CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Cinta Dalam Penyesalan
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5dd4cd0bc9518b1a1a7ec456/cinta-dalam-penyesalan

Cinta Dalam Penyesalan

Kukuruyuuuuuukkkk ....

Beberapa ayam jantan yang saling bersahutan mulai menyadarkanku dari nyenyaknya tidur. Aku menggeliat dan duduk. Memutar badan ke kanan-kiri, lalu beranjak membuka jendela kamar.

Hmmmm ....
Kuhirup panjang udara pagi hari yang masih berembun. Terasa dingin nan sejuk. Di tambah merdunya kicauan burung yang bersenandung, menguatkan rasa syukur tersendiri dibalik sanubari yang begitu sesak.

"Sudah bangun, Nak? Sarapan dulu," teriak ibu dari luar kamar.

Aku berseru mengiyakan, sambil menatap kembali panorama pegunungan di depan mata. Hamparan sawah yang menghijau, gemericik air yang mengalir ... ah, benar-benar mengingatkanku di masa kecil.

Saat pandangan beralih menatap ke jalan, kedua netra tiba-tiba terpancing oleh sesuatu yang begitu mengagetkan.

Tepat di pertigaan sana, sesosok perempuan sedang berdiri memunggungi. Entah siapa gerangan ... namun, aku seperti melihat dirinya setelah tujuh tahun lama tak bersua.

Ah, tapi tak mungkin itu dia. Hanya saja baju yang dipakainya mirip. Postur tubuhnya memang sama tinggi, tapi, tidak dengan besar perawakannya.

Sepintas, teringat lagi tentang wanita itu. Wanita yang telah kuperjuangkan mati-matian. Entah bagaimana kabarnya sekarang. Mungkin tengah berbahagia dengan laki-laki yang ia pilih.

Mataku terus memantau wanita di seberang sejauh mata memandang. Baju itu memang sama persis dengan miliknya. Gaun batik mega mendung warna ungu selutut dengan tali pinggang bagian belakang. Namun, tampak kedodoran sekali dipakai perempuan yang kini berdiri di ujung sana.

Entah kenapa, rasa sakit hati yang telah sirna, kini jadi kembali lagi terasa perihnya.

Seberkas cahaya matahari mulai menampakkan sinarnya dari ufuk timur. Kututup sedikit jendela kamar untuk menghindari silaunya, dan duduk kembali ke kasur, mengambil sebatang rokok, lalu menyesapnya.

Tiba-tiba, kenangan masa itu terlintas lagi ....

Gondang, 14 Mei 1993.

"Mas, kata Bapak-Ibu, kamu harus cepat-cepat melamar. Kita sudah setahun jalan bersama. Tak enak dilihat tetangga, Mas. Apalagi ... kita juga satu kampung, kan? Mas tahu sendiri orang sini mulutnya bagaimana." Denok berseru padaku sore itu di teras rumahnya.

Aku masih ingat persis ucapannya. Sungguh suatu pernyataan yang sangat mengagetkan, karena sejauh ini sama sekali tak terlintas di pikiranku akan hal-hal sejauh itu. Mengingat usiaku yang baru 17 tahun, ia pun selisih setahun di bawahku.

Sesaat setelah Denok berkata demikian, Bapaknya keluar dari dalam rumah.

"Budi, ayo masuk!"
Perintahnya yang bernada garang itu membuat nyaliku langsung ciut.

Bapaknya masuk ke dalam rumah terlebih dulu. Denok menyusul. Sementara aku ... kakiku mendadak lemas kala itu, menunggu beberapa detik kiranya batinku bisa kukuatkan. Lantas aku langsung berdiri. Mencoba optimis.

"Ayo!" Denok yang masih berdiri di ambang pintu rumahnya, melambaikan tangan padaku. Memintaku agar segera menyusulnya.

Dengan langkah berat, akhirnya kuhampiri juga ia. Hingga sampai di ruang tamu, masih saja langkah ini kaku untuk maju lebih dekat lagi.

Ya, aku merasa tak enak hati. Bapaknya tak pernah memanggilku selama aku sering main ke rumah si Denok. Baru kali ini. Apa lagi seusai Denok mengutarakan hal yang sangat mustahil untuk kupercaya.

"Tunggu apa, Budi? Ayo duduk!"

Suara garang pria berkumis tebal itu spontan membentak lamunanku. Tak menunggu perintah lagi, segera kuambil duduk di sebuah kursi, sambil menundukkan pandangan. Sementara Denok, ia mengambil duduk tepat di sebelah Bapaknya.

Masih membisu di ruang tamu, si Ibu datang dengan membawa nampan. Dua cangkir kopi yang masih mengepul disuguhkannya di meja, lalu ikut mengambil duduk di antara kami.

"Budi, kalau kamu dan Denok sama-sama suka dan bertujuan baik, alangkah lebih baiknya jika hubungan kalian disyahkan saja," seru si Ibu dengan mendekapkan nampan ke dadanya.

Bibir atasku tiba-tiba cedutan, aku pun tak berani menjawab. Mataku berputar, dari menatap ibunya yang berwajah melas, bapaknya yang menatap kosong ke depan sambil memelintir ujung kumisnya, terakhir memandang ke Denok. Gadis itu menggigit bibir bawahnya, tampak penuh harap padaku.

