KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Entertainment / The Lounge /
Rp 14 Juta/Orang Untuk Sensasi Sejenak Bersama Makhluk Prasejarah
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5dba241268cc9526c63f3b41/rp-14-juta-orang-untuk-sensasi-sejenak-bersama-makhluk-prasejarah

Rp 14 Juta/Orang Untuk Sensasi Sejenak Bersama Makhluk Prasejarah

Rp 14 Juta/Orang Untuk Sensasi Sejenak Bersama Makhluk Prasejarah
Rp 14 Juta/Orang Untuk Sensasi Sejenak Bersama Makhluk Prasejarah
(Foto : Google, merdeka.com)

Persaingan Ekonomi Global di semua sektor yang semakin ketat membuat semua negara di dunia berpikir keras agar pemasukan negaranya dari Pajak dan Devisa bisa bertambah. Khusus untuk pemasukan devisa, kalau tidak bertambah ya setidak-tidaknya harus bisa bertahan dan bukannya MALAH BERKURANG. Hal inilah yang harus dipikirkan oleh Pemerintah Indonesia. Sudah tentu perlu dipikirkan dari sektor mana Indonesia masih bisa berpeluang untuk mendapat “Porsi Kue Devisa“ yang lebih banyak. Mengingat “Porsi Kue Devisa“ dari sektor-sektor penghasil devisa terbesar telah dikuasai oleh negara-negara besar dan berpengalaman di sektor tersebut. Seperti contohnya Sektor Manufaktur yang dikuasai oleh Tiongkok dan Amerika Serikat, Sektor Otomotif yang dikuasai Korea dan Jepang, serta Sektor Teknologi Informasi yang dikuasai Korea, Jepang, Tiongkok dan Amerika Serikat. Boleh dikata Indonesia masih sangat sulit untuk mendapat jatah “Porsi Kue Devisa“ yang lebih banyak lagi di sektor-sektor itu. Salah satu sektor lain yang masih bisa dijadikan harapan oleh Indonesia untuk meningkatkan devisanya adalah Sektor Pariwisata. Indonesia masih mempunyai simpanan harta yang banyak sebagai modal untuk bisa mendapatkan jatah lebih di Sektor Pariwisata ini yaitu berupa kekayaan dan keindahan alamnya yang luar biasa besar dan luar biasa cantiknya. Jadi tak salah kiranya kalau Pemerintah di Era Jokowi berkonsentrasi penuh menjadikan Pariwisata sebagai sektor unggulan dan sumber ekonomi utama nasional. Dimana realisasinya telah mulai dilakukan melalui Program Pengembangan 10 Destinasi Wisata Prioritas dan Pembangunan Infrastrukturnya secara besar-besaran.
Program Pengembangan 10 Destinasi Wisata Prioritas adalah menjadikannya selevel dengan Wisata Pulau Bali yang sudah mendunia. Adapun ke 10 Destinasi Wisata Prioritas itu adalah :
1. Danau Toba
2. Tanjung Kelayang
3. Tanjung Lesung
4. Kepulauan Seribu
5. Bromo Tengger Semeru
6. Mandalika
7. Labuan Bajo
8. Wakatobi
9. Morotai
10. Borobudur

Rp 14 Juta/Orang Untuk Sensasi Sejenak Bersama Makhluk Prasejarah
(Foto : Google, indahnesia.com)

Dari kesepuluh Destinasi Wisata Prioritas tersebut, nama Labuan Bajo begitu sering disebut akhir-akhir ini. Semua itu karena ada hubungannya dengan wacana menjadikan Pulau Komodo sebagai Kawasan Wisata Premium. Labuan Bajo sering disebut karena merupakan Pintu Gerbang menuju tempat tinggal salah satu dari 7 keajaiban dunia yang hanya dimiliki negara Indonesia yaitu Makhluk Prasejarah yang berasal dari masa 40 juta tahun yang lalu, yang tak lain dan tak bukan adalah binatang KOMODO (Varanus komodoensis).

