KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Rumah Besar Tak Bertuan
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5dd978ec68cc9579e73b4c44/rumah-besar-tak-bertuan

Rumah Besar Tak Bertuan

Haii..gan n sista, ketemu lagi nih sama gue, kali ini edisinya fiksi horror nih, mudah2an suka ya🤗
Jangan lupa cendol dan ratenya ya..!!

----------------------

Prolog

Angga, Rini, Tia, Wisnu dan Rama, adalah mahasiswa sebuah Perguruan Tinggi xxx, mereka ditugaskan mencari lokasi untuk acara perpisahan kampus.

Ditengah perjalanan, mobil yang dikendarai Rama, tiba2 mogok. Mereka tidak bisa melakukan apa apa, karena cuaca saat itu sangat buruk, dan disekitar mereka hanya ada deretan pepohonan pinus. Mereka harus berjalan menyusuri pekatnya halimun senja dan dinginnya tetesan rintik hujan. Hingga akhirnya mereka tiba disebuah rumah besar yang tak bertuan.
Namun ternyata rumah itu bukanlah rumah biasa, karena ada nyawa yang terenggut disana.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
berodin dan 10 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh agusmulyanti
Halaman 1 dari 5

Part - 1

Rama memarkir motor beatnya dipelataran sebuah rumah, yang meski tak begitu besar, tapi tertata dengan rapi, hingga terlihat asri dan nyaman.
Rama menghampiri pintu dan mendaratkan punggung ibu jarinya perlahan.

"Assalamualaikum !!."

Terdengar langkah kaki menuju pintu, dan perlahan pintu terbuka.

"Wa'alaikumusallam, eh nak Rama, ayo masuk," ujar perempuan separuh baya dengan kaca mata minus bertengger dihidungnya.
Rama mendaratkan hidungnya dipunggung tangan wanita itu dengan takzim.

"Tia ada tante ??."
"Masih shalat nak, tadi Tia pesan, kalau nak Rama datang disuruh tunggu."
"Memang mau kemana nak?."
"Mau rapat tante, untuk perpisahan kampus."
"Oh ya wes, kalo gitu tunggu saja ya, tante mau menyelesaikan pekerjaan tante dulu, ada pesanan yang mau diambil nanti sore."

Rama mengangguk, lalu ruang kecil itu kembali sunyi. Netra Rama tertambat pada sebuah fhoto di tengah ruangan, tepatnya diatas sebuah meja kecil. Rama berjalan menghampiri dan memperhatikan dengan seksama. Wajah laki2 yang terpampang disana, terlihat sangat gagah dan tampan.

"Assalamualaikum!!."

Suara salam mengagetkan Rama, hingga hampir saja ia menjatuhkan fhoto itu.

"Wa'alaikumusallam, eh Tia...kaget aku, hampir saja aku menjatuhkan fhoto ini. Astaghfirullah."
"Maaf ya Ram, aku bikin kamu kaget. Itu almarhum ayah aku, beliau meninggal sewaktu aku masih sangat kecil, usiaku saat itu baru satu tahun setengah kata mama. Kecelakaan saat bertugas di luar kota. Tampan ya, tapi sayang aku belum pernah bertemu dengannya," suara Tia terdengar sedikit bergetar.
Tia menyusut air mata yang mulai menggenang di sudut matanya.

"Ah...kenapa aku jadi melow gini. Ayo ah Ram kita berangkat !!, nanti telat lagi," ujar Tia sambil menarik lengan Rama.

Tia menghampiri mamanya dan mencium tangan wanita itu dengan takzim.

"Ma...Tia pergi dulu ya."
"Iya, hati hati sayang. Ingat pulangnya jangan terlalu malam !!. Nak Rama, tante titip Tia ya."
"Baik tante, Rama pamit dulu."

