. Hehe ketahuan kalau aku army banget nggak sih? tapi gapapa karakter Karif pas aja kalau digambarin dari sosok Jungkook. Bayangin aja Jungkook jadi murid SMA yang bandel tapi sayang pacar, wkwk. Fyi semua member bangtan bakal nongol di sini loh. Beberapa kan udah tuh, nah masih ada tiga member yang belum muncul. Kira-kira bakal protagonis apa antagonis tuh?

Hello, Good Bye Bae (Ver. 2)


Hello, Good Bye Bae (Ver. 2)

Oiya lupa kasih tahu, latar belakang keluarganya Dias maupun Karif beda dari Hello, Good Bye Bae ver. 1
Okedeh mungkin cukup segitu aja dulu kenalan sama main visualnya. Next lanjut part #3 emoticon-Kiss (S)
profile-picture
puputhw memberi reputasi

Hello #3

#3

“Ya memang susah jika pada dasarnya ia tak memiliki perasaan yang sama denganmu.”

-Hello, Good Bye Bae-



“Astaga, sabar!”

“...”

“Iya iya, ini gue sudah sampai.”

Klik!

Karif mematikan sepihak sambungan telponnya saat ia memasuki cafe tempat ia berjanjian dengan seseorang. Aroma vanila menyeruak indra penciumannya saat ia mendorong masuk pintu cafe.

Laki-laki itu mengedarkan pandangannya ke sekeliling cafe, dan berhenti pada perempuan memakai baju tidur bergambar Hello Kitty yang duduk di pojok ruangan dekat jendela. Entah Karif harus berkomentar apa untuk kelakuan perempuan yang satu itu. Baju tidur pink yang dipakainya cukup membuat perempuan tersebut menjadi pusat perhatian.

Hello, Good Bye Bae (Ver. 2)

Karif melangkah mendekat, kemudian duduk di kursi kosong yang berhadapan dengan perempuan itu, yang dari jauh dilihatnya memasang tampang cemberut sembari menghembuskan napas berulang kali.

Belum sepatah kata keluar dari mulut keduanya, seorang waitress datang untuk mencatat pesanan mereka. Dan itu artinya, Karif tidak telat datang karena waitress saja baru mendatangi meja mereka. Ah dasar, padahal saat perempuan di hadapannya itu menelpon agar Karif datang, ia sudah seperti orang kesetanan dikira ada apa.

“Mbak catet ya,” kata perempuan itu setelah menerima daftar menu. Waitress itu mengangguk. “Roti bakar satu, bakarnya sampe agak gosong, kasih topping coklat, keju, stroberi. Terus, chicken fingers satu, nggak mau tau pokoknya harus yang bagian paha. Terus, jamur enoki gorengnya satu, campur yang rasa BBQ, keju, sama spicy. Terus, onion ring-nya satu. Minumnya strawberry smootie satu, hot chocolate satu dikasih es yang banyak. Terus—”

“Umm mbak...” sela waitress. “Hot chocolate itu minuman panas, kalau misal mbaknya mau yang dingin bisa pesan ice chocolate.”

Perempuan itu mendongak, wajah kesalnya tercetak. “Mulut, mulut siapa? Yang mau minum siapa? Terserah gue lah mau nyebutnya apa.”

“Bukan begitu maksud saya mbak, tapi—”

“Ssttt... catat aja mbak, jangan mancing saya ribut disini,” decaknya. “Satu lagi, air putih dinginnya dua gelas.”

Waitress itu menurut saja dan tanpa banyak bertanya lagi ia mencatat semua pesanan. “Masnya mau pesan apa?” tanya waitress itu. Karif masih diam, tidak bergeming.

“Rif,” panggil perempuan di hadapan Karif. “Karif!”

Ia melambaikan tangannya di depan wajah Karif. Namun, laki-laki itu masih melamun. Lalu...

“Woyyy!!”

“Hah,” Karif mengerjap karena perempuan itu menepuk bahunya lumayan keras.

“Lo mau pesan apa?” tanyanya sekali lagi.

“Air putih aja mbak.”

Setelah mencatat pesanan mereka, waitress tersebut berlalu.

“Gue gak minta dibayarin, kenapa lo pesan air putih doang?”

“Gue kenyang setan dengar pesanan lo barusan.”

Hello, Good Bye Bae (Ver. 2)

Venus Megan, perempuan yang sudah bersahabat dengan Karif sejak mereka masuk sekolah dasar, dan kebetulan mereka sekelas. Perempuan berkulit putih bersih itu meletakan kepalanya di atas meja. Kakinya tidak tinggal diam, menendang-nendang kaki meja menciptakan keributan kecil. Beberapa pengunjung menatap kesal ke arah meja mereka, dan Karif hanya memperhatikan saja tidak berkomentar ataupun menegur.

Buk.

Buk.

Buk.


“Arghh! Gue kesal,” kata Megan mengangkat kepalanya menatap Karif.

“Putus?” tebak Karif. “Lagi?”

Dengan wajah cemberut Megan mengangguk.