"Jadi, bagaimana? Kok, kamu nggak bisa tegas begitu. Heeeemmmm?" Bapaknya mulai meninggikan suara. Seiring dengan itu, deguban jantungku berdetak begitu kencangnya. Antara kaget campur takut.

Setelah satu jam senam jantung dan kesemutan di rumah Denok, akhirnya kuputuskan berpamitan pulang dengan alasan merundingkan masalah itu dengan keluarga.

Sampai di rumah, kusampaikan juga semua itu pada kedua orang tua. Wajah Bapak-Ibu tampak biasa saja. Mereka diam sesaat setelah saling pandang. Tak lama setelah itu, Bapak berkata, "Kalau Pak Sarip meminta begitu, mau bagaimana lagi? Tidak apa-apa. Memang khawatir jika punya anak gadis yang sudah matang."

Aku bergeming. Sedikit bingung harus berkata apa untuk selanjutnya.

"Nanti seusai shalat maghrib, Bapak akan bertamu ke sana."

Setelah bapak berkata begitu, kulihat Ibu tengah mencubit lengan Bapak. Bapak pun langsung melirik padanya, seolah memperingatkan.

Aku sendiri sama sekali tak puas dengan jawaban itu. Entah kenapa, kepala semakin penuh rasanya.

Malamnya, dari dalam kamar, kudengar Ibu tengah bertengkar dengan bapak. Kamarku dengan kamar mereka memang bersebelahan. Apalagi belum berdinding tembok kala itu. Jadi, aku bisa mendengar jelas apa yang mereka ributkan, meski bicara keduanya sepelan apa pun.

"Kalau Pak Sarip minta mahar satu ekor sapi, kita harus cari uang ke mana lagi untuk bisa membelinya, Pak? Apalagi mintanya setelah lebaran ini. Padahal Pak Sarip sendiri tahu keadaan ekonomi kita bagaimana. Kok, ya, tega?"

"Sudahlah, Bu. Denok memang anak satu-satunya. Ibaratkan saja, mereka membesarkan anaknya susah payah dan kita mau ambil begitu saja. Toh, ya, sapi itu untuk Denok juga, kan? Kembalinya juga pada anak kita, Bu."

"Tapi, Pak, kita juga punya lima anak yang masih kecil-kecil. Untuk mencukupi kebutuhan mereka saja susah. Bisa makan saja kita sudah untung. Bagaimana bisa kita menuruti kemauan Pak Sarip? Kita saja tak pernah bisa menabung banyak."

Suara Ibu terdengar sesenggukan dari bilik kamar.

"Sudahlah, Bu. Mau bagaimana lagi? Budi sudah lama pacaran dengan si Denok. Pantas saja mereka menanyakan. Kita nanti dikira tak bertanggung jawab, anaknya sudah diajak main Budi ke sana-ke mari. Sudah tak usah dipikir. Soal sapi, pasti dapat, yang jelas anak kita harus menikahi Denok."

Mendengar itu, kepalaku tiba-tiba rasanya mau pecah. Karena masalah itulah, semalaman aku tak bisa tidur memikirkan.

Malam itu juga, kutuliskan sepucuk surat untuk Denok. Menceritakan semua yang kudengar malam ini dari dalam kamar. Kuharap ia mengerti keadaanku dan bisa membantu bicara pada kedua orang tuanya. Khususnya Pak Sarip, yang telah memberikan syarat tersebut.

Beberapa hari kemudian ....

"Budi, nanti kita ke rumah Pak Badrun, ya? Kita ambil sapi, lalu kita bawa ke rumah Denok," seru Bapak sambil tersenyum.

Aku kaget tak percaya mendengarnya.

"Lho, Bapak dapat uang dari mana? Jangan pinjam-pinjam, Pak!"

"Siapa yang pinjam? Itu sudah sapi milikmu," sahut bapak kalem.

Haaahh??
Aku semakin tak percaya.

Setelah kuselidiki, rupanya Bapak melakukan perjanjian dengan Pak Badrun. Satu ekor sapi ditukarkan dengan adikku yang nomor satu, Hartini. Hartini yang masih berusia tiga belas tahun akan dinikahkan kelak dengan Jatmika, anak sulung Pak Badrun yang mempunyai keterbelakangan mental.

Sungguh sakit rasanya hati saat mendengar itu, apalagi Ibu tengah menangis saat menceritakannya padaku.

"Bapakmu hanya melihat dirimu, Nak. Melihat harga dirimu! Bapakmu tak ingin kau dikira orang kebanyakan tak bertanggung jawab, ia juga tak mau orang-orang menilainya tak bisa mendidik anak."

Saat Ibu menangis di dadaku, kulihat Hartini dari luar berlari girang masuk ke dalam rumah dengan menenteng tas sekolah bututnya.

Sampai di hadapan kami, ia perlihatkan nilai pelajarannya dengan bangganya.

Ada sebuah kekecewaan tersirat dalam benak. Bagaimana bisa adikku yang cerdas seperti ini harus menikah nantinya dengan Jatmika yang idiot? Hartini sendiri punya cita-cita yang sangat tinggi.

