KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Jangan Panggil Aku Ibu
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5dd5eb82f4d69573173f650f/jangan-panggil-aku-ibu

Jangan Panggil Aku Ibu

Jangan Panggil Aku Ibu

(Warning : 18+ akan ada tindak kekerasan dalam cerita, namun sarat moral, mengantarkan banyak kejutan tak terduga di dalamnya)

Part 2 https://www.kaskus.co.id/show_post/5...12ae74ef031360

Part 3 https://www.kaskus.co.id/show_post/5...518b587f3cd7fb

Part 4 https://www.kaskus.co.id/show_post/5...d19532a07c054d

Part 5 https://www.kaskus.co.id/show_post/5...c9917051370b87

Part 6 https://www.kaskus.co.id/show_post/5...d1950b47713a50

Part 7 https://www.kaskus.co.id/show_post/5...518b25a547e5d9

Part 8 https://www.kaskus.co.id/show_post/5...b24d69b2590268

Part 9 https://www.kaskus.co.id/show_post/5...972e6d61357511

Part 10 https://www.kaskus.co.id/show_post/5...cc9565ac6f9277

Part 11 https://www.kaskus.co.id/show_post/5...bdb26fd03ee035


part 1

Suara carut-marut beberapa ayam jantan yang berkokok, mulai menyadarkanku dari lelapnya tidur. Membuatku beranjak segera membuka jendela kamar. Terlihat seberkas cahaya matahari mulai menampakkan sinarnya dari ufuk timur. Tak tertinggal suara merdunya burung-burung dari balik dedaunan yang tengah bersenandung.

Seharusnya suasana pagi yang dingin nan sejuk ini menambah nikmat tersendiri untukku, namun nyatanya, sangat berbeda dengan suasana hatiku.

Kutengok jam dinding dari balik tirai. Jam 05.30. Baru sadar bahwa hanya dua jam saja aku mampu tertidur?

Dengan mata yang masih terasa berat, kulangkahkan kakiku keluar kamar. Mematikan lampu tengah dan teras yang masih menyala. Lalu membuka bilik-bilik jendela, terakhir membuka pintu utama.

Haidar masih saja bergelut dengan mimpinya. Kubiarkan ia terlelap tidur. Masih penasaran ke-diam-annya semalam. Tumben ia tak rewel, tak seperti biasanya.....

Sementara, Mas Agus ... entah kemana ia. Gelas berisi teh di atas meja masih tak tersentuh sama sekali. Sepertinya ia tak pulang lagi.

Kutarik nafas panjang, lalu menghembuskannya perlahan seiring penatnya kepala yang kurasakan.

Sudah tiga hari ini, Mas Agus tak pulang. Membuatku khawatir dan berpikir yang macam-macam. Uang yang ia beri padaku sepekan yang lalu sudah menipis. Aku semakin dibuat pusing karena tak ada lagi orang yang bisa kutoleh disini.

"He, Wati! Jangan ngutang lagi, ya! Boleh ngutang, tapi, lunasin dulu tunggakannya! Jebol anakku kalau dirimu ngutang mulu."
Dari warung seberang jalan, Mak Minah berteriak kencang sembari mengacungkan sapu halamannya itu padaku.

Aku langsung membalikkan badan, pergi dari ruang tamu dengan langkah cepat menuju kembali ke kamar. Tak terasa air mata mulai menitik. Betapa malunya aku sebagai perempuan diteriaki seperti itu disaat banyak para tetangga belanja di warungnya.
Bagaimana aku bisa melunasi hutang, sementara uang yang kukantongi sekarang saja tersisa hanya enam ribu rupiah.

Kuseka air mataku yang kian mengucur, lalu mengalihkan pandangan kembali menatap Haidar yang masih terlelap.
Oh, Tuhan ... aku tak sanggup lagi.
Mas Agus, kamu dimana?

Lagi-lagi air mataku menitik.

