alexa-tracking
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Bermimpilah Setinggi-tingginya, Tapi Berusahalah Untuk Meraihnya
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5dc44a6628c9916fd3038070/bermimpilah-setinggi-tingginya-tapi-berusahalah-untuk-meraihnya

Bermimpilah Setinggi-tingginya, Tapi Berusahalah Untuk Meraihnya

Viralnya Novi, atau Nuryanti Novitasari, SMAN 5 Kediri karena muncul di platform kitabisa.com akibat menggalang dana yang dibantu oleh Rumah Zakat untuk membantunya mendapatkan dana agar bisa kuliah ke Turki, membuatku teringat akan perjuangan panjang yang pernah kulalui.

Bermimpilah Setinggi-tingginya, Tapi Berusahalah Untuk Meraihnya
Saya wanita 25 tahun, alumni salah satu PTS yang ada di Semarang. Saya 10 bersaudara, dengan pendidikan rata-rata SD sampai SMP. Dan kedua orang bahkan tidak pernah mengenyam pendidikan sama sekali. Pekerjaan orang tua waktu itu hanya buruh tani. Karena tidak memiliki tegal ataupun sawah, hewan ternak pun hanya beberapa ekor ayam. Rumah terbuat dari anyaman bambu. Tapi tidak kami tidak malu. Bahkan tidak menyurutkan cita-cita saya dan kakak saya untuk bisa berkuliah.

Saya rasa juga banyak orang seperti kami, bahkan lebih kekurangan daripada kami. Semua tinggal bagaimana kita menyukurinya saja. Saya rasa, juga banyak Novi-Novi yang lain. Untuk Novi, saya rasa ia lebih beruntung daripada saya, karena ayahnya masih mempunyai usaha berdagang bubur. Saya berniat menulis kisah saya di sini, berharap dapat memberikan motivasi kepada Novi (Nuryanti Novitasari), Novi-Novi yang lain, bahkan semua orang, agar tetap meraih mimpinya walaupun setinggi langit.

Sejak kecil kehidupan kedua orang tua kami memang tergolong menengah kebawah, bahkan bisa dikatakan minus. Keluarga saya sering menjadi bahan olok-olokan tetangga.
"Sudah miskin, anaknya banyak."
"Bocah kok cimpling-cimpling koyok unyil (Bocah kok kecil-kecil, kayak unyil)"
Dan berbagai ejekan lainnya. Namun kami hanya diam. Bahkan ada tetangga kami yang memandang kami dengan tatapan tidak suka. Mengatakan kalau,
"Kedua orang tuanya bodoh, pasti anak-anaknya juga bodoh."

Yah, kami hanya tersenyum mendengar pernyataan orang-orang terhadap kami. Terlebih orang tuaku memang menyadari dan mengakui bahwa olokan mereka itu benar. Jadi tidak ada alasan untuk kami marah.

Kami memang orang miskin. Tapi tatakrama dan sopan santun selalu diajarkan dalam keluarga kami. Misalnya, ketika orang tua sedang rewang atau membantu hajadan di rumah tetangga, tidak boleh ada anak-anaknya yang ikut. Saru , dalam bahasa jawa, atau tidak sopan, atau tidak baik dalam bahasa indonesianya. Ketika ada tamu, atau ada orang tua yang lagi mengobrol, anak-anak tidal boleh ikut bicara, bahkan kalau perlu harus masuk ke dalam. Berbicara menggunakan unggah-ungguh dan tatakrama yang benar, dan sebagainya. Dan kami harus menurut. Sekali saja kami membuat kesalahan, hukuman berat akan menimpa kami.

Pernikahan kedua orangtuaku menghasilkan 10 anak. 4 laki-laki, dan 6 perempuan. Saya adalah anak ke 9, yang berarti masih memiliki 1 adik (laki-laki).

Dari 10 anak tersebut, anak pertama sampai anak ke empat hanya mengenyam pendidikan sampai SD saja. Sedangakan anak ke enam hingga ke sepuluh disekolahkan hingga SMP. Tapi itu bukan halangan besar untuk saya dan kakak ke 8 saya (perempuan).

Kakak perempuan saya dibesarkan oleh anak pertama ibu saya. Kami tinggal terpisah. Karena kakak pertama saya (laki-laki) sudah menikah, tapi belum dikaruniai anak. Sehingga memutuskan untuk merawat adiknya yang nomor 8.

