alexa-tracking
Kategori
Kategori
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5dc48c307e3a727a2c087035/attar

[Cerbung] Attar

Attar

Terangkum cinta suci yang dikemas dalam judul yang berbeda dan kisah yang amat memilukan.

Tak bisa di deskripsikan lewat diksi, mari kita baca langsung!

Cekidot!

Cerita ini sangat mainstream sekali, aku menulis untuk mengungkapkan saja luapan ide dalam otak. Semoga kalian suka😊
💢💢


Terik matahari sangat menyengat membuat semua orang malas untuk melakukan aktivitas di luar ruangan, tak terkecuali gadis cantik yang sedang menyiram bunga di depan rumahnya. Dia nampak muram, pikirannya selalu dibayangi oleh percakapan nenek dan sahabatnya.

”Sampai kapan nenek merahasiakan dari Zahira?” desak seorang pria sembari memegangi kepalanya.

“Saat Carla sembuh.”


Sebenarnya siapa dirinya ini? Lalu siapa Carla? Siapa wanita itu? Apakah gadis dari sahabatnya atau gadis lain. Ah, kepalanya pening memikirkan hal itu.

Terdengar suara deru mobil masuk ke pekarangan, terlihat dua mobil yang sangat asing di mata gadis itu, matanya menyipit dengan ekspresi bingung. Dia menerka-nerka siapa yang akan bertamu, teman mamanya? Sahabat mama atau mendiang papanya?

Keluarlah dari dalam mobil itu seorang pemuda gagah berparas tampan, bertubuh jangkung, dan memakai setelan casual. Keningnya semakin berkerut, siapa dia? Kemudian disusul dua pasang suami istri keluar dari dalam mobil secara bergantian dengan wajah bahagia. Kening gadis itu semakin berkerut, bingung akan datangnya orang-orang tersebut. Mereka berjalan masuk menuju depan pintu, mengetuk perlahan, dan mengucapkan salam. Gadis itu hanya diam mematung tanpa berniat bergegas masuk untuk menemui tamu tersebut, karena memang tak ada niatan untuk menemui.

Pintu terbuka, terlihat Anita berdiri memakai gamis hijau, tampak dari raut muka Anita—mama gadis itu—juga bingung akan kehadiran tamu tersebut, kemudian menyuruh tamu asing tersebut masuk, dan melihat anak gadisnya sedang berdiri mematung, Anita memanggil dan menyuruhnya masuk untuk membuatkan hidangan. Anak gadisnya mengangguk, dan meletakkan pompa air tak lupa mematikan kran lalu segera bergegas masuk lewat pintu garasi yang terhubung langsung ke dapur.

“Ekhem, sebelumnya maaf jika bingung akan kehadiran keluarga kita. Saya Reno, rekan bisnis mendiang Bapak Aji. Di sebelah ini anak saya bernama Bima, dan di sebelahnya istri saya, Maryam,” jelas Reno karena dia tahu sang tuan rumah kebingungan akan kehadirannya. Anita mencoba mengingat-ingat rekan bisnis mendiang suaminya.

Nampaknya Reno mengerti jika Anita sama sekali tidak mengingatnya. “Sepertinya Bu Aji tidak mengingat saya.”

Anita hanya meringis pelan, dia sama sekali tidak mengingat orang yang ada di depannya. Kemudian Reno menceritakan dirinya, sekedar basa-basi sebelum menuju pembicaraan inti. Saat tengah-tengah berbincang tiba-tiba seorang gadis cantik membawa nampan berisi minuman dan camilan ringan.

“Ohiya Pak Reno, ini putri saya namanya Zahira,” jelas Anita memperkenalkan anak gadisnya. Zahira hanya tersenyum tanpa berniat menemani mamanya, dia kembali ke dapur.

Tak lama kemudian terdengar suara mobil masuk pekarangan rumah. Seorang pria berparas tampan memakai setelan jas berjalan santai sambil bersiul, langkahnya terhenti di depan pintu melihat ada tiga orang duduk di ruang tamu mengelilingi mamanya.