Belum usai kesedihanku, pagi-pagi sekali Bu Rina datang. Ia marah, menyuruhku segera meninggalkan rumah. Kami memang menunggak biaya sewa lima bulan, dan aku tahu Mas Agus sudah berusaha untuk itu. Tapi, bagaimana lagi ... penghasilannya sebagai kuli angkut di pasar hanya cukup untuk menutup hutang yang lain dan makan seadanya.

Tak mau terus bersitegang, lantas kutegaskan pada Bu Rina jika Mas Agus sudah tiga hari ini tak pulang. Namun, sudah tak ada lagi rasa iba terpancar dari raut wajahnya.

"Saya sudah lima bulan bersabar, Wati. Suamimu tak juga memberi uang yang dijanjikan meski sekedar menyicil. Saya ini sudah tidak punya suami. Beda dengan kamu. Masih untung kamu ada yang menafkahi. Harapan saya cuma di rumah ini. Kalau kamu tak bisa membantu perekonomian saya, silahkan kamu pergi! Saya sudah cukup menunggu. Saya ini juga dalam keadaan butuh!"

Ucapan Bu Rina lantang terdengar, membuat dadaku sesak seolah tak mampu lagi berkata.

Tiba-tiba, Haidar menangis kencang dari dalam kamarnya. Aku yang kaget, segera berlari melihat apa yang terjadi. Bayi delapan bulanku mendadak memelototkan kedua mata. Tangisannya terhenti, dan tangannya menggenggam erat, lurus kencang.

"Bu ... Bu Rina! Tolong!" Aku berteriak histeris sambil menggendong Haidar. Saking paniknya, aku berjalan mondar-mandir tak jelas di dalam kamar, mencoba menyusuinya. Tetap ia tak berekspresi.

"Kenapa, Wati?" Bu Rina yang baru menghampiri, tampak khawatir memandangku.

"Haidar! Coba lihat, Bu! Ini Haidar kenapa? Ia juga tak mau menyusu," pekikku sambil membawa Haidar mendekat pada Bu Rina.

"A-ayo ke puskesmas saja, Wat!"

Akhirnya, aku dibonceng Bu Rina pergi dengan motornya.

Kepalaku terasa penuh, sementara tanganku terus menutupi Haidar dengan selimut. Matanya masih saja membulat, membuatku semakin menangis karena cemasnya. Kucoba menyusuinya, memaksanya. Tetap saja bibirnya mengatup tak berekspresi.

Ya ampun, Mas Agus ... cepat pulang, Maaaasss!

Tak kuasa aku menahan kesedihan yang teramat sangat kali ini.

Sesampainya di puskesmas, kusuruh para petugas cepat membawa Haidar masuk untuk diperiksa. Sementara Bu Rina ada di loket antrian.

"Tolong banget, Mas! Tolong anak saya!" Aku tak sanggup berkata lagi saking bingungnya.

Selagi Haidar diperiksa, tiba-tiba, aku dikagetkan lagi dengan Bu Rina yang datang sambil menyenggol pundakku.

"Wati, kamu ada KIS gak?" tanyanya.

"Apa itu, Bu?"

"Aduuuhh, kalau ngomongmu begitu, kayaknya kamu nggak punya. Kamu minta tolong ke kelurahan, deh! Aku juga tak ada duit buat bayar nanti."

"La-lalu? Haidar bagaimana, Bu?"

"Sudahlah! Ada petugasnya, kan? Ayo!"

Tanpa banyak pertimbangan lagi, aku pun menurut apa kata Bu Rina. Pergi bersamanya menuju ke kelurahan.

Setelah lama berkutat di dalam kantor kelurahan, akhirnya kudapatkan secarik surat dari sana, sebagai pengantar sementara selagi kartu KIS belum ada. Tak menunggu waktu lagi, segera kami kembali berangkat ke puskesmas.
Bu Rina langsung menuju loket, sementara aku bergegas menuju tempat dimana Haidar diperiksa.

Namun, pemandangan yang ada lebih mengagetkanku.

Haidar terbujur kaku, dengan tali perban melilit di sekitar dagu ke kepalanya.

Kurasakan kepalaku semakin pening, pandanganku seketika kabur.