Sejak TK, saya melihat saudara-saudara saya begitu rajin membantu orang tua. Dari mencari kayu bakar, mengumpulkan kapuk untuk dijual, kemudian uangnya untuk membeli peralatan sekolah, memasak, merawat adik-adiknya, bahkan bekerja pada tetangga untuk membayar uang sekolah. Setelah mereka lulus SD ataupunnSMP, mereka merantau ke berbagai kota.

Saya masih ingat, saat itu saya masih sekolah TK. Saya sudah bisa membicarakan cita-cita saya kepada orang tua.
"Mak, nanti setelah saya TK, saya mau lanjut ke SDN 1 ya, setelah itu saya mau sekolah di SMPN 1 ( SMP favorit dari dulu hingga sekarang, dulu sekolah tersebut sudah berstandar internasional), setelah itu saja juga mau lanjut di SMAN 1 dan kuliah, kuliah lagi, dan kuliah lagi sampai tinggi, dan menjadi wanita karir."
Apa yang dikatakan orangtuaku?
"Mau bayar pakai apa? Cebol kok arep nggayuh lintang (Cebol kok mau meraih bintang), bisa sekolah sampai SMP saja sudah Alhamdulillah. Lihatlah saudara-saudaramu, mereka hanya bisa sampai SMP dan merantau mencari kerja."
Betapa sedihnya aku mendengar itu. Tapi aku hanya diam, dan memendam dalam cita-citaku dengan penuh keyakinan.
"Aku pasti bisa!" kataku dalam hati.

Tiba saatnya masuk SD. Ohya, jaman dulu, kami sekolah tidak pernah diantar orang tua. Saya dan kakak ke 7 jalan kaki sejauh 3 kilometer. Setelah kakak saya lulus, ya saya jalan sendirian, terkadang ada orang baik mau ngasih tebengan sampai perempatan jalan rumah.

Saya termasuk siswi berprestasi sejak TK. Begitupun SD. Saya selalu mendapatkan peringkat satu. Orang lain mulai mengolok tidak percaya.
"Bocah kayak Gundreng (anak kecil yang buruk rupa) kok bisa dapat peringkat satu"
Orangtua saya tidak tahu, apa itu peringkat. Tapi saya tahu. Saya pun terus membuktikan prestasi saya hingga ikut berbagai lomba.

Kegiatan saya bukan hanya sekolah saja loh ya. Sejak saya TK, walau badan saya kecil, kalau hari libur, saya selalu membatu menanak nasi satu panci besar, karena ibu saya harus kerja. Setiap hari, sepulang sekolah, saya mencari kayu bakar untuk memasak. Saya membersihkan rumah hingga pekarangan. Saya juga mencuci pakaian satu rumah, (tak terlepas pakaian yang digunakan ayah dan ibu yang penuh dengan lumpur karena bekerja di sawah) ke sungai yang lumayan jauh dan jalannya naik turun-turun. Bahkan saya juga termasuk jarang belajar, karena waktu itu rumah belum dialiri listrik. Kami hanya menggunakan beberapa lentera. Saya juga tidak punya waktu untuk tidur siang dan bermain, bahkan mengaji ke masjid seperti anak-anak SD yang seusia saya. Sejak TK keluarga kami sudah dituntut mandiri.

Tibalah kelulusan SD. Saya kebetulan mendapatkan nilai tertinggi dari hasil ujian kelulusan sekolah. Saya sangat senang. Saya mencoba bercerita kepada orang tua. Tapi apa daya, mereka tidak tahu apa arti dari "peringkat". Tetapi guru-guru saya menyemangati saya. Tidak lepas dengan provokasinya, agar saya melanjutkan ke sekolah favorit, SMPN 1."

Saya mengutarakan keinginan saya untuk mendaftar ke SMPN 1 tersebut. Orang tua saya tidak mendukung. Mengingat saya sering mendapatkan beasiswa saat masih duduk di SDN 1, saya meyakinkan orangtua saya, bahwa saya bisa mendapatkan beasiswa juga di sana.

Kemudian orangtua saya menyetujui. Ibu saya berusaha mencari dana untuk pendaftaran awal ke salag satu orang terkaya di daerah saya saat itu. Tapi apa jawabannya,
"Lebih baim analnya di sekolahin di SMPN 2 aja Lek . Di SMPN 1 bayarnya mahal. Udah gitu perlu uang transport juga. Tidak bisa ditempuh menggunakan sepeda. Lagian juga belum tentu anaknya bisa bersaing di sana."