“Nah, ini anak pertama saya namanya Reza. Sekarang dia yang mengurus perusahaaan.” Kemudian Reza berjalan kikuk karena semua orang memerhatikannya. Dengan canggung bersalaman sambil tersenyum kikuk.

“Oh ya saya masih ingat, apa kabar Reza?”

“Baik Om,” balas Reza sembari duduk di sebelah mamanya. Anita bernapas lega, dia tidak sendirian mengobrol dengan orang yang katanya rekan bisnis mendiang suaminya.

Setelah berbincang ternyata Reza sedikit mengenal perihal keluarga Reno, dia rekan bisnis papanya dulu yang membantu saat akan bangkrut. Dan anak perempuannya yang dulu sempat Reno suka, mungkin sampai saat ini. Dia sangat cantik.

“Om, ada apa ke sini?”

💢💢


Kira-kira keluarganya Pak Reno ngapain ya???🤔

Ikuti terus kelanjutannya🎉

Cr: pinterest, picsart, & canva.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
RetnoQr3n dan 5 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh raaaaud20
selamat membaca agan sista😂
profile-picture
bekticahyopurno memberi reputasi
semoga ada hikmah yang bisa dipetik😊
profile-picture
bekticahyopurno memberi reputasi
langsung bawa keluarga 😱🤣
profile-picture
raaaaud20 memberi reputasi
Quote:


😂Tanpa basa-basi.
Stay tune tunggu kelanjutannya😊
pasti 🤣
profile-picture
raaaaud20 memberi reputasi
Quote:


😆😆Terimakasih
profile-picture
fanhyintan memberi reputasi
Part II

“Om, ada apa ke sini?” tanya Reza setelah lama basa-basi, dia tidak tahan jika terlalu lama basa-basi.

“Jadi maksud kedatangan kami ke sini untuk melamar Zahira.” Merasa terpanggil, Zahira berlari menuju ruang tamu. Tepat saat Zahira keluar dari dapur, pandangan Bima terpaku akan akan kecantikan gadis itu, wajah itu masih sama seperti dulu.

Anita menyuruh anaknya untuk duduk di sebelahnya, kemudian Reno menjelaskan maksud kedatangannya dan memperkenalkan anaknya yang akan melamar Zahira yaitu Bima.
Mata Zahira menilik pemuda yang berniat melamarnya.

Menurutnya dia kategori lelaki yang tidak aneh-aneh, pendiam, dan mungkin suka game. Telinganya mendengarkan penjelasan perihal pribadi Bima dengan seksama, ternyata umurnya tiga tahun di atasnya, dan dia mengajar di salah satu pesantren di daerahnnya. 

“Bagaimana Zahira?” tanya Bima penuh harap terlihat dari raut wajahnya yang cemas. Zahira menatap mamanya meminta bantuan untuk menjawab, namun nampaknya Anita ingin anak gadisnya belajar dewasa dalam memilih keputusan, dia hanya tersenyum seolah-olah mengatakan ini saatnya kamu memilih.

“Beri saya waktu seminggu,” putus Zahira membuat Bima dan keluarganya terkejut, kenapa lama sekali?

“Baiklah kalau itu yang kamu mau, saya akan bersabar menunggu kepastiannya” ucap Bima sambil tersenyum penuh arti, senyum memendam harap yang terlalu besar. Kemudian Bima meminta ijin untuk meminta nomor Zahira, dan diberikan sebuah kertas bertuliskan nomor Zahira.

Bersambung...
profile-picture
profile-picture
profile-picture
susikahar dan 2 lainnya memberi reputasi
wahh jadi tambah deg-degan dsuruh nunggu seminggu 🤣
profile-picture
raaaaud20 memberi reputasi
Quote:


😂Kan ga kenal jadi ya disuruh nunggu seminggu. Stay tune kelanjutannya😁😁
Part III

Hari ini Zahira berdiri di atas kapal yang akan berlabuh menuju pelabuhan Gilimanuk, Jembrana, Bali. Angin berhembus kencang menerpa wajah Zahira, memberikan sedikit ketenangan walau tubuhnya kedinginan, dirapatkan jaket tebal pemberian sahabatnya agar lebih hangat.

