KATEGORI
KATEGORI
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5dd27c6b018e0d6489170ace/rekan-kerja

Rekan Kerja

Rekan kerja

Prolog

Pesan terakhir almarhum Ayah Dani kepada mantan rekan kerjanya, membuat Dani keterima kerja di sebuah perusahaan benefit dengan cuma-cuma. Namun, ada suatu kesalah pahaman yang membuat ia selalu bersitegang dengan Rian, rekan kerjanya satu bagian. Setiap hari selalu saja ada masalah di kantor. Tak hanya itu, ia juga terjebak dalam hubungan rumit bersama teman semasa kuliahnya. Sementara di lain sisi, ia tak sengaja menaruh hati dengan calon tunangan Rian. Akankah Dani mampu melewati semua godaan itu?

Rekan Kerja adalah sebuah cerita (nyata) yang menceritakan perjuangan seorang anak muda bernama Dani (nama disamarkan). Sosok pendiam, penyabar, tapi kepeduliannya sangat tinggi. Ia merasa bahwa dirinya adalah pengaruh utama yang bertanggung jawab atas keluarganya. Segala hiruk-pikuk kehidupan dan masalah yang terjadi di sekitarnya tak luput selalu menjadi beban pikiran, tapi ia selalu tegar bagaimanapun keadaannya, karena ia merasa harapan dan kebaikan selalu ada di setiap jalan.

Cerita ini sangat menarik dan kupastikan kalian akan selalu terbawa untuk mengikutinya, karena jalan ceritanya lain daripada yang lain. Yuk, cekidot!


INDEKS
Spoiler for .:



(Part 1)

Mataku masih tak beralih memandangi Bobi, ponakanku yang berumur setahun itu. Dia berjalan tertatih-tatih mengejar kupu-kupu yang beterbangan. Ibunya, yang tak lain adalah kakakku, berjalan dibelakangnya sambil mengomel tiada henti. Yaaa, baru sebulan ini Bobi bisa jalan. Caranya melangkah lucu sekali.....

Tiba-tiba, dari dalam rumah ibuku berseru memanggilku dengan terburu-buru. Ditangannya tergenggam sebuah ponsel milik ayah.

"Dan, Dani... Ayo diangkat cepat! Atasan ayah telpon..."

Atasan? Bukannya ayah sudah pensiun setahun yang lalu. Kira-kira ada urusan apa?

"Angkat aja lah,bu... Mungkin mau ngucapin bela sungkawa. Kan, baru sebulan ayah meninggal..,"ucapku.

"Ayolaaahh, angkat! Ibu takut gak bisa ngomong."

Akhirnya, dengan gugup kucoba mengangkat telpon darinya.
"Hallo!" seruku.

Kami mengobrol sepuluh menitan.

Intinya, pak Dika memintaku datang ke kantor besok. Aku bingung dan heran, ada apa aku disuruh ke kantor?
Karena paksaan dari ibu, akhirnya aku memutuskan menemuinya keesokan harinya.

****

Kulangkahkan kakiku menyusuri koridor, menuju bilik ruangan paling pojok. Aku hafal betul ruangan ini, karena aku sudah pernah magang jaman kuliah dulu. Ayahku yang dulu memintaku magang ditempat ini. Dia berharap aku bisa meneruskan bekerja disini sepertinya, di sebuah pabrik kertas benefit di kota kami. Alasannya selain dekat dengan rumah, gaji pun sudah jelas jika karyawan. Selain itu pabrik ini memang memberi fasilitas tunjangan cukup menarik.

Ketika mau memasuki ruangan Pak Dika, sontak mataku tertuju pada tembok disebelahku. Terlihat foto almarhum ayahku terpampang jelas pada bingkai ukuran 10Rs itu. Dibawah bingkai foto itu bertuliskan "SUJIWO-Supervisor Gd.PM 09"
Wajah ayahku paling terlihat khas dengan kumis tebalnya, berjajar dengan beberapa puluh foto disampingnya.

Aku begitu heran, Ayahku bukan lagi supervisor di pabrik ini, kenapa fotonya masih saja dipasang? Bahkan foto teman-teman yang lainnya sudah berganti dengan posisi Spv yang baru.

Belum lama aku memandangi foto almarhum ayahku, Pak Dika sudah menegurku dari dalam ruangannya. "Hei kamu yang di depan pintu! Kenapa terus berdiri disitu?"

Seketika aku langsung mengetuk kecil pintu ruangannya, kemudian kulangkahkan kakiku pelan masuk ke dalam.

"Oohh, kamu ... yang saya telpon kemarin, ya? Anak Pak Sujiwo?" Pak Dika beranjak dari kursinya menyambutku.

Kusalami tangan pak Dika seraya memperkenalkan diri, "saya Dani, Pak."

"Ya,ya, ayo duduk!"

Aku mengambil duduk disebuah kursi didepannya.

"Heeeemm, kamu anak pak Sujiwo?" tanyanya lagi dengan raut wajah seperti tak percaya.

"Ya, Pak. Benar," kujawab tegas omongan dari pak Dika. Wajahnya manggut-manggut menatapku. "Kamu yang baru wisuda bulan kemarin itu,kan? Yang besoknya ayah kamu meninggal?"

"Ya, Pak. Benar."

"Hem,yaaa yaaa...." Pak Dika beranjak lagi dari tempat duduknya, mengambil sebuah buku bersampul hitam tebal dari rak dibelakangnya. Dia buka halaman pertama, lalu menyodorkannya padaku.

"Itu kenangan foto-foto ayah kamu semenjak bekerja disini, banyak. Saya merasa baru kemarin ayah kamu berpamitan berhenti kerja, kok tahu-tahu sudah meninggal. Kena apa?" tanya Pak Dika sembari lebih mendekatkan wajahnya padaku.

"Saya kurang tahu, Pak. Ayah saat itu sedang melayani pembeli di toko. Saya tak tahu persis kejadian ayah saya jatuh didalam toko itu, tahu-tahu ketika saya masuk, saya sudah menemukan ayah saya jatuh sekarat."

"Lho? Memang ada riwayat penyakit apa? Jangan-jangan jantung?"

"Kemungkinan vertigonya kambuh,Pak. Kami sekeluarga telat menolong."

Pak Dika kembali manggut-manggut. Dia berpangku tangan sembari menyandarkan punggungnya dikursi duduknya.

"Ya sudah, saya sedikit mau cerita ... jadi, seminggu sebelum ayahmu wafat, dia telpon saya. Dia bilang kamu mau wisuda, lalu dia titipkan kamu pada saya...." Pak Dika menghentikan bicaranya sejenak, sambil memungut album didepannya,lalu membuka-bukanya.

"....sebenarnya saya nggak bisa asal nerima karyawan seperti ini. Tapi karena ini amanah terakhir beliau, dan saya yakin ... kamu menuruni sifat tegas seperti bapak kamu, jadi....., kamu besok kesini ya, berpakaian rapi. Seragam ayah kamu masih ada,kan? Dipakai saja!"

"Lho, Pak? Maksudnya ... saya bekerja disini?" Mataku membelalak seolah tak percaya dengan berita yang barusan kudengar.

"Iya. Kamu besok mulai kerja. Sudah, belakangan saja lamarannya kalau kamu tak sempat, yang penting kamu masuk dulu."

