KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Ketika Tabebuya Berbunga
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5de2603f82d49548591afa42/ketika-tabebuya-berbunga

Ketika Tabebuya Berbunga

Ketika Tabebuya Berbunga

Ketika Tabebuya Berbunga


Aku dan ibu sedang duduk di bawah pohon tabebuya yang sedang berbunga. Bunganya berwarna merah muda, bergerombol menutupi keberadaan daunnya yang hanya sedikit. Ibu sangat menyukai bunga itu yang mirip bunga sakura.

"Ibu berharap suatu saat bisa pergi ke Jepang melihat bunga sakura," kata Ibu. "Tapi, mungkin hanya terwujud dalam mimpi saja ya, Joane?"

"Aku akan berusaha menjadi orang sukses, Bu. Akan kubawa Ibu jalan-jalan ke Jepang suatu hari nanti," kataku dengan mata berkaca-kaca.

"Ah, Joane. Tidak ke Jepang juga tak apa. Duduk bersamamu di bawah pohon ini saja sudah membuat ibu bahagia," kata Ibu sambil memelukku. "Tapi ... sekarang sudah saatnya ibu pergi. Kamu tunggu saja ayahmu di sini. Dia akan datang."

"Tapi, Bu ... bukankah kita selama ini selalu bersama-sama? Kenapa sekarang ibu tinggalkan aku sendiri di sini?"

Ibu menutup bibirku dengan telunjuknya, menyuruh diam. Diciumnya keningku dan berkata, "Jangan ikuti ibu." Ibu berlalu pergi, meninggalkan aku sendiri di kursi taman itu, menangis tersedu.

Sebuah tangan mengguncang-guncangkan tubuhku. Aku terbangun dari tidur. Kuraba mata, ada sisa air mata di sana.

"Mimpi apa kamu, Nduk?" kata ibu seraya duduk di depanku. Wanita itu memandang wajahku lekat.

"Ibu ...." Aku memeluk ibuku erat. "Jangan tinggalkan Joane ya, Bu ...."

"Tentu saja tidak, Nduk," kata Ibu sambil membelai rambutku.

Mimpi tadi malam sungguh membuatku takut. Seumur hidup, hanya ibu yang ada di sampingku. Kata Ibu, Ayah meninggal dunia ketika aku masih dalam kandungannya. Ayah hanya kukenal melalui sebuah foto usang yang sudah buram.

Ibuku seorang yatim piatu. Jadi semenjak ayah meninggal dunia, ibu harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan kami. Tidak ada sanak keluarga yang bisa dimintai tolong. Untunglah ada sebuah toko kelontong milik Tacik yang mau mempekerjakan Ibu. Gaji Ibu kecil, namun cukup untuk biaya aku sekolah dan makan sehari-hari. Untuk baju, kami jarang sekali beli. Tacik pemilik tempat kerja Ibu sering memberikan baju-baju bekas kepada kami, baju bekasnya dan bekas anak-anaknya.

Suatu hari setelah kelulusan di sebuah SMA, aku bergegas menemui ibu. Kupersembahkan hadiah untuk wanita tercinta itu berupa nilai-nilai yang sangat memuaskan. Aku menjadi juara 1 kelas paralel. Ibu memelukku dengan penuh haru. Segala beban hidup seolah menguap melihat keberhasilanku.

"Kamu memang anak yang cerdas, Nak. Itu turunan dari ayahmu," katanya seraya memelukku erat.

Menurut cerita Ibu, Ayah seorang yang sangat cerdas, sehingga beliau mendapatkan pekerjaan yang cukup bagus. Walau sayang, umur ayahku sangat pendek.

Setelah lulus SMA, aku melanjutkan kuliah di diploma satu. Kupilih program studi itu, agar bisa cepat bekerja, menggantikan ibu sebagai tulang punggung keluarga. Tak bisa kupungkiri, di tahun aku kuliah itu, Ibu harus bekerja cukup keras untuk memenuhi kebutuhan kami. Setelah pulang menjaga toko, Ibu masih bekerja serabutan menjadi tukang bersih-bersih rumah dan tukang setrika.

Maka, ketika aku lulus kuliah dan memperoleh kerja di sebuah perusahaan, tak terkira rasa bahagia kami. Kukatakan kepada ibu untuk berhenti bekerja menjadi penjaga toko, tapi ibu menolak. Katanya, Ibu akan kesepian di rumah jika tidak bekerja lagi. Apa boleh buat, aku biarkan Ibu kerja, mungkin bekerja bisa membuatnya bahagia.

Sore itu, ketika jam kerja telah usai aku berdiri di depan kantor untuk menunggu tukang ojeg. Gawaiku berdering. Telepon dari Mbak Narti, tetangga sebelah rumah.

"Joane, ibumu anfal, Joane." Suara Mbak Narti terdengar sangat cemas. Tak kuasa aku menahan rasa takut ... takut kehilangan Ibu. Aku menangis tersedu. Pak Johan, pemilik perusahaan tempatku bekerja, yang melintas di sampingku menegur, "Ada apa, Joane?"

"Ibu saya anfal, Pak."

"Ayo saya antar ke rumah. Biar saya bisa menjenguk ibumu atau mengantarkannya ke rumah sakit," kata Pak Johan. Sungguh mulia hati lelaki itu. Sebenarnya aku malu merepotkannya, tapi rasa kuatir akan ibu lebih besar dari rasa malu itu. Aku menerima tawaran Pak Johan.

Sesampainya di rumah, para tetangga sudah berdatangan. Aku mererobos kerumunan mereka. Kudapati Ibu yang tergolek lemah di ranjang sambil memegang dadanya. Ibu nampak terkejut melihat kedatangan Pak Johan. Ibu tak kuasa menyambut bosku itu dengan kata-kata. Bibirnya tampak membiru.

Aku segera membawa ibu ke rumah sakit bersama Pak Johan. Lelaki itu memacu mobilnya dengan cukup kencang.

Sesampainya di rumah sakit, ibu segera ditangani dokter di UGD. Sebuah selang infus dan selang oksigen di pasang. Dokter juga memberikan sebuah obat, diletakkan di bawah lidah ibu. Pak Johan berada di bagian administrasi, memberikan DP biaya pengobatan ibu. Tak terasa air mataku berlinang. Rasa terharu akan kebaikan Pak Johan dan rasa takut kehilangan ibu berbaur dalam dadaku. Ibu, engkau memang sangat baik, sehingga Tuhan selalu membantumu dengan cara yang tidak terduga.

