KATEGORI
KATEGORI
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5ddd4f28c0cad7095218d334/pesona-orang-ketiga

Pesona Orang Ketiga

Quote:


Pesona Orang Ketiga

1. Suamiku dan Rahmat-nya https://www.kaskus.co.id/show_post/5...cad7095218d333

2. Misteri tentang Rahmat https://www.kaskus.co.id/show_post/5...518b6b7967195f

3. Dihantui Rasa Penasaran https://www.kaskus.co.id/show_post/5...cc955a716ed8df


Suamiku dan Rahmat-nya

Usai meletakkan secangkir kopi di nakas, perlahan kuhampiri suami yang duduk anteng di ranjang. Lamat kutatap raut wajahnya yang fokus menatap laptop. Tentu sambil memikirkan sesuatu.

Hmm ... betapa gantengnya Mas Anggri-ku. Di usianya yang hampir menginjak tiga puluh tahun, ia masih saja berwajah keremajaan. Tak ada satu pun garis kerutan di sekitar wajahnya. Tak sepertiku, yang begitu tampak jika ditatap jeli pada area sekitar mata. Saat tersenyum apalagi, pasti guratan-guratan itu terukir sempurna di penglihatan orang. Wajah yang bertambah kusam seiring bintik hitam bermunculan, entahlah ... semakin hari kurasakan semakin jelek saja rupaku ini. Berbeda sekali dengan raut wajah suamiku yang putih, bersih, dan mulus, seperti layaknya orang perawatan.

"Ehem!" Deheman Mas Anggri membuatku tersentak dalam lamunan. Kugeser posisi kopi di nakas, lebih maju ke arahnya, sembari menawarkan, "Masih panas, Mas. Minum, gih!"

"Ada apa, sih, melamun?" Pertanyaan yang terlontar di bibirnya membuatku terkesiap. Karena gugup, aku pun melingkarkan kedua tangan pada salah satu lengannya. Menempel dengan manja, seraya menjawab, "Nggak apa."

Ia tertawa kecil sambil menggoda, "Apa ini nempel-nempel? Masih pagi, Sayang."

"Iish!" Spontan kulepaskan kedua tanganku, berganti mencubit kecil pinggangnya. Ia bertambah keras melepas tawa kala mendapatiku tersipu. Senang sekali dia menggoda, dan ada benarnya bila hati ini rindu. Baru semalam kita bertemu setelah hampir sebulan ia menghabiskan waktu untuk proyek di luar kota, alias kampung halaman di mana ia pernah tinggal dan dibesarkan.

Mas Anggri menegakkan punggungnya. Menguap, lalu mengambil kopi di nakas. Pelan, ia meniup kopi yang masih mengepul itu, setelahnya menyeruput sedikit. Agak kasihan juga melihatnya yang tampak letih sekali.

"Mas, gimana kabar ibu?" Iseng, kutanya ia yang sepertinya memutuskan untuk rehat. Ya, sedari sebelum subuh, ia sudah sibuk dengan laptop di hadapan. Bahkan, aku melihatnya saja sudah penat.

"Baik." Ia menjawab singkat.

"Sehat?"

"Sehat."

"Nanyain aku, nggak?" Aku semakin was-was bertanya demikian.

"Ya, tanya kabar. Tanya juga, kenapa tak ikut."

"Nah, kan ... lalu kenapa aku tak diizinkan ikut kemarin?" protesku. Ia tak menjawab, kembali meniup kopi di tangan yang aromanya menyeruak ke dalam hidungku. "Oh, ya ... di sana ada apanya?" Kualihkan pembicaraan agar tak menghilangkan mood-nya. Kupikir ia akan mengataiku banyak omong, tapi Mas Anggri tengah menahan senyum saat menolehkan wajah. Sedetik kemudian berseru, "Ada apa, maksudnya? Ya, sama lho pasti, ada penduduknya. Gimana, sih?"

Jiah! Garing. Kucubit lagi pinggangnya karena gemas. "Maksudku tadi, apa yang baru di sana? Ada wisata baru kah, selain yang pernah kita kunjungi. Atau, ada Mall baru mungkin ... atau apa gitu," lanjutku bernada kesal.