Saya ingin sekali marah mendengar celotehan itu. Kemudian saya mengutarakan keinginan saya tersebut kepada Keluarga Baik(keluarga yang suka membantu keluarga anak-anak kurang mampu untuk sekolah). Dengan prestasi saya selama di SD, keluarga tersebut mau membantu setengah dari biaya pendidikan saya selama SMP.

Di SMPN 1 inilah saya sempat putus asa. Walau biaya pendidikan sudah ada yang membantu, tapi di sekolah ini sangat sulit bagi saya mendapatkan beasiswa. Bahkan sepeserpun tidak. Padahal ayah saya yang sudah begitu tua berusaha datang ke sekolah untuk meminta keringan. Saya merasa sekolah ini memang sangat sadis. Sekolah ini berisi anak-anak orang kaya. Dimana mereka sudah mengenal internet dan gadget, bahkan saya saja belum pernah mengenal komputer sebelumnya. Kuakui, murid-muridnya memang pintar dan cerdas. Saya tidak bisa mengimbangi mereka. Ingin rasanya pindah sekolah, tapi itu tidak mungkin. Mengingat biaya pindah sekolah pasti sangat banyak.

Kuat tidak kuat, saya berusaha untuk bertahan. Di tambah rasa minder pada diri saya. Membuat saya tidak konsentrasi dalam belajar. Teman-teman di tempat ini juga sangat sedikit yang mau berteman dengan saya. Saya sering sendirian. Tapi saya tidak menyerah. Walau dibeberapa mata pelajaran saya bisa menguasai, anehnya nilai saya selalu mepet KKM. Mungkin dikarenakan nilai keaktifan saya kurang.
Hal itu menyadarkan saya pada sebuah quote.
Quote:

Saya benar-benar tenggelam. Sama sekali tidak terlihat. Terbersit penyesalan, "Tau gitu, dulu saya sekolah di sekolah biasa-biasa aja ya."
Tapi apa daya, penyesalan memang selalu dibelakang, kalau di depan namanya pendaftaran ya Gan,Sist, hehe

Masuk di kelas 3 SMP. Saya sudah mulai berfikir lagi. Gimana caranya supaya saya bisa masuk SMAN 1, secara orang tua saya tidak akan mempu memberikan biayanya.

Kemudian saya membicarakannya dengan Keluarga Baik yang membantu pendidikan selama di SMP. Melihat semangat saya yang menggebu, akhirnya mereka setuju memberikan biaya 100%, dengan syarat, saya harus masuk di SMAN 1 (SMA favorit yang saya idamkan) dan saya mau tinggal di rumah mereka. Demi masa depan saya, saya menyetujuinya. Tentunya dengan persetujuan orang tua juga.

Kakak saya yang nomor 8 juga bercita-cita sekolah sampai tinggi. Tapi karena biaya, akhirnya kakak saya memutuskan untuk bekerja dulu selama 2 tahun setelah lulus SMP. Kemudian kakak saya mengambil Paket C, (Setara SMA)

Akhirnya saya masuk di SMAN 1, dan tinggal di rumah orang tua angkat saya, istilah nya Ngenger. Selama di sana saya harus lebih disiplin. Tinggal di rumah gedongan yang jauh 180 derajat dengan rumah bambu orang tua saya.

Selama dirumah orang tua angkat, saya membantu berbagai pekerjaan rumah yang besar itu. Mulai bangun tidur sampai tidur lagi. Masak 3x sehari.

Bagun pagi, setelah solat subuh, saya harus membuat sarapan, mencuci perabotan, memberi makan ayam, memberi makan kelinci, menyapu lantai, baru mandi dan berangkat sekolah. Sepulang sekolah, saya juga harus membuat makan untuk siang (walau sudah sekiat pukul 13.30 wib), memberi makan ayam, kelinci. Begitu pun sorenya, menyapu halaman dan pekarangan, menyiram tanaman, memberi makan ayam, membersihkan kandang kelinci, mandi, lanjut membuat makan malam dan beres-beres dapur. Setiap hari seperti itu. Kadang merasa begitu capek. Kangen keluarga. Ingin menyerah, tapi ingat tujuan akhir saya. Bahwa saya harus sukses. Saya harus bisa mengangkat derajat orang tua saya dimata masyarakat kalau anaknya ada yang berpendidikan tinggi. Agar label "Keluarga Bodoh" dari orang-orang segera hilang dari keluarga saya.