****

Sudah tujuh hari kepergian anakku, Haidar. Namun ingatan tentangnya masih membekas. Saat wajah lucunya menangis, saat bayi menggemaskan itu tersenyum, semua itu masih terkenang jelas dalam ingatan.

Kuputuskan menutup kenangan tentangnya. Agar tak lagi ada tangis terbendung. Aku sudah capek, pikiranku sudah kalut.

Lalu, aku berdiri, mulai berkemas. Baju-bajunya, karpet tidurnya, nipple mainannya, sepatu dan kaos kakinya, semua kujadikan satu pada sebuah kotak kardus besar. Lalu, kotak kardus itu kusimpan di atas lemari pakaian.

Saat itu juga, tiba-tiba suamiku datang. Ia berteriak dari luar memanggilku.

Segera aku berlari untuk memastikan, apa benar itu dia?
Ya ... memang benar. Ia datang dengan pemandangan yang nampak janggal. Ditangannya mendekap bayi dalam gendongan, lengkap beserta tas besar yang ia kalungkan menyamping ketubuhnya.

"Haidar! Lihat, Ayah bawa adek buat Haidar! Rumah bakalan rame ini." Ia berseru sambil masuk ke dalam rumah.

Aku hanya tercengang menatapnya dari balik tirai ruang tengah.

Laki-laki itu tampak sumringah dengan bayi yang ia gendong. Sekilas ia melirikku, lalu bertanya lagi, "Mana anak kita Haidar, Bu? Aku punya berita baik. Ibu pasti senang!"

Aku masih tak percaya dengan apa yang diucapnya barusan. Hanya bisa terdiam dengan mata lurus ke depan.

Anak siapa itu? Kemana ia pergi selama ini?

(bersambung)
profile-picture
profile-picture
profile-picture
jurusankosong dan 11 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh shirazy02
Halaman 1 dari 6
Haidar...
emoticon-Mewekemoticon-Mewekemoticon-Mewek
Ditunggu lanjutannya bro
profile-picture
profile-picture
r.maulana.m dan shirazy02 memberi reputasi
Haidar emoticon-Turut Berduka

Itu anak sapa lagi yang dibawa ? emoticon-Bingung (S)
Quote:


Assiyyaaapp 😁😁
profile-picture
profile-picture
r.maulana.m dan ipunk3133 memberi reputasi
Quote:


Coba tebak?? 😂😂
profile-picture
ipunk3133 memberi reputasi
Quote:


Mau bilang anak gue, kan ya nggak mungkin emoticon-Big Grin
baru part awal aja ane udh dbikin mewek, mantap ceritanya gan emoticon-2 Jempol
profile-picture
shirazy02 memberi reputasi
lanjut ganemoticon-Mewek
profile-picture
shirazy02 memberi reputasi

Jangan Panggil Aku Ibu (part 2)

Pagi ini, masih dengan menggendong bayinya, Mas Agus berjalan tergesa menuju Puskesmas. Sementara aku melangkah santai dibelakangnya.
Ia masih penasaran rupanya, dan ingin mencari kejelasan. Namun, langkahnya terhenti kemudian. Ia berpaling padaku, bertanya 'dimana' dengan tak mengeluarkan suara sedikit pun.

Kuhela nafas panjang, lalu menunjukkan sebuah ruangan yang berada pas di depannya sekarang. Kubiarkan ia masuk sendiri kesana, sementara aku menunggunya di balik pagar masuk Puskesmas.

Percuma! Untuk apa kemari hanya sekedar bertanya? Jawaban yang didapat tetap tak akan membawa Haidarku pulang. Malah bayi lain yang datang! Sama sekali malas aku menoleh padanya.

"Kita harus bertanya kesana, Bu! Siapa tahu Haidar sengaja didiamkan setelah tahu ibu pergi dengan Bu Rina, apa lagi saat tahu kalian ribut tentang administrasi. Kasus seperti ini sering terjadi pada orang yang gak mampu seperti kita," ucapnya sepuluh menit yang lalu, saat masih di dalam rumah.