Suamiku mulai terbahak. Ia letakkan kopi di tangannya itu ke tempat asal, lalu berganti mengistirahatkan laptop di pembaringan. "Suamimu ini mau garap wahana baru. Proyek turun seminggu lagi. Nantilah, kita lihat kalau dah jadi. Kangen refreshing, ya?"

"Lho, kok, mau ditinggal lagi??" pekikku saat mendengar ucapannya. Mas Anggri beranjak, dan mulai melepaskan kaos. "Kan, kerja. Lagian masih seminggu lagi baliknya, Sayang." Setelah berkata begitu, ia berjalan gontai mengambil handuk, masuk ke kamar mandi. Meninggalkanku dalam rasa cemberut yang tinggi. Belum usai menyampaikan uneg-uneg, Mas Anggri berteriak dari dalam kamar mandi, "Masak, woey! Masak! Jangan banyakin melamun di pagi hari."

Ck! Aku berdecak kesal sembari meninju kecil bantal di samping. "Lagi males. Cari sarapan saja habis ini," sewotku.

"Okeeeee, tak masalah," balasnya.

"Aku mau sarapan di Kayana," seruku tegas. Sengaja kucari lesehan yang ada di puncak gunung, biar terasa kebersamaan kita. Kalau tak begini, pasti waktunya untukku begitu singkat.

Tak ada lagi timpalan yang terlontar. Hanya suara gemercik air dari shower dan senandung sumbang sang suami yang merasuk membran telinga.

***

Kuoles lipstik warna nude, lalu merapatkan bibir dan menggeseknya maju-mundur. Semakin kudekatkan wajahku ke cermin, mencermati wajah dari samping kanan, bertolak ke kiri. Kemudian mundur perlahan dua langkah, melihat penampilanku keseluruhan.

"Mau kemana, Sayang?" Suara di belakang mengagetkanku yang tengah mematung. Mas Anggriiiiii, bener-beneeeerrr!!!

"Lho, kok, manyun gitu? Eh, tak apa. Semakin cantik, kok." Seakan tanpa salah, begitu entengnya ia melontarkan kata dengan sengaja. Kebiasaan lama, terlalu mudah melupakan ucapan yang sudah di'iya'kan. Dan itu hanya berlaku padaku. Pada orang lain, janji apapun selalu ingat.

Semakin kesel lagi, saat kemudian ia meraih laptopnya kembali di kasur. Alaaaah, kalau udah begini, jangankan ngajak pergi, disenggol aja ia bakal marah. Kepeeeettt!!!

"Oh, ya ... kalau mau pergi, beliin nasi pecel dulu, dong, di gang depan. Kenyangin urusan perut suami, baru keluyuran," titahnya.

Whaaaattt?? Keluyuran dia bilang???

"Lho, ada apa kok melotot gitu?" tanyanya saat sekilas menatapku. Baru saja kuingin membuka mulut, ia beranjak dari duduk sambil berkata, "PMS ini pasti. Oke, deh ... biar aku beli sendiri. Ngomong-ngomong, kamu makan di rumah apa di luar, Sayang?"

Diam. Hanya itu yang kulakukan. Lantas, kuhempaskan tubuhku ke ranjang. Memiringkan posisi dengan badan memunggunginya. Mas Anggri lalu beranjak, dan berkata lagi, "Cari sarapan dulu, ya!"

Lagi ... ia membuatku hampir memuntahkan emosi.

Sepeninggalnya, kubalikkan badanku, menatap layar laptop yang sudah mati. Karena gaptek, kutekan saja tombol apapun yang ada. Berhasil terpampang! Tampak gambar seperti denah yang muncul di sana. Ah, sudahlah ... mungkin karena suami pekerja keras, jadi diajak kemana pun, pikirannya ke kerjaan saja.


Aku mendengkus, kemudian memilih untuk berganti pakaian. Baru saja beringsut dari tempat, terdengar suara HP berbunyi. Langkah pun langsung tertuju pada asal suara. Ternyata, sebuah pesan WhatsApp masuk di HP Mas Anggri. Awalnya aku tak merespon, tapi tulisan pesan itu tampak jelas di layar beranda suamiku.

[Sehari tak bertemu, sakit rasanya hati terbunuh rindu] di belakang pesan ada emoticon sedih, lalu emoticon love, dan kiss.