Setelah kondisi ibu membaik, dokter memindahkannya ke ruang perawatan. Pak Johan duduk di sebelah kanan Ibu, sedangkan aku di sebelah kiri Ibu. Lelaki itu tampak berusaha menyalami Ibu. Digenggamnya tangan Ibu, seperti ada kata yang ingin diucapkan, tapi sesuatu menahannya. Ibu menatap pria itu dengan sedih.

"Johan, ini Joane, anakku ... yang juga adalah anakmu," kata Ibu pelan. Tapi itu terdengar seperti petir yang menggelegar di kepalaku.

"Ibu, apa maksudnya ini?" tanyaku memohon penjelasan.

"Ya, Joane. Maafkan ibu yang selama ini telah membohongimu. Lelaki ini adalah ayah kandungmu, yang telah meninggalkan kita sejak kamu dalam kandungan ibu. Lelaki ini harus menuruti perintah orang tuanya untuk menikah dengan seorang dari kalangannya." Rasanya aku mau pingsan. Kutatap wajah Pak Johan lekat-lekat.

"Kenapa kau lakukan itu pada kami!" kataku dengan penuh kemarahan. Wajahku terasa panas. Air mata kepiluan tak bisa kutahan lagi.

Lelaki itu menangis sesenggukan. Dia memohon ampunan dari ibu. Mengatakan bahwa selama ini dia mencari kami, tapi tak menemukan. Karena ibu telah membawaku jauh dari tempat tinggal mereka dulu.

"Ningsih, aku sangat menyesal tak bisa menentang kehendak orang tuaku. Tapi sungguh, setelah pernikahan dengan Rosi, aku mencarimu ke mana-mana. Aku tak berniat menerlantarkan kalian."

Ibu tak mengatakan apa-apa. Hanya air matanya menetes tiada henti.

"Maafkan aku, Ningsih," rintih lelaki itu sambil mencium telapak tangan ibu. "Rosi sudah meninggal tiga tahun yang lalu, dan kami tidak dikaruniai anak."

Sejenak kami kehilangan kata-kata. Dalam ruangan hanya terdengar isak tangis.

"Sudahlah, Johan. Aku sudah lama memaafkanmu. Aku memaafkanmu bukan untuk kepentinganmu, tapi untuk kepentingan diriku sendiri. Dengan memaafkanmu aku bisa menjalani hidup dengan bahagia, dan bisa mendidik anak kita dengan kasih sayang."

"Terima kasih, Ningsih," ucap lelaki itu disela tangisnya.

"Aku namakan anak kita Joane, untuk mengabadikan namamu," kata ibu. Kulihat tak ada kemarahan dalam suaranya. Ibu mungkin sangat mencintai lelaki itu hingga mudah sekali meleleh.

Ibu sudah memaafkan lelaki itu, tapi aku tidak! Aku melangkah keluar ruangan. Duduk di sebuah kursi pada sudut ruangan. Sulit aku menerima kenyataan yang secara tiba-tiba ini. Betapa ibu selama ini menggambarkan sosok ayah yang begitu sempurna, hanya untuk membuat jiwaku tak dipenuhi rasa dendam. Ah, Ibu ... adakah orang yang semulia dirimu?

Tiba-tiba seorang suster memanggilku untuk segera masuk ruang rawat Ibu. Wanita itu dalam keadaan gawat. Sumbatan pada arteri koroner membuat sel-sel dalam jantungnya kekurangan suplai oksigen. Bibir dan ujung-ujung jarinya membiru. Dokter dan perawat segera memberikan bantuan medis. Lemah kudengar ibuku berkata, "Aku titip anak kita, Johan."

Itu kata terakhir yang keluar dari mulut Ibu, sebelum tubuhnya diam membisu. Malaikat maut telah membawa jiwa ibuku menuju keabadian.

Rasa kehilangan yang teramat sangat membuatku tak bisa lagi menangis. Aku hanya menatap kosong pada tubuh ibu. Jiwa seperti telah hilang dari ragaku.

Seorang suster membawaku duduk di kursi roda dan membawaku ke sebuah ruangan. Di dalam ruangan itu ada seorang psikolog yang berusaha membantu menyembuhkan jiwaku.

***

Di hari pemakaman ibu, aku masih belum bisa menangis. Kutatap pembaringan ibu yang terakhir dengan tatapan kosong. Teganya ibu meninggalkan aku sendiri. Mengapa kau lakukan ini, Bu? Teriakku dalam hati.

Sebuah tangan memegang pundakku. Tangan seorang yang katanya ayahku tapi tak pernah hadir dalam kehidupanku sebelum ini.

"Ayo pulang, Nak." kata lelaki itu. Aku bergeming.

"Maafkan ayahmu ini, Nak ..." katanya lagi. Aku masih bergeming. Ayah? Lelaki itu menyebut dirinya ayah? Sampai kapanpun aku tak akan menganggapnya ayah!

Aku berlaku dari hadapan lelaki itu tanpa kata. Berjalan menyusuri kota menuju taman tempat tabebuya berbunga.

Aku duduk di kursi tempat ibu duduk dalam mimpiku. Sekuntum tabebuya jatuh di pangkuanku. Kugenggam bunga itu erat. Ibu ... panggilku dalam hati.

***

Sudah sebulan ibu pergi. Lelaki itu setiap hari mengunjungiku dengan membawa makanan dan apa saja yang dipikirnya menjadi keperluanku. Semua cara dilakukan untuk mendapat pengakuan dariku. Tapi sampai kapanpun tak akan kupenuhi keinginannya untuk kupanggil ayah.

Hingga pada suatu hari lelaki itu jatuh sakit. Kasihankah aku padanya? Tidak! Lelaki itu dulu tak ada dalam hidupku dan ibu, sampai kapanpun aku tetap menganggapnya tidak ada.

Seorang Notaris menemuiku untuk membawaku ke rumah sakit. Tapi aku menolak. Pria itu sampai memohon-mohon hingga aku merasa tidak enak hati. Aku penuhi permintaannya untuk melihat lelaki itu.

Di atas tempat tidur, lelaki itu tampak jauh lebih tua dibanding saat terakhir aku melihatnya di tempat kerja.

"Nak, ayah tahu kamu tak mau menerima ayah menjadi ayahmu. Tapi setengah dari DNA yang ada di tubuhmu itu adalah DNA ayah. Ayah mengerti penolakanmu. Bisa ayah terima itu sebagai penebusan dosa. Ayah hanya ingin bilang, ayah bahagia akhirnya bisa menemukan kalian. Ayah bisa meninggal dengan tenang ...." Aku terhenyak mendengarkan ucapannya. Ah, seandainya aku bisa sepemaaf ibu.