Lalu mereka berboncengan menuju rumah Rini, yang letaknya tidak terlalu jauh dari rumah Tia.
Setelah melewati sebuah taman, mereka sudah tiba dirumah Rini, yang terlihat sangat besar dan mewah.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
berodin dan 4 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh agusmulyanti

Part - 2

Rini, Angga, Wisnu, Tia dan Rama, terlibat dalam percakapan yang cukup serius. Mereka adalah panitia yang ditugaskan untuk mencari lokasi perpisahan.

"Jadi gimana nih temen2, mau besok atau lusa kita berangkat ?," ujar Rini.

"Sebaiknya besok saja Rin, kalau besokkan kita gak terlalu buru-buru, secara lusakan masih hari Minggu, jadi kita bisa lempengin badan," ujar Angga.

"Yess gue setuju itu...cakeeep," Rama menimpali sambil mengangkat kedua jempolnya.

"Gue koq gak gitu sreg ya jalan hari Sabtu, kata nyokap gue, gak bagus bepergian di hari Sabtu, bakal kena sial," ujar Rini dengan mimik serius serta logat Jawanya yang kental..

Rini dibesarkan dalam keluarga Jawa, yang sangat masih sangat kental kepercayaannya terhadap hal-hal yang merupakan tradisi turun temurun.

"Yaelah Rin, elu hari gini masih percaya ama hal begituan, elu tuh mahasiswa kali, bentar lagi kita wisuda. Buang yang kaya gitu ke laut atau lu kasih kucing aja," ujar Angga sambil tertawa ngakak.

Rini terlihat cemberut, wajahnya yang cubby semakin bulat. Tapi ia gak bisa berbuat apa-apa, karena posisi ia saat ini satu lawan empat.

"Okelah...aku ikut. Puas kalian," gerutu Rini.
"Nah gitu dong, itu baru sahabat gue ," ujar Angga sambil mencubit pipi Rini. Rini menjerit kesakitan, sambil balas memukul, lalu terdengar derai tawa mereka.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
berodin dan 3 lainnya memberi reputasi

Part - 3

Mobil Suzuki Ertiga yang dikendarai Angga, terlihat melaju menembus pekatnya pagi. Tawa dan canda terus terdengar, seiring mengalunnya irama cadas dari vocal John Bon Jovi.

"Ga...Angga!!!, ganti kek musiknya, sakit nih telinga sama jantung gue," celetuk Rini.

Angga menoleh, dan mengganti channel dengan Radio. Diujung sana terdengar sang penyiar yang bersuara sedikit cempreng menyampaikan kondisi jalan dan ramalan cuaca hari ini.

"Gile..macet bro, sampe puncak jam berapa kita kalo kayak gini," sungut Angga.
"Iya udah gitu bakal turun hujan pulak," timpal Rini.
"Eh...elo semua, denger ya!!, itu tu cuman ramalan. Yang namanya Ramalan, bisa bener bisa nggak, jadi gak usah terlalu dipusingin," ujar Tia.

"Paham gue Ti, tapi paling gak, kita udah punya gambaran, bagaimana situasi hari ini, jadi harus siap-siap menghadapi segala kemungkinan," Rama terlihat bijak menyikapi.

"Siap Boss!!," ujar Tia, sambil meletakkan kelima jarinya di dahi.

Angga tertawa melihat tingkah Tia dari Spion.

"Mantul dah kalian berdua, selalu kompak, kereen. Udah deh kalian cepet nikah aja." Ujar Angga sambil tertawa menggoda

"Apa sih Ga, gak lucu tau," Tia terlihat tersipu malu.

Rama hanya tersenyum dengan lesung pipi yang menghias wajah tampannya. Wajar kalo temen temen di kampus memanggilnya Afgan, secara penampakkan wajahnya memang mirip banget sama Afgan, sang penyanyi kondang tanah air.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
berodin dan 3 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh agusmulyanti

Part - 4

Waktu telah menunjukkan pukul 12.00 siang dan mereka belum memasuki area puncak. Mereka terlihat kelelahan dan suntuk. Terlihat Angga memarkir mobilnya di sebuah rest area. Angga membaringkan dirinya di pelataran mushala seusai shalat, tak lama kemudian Rama ikut berbaring di sebelahnya.