Mataku berbinar mendengar perkataan dari pak Dika. Ini benar-benar kejutan di pagi hari!
Tanpa banyak pertimbangan, keesokan harinya aku pun masuk jam delapan pagi berseragam lengkap sesuai yang diminta.

Sungguh keberuntungan bagiku. Disaat semua berlomba-lomba mengikuti tes agar bisa masuk di perusahaan benefit ini, aku malah dengan mudahnya bisa langsung bergabung sebagai karyawan. Aku ingat pesan ibuku, agar selalu bisa bekerja dengan baik, berteman dengan semua karyawan dengan baik, menunjukkan kinerja yang baik, dan bisa menjaga tata tertib perusahaan dengan baik. Aku tahu, semua ini karena almarhum ayah. Kalau bukan karena ayah, tak mungkin aku bisa segampang ini masuk perusahaan.

Di saat briefing, pak Dika mulai mengenalkanku pada beberapa karyawan yang lain. Kemudian aku ditunjuknya sebagai admin, dan di training oleh salah seorang admin lawas bernama Rian.

Rian....
Yaa ... aku mengenalnya. Dia juga tetangga desaku. Umurnya selisih dua tahun diatasku. Ayahnya pun bekerja di perusahaan ini, namanya pak Heri. Pak Heri dulu juga teman satu bagian almarhum ayah. Dia juga seorang supervisor.

Kuikuti langkah santai Rian menuju sebuah ruangan. Dia menyuruhku masuk lebih dulu.

"Ruangan ini khusus admin. Nah adminnya kita berdua. Itu tempatmu!" Rian menunjuk sebuah meja di paling belakang.

"Terima kasih," ucapku.

"Jangan duduk disana dulu! ambil saja kursinya, bawa kemari! Lihat caraku bekerja disini, kalau sudah paham baru kerjakan dimejamu," tukasnya.

Tanpa menjawab, segera kuambil kursi duduk di meja belakang, dan meletakkannya disamping kursinya.

Rian mulai mengoperasikan komputer, seraya menunjukkan berkas-berkas di mejanya.

"Ini berkas sebelum di input, kamu ambili dulu dari beberapa gudang yang kamu pegang. Kamu bawa motor yang disediakan, jangan lupa pake helm keselamatan warna kuning yang ada diluar itu!" ia menunjukkan sebuah helm yang seperti helm pekerja proyekan.

"Cara nginputnya gini...." ia mulai mencontohkan dengan secarik kertas yang dipegangnya.

Aku mengamati dan memahami setiap penuturan Rian dari awal sampai akhir.

"Sudah, kamu kerjakan berkasku dulu. Kan, belum dibagi sama Pak Dika, kamu megang gudang mana saja...." ucapnya lagi sembari menyodorkan setumpuk berkas setebal kira-kira seratus halaman lebih itu ke tanganku. Lalu dia beranjak dari duduknya seraya berucap, "aku tinggal dulu."

"Lho, Mas? Ini harus selesai hari ini?"

"Nggak harus. Kalau kamu sanggup ya lebih bagus, sih."

Seusai berkata begitu, Rian pergi berlalu dari ruangan.

Kupandang tumpukan berkas di tanganku kali ini. Sebanyak ini mana mungkin selesai dalam satu hari?

Kuoptimiskan diriku sendiri bahwa 'aku bisa!' Akhirnya kupungut secarik kertas didepanku, dan mulai mengerjakan tugas.

-----

Jam istirahat...

"Siang, Mas...."
Suara seorang lelaki tua paruh baya menegurku dari belakang. Ia mengambil duduk disebelahku sambil meletakkan bekal makannya yang terbungkus kertas minyak itu.

"Podo mbontote, Mas. Enak masakane bojo (sama bawa bekalnya, Mas. Enak masakan istri)" Lelaki itu terkekeh padaku seraya membuka bekal yang dibawanya.

"Ya, Pak. Lebih hemat juga," balasku.

"Sampean anak pak Wo, ya?"

"Pak Sujiwo."

"Lah, nggih.... Itu maksud saya. Orang di gudang semua manggilnya pak Wo,Mas. Eh, tapi wajahnya kok beda, ya?"

Aku tertawa lucu mendengar ucapan bapak itu. Memang, wajahku tirus,sama seperti ibuku. Hidungku juga mancung. Kalau ayah hidungnya pesek, wajahnya kotak, menurun ke kakak perempuanku.

Lelaki paruh baya itu menceritakan tentang sosok ayahku yang disegani para anak buahnya. Caranya ayah bekerja, yang tak disukainya apa, dan banyak yang lainnya. Sepertinya peran ayahku penting bagi yang lain, sehingga mereka semua merasa kaget dan kehilangan saat ayah meninggal.

Tiba-tiba, bapak paruh baya ini menghentikan ceritanya. Lalu menunjukkan seorang anak buahnya yang kebetulan lewat didepan kami.

"Itu tuh, si Bambang. Bocah ndablek! Banyak banget bikin kesalahan tapi dibelain terus sama pak Wo. Semua anak segudang gak ada yang suka, banyak mengeluh karenanya, tapi pak Wo selalu membelanya."

Aku terdiam sejenak memandang pria berwajah tirus dengan banyak jambang tak beraturan diwajahnya. Kali ini aku lihat sendiri pria bernama Bambang itu. Ya, aku sering mendengar namanya dari ayah. Ayah menilainya ... dia seseorang yang sebenarnya pekerja keras. Hanya saja hutangnya banyak diluaran sana yang membuatnya malas bekerja. Dia hampir di PHK, tapi ayah terus membelanya.

"Begitulah nak, kalau salah langkah sedikit, semuanya hancur. Hutangnya banyak, rumah tangga berantakan, kerja seperti apapun tetap terasa malas nggak ada semangat. Karena apa? Karena dia merasa gajinya kurang untuk menutup hutang. Makanya jangan sekali-kali mengenal judi, narkoba, ataupun bermain-main perempuan!" Aku ingat betul nasehat ayah saat itu.

Kulihat ID card yang tergantung dileher bapak sebelahku itu. Membaca namanya. Syaiful.

"Saya tadi lihat anaknya pak Heri asyik merokok, Mas." Pak Syaiful menghentikan bicaranya, melempar kertas minyak pembungkus bekalnya tepat ke lubang kotak sampah.

"Ealah, Mas ... yang sabar satu bagian sama Mas Rian. Mentang-mentang anaknya pak Heri, kerja sak enak'e dewe, (kerja seenaknya saja)" ungkapnya lagi.

Hmmmmm....
Seperti itukah? Aku tak seberapa akrab mengenalnya di rumah. Tapi kebanyakan temanku memang berkata, dia anak yang sombong. Karena merasa anak orang kaya, bicaranya selangit.
Aahh, kalau cuma masalah gaya bicaranya, aku tak terlalu memedulikan. Itu sudah karakter, dan aku tak selalu mengambil hati setiap perkataan orang yang terasa aneh.

Sorenya, aku pulang dengan badan yang begitu lunglai. Hari pertamaku bekerja sungguh capek luar biasa. Tak hanya duduk di depan monitor, tapi juga pergi kesana kemari mengambil berkas dari satu gudang ke gudang yang lain, yang tak cukup sekali jalan. Terkadang ikut memeriksa truk besar masuk menurunkan barang mentah, memeriksa kode barcode, dan lain lain. Sebenarnya tugasku tak serumit ini, tapi Rian berkata, Pak Dika yang memintaku seperti itu. Sekalian menghafal lokasi gudang A,B,C bagianku. Serta agar mengetahui proses keluar-masuknya barang.