"Nak, ayah mungkin tak bisa memenuhi amanat ibumu untuk terus menjagamu ..." Aku tercekat. Air mata mengambang di pelupuk mataku.

"Ayah ...." Kubisikkan kata itu pelan. Lelaki itu tersenyum, kemudian menutup matanya perlahan.

"Ayaaaah ...." Aku berteriak memeluknya. Notaris itu memanggil dokter untuk memberikan pertolongan. Sebuah alat defibrilator bekerja. Namun ayahku tak bisa diselamatkan.

Maka di waktu yang tidak lama aku kehilangan kedua orang tuaku. Seluruh harta ayah diwariskan kepadaku. Sekarang aku punya perusahaan, rumah dan mobil mewah, punya segala benda yang aku inginkan, tapi aku justru merasa tak memiliki apa-apa.

Kini ... di sini, di bawah bunga tabebuya yang bermekaran, kukenang kedua orang tuaku dengan perasaan sedih yang tak terkira.

Angin dingin bertiup kencang. Aku mendongak, memandang bunga-bunga tabebuya yang berguguran ke tanah, menyanyikan elegi rindu.

Tamat
profile-picture
profile-picture
profile-picture
liverd dan 7 lainnya memberi reputasi
Index Kumcer
profile-picture
rubyamora memberi reputasi
Diubah oleh cattleyaonly
Lihat 1 balasan

Adik yang Kubenci

Roman, itu namaku. Aku punya adik yang sangat kubenci, bernama Indra. Sejak tangis pertamanya di dunia, anak itu telah mencengkramku dengan tirani.

Lihatlah caranya merayu dengan tangisan. Sedang melakukan pekerjaan apapun, Ibu langsung tergopoh-gopoh menggendongnya. Sungguh menyebalkan. Jika sudah seperti itu, rengekanku meminta makan hanya membuat ibuku kesal.

"Sudah sana, minta ambilin sama Mbok Juminten!" Jawaban Ibu membuat hatiku menciut. Tak tahukah Ibu, aku ingin bayi itu yang diberikan pada Mbok Juminten dan Ibu mengambilkan makanan untukku. Aku telah terbiasa diambilkan makanan oleh Ibu, sebelum si Indra lahir.

Aku berlari ke kamarku. Rasa laparku mendadak lenyap. Kubongkar legoku dan menyusunnya menjadi seekor dinosaurus. Berhayal, dinosaurus buatanku akan membesar dan memangsa Indra.

Ketika Indra sudah mulai bisa bermain, masalah pun kian bertambah. Anak itu selalu merebut mainanku. Kali ini dia merebut legoku. Kugetok kepalanya dengan mobil-mobilan. Anak itu menangis dan berlari ke Ibu. Adegan selanjutnya sudah bisa kutebak. Ibu akan berteriak kemudian menjewerku. Aku meringis menahan sakit. Kutinggalkan mainan dan berlari ke lapangan. Di sana aku membuang kelesalanku pada Ibu, juga pada Indra, monster cilik itu!

Ketika aku lelah berlari, aku terduduk di atas rumput dan berdoa, agar Tuhan segera mengambil Indra.

Teman-teman datang dan mengajakku bermain bola. Dalam tendanganku, aku salurkan energi kemarahan, menggelegak liar, bola menembus gawang lawan. Ada sebagian kemarahan yang luruh. Aku pulang ketika suara adzan maghrib berkumandang.

Ibu mengomeliku panjang lebar, tapi tak kudengarkan. Bukankah semua ibu-ibu memang begitu? Pantang melihat anaknya pulang maghrib dalam keadaan dekil.

***

Aku dan Indra hanya berbeda usia dua tahun. Saat ini aku sudah duduk di bangku kelas dua belas, sedangkan Indra di kelas sepuluh.

Sekarang aku sedang melakukan pendekatan pada seorang gadis bernama Ayu, teman sekelas Indra. Namun, Indra seakan menjadi duri dalam daging, dia pun menyukai Ayu!

Jika selama ini aku selalu mengalah pada Indra, kali ini tidak! Akan kupertahankan Ayu jika gadis itu memilihku.

Siang itu, sepulang sekolah, aku menunggu Ayu di gerbang. Kuajak gadis itu pergi ke warung bakso Bang Amin.
Indra menatapku dari kejauhan, kesal! Tapi aku tak perduli. Aku memboncengkan Ayu ke warung bakso Bang Amin memakai motor butut Bapak. Sebenarnya motor itu sudah hendak diloakkan, tapi aku mohon kepada Bapak agar diberikan kepadaku. Demi apa? Demi tidak berboncengan dengan Indra, si musuh besarku.

Motor itu kubawa ke bengkel ayah Zaenal, temanku. Ayah temanku itulah yang memperbaiki motor butut itu hingga sekarang bisa kupakai.

Sesampai di warung Bang Amin, aku memilih tempat duduk di pojok, agar bisa leluasa mengobrol dengan Ayu. Segera kupesan dua mangkuk bakso beserta dua es jeruk, minuman kesukaan Ayu.

Tanpa basa basi, aku nyatakan cinta kepada gadis itu. Meski terbata, gadis itu pun mengatakan bahwa dia juga cinta. Hatiku bagai dilambungkan ke udara, ditaburi bunga-bunga dan kembang gula. Sangat manis dan indah.

Hendak kugenggam tangan Ayu, tapi batal, karena tiba-tiba Mang Amin datang dan mengantarkan pesanan kami.

Waktu sudah menunjukkan pukul tiga sore ketika aku sampai di rumah.

Di depan rumah, Wawan, tetangga sebelah, telah menunggu kedatanganku.

"Man, dari mana saja, sih? Aku mencarimu ke mana-mana," cerocos Wawan.

"Ada apa cari-cari aku?" tanyaku cuek.

"Bapakmu, Man, Bapakmu! Tadi pingsan dan dibawa ke rumah sakit."

Mendengar penjelasan Wawan, hatiku menjadi panik.dan takut. Segera kupacu motor bututku menuju satu-satunya rumah sakit di kota kecil ini. Aku menuju ke UGD, Bapak masih ada di sana, tidak sadar!

"Mas Roman, dari mana saja, kau?" tanya Indra marah.

"Bagaimana kondisi Bapak?" Aku tak memperdulikan omelan Indra.