Sore itu juga, kutulis lagi sepucuk surat untuk Denok. Surat permintaan maaf, tak bisa memenuhi kemauan orang tuanya. Kuceritakan semua kesedihanku padanya, sekaligus berpamitan pergi ke kota mengadu nasib, sampai punya sejumlah uang yang layak untuk mempersuntingnya. Apalah aku yang saat itu baru saja tamat SMP dan hanya seorang buruh tani. Kuharap ia setia menunggu.

Begitu pun untuk keluargaku sendiri. Kutulis juga sepucuk surat untuk mereka. Aku tahu, jika aku bicara akan pergi merantau, mereka pasti tegas menolak. Karena itu, aku pergi diam-diam. Terus terang, aku tak bisa melihat adikku harus mempertaruhkan dirinya demi diriku. Setidaknya, isi dari surat itu sudah mewakili segala perasaan bimbangku ....

Aku langsung berangkat ke Jakarta malam itu. Menyelinap pergi dari jendela kamar. Berangkat dengan menumpang truk-truk yang melintas di jalan. Dengan satu harapan, aku pasti bisa membanggakan Denok dan keluarga.

Setahun kemudian, setelah diriku merasa sedikit mapan dan beruang cukup, kuberanikan pulang kembali ke kampung halaman. Bermaksud menepati semua janjiku untuk wanita pujaan. Tapi, apa yang kudengar kemudian? Ternyata Denok sudah menjadi istri orang. Sebulan setelah kepergianku. Rupanya ia memang tak mengerti, dan tak mau menunggu.

Rasa sakit semakin terasa, saat Bapak selalu memalingkan wajahnya. Sedikit pun ia tak mau melihatku, apalagi untuk berkata. Pernah aku menanyakan sebab-musababnya, hanya satu kalimat yang terlontar dari mulutnya, "Kau sudah membuat kami malu!"

Perasaan yang begitu pilu, ditambah lagi sikap Bapak yang tak pernah menganggapku ada di dalam rumah itu lantas membuatku kembali lagi ke Jakarta. Tentunya dengan hati yang begitu sakit dan putus asa.

Ah ... kuterawangkan mata ke awang-awang. Tak terasa mata ini berkunang mengingat kejadian itu.

Hari ini, kedua kalinya aku pulang ke rumah menemui orang tuaku, yang kini hanya tersisa Ibu. Itu pun setelah mengetahui Bapak meninggal dunia kemarin lusa.

Almarhum Bapak sudah lama sakit, tapi beliau menolak adik-adikku untuk mengabariku. Begitu kesalnya Bapak dengan sikapku, sampai ia mati pun aku belum sempat berbincang padanya sekadar untuk meminta maaf.

Sebutir air mata pun menetes.

"Nak, ayo makan! Ibu tak melihatmu makan sama sekali sedari pulang," tegur Ibu sambil melangkahkan kaki masuk ke kamar.

Kulihat, mata tua itu berkaca saat melihat wajah ini sembab. Segera kuseka air mataku, sambil melangkah menuju jendela.

Ibu ikut menghampiri, sambil mengelus lenganku berulang kali.
Lagi, mata ini langsung tertuju pada sosok bergaun ungu di pertigaan jalan itu.

"Apa karena perempuan itu, kau sampai sekarang tak ingin mengenal perempuan lagi?"

Suara lemah Ibu sontak mengagetkanku.

Perempuan di ujung jalan itu kulihat masih anteng. Tetap berdiri membelakangi, melihat ke arah sawah yang membentang di depannya.

"Itu Denok, Bu? Ke-kenapa dia jadi begitu, Bu?" Aku bertanya dengan bibir bergetar.

Ibu diam sejenak, lalu menjawab, "Tak tahu, Nak. Begitulah kehidupan. Kita tak bisa menduga takdir apa yang terjadi pada kita di kemudian hari. Semua sudah ada yang mengatur."

Haaah?

Aku semakin membelalak kaget. Masih tak percaya mendengar penuturan Ibu.

Kenapa dengan keluarganya? Apa yang terjadi padanya? Ada masalah apa sampai-sampai ia menjadi seperti itu?

Beberapa pertanyaan batin saling menyerang, seakan ingin mengetahui jawaban dari pemandangan buruk itu.

"Sudahlah, Nak. Jangan selalu merasa bersalah! Denok seperti itu karena dia sendiri. Tak usah kamu pikirkan! Dia yang memilih untuk meninggalkanmu. Jalanmu masih panjang, Nak. Kamu berhak mencari pendamping dan berkeluarga. Jangan pikirkan lagi masa lalumu!"

Pesan ibu barusan sama sekali tak bisa kucerna dalam pikiran.
Aku masih heran dan penasaran melihat sosok Denok di seberang jalan.

Gadis yang dulunya cantik, putih dan sangat rapi dalam berpenampilan, kini berubah menjadi tak karuan. Rambutnya terurai acak-acakan, kulitnya hitam, badannya pun kuruuuss sekali. Pantas aku heran melihat gaun itu?

Oh, Tuhan ... sebenarnya ia kenapa?
Kalau memang ia sekarang menjadi gila, itu semua karenaku, mungkin sampai kapan pun aku tak akan bisa memaafkan diriku.