Malam ini kuistirahatkan total badanku, setelah ibu dan kakakku menginterogasiku dihari pertama masuk kerja. Tak pakai mandi,tak pakai ganti seragam, langsung kupejamkan mataku kala itu juga....

****

Pukul 08.30 WIB

Tak terasa sudah sebulan aku bekerja di perusahaan ini. Begitu senangnya saat aku menerima gaji pertamaku kemarin.
Dan itu kupastikan pertama kalinya aku pegang uang sebanyak itu.

Kuhidupkan tombol on/off komputer didepanku. Sembari menunggu, kubuka dompetku, mengambil secarik foto. Ini foto terakhirku bersama ayah saat aku wisuda. Difoto itu ada pula ibu, kakak perempuanku dan kedua anaknya.

Aku tersenyum memandang mereka yang difoto. Kuselipkan foto itu dimeja kerjaku yang bertumpuk dengan kaca tebal. Wajah kedua orangtuaku terlihat tersenyum di foto itu, seolah bahagia.

Lantas kualihkan pandanganku kembali pada monitor.

Aku memilah-milah berkas di atas meja. Menyendirikan berkas yang sudah kuinput dan yang baru kuterima.

Tak lama Rian masuk ke ruangan. Matanya terus menatap ponsel yang dimainkannya. "Gimana? Sudah kau kerjakan sampai mana?" tanyanya sambil terus menatap ponselnya.

"Yang kemarin hampir selesai, Mas. Ini aku juga mau ngerjain yang baru kuambil."

Lelaki berkulit putih itu berjalan ke arahku, menarik posisi monitor menghadap kepadanya.

"Ini tanggalnya rubah saja! Pakai tanggal kemarin." Rian mulai menggerakkan mouse. Mengganti angka 14 menjadi 12 di kolom yang menunjukkan tanggal.

"Emang gak apa mas, kalo nggak sama dengan yang di form?"

"Siapa yang mau lihat berkas segitu banyaknya? Yang pasti dilihat itu langsung dikomputer," jawabnya enteng.

Aku diam.

Rian kembali ke meja kerjanya, sambil menyalakan rokok. "Sudah, kerjakan!"

Kupandang wajahnya sepintas. Sedari awal aku bekerja, dia hanya menyerahkan berkas-berkasnya padaku. Yang dilakukannya hanya menatap ponsel, main game online berjam-jam. Berkas yang di mejanya hanyalah kamuflase untuk mengelabuhi pak Dika atau pak Heri yang muncul tiba-tiba. Jika pekerjaanku sudah selesai, baru dia menukarkan berkasnya itu dengan milikku.

Aku merasa dia menjadikanku budak!

Ah, sudahlah! Aku ingat omongan kakak perempuanku. Yang namanya kerja pertama, wajib disuruh-suruh. Apalagi disuruh yang mentraining kita. Ini hanyalah sementara. Ini tak kan lama....

"Gimana, Mas ... kerja satu bagian sama Mas Rian?" tanya Pak Syaiful padaku.

Beginilah, setiap jam istirahat pak Syaiful selalu mendekatiku, bertanya-tanya.

Aku tersenyum dan berkata, "biasa saja, Pak."

"Sing betah, Mas. (yang betah, Mas). Dia memang suka mentang-mentang karena ada bapaknya disitu."

"Nggih, Pak..."

Kami tak lagi bercerita. Fokus melahap makanan masing-masing.

Seusai makan dan minum, aku langsung balik ke ruanganku.

Betapa kagetnya aku saat menemui Pak Dika sudah berada disana dengan raut wajah seperti kesal.

"Siang, Pak." Aku menyapanya sembari tersenyum.

"Sini, Mas!" Pak Dika melambaikan tangan padaku, yang akhirnya membuatku menghampirinya.

"Mas, kalau kerja itu yang jujur! Kalau di form ini bertanggal sekian,ngetiknya juga tanggal sekian. Tolong ya, ini sama saja melimpahkan kesalahan sama orang gudang. Saya dari kemarin marah-marah lo sama supervisornya. Saya pikir mereka yang lelet, ternyata samean yang gak bisa kerja dengan benar!"

"......." Aku tak bisa berkata.

"Kerja pertama kedua, nginput molor gak masalah bagi saya, Mas. Ini kan udah sebulan, ya? Coba kontrol diri sendiri, Mas. Misal berkasnya ada seratus lembar, paling tidak selesai dua hari. Samean kan kerja berdua,Mas ... masa' satu orang pegang tujuh gudang saja kerja sampai lima-enam hari?"

Aku menunduk. Bingung. Bagaimana bisa aku menjelaskan kalau selama ini yang bekerja hanyalah aku. Sementara Rian sibuk dengan hapenya.

"Mas Rian training samean bagaimana, Mas? Apa memang tanggalnya disuruh ngerubah?"

Tiba-tiba, omongan pak Dika membuatku tersentak. Baru mau membuka mulut, Rian datang membuka pintu. Matanya masih awas dengan ponsel ditangannya, ia tak mengetahui ada Pak Dika didepannya.

"Mas Rian!" tampaknya suara dari Pak Dika membuatnya kaget luar biasa. Dia segera menyaku hapenya dan menghampiri.

"Saya curiga dari awal, sudah saya duga kalau Mas Dani ini bekerja sendirian...." Pak Dika menghentikan bicaranya sejenak, beranjak dari kursi dan menghadapkan posisi berdirinya diantara kami.

"Kalau Mas Dani tak bekerja sendiri, mana mungkin dia bisa lelet seperti ini! Telat kirim form, mana dia sampai mengganti tanggal dikomputernya. Ckckck...." Pak Dika menggeleng-gelengkan kepala menatapnya.

Seketika keringatku mulai bercucuran dingin. Sekilas kutatap Rian memicing sinis padaku.

"Bagaimanapun kau yang salah! Mentraining bukan berarti melimpahkan kerjaanmu padanya. Bukannya sudah saya bagi, kamu pegang gudang mana saja? Kerjaan itu dikerjakan Mas Dani sendiri, jelas saja dia tak sanggup!" Suara Pak Dika mulai meninggi.

"Ayo, kamu ke ruangan saya! Saya panggil pak Heri juga!"
Seusai berkata begitu, Pak Dika pun pergi berlalu.

Wajah Rian mulai memerah. Ia menatapku awas, nafasnya memburu kesal.

"Awas kau!" Ancamnya kemudian.

Dia lalu pergi meninggalkan ruangan.

Kini tinggal aku sendiri didalam ruangan. Kutelan ludahku pahit.
Wah, rasa-rasanya bakal meledak ini....

(bersambung)
profile-picture
profile-picture
profile-picture
edsixteen dan 23 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh shirazy02
Halaman 1 dari 23
Amankan page 1
..
Ijin baca, ceritanya bagus gan
emoticon-Shakehand2
profile-picture
shirazy02 memberi reputasi
Quote:


Ahhhh kalah cepet...
profile-picture
profile-picture
shirazy02 dan corongalam memberi reputasi
Quote:


Hahaha,
Gak papa gan, asal masih di halaman depan
emoticon-Ngakakemoticon-Ngakak
profile-picture
shirazy02 memberi reputasi
ditunggu lanjutannya gan 😆
profile-picture
shirazy02 memberi reputasi
detail sekali pak ceritanya
emoticon-Toast
profile-picture
shirazy02 memberi reputasi
mantul gan... lanjuttt...
profile-picture
shirazy02 memberi reputasi

Rekan Kerja (part 2)

"Kok pulang telat, Dan?"