"Bapakmu masih tidak sadar, Man. Dokter masih memeriksa sebabnya," kata Ibu dengan air mata mengalir di pipi.

Tak berapa lama perawat mendorong brankar bapak ke ICU. Di sana, dada Bapak disambungkan dengan dua buah monitor melalui beberapa kabel.

Malam hari, hasil laboratorium dan CT-Scan bapak keluar. Bapak divonis dokter menderita ITP, idiopatic trombositopenia purpura, suatu kelainan darah berupa kurangnya trombosit tanpa sebab. CT-Scan bapak pun menunjukkan perdarahan otak yang disebabkan pecahnya pembuluh darah karena rendahnya trombosit.

Sejak dibawa ke rumah sakit sampai dua hari kemudian, Bapak tak pernah sadar lagi. Dengan kepiluan yang sangat, hari itu kami harus mendengarkan penjelasan dokter, bahwa nyawa Bapak tidak bisa diselamatkan.

Aku menangis dalam diam. Kupandang jenazah bapakku dari balik kaca ICU. Ibu dan Indra menangis sambil berpelukan. Hilang satu pilar dalam keluarga kami. Mungkin setelah ini, keluargaku akan berjalan pincang.

Sejak kematian Bapak, Ibu berusaha membuka toko keperluan sehari-hari untuk menyambung hidup kami. Beruntung sekali, toko itu ramai pembeli. Mungkin semua itu karena kebaikan yang telah ditaburkan bapak semasa hidupnya kepada warga di sekitar kami. Buah kebaikan beliau, tapi kami yang memetiknya.

***

Hubunganku dengan Ayu semakin dekat. Indra menjadi sangat cemburu. Seperti biasa, jika dia tak bisa menyelesaikan masalahnya sendiri, anak itu akan meminta pertolongan Ibu. Maka sore itu Ibu menegurku.

"Man, kamu itu harus jaga perasaan adikmu. Adikmu itu cinta sama Ayu juga."

"Trus Roman harus bagaimana, Bu?"

"Jika salah satu dari kalian tidak bisa memilikinya, maka semua tak boleh memilikinya," jawab ibu.

"Ibu tidak adil!" protesku. "Aku tidak mau, Bu. Aku cinta Ayu!"

"Le, tolong pikirkan sekali lagi."

"Tidak, Bu. Ibulah yang harus berpikir lagi. Adilkah sikap Ibu kepada Roman selama ini?"

"Man, berkorbanlah untuk adikmu," kata Ibu memelas.

"Untuk kali ini tidak, Bu. Walaupun Ibu memohon!" ucapku tegas. "Ayu mencintaiku, Bu, bukan Indra!"

"Roman!"

Aku tak perduli, setengah berlari memasuki kamar. Kubanting pintunya dengan kasar.

Pikiranku menerawang, meratapi nasib. Kupandangi foto bapak di meja. Aku sangat merindukannya. Aku ingin berlari ke pelukan lelaki itu, mengadukan segala ketidakadilan Ibu.

Terdengar pintu kamarku diketuk dengan kasar. Aku diam. Ketukan itu semakin kasar, dibarengi dengan teriakan Ibu.

Dengan malas kubuka pintu kamarku. Kulihat wajah Ibu panik.

"Ada apa, Bu?" tanyaku.

"Adikmu, Man," kata Ibu sambil berlari ke kamar Indra. Aku mengikutinya.

Di kamarnya kulihat Indra mimisan. Darah berceceran di lantai. Cepat aku meraih selembar kain untuk menekan hidung Indra. Sementara Ibu tergopoh-gopoh ke halaman belakang untuk memetik daun sirih. Ketika Ibu kembali ke kamar, dipilin-pilinnya sirih itu dan disumpalkan ke lubang hidung Indra.

Setelah menunggu beberapa saat, tidak terjadi perubahan yang berarti. Darah dari hidung indra terus menetes.

"Kita bawa ke rumah sakit saja, Bu!" kataku. Ibu setuju.

Kamipun membawa Indra ke rumah sakit dengan mobil Pak RT.

Di UGD, Indra mendapatkan pertolongan pertama. Sebuah kassa yang basah dengan obat disumpalkan ke hidungnya. Darah Indra diambil untuk diperiksa di laboratorium. Dia harus di rawat di rumah sakit karena mimisan yang tak kunjung berhenti.

Hasil laboratorium keluar. Trombositnya hanya sembilan ribu. Padahal angka normalnya seratus lima puluh ribu. Tentu saja itu akan membuat mimisannya susah berhenti, karena tubuhnya kekurangan faktor pembekuan.

Dokter segera melakukan transfusi darah, kemudian memberikan selembar resep kepada Ibu.

Dokter itu meninggalkan ruangan dan Ibu pun segera untuk pergi ke apotek. Wanita itu berpesan agar aku menjaga Indra. Aku mengangguk mengiyakan.

Kupandangi tetes demi tetes darah yang mengalir dalam selang transfusi, sementara di tangan Indra yang satu lagi terpasang selang infus.

"Indra, apa yang kamu rasakan?" tanyaku. Melupakan sementara kebencianku pada adikku.

"Aku merasa pusing. Kepalaku berdenyut-denyut," kata Indra lemah.

"Sabar, Ndra, dokter sedang mengobatimu. Sebentar juga kamu pasti sembuh."

Indra terdiam sesaat. Mengerutkan keningnya, seperti menahan rasa sakit yang menusuk.

"Mas ... maafkan semua kesalahanku selama ini, ya? Aku sangat egois," kata Indra yang membuatku tak bisa langsung berkata-kata. Kubiarkan lengang bertahta di antara kami untuk sesaat.

"Jangan pikirin itu sekarang. Fokus pada kesembuhanmu," kataku.

"Tapi, kamu maafin aku, kan?"

Dengan berat hati aku mengangguk. Indra tersenyum.

"Terima kasih ya, Mas," katanya.

Indra memejamkan matanya. Aku menungguinya hingga tertidur.

Sesaat kemudian Ibu masuk. Wanita itu membawa sebotol air mineral dan mengulurkan kepadaku.

"Minumlah," kata Ibu.

Kuambil botol air mineral itu dan meneguk isinya.

Dokter dan seorang perawat memasuki ruangan. Ibu mengulurkan obat yang tadi dibelinya pada perawat.

"Ibu, anak Ibu menderita ITP," kata dokter itu. Aku dan Ibu saling berpandangan. Penyakit itulah moster perenggut nyawa bapak. Kutelan ludahku yang tiba-tiba terasa pahit. Mata Ibu tampak berkaca-kaca.