Maafkan aku, Denok.

Maafkan aku, Bapak.

Mungkin karena kalianlah, aku sampai saat ini masih betah melajang. Semua demi menebus kesalahan. Karena aku merasa, ini adalah penyesalan seumur hidup, menyakiti dua orang yang kusayang, hingga dalam ketiadaan dan ketidak-warasan.

-End-
profile-picture
profile-picture
profile-picture
corongalam dan 13 lainnya memberi reputasi
Halaman 1 dari 2
ceritanya masih nggantung, ya? 😀 sedang disiapkan beberapa cerpen lagi yang berhubungan dengan kisah di atas. kasih komen yang banyak yaaa 😀😀
profile-picture
mmuji1575 memberi reputasi
lagi nunggu lanjutannya nih emoticon-Toast
gelar karpet ...
Quote:


Segera ditulis emoticon-Big Kiss
Quote:


Yang lebar, yeee emoticon-Ngakak

Cinta Dalam Penyesalan

Kali ini cerita dilanjut dengan POV 3, ya ... agar bisa melihat dari seluruh sudut pandang. Cekidot 😉

----

"Mas, kata Bapak-Ibu, kamu harus cepat-cepat melamar. Kita sudah setahun jalan bersama. Tak enak dilihat tetangga, Mas. Apalagi ... kita juga satu kampung, kan? Mas tahu sendiri orang sini mulutnya bagaimana." Akhirnya tercetus sudah apa yang seharusnya diungkapkan Denok dari beberapa menit yang lalu.

Ekspresi Budi yang tadinya senyum sumringah penuh canda, sontak berubah kaget menatap gadis di depannya.

"Benar, Bapak berkata begitu?" tanya Budi, seakan tak percaya dengan apa yang baru saja didengar.

Belum sempat menjawab, Bapak Denok sudah keluar dari rumah. Lelaki manis berkulit sawo matang itu spontan terperanjat dan langsung menegapkan posisi duduknya. Tak lupa kemudian ia menunduk sambil mengatupkan kedua tangan.

Denok tahu jika teman lelakinya itu sangat takut bertatap secara langsung dengan sang Bapak. Wajah Bapaknya memang sudah begitu. Kumis yang tebal, mata dan jidat lebar, serta badan tinggi besar, ditambah lagi nada suara yang besar, membuat siapa pun yang memandang pasti terkesan ia sosok yang garang. Tapi, semua hanyalah penilaian orang dari luar, karena sebenarnya Bapak Denok adalah sosok yang sangat lembut penuh kasih sayang.

"Budi, ayo masuk!"
Bapak Denok berkata, sambil masuk kembali ke dalam rumah.

Demi rasa bakti kepada sang Bapak, gadis itu beringsut menyusul masuk. Baru beberapa langkah berjalan, ditengoknya kembali si Budi yang masih bergeming di kursi teras.

"Ayo!" Denok lalu melambaikan tangan padanya. Ada segurat rasa kecewa melihat sikap sang pujaan yang seperti tak menghargai bicara sang Bapak, sementara ini adalah pertama kalinya keduanya akan bertemu dan berbincang.

Beberapa detik kemudian, Budi akhirnya beranjak pula. Wajah lelaki itu tampak pucat, seiring dengan rasa khawatir yang menyeruak.

Akhirnya apa yang ia dengar dari mulut Denok, nyata juga terdengar di telinganya sendiri. Dengan pikiran yang begitu bingung, ia pun berpamitan pulang.

Sampai di rumah, ia ceritakan permintaan kedua orang tua Denok kepada orang tuanya, lalu si Bapak bertamu sekadar untuk mendiskusikan masalah. Namun, di situlah awal dari semua masalah yang ada.

'Denok, maafkan Mas. Mas harus pergi ke Ibu Kota mengadu nasib. Permintaan dari Bapakmu membuatku harus mengorbankan adikku Hartini untuk ditukarkan dengan seekor sapi milik Jatmika. Kau tahu, keluargaku sangat berupaya untuk menyanggupi syarat dari Bapakmu. Aku merasa berdosa jika mengorbankan banyak pihak. Kasihan Hartini, aku tak mungkin menghancurkan masa depannya. Ceritakan semua ini pada Bapakmu, dan tolong kamu tunggu Mas, ya? Mas janji segera pulang demi memenuhi permintaan calon mertua.'

Surat untuk Denok dilipatnya. Kemudian menulis surat lagi. Kali ini ia tujukan untuk keluarganya sendiri.

Seusai menulis kedua surat itu, Budi cepat-cepat mengemasi barang-barangnya. Tiga lampir baju, sebuah sarung, topi, dan satu celana, ia masukkan ke dalam tas butut bekasnya mengemban di Sekolah Menengah Pertama. Lalu, ia mengendap-endap pergi ke kamar Hartini.

"Pssssttt! Harti, sudah tidur kah?"

Pelan ia memanggil nama Hartini dari balik kelambu kamar. Tak berselang lama, Hartini menghampiri.

"Ada apa, Mas?" tanyanya, yang kemudian terkatup oleh bungkaman dari tangan Budi.