Terlihat banyak sekali penumpang yang memakai baju tebal dan juga bahkan ada yang memakai selimut sambil duduk di kursi penumpang. Sebagian penumpang memilih duduk di dek kapal yang berhadapan langsung dengan hamparan laut selat Bali yang terlihat sangat indah di malam hari. Di tambah pantulan cahaya lampu di pelabuhan dan kapal yang berhiaskan dengan lampu warna-warni.

Saat Zahira akan berjalan menuju kantin untuk membeli pop mie, dia berpapasan dengan seseorang yang sangat familiar. Dia membuntutiku? pikir Zahira. Kemudian dia melanjutkan berjalannya menuju kantin tak memperdulikan sekitar.

"Pak, beli  pop mie empat cup, rasa soto," seru Zahira sambil duduk di kursi penumpang yang ada di depan kantin. Perutnya sudah sangat lapar, ditambah mencium aroma masakan yang menguar, cacing diperutnya semakin meronta meminta makan.

"Tunggu sebentar, Neng.”

Dengan cekatan bapak itu membuatkan pesanan gadis cantik yang duduk di kursi penumpang sambil memegang perutya. Tampak sekali wajah kepalarannya. Air sudah mendidih, kemudian dituangkan ke setiap cup dan ditutup agar mie-nya cepat matang. Melihat mie-nya sudah disajikan, Zahira meminta untuk menambahkan potongan cabe di atasnya dan bapak itu mengiyakan perintah Zahira.

“Terimakasih, Pak. Ini uangnya.” Zahira mengambil dua bungkus plastik berisi mie, dan menyerahkan dua lembar uang warna hijau. Memang agak mahal, tapi kalau sudah lapar tidak pandang harga.

Gadis itu memilih duduk di depan kantin dan meletakkan satu bungkus di sebelahnya. Diaduk agar bumbunya tercampur, dan dilahap. Semuanya hingga tandas.

Di luar sana seorang pemuda berwajah asing sedang menggeleng-geleng melihat kelakuan gadis itu. Semakin dilarang, semakin menjadi-jadi, batinnya.

Setelah itu mie tandas, terjadi interaksi antara Zahira dan bapak itu. Mereka bercerita panjang lebar seputar Pulau Bali. Kemudian bapak itu bercerita tentang keluarganya yang ada di Malang, ternyata bapaknya juga asli orang Malang. Bapak itu bernama Pak Dendy, Pak Dendy ini kerja di atas kapal sebagai penjual kantin sudah sejak tahun 1998. Beliau mengatakan ingin menua di atas kapal.

Tak terasa sudah satu jam Zahira dan Pak Dendy berbicara ke sana kemari menceritakan segala hal, mulai kejadian anak Pak Dendy yang hilang saat berkunjung ke Bali, dan Pak Dendy sempat tak bisa pulang karena dia tersesat di Bali beruntung sekali ada yang mau menolong.

"Pak, sampai jumpa lagi ya, aku mau turun, assalamualaikum," pamit Zahira sambil meenggendong tas ransel yang berisi beragam macam barang.

"Hati-hati Neng! Wa'alaikumussalam.”

Saat kembali dari kantin, terjejer rapi mulai dari belakang hingga depan banyak orang yang sedang melepaskan kepenatannya karena kelelahan saat di dalam bis, tidur di kapal adalah pilihan terbaik untuk orang yang tidak bisa tidur di bis. Karena tak ada goyangan sedikitpun kecuali jika arus ombak yang kencang maka kapalnya akan bergoyang.

Tak butuh waktu lama untuk menyebrangi laut Selat Bali, hanya butuh waktu satu jam jika itu tidak ada masalah, tapi jika ada masalah kapalnya pun harus berdiam diri di atas lautan yang luas ini dengan waktu berjam-jam bahkan tiga jam.

