KATEGORI
KATEGORI
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5dda21e0c9518b77566abcc8/badai-sebelum-pelangi

BADAI SEBELUM PELANGI

BADAI SEBELUM PELANGI

1.Murid Baru


Namaku Zerina. Zerina Mia Hartalisya. Kepribadianku berubah sejak penghianatan itu terjadi. Ketika orang-orang yang selalu bersamaku, menjalani hari-hari bersamaku bahkan suka duka selalu bersamaku menghancurkan semuanya.

Ketika pacarmu yang sudah sangat manis denganmu dan sahabatmu yang selalu mendukungmu ternyata hanya berpura-pura baik padamu. Sakit bukan? Kemudian mereka bersama dan meninggalkanmu. Bagaimana rasanya? Sakit saja, kah? Atau ada perasaan lain?

Tidak hanya itu yang terjadi padaku, mereka bahkan merusak nama baikku, membuatku semakin tidak bisa bergerak, tidak ada yang percaya padaku. Mereka yang lain jadi takut padaku.

Namaku bukan lagi Zerina. Aku orang gila, yang gilanya bisa kambuh kapan saja. Orang-orang yang mendekatiku hanya ingin mengambil kesempatan tanpa kutahu apa tujuannya. Yang pasti mereka hanya menguntungkan diri mereka sendiri.

Astaga, kejam sekali hidup ini. Aku harus apa? Mati, kah? Atau terus menjalaninya? Kira-kira apa yang akan kudapat jika aku terus menjalani hidup. Ketulusan, kah? Aah tidak, ketulusan itu semu. Walau aku sangat ingin bertemu dengannya.

***

Kukira setelah aku lulus dan masuk ke sekolah baru semua itu akan lenyap, tapi ternyata tidak. Orang-orang bodoh itu terus mengingatnya bahkan mereka menyebarkan semuanya di sini. Tak mengapa, aku telah terbiasa dengan semua ini, bahkan jika aku harus seperti ini sampai akhir hidupku. Semua pikiran mereka dan semua yang mereka katakan, biarlah, aku terlalu lelah untuk peduli.

Aku suka duniaku, tak ada yang harus kusembunyikan sekarang. Aku tak perlu berpura-pura untuk mendapatkan yang aku inginkan, karena aku tak lagi menginginkannya.

Teman...

Makhluk apa itu? Aku tidak ingin mereka lagi. Mereka semua hidup dalam kepalsuan. Canda tawa itu akan terasa pahit jika kau tau akhirnya. Tak ada ketulusan di sini, semuanya berjalan karena kemauan masing-masing dari orang-orang itu. Aku tak pernah melihat ketulusan, mungkin dia semu, seperti apa dia? Aku jadi ingin bertemu dengannya.

***

Seperti biasa, aku menghabiskan waktu istirahat dengan duduk di atas rumput yang berseberangan dengan lapangan. Tempat ini nyaman, aku bisa bersandar sekaligus merasakan keteduhan pohon rindang ini. Berkali-kali aku melihat orang lewat yang memandangku aneh karena memilih duduk di sini, sedangkan banyak bangku taman yang disediakan sekolah untuk murid-muridnya, abaikan saja.

Kupasang earphone dan memutar lagu yang belakangan ini sering kudengarkan. Walau aku tak tau arti dari lagunya, tapi aku suka. Alunan nadanya membuat ketenanganku di atas level biasanya. Aku tetap berada di sini, sampai istirahat selesai.

Koridor kelas masih lumayan ramai oleh siswa-siswi yang ngobrol dan tertawa, padahal bel masuk sudah berbunyi. Seharusnya tadi aku menunggu beberapa menit setelah bel bunyi, baru berjalan masuk ke kelas, untuk menghindari perhatian mereka yang dari tadi melihatku sambil berbisik dengan teman masing-masing.

Abaikan ini Zerina, mereka hanya orang-orang bodoh yang tidak pandai memilih cerita.

Aku berhenti melangkah ketika sampai di depan pintu kelas, seorang perempuan yang sangat aku kenal itu menghalangi pintu masuk. Kutatap matanya dengan harapan agar dia tidak menghalangi jalanku, dia menatapku balik.

"Apa liat-liat!" katanya dengan suara yang bisa didengar siapa saja yang ada di situ.

"Minggir. Aku mau lewat." pintaku.

"Oo, mau lewat. Silahkan." Salsa menggeser tubuhnya memberiku jalan, dia tak lepas dari menatapku, membuatku tersandung kakinya karena aku pun tak lepas dari manatapnya balik.

Dia membuatku tersungkur di atas lantai dan sekarang aku jadi bahan tertawaan anak-anak di kelasku dan beberapa anak yang melihat dari pintu kelas. Aku marah, apalagi ketika dia menginjak earphone dan hpku yang juga ikut tersungkur bersamaku.

"Ah, sorry, gue gak liat. Sini gue bantu." Salsa mengulurkan tangannya padaku saat anak-anak itu memusatkan perhatiannya pada kami.

Dasar! Pandai sekali dia berpura-pura, aku tak bisa menahan diriku untuk memukul perempuan itu. Kuambil hp yang barusan dia injak dan kupakai untuk memukul kepalanya. Aku tak peduli jika hp ini rusak, yang penting kepala orang ini harus diberi pelajaran.

Salsa berteriak sambil menghalangi gerakanku lagi sampai akhirnya teman-teman bodohnya itu menghentikanku dan mendorongku menjauh dari Salsa.

"Lo gila, ya! Mukulin kepala orang!" teriak Icha sambil menatapku tajam.

"Lo gak papa, Sa?" Salsa menggelengkan kepalanya atas pertanyaan Dwi, "Gak waras!" teriaknya lagi padaku.

Mereka pergi setelah berhasil membuatku terlihat seperti penjahat sekarang. Anak-anak di kelasku pun tak ada yang berani bicara padaku. Mereka semua menghindar dan memberiku jalan menuju kursiku.

Aku kembali teringat bagaimana dulu aku memukul kepala Ana dengan penggaris besi hingga membuatnya berdarah. Aku tak tahu bagaimana jadinya jika anak-anak kelas ini menyaksikan itu, mungkin mereka akan menemui wali kelas dan bilang jika mereka ingin pindah kelas, tak ingin sekelas denganku. Tapi percayalah, kejadian itu bukan sepenuhnya salahku.

Aku duduk dan merapihkan buku pelajaran yang tadi belum sempat kubereskan karena aku biasa keluar duluan saat bel istirahat bunyi. Ya, itu ada alasannya, aku menghindari keramaian.

"Ternyata bener, ya. Gilanya bisa kambuh kapan aja."

"Sssstt."

Aku mendengar bisikan itu. Mereka melepaskan pandangannya dariku saat aku menatap ke arah mereka tajam. Aku jadi kesal, harusnya mereka bertanya dulu apa yang terjadi, bukan bicara dibelakangku.

Mulut-mulut itu memang sudah termakan gosip receh, mereka hanya mendengar cerita dari satu pihak dan langsung membenciku, mereka langsung menganggapku benaran gila hingga tak ada yang percaya padaku. Aku mengembuskan napas.

Tenang Zerina, kau tidak perlu kesal dan mencaci mereka. Mereka akan lebih menganggapmu gila jika kau lakukan itu.

***

Setelah melewati waktu yang sulit di sekolah hari ini, aku berniat mengunjungi tempat yang sudah lama tak kukunjungi.

Langkahku terhenti, kupandangi pohon seri yang sudah termakan usia itu. Tumbuh di halaman belakang rumah tua yang tidak dihuni, walaupun begitu pohon ini tetap tumbuh dan berbuah. Aku ingat, waktu kecil aku sering kemari, bermain bersama Ana, memanjat pohon ini untuk mengambil buah kecil bewarna merah yang rasanya sangat aku suka. Manis.

Ugh!

Aku mengusir memori itu, rasanya sakit jika menyadari yang terjadi sekarang. Kulepas tas punggung yang kukenakan dan menjatuhkannya ke atas rumput liar di situ. Dengan agak susah aku memanjat pohon, hingga akhirnya aku bisa duduk santai di dahannya sambil menikmati buahnya.

"Hm, seperti ini rasanya kehidupan remaja. Aku jadi ingin menjadi bocah lagi, tak peduli sedekil apa aku dulu. Aku mau bahagia tanpa merasakan sakitnya penghianatan."

Kumakan buah terakhir yang kudapat, lalu berniat mencari lagi. Sepertinya sudah habis, tidak, aku masih melihat satu di ujung dahan. Aku sudah hampir mendapatkannya, tapi seseorang menggagalkanku.

"Hei!" Suara itu mengejutkanku, hingga membuat kakiku kaget dan melesat dari dahan pohon.

"Aaaakh!"

Aku jatuh hingga membuat dengkul dan lenganku tergores patahan ranting-ranting kecil yang bertumpuk di situ.

"Kamu gak papa?" tanya orang yang membuatku terkejut.

Kutepis tangannya yang ingin menyentuhku. Tanpa menjawab pertanyaannya, aku langsung mengambil tas dan buru-buru pergi dari situ.

Jarak rumahku tidak jauh dari tempat itu dan aku sudah berada di rumah sekarang, membersihkan luka dengan alkohol. Untung saja dahan yang kupanjat tadi tidak tinggi dan aku tidak cidera parah. Kalau bukan karena pria tadi, aku mungkin tidak akan jatuh. Kenapa dia bisa ada di sana tiba-tiba.