Mbak Diah berseru menghampiriku, sambil menggendong Bobi. Dia coba membukakan pintu pagar.

Aku langsung masuk memarkirkan motorku, melepas helm dan jaket.
"Ketemu Yanto tadi di jalan, Mbak. Mampir ngopi," jawabku.

Kulangkahkan kakiku masuk kedalam rumah. Sampai diambang pintu, Kinara, anak sulung Mbak Diah sudah tegap berdiri menghadangku. Dia ulurkan sebuah kaleng minuman padaku.

"Aduh, baik betul ponakan Om," seruku sambil meraih minuman itu dari tangannya.

"Bukain, Om! Jangan diminum!" Suara lirih gadis berumur lima tahun itu membuatku spontan kaget.

"Eh, maaf...."

Kubukakan kaleng minuman yang ternyata larutan anak rasa jeruk itu. Lalu kuberikan kembali padanya.
Kemudian Kinara berlari pergi sambil bersenandung.

Aku mengurungkan niat memasuki rumah. Langkahku melenggang menduduki kursi yang ada diteras. Kuhela nafas berat dengan pandangan lurus kedepan. Lalu kunyalakan sebatang rokok, sambil menyelaraskan kedua kakiku pada kantong meja didepanku.

Pikiranku mengambang. Aku tak sanggup menerka apa yang terjadi di ruangan Pak Dika kala itu. Lebih tak enak lagi karena Pak Dika ikut memanggil Pak Heri bersamanya. Jelas ada perang kata antara ayah dan anak saat kembali kerumah.

Bahkan pagi tadi, Rian sama sekali tak mau bicara padaku. Gara-gara kejadian kemarin itu, dia pun tak mau memalingkan mukanya padaku. Kami bekerja di satu ruangan bagaikan patung. Dia tak pernah membuka mulutnya, apalagi aku. Sudah kucoba menyapanya dan mengajak bicara, jawabannya singkat-singkat. Bahkan saat aku mencoba menjelaskan padanya mengenai Pak Dika kemarin, ia memilih keluar meninggalkan ruangan.

Sungguh ini tak nyaman buatku!

"Haduuuhh, kebiasaan arek iki! (kebiasaan anak ini!) Mbok ya ganti baju sana, langsung mandi. Baumu itu lo." Ibu berseru mengagetkanku dari balik pintu.

Aku tak merespon ucapannya. Masih asyik menikmati rokok.

Bobi yang sedang berjalan kearahku, cepat-cepat ditarik mbak Diah lalu digendongnya kembali. "Om bau rokok. Masuk yuk, mainan sama kakak," bujuknya sambil melangkah pergi.

Tinggal aku berdua dengan ibu saat ini.

Ibu mengambil duduk disampingku. Matanya menatapku dalam. "Kenapa,Le? Kayaknya dari kemarin kamu gak ada semangat."

"Aku tak enak hati, Bu. Rian salah paham denganku."

"Salah paham kenapa?"

"Pak Dika memergokinya mainan hape saat jam kerja. Sebenarnya tak masalah bermain hape. Cuma dia kemarin masuk ngeloyong langsung, tanpa melihat pak Dika ada ditempat kami. Mana hampir lima menit Rian asyik dengan hapenya tanpa memandang kami berdua...."

"Ealaaaah ... lah trus, apa hubungannya kok kamu jadi nggak enak? Kan, ketahuan sendiri dia."

"Panjang, Bu. Ibu sudah kuceritakan bukan, kalau dikantor Rian suka berlagak seperti bos?"

"Ya, trus salahnya di kamu apa?" Ibu mengernyitkan dahi, semakin penasaran.

Akhirnya kuceritakan kejadian kemarin siang pada ibu. Bahkan cerita kuflashback kembali dari hari-hari sebelumnya, hingga cerita hari ini bagaimana sikapnya terhadapku.

Kusandarkan punggungku ke kursi sambil melempar puntung rokokku ke halaman.

"Sepertinya kamu kerumahnya saja, Lee ... kamu jelaskan padanya kalau kamu tak pernah menjawab sepatah katapun omongan pak Dika," usul ibu kemudian.

"Ah, gak perlu. Itu hanya akan memperburuk keadaan. Aku slow sajalah ... semua orang dikantor tahu, kok, bagaimana sikapnya."

"Ibu khawatir kamu dikantor terus-terusan begitu, Le. Tak ada salahnya main kerumahnya, bicara jadi lebih leluasa. Kamu cari tahu padanya dulu, Pak Dika ngomong apa saja ke dia. Lalu keluarkan semua uneg-unegmu...."

"Ah, ngelantur ibu ini mikirnya! Ngapain aku ngorek-ngorek tentang omongan Pak Dika padanya? Nanti dia mikirnya yang enggak-enggak," sahutku seraya beranjak dari duduk.

"Aku tidur saja, Bu. Aku capek."

Seusai bicara begitu, aku langsung ngeloyor masuk rumah.

****

Keesokan harinya....

Adzan dzuhur selesai berkumandang. Kutengok jam dinding dari balik pintu kamarku. Aah, begitu pulasnya tidurku dari semalam, membuatku malas beranjak bangun.

Kuhampiri jendela kamar dan menyibak sedikit gorden. Mataku memicing silau. Panas banget siang ini!

Kutarik pelan celana kerjaku dari tumpukan baju di almari. Tak lupa mengambil seragam yang tertenteng pada hanger, lalu kuraih handuk yang terpasang digantungan belakang pintu. Bergegas menuju kamar mandi.

"Seger'ee om, bubuk'e.... (segernya om,tidurnya....)" Kinara menyapaku dari meja makan. Kubalas sapanya dengan senyum.

Selesai mandi dan berganti baju, cepat-cepat kususul Kinara dari meja makan.

Kubalik piring yang tadinya tengkurap rapi di depanku. Segera mengambil nasi.

"Ayo, balapan sama om makannya. Daritadi dikunyah mulu gak ditelan-telan..."

Kinara hanya tersenyum mendengar ucapku.

"Le, hari ini bekalnya ibu belikan saja,ya? Kinara pesen tuh, ayamnya jangan boleh dimakan sama Om," tukas ibu sambil berjalan kearah dapur.

Kupandang Kinara sambil melancipkan bibirku. "Aduuuh, jahat bener ponakan Om," godaku dengan nada merengek.

Kinara masih senyum-senyum memandangku.

Kuhampiri ibu didapur. "Bu, gak usah mbontot wis... (gak usah bawa bekal) Aku beli di warung belakang kantor saja. Murah... Sepuluh ribu sudah sama es teh plus satu batang rokok..."

"Lho? Emang lauk apa kok murah..."

"Aaah, lauk ala kadarnya, Bu ... yang penting ngganjal perut."

"Oalah, yawis terserah...."

Ibu menerima piring yang baru kusodorkan. "Makan seberapa kamu,Lee? Kok cepet?" tanyanya bingung.

