KATEGORI
KATEGORI
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5dd4771a018e0d282b396b09/madu-yang-beracun

Madu Yang Beracun

Madu Yang Beracun

Prolog

Ivanka!

Wanita tangguh, mandiri, cantik, tapi harus mendulang kekecewaan yang mendalam saat suami yang dipercayai olehnya justru menikah, dengan alasan ingin memiliki buah hati.

Ivanka, terluka, hingga akhirnya dia bertemu dengan pria masa lalu yang ternyata mencintainya, apakah mereka akan terjebak kenangan masa lalu?

Temukan kisah menarik tentang poligami di sini.




"Dek, aku sudah menemukan tempat yang strategis untuk butik yang akan kamu kelola." Bang fadli tersenyum manis ke arahku.

"Serius, Bang?"

"Serius dong, tuh lihat aja sendiri lokasinya di hp abang. " Pria ramah berwajah, necis itu menyodorkan benda hitam persegi padaku.

"Abang, mandi dulu ya. Dek." Tanpa berkata lagi dia segera berlalu ke kamar mandi, terdengarlah suara air gemericik

"Kodenya apa, bang?" Jeritku menghalau suara keran yang berisik

"Tanggal jadian kita, Sayang." Balasnya tak kalah keras

Segera ku sentuh beberapa nomor yang selalu lekat dalam ingatku.

Tak berapa lama Segera aku berselancar ke Galeri foto sesuai yang diarahkan Bang Fadli.

Gambar bangunan cantik dengan warna cat terang tampak menggoda diantara jajaran toko-toko di sebelahnya, selera suamiku memang terbilang oke, tidak pernah mengecewakan.

Beberapa menit kemudian aku pun sibuk mengirimkan gambar itu via WA ke nomorku, sesaat sebelum mataku tertumbuk pada beberapa foto yang sontak mbuat debaran di dadaku naik ribuan kali lipat.

Nampak disana seorang wanita berwajah cukup manis dan menggoda sedang menggendong seorang bocah berumur kira-kira tiga tahun.

Sementara di latar belakang jelas mobil suamiku terparkir manis disana.

Mataku memanas, ada rasa sesak yang menjalar tak terkendali di dada ini, sejuta prasangka lebur dalam rasa cemburu yang membludak.

Hingga satu foto yang memperjelas keadaan sesungguhnya, mereka pose bertiga di atas tempat tidur, dengan raut wajah dipenuhi sejuta bahagia.

"Kau sudah kalah, Ivanka." Desisku, tak sanggup menahan bulir bening yang kini mengalir deras di pipi.

Dengan tangan bergetar ku letakan ponsel milik Bang Fadli di atas meja rias, tak ada lagi gairah untuk melanjutkan usaha yang sudah kami rintis selama belasan tahun, bahkan kini Ivanka seolah kehilangan niat untuk hidup.

"Siapa wanita itu, Bang? Apakah dia maduku?" Batinku berbisik perih

"Hey, apa kamu sakit, sayang?"

Hampir saja gelas yang kupegang terjatuh, Ketika Bang Fadli sudah berdiri dengan T Shirt hitam, dan jeans pendek, terlihat lebih casual dan menggoda bagi siapa saja yang melihatnya.

"Kayaknya aku masuk angin, Bang," ujarku pelan

"Istirahatlah, Dek, kamu terlalu banyak aktivitas," pria itu merengkuh bahuku, aroma tubuhnya sesaat melenakan amarahku, namun bayangan wanita beraut wajah menawan menghancurkan rasa itu.

"Ayo, Abang temani kamu istirahat, sekalian Abang mau ngecek laporan keuangan yang tadi siang di kirim pak Faisal." Tanpa menunggu jawaban dariku tubuh ini dibopongnya ke tempat tidur.

Tanpa merasa bersalah dia membuka laptop dan serius dengan pekerjaanya, sedangkan aku memperhatikan tingkahnya dengan sejuta tanya dan prasangka.

Tak ada yang berubah darinya, Bang Fadli tetap sama, perhatian, Romantis, sabar dan penyayang. Setiap malam pun dia selalu bersamaku, kecuali ada tugas yang benar-benar urgen, dia akan pamit padaku untuk mengecek kondisi beberapa toko kami yang berada di luar kota.

Aku menatap lekat wajah tampannya, kami memang seusia, teman saat kuliah dulu, sama-sama aktif di organisasi. Dan hal itu pula yang akhirnya menumbuhkan benih-benih cinta diantara kami.

Hingga Aku akhirnya memutuskan menerima lamaran dari pria yang hanya bermodalkan cinta saat memintaku jadi istrinya.

Sempat ditolak oleh keluarga, karena dikira belum mapan, tidak menyurutkan langkahnya untuk mempersuntingku jadi istrinya, dengan doa dan segala daya yang kami punya, ketulusan hati kami pun akhirnya meluluhakan kekerasan prinsip Ayah dan Ibuku saat itu.