"Huuh, dasar, harusnya orang itu menangkapku, tega sekali dia." Aku membuang kapas bekas lukaku ke dalam bak sampah.

"Kenapa kamu berharap? Memangnya kamu siapa? Kamu hanyalah orang gila yang gilanya bisa kambuh kapan saja." Aku menyalahi diriku sendiri di depan cermin wastafel.

Aku mengembus napas panjang setelah menyadari perbuatanku. Aku tidak boleh menghina diriku karena orang-orang menghinaku. Aku harus meyakini diriku, bukan meyakini ucapan mereka. Perasaanku mulai lagi, sesuatu yang membuatku tidak percaya diri adalah jika diriku mulai menghinaku. Aku selalu berusaha agar tidak seperti itu.

"Please.. I am not crazy.."

"I am not crazy.."

"I am not crazy.."

Suaraku hampir berbisik dan menjadi berbisik pada kalimat terakhir. Aku bangkit dan berdiri dari ringkukkanku, mengambil pil yang hampir menjadi makananku setiap hari. Aku sudah berusaha menghindarinya, tapi dia selalu saja memanggilku untuk memakannya.

Satu pil berhasil masuk ke mulutku. Pahit. Kuluruskan kakiku di atas kasur dan memejamkan mata, berusaha untuk melupakan hari ini, hingga aku terlelap.

***

Hari ini seperti biasa, jam istirahat di sekolah aku duduk di atas rumput di bawah pohon rindang yang biasa aku tempati.

Hari ini aku membawa headphone dan hp dengan layar retak-retak karena insiden kemarin. Tak masalah, setidaknya hp ini masih mengizinkanku mendengarkan lagu-lagunya.

Kudengar hari ini berita yang sedang hangat dibicarakan oleh cewek-cewek penggosip itu adalah masuknya murid baru. Pastinya karena murid baru itu cowok dan bisa dibilang ganteng menurut mereka. Kalau tidak seperti itu gak mungkin jadi berita hangat.

Mungkin aku satu-satunya wanita yang tidak peduli. Lagian untuk apa? Jika murid baru itu tau tentang diriku, dia juga pasti tidak akan mau berteman denganku.

Aku mengangkat buku bacaanku hingga menutupi wajah, sesuatu di kejauhan sana seolah mengganggu perasaanku. Anak-anak cowok itu pasti sedang membicarakanku. Lalu, aku merasakan kehadiran seseorang di depanku, sedang berdiri menghadapku. Aku menurunkan sedikit buku bacaan dan melihat ke arahnya. Dia melihatku, dengan cepat aku kembali mengangkat buku itu menutupi wajah.

"Hei." Dengan tangan kanannya dia menurunkan buku bacaan yang menutupi wajahku.

Sepertinya aku pernah melihatnya, dia orang yang membuatku jatuh dari pohon kemarin.

"Kamu cewek yang kemarin, kan?"

Aku tak menjawab dan yang terpenting yang harus kalian tau ternyata dia murid barunya.

"Arken." Dia menjulurkan tangan kanannya dan tersenyum padaku untuk berkenalan.

Aku telah berusaha untuk menerimanya, tapi kurasa itu percuma dan akan sia-sia. Dia akan membenciku dan menjauhiku, atau mungkin sekarang dia hanya mempermainkanku dan menjadikanku bahan lelucon karena kuyakin dia ada bersama rombongan cowok itu tadi.

Teett... Teett... Teett...

Akhirnya bel masuk berbunyi, aku berdiri dari duduk dan berjalan meninggalkannya di situ tanpa bicara apapun. Kudengar rombongan cowok di sana tertawa melihat Arken, cowok yang barusan memperkenalkan namanya padaku. Bukannya sudah kubilang, mereka hanya menjadikanku bahan lelucon. Apa itu yang disebut teman? Bukankah aku beruntung karena tidak memiliki teman seperti mereka? Yah, kurasa aku beruntung.

Bersambung


Index
2. Arken
3. Berteman
4. Psikis
5. Hariku
6. Masalahku
7. Wanita Bahagia
8. Wanita Bahagia 2
9. Pentas Seni
10. Pentas Seni 2
11. Memori
12. Reuni
13. Fungsi Hati
profile-picture
profile-picture
profile-picture
allparel dan 7 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh tiawittami
Halaman 1 dari 4

2. ARKEN

Aku berada di kelas sekarang, suasana yang ribut dan kacau balau karena jam kosong ini membuatku ingin berteriak. Namun jiwaku menahan emosiku yang terkadang keluar tidak sesuai pada tempatnya. Dan cocok sekali, di saat aku seperti ini, tiba-tiba saja sebuah bola plastik mendarat tepat di keningku. Semua ini ulah anak laki-laki yang bermain bola di dalam kelas. Sontak seisi kelas terdiam seketika dan memusatkan pandangannya ke arahku.

Aku memusatkan pandangan pada seorang pria yang kuketahui namanya, Dion. Seperti yang diketahui dialah pelaku yang membuat bola itu mendarat di keningku. Dia meminta maaf padaku dengan suara ragu. Kurasa dia takut padaku.

"M-Ma-Maaf ya Zerina," ucapannya terbata.

Aku membuang pandangan darinya, dia pun mengambil bola itu dan berjalan menjauh dariku. Lalu terdengar suara ketukan pintu, sontak sekali lagi seisi kelas memusatkan pandangannya ke arah situ termasuk aku. Masuklah seseorang yang tadi sempat mengenalkan namanya padaku.

"Itu Arken, kan?"

"Iya bener, murid baru itu."

"Duuh, ganteng, ya."

Suara bisik-bisik dari kaum hawa di kelasku pun masuk menembus telingaku dan suara itu nambah sangat berisik saat Arken menghampiriku dan memberiku secarik kertas yang terlipat.

"Buat kamu." Arken bersuara sambil menyodorkan kertas itu padaku.

Aku tidak langsung mengambilnya, kutatap tajam matanya dan melihat ke luar kelas, lalu terlintas dipikiranku jika orang-orang jahat itu sedang mengerjaiku. Aku pun menerima kertas itu dan merobeknya menjadi dua, lalu mengembalikannya pada Arken.

Kusadari keterkejutan orang-orang di kelas atas apa yang aku lakukan, termasuk Arken. Pria itu menatapku ragu dan dengan gerakan lambat dia mengambil kertas sobekan yang aku sodorkan padanya. Arken tampak terkejut melihat isi kertas itu, nampak gambar muka pocong ditempel didalamnya.

Saat kelas kembali mulai bersuara bisik-bisik, aku bangkit dari dudukku dan berjalan menuju pintu kelas untuk mencari suasana yang bisa menenangkan emosiku. Ketika aku berjalan melewati pintu kelas, kulihat rombongan cowok yang kuyakin adalah gengnya Arken sedang berkumpul di situ.

Ternyata feeling-ku benar, kan. Mereka hanya ingin mengerjaiku, aku yakin ini ulah anak-anak cowok itu. Dan kuingat lagi, mereka itu salah satu biang keroknya. Mereka pernah menjahiliku dan membuatku marah, lalu menyebarkannya ke anak-anak sekolah.

Kuingat waktu itu, saat aku berjalan sendirian ketika pulang sekolah. Mereka menghalangi jalanku dan menggodaku.

"Hei, Zeerina. Sini, dong."

Aku menatapnya sinis dan melanjutkan langkahku, tidak menerima panggilannya. Namun saat aku terus berjalan mereka juga terus menjegatku.

"Awas!" perintahku pada pria dengan baju sekolah yang nampak berantakkan di depanku. Aku tidak tahu namanya, anak-anak itu memang tidak mengerti bagaimana cara memasang nametag.

Pria itu mencoba meraihku sebelum aku menarik tangannya dan menendang bagian bawah perutnya dengan lutut. Dia merintih kesakitan saat aku melanjutkan jalanku. Tapi ternyata tidak hanya sampai di situ. Teman-temannya yang berjumlah tiga orang itu ikut menghalangi jalanku. Aku menghentikan langkah saat mereka menghadang.

"Giila, lo cewek apa cowok?" tanya satu orang dari mereka yang kancing seragamnya terbuka semua dengan baju dalaman hitam di bawah seragamnya.

"Orang-orang bodoh kaya kalian emang gak tau malu, ya. Beraninya gangguin cewek!" kataku. Lalu suara mereka pecah.

"Buuhh!"

"Orang bodoh katanya."

"Hm, emangnya lo cewek beneran? Cooba gue liat." Dia mencoba menarikku. Namun gagal karena aku menggigit tangannya hingga berdarah karena gigiku yang bertaring dua.

"Shit! Gila nih, cewek! Cantik-cantik ngegigit."

Aku menghindar agak jauh dari mereka lalu mengeluarkan pisau kecil yang biasa kugunakan untuk merobek plastik atau aluminium saat pelajaran Prakarya. Mereka berhenti saat aku mengangkat pisau itu dengan tangan kiriku. Detik berikutnya aku melempar benda kecil ke arah mereka. Itulah senjataku yang paling ampuh agar terhindar dari orang-orang seperti itu.

Benda itu meledak setelah aku kembali berjalan menjauhi mereka. Mungkin awalnya mereka kira itu bukan sesuatu yang berbahaya meski memang tidak terlalu berbahaya. Itu hanya mercon biasa yang bentuknya memang unik.

Kalian tanya mengapa aku membawa benda seperti itu? Harusnya kalian bisa jawab sendiri.