Saat melihat pelabuhan Gilimanuk sudah di depan mata, semua orang bersiap-siap untuk turun ke lantai satu—parkiran. Banyak sekali penumpang di dalam kapal ini, parahnya kapal ini hanya memiliki dua lantai dengan ruangan bagian dalamnya pun sedikit sempit untuk jumlah penumpang yang banyak.

Perlahan Zahira menuruni anak tangga kapal yang terbuat dari besi dan curam ke bawah dengan langkah hati-hati agar tidak terjatuh sambil menyeimbangkan badan, karena hampir semua penumpang berdesak-desakan melewati tangga ini untuk turun ke parkiran. Setelah sampai di bawah Zahira berjalan mencari bis yang membawanya ke mari.

Bis itu terletak di sebelah tangga seberang, gadis itu harus berjalan lebih cepat dari penumpang lainnya agar nanti bisa duduk di depan dengan nyaman. Tidak seperti kemarin Zahira duduk di belakang sehingga jika melewati jalan yang tidak mulus, badannya akan bergoyang ke atas dan ke bawah. Ingin rasanya Zahira memindahkan tempat dugem ke sini karena tempatnya sangat pas untuk bergoyang ala-ala DJ yang sedang berjoget di atas panggung bedanya ini sambil duduk.

Dilihat jam di layar  ponsel, ternyata masih jam setengah empat pagi. Zahira memutuskan untuk memejamkan mata karena rasa kantuk mulai menyerang. Perjalanan panjang yang sangat melelahkan.

Bersambung...
profile-picture
profile-picture
susikahar dan bekticahyopurno memberi reputasi
Part IV

Zahira baru saja sampai di kamar hotel yang sudah dia booking jauh-jauh hari. Perlahan dihempaskan tubuhnya di atas kasur hotel yang sangat empuk ini agar bisa tersalurkan rasa penat yang melanda tubuh mungilnya.

Tas ranselnya diletakkan di pojok kamar, sepatu converse biru kesayangannya sudah terlempar entah ke mana, dan terakhir jaket tebal yang kini sudah berada di atas kursi. Sangat lelah untuk menata semua barang yang dibawanya saat ini, ya meskipun hanya membawa satu tas kecil berisi dua baju, mukena, dan satu celana, tak lupa satu tas berukuran sedang selalu dibawa ke mana-mana selalu berisi camilan. Simple bukan? Hidup itu simple aja jangan yang berat-berat.

Menurutnya liburan tak perlu membawa barang banyak-banyak karena itu akan sangat menyusahkan apabila sudah pulang, bawa baju yang dari rumah belum lagi baju oleh-oleh, terus baju kotor dan masih banyak lagi yang sangat menyusahkan sekaligus menghambat waktu dan tempat.

Dering ponsel membuatnya memaksakan untuk membuka mata untuk melihat siapa yang menelpon mengganggu tidur indahnya. Terpampang jelas id caller-nya nama Bang Eca, dengan malas ditekan tombol warna hijau.

Halo adek jelek! Udah sampe di Bali? Pastinya udah ya, aku tau kamu capek tapi ladenin napa abangmu yang imut nan lucu ini!

Dek aku tau kamu lelah tapi jangan cuekin abang napa!” Gimana mau ngomong, lah dianya ngoceh terus gak berhenti-henti kayak kereta api gak ada stasiunnya, untung abang kalo bukan udah aku apain tuh anak orang.

“Eh, Bang kalo ngomong pake rem napa,” ketus Zahira.

Hehehe namanya juga khawatir Dek, kamu kapan pulang?” Mendengar pertanyaan Reza membuatnya mendengus kesal.

“Bang, baru aja rebahan di kamar hotel udah ditanyain kapan pulangnya. Aku pulang ntar bulan depan kalo kangen terbang aja ke sini punya jet pribadi jangan dianggurin.”

Hahaha, jet aku lagi ada di bengkel biasa minta dimanjain, tunggu aja Abang minggu depan ke sana sekalian ke Australia jemput jet Abang.

“Iya deh kutunggu... udah ya Bang mau tidur dulu.”

Yah, padahal masih rindu, yaudah deh, assalamualaikum.