Perawat menyuntikkan sebuah obat melalui selang infus kemudian meninggalkan ruangan bersama dokter.

Pagi itu kulihat Indra terbangun dari tidur dan menggenggam tangan ibu erat. Aku terpaku seperti dicekam waktu. Firasat buruk menghampiriku. Dadaku sesak oleh pilu. "Tuhan, selamatkanlah adikku. Jangan Kau kabulkan doaku yang dulu," ratapku dalam hati. Ada penyesalan yang perih mengiris kalbu. Jika saja melepaskan Ayu untuknya akan membuat adikku sembuh, aku rela, Tuhan.

Indra pelan-pelan menutup mata. Hasil pemeriksaan laboratorium terbaru menunjukkan trombositnya menurun lagi beberapa jam pasca transfusi. Indra tak sadarkan diri dan dilarikan ke ICU.

Dejavu

Dari balik kaca ICU, aku melihat tubuh Indra di pasangi alat-alat. Aku meratap. Sungguh tidak lucu cara Tuhan bergurau. Ataukah Dia hanya meluluskan permohonanku yang selama bertahun-tahun kupanjatkan dengan penuh pilu?

Monitor elektrokardiogram menunjukkan garis lurus. Malaikat maut telah membawa adikku pergi.

Kepiluan menghujam jantungku. Hancur, semua bagiannya luluh lantak. Kupandang sosok samar dalam pantulan kaca, seorang kakak yang kejam! Aku pun tenggelam dalam lautan penyesalan.

Tamat
profile-picture
profile-picture
profile-picture
Indriaandrian dan 3 lainnya memberi reputasi

Malam Tumbilotohe

Malam Tumbilotohe

Hanifah dan Imran, anaknya, duduk menghadap sederet lampu minyak di depan rumah. Memandang pantai Olele yang tampak remang. Bulan sudah hampir menghilang, sebagai tanda akan berakhirnya Ramadhan.

Wajah Imran tampak berseri, memandang api yang menari-nari oleh semilir angin. Anak berumur tujuh tahun itu baru saja mengkhatamkan Al-Qur’an untuk pertama kali. Ustadz Nasir memberinya uang seratus ribu rupiah sebagai hadiah. Kata beliau, uang itu untuk membeli baju lebaran. Namun, Imran punya rencana sendiri.

“Bu, ini uang buat beli baju lebaran Ibu,” kata Imran seraya menyodorkan selembar uang berwarna merah kepada Hanifah.

“Uang dari mana, Ran?”

“Dari Ustadz Nasir, Bu. Hadiah karena Imran sudah khatam Al-Qur’an,” jawab Imran.

Hanifah memeluk Imran dengan penuh haru. Bulir air mata menetes di pipinya yang pucat. “Beli saja baju lebaranmu, Ran. Biar lebaran ini, Imran bisa sama dengan teman-teman yang lain, memakai baju baru,” kata Hanifah.

“Ibu saja. Baju Imran lebaran tahun lalu, yang dikasih Om Rahman, masih bagus,” ujar Imran. “Lebaran kemarin ibu tidak membeli baju.”
"Tidak usah, Ran. Ibu pakai baju yang ada saja, yang penting bersih dan sopan. Simpan saja uang itu untuk keperluan sekolah.”

Imran mengangguk, kemudian berlari ke dalam rumah, memasukkan uang itu ke dalam celengan ayam jago.

Hanifah kembali menatap ke arah pantai. Deburan ombak yang terdengar hingga di tempatnya, membawa wanita itu kepada kenangan dua tahun silam. Kala Zaenuri, sang suami, meminta izin pergi mengadu nasib di negeri jiran. Sudah dua tahun lelaki itu pergi, tapi tidak pernah berkirim kabar. Bagaimana sesungguhnya nasib suaminya? Apakah dia masih hidup, ataukah sudah berkalang tanah? Hanifah hanya bisa mereka-reka.

Sementara itu ada Imran yang harus dipenuhi kebutuhannya. Untuk itu, Hanifah harus bekerja serabutan, mengambil alih peran Zaenuri sebagai kepala keluarga.

Menjadi ayah sekaligus ibu bagi Imran bukanlah hal mudah bagi Hanifah. Mengingat dia hanya tamatan SMP dan belum pernah bekerja sampai Zaenuri pergi. Untunglah, dia mendapat pekerjaan membantu Bu Ella berjualan ikan di pasar. Selepas berjualan, biasanya Hanifah mencari tambahan penghasilan sebagai buruh setrika di beberapa rumah tetangga.

Angin dingin bertiup. Mengacaukan nyala lampu lampu minyak. Hanifah menyedekapkan tangan di dadanya, berusaha mengurangi hawa dingin yang terasa menusuk tulang.

“Fah!” terdengar suara memanggil.

Hanifah menoleh. Rahman, sahabatnya sedari kanak-kanak, telah berdiri di depan rumah dengan menenteng sebuah kresek. “Ini, buat Imran,” kata Rahman seraya mengulurkan bungkusan itu.

“Terima kasih, Man. Sudah selesai tadarus?”

“Iya,” jawab Rahman. “Mana Imran?”

“Di dalam,” jawab Hanifah. “Aku panggilkan?”

“Tidak usah. Katakan padanya, aku ingin mengajak ke pasar besok pagi,” kata Rahman kemudian berpamitan pulang. Hanifah memandang lelaki itu hingga bayangannya hilang di kelokan jalan.

Setelah Zaenuri pergi ke negeri jiran, hanya Rahmanlah yang membantu Hanifah jika ada kesulitan. Wanita itu sudah yatim piatu. Kerabat dekatnya tinggal seorang bibi yang kondisinya juga sangat miskin.

Selama ini Rahman menjadi figur seorang ayah bagi Imran. Hanifah sangat bersyukur karenanya. Entah dengan apa dia bisa membalas kebaikan Rahman.

Hanifah masuk rumah. Diberikannya bungkusan yang berisi nasi kotak itu kepada Imran. Anak kecil itu menjadi berbinar-binar matanya. “Ibu mau?” tanyanya.

Hanifah menggeleng. “Makanlah, ibu sudah kenyang.”

Imran segera menyantap nasi kotak itu dengan riang. Usai makan, Imran melantunkan ayat suci Al-Qur’an, mulai dari awal, Al-Fatihah. Hanifah mendengarkan dengan khusyu’.

***

Pagi itu, Rahman sudah berdiri di depan pintu rumah Hanifah, menjemput Imran.

