alexa-tracking
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / News / ... / IDNTimes /
12 Kontroversi dan Sepak Terjang Netflix di Dunia Perfilman
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5dbfb491e83c727ae4681969/12-kontroversi-dan-sepak-terjang-netflix-di-dunia-perfilman

12 Kontroversi dan Sepak Terjang Netflix di Dunia Perfilman

12 Kontroversi dan Sepak Terjang Netflix di Dunia Perfilman

Netflix hadir dengan konsep yang cukup sederhana. Jika kita tidak bisa ke bioskop, Netflix lah yang menjadi solusinya. Karena ia adalah raksasa hiburan dengan film dan televisi originalnya sendiri. Tetapi semua perusahaan raksasa selalu memiliki kasus atau skandal.

Netflix pun harus membuang banyak waktu berharganya untuk menghadapi dan membela diri terhadap tuduhan, baik tanpa dasar maupun tidak. Kasus ini biasanya akibat dari keputusan anehnya sendiri atau karena faktor eksternal. Berikut adalah beberapa kasus terbesar yang pernah dialami Netflix.

1. Kontroversi film Girl, yang dianggap tak pantas12 Kontroversi dan Sepak Terjang Netflix di Dunia Perfilman
Film Netflix yang berjudul Girl berhasil masuk nominasi Golden Globe, tetapi para kritikus mengatakan kalau film itu melampaui batas. Film yang mengikuti seorang gadis transgender bernama Lara yang berjuang untuk menggapai mimpinya sebagai balerina. Dia diintimidasi di sekolah dan terobsesi dengan tubuhnya,  sampai akhirnya dia menderita infeksi yang mengerikan akibat sikapnya yang senonoh.

Pasalnya, adegan yang tak pantas itu dilakukan oleh aktor yang baru berusia 15 tahun dan berperan sebagai Lara. Beberapa kritikus juga menyinggung penulis, sutradara, atau aktor film yang menurut mereka memberikan pesan yang buruk kepada kaum muda, khususnya. 

2. Serial Baby yang dianggap gelap12 Kontroversi dan Sepak Terjang Netflix di Dunia Perfilman
Generasi di era modern ini harus berjuang dengan perkembangan teknologi yang begitu pesat. Para orangtua pun harus sadar bahwa pentingnya representasi dari hal-hal buruk di media teknologi. Menurut Refinery29, serial Baby di tahun 2018 terinspirasi oleh kisah nyata dari dua orang gadis berusia 14 dan 15 tahun yang menjual diri mereka hanya untuk mengikuti gaya modernisasi, yaitu membeli pakaian desainer.

Kisahnya juga bercerita tentang cinta terlarang, tekanan keluarga, dan berbagi rahasia lainnya. Premisnya memang didasarkan pada kisah nyata, tetapi menjadi serial televisi dianggap tidak layak. Faktanya, Pusat Nasional Eksploitasi Seksual (NCOSE) cukup mengkhawatirkan hal ini. Mereka meminta Netflix untuk membatalkan serial itu sebelum pemutaran perdananya. 

Decider mengatakan bahwa serial itu menceritakan kesenjangan, dan menggambarkan pelacuran sebagai sosok yang gelap dan sedih, dan juga tidak memiliki pelajaran yang bisa diambil. Meskipun ada reaksi keras dari beberapa pihak, Netflix tidak berniat untuk mempertimbangkan akan menarik serial itu. Pada 2019, Baby masih terdaftar di layanan Netflix. 

3. Skandal pelecehan seksual aktor Netflix12 Kontroversi dan Sepak Terjang Netflix di Dunia Perfilman
Aktor Kevin Spacey berperan sebagai Frank Underwood di serial Netflix House of Cards. Namun sayangnya dipecat oleh Netflix karena skandal pelecehan seksual. Netflix bahkan harus rugi sebesar 39 juta US dolar. Menurut Reuters, angka itu terkait dengan konten yang belum dirilis, namun Netflix memutuskan untuk tidak melanjutkan.

Hal itu dilakukan karena Kevin Spacey melakukan pelanggaran seksual yang dibilang cukup parah. Pada awal 2018, Spacey dilaporkan 30 orang yang pernah dilecehkan olehnya, termasuk delapan orang yang bekerja di film House of Cards. Dalam hal ini, Netflix dianggap sudah melakukan hal yang benar karena telah memecat Spacey, terlepas dari berapa biaya yang harus dikeluarkan mereka.