Aku tersenyum, berlalu meninggalkan ibu.

"Aku kunyah kok, Bu. Gak asal telen," jawabku setengah berteriak, sambil terkekeh melirik Kinara yang masih saja bergelut dengan piring didepannya.

Kuraih tas pinggang dari atas sofa, mengambil kontak motor, lalu bergegas pergi ngantor.

****

Jam menunjukkan pukul 13.50 WIB, Kuambil langkah cepat masuk ke dalam kantor. Buru-buru segera ceklok. Selesai ceklok kemudian masuk keruanganku.

Disana, kudapati Rian didalam ruangan dengan muka masih masam menghadap ke monitor. Aku cuek tak menggubris. Tak lagi kusapa dia,langsung nyelonong menduduki mejaku.

Hari ini aku mulai kerja shift. Jika Rian masuk pagi, maka jadwalku siang. Begitu pula sebaliknya. Tapi kami bertemu dikantor selama empat jam. Saat aku masuk kerja jam dua siang, maka dia menunggu jam lima untuk ceklok pulang.

Kuhidupkan layar komputerku. Sembari menunggu komputer siap, kuluangkan waktuku membersihkan meja kerja. Mataku tiba-tiba terpaku pada sebuah stiker yang tertempel di atas meja paling pojok. Stiker bertuliskan enam deret angka acak, seperti sebuah sandi.

"Mas, apa ini, ya?" Kuberanikan juga membuka mulutku pada lelaki berwajah jutek itu.

Rian menoleh sekilas, lalu kembali manatap monitor didepannya. "Nomer." Ia menjawab singkat.

"Iya, maksudnya nomor apa?"

Rian bergeming. Agaknya dia tak mendengar kataku,  baru saja disumpalnya kedua telinganya dengan headsheet.

Kuhela nafas panjang. Beginikah seorang rekan kerja itu? batinku.

Kucoba alihkan suasana dengan melangkah keluar ruangan. Mengambil salah satu helm kuning di loker helm, lalu kulajukan motor kantor menghampiri setiap gudang bagianku.

Sampai di gudang PM12, gudang terakhir yang kuhampiri, kulihat Pak Hernoko sudah berada didepan menyambutku. "Monggo,pak Dani," serunya seraya menyerahkan beberapa lembar form padaku.

Kuterima berkas itu dari tangannya, lalu menjadikannya satu pada sebuah map.

"Maaf, Pak Dani ... saya mau menanyakan tentang masalah data yang dikomputer itu. Kok bisa salah tanggal ya, Pak? Waaah, saya dimarahin Pak Dika habis-habisan."

"Mohon maaf, Pak. Semua salah saya. Lain kali tidak akan saya ulangi." Kuanggukkan pelan wajahku pada sosok supervisor yang berkuasa di gudang itu.

"Iya, Pak. Saya bisa maklum. Lahwong saya yang kerja puluhan tahun saja kadang ada kekeliruan, Pak. Semoga tak terulang lagi ya, Pak?"

Kuanggukkan kepalaku lagi sambil tersenyum. Kemudian berpamitan pada pak Hernoko untuk kembali ke kantor.

Kulajukan motor dengan sedikit cepat. Berharap segera menyelesaikan kerjaku tepat waktu.

Sampai depan kantor, tak sengaja aku berpapasan dengan Pak Heri, ayah si Rian.

"Pak...." Kusapa lelaki yang seumuran almarhum ayahku itu dengan tersenyum.

"Ya," jawabnya datar tanpa menolehkan wajah sedikitpun padaku.

Aku menelan ludah menatapnya. Sudahlah ... bapak dan anak sepertinya sedang tak enak hati padaku.

Tanpa banyak omong, segera aku masuk keruanganku sembari kembali menata berkas-berkas yang baru kuterima.

Sejauh kami bekerja, kami benar-benar saling diam. Aku tak mau membuka omongan lagi padanya kalau tak penting. Karena aku tahu ... seperti apapun aku mengutarakan ucapan padanya, tak akan mungkin dia bisa enak menjawab omongku.

Setidaknya aku bersikap masa bodoh!

Jam menunjukkan pukul 17.00 WIB..
Rian mulai mengemasi barangnya. Kupandang sejenak lelaki itu. Aaah, lama-lama kok ikut kesal melihatnya. Kualihkan kembali pandanganku pada monitor.

Lelaki bertubuh jangkung berkulit putih itu kemudian pergi meninggalkan ruangan.

Akhirnya tinggal aku sendiri...

Kurang setengah jam lagi rehat. Semakin kukebut kerjaku dengan pasti, agar nanti saat rehat aku bisa lebih bersantai.

Akhirnya tinggal separuh form yang kukerjakan! Aku bisa bernafas lega....

Mulai hari ini kutargetkan setiap hari harus selesai input semua berkas!

------------

Jam istirahat....

Kulangkahkan kakiku gontai menuju sebuah warung yang cukup ramai di sebelah parkiran. Disana kulihat Pak Syaiful dan Pak Johan sedang duduk berhadapan sambil tertawa-tawa.

"Hei, Mas Dani!" Pak Syaiful melambaikan tangannya padaku.

Kubalas tegurannya dengan mengangkat tangan kananku. Tetap berdiri didepan ibu penjual nasi, mengantri makanan.

Akhirnya aku menerima nasi pecel dan sebatang rokok dari mbak penjual. Kusaku rokok itu, seraya beralih mengambil teh yang sudah berjajar rapi dimeja samping.

Setelah itu kulangkahkan kakiku menghampiri meja Pak Syaiful.

"Dungaren mboten mbontot, Pak? (Tumben tak bawa bekal, Pak?)" tanyaku sembari melempar senyum ke Pak Syaiful.

"Hoalaaahh, masaknya saja dari pagi, kok dibuat mbontot? Makan malemnya udah gak seger, Mas..." jawabnya sembari ngikik memandang Pak Johan.

Aku tersenyum, mulai melahap makanku.

"Shift-shift'an yaa sekarang, Mas?" pak Johan bertanya padaku.

"Nggih, Pak."

"Enak wis, gak ketemu arek mlete."

Ucapan pak Johan membuatku tertawa spontan.

"He, Mas ... habis ada masalah sama Mas Rian, ya? Kok, denger-denger Pak Heri juga habis dipanggil sama pak Dika." Kali ini Pak Syaiful bertanya.

Aku mengangguk sambil menjawab,"masalah salah paham saja kok, Pak."

"Lhooo, awas! Semua berawal dari salah paham, ujungnya salah kaprah. (ujungnya salah semua) Wahahahaha...."

Kami bertiga kembali tertawa.

Kuhabiskan semua makanan dipiringku, meminum teh sedikit, sembari menyalakan rokok.

"Lah wong dikasih rokok, kok, gandengannya es teh? Gak cocok nggih, Mas?" Pak Syaiful menyikut kecil lenganku.

"Nggih, Pak," jawabku sambil tersenyum.

Kulirik didepan Pak Syaiful ada dua gelas teh dan juga dua cangkir kopi.

"Waaah, pesen kopi sendiri, Pak?" tanyaku.