“Jangan nakal ya, Ran,” pesan Hanifah kepada anaknya.

“Lho, kamu tidak sekalian ikut?” tanya Rahman. “Apa Kak Ella libur jualan?”

“Kalian berangkatlah dulu, nanti aku pergi sendiri,” jawab Hanifah.

Rahman mengerti, Hanifah tak mau berboncengan dengannya, lelaki bukan mahram.

“Ya sudah, aku pergi dulu,” kata Rahman. “Ayo, Ran.”

Imran mencium tangan ibunya kemudian duduk di atas motor Rahman. Hanifah melihat mereka pergi dengan tatapan entah apa.

***

Rahman mengantar Imran pulang ke rumahnya yang sudah kosong karena ditinggal Hanifah. Lelaki itu berpesan,
“Jangan main jauh-jauh. Kalau mau pergi, kunci pintunya,”

Imran mengangguk. “Iya, Om. Terima kasih bajunya,” ucap Imran.

Rahman hanya tersenyum kemudian berlalu pergi dengan motornya.

Imran menuju pot bunga mawar di samping rumah. Di bawah pot itu biasanya sang ibu menyembunyikan kunci. Setelah mendapatkan benda yang dicari, Imran segera masuk dan meletakkan sebuah bungkusan di ranjang Hanifah. Imran yakin, ibunya pasti bahagia mendapatkan bingkisan dari Rahman. Sebuah gamis merah marun. Pengganti gamis ungu yang sudah dipakai Hanifah dua lebaran berturut-turut.

Imran tersenyum sendiri. Membuka bungkusan yang lain. Berisi baju koko putih dan sarung hijau kotak-kotak hitam. Lebaran kali ini sang ibu pasti bahagia. Meski Imran tahu, ibunya tak akan benar-benar bahagia, sebelum ayahnya diketemukan.

***

Siang itu, Hanifa pulang dari pasar, menemukan bungkusan gamis marun di ranjangnya. Dia bertanya pada Imran,

“Ini baju siapa?”.

“Baju Ibu. Om Rahman yang membelikan,” jawab Imran.

Hanifah tercenung, merasa tidak enak. Dia takut Nur, istri Rahman, akan menyemprotnya dengan kata-kata kasar. Wanita itu selalu menuduh Hanifah ada hubungan khusus dengan Rahman. Padahal semua orang di kampung itu tahu, dirinya dan Rahman bersahabat sejak kecil.

“Kenapa kamu tak menolaknya, Nak?”

“Kenapa harus menolak, Bu?” sanggah Imran.

“Tidak baik terlalu banyak mengharap pemberian orang,” jawab Hanifa.

“Jadi, Bu?” Imran menatap ibunya dengan sorot mata tak mengerti.

“Ah, sudahlah, Ran. Nanti ibu yang mengembalikan.” Hanifah pergi ke pancuran. Mengambil air wudlu. Sudah agak telat baginya melaksanakan sholat Dzuhur.

Hanifah segera menggelar sajadah, menghadapkan wajahnya ke kiblat. Di atas sajadahnya itu ditumpahkan segala keluh kesah, harapan, dan permohonan. Adakah Dzat yang mampu mengabulkan segala permohonan seperti Allah? Hanifah menitikkan air mata dalam doa. Semoga sang suami segera diketahui kabarnya. Entah dalam keadaan bagaimanapun, dia akan terima. Bukankah waktu Ramadhan dan selesai sholat adalah waktu mustajab terkabulnya doa?

Hanifah menyudahi zikirnya, melipat mukena dan sajadah, kemudian meletakkan benda itu di sudut ranjang. Wanita itu hendak melangkah ke dapur, ketika sebuah ketukan di pintu depan terdengar. Dia membuka pintu. Pak RT dan Rahman telah berdiri di depannya.

“Fah, suamimu diketemukan!” ucap Pak RT dengan terburu.

“Benarkah?” Tampak wajah bahagia di wajah Hanifah. Air matanya meleleh karena terharu.

“Tapi, Fah ....”

“Tapi apa, Pak RT?” Hanifah memandang Pak RT dengan wajah gusar.

“Suamimu masuk negeri jiran dengan paspor dan visa palsu. Terlibat pembunuhan dan narkoba,” kata Pak RT.

“Benarkah semua itu, Pak? Aku tak percaya Bang Zaenuri melakukan semua itu. Dia lelaki yang sholeh.”

“Itu yang aku dengar dari Pak Kades,” ucap Pak RT.

Hanifah terhuyung. Tak kuasa hatinya mendengar penuturan Pak RT. Rahman cepat-cepat menangkap tubuhnya, membimbing wanita itu duduk di kursi.

Imran yang sedari tadi berdiri di pembatas ruang depan dan tengah menghambur ke pelukan Hanifah, menangis tersedu. Penantian panjang telah mendapat jawaban yang teramat muram. Hatinya berteriak. Ingatan kecilnya senantiasa memutar peristiwa-peristiwa yang dilalui dengan sang ayah.

Zaenuri adalah ayah yang penuh perhatian. Selalu menyempatkan diri mengajak Imran bermain di kala hendak berangkat melaut. Dia juga mengajar anak-anak kampung mengenal huruf hijaiyah hingga lancar mengaji. Namun perubahan besar terjadi, ketika tiba-tiba Zaenuri diberhentikan oleh juragan Basri sebagai salah satu nelayannya. Semua itu dikarenakan istri juragan Basri menaruh hati kepada Zaenuri dan suaminya cemburu. Zaenuri kemudian kembali melaut dengan perahu kecilnya, tak bisa melaut sampai jauh. Hasil yang didapat sangat sedikit. Keadaan itulah yang membuatnya nekad mengadu nasib ke Malaysia.

***

Dua hari lagi Zaenuri dieksekusi. Hanifah diperkenankan menelepon suaminya untuk terakhir kali.

“Maafkan aku, Fah,” Suara Zaenuri tercekat, terperangkap dalam ketakutan sekaligus kepasrahan.

“Bang, benarkah apa yang dituduhkan mereka kepadamu?” Suara Hanifah terkubur dalam isak tangis.

“Aku masuk Malaysia dengan paspor dan visa palsu, itu benar,” tutur Zaenuri, “tapi itu karena aku ditipu.”

“Lalu, kenapa kau membunuh dan terlibat urusan narkoba?” Tangis Hanifah semakin pilu.

