alexa-tracking
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / News / ... / IDNTimes /
Mengenal Rohana Kudus, Wartawati Pertama Bergelar Pahlawan Nasional
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5dc49f3ec9518b32ab505483/mengenal-rohana-kudus-wartawati-pertama-bergelar-pahlawan-nasional

Mengenal Rohana Kudus, Wartawati Pertama Bergelar Pahlawan Nasional

Mengenal Rohana Kudus, Wartawati Pertama Bergelar Pahlawan Nasional

Jakarta, IDN Times - Jurnalis perempuan pertama asal Sumatera Barat, Rohana Kudus, mendapat gelar Pahlawan Nasional 2019.

Hal itu tertuang dalam surat undangan dari Kementerian Sosial Republik Indonesia Nomor 555/3/PB/.05.01/11/2019 tertanggal 7 November 2019.

Surat yang ditujukan kepada Gubernur Sumatera Barat itu berisi perihal undangan kehadiran pada acara Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional tahun 2019 di Istana Negara, Jumat (8/11).

Yuk kenal lebih dekat dengan sosok Rohana Kudus Pahlawan Nasional yang baru disahkan

1. Rohana Kudus lahir dari keluarga jurnalis, kerabat tokoh MinangMengenal Rohana Kudus, Wartawati Pertama Bergelar Pahlawan Nasional
Rohana Kudus lahir di Koto Gadang, Kabupaten Agam, Sumatera Barat pada 20 Desember 1884. Ayahnya bernama Mohamad Rasjad Maharadja Soetan yang berprofesi sebagai jurnalis. Sedangkan ibunya bernama Kiam yang bekerja sebagai ibu rumah tangga.

Rohana Kudus adalah kakak tiri dari Soetan Sjahrir, Perdana Menteri Indonesia yang pertama dan bibi dari penyair Chairil Anwar. Dia juga sepupu dari KH Agus Salim.

Kendati tak mengecap pendidikan formal, perempuan berdarah Minangkabau tersebut tetap bisa belajar membaca dan menulis dari sang ayah yang selalu membawakannya buku usai bekerja. Di usia yang masih belia, dia menguasai bahasa Belanda, Arab, Latin, dan Arab Melayu.

Terlebih saat ayahnya dipindahtugaskan ke Alahan Panjang, Rohana bertetangga dengan isteri pejabat Belanda yang suka rela mengajarinya menjahit, merajut, dan menyulam. Dia juga bebas membaca majalah terbitan Belanda yang memuat berita politik, gaya hidup, serta pendidikan di Eropa.

Di usia 24 tahun, Rohana kembali ke kampung halaman dan menikah dengan seorang notaris bernama Abdul Kudus.

2. Rohana Kudus jadi jurnalis perempuan pertama yang dimiliki IndonesiaMengenal Rohana Kudus, Wartawati Pertama Bergelar Pahlawan Nasional
Pernikahan tak lantas membuat Rohana terkungkung di dapur, sumur, dan kasur seperti perempuan-perempuan lainnya. Sebagai perempuan yang hidup sezaman dengan RA Kartini, dia berhasil menjadi jurnalis perempuan pertama yang dimiliki Indonesia.

Pada 10 Juli 1912, dia mendirikan surat kabar perempuan bernama Soenting Melayu. Susunan redaksi mulai dari pemimpin redaksi, redaktur, dan penulis semuanya perempuan. Selain Soenting Melayu, karya-karya jurnalistik Rohana Kudus juga tersebar di banyak surat kabar, seperti Saudara Hindia, Perempuan Bergerak, Radio, Cahaya Sumatera, Suara Koto Gadang, Mojopahit, Guntur Bergerak, dan Fajar Asia. 

Pada 25 Agustus 1974, Rohana Kudus memperoleh gelar pelopor wartawan perempuan Sumatera Barat dan perintis pers oleh pemerintah atas jasanya dalam memperjuangkan bangsa melalui dunia jurnalistik.

3. Tidak hanya berkiprah dunia jurnalistik, Rohana Kudus mendorong perempuan mandiri secara ekonomiMengenal Rohana Kudus, Wartawati Pertama Bergelar Pahlawan Nasional
Pada 11 Februari 1911, Rohana Kudus mendirikan Yayasan Kerajinan Amai Setia yang berfokus pada keterampilan. Kendati ditentang oleh para pemuka adat dan masyarakat laki-laki, Rohana tak pantang menyerah. Di yayasan tersebut, Rohana mengajari anak-anak perempuan berbagai macam keterampilan seperti menjahit, menyulam, dan merajut.

Dia menjalin hubungan kerja sama dengan pemerintah Belanda berupa pemesanan peralatan dan kebutuhan menjahit untuk mengajari para muridnya. Hasilnya, karya mereka berhasil diekspor ke Belanda. 

Tak hanya mengajar keterampilan, Rohana juga memberikan pelajaran umum seperti baca tulis, agama, budi pekerti, dan Bahasa Belanda. 

Hingga saat ini, Yayasan Kerajinan Amai Setia masih berdiri di Koto Gadang kendati tak seramai dulu. Pepi, cucu Rohana Kudus, mengisahkan bagaimana yayasan tersebut tetap bergerak di tengah desakan bisnis kain pabrikan.

Yayasan Kerajinan Amai Setia menjual berbagai jenis kerajinan tangan, seperti selendang sulam dan kerajinan perak. Harganya pun bervariasi, mulai dari Rp3-6 juta.

Karya kerajinan tangan Yayasan Kerajinan Amai Setia juga dapat ditemukan di kawasan Gandaria, Jakarta. Salah seorang anggota yayasan dengan suka rela menghibahkan tempat tinggalnya sebagai cabang kerajinan.


Sumber : https://www.idntimes.com/news/indone...mpaign=network

---



GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di