alexa-tracking
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Pakaian Untuk Seorang Pangeran
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5dc0d6657e3a7235f7349bef/pakaian-untuk-seorang-pangeran

Pakaian Untuk Seorang Pangeran

Pakaian Untuk Seorang Pangeran

Cinta bagaikan menelan cokelat panas sebelum mendingin. Awalnya mengagetkan, namun kemudian menghangatkan kita untuk waktu yang sangat lama.
-Penulis Tidak Diketahui

Aku tidak pernah mengira akan kembali sendiri pada usia enam puluh tahun. Jelas, aku juga tidak mengira akan kembali berkencan di usiaku.
Saat remaja, aku anak yang pemalu, tidak populer, dan sangat canggung dalam bergaul. Sekarang, aku punya segudang pengalaman hidup dan pemalu, tidak populer, serta canggung dalam bergaul.
Di usiaku ini aku sulit bertemu pria lajang. Kesempatan berkencan amat jarang datang, sehingga apabila saat itu tiba, aku mencoba membuatnya menjadi acara yang istimewa. Pada kencan terakhir, aku mengenakan pakaian rapi, merias wajah, dan mengenakan cukup banyak parfum seolah aku adalah sekuntum bunga mekar di kebun. Kencanku tertidur dan mendengkur saat makan malam. Mungkin tidak masalah, asalkan kami tidak sedang berada di restoran. Aku menyelesaikan makanan penutupku lalu membangunkannya. Menggunakan garpu, dia memungut giginya dan meninggalkan tip lima puluh sen untuk pelayan. Kuputuskan untuk tidak akan berkencan lagi selamanya.
Putraku Shane sangat besar perhatiannya terhadapku. Dia ingin aku bahagia sekaligus ketakutan bahwa apabila aku tidak menikah lagi, dia akan terjebak denganku. Shane pun mengatur agar aku bertemu dengan George, tetangganya, yang membutuhkan bantuan menulis memoar.
Aku sering membantu menulis memoar. Kurasa, penting bagi orang-orang seusia kami untuk meninggalkan catatan mengenai diri dan sejarah keluarga. Setelah wafat, cerita semacam ini mati bersama kita dan hilang selamanya. Ada kalanya menulis cerita mengenai hidup kita sendiri terasa seperti tugas besar dan banyak orang membutuhkan bantuan untuk memulainya.
Aku pun setuju menemui George di restoran dekat rumah. Kubawa sebuah bolpoin dan buku catatan untuk menuliskan kenangannya. Merasa sekadar sedang membantu tetangga Shane, kukenakan baju rapi biasa tanpa repot-repot memaksakan diriku masuk ke baju dalam ketat tak nyaman yang mendorong perutku melesak ke ginjal agar tampak lima kilogram lebih ramping. Kupulas sedikit riasan ke wajahku dan kupakai lipstik yang dijamin tidak akan melebar ke garis bibirku.
George bertubuh pendek dan gempal. Seperti banyak pria seusianya, dia botak, tetapi punya kumis putih yang lucu. Aku lebih tinggi sekitar lima sentimeter dari George dan dia sama sekali bukan tipeku, tapi tidak masalah karena pertemuan itu bukan kencan sungguhan. Aku hanya membantunya memulai menulis cerita hidupnya.
George mengenakan kemeja terjelek yang pernah kulihat. Warnanya kuning berhias bunga-bunga cokelat kecil. Lebih buruk lagi, kancingnya berada di sisi yang salah, sehingga dia kelihatan sedang mengenakan kemeja wanita.
Berhubungan aku tidak menganggap kami sedang berkencan, apa yang dia kenakan tidaklah penting. Setelah memperkenalkan diri, kukeluarkan buku catatanku dan mulai kuajukan beberapa pertanyaan. Di mana dia lahir, dimana dia bersekolah, apakah dia punya saudara kandung, pekerjaan apa saja yang pernah dia lakukan—sembari dengan cermat mencatat setiap jawaban. Dalam beberapa menit saja, aku sudah tahu nama anjingnya, nama guru di kelas tiga, dan makanan penutup kesukaannya adalah kue cokelat. Dia telah tujuh tahun menduda, memiliki dua anak lelaki yang telah dewasa, dan empat cucu. Hobinya adalah merakit kapal dan baru lima tahun sebelumnya dia pensiun dari kantor pos.
