alexa-tracking
Kategori
Kategori
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5dbfacf0f0bdb26f1d70eb6c/potek

Potek

Potek

🎉🎉Selamat membaca🎉🎉🎉

💢💢

Kakiku berjalan menuju salah satu kafe yang ada di ujung gang. Kafe yang tak pernah sepi pengunjung, karena kopinya yang khas dilidah pecinta kopi. Tapi, sebenarnya aku tidak terlalu suka kopi, disisi lain pula aku menderita asam lambung. Tak jarang, setelah minum kopi selalu masuk rumah sakit. Mama selalu mewanti-wanti kalau mau pergi nongkrong sama temen, jangan minum kopi. Bahkan, tak jarang pula mama membawakanku air putih dari rumah dengan alasan biar gak minum kopi. Padahal, biar gak keluar duit. Mama terbaik emang, sayang anak dan sayang duit.

Alasan utamaku sering pergi ke sana adalah ada pemilik hatiku. Eh bukan, maksudnya pemilik kafenya. Pokoknya kerenlah. Tak ada yang menandingi. Semoga aja hari ini ketemu.

“Gina!” teriakan dari belakang membuat langkahku terhenti dan memutar tubuh. Dari kejauhan seorang wanita berpakaian ala koboy berlari sambil memegangi tas kulitnya yang hampir terjatuh. Rambutnya pirangnya berkibaran, aku menebak pasti tali rambutnya jatuh di jalan. Anak itu tak pernah lupa untuk mengucir rambutnya, di dalam tas selalu ada tali rambut cadangan.

“Padahal jalan biasa juga bakal gue tungguin sambil duduk di kursi,” sambil menyuruhnya untuk mengatur napas, aku mengeluarkan air minum untuknya. Kasihan sekali sahabatku satu ini.

“Makasih. Lo tau, gue tadi dikejar anjing,” jelasnya antusias. Dikeluarkan sebuah tali rambut berwarna hijau dari dalam tas dan mengucir rambutnya. Tuhkan, bener dugaanku.

“Mungkin ngira lo kawanannya, dan ngejar lo. Hahahaha,” komentarku dibarengi tawa renyah, mendapat balasan cubitan maut di lengan. Mana tangannya mungil, berasa banget sampe ke tulang sakitnya.

“Tertawa di atas penderitaan sahabat itu dosa.” Pelototan matanya seakan-akan mengartikan aku makhluk terjahat sejagat alam. Punya sahabat gini amat.

“Iya-iya, kuy keburu kafenya tutup.” kami berdua berjalan menuju kafe yang hanya berjarak dua meter dari tempat kita berdiri tadi.
Kafe tampaknya lebih ramai dari biasanya, terlihat seluruh sudut kafe sudah dipenuhi oleh lautan manusia. Ini masih lantai satu, belum lantai dua dan tiga. Tapi tempat favorit para pengunjung biasanya lantai satu, karena wifinya lancar. Sebenarnya lantai dua dan tiga ada wifinya, tapi hanya khusus untuk pelanggan yang sudah mempunyai kartu bergambar kopi. Di sudut kartu tertulis password wifinya. Seperti punyaku. Untuk mendapatkan kartu tersebut, aku datang sepuluh kali dengan total pesanan 200K. Strategi marketing yang baik.

“Gin, anterin ke toilet bentar,” sambil menarikku paksa membawa ke belakang kafe melewati dapur. Terlihat di dapur ada barista berkutat membuat lukisan di kopinya. Jadi, pengen dibuatin juga.
Aroma kopi menyeruak di indra penciuman, aromanya menenangkan. Aku suka. Entah dorongan dari mana aku melangkah menuju pintu dapur, ingin melihat barista tadi. Kayaknya dia Leo, pemilik kafe ini. Terlihat dari rambutnya yang panjang dikucir kuda, clemek coklat melekat di badan atletisnya, dan lengan kekar penuh tato. Mataku terpaku melihat keindahan ciptaan Tuhan, sungguh sempurna. Pahatan wajah yang pas, hidung mancung, alis tebal, dan bibir yang tebal.

“Gin.” Suara lembut itu terdengar di indera pendengaran. Suara lembut mendayu-dayu, semakin membuatku ingin terbang. Terbayang dia di belakangku, membisikkan namaku dengan mesra.

“Gin.” Ribuan kupu-kupu beterbangan di perutku. Aku tersenyum memandanginya sedang berjalan menuju tempatku berdiri. Langkah tegasnya semakin membuatnya terlihat sangat keren di mataku. Semakin dekat. Tiga ratus senti dari tempatku berdiri. Dia berjalan sembari tersenyum mesra, tangannya direntangkan. Sepertinya dia ingin aku memeluknya.

Dia sudah mendekat, aku berjalan maju. Tanganku terangkat untuk menerima pelukannya. Namun dia melewatiku dengan senyumnya yang lebar. Tanganku memeluk udara.

“Sialan,” umpatku saat melihat di belakang dia berpelukan dengan cewek cantik. Apalah dayaku tak secantik dia, hanya remahan rengginang sisa tahun lalu.

“GINA, LU DARITADI DIPANGGIL KAGA DENGER! TELINGANYA MASIH BERFUNGSI KAN?” teriakan sahabatku membuat sekeliling terpusat padanya. Punya sahabat gini amat.

“Berisik, yuk pulang.” Aku menyeret tangannya keluar dari kafe dengan sedikit kesal, tak sanggup lagi melihat kemesraan mereka. Cukup khayalanku saja yang runtuh kali ini, jangan hatiku. Kebahagiaan yang aku bangun selama beberapa bulan, seketika hancur diterjang ombak patah hati. Dengan paksa menghancurkan semuanya dengan sekejap.

Cr: pinterest & canva
selamat membaca gansis😊😊


×
GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di