Lalu, untuk apa kalau hanya jawaban yang kita terima kemudian? Tetap saja Haidar-ku sudah pergi! Menuntut pun hanya bisa bagi orang yang mampu. Semuanya butuh uang! Bukannya yang terlambat justru dia? Terlambat sadar tanggung jawabnya!

Kutendang pelan kerikil kecil yang tampak dikakiku. Menyandarkan punggung pada tembok pembatas. Menunggu suamiku yang entah sedang protes, atau sedang apa sekarang.

Tak lama berselang, Mas Agus keluar. Ia berhenti kala melihatku di depan pagar. Wajahnya terlihat lesu, sementara anak digendongannya terus menangis.

"Apa katanya?" tanyaku.

Mas Agus tak menjawab. Ia malah melepaskan gendongannya, menyodorkan anak itu padaku. "ASImu masih lancar, Bu? Aku lupa tak buat susu dulu tadi. Tolong, susui dia!"

Mataku melotot garang mendengar balasan dari mulutnya. Apa yang tadi kutanyakan, sangat tak cocok dengan ucapan yang terlontar barusan.

"Cepatlah!" Nada tingginya seakan memaksaku untuk melakukan apa yang dia minta.

Aku masih tak percaya. Ia lebih mengkhawatirkan bayi ini, ketimbang anaknya yang baru saja mati?

Nafasku memburu kesal, diiringi dentaman jantung yang begitu kencang, seakan menolak keras untuk mendengarkan perintah dari mulut suamiku.
Dan lagi ... ia membentak kedua kali dengan wajah memerah ketus, saat aku lebih memilih diam tanpa ekspresi.

Dengan terpaksa, akhirnya kuambil juga bayi itu dari tangannya. Membuka satu kancing bajuku, dan duduk menepi.
Sementara Mas Agus melangkahkan kakinya menuju pinggir jalan,menunggu angkot jurusan alamat kami, datang.

Masih tak habis pikir ... bagaimana bisa dia secuek ini menanggapi perasaanku sekarang? Seolah kehilangan seorang anak, hasil dari darah dagingnya, adalah suatu hal yang biasa sekali.

Tak terasa air mata mulai menetes.

****

Angkot berwarna merah yang kami tumpangi berhenti. Aku turun lebih dulu, masih dengan menggendong bayi si*l*n itu. Kemudian, disusul suamiku dari belakang. Mas Agus turun sambil mengomel tak karuan pada si Supir. Gara-gara tak mendengar ucapannya, kita harus menempuh perjalanan cukup jauh untuk pulang.

Setelah membayar dan mendapat kembalian, Mas Agus sesaat menghela nafas. Ia kemudian melangkahkan kakinya sambil menggandengku.

"Kita yang sabar ya, Bu." Lirih ia membisikkan kalimat itu ditelingaku, sepanjang perjalanan kami menuju rumah.

"Sesuai yang dikatakan bidan yang jaga waktu itu ... otot-otot disekujur tubuh Haidar menegang. Itu bukan kejang biasa. Kejang apa tadi namanya ... ah, lupa! Intinya memang terlambat mendapat pertolongan," lanjutnya lagi sembari mengalihkan tangannya melingkar ke lenganku, mengusapkannya naik-turun.

Bah! Tak kujawab bicaranya sepatah pun. Yang ada, bibirku kini bergetar, mataku samar mengkristal, dan hatiku hancur tak karuan mengingat kematian anakku yang mendadak.

Kami terus berjalan lurus, dan sebentar lagi sampai rumah.

Brrrrmmm.....
Brrrrrrmmmmmm......
Suara nyaring knalpot dari bengkel yang tak jauh dari rumah, seolah membungkam telingaku dari desas-desus gunjingan para tetangga yang kini tengah berkerumun. Tak dari sebelah, tak juga dari seberang jalan. Mereka semua sama saling berbisik dan menoleh padaku. Wajahku jadi memerah menahan malu, karena pasti pikiran mereka sudah menduga yang tidak-tidak.