"Yaiyalah... Gak doyan teh aku, nggarai anyang-anyangen. (membuat susah kencing) Wahahahah...." Pak Syaiful tertawa kencang. Disusul Pak Johan dengan tawa meremnya.
Yaaa, Pak Johan seperti orang cina. Kecil putih pawakannya, matanya pun sipit. Jadi kalau tertawa merem. Lucu sih, lihatnya....

"Lah, iki penadahe es tehku! (lah, ini penadah es tehku)" Lagi-lagi Pak Syaiful tertawa sambil menunjuk Pak Johan.

Aku tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala melihat keduanya.Lalu kutarik sebuah tisu didepanku,menyeka mulut. "Balik dulu, Pak," pamitku pada kedua lelaki paruh baya itu.

"Lho, jam berapa sih, Mas? Ayo santai dulu."

"Nggih, lain kali." Kuanggukkan kepalaku pelan sebagai ganti permisi.

Tanpa menunggu ucapan mereka, segera kulangkahkan kakiku pergi.

Sampai didepan ruanganku,
kubuka pintu perlahan. Mataku mendapati Pak Heri sedang ada didalam ruangan menduduki kursi anaknya.

Wajahnya memandangku sekilas, lalu beralih pada komputer didepannya.

Kulangkahkan kakiku menghampiri mejaku. Kemudian duduk menatap monitor.

Kugerakkan mouse, sambil membuka secarik form didepanku.

"Gimana kerjanya, Dan? Krasan?" tiba-tiba suara pak Heri mengagetkanku yang sedang menginput.

"Alhamdulillah, Pak."

"Selagi kerja gak cari muka, pasti lah krasan," ucapnya lagi.

Aku terhenyak mendengar bicaranya. Apa maksudnya cari muka?

"Maaf, Pak ... yang dimaksud cari muka itu apa?"

"Cari muka, ya, ngathokk istilah jawanya. Kamu jelas paham tanpa bertanya."

Kali ini aku diam tak berkata. Aku seketika tak konsentrasi menatap komputer didepanku.

"Kalian kerja satu bagian, harusnya yang rukun! Gak usah ngathokk! Kerja itu cari uang, nggak cari muka."

Seusai bicara begitu, Pak Heri berdiri dari duduknya. Tanpa berkata lagi, ia langsung meninggalkan ruangan.

Lengkaplah sudah. Anaknya sewot, bapaknya pun ikut sewot.

Seharusnya mungkin ini kesempatanku bercerita pada Pak Heri tentang kejadian yang sebenarnya. Tapi, sudahlah ... aku tahu bagaimana perangainya. Semua warga desa pun tahu, mereka sekeluarga sama saja. Saling membela satu sama lain meskipun salah. Jadi tak perlu aku bersusah-susah menjelaskan. Karena bagaimana pun, tetap dia dipihak anaknya.

Kuhela nafas berat sambil menatap monitor dengan pandangan kosong.

Mungkin seharusnya aku mengalah saja, daripada gak enak terus-terusan begini ....

(bersambung) Terinspirasi dari kisah nyata. Kasih cendol dan komen yang banyak, ya!
Makasih sudah mengikuti ceritanya 😊
profile-picture
profile-picture
profile-picture
edsixteen dan 24 lainnya memberi reputasi
emoticon-Big Kiss
bakal ht ini emoticon-Cendol Gan
dramaknyaaa kerennn nih... intriknyaaa... kaya hidup gitu deh critnya... ternyata terinspirasi dr kisah nyata... nicee..
lanjuuuuttt gaannn
Keren! Gaya berceritanya kyk penulis pro,enak d ikuti.
Btw ane pernah ada d posisi kyk tokoh utamanya itu,dan sumpah gak enak banget..
Keren cara ceritanya. Setiap kalimat konsisten menggambarkan emosi yang terbangun.
Bisa untuk inspirasi nulis nih
Salam kenal gan
Numpang nyimak
up lanjutkan
seru dilanjut mas
Mantap
thanks, ya ... monggo dilanjut bacanya 😊
profile-picture
edsixteen memberi reputasi

Rekan Kerja (true Story, Part 3)

Hari ini aku mandi lebih pagi dari biasanya. Tak sedang terburu-buru berangkat kerja, aku hanya ingin menyibukkan diriku menjaga toko. Semenjak bekerja, aku tak pernah lagi membantu ibu mengurus toko. Sepertinya barang di etalase dan rak hampir kosong. Saatnya kulak barang.

Kulangkahkan kaki gontai menuju toko. Kulihat, Mbak Diah sudah menyapu teras depan sambil menggendong Bobi.

"Hei, hei, Bobi ...." Kupanggil bayi yang baru bisa berjalan itu sambil menjentikkan jari ke arahnya.
Bobi hanya melongo memandang, ekspresinya yang lucu membuatku tengah menahan tertawa.


"Eh, Mbak ... sudah dicatat belum,yang habis apa saja?" tanyaku pada Mbak Diah.

"Ya. Itu kutaruh laci. Minyak rem yang besar tambahin satu dus, sama jari-jari TDR coba lihat lagi barangkali ada yang nipis!"

Kubuka laci seperti pesan mbak Diah. Mengambil secarik kertas berisi daftar barang belanjaan, lalu memeriksa kembali jari-jari TDR seperti yang dibilang.

"Eh, Dan! Jangan lupa bearing klaker ... coba cek yang habis nomor berapa," pesan Mbak Diah lagi.

Aku mengangguk pelan.

Beginilah aktivitasku dulu sebelum bekerja di pabrik kertas. Selain sibuk kuliah, aku ikut sibuk mengurus toko onderdil bersama almarhum Ayah.

Setelah toko kami jalan empat tahunan, pada saat itulah Mbak Diah pulang kerumah. Suaminya sedang bermasalah, yang Mbakku sendiri tak tahu pucuk masalahnya itu dimulai dari kapan. Tahu-tahu masalah melebar tak karuan, membuat mobil Mbak ikut terjual karenanya. Semua harta Mbak Diah pemberian dari kedua orangtuaku habis karena ulah suaminya. Kini sang suami merantau entah kemana, kala anak bungsu Mbak Diah masih berumur empat bulan. Ah, bisa dibilang 'minggat' lah.

Belum lama setelah Mbak Diah pulang ke rumah,berkumpul bersama kami, terjadilah insiden Ayah tengah sekarat hingga nyawanya tak terselamatkan. Hanya dalam waktu sebentar saja Ayah berkumpul bersama anak perempuannya ....

Ah, benar-benar sedih jika diingat .... Entah sudah berapa lama Ayah tengkurap dalam keadaan seperti itu, sedih telat menolongnya. Ah, tapi kukembalikan lagi, mungkin memang sudah digariskan umur beliau tinggal segitu.

"Cepetan perginya, Dan! Antrinya pasti banyak ... ntar kamu telat istirahatnya sebelum ngantor," pesan Mbak lirih.

Aku kembali mengangguk.

"Oke, aku pergi," seruku, sambil berjalan keluar toko.

Baru mau menghidupkan motor, terdengar suara dari ponselku. Nada deringnya menandakan sebuah telpon masuk.
Kuambil ponsel segera dari saku celanaku. Adel rupanya ....

"Assalamuallaikum, kok gak pernah kasih kabar?" Suara perempuan di seberang sana terdengar menggerutu.

"Wa'alaikumsalam ... hei, hallo! Nanti kutelepon balik, ya? Aku mau jalan, nih ...."

"Jalan ke mana?"