“Wa’alaikumsalam.” Setelah mematikan panggilan Zahira meletakkan ponsel di atas nakas. Kemudian melanjutkan tidur yang sempat tertunda.

Bersambung...
profile-picture
profile-picture
susikahar dan bekticahyopurno memberi reputasi
Cakep, alurnya ngalir dan enak di baca, tinggal buat indeks link biar rapi dan mudah mencari part selanjutnya ya.

Overall, i like it.

Saran, paragraf jangan terlalu rapet, kasih spasi biar lebih nyaman untuk dibaca
Quote:


Siap Bang, terimakasih sudah mampir
wah cerpennya menarik dan udah part 4 aja heheh
profile-picture
raaaaud20 memberi reputasi
Quote:


Ini cerbung sis😅😅
Part V

Di luar kamar hotel yang Zahira tempati ada seseorang lelaki yang bertubuh jangkung, tidak kekar namun sedikit berisi, bibir yang berwarna kemerahan, warna kulit putih bersih, bola mata berwarna biru menandakan bahwa dia bukan warna negara Indonesia, dan setelan casual-nya membuat dirinya terlihat keren dan sangat menyesal jika tidak mengabadekan ketampanan yang dia miliki.

Diambil kunci dari dalam sakunya, saat akan membuka pergerakannya tertahan oleh seorang wanita yang bertubuh gemuk sambil menggendong anaknya.

“Sir, can I take a picture with you?” ucapnya dengan sedikit terbata-bata dan agak medok.

“Iya.” Mendengar jawaban lelaki tersebutt, membuat ibu itu terkejut karena ada bule yang lancar berbahasa Indonesia.

“Wah bulenya bisa bahasa Indonesia ternyata,” gumamnya sambil mengeluarkan kamera DSLR dari dalam tasnya dan meminta tolong kepada petugas hotel yang kebetulan lewat.

Mutahir merasa risih karena tangan ibu itu menggandenganya dengan sangat erat, saat akan dilepaskan malah dieratkan. Dengan pasrah Mutahir menuruti keinginan ibu ini yang tak mau melepaskan tangannya padahal sesi pengambilan gambarnya sudah selesai.

“Maaf Bu saya mau masuk kamar istri saya dulu, terimakasih.” Ibu itu terkejut mendengar kata ‘istri’, ibu itu mengira kalau bule itu masih lajang. Padahal itu cuma akal-akalan Mutahir aja biar ibunya gak ngerangkul sembarangan.

“Oh iya, makasih Sir.”

Mutahir tidak menghiraukan ucapan ibu itu, dia membuka pintu kamar secara perlahan agar ini menjadi kejutan untuk sahabatnya. Dalam hati lelaki itu berharap ketika dia menampakkan diri, sahabatnya menyambut dengan gembira. Namun, harapan itu pupus ketika Mutahir melihat tubuh mungil tertelan oleh selimut tebal dengan wajah kelelahan.

“Harapan tak sesuai realita.”

Kemudian Mutahir meletakan tas kecil di atas meja kamar dan menggeleng-gelengkan kepala saat melihat barang-barang berserakan. Dengan tersenyum dia membereskan itu semua sambil menunggu sahabatnya terbangun.

Mutahir  menemukan dua tas berukuran sedang, satunya berwarna biru dongker dan satunya abu-abu. Dia membuka tas berwarna abu-abu, sedikit terkejut saat melihat isi tas abu-abu milik sahabatnya karena penuh dengan snack dan permen milkita.

“Dasar gentong bertubuh langsing,” ejek Mutahir sambil melihat gadis mungil yang sedang mimpi indah.

Setelah itu Mutahir mengambil satu snack kesukaannya dari dalam tas Zahira yaitu keripik nangka. Mutahir berjalan menuju sofa dan menghidupkan televisi.

“Siapa sih ngidupin tv kenceng banget volumenya, gak liat apa ada orang lagi tidur?” Gadis itu merasa terganggu karena tidur indahnya harus terganggu oleh kebisingan tv.

“Iya aku kecilin volumenya sayang,” gumam Mutahir membuat gadis itu sontak terbangun dari tidurnya dan matanya terbuka lebar melihat keberadaan seorang pria di dalam kamarnya.