Rp 14 Juta/Orang Untuk Sensasi Sejenak Bersama Makhluk Prasejarah
(Foto : Google, naturalindonesiaku.wordpress.com)

Meski Labuan Bajo sendiri mempunyai alam yang luar bisa indah dan mempunyai tempat wisata yang indah seperti : Bukit Cinta dan Pantai Silvia.

Rp 14 Juta/Orang Untuk Sensasi Sejenak Bersama Makhluk Prasejarah
(Foto : Google, detik.com)

Akan tetapi orang lebih mengenal Pulau Komodo dibanding Labuan Bajo. Sehingga pada akhirnya Pemerintah memasukkan Labuan Bajo sebagai Destinasi Wisata yang akan dikembangkan secara besar-besaran untuk menyamai Pulau Bali.

Seperti sempat saya singgung diatas bahwa Pulau Komodo direncanakan akan dijadikan Kawasan Wisata Premium pada tahun 2020 nanti dan akan ada penetapan kuota pengunjung yang bisa masuk Pulau Komodo setiap harinya . Dan juga direncanakan akan dibangun infrastruktur dan sarana penunjang seperti hotel, museum, bandara, serta akses laut modern lainnya. Setelah sebelumnya malah sempat direncanakan untuk ditutup dari kunjungan semua wisatawan baik itu lokal mau mancanegara, kecuali untuk riset dan penelitian. Hal ini sebagai dampak dari kesemrawutan pengelolaan Pulau Komodo yang mengakibatkan pencurian dan penyelundupan Komodo, pencurian dan perburuan Rusa secara besar-besaran (padahal Rusa merupakan salah satu mangsa utama dari Komodo), serta masalah sampah yang semakin menumpuk karena kegiatan wisata. Selain itu banyak Komodo yang mengalami stres karena semakin banyak manusia yang datang dari tahun ke tahun untuk menyaksikan dari dekat kehidupan Binatang Purba ini.
““Tren
jumlah pengunjung terus meningkat,
pada tahun 2014 (80.626 orang),
tahun 2015 (95.410 orang), tahun
2016 (107.711 orang), tahun 2017
(125.069 orang) dan tahun 2018
(159.217 orang)," begitu bunyi
pernyataan resmi KLHK.“
(Sumber : Johanes Randy Prakoso, Berapa Sih Pendapatan
Taman Nasional Komodo
Tiap Tahun?, detik.com)

Rp 14 Juta/Orang Untuk Sensasi Sejenak Bersama Makhluk Prasejarah
(Foto : Google, liputan6.com)

Mau tak mau Pulau Komodo perlu disterilkan sementara untuk ditata ulang agar kembali ke fungsi aslinya yaitu sebagai tempat Konservasi dari satwa purbakala yang masih eksis di muka bumi ini. Untungnya rencana penutupan ini tidak jadi dilaksanakan karena banyak mendapat protes dari banyak pihak.


Rp 14 Juta/Orang Untuk Sensasi Sejenak Bersama Makhluk Prasejarah
(Foto : Google, detik.com)

Tapi yang sungguh mengejutkan adalah karena sebagai gantinya Pulau Komodo direncanakan akan dijadikan Kawasan Wisata Premium dengan Harga Tanda Masuk yang Fantastik! Dari semula sebesar Rp 5000/orang untuk wisatawan lokal/wisatawan nusantara (wisnus) dan Rp 150.000/orang untuk wisatawan mancanegara (wisman) menjadi Rp 14 juta/orang. Berlaku untuk semua wisatawan, baik lokal maupun mancanegara. Khusus untuk dapat mengakses masuk ke Pulau Komodo wisatawan diharuskan membayar Rp 14 jt/orang dengan cara mendaftar keanggotaan Premium. Tiket Premium ini berlaku untuk 1 tahun (Premium Annual Membership). Seperti yang dikatakan oleh Menteri Koordinator
Bidang Kemaritiman Luhut Binsar
Pandjaitan :

““Pulau Komodo itu tidak ditutup, kita mau kelola dengan baik, (pulau) yang
lain kita atur dan tata jadi wisata
eksklusif. Yang penting Komodo kita atur terlindungi," kata Luhut.
Luhut mengatakan nantinya pengelola
diminta menyiapkan 50 ribu tiket
seharga USD 1.000 atau setara dengan
Rp 14 juta (dalam kurs Rp 14 ribu)
untuk membership premium tersebut.“
(Sumber : Vadhia Lidyana, Wacana Tiket Rp 14 Juta
Pulau Komodo Bidik Turis
Tajir, Tapi..., detik.com)