“Ceritanya panjang,” jawab Zaenuri. “Dalam pengejaran polisi karena paspor dan visa palsu, aku diselamatkan seorang wanita setengah baya. Dia memberiku tumpangan dan makan. Namun aku harus membayarnya dengan menjadi kurir narkoba.” Zaenuri terisak. “Awalnya aku menuruti, karena tidak punya jalan lain. Tapi wanita itu kian serakah merampok kemerdekaanku, harga diri dan tubuhku ....” Zaenuri tak kuasa melanjutkan perkataannya.

“Maksudmu kau dan dia .....” Hanifah meraung-raung.

“Iya, Fah. Tubuhku telah berkubang dalam lumpur dosa.” Zaenuri menghela nafas dalam-dalam, berusaha menguasai emosinya. “Karena tak tahan diperlakukan seperti itu, aku membunuhnya.”

Hanifah tercekat. Menelan ludah dengan kepahitan yang pekat.

“Maafkan aku, Hanifah. Namun engkau harus tahu, seumur hidup, aku hanya mencintai satu wanita, yaitu kamu. Tak pernah sekalipun aku berpaling darimu,” kata Zaenuri dengan getir. “Sekali lagi, maafkan aku, tak bisa terus melindungimu dan Imran, tak akan pernah ada lagi untuk kalian. Kumohon, doakan aku agar Allah mengampuni segala dosa yang telah kuperbuat.”

“Aku memaafkanmu, Bang. Selalu mendoakanmu, dan membimbing buah hati kita agar menjadi anak yang sholeh. Kupastikan, Imran akan selalu mengirim doa untukmu. Beristighfarlah banyak-banyak sebelum maut menjemput. Kami sangat mencintaimu. Kelak di syurga, kita akan bersatu.”

Telepon terhenti. Hanifah dan Zaenuri tertegun di tempatnya masing-masing. Berusaha menelan kenyataan yang teramat pahit.

***

Jenazah Zaenuri tiba di kampung halamannya tiga hari sebelum lebaran. Dia dikuburkan dengan penuh duka cita warga sekampung. Semasa hidupnya di desa, lelaki itu dikenal dengan kehalusan budi bahasa dan rajin beribadah. Jika ada berita tidak sedap tentang sebab musabab lelaki itu meninggal, mereka sama sekali tak bisa menerima. Dalam hati mereka, Zaenuri tetaplah sosok seperti yang dulu mereka kenang. Suka menolong dan mengajari anak-anak mereka mengaji.
Ketika malam mulai larut, Hanifah dan Imran masih termangu di teras, menatap kejauhan, entah berpikir tentang apa. Kedukaan jelas tergambar di wajah mereka. Meski air mata tak lagi mengalir.

Hanifah menata lampu-lampu minyak kecil di sisi dalam pagar rumah, di atas bambu-bambu yang bersusun. Menuangkan minyak tanah ke dalamnya dan menyulut lampu-lampu tumbilotohe. Sebuah tradisi yang dijalankan masyarakat Gorontalo, pada tiga atau empat hari berturut-turut sebelum lebaran. Konon, tradisi itu selain untuk menyambut malam Lailatul Qaadr, juga menyambut datangnya Idul Fitri.

“Ran, tidurlah. Tidakkah engkau ikut Ibu I’tikaf di masjid nanti malam? Semoga ini malam lailatul Qodr. Malam yang lebih baik dari seribu bulan. Doa-doa kita akan diijabah Allah.”

Imran menoleh ke arah ibunya, kemudian mengangguk. Anak kecil itu pun segera memasuki rumah dan berbaring di kamarnya, metatap langit-langit hingga terbit air mata. Dia terisak dalam diam.

Dini hari, Hanifah membangunkan Imran dan mengajaknya ke masjid. Mereka berjalan dalam diam.
Ingatan Hanifah melayang pada bertahun-tahun silam. Kala Zaenuri masih ada di sampingnya. Malam tumbilotohe menjadi malam yang romantis bagi mereka. Berjalan berdua dalam keheningan malam. Melintasi berderet lampu tumbilotohe di sepanjang jalan. Bergandengan tangan menuju masjid untuk beri’tikaf. Memohon segala kebaikan di dunia dan akhirat. Walau kenyataannya kini Tuhan tak memberi jalan yang mudah bagi mereka.
Air mata menetes di pipi. Membentuk kilauan kesedihan yang tak terjabarkan dalam aksara.

“Bu ....” Imran menyentuh ujung jemari Hanifah.

“Tak apa, Ran ... ibu tak apa-apa,” kata Hanifah seraya menghela nafas dalam-dalam.

“Aku akan mendoakan Ayah.” Pelan Imran berujar. Hanifah menggenggam jemari kecil anaknya dan mencoba tersenyum.

***

Malam takbiran, Rahman berkunjung ke rumah Hanifah bersama Aisya, anaknya. Membawa sekarung beras, ketupat, dan opor ayam. Kemudian mereka bergabung dengan Imran yang duduk di halaman rumah, mematung di depan lampu minyak tumbilotohe. Tak ada air mata di pipinya. Namun jelas terlihat luka menganga di matanya.

Hanifah masuk ke kamarnya kemudian keluar dengan membawa bungkusan gamis marun pemberian Rahman.

"Ini gamisnya, Man. Aku tidak bisa terima," kata Hanifah menyodorkan bungkusan itu.

"Kenapa? Apakah kamu tidak mau memberikan kesempatan pada kami untuk berbuat baik?" Istri Rahman tiba-tiba muncul di depan mereka. Dia mendekati Hanifah dan mengelus pundaknya. "Terimalah. Buat kami bahagia malam ini."

Hanifah mengangguk.

Sejenak mereka terdiam. Larut dalam pikiran masing-masing.

“Bu, akankah bapak masuk surga?” tanya Imran tiba-tiba.

Mereka semakin terjebak dalam keheningan kata. Terdengar debur ombak pantai olele yang meningkahi kesedihan di hati mereka. Kesedihan akan sebuah kehilangan.

“Ran, kamu anak lelakinya. Doamu untuknya akan sampai ke langit tanpa penghalang. Doakan ayahmu seusai sholat. Semoga Allah mengampuni segala dosa-dosanya,” kata Rahman seraya mengelus kepala Imran. Anak kecil itu tersenyum samar.

Tamat
profile-picture
profile-picture
profile-picture
Indriaandrian dan 3 lainnya memberi reputasi

Seikat Mawar dari Penggemar Rahasia

Seikat Mawar dari Penggemar Rahasia

Dari balik jendela kamar kulihat anak gadisku sedang menerima bunga yang diulurkan seorang kurir. Wajahnya terlihat sumringah. Senyum manis terukir di bibirnya yang tipis. Gadis itu berlari masuk rumah.