“LOH KOK KAMU ADA DI SINI? KAPAN DATANGNYA? KOK TAU AKU DI SINI?!”

Bersambung...
Diubah oleh raaaaud20
Part VI

“LOH KOK KAMU ADA DI SINI? KAPAN DATANGNYA? KOK TAU AKU DI SINI?!” cerocos Zahira membuat Mutahir terpingkal-pingkal karena ekspresinya.

“Lah ga sadar kalo dibuntutin,” ucap Mutahir dengan santai membuat Zahira memasang muka flat. Tanpa menanggapi ucapan Mutahir, Zahira langsung berlari kecil menuju kamar mandi untuk cuci muka.

Saat kembali Zahira mengambil tas abu-abunya di atas meja. Zahira memicingkan matanya ketika melihat kejanggalan di dalam tasnya, Zahira merasa dirinya meletakkan keripik nangkanya di dalam tasnya.

"Sayang kamu nyari keripik nangka?" tanya Mutahir sambil menguyah keripik nangka yang hampir tandas.

"Iya kok nggak ada ya," balas Zahira sambil terus mencari keripik nangka ke setiap sudut ruangan.

"Ini aku makan, udah mau habis sayang." Dengan santai Bima memamerkan plastik yang bergambar nangka sambil menyengir kuda.

Melihat plastik yang ada di tangan sahabatnya, Zahira menghela napas pelan. Sabar punya sahabat kek dia.

Perlahan Zahira dengan santai duduk di kasur yang membelakangi Mutahir, melihat Mutahir sedang fokus menonton tv kedua tangannya sontak mecubit pipi Mutahir yang kemerahan. Tanpa persiapan apa-apa Mutahir hanya bisa pasrah pipinya dicubit oleh Zahira, meskipun berujung berwarna merah tapi untuk orang tersayang, dia ikhlas.

"Ampun sayang, ampun, ngga diulangi lagi beneran!!" pinta Mutahir dengan muka memelas, Zahira tau ini akal-akalan Mutahir saja. Zahira menurunkan tangannya ke arah pinggang dan menggelitik hingga pria itu mengeluarkan air mata. Zahira puas melihat Mutahir tersiksa.

"Suruh siapa ngambil keripik gak permisi!” celoteh Zahira sambil memajukan bibirnya, membuat Mutahir merasa bersalah.

“Maaf sayang, jangan marah dong.” Mutahir memohon sambil memegang kedua kaki Zahira dan mentap Zahira dengan tatapan memohon, sedangkan Zahira mengalihkan pandangan.

“Ngga marah.” Setelah mengucapkan itu Zahira melepaskan tangan sahabatnya dari kedua kakinya, Mutahir hanya bisa pasrah diperlakukan seperti ini karena ini memang kesalahan dia.

Zahira melangkah menuju walk in closet untuk ganti baju. Zahira keluar dari walk in closet mengganti baju dengan baju santai yaitu celana jeans hitam, kemeja biru dongker dan kerudung senada dengan baju. Mutahir mengerutkan kening melihat Zahira sudah rapi.

“Sayang, mau ke mana?” tanya Mutahir yang hanya dilirik oleh Zahira, Zahira mengambil sepatu converse warna putih bergaris biru.

“Mau ikut?” tawar Zahira sambil memasang muka flat, Mutahir menganggukkan kepala dengan cepat.

“Bawa mobil?” Lagi-lagi Mutahir menganggukkan kepala pertanda dia mengiyakan pertanyaan yang diajukan Zahira. Kemudian Zahira meminta kunci mobilnya, dengan berat hati memberikan kunci mobilnya ke tangan Zahira.

“Oke, aku pinjem buat nyari kafe dan cari baju sekalian, kalo mau ikut diem aja gausah banyak komen, oke?” ucap Zahira sambil memutar-mutar kunci mobil milik Mutahir.

“Kamu gak boleh terlalu capek, kan lagi masa penyembuhan sayang... aku aja yang nyetir ya,” pinta Mutahir sambil memasang puppy eyes agar Zahira luluh. Anggukan Zahira membuatnya bernapas lega.