Terlalu banyak bahaya di dunia ini, terlebih untuk diriku yang selalu berjalan sendirian. Setidaknya aku punya perlindungan untuk diriku. Juga untuk memberi pelajaran pada orang-orang jahat seperti mereka.

Aku tersenyum simpul mengingat kejadian itu. Kejadian yang membuat beberapa murid bertanya padaku apakah itu benar. Ya, itu benar, aku tidak menyembunyikan fakta, kok. Mungkin nanti akan tersebar gosip yang menyatakan bahwa aku seorang teroris.

Tunggu saja Zerina..

Angin sejuk menemaniku di taman itu sambil duduk bersandar di batang pohon. Aku membuka mataku yang sedari tadi terpejam. Sontak tubuhku terlonjak kaget melihat wajah seseorang tepat di depan wajahku.

"Zerina, Sorry!" seru Arken.

Plak!

Aku menampar pipinya dengan tangan kiriku yang reflek. Kulihat dia menahan kesakitan. Itu akibatnya jika membuatku terkejut.

Arken memegangi pipinya yang barusan kutampar lalu bergumam. "Aaw..." responnya yang sudah sangat terlambat.

"Kamu belum puas gangguin aku?" tanyaku dengan suara marah.

"Belum... Eh, maksudnya, maaf, aku gak tau kalau isi kertasnya tadi gambar pocong. Aku kira cuma tulisan yang akan kamu jawab supaya aku tau nama---" Aku pergi begitu saja sebelum Arken selesai bicara, "kamu..." sambungnya dengan wajah bengong dan melihatku menjauh tanpa menghiraukannya.

"Zerinaa!" teriak anak itu setelah kurasa sadar dari bengongnya. Namun aku tetap berjalan dan tidak berbalik sedikit pun.

Arken kesal hingga membuatnya mencabut asal rumput di lahan itu dan melemparnya. Lalu dia melihat sesuatu yang berkilau diantara rerumputan hijau yang halus itu. Arken meraihnya dan menyakini bahwa gelang perak itu milik Zerina.

***

Pagi hari di minggu terakhir bulan Desember, suasananya begitu tenang dan sejuk saat aku membuka tirai jendela kamarku. Kudorong jendela yang menghalangi angin masuk dan aku merasakan lembutnya sentuhan angin di wajahku. Angin itu membuat rambutku menari-nari.

Aku duduk di bangku halaman belakang rumah setelah turun dari kamarku. Sepertinya hari ini sangat langka karena aku menyadari keberadaan orang tuaku di rumah.

Meong.. Meong..

Seekor kucing mengelus-elus kakiku, kudapati Chimy di bawah situ sedang menggosok kepalanya dikakiku.

"Hei, Chimy, pagi." Aku meletakkannya dipangkuanku setelah mengeluskan pipiku dengan bulu-bulu halus di kepalanya. Kuelus kembali kepalanya dengan lembut. Dia lah Chimy, temanku di rumah. Meski hanya seekor kucing, tapi dia lah yang paling banyak menemani hari-hariku.

Hari ini kedua orang tuaku berada di rumah. Setelah melewati pekerjaan yang melelahkan akhirnya mereka libur juga. Tidak, kurasa pekerjaan mereka tidak melelahkan. Aku yakin itu.

Kupikir momen langka ini akan menjadi sangat berharga, tapi ternyata tidak. Momen ini justru membuat suasana di rumah yang belakangan ini sangat tenang untukku menjadi hancur. Suara teriakan-teriakkan itu menembus pendengaranku, menghancurkan pagiku, dan membuat Chimy lari dari pangkuanku.

"Kamu tau, kan, obat ini sangat berbahaya! Di mana rasa kepedulian kamu sebagai seorang Ibu!" Suara papaku membuat aku fokus mendengarkan masalah mereka.

"Kamu bisanya cuma marahin aku terus! Kamu kira aku juga gak sibuk kerja?!" Mamaku membalas ucapan papa dengan suara yang tak kalah dengannya.

"Berapa kali aku bilang sama kamu gak usah kerja. Tugas kamu itu ngurusin rumah dan mendidik anak kita. Penghasilan aku udah lebih dari cukup untuk keluarga kita, kamu tau. Jadi apa yang tetep nahan kamu buat kerja? Apa karena laki-laki di kantormu itu!!" Suara papa Cumiakkan telingaku.

"Kamu kenapa, sih, ngomong kayak gitu terus! Selama ini kamu anggep aku selingkuh? Kamu pikir aku wanita murahan, Mas?" Suara mamaku terdengar sedikit merendah dan kecewa. Sejak tadi jantungku berdetak kuat mendengar ucapan mereka. Ingin rasanya aku lari dari sini.

"Pokoknya mulai sekarang kamu gak usah kerja! Cukup di rumah temenin Zerina! Besok aku gak mau lagi liat kamu kerja!"

"Aku gak mau! Kamu kira aku gak capek nungguin kamu yang jarang pulang karena pekerjaan kamu! Pokoknya aku gak mau!" Mama merebut botol kecil berisi obat yang membuat mereka menjadi ribut itu dari tangan papa dan meninggalkan pria itu.

Aku sudah berdiri melihat mama yang melihatku dengan tatapan marah di ujung tangga. Aku merasakan kemarahannya seperti apa. Dia pasti sangat membenciku. Dia melempar botol obat itu ke arahku, membuat botol itu jatuh dan pecah di hadapanku. Aku masih bersyukur karena mama tidak melemparnya ke wajahku.

"Ma..." aku memanggilnya saat dia bergegas pergi meninggalkan tempatnya dan membentakku.

"Jangan berani kamu panggil mama kalau kamu saja tidak bisa dibilangin!" kata mamaku dengan tatapan marahnya dan pergi meninggalkanku.

Begitulah mamaku. Aku tahu aku salah karena masih mengonsumsi obat itu padahal mama telah melarangku. Namun, kondisiku lah yang memaksaku mengonsumsinya. Bagaimana tidak, ke mana aku harus pergi kalau bukan pada obat itu saat diriku tak kuat menahan beban hidupku. Tak kusadari air mata yang menetes saat aku membereskan pecahan kaca itu. Aku menyekanya.

Aku tidak tahu kapan kali terakhir aku ngobrol dengan mama. Bahkan aku tidak pernah lagi merasakan kasih sayangnya sejak lima belas tahun lalu. Mama tidak pernah menghabiskan waktu untukku, apalagi papa. Aku juga tak pernah lagi melihat mereka sehangat dulu. Mereka selalu sibuk dengan urusan masing-masing dan melupakan keberadaanku di rumah, dan aku menanggung semuanya sendiri sejak kepergian Bi Irma.

Tangisku kembali terisak mengingat Bi Irma. Ya, Bi Irma adalah pengasuhku dari kecil, aku bahkan sudah menganggapnya sebagai ibuku. Dia yang mengajariku, mendidikku, menemaniku hingga aku beranjak dewasa. Dia yang selalu mendengarkan aku dan memberi solusi untuk setiap masalah yang kuhadapi.

Namun dia pergi meninggalkanku saat teman-temanku menghianatiku hingga membuatku menjadi seperti sekarang ini.

Aku tidak lagi memiliki orang yang berarti dihidupku. Kepergian Bi Irma itu menjadi titik terlemah dalam hidupku. Mengapa dia harus pergi saat aku sangat membutuhkannya. Aku sangat tidak merelakan kepergiannya saat itu. Penyakit kanker stadium akhir itu membunuhnya, aku bahkan tidak tau selama itu Bi Irma mengidap penyakit mematikan. Aku benar-benar merindukannya saat ini.

"Zerina." Suara papa menghentikan langkahku yang ingin masuk ke kamarku. Aku melihat dan menghadap ke arahnya dengan tatapan mata sayu sebab tangisanku tadi, "Maafin mama kamu, ya. Maafin papa juga. Papa gak bermaksud--" Papa menghentikan ucapannya karena aku bicara.

"Mama gak salah, papa juga. Ini salah aku, kalo bukan karena obat ini mama pasti gak akan pergi. Aku janji gak akan minum obat ini lagi," kataku dan papa hanya memandangku nanar dari sana.

Aku masuk dan menutup pintu kamar. Aku mencoba menahan tangisku sambil duduk bersandar di pintu itu dan memeluk lutut. Kuluruskan kakiku untuk detik berikutnya, aku menahan diri untuk tidak memakan obat yang sekarang berada dalam genggamanku, tanpa botol. Aku masih menahannya hingga aku tak kuasa dan berjalan menuju jendela ingin membuang benda kecil yang membuat hari ini hancur.

"Tidak." Tanganku tertahan.

Aku menarik tanganku itu dan memandang obat-obat yang sempat berceceran di lantai tadi. Aku bisa merasakan sakit pada obat itu, entah kenapa aku tidak tega membuangnya. Obat itu telah membantu menenangkanku, lantas sekarang pantaskah aku membuangnya begitu saja. Tidak. Aku dan obat itu sama, kami sama-sama terbuang dan aku tidak tega membuangnya.

Aku menyimpannya di plastik obat dan menaruhnya di laci meja belajarku. Disaat yang bersamaan itu aku menemukan foto Bi Irma bersamaku. Aku mengambilnya, aku ingat saat foto itu diambil dulu.

Kami sedang jalan-jalan berdua menghabiskan akhir minggu di usiaku yang baru memasuki bangku SMP. Aku juga ingat waktu itu Bi Irma membelikan aku sebuah gelang perak yang harusnya sekarang berada di pergelangan tangan kiriku. Sontak mataku membesar dan tangan kananku memukul pergelangan kiriku. Aku baru sadar kalau gelang itu tidak ada di lenganku.