" Gila...macet parah ini mah, rese bener, kaki gue kayak mo copot aja."
"Iya..gak biasanya kayak gini ya," timpal Rama.
"Eh ga, kira kira kita bisa sampai di lokasi jam berapa ya?,"
"Gak tau gua, kalo kondisinya kayak gini men."
"Mudah mudahan, kita bisa nemu tempatnya, sebelum maghrib ya."
"Iya...berdoa aja, gak janji gue kalo kondisinya kayak gini mah."

Lalu terlihat keduanya memejamkan mata.
Hampir dua puluh menit mereka beristirahat, hingga akhirnya mereka memutuskan untuk jalan lagi.

"Cabut yuk men, dah lumayan enakkan nih badan gue." Rangga bangkit sambil meregangkan tubuhnya.
"Ram...lu yang bawa ya, kaki gue masih sakit nih." Angga memberikan kunci mobil ke Rama, yg disambut Rama dg senyum, tanda setuju.

Berdua mereka berjalan menghampiri mobil yang terparkir di halaman Mushala, disana terlihat Tia, Rini dan Wisnu tengah asik memakan jagung bakar.

"Woii..enak bener lo makan jagung, gak bagi bagi."

Rini memberikan dua buah jagung bakar dan dua gelas wedang jahe.

"Tuh makan dulu, tar lu pada masuk angin lagi."
"Tks Rin!, elu emang yang terbaik," ujar Angga sambil mencubit pipi Rini.
"Sakit tau, dasar gendeng."
"Biar gendeng, lu suka kan?," canda Angga.

Rini hanya tersenyum sambil melepaskan tinjunya ke arah Angga.

Usai istirahat, shalat dan makan, mereka mulai melanjutkan perjalanan. Kali ini yang bawa mobil Rama. Meski Rama gak punya mobil, tapi ia piawai mengendarai tunggangan besi berkaki empat itu. Menjelang Ashar mereka baru memasuki puncak. Langit diluar terlihat sangat pekat, begitupun suasana sekitar.

"Gila kabutnya bro, gak kelihatan jalan nih."
"Pelan pelan Ram, gak usah ngebut," ujar Wisnu.
"Tuh kan, udah gue bilang jangan jalan hari Sabtu, kalian pada gak denger sih!!, nih liat...kejadian kan," ujar Rini dengan nada cemas..
Wisnu tertawa ngakak.

"He..he..he..Rin...Rin, mending lu tuh baca doa, gak usah percaya sama takhayul."
"Tapi ini lo liat kan ?, kita terjebak macet, trus suasana luar gelap banget." Cerocos Rini

Tia merangkul tubuh Rini dan mencoba untuk menenangkannya. Meski gusar, akhirnya Rini bisa menerima. Perlahan senyum dan candanya mulai terlihat.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
berodin dan 3 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh agusmulyanti

Part - 5

Rama memacu kendaraan perlahan, karena halimun senja itu memang teramat sangat pekat. Sinyal yang hilang timbul membuat mereka agak sulit mencari tempat yang akan mereka tuju.

"Men..bener gak nih arahnya kesini ?." Tanya Rama.
"Gak tau nih Ram, sinyalnya hilang timbul." Jawab Angga, sambil memperhatikan monitor HP.
"Eh...Ram lu perhatiin gak, koq makin lama jalannya makin sepi, jangan jangan kita nyasar. Haduh gimana ini, gue takut," ujar Rini, wajahnya terlihat sangat pucat.

Rama melambatkan laju kendaraan, tiba tiba gubrakk, roda mobil terperosok kedalam sebuah lubang.

"Eh...kenapa nih men?," ujar Angga.
"Gue gak tau Ga."