Selama di SMAN 1, saya mencoba untuk lebih percaya diri. Saya belajar dari pengalaman di SMP.
Quote:

Saya bisa melaluinya. Saya bahagia. Teman-teman saya lebih banyak. Nilai saya semakin membaik. Dan saya juga mendapatkan beberapa beasiswa yang uangnya bisa saya tabung untuk hal-hal yang mendadak. Mungkin memang benar. Masa putih abu-abu itu adalah masa yang menyenangkan. Dimana solidaritas bisa ditumbuhkan. Cinta monyet mulai bersemi, walau saya tidak pernah pacaran selama sekolah. Tapi pasti ada orang yang dikagumi dan bisa menjadi penyemangat.

Masa kelulusan SMA semakin dekat. Saya memikirkan langkah selanjutnya. Cita-cita saya adalah bisa kuliah. Waktu itu sudah ada beasiswa bidikmisi. Saya mencoba mengumpulkan banyak informasi disela-sela belajar Ujian Nasional.

Setelah Ujian Nasional selesai, saya mencoba mendaftar PTN di Semarang melalui berbagai jalur, dan tetap menggunakan embel-embel bidik misi. Tapi mungkin belum rezeki saya. Saya belum ketrima.

Ketika kita sudah terpontang-panting, berusaha semaksimal mungkin, mengurus segala keperluan kesana-kesini sendiri, capek, tapi hasilnya zonk. Jengkel itu pasti. Pengen marah. Nangis. Merasa membuang-buang waktu. Pokoknya sedih banget.

Tapi kesedihan tidak bisa menyelesaikan masaalah. Kakak saya sudah lulus Paket C sambil bekerja. Kemudian saya berpikir, "Kakak saya bisa, walau sambil bekerja, kenapa saya tidak?"

Langakah pertama saya adalah sadar. Belajar tidak harus dibangku perkuliahan. Belajar bisa di mana saja. Kemudian saya berencana untuk bekerja dan menyekolahkan adik saya. Tapi adik saya tidak mau. Akhirnya dengan berbekal ijazah SMP, ia merantau ke Sumatra. Sedih rasanya, ketika saya tidak bisa menunaikan kewajiban saya terhadap adik saya.

Tapi kesedihan tidak boleh berlanjut. Akhirnya saya ke Semarang, mengambil kursus dari pemerintahan dan mendapatkan uang saku dari pemerintah. Setelah kursus, saya dianjurkan magang. Alhamdulillah ada perusahaan percetakan yang menerima saya magang. Setelah waktu magang selesai, perusahaan menarik saya menjadi karyawan di bagian operator foto copy.

Selama bekerja, saya juga sambil belajar. Saya sering ke Perpustakaan Daerah. Keinganan saya untuk kuliah juga sudah surut.
"Balajar enggak harus di bangku kuliah. Saat ini yang paling penting adalah keluarga," batinku.

Tapi berhubung tempat kerja saya dekat dengan beberapa kampus, terlebih di depan Perpustakaan yang sering saya datangi ada kampus, tiba-tiba keinginan saya berkuliah muncul kembali.

Saya mengutarakan keinginan kuliah kepada keluarga. Tapi tidak ada yang mendukung. Saya menceritakan kepada manajer saya, beliau mendukung. Seperti biasa, saya meyakinkan keluarga, bahwa saya tidak akan pernah merepotkan keluarga untuk biaya kuliah.

Suatu hari, ketika pulang dari perpus, saya mencatat nomor telepon kampus di seberang kampus. Hari berikutnya, saya menelpon kampus tersebut mengenai persyaratan pendaftaran dan menanyakan beasiswa yang tersedia. Kemudian pihak kampus meminta pertemuan.

Dalam pertemuan dengan pihak kampus, saya menjelaskan keadaan saya yang sebenarnya. Kalaupun tidak ada beasiswa, saya menginginkan keringanan. Entah apa yang merasuki pihak kampus, setelah melihat berkas saya, saya langsung diarahkan ke beasiswa bidikmisi. Beasiswa bidikmisi bisa diambil maksimal 2 tahun setelah kelulusan.

"Alhamdulillah." Saya sangat bersyukur saat itu.