“Oke.”

Kemudian gadis itu menyuruh Mutahir untuk pergi menuju butik milik temannya, di sekitar pasar Sukowati. Sesampai di sana Zahira sangat bahagia bertemu sahabat SMA-nya dulu yang selalu menemani dalam suka maupun duka tanpa meminta balasan. Sahabatnya itu bernama Ni Made Bristyana, dipanggil Tya. Sekarang dia meneruskan usaha milik kedua orangtuanya, dan sekarang dia sudah hamil anak pertama. Sebagai hadiah kehamillannya, Zahira membeli banyak pernak-pernik di tokonya dan sebagai permintaan maafnya karena tidak bisa menghadiri acara pernikahannya karena dilarang oleh mamanya.

Zahira membeli gantungan kunci, pahatan kayu berbagai macam bentuk, baju lengan panjang, rok, dan beberapa aksesoris. Semua belanjaan sudah ada di tangan. Melihat jam sudah pukul empat dan keduanya keadaaan belum sholat, akhirnya memutuskan untuk pamit pulang.

Tya menawarkan untuk sholat di rumahnya dekat sini, Zahira dan Mutahir mau. Sekalian Zahira ingin bertemu dengan sahabat prianya yang menjadi suami Tya. Sesampai di rumah Tya, Zahira langsung mengambil wudhu dan sholat. Setelah Zahira selesai, Mutahir.

“Tya, bagaimana kabar Rio?” tanya Zahira sembari mengamati rumah sahabatnya yang masih tradisional, banyak ukiran yang sangat indah memenuhi ruangan.

“Baik, dia sekarang kerja ngajar alat musik di sanggar miliknya. Dia masih seperti dulu, bahkan sekarang dia semakin menyayangiku. Aku mengira jika pacaran lama, waktu nikah akan bosan tapi dia tidak semakin bertambah usianya semakin dewasa pemikirannya dan rasa cintanya kepadaku,” ujar Tya panjang lebar perihal suaminya.

“Wah, idaman banget emang Rio. Beruntung kamu dapet dia, hahaha,” puji Zahira membuat sahabatnya tersipu malu.

“Pingsannya udah agak mendingan?” pertanyaan Tya membuat gadis berkerudung biru itu tersenyum, sahabatnya masih sangat ingat kalau dirinya kadang pingsan tanpa sebab.

“Hahaha, inget aja masa itu. Udah mendingan dan sekarang masih dalam proses penyembuhan.” Kemudian Tya melirik ke kana kiri, kondisi sepi dia mendekat ke Zahira dan berbisik.

“Gimana perihal anak angkat?”

💢💢
Anak angkat??? Siapa ya kira-kira yang anak angkat?

Bersambung...
Diubah oleh raaaaud20
Part VII


“Aku masih kekurangan informasi.” Tya hanya mengangguk kemudian menegakkan tubuhnya. Dia kasihan kepada sahabatnya, pasalnya dia selalu sedih jika semua temen sekelas diminta mengumpulkan kartu keluarga sedangkan dia tidak. Itu hal sepele. Tapi bagi Zahira itu masalah besar, kenapa dia tidak disuruh bawa kartu keluarga juga?

Ya, Tya dan Rio tahu perihal penyakit dan kegalauan sahabatnya. Mereka diberitahu oleh Mutahir perihal penyakit. Semua orang terdekat Zahira tahu tentang penyakit yang dideritanya, terkecuali mama dan abangnya. Entah apa alasannya, Zahira sangat melarang untuk memberitahu kepada dua orang tersebut.

Sore ini, lembaran kenangan SMA terbuka. Hanya sebagai pengingat dan pelajaran hidup agar tidak jatuh ke lubang yang sama. Karena di luar sana masih ada banyak lubang yang harus di lewati.

**


Saat di perjalanan pulang Mutahir memarahi Zahira karena waktu di kapal makan mie, itu makanan yang dilarang oleh dokter tapi selalu aja melanggar. Beruntung penyakitnya sudah dalam masa pemulihan jadi tidak terlalu berdampak besar terhadap kesehatannya.