Rama, Angga dan Wisnu turun dan melihat apa yang terjadi.
Roda mobil masuk kesebuah lubang yang cukup dalam, dan sepertinya agak sulit untuk mengeluarkannya tanpa bantuan orang banyak.

"Gimana ini men?, kita gak mungkin bisa ngeluarin roda ini bertiga."
"Iya bener banget Nu, susah ini."

Rama, Wisnu dan Angga mulai memperhatikan sekitar, berharap ada orang yang bisa dimintai tolong, tapi tempat itu seperti tak berpenghuni, sepi hanya deretan pepohonan yang terlihat.

"Ga...Nu... kita gak mungkin diam disini, sementara hari mulai gelap. Sebaiknya kita cari perkampungan penduduk. Kasihan Rini sama Tia, mereka kedinginan," ujar Rama.
"Lu bener Ram, kita harus cari pertolongan," ujar Wisnu.
"Tapi pertanyaannya, kemana kita mau nyari, tempatnya ...sumpah sepi banget men." Angga terlihat agak cemas.
"Yang penting kita cari sama sama, mobil kita kunci saja. Dan inget yang terpenting jangan ada yang terpisah," ujar Rama.

Kemudian Rama mengajak Tia dan Rini turun dari mobil. Udara sangat dingin, sementara jarak pandang begitu terbatas. Mereka berjalan beriringan dan saling berpegangan tangan. Sinar senter HP tak cukup kuat untuk melawan pekatnya halimun.
Hampir setengah jam mereka berjalan, tapi belum ada satupun bangunan yang mereka jumpai, semua gelap dan sepi, hanya bunyi serangga malam yang mulai terdengar.

"Ga..kaki gue sakit, kapan kita sampe ?," Rini menghentikan langkahnya.
"Jujur gue gak tau Rin, gue ngeblank sama tempat ini."

Angga mendekati Rini, dan membantunya berjalan.

"Kita jalan jangan terlalu cepat, pelan pelan saja !!, kasian Rini, kakinya sakit.

Perjalanan dilanjutkan, hingga akhirnya mereka melihat sebuah bangunan besar, berdiri kokoh diantara rimbun pepohonan.

"Eh Ram, ada rumah besar tuh didepan sana," ujar Angga.
"Alhamdulillah, akhirnya kita bisa istirahat dan shalat. Mudah2an ada orang yang bisa kita mintai tolong," ujar Rama.

Bergegas mereka menuju bangunan itu.
Bangunan besar itu terlihat sepi, seperti tanpa penghuni. Mereka mengucap salam berulang ulang , tapi tak seorangpun yang mereka temui.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
berodin dan 3 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh agusmulyanti

Part - 6

Rama mengarahkan senter HP nya kearah samping bangunan, sepi.... Bangunan itu sepertinya adalah sebuah penginapan, karena disana ada meja recepsionist.

"Ga..tolong lu jaga Rini sama Tia ya !, gue sama Wisnu akan lihat kebelakang, mungkin ada orang disana."
"Oke men..tenang aja," ucap Rangga.

Rama dan Wisnu memutari gedung itu, tapi tak satupun orang yang mereka jumpai, hingga akhirnya netra Rama melihat cahaya lampu dari sebuah bangunan yang letaknya agak tertutup.
Bergegas Rama dan Wisnu, menghampiri arah datangnya cahaya. Tampak seorang wanita muda, sedang duduk didepan perapian.

"Psttt Ram !!, itu orang apa kunti ??,"
"Gua juga gak tau Nu."
"Tapi kalo dia orang, berani bener ia ditempat seperti ini, gua aja......,"

Belum lagi Wisnu menyelesaikan ucapannya, tiba tiba wanita itu menoleh.

Desss...Rama dan Wisnu tertegun, melihat keindahan yang ada dihadapan mereka, begitu sempurna nyaris tanpa cela.
Hingga tiba tiba mereka dikejutkan oleh hentakan di pundak mereka.