Kami menikah di tahun ketiga hubungan yang kami jalani.

Dengan perjuangan yang betul-betul melelahkan, bisnis Distro yang kami kelola berkembang pesat, materipun mulai berkecukupan. Aku dan Bang Fadli berjibaku mengembangkan usaha ini, dengan tetesan keringat dan air mata.

Kami sudah 18 tahun menikah, tapi belum juga di berikan momongan, walau berbagai usaha telah kami coba, baik itu lewat dokter dan juga dengan cara alternatif, tapi hasilnya masih nihil, tak membuahkan hasil.

Kini pria, yang kuanggap sosok paling jujur, paling setia dan bisa kupercaya itu telah menghianati segalanya, janji suci pernikahan, dan ikrar yang kami sepakati sebelum pernikahan terjadi.

Walau baru hari ini aku meragukan cinta dan kesetiannya, setelah foto wanita dan balita itu ada didalamnya.

"Bang, apakah aku sudah tak layak lagi menemani hari-harimu, hingga kau harus menghadirkan sosok lain untuk mengisinya?"

Netra hitam ini kembali berair akubterisak pelan, dadaku terasa sakit, serasa ada ribuan batu besar yang menimpanya.

Namun, isak itu masih terdengar walau kututupi wajah dengan sebuah bantal.

emoticon-Peluk

Hai Agan dan Sista, ketemu lagi dong dengan aku, kini di karya terbaruku ya.

Selamat membaca, jangan lupa kritik dan sarannya.

Madu Yang Beracun

Pict by: Shopia Baequni


Bersambung.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
liaaa376 dan 9 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh shopia2005
Halaman 1 dari 3
pejwan dimari emoticon-Jempolemoticon-2 Jempol
profile-picture
shopia2005 memberi reputasi
Quote:


emoticon-Big Kissemoticon-Big Kiss
profile-picture
richie1933 memberi reputasi
Quote:


Ada brp trit ... penulis ya emoticon-Smilieemoticon-Big Grin
profile-picture
shopia2005 memberi reputasi
Quote:


Alhamdulillah lumayan, penulis amatir gan! 😀
profile-picture
richie1933 memberi reputasi
masih anget, lanjut sis
profile-picture
shopia2005 memberi reputasi
Quote:


emoticon-2 Jempolemoticon-Jempol
profile-picture
shopia2005 memberi reputasi
Post ini telah dihapus oleh Kaskus Support 06
Quote:


Siap 86
profile-picture
richie1933 memberi reputasi
great storyy, lanjutt dongg emoticon-Toast emoticon-Wow
profile-picture
shopia2005 memberi reputasi
Semangat menulis ...!
profile-picture
shopia2005 memberi reputasi
Quote:


Siap 86 emoticon-Ngakak
profile-picture
akhmadfauzi844 memberi reputasi
Quote:


Thankiuh emoticon-Kiss

Terluka 💔

Madu Yang Beracun


"Kelihatannya hari ini kamu sangat lelah, dek." Aroma harum tubuh Bang Fadli begitu lekat, sesaat wajah tampan itu mencium leherku mesra.

"Sarapanlah dulu," ujarku singkat, sambil merapikan sarapan pagi di meja.

"Dek, hari ini abang mau nganter ibu cek kesehatan untuk persyaratan haji, ya."

Bang Fadli mengecup dahiku lembut. Hanya anggukan yang kuberikan

"Jangan lupa istirahat, kalo abang malam ini tidak pulang, telpon saja Salma untuk nemenin, Adek." Bola hitam itu menatapku penuh rasa khawatir.

Lagi, anggukan itu ku berikan.

"Tapi hari ini Abang ke Toko dulu kan? " aku berusaha agar nada suaraku tak berkesan menyelidik.

"Iya, Sayang, nanti sore abang baru kerumah ibu, baik-baik di rumah ya." Tangannya menepuk bahuku.

Dia mengecup dahiku seperti biasa, tapi rasanya kini tak seperti hari kemarin. Hambar.


Setelah Bang Fadli pergi, segera kutelpon ojek online yang biasa mengantarku takkala rasa bosan menyetir mendera.

Kaca mata hitam, jacket serta masker kupakai hari ini untuk menyamarkan penampilan yang mungkin saja bang Fadli akan menyadarinya.

Laksana detektif professional aku mengikuti mobil suamiku yang bergerak menuju toko kami, namun tak berapa lama kulihat bang Fadli kembali keluar dengan mobilnya.

Naluriku sebagai istri benar adanya, hari ini dia akan menemui perempuan simpanannya itu.

Darahku mendidih seketika.