4. Netflix merekrut karyawan Fox12 Kontroversi dan Sepak Terjang Netflix di Dunia Perfilman
Tidak tahu pasti mengapa Netflix ingin merekrut karyawan Fox secara spesifik. Apa pun alasannya, Hollywood Reporter mengatakan bahwa Netflix merekrut karyawan Fox, yang akhirnya memicu kemarahan Fox. Dalam gugatannya, Fox menyebut Netflix melakukan kampanye kurang ajar untuk menargetkan, merekrut, dan merampas eksekutif Fox secara ilegal, dengan membujuk mereka untuk memutus kontrak kerja dengan Fox dan mulai bekerja di Netflix. Fox mengklaim Netflix mencoba merekrut dua karyawan tingkat tinggi, seorang eksekutif pemrograman dan seorang eksekutif pemasaran, meskipun Netflix tahu kalau mereka memiliki kontrak dengan Fox. 

Netflix menyatakan bahwa ia tidak salah, itu kesalahan Fox sendiri yang katanya mengintimidasi karyawan dengan mengambil kesepakatan sewenang-wenang dan bertentangan dengan kebijakan publik. Netflix membela diri bahwa ia hanya menawarkan pekerjaan kepada karyawan Fox, bukan merebutnya.

5. Bird Box sempat menggunakan rekaman bencana dari kisah nyata12 Kontroversi dan Sepak Terjang Netflix di Dunia Perfilman
Netflix menggunakan rekaman bencana sungguhan dari pada menciptakan kembali bencana di lokasi syuting atau dengan efek CGI. Dan hal ini membuat orang-orang yang ditinggalkan merasa sedih dan keberatan. Menurut BBC, Netflix menggunakan rekaman bencana sungguhan untuk menggambarkan adegan apokaliptik dalam film Bird Box.

Memang, klipnya berasal dari perusahaan rekaman saham. Tapi mereka seolah masa bodoh dengan keluhan yang dilaporkan beberapa pihak. Baru setelah pejabat Kanada mengirim surat terbuka kepada Netflix, ia pun memutuskan untuk menggantinya.

6. Netflix membatasi kecepatan streamingnya pada layanan tertentu12 Kontroversi dan Sepak Terjang Netflix di Dunia Perfilman
Netflix dituduh melakukan pelambatan pada sisi streamingnya. Menurut Competitive Enterprise Institute, Netflix telah membombardir pelanggan tertentu selama bertahun-tahun - terutama mereka yang menggunakan jaringan nirkabel AT&T atau Verizon. Streaming video pada AT&T dan Verizon dibatasi dengan kecepatan 600 kb per detik.

Namun ini tidak berlaku pada mereka yang menggunakan Sprint atau T-Mobile karena layanan tersebut tidak membebankan biaya kepada pelanggan yang melebihi tunjangan data mereka. Di websitenya, Netflix membela diri dan meyakinkan konsumennya untuk tidak percaya terkait isu pembatasan data. 

7. Gugatan seorang cucu terkait akun kakeknya di layanan Netflix12 Kontroversi dan Sepak Terjang Netflix di Dunia Perfilman
Menurut Variety, pada tahun 2016, pengguna Netflix bernama George Keritsis mengajukan gugatan class action terhadap Netflix, ia menuduh kalau perusahaan itu telah menaikkan harga pada akun kakeknya. Keritsis mengatakan Netflix berjanji bahwa akun tersebut akan tetap 7,99 US dolar per bulan, namun justru naik menjadi 9,99 US dolar per bulan. Namun gugatan itu tidak pernah terdengar lagi beritanya. Dan tidak diketahui bagaimana akhirnya. 

8. Sitkom yang dianggap terlalu sensitif12 Kontroversi dan Sepak Terjang Netflix di Dunia Perfilman
Semua perusahaan hiburan harus menemukan keseimbangan antara kenyataan dan sensasionalisme. Mereka lebih suka pragmatis. Karena pada kenyataannya, realitas itu membosankan, jadi tidak heran kalau dunia hiburan itu dipenuhi dengan settingan. Namun hal itu terkadang menyinggung dan menghina, dan banyak orang yang akhirnya tidak tahu perbedaannya.