"Woii..elu berdua lagi pada ngapain?, kita tuh udah hampir satu jam nungguin lu berdua, nih kaki gua udah sampe kesemutan." Nada suara Angga terdengar kesel.

Rama dan Wisnu saling berpandangan.

"Ga.., kemana gadis yang tadi ada disini ?," ujar Rama
"Iya Ga, kita berdua tadi ketemu gadis cantik disini," timpal Wisnu.
"Wah...elu berdua udah sinting ya, dari tadi disini gak ada siapa siapa. Tuh elu liat..!!, perhatiin baik baik !!, nggak ada siapa-siapa men. Yang ada didepan elo tuh cuma pohon. Dasar gendeng," sungut Angga.

"Udah ah, ayo kita masuk aja, kali aja ada tempat buat kita berteduh malam ini.

Rama dan Wisnu akhirnya berjalan mengikuti Angga, Rini dan Tia, memasuki bangunan besar itu.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
berodin dan 3 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh agusmulyanti

Part - 7

Malam mulai mendekap bumi dan dinginpun serasa membekukan aliran darah. Suasana diluar terasa begitu lenggang, pekat dan sunyi. Menyeramkan itulah kata yang pantas untuk menggambarkan suasana saat itu. Halimun yang bergerak turun membuat suasana semakin mencekam.
Rama memberikan mantelnya pada Tia, meski Tia sudah mengenakan sweather.

"Pakailah udara sangat dingin."
"Tapi kamu gimana Ram?,"
"Ah sudahlah, akukan sudah pakai sweather, pakailah," pinta Rama

Tia menerima mantel Rama dan memakainya. Ada kehangatan menjalari tubuhnya, mendapatkan perhatian dari orang yang diam diam sangat ia kagumi.

"Heii..bengong, sudah kamu sama Rini tidur didalam kamar itu, aku, Angga dan Wisnu tidur di ruangan ini saja."
"Tapi aku takut Ram," bisik Tia, sambil memandang Fhoto seorang wanita, yang tergantung di tengah kamar yang tak terkunci.
"Aku tidur dengan kalian saja ya, please !," pinta Tia.
"Iya Ram, gua juga takut, gua tidur sama kalian saja ya," timpal Rini.

Rama terdiam sesaat, lalu dengan menarik nafas ia berkata..

"Yaudah kalo gitu, untuk sementara kita tidur dikamar itu sama-sama."
"Yuhuu...itu ide yang brilian men, mantep dah, gue setuju seribu persen," ujar Wisnu, sambil tersenyum senang.
"Dasar otak ngeres, maksud gue Tia sama Rini tidur di kasur, dan kita bertiga tidur di sofa itu," ujar Rama sambil menunjuk sofa merah yang ada didalam kamar.
"Yaelah gue kira kita tidur bareng..he..he," ujar Wisnu sambil menggaruk garuk kepalanya.
"Sembarangan !!, anak orang kenapa napa, lu mao tanggung jawab," celetuk Angga.

Wisnu hanya mesem mesem gak jelas.

--------------

Hari semakin malam, tapi mereka belum juga dapat memejamkan mata, hingga akhirnya karena terlalu lelah, satu persatu mulai tertidur. Rama masih belum dapat memejamkan matanya, tiba-tiba antara sadar dan tidak, netranya menangkap sosok gadis berambut panjang diluar jendela, sontak Rama beranjak dari duduknya sambil istighfar.

"Astagfirullah..!!,"

Tia yang mendengar teriakan itu langsung terbangun, dan menghampiri Rama.

"Ada apa Ram?,"
"Gu..gu..gue liat sosok wanita diluar sana," ujar Rama sedikit terbata.

Wisnu dan Angga yang mendengar keributan itu ikut terbangun.

