KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Alloh Sedang Kangen Makanya Aku Diberi Ujian
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5de382b94601cf30223f43b0/alloh-sedang-kangen-makanya-aku-diberi-ujian

Alloh Sedang Kangen Makanya Aku Diberi Ujian

Alloh Sedang Kangen Makanya Aku Diberi Ujian


(Kisah Nyata)

Alloh Sedang Kangen, Makanya Aku Diberi Ujian.

Aku adalah wanita paling beruntung di dunia. Aku seorang istri dan seorang ibu dari dua anak yang lucu. Anak pertama perempuan, sekarang usianya menginjak 7 tahun, sedangkan anak ke dua baru berusia 9 bulan, laki-laki. Lengkap sudah hidupku. Banyak yang bilang suamiku sangat tampan, selain itu dia juga mapan dan baik, tapi yang terpenting adalah, dia sangat mencintaiku dan anak-anak. Suamiku berkerja di perusahaan mobil asal Jepang. Gajinya besar, apalagi kalau ada bonus penjualan. Alhasil aku bisa membeli barang apa pun yang aku mau, atau pergi ke mana pun, bahkan pernah ke luar negeri juga. Selama menjalani pernikahan dengannya, kami tidak pernah satu kali pun bertengkar hebat. Setiap aku ngambek, dia selalu punya cara membuat aku melting dan luluh. Kemudian kami kembali mesra. Bahkan Adikku yang masih SMA, yang tinggal bersama kami, suka meledek. Dia bilang, "Norak, ih! Kalian kayak ABG aja." Setelah itu dia masuk kamar, mungkin dia malu sendiri melihat kelakuan kakak dan kakak iparnya.

Aku punya toko grosir di rumah. Menjual sembako dan aneka perabot rumah tangga. Walaupun usaha itu adalah warisan dari almarhum orang tuaku, tapi aku bersyukur, bisa membuat toko grosir kami semakin maju. Aku yatim piatu, sulung dari 3 bersaudara. Salah satu adikku sudah menikah dan tinggal dengan suaminya di kota Karawang. Sedangkan yang bungsu laki-laki sekarang kelas 3 SMA.

[Han, kita ikut kajian, yuk?] Sebuah pesan WA masuk dari salah satu sahabatku, Neni.

[Kapan?] balasku.

[Besok, Han,] jawab Neni. Aku berpikir, besok adalah hari minggu, saatnya aku holiday dengan suami dan anak-anakku, ikut kajian hanya akan buang-buang waktu.

[InsyaAlloh, ya, Nen. Aku izin dulu A Adis,] balasku. Padahal aku gak akan izin apa-apa pada suamiku, karena aku tidak akan pergi ke kajian itu.

[Oh, ya udah, semoga suami kamu ngizinin, aku kangen kajian sama kamu, udah lama banget.]

Dulu saat belum menikah, aku selalu pergi ke kajian dengan Neni, tapi semenjak menikah jarang ikut kajian lagi karena kesibukan. Namun, sebenarnya karena ... malas. Sekarang aku lebih memilih jalan ke mall, atau ke tempat wisata. Materi lah, yang sudah merubahku. Aku tahu semakin kesini aku semakin jauh dengan Robb-ku. Entahlah, walaupun aku tahu sekarang jauh dengan Alloh, tapi perasaanku biasa-biasa saja. Tidak gundah atau semacamnya. Setan berhasil melabuiku.

*

"Hani, Aa ada kejutan buat kamu," ucap A Adis saat sarapan sebelum dia berangkat kerja.

"Kejutan apa, A?"

"Kalo dikasih tau namanya bukan kejutan, dong!" Aku terkekeh. Benar juga. Suamiku memang pandai membuat kejutan untukku, baik itu kejutan kecil atau kejutan besar. Dan rupanya kali ini memang kejutan yang sangat besar. Setelah menunggu sampai sore, akhirnya kejutan yang dimaksud A Adis datang. Tiba-tiba sebuah mobil Honda Brio warna putih datang ke rumah. Aku senang bukan main saat itu. A Adis memang suami terbaik. Dua bulan lalu aku mengeluh padanya karena harus antar jemput putriku ke sekolah naik motor. Aku ngomel-ngomel sendiri karena kepanasan dan kulitku jadi belang dan kusam. Kemarau di kotaku memang dahsyat banget, matahari seperti ada 7 di atas kepala.