“Aku cuma makan empat kok, ga banyak,” kilah Zahira tak trima dirinya selalu saja dimarahi oleh pria disampingnya ini. telinganya saja sampai bosan mendengar ocehan Mutahir.

“Sama aja Sayang, kamu ini udah mau sembuh, emang kamu mau usaha selama ini sia-sia?” ucap Mutahir penuh pengertian, dia sangat tidak mau gadis di sebelahnya ini terus-menerus tersiksa sendiri.

Sendiri? ya, dia tidak pernah bercerita perihal sakitnya kepada semua keluarganya kecuali seneknya yang ada di Singapura. Setiap dua bulan sekali kontrol di rumah sakit Singapura dengan alasan kangen Neneknya, padahal dia kontrol. Sebenarnya dari dulu Mutahir ingin berbicara dengan keluarga Zahira, namun selalu dilarang entah apa alasannya.

“Sayang... kamu gak mau berbicara jujur sama mama dan abangmu?” celetuk Mutahir membuat Zahira bungkam sambil menghela napas berat.

“Aku belum siap.”

“Kenapa?” Tak ada balasan dari Zahira, hanya kebisingan kota yang menjawab pertanyaan Mutahir. Selalu seperti ini.

**


Sudah seminggu pemuda itu merenung di kamarnya, melihat ponselnya berharap gadisnya memberi kepastian, namun apa yang dia dapat? Hanya SMS dari operator kuota sudah hampir habis.

“Ke mana dia?” keluh pemuda itu sembari menatap layar ponselnya. Tanpa disadari seorang wanita paruh baya sedang melihat kegiatan anaknya yang sedang menunggu kepastian dari gadis yang baru dilamar seminggu yang lalu.

“Bima, makan dulu yuk,” ajak wanita paruh baya itu mendekati anaknya.

“Enggak Mi, aku udah makan tadi,” gumamnya.

“Umi tau kamu belum makan, jangan kurus gegara gak dikasih kepastian kalau memang berjodoh nanti akan dipertemukan.”

“Iya Mi.”

Bima beranjak dari zona nyamannya, sudah beberapa hari ini dia bersikap seperti perempuan yang baru putus cinta; berdiam diri di kamar, makan di kamar, berak di kamar. Semua dia lakukan di kamar, keluar kamar kalau dipanggil.

“Akhirnya perawan Umi keluar juga,” sindir Della—adek Bima. Hanya dibalas lirikan tajam yang tak dihiraukan.

“Della gak boleh gitu sama Abangnya, “ peringat Maryam dengan suara lembut seperti biasanya.

Bima hanya berjalan melewati adeknya yang menonton tv tanpa berniat membalas perkatannya. Dilihatnya keadaan rumah berubah total, padahal baru seminggu tidak keluar kamar. Penataan ruang tamu pun berubah, entah apa alasannya kenapa diubah Bima tidak mau tahu. Bima ingat jika hari ini Deni ingin bertemu dengannya.

“Mi aku mau ke kafe Deni,” pamit Bima kemudian menyalami tangan Maryam.

“Hati-hati, jangan pulang malam-malam.” Maryam senang melihat anaknya tidak mengurung diri di kamar lagi, meskipun keluar hanya jika ada keperluan saja itu sudah membuatnya senang.

“Bang mau ke rumah Kak Deni?” celetuk Della dengan mata berbinar. Bima tahu jika adeknya menyukai Deni.

“Mau ikut?” tawar Bima sambil memutar bola mata dengan malas, Della mengangguk dengan cepat dan berlari ke kamarnya ganti baju. Maryam hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan anak perempuannya.

“Mi, adek genit,” adu Bima kesal dengan kelakuan adeknya, hanya dibalas tawa renyah oleh Maryam.

“Ayo Bang,” ajak Della yang sudah rapi.

“Hm.” Kemudian Bima dan Della berangkat menuju kafe milik Deni yang terletak di sudut kota.


Bersambung...


×
GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di