Tentunya wacana Harga Tiket Masuk Pulau Komodo ini menjadi kehebohan tersendiri di saat Pemerintah sedang fokus pada Program Pengembangan 10 Destinasi Wisata Priotas dalam rangka peningkatan devisa. Ada yang mendukung, ada juga yang kuatir akan dampaknya terhadap dunia pariwisata di Indonesia umumnya dan Propinsi NTT khususnya. Bayang-bayang Penurunan Devisa, Pendapatan Daerah, dan Penghasilan Pekerja Wisata mulai jadi kekuatiran banyak pihak. Kalau wacana ini jadi terlaksana maka wisatawan termasuk wisatawan mancanegara yang merupakan 60% dari total wisatawan yang berkunjung ke Taman Nasional Komodo, jumlahnya pasti akan semakin sedikit. Karena tujuan utama mereka pastilah ingin mengunjungi Pulau Komodo yang terkenal itu, bukan pulau yang lain. Para wisatawan kebanyakan juga ingin merasakan sensasi melihat langsung kehidupan satwa prasejarah dari masa 40 juta tahun yang lalu yang hingga kini masih eksis dan tidak ada di tempat lain. Harga tiket masuk yang terjangkau dan ditunjang pemandangan alam yang luar bisa indah akan membuat turis mau berlama-lama di TN Komodo ini.

Dari situ kemungkinan mereka akan mau untuk menjelajah tempat lainnya yang terdapat komodo. Seperti di Pulau Rinca, Pulau Padar, Pulau Gili Motang, dan Pulau Nusa Kode. Atau mungkin juga para wisatawan ini antusias mencoba Trekking menjelajah hutan, gunung, dan sungai di kawasan TN Komodo.

Rp 14 Juta/Orang Untuk Sensasi Sejenak Bersama Makhluk Prasejarah
(Foto : Google, naturalindonesiaku.wordpress.com)

Rp 14 Juta/Orang Untuk Sensasi Sejenak Bersama Makhluk Prasejarah
(Foto : Google, anekatempatwisata.com)

Atau juga melakukan Snorkling atau Diving di laut sekitar TN Komodo yang terkenal indah itu.
Rp 14 Juta/Orang Untuk Sensasi Sejenak Bersama Makhluk Prasejarah
(Foto : Google, naturalindonesiaku.wordpress.com)

Rp 14 Juta/Orang Untuk Sensasi Sejenak Bersama Makhluk Prasejarah
(Foto : Google, telertraveller.blogspot.com)

Nah kalau harga tiket masuk melonjak beribu kali lipat seperti itu apa wisatawan terutama wisatawan mancanegara masih banyak yang mau berkunjung ke kawasan Taman Nasional Komodo? Saya pikir, wisatawan yang orang kaya sekalipun pasti jarang yang mau dengan royal membayar tiket masuk sebegitu mahalnya. Karena yang namanya berwisata pasti bukan hanya memikirkan tiket masuk saja tapi ada biaya transportasi, biaya makan, biaya akomodasi, dan biaya tak terduga lainnya. Apalagi harus mengunjungi banyak tempat dan dengan banyak orang pula. Pada kesempatan lain Menko Maritim Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan seperti ini.

“ "Kita akan tenderkan. Semua yang peduli
lingkungan kita akan ditawarkan.
Perusahaan A atau dari filontropis B.
Misalnya beli tiketnya 1000 dolar (per
tiket) kita siapkan 50.000, idenya Pak
Gubernur (NTT) itu 50 juta dolar sudah
bisa pemeliharaan Pulau Komodo jadi
world heritage ,"
(Sumber : Ferry Sandi, Kelola Pulau Komodo, Luhut
Mau Gandeng Operator Asing, cnbcindonesia.com)