“Ibu ... Ibu ... aku menerima lagi kiriman mawar merah, Bu,” katanya ketika telah menerobos pintu kamarku yang terbuka.

“Dari siapa, Clara?”

“Entahlah, Bu. Tidak ada namanya. Hanya tertulis ‘Penggemar Rahasia’.”

“Simpanlah di kamarmu, agar harumnya memenuhi ruangan,” kataku. Clara pun mengangguk dan berlalu dengan gembira. Ini kedua kalinya gadisku itu menerima seikat mawar dari penggemar rahasia.

Seminggu yang lalu, gadisku itu nampak murung. Aku tahu, itu karena dia tak punya satupun teman dekat, sehingga dia merasa kesepian. Sebenarnya banyak yang ingin berteman dengannya, namun Clara selalu menarik diri, karena cacat yang melekat di tubuhnya sejak dilahirkan.

Ya, gadisku itu mempunyai satu mata yang berukuran teramat kecil, dokter menyebutnya microbulbi. Cacat itu diakibatkan gangguan pembentukan organ mata ketika sedang terbentuk di dalam rahim.

Umurnya kini telah memasuki usia 24 tahun, tapi belum ada seorang pria pun yang dekat dengannya. Satu persatu teman SMA dan kuliah-nya menikah, namun jodoh terasa masih terlalu jauh bagi Clara. Satu-satunya pria yang mau berkawan dengannya hanya Wasis, anak tukang kebun kami. Itupun hanya sebatas teman dan mungkin juga hanya sebatas hubungan seseorang yang terkait pekerjaan ayahnya. Bahkan Wasis sudah mempunyai pujaan hati.

***

Pagi itu kulihat Clara sedang duduk di ayunan sambil membaca buku. Gadis itu kubiarkan melakukan apa saja yang dia mau. Aku juga tak menuntutnya segera mencari kerja setelah selesai kuliah tahun kemarin. Semua itu karena rasa bersalahku yang teramat besar padanya.

Saat masih duduk di bangku kuliah, aku pernah melakukan kesalahan yang fatal, hingga tumbuh janin dalam rahimku tanpa pernikahan. Rasa malu dan takut akan kemurkaan orang tua membuatku nekat menggugurkan kandungan. Apapun hal yang kuketahui bisa menggugurkan kandungan, aku minum. Tapi, Tuhan berkehendak lain. Janin itu tetap melekat erat pada rahimku dan hendak menunjukkan kepada dunia kesalahanku.

Aku menangis di hadapan orang tuaku, bersujud di kakinya dan memohon ampun. Kuterima semua kemarahan mereka karena aku pantas untuk itu. Ibuku menangis berhari-hari sampai kemudian tak bisa menangis lagi. Perempuan tua itu hanya menatap kosong ke depan. Bapak segera mengambil langkah, meminta kekasihku untuk bertanggung jawab. Untunglah dia mau menikahiku.

Untuk sementara aib bisa ditutupi sampai bulan kelima pernikahan, aku sudah melahirkan anak. Meskipun tak ada yang menegur kami dengan kata-kata kasar, tapi aku yakin banyak tetangga yang bergunjing tentang kami. Aku maklumi itu, karena aku memang patut menerima hasil perbuatanku. Tapi bagaimana dengan anakku? Aku bahkan telah menghukumnya meski sebenarnya aku dan ayahnya yang bersalah.

Kulihat dari jendela kamarku gadisku berlari-lari kecil menuju pintu pagar. Seorang kurir mengulurkan seikat bunga, dari pengagum rahasia. Gadis itu terlonjak girang. Diciumnya mawar merah itu yang merupakan bunga kesayangannya. Ia berlari masuk ke kamar. Aku mengikutinya dari belakang.

Diletakkannya bunga itu pada vas bunga di atas meja. Matanya berbinar indah. Ah ... seandainya saja gadis itu tidak cacat, pasti banyak lelaki yang jatuh cinta padanya. Hidungnya mancung, raut wajah dan bibirnya indah, kulit tubuhnya kuning langsat. Sayang, satu keegoisan dalam diriku menghancurkan kecantikan itu.

Kulihat gadisku menciumi bunga-bunga itu sambil tersenyum simpul. Mungkin dia sedang membayang seorang pangeran tampan menunggang kuda yang datang kepadanya dan mengajaknya menikah.
Ada secuil kebahagiaan dalam diriku melihat senyumnya. Namun sampai kapan aku akan membohonginya? Sebab semua mawar itu aku yang mengirimnya.

Tamat
profile-picture
profile-picture
profile-picture
Indriaandrian dan 3 lainnya memberi reputasi
Nice story Sist. Ketika kenyataan tak sesuai harapanemoticon-Mewek
profile-picture
profile-picture
rubyamora dan cattleyaonly memberi reputasi
Sangat mengharu biru kisahnya. Terkadang saat seseorang ada dalam hidup kita, kita tak begitu memedulikan. Tapi saat telah pergi merasa kehilangan.emoticon-Turut Berduka
profile-picture
cattleyaonly memberi reputasi
tabebuya ku koq warnanya kuning yahhh
profile-picture
cattleyaonly memberi reputasi
Quote:


Nggak punya foto tabebuya, itu foto sakuraemoticon-Malumalu
Lihat 1 balasan
Balasan post cattleyaonly
dikimpoi silang mungkin bisa berbunga pink
profile-picture
cattleyaonly memberi reputasi
Quote:


Kayaknya pernah lihat yang berbunga pink di pinggir jalanan Magelang. Tapi pink nya gak seperti yg di gambar.
profile-picture
.monon. memberi reputasi
Kasihan Joane, aku suka cerita ini sukak banget pingin ada lanjutannya kisah Joanne emoticon-Wowcantik
profile-picture
cattleyaonly memberi reputasi
Indah sekali tabebuya ya kakak.
Balasan post cattleyaonly
Cerita enak bgt dibaca.... gurih bunda-kakak... seolah-olah aku masuk dalam cerita. Kerenan nih...wih... bacanya larut dalam kopiku uakkaakka
selalu ada istilah medis terselip dalam cerita, jadi teringat Margat T, penulis perempuan dan dokter.

cerpennya bagus-bagus
emoticon-2 Jempol
Suka tulisannya, sad story tapi ditulis cantik kaya bunganya, kaya penulisnya juga. 😘
Diubah oleh Indriaandrian
bikin mewek nih
kukira tadi ntu senang


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di