Akhirnya kuliah sambil kerja pun dimulai. Kebetulan di kampus saya ada kelas pagi san kelas sore. Untuk mahasiswa beasiswa harus mengikuti kuliah reguler. Saat itu perkuliahan saya dimulai hari senin-sabtu, pukul 07.00 - 12.00 wib. Sepulang dari kuliah saya langsung bekerja, dari pukul 13.00 - 21.00 wib.

Mahaisiswa beasiswa dituntut untuk mengikuti organisasi di kampus maupun di luar kampus. Jadi yang bekerja harus pintar-pintar mengatur waktu. Dan Alhamdulillah saha bisa mengikutinya.

Perusahaan tidak selalu jaya. Ketika perusahaan tempat saya bekerja mengalami kerugian, klien berkurang, saya memutuskan untuk keluar dan mencari pekerjaan baru. Tidak mudah mungkin. Tapi selalu ada jalan bagi yang mau berusaha.

Sambil menunggu mendapatkan pekerjaan batu, saya membuat beberapa jenis makanan untuk dijual. Ada saja rezeki, jualan laku, kerjaan baru juga dapat. Akhirnya kuputuskan untuk bekerja di restoran jenis makanan jepang. Di sini lebih berat memang.

Bekerja di restoran dimulai pukul 12.00 wib - 22.00 wib. Jadi kalau perkuliahan selesai pukul 12.00 wib, otomatis saya berlari-lari dari kampus sampai tempat kerja sudah terlambat. Solusinya saya tidak mengambil jatah libur untuk mengganti keterlambatan. Semua demi pekerluan perkuliahan.

Beasiswa bidikmisi memberikan biaya perkuliahan penuh sampai lulus, juga uang saku Rp 600.000,- /bulan. Kalau untuk makan, bayar kos, print, foto copy, membeli buku (kalau buku ada di perpus, lebih baik pinjam di perpus) itu kurang. Sedangkan saya tidak mendapat sokongan dari keluarga. Kalau tidak bekerja, bagaimana bisa bertahan.
Quote:


Kemudian kakak saya yang nomor 8, akhirnya juga bisa kuliah dengan pendidikan sendiri. Kami saling menyemangati. Dengan kerja keras tersebut, akhirnya saya dan kakak saya bisa lulus sarjana di tahun yang bersamaan, dengan nilai yang cukup puas bagi kami yang kuliah sambil kerja serabutan. Kakak saya, lulus Sarjana Sastra Indonesia dengan IPK 3,76 dari Universitas Swasta di Jakarta, dan saya lulus Sarjana Akuntansi dengan IPK 3,56 dari Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi di Semarang.

Setelah lulus kami juga sempat bekerja di perusahaan. Walau sekarang kami belum bekerja lagi. Kami memutuskan untuk merawat orang tua di kampung dulu, selagi masih bisa. Karena kondisi orang tua sudah sangat renta dan pikun, dan semua saudara sudah menikah, tidak ada yang menemati mereka. Sambil berusaha berbakti kepada orang tua, Kami bekerja serabutan di desa melalui online. Dan masih berusaha mendapatkam pekerjaan yang lebih baik lagi.

Jadi buat Nuryanti Novitasari, dan teman-teman dari keluarga tidak mampu lainnya, teruslah mengejar mimpi dengan kerja keras. Jangan menyerah. Tapi meminta donasi, menurut saya kurang pantas. Karena masih ada orang yang membutuhkan daripada sekedar untuk kuliah ke luar negeri. Daripada harus kuliah ke luar negeri dengan biaya mahal dan kampusnya pun tidak lebih baik dari kampus di Indonesia, lebih baik berkuliahlah di kampus PTS di Indonesia kalai tidak diterima di PTN. PTS di Indonesia juga banyak yang berkualitas kok. Dan biayanya tidak semahal di luar negeri.

Setiap orang punya cita-cita tinggi. Bahkan saya pun masih punya cita-cita kuliah sampai S3 di luar negeri. Tapi melihat kondisi kita sekarang lebih baik, mengambil langkah kecil dulu untuk sampai ke tujuan akhir kita.

Cari informasi sebanyak-banyaknya. Cari beasiswa. Tetap belajar, walau tidak sedang kuliah. Sebagai bekal bila nanti diperlukan untuk beberapa tes awal untuk mendapatkan beasiswa. Sebenarnya banyak sekali beasiswa kalau kita mau mencari dan bersungguh-sungguh dalam berusaha untuk mendapatkannya. Semangat!!

