alexa-tracking
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Tech / ... / Taman Bacaan CCPB /
Orang2 yg selamat dr pertempuran sebelumnya.
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5dc56e4c349d0f59ce272d0e/orang2-yg-selamat-dr-pertempuran-sebelumnya

Orang2 yg selamat dr pertempuran sebelumnya.

Tubuh Tio terhempas saat sebuah jurus dari Nyi Demit Ireng Menghantam tubuhnya.
"Sebaiknya kali ini kau menyerah, percuma terus melawan, kau akan kubiarkan hidup sebagai budakku," kata Nyi Demit Ireng. Senyum kejinya mengembang lebih lebar lagi. Tio bangkit dengan menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya akibat hantaman jurus Nyi Demit Ireng. Ia tak akan menyerah, walaupun harapan menumbangkan Nyi Demit Ireng begitu tipis.Lebih baik ia terus melawan ketimbang menyerah dan menjadi budak Nyi Demit Ireng. Dengan begitu ia akan mati dengan terhormat, seperti apa yang telah diajarkan ayahnya selamai ini.  Dalam menghadapi peperangan, kata menyerah pantang untuk diucapkan.
"Aku tak akan menyerah, Tapak Malaikat Menggempur Raga!"kata Tio melepaskan sebuah jurus ke arah Nyi Demit Ireng yang telah siap menangkis serangannya.
"Halilintar Menyambar Semesta!" Kedua jurus itu berbenturan di tengah-tengah udara. Duar! Tio menyerang lagi Nyi Demit Ireng dengan sebuah jurus yang berbeda. Tapi Tio kalah cepat.  Nyi Demit Ireng berhasil menangkisnya lagi, dan dengan cepat menyerangnya dengan sebuah jurus yang tak ia kenal. Nyi Demit Ireng  dengan cepat mengarahkan kedua tangannya ke depan.Dan melakukan sebuah gerakan seperti seseorang yang meremas sambil membaca sebuah mantra sihir. Tiba-tiba saja Tio merasakan sakit luar biasa pada tubuhnya. Ia merasakan ada kekutan besar yang berusaha meremukan tulangnya. Sementara itu, Nyi Demit Ireng terus mengucapkan sebuah mantra sihir sambil kedua tangannya terus melakukan gerakan meremas. Tio kian menjerit. Ia merasakan ajalnya segera tiba. Namun samar-samar sebelum semuanya menjadi gelap, ia mendengar sebuah suara.
"Kepak Rajawali Menggempur Bumi! Kemudian semuanya menjadi gelap.
Sementara itu, Gea dan Egi serta lima pendekar asing itu terus melawan para balongso yang menghalangi langkah mereka menuju pintu keluar gua. Mereka tiba-tiba saja kaget saat mendengar langkah kaki menuju ke arah mereka.
"Tio!" kata Gea kaget  saat melihat Tio yang pingsan sedang dibopong oleh salah seorang pendekar.  Para pendekar yang baru datang itu kemudian menyuruh mereka berlari.
"Ayo cepat, rintangan gaib yang kubuat hanya mampu menahan Nyi Demit Ireng sementara waktu saja," kata pendekar yang berusia kira-kira tujuh puluh tahun. Mereka kemudian telah sampai di mulut gua.  Cahaya matahari menyinari wajah mereka. Gea dan Egi menekan tombol di atas pelipis kanan mereka. Kacamata yang menutupi kedua mata mereka lenyap. Mereka pun kini dapat melihat dengan nyaman karena sinar matahari tidak membuat mereka silau. Kini mereka berada di hutan. Mereka dapat melihat beberapa ekor kuda yang ditambatkan di pohon, tak  jauh di depan mereka. Beberapa pendekar kemudian menutup jalan masuk gua dengan cara meluncurkan beberapa jurus yang menyebabkan langit-langit gua runtuh dan menutupi jalan masuk ke gua.Mereka kemudian naik ke atas kuda. Dengan mudah Gea naik ke atas kuda dan duduk di belakang seorang pendekar wanita. Ia baru menyadari bahwa pendekar wanita itu sebaya dengannya. Wajahnya bulat lonjong, matanya bulat, hidungnya sedikit mancung, dan rambutnya yang panjang dibiarkan tergerai. Pendekar itu bernama Ningsih.
Sementara itu, Egi duduk di belakang seorang pendekar laki-laki yang usianya kira-kira sebaya dengan kakaknya. Wajahnya bulat, hidungnya sedikit mancung, matanya agak sipit, dan rambutnya yang panjang ia gelung. Tadi ia sempat kesulitan untuk naik ke atas kuda. Dengan senang hati, Rangga, begitulah nama pendekar itu, membantunya untuk naik ke atas kuda.
Di samping Egi, duduklah di atas kuda, Tio dengan seorang pendekar laki-laki yang berumur kira-kira tujuh puluh tahun. Pendekar laki-laki itu tadi sempat memberi Tio ramuan yang membuatnya kemudian sadar.
Para pendekar itu kemudian memacu kuda mereka masing-masing, dan bersamaan dengan itu mereka mendengar suara ledakan. Nyi Demit Ireng berdiri di depan mulut gua. Ia berhasil menyingkirkan batu-batu yang menutupi jalan masuk menuju gua. Ia kemudian mengangkat kedua tangannya seperti seseorang yang sedang dalam posisi menyambut. Mulutnya komat-kamit seperti mbah dukun merapalkan mantra sihir. Tiba-tiba saja sesuatu yang mengerikan terjadi. Pohon-pohon di hutan yang mereka lintasi saat ini hidup. Para pendekar kemudian melepaskan jurus ke arah akar para pohon yang berusaha memangkak ( menjegal) kaki kuda mereka. Akbat serangan ini, mereka terpisah. Sebuah akar pohon berhasil memangkak kaki kuda yang ditunggangi Egi dan Rangga. Mereka terlempar dan masuk ke dalam sungai di tepi hutan. Sungai itu memilik kedalaman tiga meter. Rangga membantu Egi yang ternyata tidak bisa berenang, menuju ke tepi sungai. Sesampainya di tepi sungai, keduanya terbatuk-batuk , air menyembur dari dalam  mulut mereka. Sementara itu, kuda yang mereka tunggangi telah lari meninggalkan mereka.


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di