Seketika tubuhku bergetar dan panik sambil mencari di seluruh kamarku, di mana gelang itu jatuh. Aku menyusuri setiap tempat yang aku lewati di rumah untuk menemukannya. Namun nihil, aku tidak mendapatkannya.

Aku menjambak rambutku sendiri di depan cermin meja riasku lalu memukul meja itu sambil terus berpikir di mana kira-kira gelang itu jatuh. Aku menggigit bibir bawahku setelah gagal memprediksi keberadaannya. Aku merasa sangat bersalah, bagaimana mungkin benda berharga satu-satunya dari Bi Irma itu hilang.

Aku mengingat kembali saat Bi Irma memakaikan gelang itu di lenganku. "Kan, cocok, tuh, pas untuk kulit Zerina yang putih. Awas ilang yah, Bibi cuma bisa ngasih itu untuk kamu."

"Aaaaah..." Aku menjatuhkan kepalaku di atas meja rias itu sambil meracau dan menyalahi diri sendiri.

"Maafin Zerina, Bi."

Air mataku kembali keluar, menetes dengan lambat melalui batang hidung bagian atas karena posisi kepalaku yang miring di atas meja.

Bersambung..
profile-picture
profile-picture
berodin dan corongalam memberi reputasi
Diubah oleh tiawittami

3. Berteman

Siang itu aku berjalan di koridor. Waktu itu sudah pulang sekolah dan aku merasa seseorang dari tadi membuntuti langkahku.

"Arken!"

Kudengar suara cewek memanggil Arken dan benar saja, ketika aku berhenti sebentar dan menghadap ke belakang, Arken terlihat sedang bicara dengan beberapa murid cewek yang tadi memanggilnya.

Aku melanjutkan langkahku dan tidak peduli dengan anak laki-laki itu. Hingga aku keluar gerbang sekolah dan berjalan menuju tempat yang sekarang aroma tempat itu menusuk ke dalam hidungku. Aroma campuran berbagai macam bunga itu menenangkan pikiranku.

Aku membeli sebuket mawar putih. Lagi-lagi aku tidak sengaja melihat mobil Arken di sana sedang berhenti saat aku menunggu di halte bus. Aku masuk ke dalam bus, duduk di sana untuk beberapa menit hingga sampai di tempat tujuanku. Aku masih melihat mobil itu, berhenti di tepi jalan agak jauh dari bus yang kutumpangi.

Aku turun dan berhenti sejenak menatap gang kecil di depanku. Sudah lama sekali aku tidak ke mari. Aku menyadari Arken yang berjalan mengendap-endap ke arahku. Kulangkahkan kakiku ke depan dan bersembunyi di balik tembok dekat keranda. Arken terlihat bingung dan terkejut, entah karena tidak menemukanku atau karena menyadari kalau tempat ini adalah kuburan. Aku tidak bermaksud menjebaknya sampai ke sini, dia sendiri yang mengikutiku.

Perlahan aku mendekat ke arahnya dan berdiri tegak tepat di belakangnya. Dia terkejut melihatku saat membalikkan tubuhnya. Kulihat dia memasang kuda-kuda karena keberadaanku.

"Uuhh!" Suara Arken yang terkejut melihatku. Kuperhatikan napasnya naik turun dengan cepat.

"Kamu ngapain ngikutin aku?" Suaraku itu membuatnya agak tenang, mungkin dia merasa lega karena tahu kalau aku bukan hantu. Entahlah, aku berpikir dia menganggapku makhluk halus.

"Kamu ngapain ke kuburan?" Arken bertanya kembali padaku.

"Mau ngubur kamu hidup-hidup," kataku. Kulihat raut wajahnya yang serius, "Ya mau ngelayat, lah," sambungku, membuat dia sekali lagi merasa lega.

Aku jalan mendahuluinya dan mencari tempat di mana Bi Irma berbaring. Dia mengikutiku dengan perasaan yang mungkin resah. Dia memperhatikan sekeliling layaknya orang yang baru menginjakan kaki di kuburan.

Aku menemukan batu nisannya, di sana tertulis.

Irma Sutianti
Binti
Herdi Nurdin
Lahir : 11 Januari 1985
Wafat : 6 Juni 2012

Aku duduk di samping situ dan meletakkan bunga yang kubeli tadi di atasnya. Aku ingat Bi Irma sangat menyukai mawar putih. Kuusap lembut nisannya sambil berdoa untuknya di dalam lubuk hatiku dan meminta maaf. Aku benar-benar merindukannya.

Kutegarkan hatiku dan bangkit dari situ. Aku yakin di dalam sana Bi Irma tidak ingin melihatku lemah, dia akan sangat sedih jika melihatku seperti ini. Aku berjalan meninggalkan tempat itu menuju ke sebuah sungai kecil yang mengalir di ujung sana. Arken masih mengikutiku dalam diam, dia tidak berbicara padaku dari tadi.

Aku membasuh wajahku dengan air sungai itu, segar. Kulihat Arken masih sibuk memperhatikan sekelilingnya.

"Cuci muka!" perintahku padanya.

"Hm?" Arken nampak ragu dengan ucapanku yang mengarah padanya. Dia menunjuk dirinya sendiri memastikan apakah aku menyuruhnya.

"Iya kamu, memangnya siapa lagi kalau bukan kamu!"

Arken berjalan mendekat dengan kedua tangan yang di masukan ke dalam kantung dan berjongkok di situ, lalu membasuh wajahnya.

"Huuf." Dia merapikan rambutnya kebelakang, "Yang tadi itu siapa kamu?" tanyanya.

Aku diam sebentar, lalu kujawab sambil mengalihkan pandangan darinya. "Ibuku."

Dia memasang raut wajah sedih dan menyesal karena bertanya. "Ngapain kamu ngikutin aku sampai sini?" tanyaku. 

"Hm, aku penasaran sama kamu." jawabnya dan aku tidak suka dengan jawaban itu.

Aku berdiri dan beranjak pergi dari tempat itu setelah bicara padanya. "Sekarang kamu udah tau dan nanti kamu bakal lebih tau."

"Ha? Eh," Arken mengikuti langkahku, "Aku mau temenan sama kamu," katanya.

Perutku terasa geli mendengar ucapannya. Aku berhenti dan berbalik ke arahnya. "Emang kamu gak takut sama aku?"

Dia memasang raut bingung. "Takut? Kamu kira aku banci?" ucapannya itu membuatku berpikir keras apa maksudnya, "Takut sama cewek?" sambungnya. Aku tertawa kecil setelah mengerti maksudnya.

"Kamu tambah cantik kalo senyum," ucap Arken lagi dengan senyumnya yang membuatku berhenti dan membuang tawa kecilku, muak.

Aku melanjutkan jalanku seraya mengingat bagaimana dulu pacarku memujiku seperti itu, lalu dia pergi meninggalkanku bersama temanku. Lucu, kan.

"Jadi, kamu mau temenan sama aku?" tanya Arken lagi.

"Nggak."

"Kenapa?"

"Aku cuma orang gila yang gilanya bisa kambuh kapan aja," kataku sambil terus berjalan. Dia mengikutiku.

"Aku percaya, kok, kamu gak gila. Kamu kira aku bodoh, mana ada orang gila ngelayat," kata Arken. Membuatku mengehentikan langkah sejenak. Dia ikut berhenti di belakangku.

Benarkah yang dia katakan? Apa dia berpikir seperti itu? Aku menggelengkan kepala mengusir pikiran itu. Tidak, dia hanya ingin sesuatu dariku. Aku melanjutkan langkah dengan gerakan agak cepat.

"Tunggu, Zerina!" Dia menahan lenganku, aku melepasnya dengan kasar. Dia bergerak cepat dan menghentikan langkahku dengan berdiri di depanku, menghalangi jalanku.

Aku memperlihatkan padanya pisau kecil yang biasa kubawa setelah kukeluarkan dari kantong bajuku. Arken mengangkat tangannya sambil mencoba menenangkanku.

"Kalem, aku sama sekali gak ada maksud apa-apa sama kamu. Sumpah, aku cuma mau temenan." Suara Arken itu terdengar sangat meyakinkan.

"Apa aja yang udah kamu denger tentang aku? Jujur," pintaku dengan tatapan introgasi.

"Oke, oke, aku bakal cerita sama kamu, tapi di mobil aku. Aku anterin kamu pulang," tawar Arken.

"Gak mau," Jawabku cepat, "Apa tujuan kamu sebenarnya ngikutin aku sampai sini!" bentakku sambil terus mengancamnya dengan pisau di tanganku.

"Oke, gini, gini, aku mau balikin ini ke kamu." Arken meronggoh kantong celananya dan mengeluarkan sesuatu.

Aku terkejut bukan main. Dengan gerakan cepat, kurebut gelang perak pemberian Bi Irma itu darinya. Namun, dia menariknya dan menyembunyikannya.

"Kamu maling ya!" bentakku.

"Eeeenak aja maling. Aku nemu ini di tempat kamu sering duduk di sekolah tau. Mungkin waktu itu jatoh gara-gara kamu nampar aku," jelasnya.

Aku menatap dalam-dalam pria di depanku, mencoba mencari jawaban tentang apa yang dia inginkan. Dia tak bergeming dan menatap balas mataku dalam diam dan menggagalkanku. Kupenjamkan mataku untuk menit berikutnya. Aku tidak mendapat apa yang kumau, malah bayangan dan sorot matanya tergambar jelas hingga masuk ke dalam sanubariku. Seperti membangunkan partikel-partikel dalam diriku dan merasuk lebih dalam, tapi kabut tebal itu menarik diriku, melarangku untuk kembali dalam kehancuran.