Kupercepat langkah kakiku masuk ke dalam rumah, meninggalkan Mas Agus yang masih santai berjalan melenggang.
Tampaknya, Mak Minah sedang menyeberang. Kupastikan kali ini tujuannya ke rumahku. Entah karena penasaran dengan bayi ini, atau karena ingin menagih hutang, yang kujanjikan kubayar setelah Mas Agus pulang.

Kusibak tirai ruang tamu, mengintip Mak Minah yang menghentikan langkah suamiku. Kubuka sedikit jendela depan, mencari celah untuk menangkap suara yang ada.

"Bayi siapa, Gus, yang dibawa si Wati? Jangan bicara kalau kau mengambilnya lagi dari dalam kubur, karena istrimu sedang stress." Suara Mak Minah terdengar kasar mengalahkan bentakan Mas Agus tadi pagi.

Entah apa yang dijawab Mas Agus, tak tampak jelas kutangkap dipendengaran. Namun jelas dan nyata, mataku kemudian melihat dirinya mengambil segepok uang, lantas menyerahkannya beberapa lembar pada wanita tua yang tengah mengunyah susur itu.

Rasa penasaran kemudian membawaku kembali ke luar rumah. Disaat yang sama, Mas Agus sudah berdiri di depan mata. Sementara Mak Minah kulihat sudah ditepi jalan, siap-siap untuk menyeberang.

"Mas, kulihat barusan ... kau pegang uang banyak sekali. Uang siapa?" Akhirnya, mulutku terbuka juga setelah dari pagi membisu karena malas untuk berkata.

Suamiku diam. Kemudian menyerobot masuk ke dalam, melewatiku begitu saja. Aku masih penasaran, lantas kuikuti kemana langkahnya.

Mas Agus duduk di kursi ruang tamu. Tubuhnya lalu disandarkan pada jantung kursi. Diam lagi.

"Mas!" Kucoba menegur kembali.

Kali ini Mas Agus menoleh padaku, mendekati sambil menempelkan jari telunjuknya ke bibir. "Jangan keras-keras, nanti anak ini bangun!" pesannya lirih.

Ia lalu pergi ke kamar, masih kuikuti lagi dari belakang.

"Kau kemanakan, Bu ... baju-baju Haidar?" tanyanya.

Aku semakin nyengir menatapnya.
Kenapa, sih, setiap kali kuajak bicara selalu jawabannya tak pernah nyambung? Sepertinya isi otaknya kali ini hanyalah memusingkan prahara bayi yang tak jelas asal-usulnya.

Dengan perasaan kesal dan emosi, kulepaskan gendongan, meletakkan bayi itu ke atas kasur.
"Jangan menyuruhku untuk merawat anak ini ya, Mas? Kalau itu akhirnya yang kau perintahkan, dari awal aku tegaskan untuk menolak!" Kutinggikan nada suaraku pada lelaki yang sudah tiga tahun menikahiku itu.

Bluk!

Tanpa banyak bicara, Mas Agus melemparkan segepok uang ke lantai.

"Itu bayaranmu merawat anak ini. Pelankan nada bicaramu! Aku capek. Biarkan anak itu nyenyak tidur!"

Ha? Apa maksudnya? Lagi-lagi aku menyeringai.

"Kau hanya emosi karena kepergian Haidar, Bu. Sadarlah, anak kita mati itu sudah digariskan. Lagian hidup kita sudah susah, ingin mengangkat derajat saja sulit. Masih untung Tuhan menyelamatkan kita, lalu memberi kita hiburan pengganti. Dapat bayaran lagi!"

Kali ini, mantab sudah emosi yang terkumpul dalam benakku. Bisa-bisanya Mas Agus menganggap kematian Haidar adalah cara Tuhan menyelamatkannya?
Gemuruh dalam dada semakin berkecamuk, seiring dengan ribuan umpatan dibatinku yang seolah berteriak tak terima melihat keadaan.

"Kalau seperti itu yang ada dipikirkanmu, tak masalah. Belikan ia susu formula, dan jangan memintaku menyusuinya lagi!"
Seusai bicara begitu, langsung kulangkahkan kakiku pergi dari kamar.