Kaget, kucoba lihat kontaknya. Tertuliskan, Rahmat. Namun, profil pict-nya terpampang sosok wajah perempuan cantik yang tersenyum centil di sana. Saking penasarannya, kucoba buka pesan. Niat hati ingin scroll pesan-pesan sebelumnya, tapi hebat sekali ... sudah bersih tak bersisa. Hanya satu pesan tadi yang baru masuk!

Hiiiiihhhhh! Emosi yang bertumpuk dalam otak semakin memenuhi ruangan hati. Oh, pantas saja ia tak mengajakku barang sekadar untuk pulang ke rumah orang tuanya. Eeh, ternyata ....

Tap, tap, tap! Terdengar langkah sandal Mas Anggri dari depan. Cepat-cepat kuhapus pesan itu, menghilangkan jejak. Lalu kukembalikan HP-nya ke dalam tasnya.

"Hai, Sayang! Yuk, makan dulu!" serunya, dengan senyum yang terkesan ambyarr untukku kini.

"Kenapa, Sayang? Kamu, kok, sepertinya uring-uringan terus?" ucapnya lagi. Oke, karena ia tengah bersandiwara, maka aku pun harus ikut berakting biar impass. "Enggaaaak. Aku seneng saja punya suami yang diRAHMATi Tuhan, sampai-sampai hidupku bisa senikmat ini," celetukku datar. Kemudian kuhampiri ia di meja makan. Ikut memasang senyum termanis ....

(bersambung)

rate, dan beri komentar, ya ... jika ceritanya menarik untuk dilanjut! Thanks 😊

emoticon-Betty
profile-picture
profile-picture
profile-picture
jembloengjava dan 7 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh shirazy02
Halaman 1 dari 2
bagi ane, orang ketiga tdk ada pesona nya.. 🤔
Quote:


Yaelaa lu blm ketemu aja cuy
Quote:


Karena biasanya yang ketiga itu bukan orang, tapi nganu emoticon-Belgiaemoticon-Belgia
Diubah oleh shirazy02
Quote:


Jan sampe emoticon-Wakaka
sfth satu perempatan lg neng
profile-picture
shirazy02 memberi reputasi
Quote:


Maksudnya gimana satu perempatan? emoticon-Bingung
Quote:


Post di stories from the heart aja
profile-picture
shirazy02 memberi reputasi
Ane hanya punya orang pertama
Tidak ada orang kedua, ketiga dst

Ane tipe laki-laki yang setia

emoticon-2 Jempol
profile-picture
profile-picture
adorazoelev dan shirazy02 memberi reputasi
Covernya bagus.

Edit pake software/aplikasi apa? emoticon-Confused

Anyway, kenapa minta Thread-nya dihapus?

Mending dipindahin saja, daripada harus bikin ulang. emoticon-Angkat Beer
ada sambungan nya toh,
kenapa gk post di sfth aj gan??
Diubah oleh nagrem25
Quote:


Tadi asal teken heart, Bang. Baru ngeh pas ada yang bilang emoticon-Hammer2
Quote:


Bener, ya ... mindahinnya gimana, yakk? Laporan admin kah? Newbie, Bang. Maklum
profile-picture
doctorkelinci memberi reputasi
puber kedua kah?
Pesona Orang Ketiga, kira2 bakal kandas ga ya biduk pernikahan dihantam orang ketiga?? emoticon-Bingung
paling suka cerita yg ada pelakor nya..

Misteri Tentang Rahmat

Denting jarum jam dinding yang bergerak masih lekat di pendengaran. Sama berpacu dengan detak jantung yang terasa tak sabar menunggu. Penasaran yang terus menghantui membuat kemelut hati tak jua usai, sehingga malam pelampiasan yang terjadi kali ini tak seindah malam-malam biasanya. Kesal, marah, dan kecewa ... semua itu bertumpuk jadi satu dalam benak.

"Kenapa tak juga tidur?" Tak kuat mengatupkan mata sedari tadi, akhirnya aku melek juga sambil beranjak dari kasur. Mas Anggri ada di sampingku. Duduk di atas ranjang menatap laptop di hadapan.

"Heeeii, kupikir kamu tadi sudah tidur," balasnya gak nyambung. Ia menolehkan wajahnya sekilas padaku, lalu kembali lagi menatap laptopnya.