Saya rasa Filantropis itu kebanyakan hanya mau membantu hal-hal yang berhubungan dengan kemanusiaan. Dan kalau pun memberi bantuan masalah lingkungan juga harus berkaitan dengan bidang kemanusiaan. Jadi saya merasa pesimis kalau Pak Menteri akan mampu menjual semua 50.000 tiket premium kepada para Filantropis. Disamping itu apakah lebih baik pengelolaan Pulau Komodo tetap dipegang bangsa sendiri daripada diserahkan kepada operator asing hanya demi keberhasilan pengumpulan dana dari tiket premium yang dibeli oleh operator asing. Pulau Komodo dan isinya adalah aset bangsa yang harus dilindungi dari pengambil alihan oleh tangan asing melalui monopoli swasta asing dan oligarki.

Terakhir jangan lupa adalah mengubah strategi promosi. Jangan hanya mempromosikan Pulau Komodo saja sebagai tempat kehidupan Komodo. Tapi harus dipromosikan juga pulau-pulau lainnya yang mana juga bisa dijumpai Komodo seperti yang ada di Pulau Komodo. Kalau memungkinkan ke depannya bisa diadakan pengisian pulau-pulau lainnya selain pulau-pulau besar diatas dengan satu paket lengkap Komodo beserta habitatnya. Sehingga nantinya sebaran Komodo dapat di jumpai hampir di semua pulau, besar maupun kecil, di kawasan Taman Nasional Komodo tersebut.

Sebagai penutup, mungkin apa yang penulis sampaikan kelihatan seperti mengada-ada atau bertentangan dengan rencana Pemerintah tentang pengelolaan Pulau Komodo. Bukan seperti itu. Tulisan ini hanya sebagai tanggapan saya sebagai orang awam atas apa yang menjadi wacana terhadap Pulau Komodo. Apapun yang Pemerintah lakukan akan saya dukung selama memberikan kontribusi untuk kemajuan Bangsa Indonesia. Terima kasih.
Diubah oleh Keerana1374
Saya yg sebagai kuli dan istri pekerja honorer dgn gaji 50jt/bln....14jt mah enteng😆




Tp nanti kl dah jd negara maju 2045😆
Hehehe Aamiin Gan.... Ane doain dipercepat
Rp 14 Juta/Orang Untuk Sensasi Sejenak Bersama Makhluk Prasejarah
Rp 14 Juta/Orang Untuk Sensasi Sejenak Bersama Makhluk Prasejarah
(Foto : Google, merdeka.com)

Persaingan Ekonomi Global di semua sektor yang semakin ketat membuat semua negara di dunia berpikir keras agar pemasukan negaranya dari Pajak dan Devisa bisa bertambah. Khusus untuk pemasukan devisa, kalau tidak bertambah ya setidak-tidaknya harus bisa bertahan dan bukannya MALAH BERKURANG. Hal inilah yang harus dipikirkan oleh Pemerintah Indonesia. Sudah tentu perlu dipikirkan dari sektor mana Indonesia masih bisa berpeluang untuk mendapat “Porsi Kue Devisa“ yang lebih banyak. Mengingat “Porsi Kue Devisa“ dari sektor-sektor penghasil devisa terbesar telah dikuasai oleh negara-negara besar dan berpengalaman di sektor tersebut. Seperti contohnya Sektor Manufaktur yang dikuasai oleh Tiongkok dan Amerika Serikat, Sektor Otomotif yang dikuasai Korea dan Jepang, serta Sektor Teknologi Informasi yang dikuasai Korea, Jepang, Tiongkok dan Amerika Serikat. Boleh dikata Indonesia masih sangat sulit untuk mendapat jatah “Porsi Kue Devisa“ yang lebih banyak lagi di sektor-sektor itu. Salah satu sektor lain yang masih bisa dijadikan harapan oleh Indonesia untuk meningkatkan devisanya adalah Sektor Pariwisata. Indonesia masih mempunyai simpanan harta yang banyak sebagai modal untuk bisa mendapatkan jatah lebih di Sektor Pariwisata ini yaitu berupa kekayaan dan keindahan alamnya yang luar biasa besar dan luar biasa cantiknya. Jadi tak salah kiranya kalau Pemerintah di Era Jokowi berkonsentrasi penuh menjadikan Pariwisata sebagai sektor unggulan dan sumber ekonomi utama nasional. Dimana realisasinya telah mulai dilakukan melalui Program Pengembangan 10 Destinasi Wisata Prioritas dan Pembangunan Infrastrukturnya secara besar-besaran.
Program Pengembangan 10 Destinasi Wisata Prioritas adalah menjadikannya selevel dengan Wisata Pulau Bali yang sudah mendunia. Adapun ke 10 Destinasi Wisata Prioritas itu adalah :
1. Danau Toba
2. Tanjung Kelayang
3. Tanjung Lesung
4. Kepulauan Seribu
5. Bromo Tengger Semeru
6. Mandalika
7. Labuan Bajo
8. Wakatobi
9. Morotai
10. Borobudur