Karif menggerakkan bibirnya seperti mengucap oh, laki-laki itu tidak menunjukan ekspresi apapun. Kontan saja, Megan menjadi tambah badmood karena tanggapan laki-laki itu. “Kok lo biasa aja?” sungut Megan.

“Ya terus gue harus gimana?”

“Kasih saran kek.”

“Permisi,” sela waitress tadi, datang membawa pesanan Megan plus segelas air putih pesanan Karif. “Ini pesanannya,” katanya lagi sambil meletakkan pesanan mereka, pesanan Megan lebih tepatnya di atas meja.

Karif menggumamkan terima kasih sebelum wanita yang mungkin seumuran dengan kakaknya itu hendak pergi.

Laki-laki itu menopang pipi memperhatikan sahabatnya yang makan seperti orang yang tidak makan selama sebulan. Suapan demi suapan masuk ke dalam mulut Megan, tidak peduli jika mulutnya masih penuh makanan dan belum tertelan, perempuan itu terus menyendok lagi dan lagi.

“Lo lapar apa doyan?” tanya Karif.

Megan tidak langsung menjawab, ia menunggu waktu sampai makanannya tertelan. “Lapar,” jawab Megan sambil mengunyah. “Pengen makan orang!” sambungnya.

Karif menggelengkan kepala, emosi sahabatnya ini memang mudah meledak-ledak. Megan membuang 30 menit waktu berharga Karif hanya untuk menemui perempuan itu. Masih berfaedah menemani Saga bersama abang-abangnya yang lain di rumah sakit.

Ya, jadi ceritanya pagi tadi setelah Saga dan kakaknya keluar dari kantor polisi. Calon kakak iparnya itu cukup banyak mendapatkan luka, dan akhirnya Januar berhasil membujuk Saga untuk ke rumah sakit. Dan betapa teganya Dias malah ngambek pada dirinya dan Saga. Sampai hari ini Karif tidak bisa menghubungi pacarnya itu.

Karif melirik Megan disela-sela ia minum air putih pesanannya. “Lo kok jadi sahabat jahat bener.”

“Lah, kenapa?” setelah mengatakan itu, Megan menyuapkan lagi makanannya ke dalam mulut.

“Nggak lihat muka tampan gue bonyok begini, gak ditanyain kenapa.”

“Pacar lo masih perhatian kan?”

“Masih lah.”

“Yaudah.”

“Yaudah doang?”

Megan menghentikan aktivitas makannya sejenak. “Kalau gue perhatian, nanti lo baper lagi.”

Karif terkekeh. “Dihh.”

“Lo tuh harus bersyukur punya pacar kayak Dias. Cakep, baik, sabar lagi ngadepin cowok awkward kayak lo. Gue aja ogah punya pacar kayak lo,” Megan bergidik membayangkan menderitanya menjadi Dias.

“Tiati lo, suka sama gue nyaho-nyaho deh,” ujar Karif meledek.

Megan meletakkan telunjuknya dibibir, menyuruh Karif untuk diam. “Gue lagi nggak mau dengerin bacotan lo,” katanya. “Hari ini gantian lo yang dengerin bacotan gue.”

Pantas saja Dias tidak pernah cemburu bahkan meskipun Karif sangat dekat dengan Megan. Mana mungkin ia bisa sampai berpaling dan menaruh rasa terhadap perempuan setengah jadi-jadian macam Megan.

Megan mulai mengeluarkan unek-uneknya. “Setelah gue pikir-pikir, cara yang gue lakuin ini salah, gue nggak boleh lari dari masalah apalagi sekadar bikin Mars cemburu. Dengan gue begini semakin menciptakan jarak yang jauh dengan Mars,” ada jeda Megan mengambil napas. “Lo tau gak sih, semenjak Mars tahu gue putus nyambung putus nyambung dengan banyak cowok dia malah menghindari gue, sering jalan sama cewek lain...” dan bla bla bla.

Megan terus mengungkapkan kekesalannya, mungkin perempuan itu sampai lupa menghirup oksigen. Intinya sih Megan membicarakan mantannya yang bernama Mars. Karif mendengarkan namun tidak memperhatikan, pandangannya justru beralih menatap ke arah jendela.

Ada lima detik Karif habiskan bahwa penglihatannya tidak salah. Karif mengucek matanya untuk memastikan pandangannya dari seseorang yang sedang berdiri di seberang jalan tepatnya di depan apotek yang sudah tutup. Sosok itu, kenapa ada di situ malam-malam?

“Megan,” panggil Karif. Bukannya tidak mendengar, tapi Megan tidak suka kalau ada yang menyela ketika ia sedang berbicara.

“Gue masih bisa B aja kalau Mars kadang cuek sama gue, tapi ini sudah diluar yang gue rencanakan, dia—”

“Megan!” Karif meninggikan suaranya, dan berhasil menyela ucapan perempuan itu.

“Apa sih Karif, gue belum selesai curhatnya.”

“Bersambung dulu ya, gue ada urusan.” Lalu, tanpa menunggu tanggapan dari Megan, laki-laki itu bergegas pergi.

“Karif!”

“KARIF!!”

“Asshhh sialan, untung teman.”

Bersambung...
profile-picture
puputhw memberi reputasi


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di