"Kamu kenapa tak tidur-tidur, Mas?" Kembali kubertanya padanya dengan mata melirik ke layar laptop. Masih berupa denah yang kini lebih lebar dari yang kutatap pagi tadi.

"Kan, ini lagi ada kesibukan."

"Kenapa tak besok saja dikerjakan. Toh, setiap waktu kerjaanmu juga mantengin laptoooooop terus."

"Jiiaaaah, cemburu dia." Mas Anggri tertawa. Ia menoleh lagi padaku, mengusek rambut, dan mencium kening. "Tidur sana! Kang Mas-mu ini lagi sibuk buat nyenengin hati kamu nanti," lanjutnya lagi. Preeeeettt, dalam hati aku mencibir.

Masih teringat tentang kontak si Rahmat yang bergambar perempuan centil itu. Ada kejanggalan yang kurasakan dari kemarin. Sejak Mas Anggri pulang dari kampung halamannya, aku tak pernah lagi melihatnya memainkan HP. Padahal, kami bersama-sama setiap waktu. Sengaja kah, agar belangnya tak ketahuan? Atau memang benar, ia sibuk dengan pejerjaannya di laptop? Entah, apapun alasannya ... yang pasti, aku tak bisa berpikir positif lagi kali ini.

Kembali kurebahkan tubuhku ke kasur. Menghimpit tangan kiri dengan kepala. Keinginan untuk menjemput bunga tidur, lenyaplah sudah. Pikiranku semakin gelisah seiring dengan terbesitnya isi pesan WhatsApp pagi tadi yang menyesakkan batin. Ya, suamiku memang orang yang tampan. Idaman bagi siapa saja yang memandang. Wajah yang tak pernah tampak tua, pekerjaan dengan materi yang menjanjikan, sikapnya pun romantis, murah senyum dan lembut pula dengan siapapun. Jangankan orang lain. Aku isterinya saja masih sering malu-malu kucing saat ia membuaiku dengan sebuah rayuan. Suamiku penyayang, dan memang pintar menempatkan hati perempuan dengan selayaknya.

"Mas, boleh aku bertanya?" Bergetar hatiku saat melontarkan ucapan barusan.

"Silakan, Sayang! Tinggal berkata, dan aku akan dengarkan."

Hatiku kali ini dag dig dug tak karuan. Maju-mundur rasanya ingin mengungkapkan sesuatu yang mengganjal di hati. Antara kesal juga khawatir. Kesalnya, karena teringat bunyi pesan aneh itu. Khawatirnya, karena aku takut ia marah. Sedangkan selama tujuh tahun pernikahan, ia tak pernah sedikitpun berkata yang melukai hatiku.

"Apa? Aku menunggu ini." Ucapan Mas Anggri membuatku tersentak dalam lamunan. Aku beranjak lagi. Mengambil duduk di dekatnya sambil melingkarkan tanganku ke pinggangnya.

"A-aku takut," ujarku asal.

"Takut apa?" Ia membalikkan badannya padaku, membalas dekapanku dengan begitu lembut. Kami berdua saling mengerat begitu mesranya. Entahlah, melihatnya seperti ini, membuatku tak yakin jika ia sedang bermain di belakang.

"Takut apa, Sayang? Selagi ada aku, kenapa kamu takut? Tak akan ada satu pun yang bisa menyakitimu. Tenang saja!" Lembut, ia berbisik di telinga sambil mengelus rambut ikalku dengan kelima jemari. Kali ini kurasakan damai sekali. Hati lebih tenang, dan pikiran kembali dingin. Kami saling berpelukan begitu lama, seakan hati dan cintanya terkunci olehku. Sampai tiba-tiba, suara HP yang berdering mengagetkan kami hingga sama-sama melepas dekapan.

"Siapa telepon malam-malam begini?" Kutatap wajah suamiku dengan heran.

"Entah."

Terlihat wajah Mas Anggri berubah kecut. Ia bahkan tak lagi menggubrisku. Kembali meraih laptop di sisinya.

"Kok, diam? Angkat gitu!" ucapku. Sepertinya ia panik, terlihat dari caranya mengalihkan pandang. Suami diam sejenak. Sesaat kemudian mulai beranjak. Ia hampiri tas kerjanya dan mulai melihat HP. Bunyi deringan itu seketika lenyap. Seperti sengaja dimatikan.