"Pssst, jangan keras-keras!" Budi menoleh ke kanan-kiri saking cemasnya. Ia kemudian masuk ke kamar sang Adik sambil mengeluarkan sebuah amplop.

"Ini surat untuk Mbak Denok. Tolong besok pagi antarkan, ya? Ingat, jangan sampai ada orang tuanya kalau kamu beri ini ke Mbak Denok. Mengerti, ya?"

Denok menerima amplop putih itu dan mengangguk. Ia sedikit heran melihat penampilan rapi kakaknya, apalagi dengan tas di punggung.

'Mau ke mana malam begini?' Ia bergumam heran.

Selepas kepergian Budi dari kamarnya, Hartini jadi kepikiran, tak bisa tidur. Rasa penasaran membawanya untuk mengambil amplop yang disimpannya di bawah bantal. Khawatir yang begitu dalam membuatnya menepis rasa takut untuk membuka amplop itu. Akhirnya, sreeekk ....

Ia pun dengan lancang membaca isi surat sang Kakak.

****

Mata Denok bulat sempurna saat membaca isi dari surat itu. Ia geram dan teramat kesal. Kedua netranya lalu mengkristal. Tak kuat menghadapi kenyataan, ia lalu menjatuhkan tubuhnya sendiri dari kursi yang ia duduki.

"Pengkhianaaaatt!" Bibirnya bergetar mengucap.

Ia remas surat di tangannya sambil terus mengumpat karena kecewa.

"Ada apa, Nduk?" Pak Sarip, bapaknya, bertanya heran karena melihat puteri semata wayangnya menangis.

Denok tak menjawab apa pun. Ia langsung menghambur ke tubuh sang Bapak dan memeluknya erat.

Beberapa jam setelah itu, kebetulan Bapak Budi datang bertamu. Ia berniat menyampaikan isi surat yang ditemukannya di meja makan pagi tadi.

Sama seperti halnya Pak Sarip, ia pun mengatakan bahwa Budi telah menuliskan sebuah surat untuk anaknya. Pak Sarip tak memberitahu isi surat itu, namun ia berkata dengan sangat marahnya, "Mulai detik ini, kuputuskan hubungan Denok dengan Budi. Dia pikir, dia siapa ... bisa mempermainkan anakku seenaknya. Aku tak menyangka anakmu seperti itu. Sudah, pergi dari sini! Jangan pernah tampakkan wajah keluargamu pada keluarga kami lagi!"

****

Sebulan setelah itu ....

"Pestanya terlihat sangat meriah, ya, Pak?" Ibu berkata lirih menatap kerlap-kerlip sinar lampu tak jauh dari pertigaan desa. Puluhan mercon dan kembang api saling menggema di langit kelam.

Bapak Budi tak berkata apa pun. Ia tercenung menatap jalanan yang tampak sepi.

Sementara di tempat lain ....

Plaakk!

Sebuah tamparan keras melayang dari tangan seorang pengantin baru. Wajah lelaki itu tampak geram menatap perempuan di depannya.

Denok menangis dengan kedua tangan memegangi pipi bekas tamparan suaminya. Dengan wajah bengis, sang lelaki kemudian berbisik lirih, "Kau tak perawan, dan kau tak mengatakan padaku sebelumnya? Biadab!"

Denok semakin meringis kesakitan kala rambutnya ditarik keras ke belakang. Beberapa benturan terjadi padanya sampai ia jatuh tak sadarkan diri.

Kurang puas melihat gadis itu terdiam, ia layangkan kembali hantaman bertubi-tubi. Ia merasa kesal, mengingat dirinya anak Pak Lurah dan diremehkan seperti itu.

"Siapa yang melakukannya, haaah? Katakan! Kenapa diam saja?"

Ucapan yang terus keluar dari mulutnya terdengar percuma. Ia tak menyadari bahwa Denok tengah pingsan.

Akhirnya, ia pergi dari kamar. Menghambur pada teman-teman Bapaknya yang sedang pesta minuman di luar. Amarahnya masih belum bisa reda. Dalam hatinya terus bergelut dengan berbagai umpatan.

'Orang tuaku memberi mahar begitu mahal untuk seorang wanita yang tak perawan, benar-benar kurang ajar! Akan kuberi kau pelajaran yang membuatmu terus ingat, bahkan sampai kau menjadi gila. Lihat saja!' ancamnya kemudian.

****

Setahun kemudian, Budi pulang juga ke kampung halaman. Ibu dan adik-adiknya begitu menyambut dengan gempita. Namun, tidak pada sang Bapak. Ia terus menghindar saat Budi ingin mencium tangannya.

"Ada apa dengan Bapak, Bu?" tanya Budi heran.

"Sudah, jangan dimasukkan hati. Ayo, makan dulu!" Ibu melepaskan jaketnya sambil menuntun Budi pergi ke dapur.

"Bu, setelah makan, aku ingin bertamu ke rumah Denok," ungkapnya tiba-tiba, membuat Ibunya tersedak saat sedang mencicipi kuah sayur.

"Ada apa, Bu? Hahaha ... kagok betul, sih, lihat anaknya yang makin ganteng ini, ya?"