"Ada apa Ram ?, lu liat apa ?," Angga memberondong Rama dengan pertanyaan.
"Ada sosok gadis diluar sana." Ujar Rama sambil jemarinya menunjuk ke luar.
"Ah mana mungkin, diluar gelap banget men." Sanggah Wisnu.
"Lu ngimpi kali Ram," timpal Angga.
"Entahlah...tapi itu jelas banget Ga."

Angga terdiam, antara percaya dan tidak, tapi ia mencoba mengaitkan kejadian ini dengan kejadian sore tadi, saat ia menjumpai Rama dan Wisnu di belakang gedung ini
profile-picture
profile-picture
profile-picture
berodin dan 4 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh agusmulyanti

Part - 8

Angga melirik jarum jam di pergelangan tangannya, masih jam dua dinihari, tatkala ia mendengar Rini memanggilnya. Angga melihat ke luar kamar, dilihatnya Rini sedang berdiri disana menghadap ke luar kamar.

"Ada apa Rin ?, masih malam."
"Kamu mau kemana ?," tanya Angga.

Rini tak menjawab sepatahpun, hanya terlihat jemarinya menunjuk ke arah tangga. Angga beranjak dari sofa dan menghampiri Rini yang yang tetap membelakanginya.

"Mau kemana sih Rin ?, gelap disana."

Rini tidak menjawab dan terus berjalan menaiki tangga dengan cepat, hingga tiba tiba tubuhnya terjatuh berguling guling dan terkapar dengan tubuh berlumuran darah.

"Rin !!...Rinii..!!...Riniiiiii...!!!."

Suara teriakan Angga mengagetkan Rama, yang sontak berlari menghampiri Angga dan memeluknya.

"Ada apa Ga ?, kamu kenapa ?."

Angga tak menjawab, jarinya menunjuk ke arah tangga, sedangkan telapak tangan yang satunya menutupi wajahnya.

"Rini..Ram, Rini jatuh dari tangga itu. Dia luka parah Ram."

Rama tertegun sejenak, diperhatikan tempat yang ditunjuk Angga, tak ada apapun di sana. Semua baik baik saja.
Kemudian pandangannya diarahkan ke tempat tidur, untuk memastikan keadaan Rini. Terlihat Rini masih terlelap dalam tidurnya.

"Ga..lu liat, buka mata lu !, gak ada apa-apa disana."
"Tapi tadi gua liat Rini jatuh Ram, sumpah gua liat tubuhnya penuh darah."

Rama mencoba menenangkan Angga.

"Lu liat, siapa yang tidur disamping Tia ?," ujar Rama.

Angga melihat kearah tempat tidur. Disana terlihat tubuh Rini dan Tia, masih lelap dalam tidur. Lalu siapa yang terjatuh tadi ??, Tubuh Angga seperti ditekan puluhan batu es, dingin dan menggigil.

Rama mengajak Angga masuk dan menutup pintu.

"Ga..mending sekarang lu istighfar. Sekarang lu baru percaya dengan ucapan gue tadi kan?, bahwa yang gue lihat itu bukan mimpi."

Angga mengangguk anggukkan kepalanya tanda setuju dengan ucapan Rama.

"Sebaiknya kita gak usah cerita masalah ini ke yang lain. Aku takut mereka menjadi semakin ketakutan."

Angga diam dan mengangguk.
Malam masih panjang, Angga dan Rama kembali ke sofa. Sekilas Rama memperhatikan gambar wanita yang ada di dinding, tapi cepat-cepat ia alihkan pandangannya, karena ia merasakan sebuah kekuatan gaib terpancar dari mata wanita itu.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
berodin dan 5 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh agusmulyanti
Page one,, yesssemoticon-Genitemoticon-Genit


Ijin baca gan, dari judulnya aja udah bikin penasaran..emoticon-Malu

Salam kenal
emoticon-Shakehand2
Diubah oleh corongalam
fotonya ga ada nih?
Quote:


Silahkan gan
profile-picture
corongalam memberi reputasi
Quote:


Masih dicuci gan..😂
nenda dulu gan, lanjut bacanya besok kamis emoticon-Big Grin
Tak bertuan berarti HOROR dongemoticon-Betty

Part - 9

Kresekkk....krekkk...wusss...wusss

Suara angin yang menerpa dedaunan terdengar sangat menakutkan di telinga Angga, dia tak dapat lagi memincingkan matanya usai kejadian tadi, ada rasa takut yang teramat sangat yang tak ingin ia perlihatkan dihadapan Rama.