"Ini ... mau ambil barang dagangan."

"Oke, kalau sudah di tempat langsung calling."

"Siap!" Aku tersenyum bersemangat,sambil mematikan telepon dan menyaku kembali ponsel. Tak menunggu lama, kustarter motorku, kemudian menarik gas pelan melaju ke jalanan ....

Gadis yang menelponku itu ... ia Adel! Cewek berjilbab yang cantik dan humble. Aku menyukainya. Sepertinya dia pun sama. Tapi, kami tak jauh hanya sebatas teman semasa kuliah dulu.

Adel ... dia pernah bilang, kalau ia tak terlalu memikirkan pacaran. Dia mau yang langsung menikah, dan itu pula yang membuatku mundur perlahan mendekatinya. Bukan berarti aku tak niat menjadikannya serius. Hanya saja ... aku belum berpikiran bisa membimbing dia saat itu. Apalagi dalam posisi masih kuliah! Namanya saja anak kuliahan, yang diandalkan hanya uang dari orang tua.

Kuparkir motorku persis di depan toko grosir onderdil. Tanpa basa-basi, langsung kulangkahkan kaki menuju ke salah seorang karyawan yang ada di depan. Menyodorkan secarik kertas daftar barang, kemudian mengambil duduk di salah satu kursi tunggu.
Lantas, cepat-cepat kuambil ponsel dari saku. Mau apa lagi kalau tak untuk menelepon Adel ....

"Assalamuallaikum." Suara di seberang sana menyapa.

"Wa'alaikumsalam. Hai, Del!"

"Eh, kamu. Gimana kabarnya? Semenjak lulus kuliah tak lagi hubungi aku ... lupa, ya?" Gadis itu masih terdengar menggerutu.

Aku tersenyum seraya menjawab,"enggak lah, Del..."

"Eh, denger-denger Ayah kamu baru meninggal. Kok, gak ngabarin?"

"Heeeemm, Ayahku meninggal di sini. Rumah kamu melesat di sono. Gak enak ah, nyusahin teman jauh."

"Yeeee, jelas kudu bilang, laaah! Oh ya, kamu udah kerja?"

"Iya, sudah. Kamu?"

"Lagi nunggu panggilan, nih. Kamu kerja di mana?"

"Di sini, deket rumah."

"Di pabrik apa di mana?"

"Ya, di pabrik. Jadi buruh pabrik,hehehe."

Gadis di seberang telepon tak lagi bersuara.

"Hallo, Del? Masih di situ?"

"Ya, bentar. Lagi benahin bros jilbab ini," sanggahnya.

Lagi-lagi diam.

"Eh, Dan ... kapan ke Surabaya? Ngumpul, yuk!"

"Heeeemm, terserah. Liburku Sabtu-Minggu. Oh, ya ... ijazahnya keluar kapan? Udah ada kabaran belum?"

"Belum. Bulan depan mungkin."

"Oohh ...."

"Eh, Dan... Udahan, ya? Mau nemenin ibu pergi. Teleponnya nggak dari tadi,sih."

"Oh, oke ... kututup, ya?"

"Jangan lupa kabar-kabar, ya! Awas, lho!"

Aku tersenyum sambil berucap,"Assalamuallaikum ...."

Gadis di ujung telepon membalas, Walaikumsalam ... diikuti dengan suara 'nut nut nut' pada akhirnya.

Adel ... Adel ....
Aku tersenyum seketika mengingatnya. Dia gadis anak orang kaya yang low profile. Aku selalu kagum karenanya. Cara dia bersikap, cara dia berbicara, caranya berpenampilan yang biasa-biasa saja, dan lagi ... pola berpikirnya sangat kritis. Dia terlalu dewasa di usianya yang tergolong masih muda. Menurutku, sih ....

Aku selalu suka tutur katanya, caranya bercanda, kalau ngambek apalagi. Ha ha ha ....
Kita dulu teman dekat, bisa di bilang sangat dekat. Karena kedekatan kami dululah, aku merasa sangat nyaman bersamanya. Kukira dia juga punya perasaan yang sama. Semua terlihat dari sikap perhatian dan cerewetnya mengatur yang kadang melebihi batas. Tetapi, sampai detik ini, kami tak pernah saling mengakui ...

"Wooeeii, Mas!"

Lamunanku seketika buyar, saat kulihat lambaian seorang montir lewat tepat di depan muka.

"Pagi-pagi udah ngelamun, Mas. Tuh, dipanggil Mbak kasir dari tadi." Mas montir menunjuk seorang kasir yang berada paling ujung.

Aku langsung tersenyum malu sembari berjalan menghampiri si Kasir.

"Berapa semua, Mbak?"

****

"Om, Om ... bangun!" Suara lirih Kinara mencoba membangunkanku yang masih terlelap.
Aku menggeliat lemas. Perlahan membuka mata.

"Lho, lho? Om ketiduran disini ...."

Aku terkesiap, beranjak sambil mengucek pelan kedua mata.

"Huuuu, bilangnya mau nungguin toko. Habis kulak, tahunya ngorok! Untung Mbakmu cepat kesini," cibir Ibu, diikuti gelak tawa kecil Mbak Diah. Membuatku ikut tertawa saking merasa konyol.

"Jam berapa, Sayang?" Kucubit kecil pipi kiri Kinara.

Gadis yang rambutnya mengombak itu hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Masih terus tersenyum ....

Akhirnya, kupilih menilik jam dari ponsel. Eh, tahu-tahu ada notif telepon masuk. Empat panggilan tak terjawab dari Pak Dika!
Ingin kutelepon balik, ternyata keburu ada SMS masuk duluan.

'Dani ... tolong kamu langsung ke ruangan saya nanti setelah ceklok'

Deg!

Haduuuuhh, ada apa ini? Tiba-tiba saja aku berubah panik.

****

Kupercepat langkah kaki, berjalan memasuki kantor. Setelah ceklok dan meletakkan tas, aku sedikit berlari menuju ruangan pak Dika yang berada di paling ujung. Langkahku kemudian terhenti tepat di depan ruangan itu. Sekilas menatap foto almarhum Ayah yang terpampang jelas di depan ruangan.

Dengan perasaan sedikit was-was, aku pun mengetuk kecil pintu ruangan pak Dika, lalu membukanya ....

"Ayo, duduk!"

Tanpa menjawab omongan Pak Dika, segera kuambil duduk di sebuah kursi yang ada di depannya.

"Gimana kerjanya selama ini? Apa yang kamu rasakan?" tanyanya padaku.

"Alhamdulillah, Pak. Saya betah dan senang bergabung dengan perusahaan ini. Setidaknya menambah wawasan saya, Pak."

"Oke ... kamu sudah paham kinerja admin seperti apa?"

"Ehm ... sudah, Pak."

"Truuuss, kamu tak melakukan kesalahan lagi, kan?"

Aku sedikit mengernyitkan dahi. "Ehm ... sepertinya tidak, Pak. Saya bekerja sesuai yang diperintahkan, dan diajarkan sebelumnya."

"Yakin?" Wajah Pak Dika semakin didekatkan padaku, membuatku jadi panik sendiri.

"Sepertinya saya tak melakukan kesalahan, Pak. Bisa dicek," jawabku yakin.

Pak Dika lalu memiringkan komputer didepannya. Sedikit membungkuk,sambil berucap, "coba lihat!"