Gurauan dari Budi sama sekali tak menyejukkan hati sang Ibu. Setelah mengambilkan anaknya sepiring nasi, dan menyodorkan beberapa lauk, ia lalu berkata pelan, " Denok tidak ada di rumah, Le. Dia ikut suaminya."

Jdaaarr!!

Bagaikan disambar petir, mungkin itulah yang tengah Budi rasakan.

Sementara itu ....

"Mbak Hartini, ini apa?" Astuti, adiknya yang paling kecil, menyodorkan secarik kertas yang baru saja ia temukan di wadah mainannya.

Hartini yang sedang menyisir rambut kembaran Astuti, langsung saja merebut kertas yang dimaksud. Kertas itu lalu dirobeknya menjadi kecil-kecil, kemudian dibiarkannya berserakan terbawa angin. Hatinya gemetar kaget, mengingat Budi baru saja pulang. Ia tak ingin kakaknya itu tahu jika ia tak pernah memberikan surat yang dulu.

Sedangkan surat yang diterima Denok setahun lalu, tak lain adalah tulisan tangannya sendiri.

'Denok, sebelumnya maafkan Mas. Mas menyuruh Hartini yang menulis surat ini karena Mas buru-buru mau pergi. Ketahuilah, aku belum siap menikah saat ini. Penghasilanku sebagai buruh tani pas-pasan. Kau bisa mencari yang lebih baik dariku. Begitu pun aku. Aku tak mungkin menikah dengan seseorang yang banyak syarat sepertimu. Aku akan mencari perempuan lain di luar sana yang lebih sederhana dan mengerti kondisi keluargaku. Tak usah menunggu. Aku tak akan pernah pulang.'

Ia masih ingat betul isi surat yang dikirimkan. Saking kesalnya, saking geramnya melihat keluarga Denok yang banyak syarat. Disamping itu, ia kesal menjadi pilihan keluarganya untuk dikorbankan. Tapi kini ia senang, karena berhasil menggagalkan semua rencana.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
jembloengjava dan 5 lainnya memberi reputasi
ini cerbung kah ?

Saran, kasih index sis kalo emang iya
Diubah oleh DanyMartadinata
Quote:


Makasih, Kak, sarannya. Karena part awal memakai pov 1, jadi kalau dibilang cerbung pasti rancu, gak berkesinambungan 😂
Mungkin nanti direvisi agar enak dibaca 😀
Lihat 1 balasan
Balasan post shirazy02
Quote:


yaps, mungkin memang perlu dibuat index juga,, maap loh sis hehe emoticon-Malu
Quote:


Kok minta maaf, sih 😁😁 asiiyaaaapp, makasih masukannya emoticon-Big Kiss
profile-picture
DanyMartadinata memberi reputasi
titip
profile-picture
shirazy02 memberi reputasi
penasaran, si denok kenapa jadi gila?
sayapun titip pula dehh,.....
emoticon-Cendol Gan
Quote:


Jan lupa kasih rate, gan emoticon-Jempol
Quote:


Diterima titipannya emoticon-Big Kiss
Penyesalan hiks emoticon-Mewek
profile-picture
shirazy02 memberi reputasi
Sedih baca nya min 😭
profile-picture
shirazy02 memberi reputasi
Menyedihkan sekali..
ditunggu lanjutannya gan
profile-picture
shirazy02 memberi reputasi
wah seruuu
profile-picture
shirazy02 memberi reputasi

Cinta Dalam Penyesalan (3)

Seorang perempuan berbalut selendang yang menutupi hampir seluruh wajah, berjalan menyusuri area persawahan dengan tergesa. Tangannya tertenteng sebuah rantang bertumpuk tiga yang dia bawa dari rumah.

"Bapaaaaak!"

Ia berteriak saat melihat sang Bapak berdiri di tengah sawah tak jauh dari tempatnya. Gadis itu tak berani turun ke bawah, mengingat terjalnya jalan yang dilalui dan terlihat becek di mana-mana.

Tak lama setelah itu, seorang pemuda tampak berlari hendak menghampiri. Pemuda itu menanjak ke atas dengan napas terburu.

"Disuruh ambil rantang, Mbak," ucapnya pelan pada si gadis bertudung.

Belum sempat pemuda itu menerima rantang dari sosok di depannya, bapak si perempuan berteriak keras dari bawah, "Budi, taruh saja rantangnya di situ! Nanti biar diambil bapakmu. Tolong antar anakku pulang, sekalian bawakan obat daun di kebun belakang rumah."

Pemuda bernama Budi itu hanya melongo. Sama kagetnya dengan gadis di depannya.

"Ayo, Nak. Tunggu apa lagi?" Pak Wardoyo, Bapak Budi, menimpali.

Akhirnya, Budi naik ke sepeda, diikuti gadis itu duduk di boncengan. Tanpa basa-basi, dikayuhnya sepeda itu perlahan.

Sepanjang perjalanan, keduanya hanya membisu. Budi memang tak ingin bicara karena sudah lelah merasakan kayuhan sepedanya.

"Masih jauh rumahnya, Mbak?" Akhirnya, ia membuka suara juga saat merasa lelah.

"Sebentar lagi, Mas," jawab Denok lirih.