Kulihat Bang Fadli berhenti di depan gerbang sebuah rumah yang terbilang mewah, tak lama kemudian ada seseorang yang membuka gerbang itu untuknya.

Gigiku gemerutuk menahan emosi yang sudah naik ke ubun-ubun.

Aku mengajak tukang ojek untuk lebih mendekat.

Dari sela gerbang, kulihat suamiku menggendong bocah yang Fotonya kemarin kulihat, mereka begitu terlihat bahagia.

Penuh canda dan gelak tawa ketiganya masuk kembali kedalam mobil, mungkin suamiku menjemputnya untuk menemui orang tuanya? Ataukah mengantar ibu cek kesehatan hanya alasannya saja?

Yang jelas mata ini sudah tak kuat lagi menyaksikan pemandangan yang begitu menorehkan luka mendalam.

Bulir bening menjadi saksinya, Ivanka, wanita tangguh ini harus merebah pasrah dengan penghianatan seorang lelaki yang dulu meluluhkan hatinya.

Kutepuk bahu abang ojek untuk segera berlalu dari sana, dunia begitu pekat, seolah tak ada lagi hal yang bisa membuatku merasa masih ada nyawa dalam raga hampa ini.

Sakit, tak terperi, yang tidak bisa lagi kuungkap dengan untaian kata, hanya sesak dalam dada, perih di relung hati. Semuanya menyatu seolah membenturkan ku pada ketidak percayaan diri yang sesungguhnya.


🌸 🌸 🌸

Sesampainya di rumah aku berkaca, kutatap wajah sembab tirus ini.

Tubuh kurus, wajah pucat yang kumiliki, memang kurang memikat, apalagi aku termasuk perempuan yang tidak begitu suka dengan hal yang berbau perawatan diri.

Kesibukan mengurus bisnis keluaraga seolah melenakanku, terlebih selama ini Bang Fadli tidak pernah mengeluhkan penampilanku yang seadanya.

Aku bahagia saat dengan kesuksesan bisnis ini, aku bisa membantu perekonomian keluarga suamiku, satu demi satu adik-adik Bang Fadli berhasil kami kuliahkan.

Tahun ini pun kami berencana memberangkatkan kedua orang tunya pergi haji.

Tapi kini, semua perjuangan itu telah dilupakannya, pria tampan itu memilih wanita lain untuk memuaskan nafsunya.

Wanita berkulit putih, dengan riasan sempurna, serta seorang anak yang bisa membuktikan jika dia memang wanita yang sesungguhnya.

"Serendah inikah cinta dimatamu, Bang? "

Kemana Fadliku yang dulu? Fadli yang rela di caci maki keluarga hanya demi seorang Ivanka.

Fadli yang selalu ada untuk mengusap tetes air mata istrinya. Lelaki yang namanya tak henti kuucap pada doa di setiap sujud terakhir dalam sholatku.

Pria yang setiap kusebut namanya selalu menimbulkan getar-getar cinta di dada.

Mataku tertumbuk pada sederet kosmetik yang jarang kupakai, mungkin hanya pelengkap meja rias ini saja.

Kuraih lipstik, bedak, maskara dengan kasar.

Laksana orang gila aku berdandan penuh angkara, kutaburkan bedak di pipi dengan kasar, lipstik pun kuoles di bibir sembarangan, hingga wajah ini tak berbentuk lagi

Aku menangis, meraung histeris dalam kesendirian, kutumpahkan emosi ini pada bayangan tak bermakna.

Semakin menggila saat bayangan keluarga bahagia itu kembali melintas di mata basah ini.

Akhirnya aku rebah dalam pasrah, berlumur tangis dan duka. Hanya Tuhan yang tau betapa hati ini tak terima ketulusan hati dan cinta telah di sia-sia olehnya.

Allahu Akbar.

Allahu Akbar.

Mengapa tak kau cabut saja nyawa ini agar sakit ini tak bisa kurasa lagi?

Madu Yang Beracun

Pict by: Shopia Baequni

Quote:


emoticon-Kiss

Jangan lupa cendolnya Gan! emoticon-Ngakak

Bersambung.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
richie1933 dan 4 lainnya memberi reputasi
Lihat 1 balasan
ijin senderan di marihhh ya Sis......



mantep nih cerita'aa... ayooo semangat dilanjut Sis???
profile-picture
shopia2005 memberi reputasi
Quote:


Terima kasih emoticon-Kiss
Quote:


Boleh kakakemoticon-Kiss
Wah ht terus nih tritnya dek sopiemoticon-Genitemoticon-Genit
profile-picture
profile-picture
robin.finck dan shopia2005 memberi reputasi
Balasan post shopia2005
dilanjut sis
profile-picture
shopia2005 memberi reputasi
Quote:


Iya dung emoticon-Ngakak
profile-picture
corongalam memberi reputasi
Halaman 1 dari 3


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di