"Siapa?" tanyaku penasaran.

"Ini mau diangkat mati."

"Mati kenapa? Dia yang matikan?"

"Iya. Mungkin salah sambung. Nomor tak dikenal juga."

"Nomor tak dikenal, kok, telepon terus-menerus, ya? Sempat mati tadi, kan. Terus telepon lagi," cercahku. Tampak suamiku memandang dengan wajah lesu. Ia kemudian menghampiriku sambil menyodorkan HP miliknya. "Ini, bawa! Nanti kalau telepon lagi, silakan angkat," tukasnya lirih. Kembali ia duduk di sebelahku, memfokuskan tatapannya pada laptop di hadapan. Sedangkan aku, diam dengan perasaan tak menentu. Lantas kuperiksa log panggilan di HP suami. Benar yang ia katakan. Nomor baru. Entah siapa ....

Rasa bersalah kembali menyeruak. Sepertinya, aku yang terlalu berburuk sangka. Kalaupun Mas Anggri ada sesuatu di belakangku, mana mungkin ia sebegitu biasanya mempasrahkan HP itu padaku.

Tapi soal si Rahmat ....

Jempolku bergerak cepat menggulir kontak WhatsApp di HP Mas Anggri. Kedua kalinya mata ini bertemu dengan kontak si Rahmat. Kali ini fotonya berbeda dari yang sebelumnya. Wajah perempuan centil itu tak lagi terpampang, melainkan sosok bayi gembul menelungkup dengan badan telanjang. Sebuah foto editan yang terdapat sebuah tulisan Love di bawahnya.

Siapa itu? Anak perempuan itukah? Apakah ia seorang janda?

Masih tak puas, lalu kucoba melihat tiga kontak terakhir yang sering dihubungi suamiku di aplikasi tersebut. Rasa syok mendadak muncul kala menatap kontak Rahmat ada di deretan teratas. Ah, ini bukan sebatas main-main. Tak kuat rasanya otak menerka-nerka apa yang sebenarnya terjadi. Hati yang tadinya berhasil ditenangkan karena sebuah dekapan mesra, berubah kalut seiring dengan emosi hati yang berkecamuk.

"Sayang, sepertinya aku besok harus kembali," seru Mas Anggri tiba-tiba, yang sontak melototkan mataku kemudian.

"Kembali ke mana?"

"Ke kampung. Ada sesuatu yang harus dibicarakan sama Kepala Desa tentang rencana wahana baru. Segera, agar cepat direalisasikan."

"Apa?? Katanya seminggu lagi?" Benar-benar perkataannya memacu laju emosiku kali ini. Mas Anggri menoleh, tersenyum padaku, sambil berkata, "Lebih cepat lebih baik. Biar bisa menyiapkan anggaran yang harus disediakan."

Oh, yeeeaaahh??? Kemelut di hati seakan tak percaya dengan apa yang ia ucap barusan. Aku mendengkus dan mengalihkan pandang.

"Kalau begitu, aku ikut. Kamu pasti lama, aku juga kangen sama mertua," seruku.

Dia bergeming. Tak menjawab apapun. Semakin penasaran saja aku di buatnya. "Boleh, tak?" tanyaku dengan nada sedikit keras.

"Aku sama rekanku. Empat orang. Tak enak, Sayang, ngajak kamu. Lain kali, ya?" tawarnya kemudian.

"Oooh ...." Aku manggut-manggut sejenak. Oke, fix. Ada sesuatu yang terjadi di antara rumah tangga kami. Mungkinkah karena si Rahmat ini?

Perlahan, kupungut HP-ku dari nakas. Kemudian kusimpan nomor Rahmat ke HP milikku. Aku harus bisa menemukan misteri di balik semua ini. Pasti akan kutemukan suatu hari ....
profile-picture
profile-picture
profile-picture
jembloengjava dan 4 lainnya memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Bakalan seru nih ceritanya, jadi ikut penasaran juga sama si Rahmat satu ini
Quote:


Oke, tunggu lanjutannya emoticon-Big Kiss
Quote:


Maybe emoticon-Ngakak
profile-picture
makduaanak memberi reputasi
Quote:


Nenda aja, camping beberapa minggu. Hihi emoticon-Toast
Halaman 1 dari 2


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di