Aku menadah tangan kananku padanya, meminta barangku yang sekarang ada padanya. "Balikin barangku," pintaku setelah menyimpan pisau kecil itu.

Arken memasang raut berpikir yang kutahu itu hanya dibuat-buat. Dia mengetuk-ngetuk dagunya dengan jari telunjuk. "Hm... Aku bakal balikin tapi dengan syarat," ucapnya kemudian.

Angin berembus kencang untuk beberapa saat, membuat ilalang di sekitar kami menari dengan cepat, menggelitik bagian tubuhku yang bersentuhan dengannya. Aku mencabut satu dari banyaknya ilalang di sana dan berjalan lambat.

"Apa?" Kutanya apa syarat yang dia mau. 

Arken mengikuti langkahku semangat. "Gampang kok, kamu harus jadi temen aku." Kulihat dia tersenyum.

"Nih." Dia mengulurkan gelang itu padaku dengan sudut bibir yang masih terus tersenyum hangat. Aku mengambilnya ragu hingga dia menaruhnya langsung di tanganku yang ia tadah dengan tangannya.

Aku merasakan akar-akar dalam diriku bergerak, membuat ekosistem dalam diriku tumbuh subur setelah sekian lama rapuh. Aku mencoba mengembangkan senyum padanya. Namun tidak, tidak semudah itu.

Aku sudah berhasil meninggalkan masa-masa di mana aku harus terjebak dalam ambisiku. Aku sudah jauh meninggalkan semua itu. Sekarang atau nanti bukanlah waktu untukku kembali dan terjebak lagi ke dalam jurang di mana aku hanya bisa tunduk dan patuh pada perasaanku.

Aku menggenggam gelang itu dalam genggamanku dan beranjak pergi meninggalkannya. Arken menyadari perubahan dalam diriku beberapa detik yang lalu. Dia protes dengan syaratnya.

"Eh, gak bisa gitu dong, Zer. Aku kan, udah balikin tuh, gelang kamu, jadi sekarang kita temenan."

Aku memperhatikan tingkahnya yang berjalan mengikutiku dengan terus bicara tentang pertemanan kami.

"Kamu gak mau jawab. Oke aku anggap kamu mau. Jadi, sekarang aku mau neraktir kamu, terserah deh, kamu mau apa. Kamu mau apa?"

Pria itu berjalan mundur di depanku dengan semangatnya. Dari tadi dia mencoba menyamakan langkahnya. "Yah, kamu mau apa?"

"Steak?"

"Nah, pas bener, aku tau di mana tempat yang enak kita harus makan steak."

Aku tidak sadar dengan ucapanku barusan. Ucapan itu menerobos batas pertahanan dalam bibirku, dia belum dapat izin.

***

Satu potongan steak masuk dalam mulutku. Ini pertama kalinya lagi setelah waktu yang panjang aku tidak makan di luar.

Cuaca dingin dan hujan saat ini membuatku sedikit menggigil. Sudah lama sekali tidak pernah berada di luar rumah saat hujan, nasib baik aku sempat memakai hoddie tadi.

"Kamu gak bisa kedinginan, ya?" tanya Arken disela-sela makannya.

"Iya," jawabku.

Arken mengangguk-angguk paham. "Oh iya, aku boleh tanya sesuatu?"

"Boleh."

"Emangnya bener kamu suka bawa bom ke sekolah?" Kulihat keseriusan di wajah Arken.

"Iya."

"Buat apa?" tanyanya lagi. Membuatku ingin pergi meninggalkannya, tapi sayangnya di luar hujan deras.

"Buat ngebom siapa aja yang deket sama aku."

Uhk!

Kulihat Arken hampir tersedak mendengar jawabanku yang sebenarnya tidak benar.

"Kamu mau ngebom aku?" tanya Arken.

"Iya, kalo kamu masih mau nanya-nanya lagi."

"Kamu kira aku takut?" Aku menatapnya lekat, "Tas kamu kan, di mobil aku," lanjut Arken.

Lalu tak sengaja aku bertatap wajah dengan seseorang yang dulu sangat aku kenal. Aku langsung menutup kepala dengan topi dari hoddie yang kupakai hingga menutupi sebagian wajahku.

Arken heran dengan sikapku. "Kenapa?"

"Zerina..." Suara itu sangat kukenal. Kenapa aku harus bertemu dia di sini. Aku tidak menjawabnya dan menghindar dari pandangannya.

"Zerina, gue tau ini elo." Orang itu berusaha membuka topi hoddie yang menutup kepalaku. Namun kucegah hingga Arken membantuku.

"Eh, maaf Mas, kalo gak mau jangan dipaksa." Arken menyingkirkan tangan pria itu.

Mereka sempat saling bertatap wajah hingga pria itu berkata lagi padaku. "Ana, Zer. Dia mau ketemu sama lo," ucapnya.

Aku tak peduli, bahkan aku telah menghapus nama mereka dalam benakku walau sebenarnya aku tidak akan pernah bisa melupakan hal itu. Aku telah berusaha payah mengajarkan diriku sendiri bahwa aku tidak pernah memiliki teman seperti Ana. Sudah sangat banyak hari yang kulewati untuk bisa mengerti hal itu. Aku tidak ingin lagi.

"Tolong Zer, please." Aku menepis tangannya yang menyentuh tanganku dan beranjak meninggalkan tempat itu.

"Zerina!"

Arken menahan orang itu dari mengejarku. "Tolong jangan paksa kalo dia gak mau."

Aku menerabas derasnya hujan, menghentikan otakku dari berpikir tentang Ana dan pria itu, mengubur dalam-dalam rasa iba-ku pada mereka. Hingga Arken menghampiri dan merangkul leherku agar berjalan mengikutinya.

"Kamu salah jalan tau," ucapnya di antara derasnya suara hujan.

Arken menuntunku hingga aku duduk di kursi mobilnya, aku memeluk tubuhku yang basah.

"Gara-gara aku kursi mobilmu basah," ucapku setelah Arken duduk di tempatnya dan menyalakan mobil.

Tek!

Dia mematikan AC mobil. "Gak masalah," lalu mengambil jaket di jok belakang dan menutupi tubuhku, "muka kamu pucet, kamu gakpapa?"

Aku menutup kepalaku kembali dengan topi hoddie, melarang Arken melihat wajahku. Dia mengembuskan napas. "Rumah kamu di mana?"

"Korpri."

"Oh, rumah kamu deket situ juga." Dia mulai menjalankan mobilnya, "Kamu yang waktu itu kulihat manjat pohon seri di rumah tua itu, kan?" tanyanya.

"Kata orang-orang rumah itu angker, kok kamu berani ke sana sampe manjat-manjat segala," sambungnya.

"Kata-kata orang belum tentu bener, kan?"

"Iya, sih..." Arken berdeham, "Yang tadi itu siapa?"

Aku diam sebentar, berpikir apa dia akan percaya padaku atau hanya ingin tau. 

"Em, aku cuma--"

Aku memotong ucapan Arken. "Orang-orang brengsek yang udah ngancurin hidup aku."

"Orang-orang?" Dia bingung.

"Aku bahkan menunggu kapan mereka mati," lanjutku, "Atau aku yang harus membunuh mereka?" sambungku yang mungkin membuat orang di sampingku merinding.

Terserah padanya menganggapku apa. Aku tak suka menyembunyikan apa yang sedang aku pikirkan.

Bersambung
profile-picture
profile-picture
profile-picture
berodin dan 2 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh tiawittami
pertamax
profile-picture
tiawittami memberi reputasi
Diubah oleh moonlightmirana
lanjut gan..... semanagat
profile-picture
tiawittami memberi reputasi
Quote:


Pertamax 92 ya, wkwk thnks gan
Quote:


Siap gan emoticon-Cool

4. Psikis

Kami sudah sampai di depan rumahku, hujan sudah mulai agak reda, hanya tersisa rintikan saja. Aku berterimakasih pada Arken sebelum keluar.

"Eh, Zer," Arken membuatku menunda langkah keluar mobil, "kamu biasa berangkat sekolah jam berapa?"

"Jam tujuh."

Dia ber-o ria sambil menganggukan kepalanya. "Yasudah," sambungnya.

Aku keluar setelah kata 'yasudah' itu melesat dari bibirnya. Dia pergi beberapa saat kemudian. Apa-apaan aku ini, berharap jika Arken ingin menjemputku.

Ah, memangnya kamu siapa. Kenapa berharap seperti itu, kamu tidak pantas.

"Huuf."

Rumah yang terasa begitu kosong di setiap harinya, seperti tak ada kehidupan di sini. Harusnya aku sudah terbiasa dengan itu. Aku duduk di sofa ruang tengah, melepas sepatuku, lalu ke dapur dan memasak sesuatu apa saja yang bisa kumakan.

Inilah hidupku, tak ada yang bisa dibahagiakan. Kurasa tidak akan ada lagi kata bahagia untukku. Lagipun tidak banyak yang aku inginkan, kok. Aku hanya ingin hidup sampai masanya berakhir.

Aku tak lagi merindukan kasih sayang ibu, aku juga tak merindukan perhatian seorang ayah, aku tak berharap untuk bermain dengan banyak teman, aku pun tak berharap mendapat prestasi di sekolah ataupun memikirkan harus ke mana aku. Aku lelah untuk terus-menerus berharap.