“Lihat. Mudah, bukan?” kataku sambil merobek lima halaman dari buku catatanku dan menyerahkannya pada George. “ Kau hanya perlu memulai dan tahu-tahu nanti bukumu akan selesai.”
“Buku apa?” tanya George.
George tidak sedang menulis buku. Anakkulah yang mengarang alasan itu untuk memperkenalkan kami. Aku baru saja menghabiskan lima belas menit menginterogasi George dan menuliskan jawaban-jawaban dari pertanyaanku.
Sekarang, dia yakin aku gila, tetapi setelah aku jelaskan apa yang dilakukan Shane, kami berdua tertawa. George adalah tipe orang yang tertawa dengan seluruh wajahnya; mata birunya berkilauan dan garis-garis di sekitar matanya menebal. Garis dan kerut di wajah seseorang menambah karakternya. Tawanya juga terdengar menyenangkan; bukan tawa sopan yang dibuat-buat, melainkan tawa yang akan memancing orang lain untuk turut tergelak.
“Aku perlu menjelaskan sesuatu tentang kemeja ini,” kata George. “ Cucu perempuanku yang berusia dua belas tahun bercita-cita menjadi perancang busana terkenal. Aku membelikannya mesin jahit dan untuk menyatakan rasa terima kasihnya, dia membuatkanku kemeja ini untuk kukenakan saat berkencan. Aku harus mengenakannya. Aku tidak mau melukai perasaannya. Sempat terpikir olehku untuk menaruh baju lain di mobil dan berganti pakaian di tempat parkir sebelum masuk, tetapi rasanya itu tidak jujur. Kalau cucuku bertanya apakah aku mengenakan kemeja ini saat berkencan, aku ingin menjawab ya, dan bahwa kemejanya bagus sekali. Aku tak sanggup berbohong kepadanya.”
Pada detik itu, aku merasa amat menyukai George sampai-sampai air mataku mengambang.
“Sampaikan pada cucumu bahwa pasangan kencanmu sangat menyukainya, dan semoga dia beruntung dalam kariernya, dan dia sudah punya permulaan yang baik,” kataku. “Sampaikan kepadanya bahwa menurutku bila dia membuat pakaian untuk seorang pangeran.”
Aku ingin mengatakan pada George bahwa saat ini dia nampak seperti seorang pangeran, tetapi aku khawatir kata-kata itu akan terdengar konyol dan membuatnya malu.
“Terima kasih,” ucap George dan dia meremas tanganku. “Aku tahu pasti kau mengerti. Anakmu mengatakan kau ini tidak ada duanya.”
Pipiku memerah. Sudah bertahun-tahun aku tidak merasakannya, tetapi jelas wajahku merona. Hatiku juga berdegup lebih kencang. Kuharap penyebabnya adalah George yang menggenggam tanganku dan bukan serangan jantung.
Kuputuskan aku tidak peduli bahwa George pendek dan botak; dia adalah pria dengan hati yang baik dan punya integritas. Dia bersedia mempermalukan dirinya dengan mengenakan kemeja norak pada kencan pertamanya untuk menjaga perasaan cucu perempuannya.
“Kalau kau mengajakku untuk berkencan kedua kalinya, aku berjanji tidak akan mewawancaraimu dan mengajukan lusinan pertanyaan.” Aku tersenyum lebar, yang kuharap terlihat menggoda. Aku juga berharap dia percaya gigiku adalah milikku tulen... yah, memang akan jadi milikku setelah tiga kali lagi cicilan.
“Aku tidak keberatan. Aku tidak pernah bertemu dengan perempuan yang cukup tertarik mengetahui kisah hidupku dan tidak hanya mendengarkan, tetapi juga menuliskan kata-kataku,” dia tersenyum balik. “Kau orang baik.”
Dan segalanya menjadi serumit dan sesederhana itu.
Aku bertemu pria yang baik dan aku tidak lagi sendiri.

-April Knight-


×
GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di