"A, enak kali, ya, kalau aku antar jemput Nazwa pake Brio. Gak harus kepanasan, dan kalo musim hujan gak perlu hujan-hujanan juga." Padahal saat itu aku tidak serius mengucapkannya. Aku cuma bercanda, karena memiliki dua mobil itu pemborosan, pikirku. Harus bayar pajak doble, belum perawatannya juga, tapi kalau sudah dibelikan, ya ... aku terima saja dengan senang hati, hehe, urusan pajak dan lainnya, biar A Adis yang urus. Mungkin dia juga sudah memerhitangkannya.

[Gimana kejutannya, suka?] Pesan dari A Adis.

[Suka banget! Makasih Sayang. Mau dimasakin apa buat makan malam?]

[Kamu gak usah masak, kita makan di luar aja. Aa pengen nyobain mobil kamu.]

[Serius? Asiiik ....] Aku melonjak kegirangan. Pengasuh anak bungsuku sampe geleng-geleng kepala geli melihat tingkahku.

Setelah sholat magrib aku memilih gamis yang paling bagus untuk makan malam. Nazwa yang sedang tiduran di kasur sambil memainkan ponselku berseru, "Mah, ini Papa telepon." Aku cepat-cepat mengambil ponselku dari tangan Nazwa.

"Halo, A," sapaku.

"Han, udah pada siap-siap belum? kayaknya Aa agak telat, macet banget nih."

"Belum, udah Aa santai aja, ati-ati di jalan, ya ...."

"Kalo kemaleman, nanti Fatir gak usah diajak, kasihan. Nazwa aja yang diajak," tutur A Adis.

"Oh, iya, A."

Klik! Telefon ditutup. Hidup di kota besar seperti Bandung, membuat waktu kadang habis di jalan saja. Apalagi baru-baru ini, kotaku dinobatkan menjadi kota termacet se-Indonesia sampai mengalahkan Jakarta.

Selang satu jam suamiku tiba di rumah, kemudian dia melihat-lihat mobil baruku, mengeceknya dengan saksama dan menyalakannya. Setelah itu kami pergi makan malam.

Aku bahagia hidup bersama A Adis. Bisa dikatakan dia adalah pria idaman semua wanita, dan aku bersyukur bisa memilikinya. Saat itu aku tidak sadar bahwa di dunia ini tidak ada satu pun milik mahluq, semuanya milik Alloh, semuanya titipan, termasuk A Adis, bahkan diriku sendiri.

*

"Han, besok malam Aa diundang makan ke rumah Pak Umar." Pak Umar adalah atasan suamiku.

"Tumben, dalam rangka apa?" tanyaku dengan nada selidik.

"Katanya selamatan, bukan Aa aja, kok, tapi semua karyawan."

"Selamatan apa?"

"Katanya selamatan anak sulungnya yang tembus SBMPTN ITB."

"Oh ... hm, ada si Putri, dong?" Aku mulai cemburu. Aku tahu, teman A Adis yang satu itu memang suka keganjenan walaupun sudah tahu kalau A Adis sudah punya anak istri. Mungkin cewek itu naksir karena suamiku ganteng.

"Ya ada atuh, kan, semua karyawan. Kenapa, kamu gak suka Aa ikutan karena ada si Putri?" A Adis bertanya memicingkan mata. Aku tidak menjawab. Walaupun aku tidak menjawab, tapi dia tampaknya tahu isi hatiku. A Adis berdiri, lalu duduk di sampingku. Dia melingkarkan tangannya ke pundakku lalu menarikku hingga menempel ke dadanya.

"Hani, kita udah menikah selama 8 tahun, dan udah punya anak dua. Gak mungkin lah Aa selingkuh. Lagian Aa gak ada pikiran sedikit pun buat selingkuh. Buat apa? Yang ada malah dosa."

"Kali aja, si Putri kan cantik."

"Istighfar atuh, Han. Udah lah, ngapain kita ngomongin hal gak penting kayak gini. Buat Aa, kamu dan Nazwa adalah wanita paling cantik, gak ada yang lain. Kalau kamu gak percaya, terserah deh. Yang pasti Alloh tahu isi hati Aa." Aku mesem-mesem senang.