Tak sanggup. Tak sanggup aku rasanya seperti ini!

Kuhempaskan tubuhku pada kasur lantai di ruang tengah. Melampiaskan kekesalan dengan menangis sepuas-puasnya. Jiwaku seakan remuk, dan dadaku sudah tak kuat lagi merasakan.

'Aku tak pulang karena ikut supir buah di pasar, ikut jadi kernet.'

'Aku menemukan perempuan itu lima hari setelahnya. Ia kabur dari rumah, keadaan hamil besar. Saat itu ia merintih kesakitan, lalu minta tolong padaku dengan memberiku imbalan.'

'Aku membantunya membawa ke bidan. Dua hari menunggunya disana. Tapi kemudian ia pergi. Ia tinggalkan bayinya beserta perlengkapannya di dalam tas. Ada sepucuk surat juga.'

Perkataan demi perkataan yang dilontarkan Mas Agus semalam sempat membuatku tak percaya begitu saja. Karena kupikir, mana mau ia membawa bayi itu sementara kehidupan kami saja seperti ini?
Awalnya kuduga itu anak hasil perselingkuhannya, karena itu lah aku memutuskan diam darinya. Menyingkir kala sang suami sibuk merawat si bayi yang diberi nama Tomi itu.
Tapi, dari pecahan uang seratus ribuan setebal itu, baru lah aku bisa memastikan jika cerita Mas Agus kemarin benar adanya.

Kuseka kedua pelupuk mataku, lalu membenamkan muka ke bantal kecil didepanku.

Tapi, tak seharusnya seperti ini. Tak semestinya ia berkata bahwa kematian Haidar sudah selayaknya! Dia lebih menyukai anak pembawa uang itu daripada anak kandungnya sendiri. Bahkan sepertinya, ia tak menyesali kepergian Haidar sedikitpun!

Ya, Tuhan ... aku berharap agar segera lenyap saja ke dasar bumi, daripada nantinya dibuat susah merawat bayi yang bukan darah dagingku sendiri.

Aku masih tak ikhlas!

(bersambung)
profile-picture
profile-picture
profile-picture
jembloengjava dan 5 lainnya memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Langsung subscribe nih mantap... Lanjutannya ditunggu
jadi rindu kepada ibuku karena kita sudah pisah agak lama tetapi saya akan selalu menyayangi ibu saya sebagaimana saya kecil
Quote:


Thanks gan 😀
Quote:


Mantull, tetap sayangi bagaimanapun juga emoticon-Big Kiss
ditunggu kelanjutannya gann emoticon-Mewek
Balasan post shirazy02
ditunggu lanjutannya
Quote:


Iya, tunggu ya 😀😀
profile-picture
ipunk3133 memberi reputasi
Quote:


Makasih emoticon-Jempol
profile-picture
ipunk3133 memberi reputasi

Jangan Panggil Aku Ibu (part 3)

Hidupku tak lagi putih, tak juga abu. Setiap waktu, hariku terasa meruam hitam. Seperti malam diselimuti pekatnya mendung kelam. Sudah sakit rasanya hati, kini bertambah semakin sakit lagi.

Demi kelayakan hidup, kurela membagi secuil perhatian pada bayi yang sama sekali bukan milikku. Bahkan, disetiap aku menimangnya, bayang-bayang wajah Haidar masih saja terbesit. Tak peduli berapa tetes air mata yang kutangiskan, Mas Agus masih saja tersenyum membangga-banggakan. Bayi itu dipeluknya, dimanjanya, bahkan bukan aku lagi yang kini menjadi prioritasnya.

"Kau harus sayang pada Tomi! Jasanya besar pada kita. Ia yang membuat kita bisa tinggal lebih lama di kontrakan ini. Ia juga yang telah melunasi hutang-hutang kita," ucapnya padaku pagi ini, di meja makan.

Ya, dan menjadikanmu seorang pemalas yang tak lagi berfikiran menafkahi keluarga, umpatku dalam hati.