Quote:



Spoiler for Sumber : Pengalaman Pribadi:
Diubah oleh missmars

Di Butuhkan Kerja Keras Dan Tahan Banting Untuk Meraih Mimpi

Di Butuhkan Kerja Keras Dan Tahan Banting Untuk Meraih Mimpi

Kisah saya dalam meraih mimpi, bila diceritakan detail sesuai jenjangnya, pasti sangat panjang. Banyak suka dan duka yang sudah terlampaui.

Dari tinggal di rumah orang dengan berbagai perasaan dan difitnah, sampai merasa terbuang setelah saya lulus dari sekolah menengah. Kemudian merantau untuk kursus juga tinggal di rumah orang lain agar kebutuhan sehari-hari dapat tercukupi. Magang kerja dengan gaji Rp 600.000,- dan tinggal di gudang kertas yang besar seorang diri. Udah gitu, kata penduduk setempat, tidak ada yang berani tinggal di gudang kertas tersebut karena banyaknya gangguan dari makhluk tak kasat mata.

Setelah magang, saya diterima kerja dengan gaji awal Rp 800.000,- tahun 2014 di Semarang. Di tambah keinginan saya kuliah.

Sebelum kuliah saya menyisihkan gaji untuk dikirim ke orang tua dan menabung untuk mendaftar Perguruan Tinggi. Bayangkan uang Rp 800.000,- harus saya atur sebaik mungkin untuk bayar kos, kirim orang tua (walau hanya sedikit), makan sehari-hari dan keperluan lainnya, serta menyisihkan seperak dua perak untuk menabung. Kalau kita mau bersyukur, semuanya akan cukup. Itulah yang dinamakan berjuang.

Setelah keterima di PTS, sebelum mendapatkan beasiswa, saya telah membayar dulu untuk membeli Jas Almamater dan uang pendaftaran. Karena di kampus saya bebas uang gedung, kurang lebih biaya yang saya keliarkan Rp 1.750.000,- udah semuanya.

Kalau Novi ingin kuliah yang murah dan menyediakan beasiswa, kalau mau mencari pasti banyak. Tapi jadi mahasiswa beasiswa pun harus kerja keras. Mendapatkan nilai yang bagus dan mempertahankannya, itu adalah hal yang wajib. Mengikuti banyak kegiatan di kampus dan luar kampus, harus siap. Bahkan menahan diri dari emosi karena pasti ada kecemburuan mahasiswa lain, kita harus siap.

Bahkan saya saja yang sudah berusaha keras menjadi mahasiswi yang baik masih mendapatkan fitnah. Di sana, saya di fitnah habis-habisan, di permalukan di depan mahasiswa lain, hingga semua orang tahu kalau saya mahasiswa bidikmisi, tapi tidak berperilaku baik. Pernah saya. Ada pula oknum yang tidak menyukai saya. Tapi saya berusaha keras agar tetap menonjol di mata semua mahasiswa di kampus (karena sudah terlanjur menonjol dengan fitnah yang keji). Saya membersihkan diri dari fitnah dengan prestasi dan memajukan organisasi yang telah mati. Yang mengenal saya dengan baik, yang mengetahui kinerja saya di kampus dan diluar kampus, yang mengerti kegiatan saya, akan mendukung saya. Tapi orang yang tidak suka, apapun yang kamu lakukan, bagaimanapun prestasimu, mereka akan tetap membencimu.

Bukan hanya siap kerja keras, tapi juga dibutuhkan mental baja. Apalagi kalau kita dari kalangan masyarakat yang ekonominya menengah kebawah. Jangan manja. Jangan berpikir mimpimu akan tercapai, jika kamu tidak mau bekerja keras dan hanya mengandalkan orang lain.

Jadi, untuk Novi dan Novi-novi yang lain, yang masih punya cita-cita, yang ingin mewujudkan cita-cita, bekerja keraslah. Hidup ini keras. Jangan mengandalkan siapapun kecuali Tuhan. Masa depanmu ada ditanganmu sendiri. Bukan ditangan keluargamu, bukan ditangan temanmu, bukan ditangan Rumah Zakat, dan bukan pula ditangan pemerintah.

Quote:
Diubah oleh missmars


×
GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di