Semua itu telah terkubur dan tercampur dengan sisa-sisa angan yang dulu pernah kuimpikan. Sekarang aku hanyalah orang yang menunggu masa hidup kelam ini berakhir.

Rintik hujan masih menghiasi malam dingin itu, seperti teh yang kini mungkin sudah dingin di hadapanku. Aku hanya ingin membuatnya saja tanpa meminumnya. Aku keluar dari rumah dan mengunci kembali pintunya. Aku ingin jalan-jalan walaupun hanya di sebuah lorong dengan cahaya redup atau bahkan tidak ada cahaya. Setidaknya dengan melakukan ini bisa membuatku terhindar dari mengonsumsi pil-pil yang membuat orangtuaku bertengkar. Walaupun aku tak merindukan mereka, aku akan tetap berusaha mendengarkan ucapan mereka.

Aku lupa sejak kapan aku tidak takut melewati tempat seperti ini. Aku tidak merasa takut sedikit pun, bahkan dengan jurang yang terbentang di ujung sana, tapi aku tidak ke sana. Bukan karena takut, hanya saja tidak ada akses untuk jalan ke sana.

Aku berhenti melihat genangan air hujan yang terpantul cahaya lampu jalan kecil itu. Kulihat pantulan diriku dalam air yang bening itu, kesepian, tiada arah, tak punya tujuan.

Crak!

Kuinjak genangan itu dan menghapusnya hingga air itu tak bening lagi karena tercampur dengan kotoran yang sebelumnya mengendap di bawah. Aku menutup kepala dengan topi hoddie-ku dan melanjutkan langkahku setenang mungkin. Aku memikirkan tentang ketulusan apa yang akan kudapat jika aku terus menjalani hidup.

***

Kringg..

Tek! Kumatikan alaram sebelum dia berdering lagi Cumiakkan telinga dan merusak pagi yang damai di hari ini.

Aku membuka hordeng kamar dan berjalan menuju balkon. Seperti biasa aku melakukan hal ini, bangun pagi hanya untuk menghirup udara segar. Aku mandi setelah jam menunjuk pukul setengah tujuh, lalu memasak makanan siap saji yang tersedia di kulkas. Hanya tinggal menggorengnya saja lauk-pauk itu sudah dapat dimakan tanpa harus meraciknya. Tak butuh waktu lama untuk makan, aku sudah siap berangkat pukul tujuh lewat dikit.

"Selamat pagi."

Aku terkejut setelah membuka pintu rumahku, kudapati Arken yang berdiri tepat di depanku. Sedang apa dia di sini.

Aku membuang napas kasar setelah menariknya secara tiba-tiba karena anak ini. "Kamu nyasar? Ini bukan sekolahan," kataku yang melihatnya telah rapi berseragam, sambil mengunci pintu rumahku.

"Untuk memulai pertemanan kita, hari ini kupastikan kamu gak akan sendirian." Dia tersenyum hangat, "Ayo." Lalu menggandeng tanganku.

Yah, apa-apaan ini, kenapa sulit sekali untuk menolak. Untuk hatiku, tolong jangan mudah baper jika kamu tidak ingin menangis lagi.

Aku berada di mobil Arken sekarang, berangkat sekolah dengannya. Ini untuk pertama kalinya lagi setelah waktu yang panjang aku berangkat sekolah sendirian. Suasananya berbeda, tidak seperti biasanya saat aku sendiri. Aku menikmati perjalanan singkat menuju sekolah hari ini, mataku seakan melihat celah cahaya menuju kehidupan normal.

Tidak, tidak, aku memang normal kan, aku tidak gila, aku seharusnya merasakan ini setiap hari. Yah, ini cuma kebetulan, tolong jangan berharap sesuatu apapun.

Arken menghentikan kendaraannya, kami sudah sampai di sekolah. Dia membukakan pintu untukku, seakan aku tidak bisa membukanya sendiri. Aku tak tahu ini hinaan atau pujian.

Aku keluar dan Arken menutup kembali pintunya. "Kamu ngira aku gak tau cara buka pintu mobil, ya?" protesku.

Arken sempat terdiam sejenak hingga akhirnya tertawa geli setelah mencerna ucapanku. "Kamu harus mulai mengubah cara berpikir, deh. Harusnya tadi itu kamu bilang 'aku bisa buka sendiri,'" ucap Arken.

Kurasa dia selalu memikirkan setiap ucapanku dan menerka faktor psikologi terhadap pola pikiranku. Aku sungguh merasa terendahkan sekarang.

Kini setiap mata di sepanjang koridor kelas tak lepas dari memandangi kami, iya kami, aku dan Arken. Sebelumnya aku tak pernah masalah dengan pandangan-pandangan ini, tapi kali ini kurasa mereka memandangiku bukan karena biasanya. Ini karena dia dengan tiba-tiba merangkul pundakku.

Dia berbisik di telinga kiriku, "Kamu cantik, makanya orang-orang pada ngeliatin."

Bisikan itu marasuk ke dalam rongga terdalam diriku dan menimbulkan pertanyaan dari syaraf motorikku, ini sungguhan atau hanya penenang. Aku meliriknya tajam, dia tersenyum seakan meyakiniku.

Arken melepas rangkulannya ketika sampai di depan kelasku. Aku tidak bicara apapun setelah itu, dia pun begitu, hanya memberikan senyum hangatnya.

Tidak, tidak, tidak, tolonglah, jangan melekat dalam benakku, aku bisa gila sungguhan jika dia hanya pura-pura.

Kududukkan tubuhku di kursi. Dia belum pergi dari pintu kelasku, kubuang pandangan darinya setelah dia tersenyum lagi dan pergi. Sekarang aku merasa seperti anak TK yang baru masuk sekolah. Yang di antar sampai pintu kelas dan ditinggal setelah memastikan aku telah duduk di tempatku. Aku jadi ingat Bi Irma.

"Dia jalan sama Arken."

"Gua rasa Arken belum tau tentang dia."

"Ssstt, nanti kita di bom kalo dia denger."

Baru sebentar aku duduk, sesuatu memaksaku untuk menoleh ke belakang, ke arah tiga anak cowok itu. Mereka terkejut melihatku dan pura-pura melakukan kegiatan lain. Mereka pikir aku tidak dengar kalau barusan mereka membicarakanku.

"Eh, tadi film apa yang lo bilangin?" sambar Eko secara tiba-tiba sambil menepuk pundak anak di sampingnya.

"Film?" Dion kebingungan.

"Ooh iya, film itu, gua tau itu gua tau," sahut Fajar.

"Iya itu, yang... yang..." Raut wajah Eko seolah-olah sedang berpikir.

"Yang dikutuk jadi sunggokong!" sambar Fajar.

"Nah iya!" teriak Eko reflek sambil memukul meja.

"Sunggokong dikutuk?" gumam Dion yang masih tidak mengerti bagaimana teman-temannya itu mengalihkan pembicaraan. Kurasa sebentar lagi Dion bakal jadi peyek karena tak mengerti isyarat mereka.

Aku membuang pandangan dari mereka. Anak-anak itu seperti tidak ada kerjaan lain selain mengusikku. Kesalku belum reda karena masalah bola yang mendarat di keningku tempo hari dan sekarang apalagi. Aku mencoba bersabar selama pelajaran berlangsung.

Teng teng teng..

Seperti biasa aku keluar kelas paling awal sebelum anak-anak lainnya. Kulihat Arken sedang duduk di tempat biasanya aku menghabiskan waktu istirahat. Kenapa dia mengambil tempatku.

Aku berdiri dihadapannya, dia pun menyadari keberadaanku. "Hei," sapanya dengan senyum manisnya. Aku tidak memujinya, tapi itu yang di katakan anak-anak lain.

Aku duduk di sampingnya sambil memasang headphone di kepalaku ke kedua telingaku. "Kamu ngapain di sini? Ini kan tempatku."

"Kamu lupa, kita kan, udah temenan," jawab Arken.

"Aku gak mau temenan sama kamu."

"Kalo gitu berarti kita lebih dari temen."

Aku melihat ke arahnya, dia tersenyum menunjukkan deretan giginya. "Ada cabe di gigi kamu," kataku setelah kembali membaca buku bacaanku.

"Serius?" Arken tampak malu dan mengeceknya menggunakan kamera hpnya.

"Kamu abis makan di mana? Bukannya bel istirahat barusan bunyi," tanyaku tanpa melepaskan pandangan dari bacaanku.

"Di kelas, ada yang bawain aku makan. Tadinya mau nolak karena aku udah makan, tapi gak enak kalo nolak, jadi kumakan aja," jelas Arken.

"Aku cuma tanya kamu abis makan di mana, aku cuma butuh jawaban 'di kelas.'" kataku.

Aku tak suka mendengar penjelasannya karena dia mengambil makanan itu terpaksa. Cuma karena itu, bukan yang lain.

Dia tertawa singkat lalu melepas headphone-ku dan memasang di telinganya, aku protes dengan perlakuannya yang semena-mena itu. "Heh!"

"Gak ada suaranya? Buat apa kamu pasang ini kalo kamu gak dengerin apa-apa?" Dia mengerutkan dahinya.

Aku mengambil kembali barang milikku itu. "Gak sopan!" ketusku sambil kembali memasangnya di telingaku. Arken masih memandangiku, menunggu jawaban atas pertanyaannya tadi.