Remaja lelaki itu tak berkata lagi. Ia terus mengayuh sepedanya sekuat tenaga. Sesekali diusapnya peluh di kening yang mengucur, lalu bergumam dalam hati, "Betapa beratnya gadis ini, padahal badannya tak seberapa gemuk."

Sementara Denok, ia hanya tertunduk malu-malu. Karena saat itulah, saat pertama kalinya ia dibonceng sepeda oleh lelaki. Ada perasaan tak enak tersendiri dan juga bingung harus berkata apa. Budi sendiri tampak acuh. Ia hanya berharap segera sampai dan menurunkan gadis itu dari sepedanya.

"Lewat jembatan ini, Mbak?" tanyanya lagi saat melihat di depannya ada sebuah jembatan yang cukup panjang.

"Belok kanan," jawab gadis itu singkat.

Budi langsung membelokkan sepedanya ke kanan jalan. Matanya tiba-tiba melotot saat melihat jalan menanjak di hadapan.

"Haduuuhh," batinnya mengeluh.

Ia menarik napas dalam-dalam, lalu sekuat tenaga mengayuh sepedanya dengan kencang.

Perempuan di belakangnya semakin tak enak hati. Ia ingin menawarkan turun, tapi bibirnya kelu untuk berkata lebih dulu.

Malang dirasa setelah itu. Ketika Budi terus mengayuh sepeda sekuat tenaga, rupanya sebuah turunan tajam nampak setelahnya. Ia tak bisa mengontrol rem. Roda terus bergilir memutar, sementara ia tak sanggup memberhentikan.

Glodak, glodak, glodak.

Denok merasa terombang-ambing di boncengan. Tangannya berpegang erat pada dudukan sepeda dengan ketakutan. Selendang yang membungkus wajahnya mulai tersibak. Suara bebatuan kecil yang bergesekan semakin memperderas arus keringatnya. Denok bertambah panik. Pun sama dengan Budi. Ia hanya bergantung pada setir yang ia pegang, sampai tak mengetahui sebuah lubang cukup besar berada di hadapannya, dan ....

Grubyaaakk!

Keduanya jatuh bersamaan dalam himpitan sepeda usang.

Saat itulah, pertama kali dua pasang netra itu saling beradu pandang. Apa lagi Budi yang melihat jelas raut wajah sosok di dwepannya. Keduanya lalu tertunduk malu.

Siapa yang tak mengenal Denok, perawan ayu anak tunggal Pak Sarip yang dijuluki bunga desa di kampung. Gadis keturunan Jawa-Belanda bermanik cokelat dengan rambut keriting menggantung kemerahan. Bibirnya merona tanpa olesan gincu, kulit putih, serta badannya yang tinggi indah bak biola, semakin menambah kharisma tersendiri untuknya.

Sejak kecil, ia banyak diwanti-wanti warga untuk dijadikan menantu. Pun saat menginjak remaja, tak hanya satu-dua orang perjaka yang berharap tanpa pasti, bahkan pria tua beristri ikut pula mendekati. Hal itulah yang membuat Pak Sarip memutuskan sekolah anaknya di tengah jalan. Di samping ingin menjaga anaknya dari gangguan para pria, ia juga berpendapat bahwa seorang anak perempuan tak perlu bersekolah tinggi, karena nantinya juga akan mengabdi di dapur mengurusi urusan makan.

Jadi selepas putus sekolah SMP, keseharian Denok hanyalah menyulam dan membantu ibunya di rumah.

"Bu, mulai besok, biar saya yang mengantarkan makan untuk buruh sawah," ujar Denok lirih.

Ibunya memandang wajah lugu itu dengan heran. Ada sekelibat pertanyaan yang ingin diutarakan, namun tak jua ia sampaikan. Ia menduga, pasti karena berboncengan dengan Budi kemarin. Tapi ia mengerti perasaan anaknya yang rindu udara luar, lalu diiyakan saja apa maunya.

"Boleh. Tapi ingat pesan bapakmu, tutup wajah pakai selendang. Jangan diumbar!"

"Iya, Bu."

Atas izin itu, hari demi hari pertemuan mereka terulang. Namun keduanya hanya sekadar bertatap tanpa menyapa. Rupanya, dua remaja itu sama-sama mempunyai rasa ketertarikan dari awal memandang. Budi sendiri baru memberanikan diri mengungkapkan perasaannya melalui sepucuk surat seminggu setelahnya. Surat itu diselipkannya ke tangan Denok sewaktu ia menerima rantang kiriman. Tulisan itulah yang kemudian membawa keduanya masuk dalam berbagai khayalan, menjadikannya semakin sering untuk janjian, serta tak sungkan untuk bertandang ke rumah masing-masing. Lambat laun berani pula mengajak main ke luaran.

Ya, semua warga sudah tahu Denok adalah milik Budi. Semua sudah mengira jika Budi yang nantinya akan menikahi. Namun nyatanya, Hermanlah yang akhirnya naik ke pelaminan. Desas-desus berbagai penilaian masyarakat pun bermunculan.

"Kau bahagia dengan pernikahan ini?" Herman bertanya sinis pada perempuan yang duduk terpojok di sudut kamar.

Matanya memicing tajam seakan ingin menerkam wanita yang tengah menangis itu.