Selalu begitu. A Adis selalu bisa membuatku melting. Dia bukan pria romantis, tapi kadang bisa sedikit romantis kalau dalam keadaan terdesak seperti sekarang. Jujur saja, aku orangnya cemburuan, mungkin itu karena suamiku ganteng dan menjadi incaran cewek-cewek.

A Adis juga bukan orang yang soleh-soleh banget, tapi dia enggak pernah tinggal sholat lima waktu, walaupun dia habis dari luar kota dan baru tidur jam 2 malam, tapi dia tetap melaksanakan sholat subuh berjamaah di mushola. Itu yang kadang bikin aku malu sendiri padanya, karena jujur saja, aku paling malas sholat subuh kalau enggak dipaksakan. Kadang jam setengah enam pagi baru sholat. Sejak melahirkan Fatir aku sering begadang dan sholat subuh adalah tantangan terbesar.

*

Malam ini A Adis pulang kerja langsung ke rumah Bosnya. Kebetulan malam itu Fatir agak rewel karena sudah di imunisasi campak yang 9 bulan, aku berencana gak akan tidur sebelum A Adis pulang. Namun, jam 11 aku ketiduran. Jam 3 pagi Fatir bangun minta susu. Aku lihat kasur di samping ranjangku, tempat tidur A Adis dengan Nazwa, tapi A Adis tidak ada, hanya Nazwa saja yang tengah tertidur lelap. Apa dia belum pulang? Atau nginep di rumah temannya? Atau ... ah, aku mulai senewen, takut juga. Pikiran-pikiran negatif langsung menyerbu. Setelah Fatir kembali tidur, aku meraih ponselku. Ternyata ada pesan WA dari A Adis sekitar jam setengah 11.

[Han, Aa mau pulang, gerbangnya jangan dulu dikunci.] Aku tutup warung biasanya jam 10-an dan gerbang langsung aku kunci, tapi karena semalam Fatir rewel, jadi adikku yang menutup warung. Jangan-jangan A Adis tidur di luar? Aku ke depan mengecek apakah mobil A Adis ada di garasi atau tidak, ternyata ada. Ah, iya, aku lupa, kemarin dia ke kantor pake motor. Kemarin malam setelah berdebat soal si Putri, kami bercumbu sangat mesra hingga larut malam. A Adis kecapekan, setelah sholat subuh berjamaah di mushola dia tidur lagi, alhasil dia kesiangan, jadi ke kantor pake motor biar enggak kena macet, dan bisa datang ke kantor lebih cepat.

Aku menelefonnya, tapi ponselnya tidak aktif. Kehawatiranku semakin menjadi-jadi. Kamu kemana A? Dengan siapa malam-malam gini? Aku ke kamar Faisal untuk bertanya. Adik bungsuku itu sedang tidur nyenyak dengan kondisi kamar yang selalu berantakan.

"Sal ... Faisal bangun!" Adik tampanku itu menggeliat lalu mengucak-ngucak mata. "Apa, Teh?"

"Semalam kamu tidur jam berapa? A Adis barangkali ngetok-ngetok pintu teteh gak denger."

"Aku tidur jam 12-an, Teh. Emang A Adis belum pulang?"

"Belum."

"Hah! Jam berapa ini?" Faisal duduk di tempat tidur. "Jam setengah 4," kataku.

"Udah ditelefon?"

"Udah, hapenya gak aktif."

"Coba telefon temannya, Teh."

Benar juga. Aku melihat ponselku mencari-cari kontak teman sekantor A Adis. Kebetulan aku punya nomor beberapa teman kantornya. Namun, saat aku akan menelefon salah satu temannya, tiba-tiba ada suara gerbang di pukul-pukul batu. Aku urungkan menelefon, dan langsung pergi ke depan. Itu sepertinya A Adis pulang.

Saat aku buka pintu, ternyata bukan suamiku yang datang, melainkan dua orang laki-laki berbadan tegak, mengenakan kaus dan celana jeans. Aku segera membuka gerbang.

"Apa benar ini rumah Pak Adiswara?"

"Benar, saya istrinya. Maaf bapak siapa?" tanyaku.