Rp 14 Juta/Orang Untuk Sensasi Sejenak Bersama Makhluk Prasejarah
(Foto : Google, indahnesia.com)

Dari kesepuluh Destinasi Wisata Prioritas tersebut, nama Labuan Bajo begitu sering disebut akhir-akhir ini. Semua itu karena ada hubungannya dengan wacana menjadikan Pulau Komodo sebagai Kawasan Wisata Premium. Labuan Bajo sering disebut karena merupakan Pintu Gerbang menuju tempat tinggal salah satu dari 7 keajaiban dunia yang hanya dimiliki negara Indonesia yaitu Makhluk Prasejarah yang berasal dari masa 40 juta tahun yang lalu, yang tak lain dan tak bukan adalah binatang KOMODO (Varanus komodoensis).

Rp 14 Juta/Orang Untuk Sensasi Sejenak Bersama Makhluk Prasejarah
(Foto : Google, naturalindonesiaku.wordpress.com)

Meski Labuan Bajo sendiri mempunyai alam yang luar bisa indah dan mempunyai tempat wisata yang indah seperti : Bukit Cinta dan Pantai Silvia.

Rp 14 Juta/Orang Untuk Sensasi Sejenak Bersama Makhluk Prasejarah
(Foto : Google, detik.com)

Akan tetapi orang lebih mengenal Pulau Komodo dibanding Labuan Bajo. Sehingga pada akhirnya Pemerintah memasukkan Labuan Bajo sebagai Destinasi Wisata yang akan dikembangkan secara besar-besaran untuk menyamai Pulau Bali.

Seperti sempat saya singgung diatas bahwa Pulau Komodo direncanakan akan dijadikan Kawasan Wisata Premium pada tahun 2020 nanti dan akan ada penetapan kuota pengunjung yang bisa masuk Pulau Komodo setiap harinya . Dan juga direncanakan akan dibangun infrastruktur dan sarana penunjang seperti hotel, museum, bandara, serta akses laut modern lainnya. Setelah sebelumnya malah sempat direncanakan untuk ditutup dari kunjungan semua wisatawan baik itu lokal mau mancanegara, kecuali untuk riset dan penelitian. Hal ini sebagai dampak dari kesemrawutan pengelolaan Pulau Komodo yang mengakibatkan pencurian dan penyelundupan Komodo, pencurian dan perburuan Rusa secara besar-besaran (padahal Rusa merupakan salah satu mangsa utama dari Komodo), serta masalah sampah yang semakin menumpuk karena kegiatan wisata. Selain itu banyak Komodo yang mengalami stres karena semakin banyak manusia yang datang dari tahun ke tahun untuk menyaksikan dari dekat kehidupan Binatang Purba ini.
““Tren
jumlah pengunjung terus meningkat,
pada tahun 2014 (80.626 orang),
tahun 2015 (95.410 orang), tahun
2016 (107.711 orang), tahun 2017
(125.069 orang) dan tahun 2018
(159.217 orang)," begitu bunyi
pernyataan resmi KLHK.“
(Sumber : Johanes Randy Prakoso, Berapa Sih Pendapatan
Taman Nasional Komodo
Tiap Tahun?, detik.com)

Rp 14 Juta/Orang Untuk Sensasi Sejenak Bersama Makhluk Prasejarah
(Foto : Google, liputan6.com)

Mau tak mau Pulau Komodo perlu disterilkan sementara untuk ditata ulang agar kembali ke fungsi aslinya yaitu sebagai tempat Konservasi dari satwa purbakala yang masih eksis di muka bumi ini. Untungnya rencana penutupan ini tidak jadi dilaksanakan karena banyak mendapat protes dari banyak pihak.