"Tentunya kau bahagia bukan ... mendapatkan rumah yang besar, sawah yang luas, segelintir perhiasan emas, juga dua ekor sapi yang tadinya disyaratkan hanya seekor oleh bapakmu." Herman menghentikan bicaranya sejenak, mengambil sebatang rokok, dan mensesapnya.

"Dasar orang tua mata duitan. Mereka tak tahu saja anaknya seperti apa. Terlalu mahal bagiku mendapatkan rongsokan sepertimu. Cih!" Ia meludah di depan isterinya itu dengan kesal.

Pelan, matanya mulai menjelajah tubuh sang isteri dari bawah ke atas, lalu berbalik lagi. Senyumnya masih memperlihatkan rasa jijik.

"Aku baru tahu jika lelaki itu pergi saat diminta bapakmu untuk menikah. Kenapa? Apakah sebelum kau bersamanya, kau memang sudah tidak perawan?"

Denok tak menjawab. Malah semakin menangis saat Herman menyinggung tentang si Budi. Lain halnya dengan Herman, melihat tangisan yang semakin menjadi itu, ia bertambah murka. Seolah membenarkan bahwa memang Budi meninggalkannya dengan alasan Denok tak perawan. Tanpa merasa berdosa, ia lalu sundutkan puntung rokoknya itu ke dada Denok. Perempuan itu berusaha menghindar, namun laki-laki itu semakin mencengkeram lengannya, memukulnya berulang dengan tangan kosong.

"Kau pantas mendapatkan ini. Kau terlalu menghinaku. Sebenarnya orang ke berapa aku ini, haaah? Kau bisa saja perlakukan orang lain seperti ini. Tapi, tidak padaku. Aku anak Pak Lurah, dan kau diberi segalanya. Kenapa kau tak jujur sebelumnya tentang keadaanmu? Hiiiihhh!" Seperti kehilangan kesadaran, Herman langsung menendang keras punggung isterinya hingga jatuh tersungkur.

Perempuan itu bergeming seakan lelah merasakan sakit. Tak tampak lagi senggukannya, hanya bisa menatap kosong ke jajaran ubin yang masih kotor.

Perlahan, kaki lelaki itu menghampiri tubuh tak berdayanya. Ia menjongkokkan badan, lantas berkata lirih, "Tenang saja. Tak akan kubicarakan semua ini pada keluargamu. Aku tak ingin merusak hubungan baik bapakmu dengan bapakku. Kuanggap semua rahasia kita. Tapi dengan satu syarat ...."

Herman kembali menyalakan sebatang rokok dari sakunya. Mensesap, kemudian berkata, "Jangan pernah lagi pulang ke rumah orang tuamu, dan biarkan aku membawa kekasihku pulang ke sini."

Denok masih tak bersuara dan tak menggerakkan tubuhnya sama sekali. Butiran kristal yang tiba-tiba menggenang, seakan mewakili perasaannya saat ini.

****

"Denok kenapa tidak pernah pulang, ya, Pak? Ini sudah hampir sebulan." Wajah Bu Sarip terlihat cemas memandang ke arah pintu.

"Ah, ngomong apa ibu ini. Dia sudah punya rumah sendiri. Apa iya, dia harus pulang lagi ke sini?"

"Ya, bukan pulang begitu, Pak. Maksud ibu, kenapa tidak mampir sesekali?"

Pak Sarip meneguk kopi di meja sembari berkata, "Tak ada seorang anak yang lupa dengan orang tuanya, Bu. Mungkin Denok ikut sibuk mengurusi usaha suaminya."

Bu Sarip tak membalas lagi. Ia mengembuskan napas berat. Matanya tak jua lepas memandang pintu depan dengan penuh harap. Pun dengan Pak Sarip. Sebenarnya ia sama gelisahnya dengan sang isteri. Namun, ia hanya bisa menguatkan diri untuk tidak berkeluh, berharap sang isteri tak terbawa suasana hati.

"Perasaanku kok tak enak, ya, Pak. Apa tak lebih baik Denok tinggal dekat dengan kita di sini?"

"Ah, sudahlah, Bu. Dia sudah bahagia di sana. Jangan berpikiran yang tidak-tidak! Kamu hanya terlalu rindu."

Ucapan Pak Sarip sama sekali tak melegakan perasaan sang isteri. Perempuan paruh baya itu lalu beranjak dari duduk, dan menghampiri jendela samping. Rasa gundah sungguh mengalahi segalanya, mengingat Denok anak semata wayang yang setiap apapun selalu bergantung padanya, tiba-tiba lepas begitu saja dari awasan.

"Minggu depan setelah sawah kita panen, kita berkunjung ke sana membawa sekarung beras. Sekaligus untuk mengobati rasa rindumu pada anak kita," ucap Pak Sarip datar.

Lagi-lagi sang isteri tak menjawab apapun. Matanya menerawang memandang langit petang. Meratap mendung yang membungkus kilauan bintang. Sepekat nuansa hati yang tampak kelabu seperti kelamnya langit malam itu.

(bersambung)
profile-picture
profile-picture
profile-picture
jembloengjava dan 4 lainnya memberi reputasi
Halaman 1 dari 2


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di