"Kami dari kepolisian, mau mengabarkan, Pak Adiswara kecelakaan dan sekarang di rumah sakit Ad***nt," terang salah satu polisi itu.

"Apa!" Kakiku langsung lemas seketika, dadaku sesak, seluruh tubuhku rasanya gemetar enggak karuan. Dari depan aku teriak sekuat tenaga memanggil Faisal, tidak peduli jika para tetangga terganggu dengan teriakanku. Aku bingung harus berbuat apa saat itu. Faisal datang dan terkejut saat aku bilang bahwa kakak iparnya kecelakaan. Segera aku suruh dia menjemput Teh Mira__pengasuh Fatir__di rumahnya yang tidak jauh dari rumahku, setelah Teh Mira datang, aku dan Faisal langsung ke rumah sakit bersama polisi.

Saat di perjalanan aku menelefon mertuaku, lalu mereka pun segera ke rumah sakit Ad***nt. Jarak rumah mertuaku lebih dekat dengan rumah sakit, jadi mereka yang sampai duluan.

Saat aku tiba, Ibu mertuaku langsung memelukku erat, dia berbisik di telingaku. "Innalillahi wa Innalilahirojiun. Adis udah gak ada, Hani!"

Saat itu juga aku merasa duniaku hancur lebur, berbagai hal berkecamuk, menyatu dalam hati yang porak poranda. Aku teriak histeris, lalu entah apa yang terjadi, tiba-tiba saja semuanya gelap, dan aku merasakan tubuhku ringan seperti kapas. Aku jatuh pingsan di pangkuan Ibu mertuaku.

Setelah sadar, aku sudah berada di dalam mobil mertuaku ditemani oleh Rina, adik iparku. Kata Rina aku pingsan sangat lama sekitar satu jam lebih. Dan sekarang jenazah A Adis akan dibawa ke rumah mertuaku, karena semua urusan rumah sakit sudah selesai.

Kata polisi, suamiku kemungkinan korban tabrak lari atau kecelakaan tunggal, karena tidak ada saksi mata, jadi polisi belum mengeluarkan pernyataan resmi. Mereka akan menyelidikinya lebih lanjut. Suamiku ditemukan terkapar di pinggir jalan sekitar pukul 12 malam oleh polisi yang sedang patroli. Saat itu dia masih bernapas. Menurut polisi, sepertinya kecelakaannya terjadi pukul 11, tidak ada yang menolong karena memang jalanan itu lumayan sepi. Mungkin juga orang-orang tidak mau menolong karena mengira A Adis udah meninggal, dan mereka tidak mau dijadikan saksi. A Adis tergeletak lama di pinggir jalan, kalau saja ketika dia celaka langsung dibawa ke rumah sakit, mungkin nyawanya masih bisa ditolong.

Sampai sekarang aku merasa semuanya seperti mimpi dan ingin segera bangun, lalu melihat A Adis sedang tidur memeluk Nazwa. Sungguh aku tidak bisa hidup tanpa A Adis. Rasanya seperti tiba-tiba kehilangan salah satu sayap lalu seketika aku terhempas keras ke bumi, aku terpuruk karena tidak bisa terbang kembali.

Jenazah A Adis begitu bersih, hanya ada memar di dada kiri dan luka lecet-lecet di kaki dan tangannya. Kemungkinan besar dia mengalami luka dalam. Kalau saja saat itu segera dilakukan operasi cito, mungkin nyawanya masih bisa ditolong. Jika kata "kalau saja" terus dirunut, maka tidak akan ada habisnya.

Sekarang sudah sebulan sejak A Adis pergi. Pelan-pelan aku mulai bangkit, aku tidak boleh selamanya terpuruk, ada Nazwa dan Fatir yang butuh ibunya. Kehilangan A Adis membuatku merasa kalau hidupku kini sebatang kara. Tanpa orang tua dan suami. Ya Alloh, itu sungguh berat! Walaupun ada saudara dan adik-adik, tapi rasanya tidak sama.

Kalau boleh meminjam istilah dari novelnya Paulo Coelho, A Adis seperti Zahir* dalam hidupku. Entah berapa lama aku bisa kembali seperti sedia kala, atau mungkin aku tidak akan pernah sama lagi seperti dulu.