"Ram..menurut lu, tempat apa ya ini ?."
"Kayaknya sih dulunya ini bekas penginapan Ga."
"Lu..berasa aneh ga si Ram, rumah sebagus ini ditinggalin gitu aja ?, koq gua ngerasa ada yang gak wajar."

Rama mengangkat bahunya..

"Mungkin pemiliknya orang yang kaya raya Ga, jadi tempat kayak gini, buat dia gak masalah ditinggalin."
"Atau mungkin...disini.....,"

Belum lagi Rama menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba....

Braaakkkk...!!, terdengar suara hentakan pintu, seperti sengaja dibanting dengan keras oleh seseorang.

"Anjiirrrrr...suara apa tuh !!!," Angga berteriak spontan

Wisnu, Tia dan Rini yang sejak tadi tertidur, terbangun mendengar suara hentakan yang sangat keras. Bertiga mereka mendekati Rama dan Angga.

"Apa itu Ram.??, gue takutttt," Rini mulai menangis.

Tia mencoba menenangkan Rini, meski jantungnya pun berdetak sangat cepat.

"Teman-teman jangan berpencar ya, kita disini saja, ingat !! jangan berpencar..!!," ulang Rama.

Mereka mengangguk dan mulai saling merapat. Tiba-tiba...sumber penerangan satu satunya yang ada dikamar itu padam. Kepanikanpun terjadi lagi.

"Astagfirullah..!!""

"Ram...Rama, lampunya matii!!!, gimana ini ?? aku takut," jerit Tia dan Rini berbarengan.

"Teman-teman tolong tenang ya !!jangan panik !!, tenang !! dan jangan berpencar !!, terus berdoa !!," teriak Rama

"Nu !! ...Wisnu !!, HP lu masih ada batunya kan?, tolong nyalain senternya Nu !!, batere gua abis." teriak Rama

"Iya..batre gua juga sekarat Ram," ujar Angga

Tak terdengar jawaban..

"Nu..si Rama minta lu nyalain senternya men, Nu..woii Nuu !!, lu tidur lagi Nu?. Gila... lo men, kita lagi panik gini...lu malah molor," teriak Angga.

"Nu..Wisnu !!, lu dimana," bisik Tia.
"Wisnu !!...Nu.!!...Wisnuu.!!.," Rama mulai panik.

Lentera yang tadi padam, tiba-tiba kembali menyala.

"Alhamdulillah !!!," teriak mereka hampir berbarengan.
"Kenapa ya nih lampu, pake tiba-tiba mati, bikin sport jantung gue aja."sungut Angga

"Lu juga Nu, disuruh ngidupin senter malah molor, rese lu," Angga masih meracau sambil menoleh kesamping.

"Eh..Wisnu kemana ?,"

Dilihatnya Wisnu tak ada disebelahnya.

"Ram !! Wisnu kemana ya ?, tadi disamping gua,"

Mereka semua kaget dan panik, serta merta mereka mencari kesekeliling kamar..tapi nihill, Wisnu seperti hilang ditelan bumi.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
berodin dan 5 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh agusmulyanti
lanjutttttkeunnn
emoticon-Takut (S) emoticon-Takut (S) serem gan
Quote:


Yups..iya gan
Quote:


Janga lupa cendolnya y gan
Quote:


Siap gan..jgn lupa cendolnya..emoticon-Cendol Gan
profile-picture
profile-picture
jrie dan Helm.Proyek memberi reputasi
Halaman 1 dari 5


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di