Masih teringat isi dari sepucuk surat yang diberikan ibu kandung Tomi. Ia menyertakan nomor teleponnya, jika sewaktu-waktu kami memerlukan uang. Supirnya yang akan mengantarkannya nanti ke alamat kami ... dengan catatan, agar kami tetap bungkam sampai menunggunya siap menjemput putranya sendiri.

Aku mendengus pelan, masih dengan menimang bayi di pangkuan. Di depan mata,suamiku masih asyik menikmati beraneka macam makanan di atas meja. Ia semakin royal dengan uang. Apa yang tak penting dibelinya. Makanan apa pun diberantas di mulutnya. Kurasakan, semakin hari hidupnya semakin dibuat-buat.

Kesal melihatnya, kuputuskan beranjak dari duduk, melangkahkan kaki menuju kebun belakang.

Mencari sehilir hawa nampaknya lebih segar dirasakan, daripada menghabiskan waktu bercengkerama dengan suami yang sekarang malas-malasan.

Aku menguap lebar akibat lelah semalam begadang. Mengambil duduk di sebuah bangku pendek, menyelonjorkan kakiku lurus ke depan.

Kini aku lebih menutup diri, mengasingkan telingaku dari berbagai pendengaran tajam. Mereka di luar sana memang masih penasaran. Tak ada yang percaya jika kami mengadopsi anak. Awalnya, banyak yang mengira anak ini hasil perselingkuhan. Tapi semenjak Mak Minah berkoar, berkata pada mereka jika Mas Agus pegang uang dalam jumlah besar, banyak yang berasumsi bahwa Tomi bayi hasil curian. Semua dikaitkan dengan kematian mendadak Haidar yang dikiranya kami jadikan tumbal. Tak pelak, kami pernah dipolisikan warga. Namun beruntung tak ada bukti yang bisa memperkuat dugaan, sehingga kami dipulangkan kembali.

Rasa sakit karena fitnahan, menjadikanku dendam dan tak kerasan.

Hoaaaahhmmm ....

Kali ini kurasakan mataku benar-benar tak kuat.

Tap, tap, tap. Kulangkahkan kaki kembali memasuki rumah. Kupandang sekilas di meja makan, Mas Agus masih menyantap makanan dengan lahap.

Tak kupedulikan dia yang banyak bersenang-senang. Kusimpuhkan kaki, berbaur dalam kasur, lalu menggeletakkan Tomi yang masih terjaga dalam tidurnya.

Tak berselang lama, telingaku tiba-tiba menangkap sebuah suara aneh.

Errrrkkk, eeerrkkkkkk!

Kucoba tak menghiraukan. Kok, tak kunjung berhenti juga?
Itu rintihan, atau apa?

"Maaaass, suara apa itu? Denger nggak?" Kuteriakkan suaraku dari dalam kamar, sambil mengeluskan tangan ke kening Tomi agar tak bangun.

Tak ada jawaban!

Penasaran, lantas kugerakkan kakiku menuju asal suara.

Begitu kagetnya aku saat melihat ternyata suara itu berasal dari Mas Agus. Ia jatuh tengkurap ke lantai.

"Maaaaasss!!" Aku berteriak kencang. Menghampirinya, membalik badannya. Mulutnya miring, bersuara tak jelas seperti dengkuran. Sementara putik matanya menghadap ke atas.

Air mataku seketika tumpah. Mulutku mendadak kaku. Aku lalu berlari terhuyung membuka pintu depan.

"Aaaaaaaaaaaaaa ....," teriakku dalam tangis.
Mulutku seakan terkunci tak bisa berkata apapun selain itu.

Aku jatuh bersimpu ketika semua warga saling berdatangan. Mereka menanyaiku, dan masih saja aku tak bisa berucap. Terus berteriak sekencang-kencangnya, sambil menunjuk ke dalam rumah.

Mereka berkerumun saling berebut masuk. Mendadak ramai.

Mataku menatap nanar, kepalaku terasa blank. Semua warga saling menduga-duga. Apa jantung? Apa stroke? kata diantaranya.