Rp 14 Juta/Orang Untuk Sensasi Sejenak Bersama Makhluk Prasejarah
(Foto : Google, detik.com)

Tapi yang sungguh mengejutkan adalah karena sebagai gantinya Pulau Komodo direncanakan akan dijadikan Kawasan Wisata Premium dengan Harga Tanda Masuk yang Fantastik! Dari semula sebesar Rp 5000/orang untuk wisatawan lokal/wisatawan nusantara (wisnus) dan Rp 150.000/orang untuk wisatawan mancanegara (wisman) menjadi Rp 14 juta/orang. Berlaku untuk semua wisatawan, baik lokal maupun mancanegara. Khusus untuk dapat mengakses masuk ke Pulau Komodo wisatawan diharuskan membayar Rp 14 jt/orang dengan cara mendaftar keanggotaan Premium. Tiket Premium ini berlaku untuk 1 tahun (Premium Annual Membership). Seperti yang dikatakan oleh Menteri Koordinator
Bidang Kemaritiman Luhut Binsar
Pandjaitan :

““Pulau Komodo itu tidak ditutup, kita mau kelola dengan baik, (pulau) yang
lain kita atur dan tata jadi wisata
eksklusif. Yang penting Komodo kita atur terlindungi," kata Luhut.
Luhut mengatakan nantinya pengelola
diminta menyiapkan 50 ribu tiket
seharga USD 1.000 atau setara dengan
Rp 14 juta (dalam kurs Rp 14 ribu)
untuk membership premium tersebut.“
(Sumber : Vadhia Lidyana, Wacana Tiket Rp 14 Juta
Pulau Komodo Bidik Turis
Tajir, Tapi..., detik.com)

Tentunya wacana Harga Tiket Masuk Pulau Komodo ini menjadi kehebohan tersendiri di saat Pemerintah sedang fokus pada Program Pengembangan 10 Destinasi Wisata Priotas dalam rangka peningkatan devisa. Ada yang mendukung, ada juga yang kuatir akan dampaknya terhadap dunia pariwisata di Indonesia umumnya dan Propinsi NTT khususnya. Bayang-bayang Penurunan Devisa, Pendapatan Daerah, dan Penghasilan Pekerja Wisata mulai jadi kekuatiran banyak pihak. Kalau wacana ini jadi terlaksana maka wisatawan termasuk wisatawan mancanegara yang merupakan 60% dari total wisatawan yang berkunjung ke Taman Nasional Komodo, jumlahnya pasti akan semakin sedikit. Karena tujuan utama mereka pastilah ingin mengunjungi Pulau Komodo yang terkenal itu, bukan pulau yang lain. Para wisatawan kebanyakan juga ingin merasakan sensasi melihat langsung kehidupan satwa prasejarah dari masa 40 juta tahun yang lalu yang hingga kini masih eksis dan tidak ada di tempat lain. Harga tiket masuk yang terjangkau dan ditunjang pemandangan alam yang luar bisa indah akan membuat turis mau berlama-lama di TN Komodo ini.

Dari situ kemungkinan mereka akan mau untuk menjelajah tempat lainnya yang terdapat komodo. Seperti di Pulau Rinca, Pulau Padar, Pulau Gili Motang, dan Pulau Nusa Kode. Atau mungkin juga para wisatawan ini antusias mencoba Trekking menjelajah hutan, gunung, dan sungai di kawasan TN Komodo.