"Lagian, kalau aku nyalain lagunya gimana aku bisa denger kamu ngomong," kataku.

Dia manggut-manggut. "Kamu baca apa, sih?" Dia mulai kepo dengan buku bacaanku. Aku mengangkat sedikit bukunya, menghalanginya dari ikut membaca.

Sepertinya Arken memasang raut murung. "Pelit," katanya kemudian.

"Biarin," balasku sambil terus membaca.

Arken diam, untuk beberapa detik hening menemani kami hingga akhirnya pria itu mulai berkicau lagi. "Aku mau tanya satu soal sama kamu," katanya.

"Apa?" Aku tidak mengalihkan pandanganku dari bukuku.

"Kamu suka warna merah apa putih?"

"Putih."

"Hah!" Dia terkejut. Aku tau itu hanya dibuat-buat.

"Kalo ada orang yang ngeliatin kamu terus, menurut kamu kenapa?" tanya Arken lagi.

"Tadi kamu bilang cuma satu soal," protesku.

"Hee, dua deh, ini terakhir," cengirnya.

"Aku lupa pertanyaannya," kataku pura-pura lupa.

"Jadi gini, kalo misalnya ada orang yang ngeliatin kamu terus, menurut kamu kenapa?" Arken mengulangi pertanyaan yang sebenarnya masih sangat kuingat itu.

"Mungkin mata orang itu rusak," jawabku.

"Hah!" Lagi-lagi dia membuat dirinya seolah-olah terkejut, "Zerina, kamu harus pergi ke psikiater secepatnya." Dengan cepat dan tiba-tiba dia menggenggam kedua bahuku sambil membesarkan kedua bola matanya.

Bugh!

Satu tonjokan mendarat tepat di pipinya. "Kamu kira aku sakit jiwa!"

"Aaw..." gumam Arken sambil memegangi pipinya yang barusan kutonjok. Dia memasang wajah murung.

"Aku cuma bercanda tau," kata Arken, "Lagipun, kalo kamu gak sakit kan, kamu harusnya gak marah," sambungnya dengan suara mengeluh.

Aku tak mengerti apa maksud sebenarnya, yang jelas aku tak suka dengan ucapannya itu. Dia seolah mengetes apakah aku sakit. Aku berdiri dari dudukku dan meninggalkan tempat itu, tempat ini malah jadi saksi bisu atas penghinaannya padaku.

Bersambung
profile-picture
profile-picture
profile-picture
berodin dan 2 lainnya memberi reputasi

5. Hariku

Tinggal beberapa menit lagi waktu istirahat selesai. Aku berada di toilet sekarang, melanjutkan membaca buku. Sekarang tidak ada yang bisa mengambil tempatku di sini.

Mereka tak berhenti memukulku sampai aku tidak bisa lagi merasakan sakit itu, aku sendiri yang meminta mereka melakukannya, aku suka. Lanjutkan, jangan tinggalkan aku.

Aku menutup buku setelah terbayang dalam benakku apa yang dirasakan tokoh aku dalam buku itu.

'Setidaknya aku tidak pernah meminta orang lain menyakiti diriku'

Aku bangkit dari dudukku dan keluar dari toilet itu setelah mendengar bel masuk berbunyi. Seorang wanita membuatku berhenti di depan pintu toilet. Dia tak lepas dari memandangiku.

"Zerina?" Dia memastikan namaku dan berjalan mendekatiku.

"Airi." Dia memperkenalkan diri dan mengulurkan tangannya, padahal aku bisa membaca nametag di bajunya.

"Zerina," kataku tanpa menerima uluran tangannya.

"Hm..." Dia terlihat kecewa sambil menarik kembali tangannya dan menundukkan kepala, "Kukira kamu tidak seperti mereka yang tidak mau berteman denganku. Ternyata sama saja," gumamnya.

Aku memerhatikannya, dari ucapannya itu kutahu dia korban diskriminasi juga. Ah tidak, ini bukan berarti aku merasa terdiskriminasi.

"Kamu kenapa?" tanyaku.

Dia kembali melihat ke arahku, "Kamu gak tau aku?" Dia bertanya balik. Aku menggelengkan kepala.

Untuk sejenak dia diam lalu bicara dan mengalihkan pandangan dariku. "Awalnya kukira aku benar-benar bisa berteman dengan mereka, ternyata tidak. Aku cuma dimanfaatkan, mereka bilang aku orang biasa, gak selevel dengan mereka." Dia menjelaskannya dengan suara parau.

"Kenapa kamu sekolah di sini?" tanyaku. Karena yang kutahu ini sekolah untuk ekonomi ke atas, itu berarti gak akan ada murid dengan ekonomi rendah di sini.

"Orang tuaku ingin aku mendapat pendidikan terbaik, padahal mereka hanya seorang pedagang roti dan buku-buku lama. Mereka bekerja keras untukku." Dia sedikit menahan kata-katanya, kurasa sebentar lagi dia akan menangis.

Aku tidak tau harus bicara apa padanya, tapi aku tau bagaimana perasaannya. Dia butuh orang lain untuk mendengarkannya dan berbagi dengannya. Mungkin.

"Hm. Bel masuk udah bunyi dari tadi. Aku duluan, ya." Aku meninggalkannya di situ.

Bukannya tak mau berteman dengannya, hanya saja aku lupa bagaimana cara berteman. Kenapa dia lemah sekali. Aku saja bisa menjalani hariku tanpa teman-teman itu.

Lagipun aku tidak bisa sepenuhnya percaya. Mungkin saja ini jebakan, setelah kuingat bahwa orang jahat itu selalu punya cara untuk menghancurkan siapa saja yang menghalangi mereka.

***

Akhirnya pelajaran yang tidak ada bedanya dengan hari kemarin itu selesai. Aku menuju loker yang berada di samping gedung kelas, menaruh buku bacaanku, dan menguncinya kembali. Aku terkejut ketika membalikkan tubuhku. Pria ini benar-benar membuat sel-sel dalam tubuhku terlonjak.

Arken menyodorkan es krim. "Es krim untuk permintaan maaf," katanya.

Ini untukku? Kenapa harus semanis ini? Apa maksudnya? Kupastikan tidak ada orang lain di belakangku karena hanya ada loker di sana, artinya ini untukku. Dia minta maaf padaku, padahal aku sudah menonjoknya tadi. Apa maunya hingga peduli denganku.

"Aku gak suka es krim!" kataku cuek.

"Bohong, bundaku bilang perempuan itu suka es krim," kata Arken.

"Bunda kamu sok tau," elakku.

Arken cemberut karena elakkanku. "Buktiin kalo kamu gak suka es krim," katanya.

Dia kira aku main-main. Aku mengambil es krim coklat di tangannya dan membuangnya ke kotak sampah di samping loker.

Dia ternganga dan membuka mulutnya tak menyangka. Dia mengembuskan napas kecewa. "Itu belinya pake uang tau," gumam Arken masih meratapi nasib es krim coklat dalam kotak sampah itu.

Aku tau, tak mungkin dia beli pakai darah. Lagipun untuk apa dia melakukannya, kuyakin ada sesuatu yang dia inginkan dariku.

"Kamu mau apa, sih, dari aku!" seruku.

"Aku cuma mau minta maaf."

"Udah aku maafin." Aku berjalan meninggalkannya di situ, tapi dia membuntutiku.

"Terus kamu gak mau minta maaf sama aku gitu," kata Arken, "Zerina." Orang ini tak berhenti memanggil-manggil namaku dan berjalan di belakangku.

"Zeriiina.."

"Zerina,"

"Ze, ri, na,"

"Hei,"

"Zee,"

"Arken!" panggilan itu membuat Arken berhenti, dia menunggu Salsa menghampirinya.

"Ya?" sahut Arken.

"Di kelas kita, kamu yang ngewakilin lomba musik Bulan Bahasa, kan?" tanya Salsa.

"Iya, kenapa?"

"Ini daftar lagunya, katanya harus bawain dua lagu." Cewek itu memberikan selembar kertas padanya. Arken menerimanya.

"Oh ya, kamu tampil sendiri?" tanya Salsa lagi. Kurasa anak itu sengaja memperpanjang waktu.

"Ya ngga lah, sama grupnya Fahmi, aku vokalisnya."

"Oh, bagus deh."

"Yasudah, duluan ya."

Aku buru-buru melanjutkan langkahku saat Arken menyadari posisiku yang berdiri agak jauh darinya. Apa-apaan aku ini, kenapa sempat-sempatnya berhenti dan mendengarkan obrolan mereka.

"Hei, kamu nungguin aku ya?" Dia bertanya dengan riang. Kurasa tadi dia berlari hingga menyamakan langkah denganku dan sekarang aku harus jawab apa.

"Kamu ikut lomba musik?" Kutanya dia sekalian mengalihkan pertanyaan sebelumnya.

"Kamu dengerin obrolan aku sama Salsa, ya?" Dia malah bertanya balik dengan tampang menyebalkan bagiku.

"Nggak," kataku reflek. Sekarang aku sungguh terlihat sekali jika berbohong.

"Jangan bohong, nanti hidungmu jadi panjang, loh."

Aku mempercepat langkahku, terserah bagaimana yang penting aku tidak sejajar dengannya dan tidak tergoda olehnya. Kudengar dia tertawa lalu menggenggam tanganku.

"Kamu mau jalan secepat apapun aku masih bisa kejar tau, sekarang gimana kalo aku yang jalan duluan." Dia menggandengku dan berjalan di depanku.