Salah satu dari hal ini terjadi dengan sitkom Netflix, Atypical, yang dianggap sensitif terkait masalah kencan seorang pria autis. Kitikus mengatakan kalau acara ini hanya menggambarkan pria autis sebagai stereotip yang kutu buku. Ia pun digambarkan memiliki kesulitan memahami isyarat sosial, yang berarti dia selalu salah mengartikan isyarat dari semua orang, dan terutama dari lawan jenis. Sitkom ini dianggap melakukan pelanggaran terkait kekurangan fisik seseorang.

9. Film yang mengangkat penderita gangguan makan dan reaksi publik 12 Kontroversi dan Sepak Terjang Netflix di Dunia Perfilman
Netflix dianggap tidak pernah belajar dari kesalahan. Trailer film asli Netflix "To the Bone" perdana pada Juli 2019 dan langsung menerima kecaman di media sosial. Menurut Decider, penonton menuduh Netflix "meromantisasikan penyakit mental," dan beberapa dari mereka menyebut kalau trailer itu menyinggung penderita gangguan makan. 

Bintang Netflix dan bintang film Lily Collins, pernah berjuang dengan anoreksia dalam kehidupan nyata, ia membela film tersebut sebagai penggambaran yang jujur ​​tentang gangguan makan.

10. Tuduhan adanya orientasi seksual12 Kontroversi dan Sepak Terjang Netflix di Dunia Perfilman
Ada beberapa orang yang menduga kalau Netflix mungkin mengategorikan penonton mereka berdasarkan orientasi seksual. Menurut Yahoo Entertainment, pada Maret 2019 pendiri Out in Tech Lukas Thoms menuduh layanan streaming Netflix mengubah urutan episode untuk seri antologi animasi dewasa Love, Death & Robots berdasarkan apakah yang menonton gay atau bukan.

Netflix membantah melakukan itu. "Kami tidak meminta penikmat layanan streaming kami berdasarkan ras, gender, atau etnis mereka sehingga kami tidak dapat menggunakan informasi ini untuk mempersonalisasi pengalaman Netflix masing-masing," kata seorang juru bicara. "Satu-satunya informasi yang kami gunakan adalah riwayat tampilan anggota." Ia juga secara khusus mengatakan empat episode berbeda yang diuji untuk Love, Death & Robots tidak terkait dengan identitas seksual.

11. Netflix melakukan plagiarisme? 12 Kontroversi dan Sepak Terjang Netflix di Dunia Perfilman
Pada musim panas 2018, seorang fotografer bernama Sean Heavey melihat sesuatu yang familier di Beyond Stranger Things, sebuah pertunjukan yang mendokumentasikan pembuatan film Stranger Things yang populer di Netflix. Dalam film itu ia melihat ada gambar formasi awan yang ia kenali. 

Menurut Pixsy, Heavey mengajukan gugatan terhadap layanan streaming Netflix, menuduh bahwa Netflix menggunakan fotonya "The Mothership" tanpa izinnya. Bisa dibilang ini kasus plagiarisme, jelas bahwa foto Heavey muncul dalam konsep seni untuk Stranger Things seperti yang terlihat dalam film dokumenter. Tetapi Netflix berpendapat bahwa penggunaan gambar itu masih berada dalam tahap wajar.

12. Menutup ulasan dari pelanggan terkait program Netflix12 Kontroversi dan Sepak Terjang Netflix di Dunia Perfilman
Menurut Consumer Affairs, pada musim panas 2018 Netflix mengumumkan bahwa mereka menghapus fitur ulasan tertulisnya karena menurunnya pengguna atau mungkin hanya menolak ulasan dari penonton, meskipun mereka tidak memberitahu alasan sebenarnya. Tahun sebelumnya, mereka mengubah sistem peringkat bintang menjadi jempol sederhana atau jempol ke bawah. 

Namun, Netflix menyatakan kalau pengguna yang terkadang menilai program dengan buruk bukan karena kualitas atau filmnya tetapi karena ketidaksepakatan politik seputar produksi - itulah salah satu alasannya mengapa acara khusus Amy Schumer dinilai sangat buruk. 

Ya, kasus atau skandal dari perusahaan besar mungkin saja terjadi. Tak terkecuali dengan layanan streaming sebesar Netflix. Apalagi Netflix itu menyangkut program hiburan dan perfilman, yang mungkin menjadi aktivitas yang tak bisa dipisahkan dari masyarakat.


Sumber : https://www.idntimes.com/hype/entert...mpaign=network

---



×
GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di