Rp 14 Juta/Orang Untuk Sensasi Sejenak Bersama Makhluk Prasejarah
(Foto : Google, naturalindonesiaku.wordpress.com)

Rp 14 Juta/Orang Untuk Sensasi Sejenak Bersama Makhluk Prasejarah
(Foto : Google, anekatempatwisata.com)

Atau juga melakukan Snorkling atau Diving di laut sekitar TN Komodo yang terkenal indah itu.
Rp 14 Juta/Orang Untuk Sensasi Sejenak Bersama Makhluk Prasejarah
(Foto : Google, naturalindonesiaku.wordpress.com)

Rp 14 Juta/Orang Untuk Sensasi Sejenak Bersama Makhluk Prasejarah
(Foto : Google, telertraveller.blogspot.com)

Nah kalau harga tiket masuk melonjak beribu kali lipat seperti itu apa wisatawan terutama wisatawan mancanegara masih banyak yang mau berkunjung ke kawasan Taman Nasional Komodo? Saya pikir, wisatawan yang orang kaya sekalipun pasti jarang yang mau dengan royal membayar tiket masuk sebegitu mahalnya. Karena yang namanya berwisata pasti bukan hanya memikirkan tiket masuk saja tapi ada biaya transportasi, biaya makan, biaya akomodasi, dan biaya tak terduga lainnya. Apalagi harus mengunjungi banyak tempat dan dengan banyak orang pula. Pada kesempatan lain Menko Maritim Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan seperti ini.

“ "Kita akan tenderkan. Semua yang peduli
lingkungan kita akan ditawarkan.
Perusahaan A atau dari filontropis B.
Misalnya beli tiketnya 1000 dolar (per
tiket) kita siapkan 50.000, idenya Pak
Gubernur (NTT) itu 50 juta dolar sudah
bisa pemeliharaan Pulau Komodo jadi
world heritage ,"
(Sumber : Ferry Sandi, Kelola Pulau Komodo, Luhut
Mau Gandeng Operator Asing, cnbcindonesia.com)

Saya rasa Filantropis itu kebanyakan hanya mau membantu hal-hal yang berhubungan dengan kemanusiaan. Dan kalau pun memberi bantuan masalah lingkungan juga harus berkaitan dengan bidang kemanusiaan. Jadi saya merasa pesimis kalau Pak Menteri akan mampu menjual semua 50.000 tiket premium kepada para Filantropis. Disamping itu apakah lebih baik pengelolaan Pulau Komodo tetap dipegang bangsa sendiri daripada diserahkan kepada operator asing hanya demi keberhasilan pengumpulan dana dari tiket premium yang dibeli oleh operator asing. Pulau Komodo dan isinya adalah aset bangsa yang harus dilindungi dari pengambil alihan oleh tangan asing melalui monopoli swasta asing dan oligarki.

Terakhir jangan lupa adalah mengubah strategi promosi. Jangan hanya mempromosikan Pulau Komodo saja sebagai tempat kehidupan Komodo. Tapi harus dipromosikan juga pulau-pulau lainnya yang mana juga bisa dijumpai Komodo seperti yang ada di Pulau Komodo. Kalau memungkinkan ke depannya bisa diadakan pengisian pulau-pulau lainnya selain pulau-pulau besar diatas dengan satu paket lengkap Komodo beserta habitatnya. Sehingga nantinya sebaran Komodo dapat di jumpai hampir di semua pulau, besar maupun kecil, di kawasan Taman Nasional Komodo tersebut.

Sebagai penutup, mungkin apa yang penulis sampaikan kelihatan seperti mengada-ada atau bertentangan dengan rencana Pemerintah tentang pengelolaan Pulau Komodo. Bukan seperti itu. Tulisan ini hanya sebagai tanggapan saya sebagai orang awam atas apa yang menjadi wacana terhadap Pulau Komodo. Apapun yang Pemerintah lakukan akan saya dukung selama memberikan kontribusi untuk kemajuan Bangsa Indonesia. Terima kasih.
Diubah oleh Keerana1374
TAHU GAK GANSIST?
Komodo itu hidup sendiri-sendiri alias soliter. Mereka hidup dan berburu sendiri-sendiri. Tidak berkelompok.
TAHU GAK GANSIST?
Hindari gigitan Komodo karena air liurnya mengandung bakteri yang mematikan kalau sampai masuk ke tubuh manusia.
Post ini telah dihapus oleh Kaskus Support 06
Post ini telah dihapus oleh Kaskus Support 06
Post ini telah dihapus oleh Kaskus Support 06
Post ini telah dihapus oleh Kaskus Support 06


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di