Aku masih terpaku, mematung seorang diri. Pikiranku sudah buntu, terlebih saat telinga menangkap sebuah jawaban,

"Innalillahi Wa'inna illahi roji'un ...."

Kurasakan sekitarku lalu berubah gelap.

Bruukk!

****

Almari terakhir telah dimasukkan. Kuambil uang dalam dompet, memberikan beberapa lembaran pada si kuli.

"Terima kasih," ucapku sambil terus mengayunkan gendongan.

Ketiga lelaki itu kemudian pergi dengan mobil yang dibawanya.

Aku duduk termangu memandang suasana sekitar, di sebuah kursi kayu yang berada di depan rumah berdinding papan ini. Kutatap hijaunya padi yang menyejukkan mata. Ujung daunnya yang meruncing bergoyang diterpa semilir angin, menyegarkan tubuhku yang kian bermandikan keringat.

Rumah kontrakanku kali ini berada di tengah persawahan. Dimana ketika aku membuka pintu depan, jendela, dan pintu belakang, hanyalah sawah yang langsung kulihat dengan mata telanjang. Terkadang gemercik airnya menambah segar suasana. Relatif tenang, nyaman, dan jarang polusi.
Aku sangat menyukai tempat ini. Lebih tentram dari mulut-mulut fitnah.

Kuembuskan napasku pelan, mengingat sosok Mas Agus dan Haidar yang masih aku sayang.

Ah, aku tak mau mengingatnya lagi!

Lalu, kupejamkan mata sambil menggeleng beberapa kali, berharap wajah-wajah itu segera pergi.

"Anaknya, ya, Mbak?" Seorang petani dengan cangkul di bahunya, bertanya saat melintas di depanku.

Aku mengangguk, sambil tersenyum.

Petani itu kembali tersenyum, melanjutkan perjalanannya menyusuri jalan yang tak begitu lebar.

Kembali aku mengembuskan napas. Entah kenapa, aku menjadi sedikit 'sayang' dengan bayi yang kutimang di tangan. Aku sadar, hanya dia satu-satunya yang menemaniku saat ini.

Tapi, kemudian ... terbesit lagi akan sosok wajah Haidar. Hatiku kembali bergulat dengan pikiran. Mana mungkin aku memberikan cintaku pada bayi ini, sementara anakku saja tak sempat aku besarkan dengan tanganku sendiri?

Perlahan kutatap wajah bayi berumur delapan pekan itu. Wajah bulatnya mengingatkanku atas perhatian Mas Agus yang begitu dalam padanya. Seketika kesal, karena ia terlihat menyayangi anak orang lain daripada anaknya sendiri. Karena Haidarku dulu ... jarang sekali mendapatkan sentuhannya.

Kembali aku menitikkan air mata, bersama munculnya gemuruh kekesalan dalam dada. Kusentuh pelan pipi halus Tomi, kemudian berkata lirih, "kurawat kau dengan ikhlas atas naluriku sebagai seorang ibu. Jika memang ibu kandungmu tak jua menjemputmu, tetap akan kubesarkan kau atas balas jasa yang orang tuamu berikan. Dengan catatan ... jangan pernah panggil aku ibu!"

Bayi itu tersenyum dalam lelapnya, seakan mengerti apa yang barusan kukatakan.

Kini kuterawangkan mataku ke langit, menahan jatuhnya air mata agar lebih tegar menghadapi kenyataan pahit.

Pelan tapi pasti, aku yakin semua kenangan akan menghilang seiring berjalannya waktu .....
profile-picture
profile-picture
profile-picture
mmuji1575 dan 7 lainnya memberi reputasi
siapa yang ngupas bawang ni?? bikin mewek aja
profile-picture
dakle74 memberi reputasi
Jadi penasaran...apakah anak yg ditimang2 nantinya akan menjadi sosok superhero yang menyelamatkan dunia.. seperti Superman, Batman, Spiderman ato yang lain...??
profile-picture
monkeydragonrf memberi reputasi
Quote:


Ntu si Ijah di belakang 😂😂
profile-picture
ipunk3133 memberi reputasi
Halaman 1 dari 6


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di