Yah, apa-apaan ini, dia menggenggam tanganku erat dan entah kenapa aku tidak bisa marah. Ini sulit sekali, aku harus bagaimana? Sekarang perhatian publik milikku dan Arken, bukan milikku sendiri, dan aku tidak mendengar bisikan-bisikan jahat mereka, malah yang kudengar bisikan iri di hati mereka. Aku mengeratkan genggamannya.

Untuk hatiku, tolong bertahan sebentar lagi, mungkin saja nanti atau esok hal ini tidak akan ada. Jangan melampaui batas, kumohon.

Arken menuntunku sampai di mobilnya. "Aku bisa buka sendiri," kataku sebelum Arken membukakan pintu untukku.

Dia membatalkan gerakannya. "Hm, coba." Aku mencoba membukanya dan tidak bisa. Dia tertawa kecil lalu berkata, "Kuncinya aja belum dibuka, geh."

Aku malu, ingin kupukul sekarang juga kepalanya itu. Aku sudah mengangkat tinju, siap memukulnya, tapi dia menggenggam tanganku. "Kamu lucu kalo lagi marah." Dia tertawa lagi sambil membuka kunci dan membuka pintu untukku.

Aku melihat matanya, dia tersenyum. Aku masuk sebelum dia menutup kembali pintu itu. Selama lima belas menit diperjalanan, akhirnya kami sampai di sebuah rumah, tapi bukan rumahku.

"Kamu nyulik aku!" protesku karena aku tidak sampai di rumahku.

"Iya," Arken tertawa, dia kira aku bercanda, "sebentar kok, bundaku mau ketemu sama kamu," katanya.

Ketemu aku, ngapain?

Arken menuntunku masuk ke rumahnya. Dia bersaliman dengan seorang wanita cantik dengan hijabnya, kurasa itu bundanya. Lalu wanita itu mengulurkan tangannya padaku. Aku sempat gugup hingga akhirnya mengikuti apa yang dilakukan Arken tadi. Aku bersaliman dengannya.

"Ni Nda, Zerina, yang tadi ngatain Bunda sok tau," ucap Arken tertawa kecil pada wanita di depanku. Aku membesarkan mata padanya, bisa-bisanya dia bicara seperti itu. Aku malu, dia tambah tertawa. "Dia lucu kalo marah Nda," katanya lagi.

"Oh, cantik ya." Wanita itu memujiku, aku tersenyum membalas ucapannya.

"Iya Nda, apalagi kalau senyum kaya tadi." Lagi-lagi anak itu bicara dengan entengnya. Aku menahan diri untuk tidak ngegas.

"Iya, ya." Wanita itu tersenyum hangat seperti Arken, sambil mengelus bahuku.

"Yasudah Nda, titip ya, jangan dinakalin," kata Arken, bundanya tertawa, aku tersenyum lucu, rasanya di sini mudah sekali untuk tersenyum. "Aku mau ganti baju," sambung Arken.

Bunda Arken mengajakku duduk di ayunan belakang rumah. "Zerina mau roti bakar?" tawarnya. Aku menggelengkan kepala sambil berusaha mengembangkan senyum, aku jadi gugup. Aku ngapain, sih, di sini.

"Tapi bunda pengen, masa bunda makan sendiri."

Apa itu pertanyaan? Aku tidak tau harus bilang apa, aku diam hingga bunda bicara lagi. "Mau ya, yuk kita buat bareng," kata bunda, dia menuntunku menuju dapur.

Aku membantunya mengambil alat panggang, sungguh aku gugup sekali. Bagaimana jika aku tidak sengaja memecahkan sesuatu, ini kan bukan rumahku.

Bunda membantuku mengoles mentega di atas roti-roti itu. "Zerina suka rasa apa? Strawberry? Blueberry? Apa coklat?" tanya bunda, membuat gugupku sedikit hilang.

"Suka semua, Nda...." jawabku yang entah mengapa berani sekali menyebutnya Nda. Aku cuma ngikutin Arken.

"Kamu gak punya pilihan? Atau ada rasa lain yang Zerina suka?"

"Aku makan apa saja yang di sediakan, Nda."

Bunda mengangguk, hingga akhirnya roti selesai di panggang. Aku jadi bingung ini roti bakar atau panggang.

Di meja makan, aku dan bunda mengoles roti dengan selai. "Zerina di rumah tinggal sama siapa?" Apa memang seperti ini jika bertamu, dari tadi bunda bertanya terus padaku.

"Sendiri, Nda."

"Mama Papa?" Bunda bertanya.

"Papa kerja, jarang pulang, mama juga."

"Hm, gimana kalau Zerina tinggal di sini kalau bosan di rumah?"

"Serius, Bunda?"

"Iya, serius," kata bunda semangat, membuatku jadi yakin untuk tinggal.

"Nanti aku sering main ke sini boleh? Rumahku gak jauh dari sini, Nda."

"Ya pasti boleh dong, boleh banget."

Aku senang mendengarnya, senyumku terukir membalas senyum bunda. Rasanya seperti aku telah hidup kembali. Orang-orang di rumah ini tidak seperti di luar sana.

Arken kembali setelah mengganti pakaiannya, dia duduk bersama kami dan mengambil roti yang barusan kuoles selai. "Wanginya menggugah selera." Dia menghirup aromanya, "Mau nyoba buatan Zerina, sih. Enak gak?"

"Enak dong, cheff Zerina ini," kata bunda sambil tertawa mengusap pundakku. Aku tersenyum malu. Tidak ada yang pernah memujiku seperti itu selain Bi Irma.

Arken memakannya. "Hm, enak, daripada buatan Bunda." Bunda memasang raut cemberut karena ledekan itu. Arken tertawa, aku juga. Ternyata tingkah anak sama ibu tidak beda jauh, ya.

Arken mengantarku pulang setelah lima jam berada di rumahnya. Aku betah di sana, begitu hangat. Sudah lama sekali aku tidak merasakan kehangatan seperti itu, rasanya tidak ingin hari ini berakhir.

Arken keluar mobilnya dan berjalan menuju sisi kiri. "Loh, kok keluar sendiri." Aku tersenyum, memangnya dia kira aku tidak bisa membuka pintu mobil. Aku menutupnya kembali. "Jadi sekarang udah pandai tersenyum ya," ledeknya.

Aku senyum dalam diam dan memerhatikannya. Terbuat dari apa dia ini, manis sekali. Aku masih di dunia, kan? Atau sudah di alam lain? Aku senang bertemu dengannya. Aku tidak ingin hari ini berganti. Bagaimana jika esok dia berubah.

Dia menyelipkan rambutku ke belakang telinga. "Jangan lupa mandi, ya." Senyumku seketika pudar, aku memasang wajah cemberut, dia tertawa, "Ayo."

Dia menuntunku sampai di depan pintu. "Sekarang aku cuma bisa antar sampai sini, tapi mungkin nanti aku bisa antar kamu sampai kamarmu." Dia menunjukkan deretan giginya. Aku tertawa mendengarnya, bisa-bisanya dia.

Dia pergi, melambaikan tangannya, aku juga. Kututup pintu rumahku, sepertinya malam ini aku akan tidur nyenyak.

Bersambung
profile-picture
profile-picture
profile-picture
berodin dan 2 lainnya memberi reputasi
Ijin baca sis,
Salam kenalemoticon-Malu

Salim
emoticon-Shakehand2
profile-picture
tiawittami memberi reputasi
Quote:


Siap gan emoticon-Kroasia salam kenal, tia.. salim emoticon-Betty
profile-picture
corongalam memberi reputasi
Quote:


Robin,
Salim lagi
emoticon-Shakehand2


Biar kayak suasana lebaran yak emoticon-Maluemoticon-Malu


Ini gak ada minum sama kue nya?emoticon-Malu

emoticon-Ngakakemoticon-Ngakak
Quote:


Hahay, taqobalallah humina wa minkum emoticon-Ngakak (S)

Minum gan emoticon-Cendol Gan
profile-picture
corongalam memberi reputasi
Quote:


Hehehe, jadi bingung yang mana yang d baca duluan,

Menurut kamu, lebih bgus yang mana?emoticon-Maluemoticon-Malu
profile-picture
tiawittami memberi reputasi
Quote:


Yang badai sebelum pelangi lumayan syahdu gan, kalo yg cinta cinta tahi ayam agak lucu aja ceritanya emoticon-Ngakak
profile-picture
corongalam memberi reputasi
Quote:


Ya udah, aku baca yang ini dulu aja, emoticon-Maluemoticon-Malu

Lagi pgen syahdu mendayu meronta, emoticon-Maluemoticon-Malu

emoticon-Ngakakemoticon-Ngakak
profile-picture
tiawittami memberi reputasi
Quote:


Siaap gan ahaayde emoticon-Ngakakemoticon-Betty
profile-picture
corongalam memberi reputasi
Anda kenal dgn tyanus...? ketua sekaligus pendiri partai pelangi dithread sebelah...? emoticon-Ngakak (S)

profile-picture
tiawittami memberi reputasi
Diubah oleh cos44rm
Quote:


Siapa itu gan
emoticon-Ngakak
Lihat 1 balasan
Balasan post corongalam
Bukan siapa-siapa gan.

emoticon-Wakaka
profile-picture
corongalam memberi reputasi
Ini cerita joker versi cewek yah,?emoticon-Malu

True story atau fiksi?
emoticon-Maluemoticon-Malu
profile-picture
tiawittami memberi reputasi
Halaman 1 dari 4


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di