*

Disaat aku sendiri, aku sering berpikir, apakah ini hukuman Alloh padaku karena aku semakin malas beribadah dan semakin tipis kadar imanku? Sepertinya Alloh lagi kangen aku, makanya Dia memberi aku ujian seperti ini.

"Hani, sudah lama Aku tidak melihatmu pengajian lagi dengan Neni." Atau, "Hani, sudah lama Aku tidak melihatmu sholat tahajud lagi seperti dulu, ayo kemarilah, Hani, Aku kangen sama kamu." Mungkin itu kata Alloh. Dia ingin aku kembali dekat.

Ya Robb, aku banyak dosa, Engkau pantas memperlakukan aku seperti ini. Sungguh, aku mencoba ikhlas dan sabar atas apa yang Engkau berikan. Bukankah ciri orang beriman adalah orang-orang yang sabar?

Engkau Maha Segalanya, dengan mudah Engkau bisa mengambil apapun, karena memang itu milikMu. Bimbing aku untuk selalu ada di jalanMu, ya Robb. InshaAlloh aku akan kuat menjalani semuanya karena Engkau selalu ada bersamaku.

TAMAT.

*Zahir (Arab) = Kehilangan yang menimbulkan lubang besar di jiwa seseorang. Konsep dari sesuatu yang dimiliki setiap orang, tidak terlihat, selalu terbayang dalam pikiran.

***
profile-picture
profile-picture
profile-picture
ethnic94 dan 39 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh daffoazhar
Halaman 1 dari 3
sabar ya sis..semua terjadi atas kehendak Nya
profile-picture
profile-picture
liee dan daffoazhar memberi reputasi
semoga tabah menjalani hidup
profile-picture
daffoazhar memberi reputasi
baca cerita ini jadi inget sama dosa2ku sendiri emoticon-Frown
profile-picture
daffoazhar memberi reputasi
Gak terasa udah basah aja nih pipi. Yg kuat ya mbak, semua pasti ada hikmahnyaemoticon-Frown
profile-picture
daffoazhar memberi reputasi
sayang banget cuma satu episode ...
profile-picture
daffoazhar memberi reputasi
sedih banget bacanya apaka beneran ga sih ??
profile-picture
daffoazhar memberi reputasi
Kayak Alloh beneran ada aja
profile-picture
profile-picture
Soul_Linkerz dan daffoazhar memberi reputasi
klo ini nyata,saya jg sedang ditegur bukan hanya ditegur tp ditendanf tuhan 🙂
profile-picture
daffoazhar memberi reputasi
selalu bersabar dan tawakal....itulah kuncinya
profile-picture
daffoazhar memberi reputasi
https://youtu.be/Z5iaft-ghm8
profile-picture
daffoazhar memberi reputasi
Kaya pernah baca..dejavu..btw nice trit
profile-picture
daffoazhar memberi reputasi
ini curhatan (asli), atau cerita novel, yah
tersentuh iman saya
walaupun masih secuil.
😔
profile-picture
daffoazhar memberi reputasi
terenyuh ane bacanya,, maafkan aku yang sering khilaf melupakanmu emoticon-Mewek
profile-picture
daffoazhar memberi reputasi
Quote:


Pernah aku posting di grup KBM kak. mungkin kakaknya baca di sana ☺
profile-picture
gembogspeed memberi reputasi
Quote:


Ini kisah nyata gan, kejadiannya baru tiga minggu yang lalu
profile-picture
YanLuo memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Balasan post daffoazhar
emoticon-Berduka (S)
profile-picture
daffoazhar memberi reputasi
yg sbar gan
profile-picture
daffoazhar memberi reputasi
tandai dulu gan
profile-picture
daffoazhar memberi reputasi
ujian merupakan peningkatan derajat untuk Makhluk-Nya
profile-picture
daffoazhar memberi reputasi
turut berduka, sis emoticon-Mewek

semoga almarhum masuk surga

anak2 dan aganwati sll aman dan bahagia walau ditinggal suami dan kelak sekeluarga dipertemukan di surga Nya. aamiin.

ane termasuk ex suami gagal, jadi malu dng almarhum yg nyaris perfect.
profile-picture
daffoazhar memberi reputasi
Halaman 1 dari 3


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di