Kuamati jelas tampilan layar yang tertera.

"Sudah sadar salahmu di mana?" tanya pak Dika lagi sambil mengangkat kedua alisnya.

Aku tak menjawab. Kembali meneliti monitor disamping kananku dengan heran.

"Sepertinya tak ada yang salah, Pak. Ehm ... maaf, Pak! Kalaupun ada yang salah, tolong beritahu saya ... karena saya masih bingung salahnya ada di mana?"

"Ckckck!" Pak Dika menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Daniiii, Daniiii ... percuma kamu kemarin ceklok! Sama saja kamu kemarin tak kerja. Ini program komputernya setelah nginput langsung naik ke atasan lho, ya! Jadi, staff accounting dan yang lainnya pasti juga tahu. Untung pagi tadi saya iseng lihat kerja kamu."

"Ehm ... maaf, Pak. Saya masih tak mengerti."

Pak Dika kembali duduk sambil menghadapkan komputernya persis di depanku.

"Kamu lihat angka ini! Ini kode Rian yang masuk. Bukannya kamu sudah saya kasih kode sendiri kemarin di meja kerja kamu? Kamu ini lupa, atau kamu memang sengaja gak menggubris omongan saya?"

Mendengar omongan pak Dika, spontan aku teringat sebuah stiker bertuliskan beberapa angka yang tertempel di meja kerjaku.

"Pak, mohon maaf. Pak Dika menempelkannya saya belum berada di kantor. Saya sudah bertanya pada Mas Rian, lalu ...." Aku menghentikan bicaraku sesaat.

"Lalu apa? Dia nggak jawab kalau itu kode adminmu?"

Aku menelan ludah garing. Harus kujawab apa ini? Kalau aku menyebutkan dia lagi, pasti bertambah lagi masalah yang ada ....

"Hei ... kok diem? Mikir apa?" Pak Dika bertanya lagi padaku dengan geramnya.

"Ehm, tadi saya mau bilang apa? Lupa, Pak ...."

Kulihat wajah pak Dika semakin memerah, nampaknya semakin kesal.

"Kamu itu kerjanya sebenarnya cepat, tapi otak kamu yang lambat! Kalau temanmu sudah bilang padamu, simpan disini!" Pak Dika menunjuk kepalanya sendiri, dengan mata tak lepas menatapku kesal.

"Sekarang kalau orang atas tahu ... kamu masuk kerja, tapi yang kerja dikira orang lain, saya mau bilang apa? Kalau saya cerita yang sejujurnya, malah saya yang kena. Karena saya masukin orang tolol macam kamu ...."

Aku kembali menunduk. Hatiku rasanya tak enak kali ini. Pak Dika terlihat sangat berapi-api.

"Sudah. Kembali ke mejamu! Aku tak mau kamu buat kesalahan lagi ...."

Aku mengangguk kecil mendengar perintah pak Dika. Tak menunggu perintah lagi, kemudian kulangkahkan kaki pergi meninggalkan ruangan.

Sampai didepan pintu, lagi-lagi aku terpaku. Melihat bingkai berisi foto mendiang Ayahku. Pandangan terasa samar manakala air mata menumpuk di kedua kelopak. Kubelalakkan mata lebar-lebar, menahan jatuhnya buliran bening yang tak ingin kutampakkan. Hati seketika bergemuruh begity kesal.

Baru kusadari, aku lelaki ... tapi, aku tak bisa tegas begini. Kesal bukan karena sakit hati dimarahi Pak Dika, melainkan kesal karena aku merasa telah mengecewakan almarhum Ayah.

Ayahku yang dulunya di pabrik ini disegani, malah aku anaknya yang sekarang di-cap suka membuat ulah ....

Kudorong perlahan pintu ruanganku. Kulihat wajah lelaki itu mendongak sombong. Rian kali ini menatap sinis, seraya memperlihatkan senyum nakalnya.

Kuberanikan diri menghampirinya. Tepat berdiri pas didepannya.

"Mau apa?" tanyanya dengan ketus.

"Kenapa kemarin tak bilang kalau nomer itu ternyata kode adminku?"

"Lho? Kamu tanya, sudah kujawab, kan, kalau itu nomer? Angkanya saja sudah kelihatan enam digit. Luasin dikit lah penalaranmu, itu nomer apa," jawabnya santai. Masih dengan senyum sinis.

Hatiku semakin kesal dibuatnya. Tangan langsung mengepal, ingin sekali memukul lelaki itu. Pelan, kutarik napas panjang, lalu beristighfar. Merasa lebih baik, lantas kuurungkan juga niat burukku memberinya pelajaran.

Tanpa membalas perkataannya, kulangkahkan kaki kembali, menduduki kursi tempatku.

Kunyalakan komputer dengan jari yang tak bersemangat.
Mata lalu tertuju pada foto yang terselip dimeja kerjaku.

Ayah, Ibu, aku, dan kakak beserta kedua anaknya. Ayah yang kini tiada, dan tinggallah ibu serta Mbakku ... dua orang perempuan yang sama-sama tak ada yang memberi nafkah.

Aku harus kuat. Aku harus lebih bersemangat ... karena aku sadar, disini aku adalah seorang tulang punggung ....

(bersambung)
profile-picture
profile-picture
profile-picture
edsixteen dan 14 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh shirazy02
nih bocah...gw kasih tau..dunia kerja tuh kyk apa.
1. hidup lo..lo yg tanggung sendiri. di atas kaki lo sendri.
org lain ga punya andil apa2. semua tergantung sma lo bro.
2. semua pasti ingin baik baik aja..tp kadang ada keadaan yg memaksa tuk fight
3. idup selalu ttg pilihan. dlm kasus lo,lo yg milih ancur krna ngalah atau dia yg ancur buat survive lo
4. Parabellum kalau kata john wick artiny kalau mau damai,maka bersiap berperang. lo paham lah mksdnya apa dlm kasus lo ini.
5. gausah takut. selama lo bnar..gakusah takut..mau sma rian kek..pak heri kek..krna kalau lo takut..lama2 kesalahan akan jadi sebuah pembenaran.
6. dunia kerja itu sikut menyikut..injak menginjak..cari muka..selamatkan dri sendri.
so,fight for ur self. kalau emang perlu cari muka buat selamat. do it..!!
7. dunia kerja itu dunia survival. brpvbyk org yg mau lakukan apa aja buat sebuah pekerjaan..buat kebutuhan. yg terkuat yg menang.

cerita gw malah lbh pait lagi. di tumbalkan oleh serikat pekerja. di tndang management.krna di paksa ikut shit mayday. kecelakaan. lalu di tndang perusahaan.tnpa sdkit pun di bela oleh serikat pekerja di PT gw.
damn..
gw belajar dr itu semua.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
oke.oce dan 5 lainnya memberi reputasi
dunia kerja sma drngan khidupan sma drngan survival : yg kuat yg bertahan..yg lemah mati di mangsa yg kuat..
baik itu bukan brarti diam dan trima srmua tnpa perlawanan. ente muslim kan. kalau kyk gtu Rasulullah.ga akn ada yg namanya perang.
ada waktunya kita jadi malaikat..ada waktuny jadi iblis
profile-picture
profile-picture
profile-picture
oke.oce dan 2 lainnya memberi reputasi
Halaman 1 dari 23


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di