alexa-tracking
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Cahaya di Ujung Pantura
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5da72bc50577a929fa28b100/cahaya-di-ujung-pantura

Cahaya di Ujung Pantura

Cahaya di Ujung Pantura


Quote:


Kisah terunik, menarik dan antik.

Jangan dibaca! Kecuali kalau maksa, tapi dimohon siapkan mental terlebih dahulu.

Karena membaca kisah ini berpotensi mengacak-acak dada dan kepala.

Berikut persembahan cerita perdana saya yang antimainstream. Ngangenin. Bahkan satu-satunya kisah terlangka dari yang pernah langka.

Baca saja daripada sibuk bertanya-tanya.

Jangan lupa syalalala

Kiss di udara,

Selamat betah membaca!


Original Story From : Meysha Fatmawati
profile-picture
profile-picture
profile-picture
redbaron dan 10 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh memespantura
Halaman 1 dari 3
Diubah oleh memespantura
cuma segitu ya kak?
profile-picture
DanyMartadinata memberi reputasi
Prolog :

"WOY... JANCOK!!!" Teriak Imelsa membelalak. Tidak biasanya gadis berkulit sawo matang itu mengumpat sampai serak.

Sontak ia berlari dengan kecepatan penuh. Menghampiri Nunu, Ibunya yang tengah terkapar di jalan raya.

"Ibuuuuk!" Panggil Imel memastikan kesadaran.

"Cok! Kualat kon, cok! Jancoooook!!" Teriak Imel dengan mata memerah menangkap motor itu. Hanya sumpah serapah untuknya, melaju begitu saja. Seenak dengkul meninggalkan bidadarinya terbaring lemah.

Pengendara yang usai dimakinya, sejenak diabaikan. Dering kenalpot roda duanya pun semakin sayup terdengar.

Imel mendekap raga Nunu, memeriksa sekujur tubuhnya. Tidak ada darah yang mengucur sampai parah. Tapi beberapa bagian tubuh Nunu tergores, akibat bersinggungan dengan aspal.

Sejenak, Imel bernapas lega.

Meski begitu, udara sejuk malam yang menyelimuti raganya tak sedikitpun membuat kecemasannya mereda. Jantung Imel masih berdegup tak menentu. Khawatir bercampur bingung, sebab sepasang mata bidadarinya itu yang masih terpejam.

"Buk... Ibuk..." Serunya lagi mencoba membangunkan. Digoyangkan bahu beserta pipi Nunu. Tapi tetap tidak ada sahutan.

Warga sekitar desa perlahan berjalan mendekat, sampai menggumpal. Belum ada tindakan pertolongan lain, selain membopong tubuh wanita separuh baya itu menuju tepi.

Beberapa hanya diam menonton iba. Sedang satu diantaranya membantu menyadarkan Nunu dengan minyak telon, ia tetap tak kunjung terbangun.

"Aduh... gimana ini?" Imel meraup wajahnya, lalu meremas rambutnya yang tak berantakan. Sampai raganya tersungkur lemas.

Kecemasannya bertambah saat menangkap wajah Nunu mulai pucat pasi. Tubuhnya pun perlahan dingin.

Tanpa pikir panjang, Imel kembali berdiri. Yang terlintas dibenaknya hanyalah rumah sakit. Baginya itu salah satu opsi terbaik, karena puskesmas lebih jauh ditempuh dari tempat yang sedang ia pijaki saat ini.

Gadis itu beranjak menuju tepi jalan. Hendak melambaikan tangan. Berharap ada mobil yang berhenti, lalu berbaik hati menolong.

Tapi, nyatanya tak seperti ekspetasi. Tidak ada satupun yang berhenti. Entah karena raganya yang tak terdeteksi oleh para pengemudi, atau memang sengaja tidak peduli.

Dalam hati, Imel mengutuk tiap mobil yang asal melintas melewatinya. Ia kembali memutar akal. Berpikir bagaimana caranya supaya para roda empat itu mau berhenti. Kecerdasannya mulai membuta.

Imel berdiri, sambil merentangkan kedua tangannya ditengah jalan raya. Terlalu nekat dan membahayakan diri memang.

"Nduk, jangan gila kamu!" ujar histeris salah satu warga desa, yang mencoba menarik lengan Imel secara paksa. Berniat menjauhkan gadis itu dari tindakan yang bisa membahayakan nyawa.

Imel tidak peduli. Alhasil hanya ditempisnya secara kesal. Kepanikan sudah menjalar memenuhi nadinya.

Para warga masih sibuk menyadarkan Ibunya, yang jelas-jelas tak kunjung terbuka mata.

Syukurlah, usaha gilanya itu tidak sia-sia. Imel menghela panjang.

Kini, mobil putih dengan lampu yang menyorot tajam berhenti dihadapannya.

Imel bergegas menghampiri. Lalu diketuknya pintu kaca mobil secara antusias.

"Mas, bantu saya please!" Pinta Imel setelah kaca mobil menurun, "please mas.. Please!" Mohonnya kembali dengan bibir yang bergetar panik.

"Eee.. tapi kita lagi ada kepentingan menda.."

"Mas! Manusia bukan sih?!" Sela Imel meninggi, "Ibu saya tuh nggak sadarkan diri disana! Bantu saya bawa Ibuk ke rumah sakit dong! Tolong dong!!" Rengeknya kembali memelas, perlahan menurunkan suaranya.

Dua detik kemudian, bola mata Imel teralih. Menuju pada lelaki sebelah pengemudi yang sedang melepas seat beltnya.

Lelaki itu langsung membuka pintu mobil, beranjak turun menghampiri kerumunan warga.

"Koi!!" Panggil lantang si pengemudi mobil mencoba menahan langkahnya, Alexo.

"Tapi man.. Kita udah ditungguin investor dari tadi! Kita udah telat banget ini!" Woy!" Teriak Alexo mengingatkan.

***
profile-picture
profile-picture
profile-picture
blackscarface dan 6 lainnya memberi reputasi
Wong jowo rek 😁👍
Satu



Entah berapa lama lagi mereka harus menunggu kelonggaran jalan raya.

Malam itu, kota yang sedang disinggahi mereka usai terguyur hujan lebat. Lengkap bersama angin kencangnya. Hingga beberapa pohon yang menjulang, tumbang memenuhi badan jalan.

"Ah sial!" Keluh Alexo ditengah kemacetan.

Sudah 95 menit kendaraan mereka tak berkutik. Sedangkan besok adalah agenda pertemuan penting dengan investor.

Mazega Corp milik Tuan Mazega, dikenal sebagai perusahan yang sangat kompatibel. Sebagai pewaris tunggal, tentu Kokoi tidak ingin memberi kesan pertama yang mengecewakan untuk calon mitra kerjanya.

Jauh-jauh hari Alexo sudah memberi saran untuk bepergian dengan pesawat. Tapi Kokoi menolak. Baginya berkendara dengan mobil pribadi jauh lebih leluasa, karena akan memudahkan untuk kemana saja. Lagipula, kepentingan bisnis kali ini juga mengharuskannya berpindah-pindah lokasi.

Melihat kendaraan yang berjejer panjang seperti itu, kecil kemungkinan untuk tiba di lokasi tepat waktu.

"Tahu gitu berangkat lebih lebih awal dah!" Oceh Alexo tiada henti. Pantatnya kian memanas, terbakar menanti laju kendaraan.

Alexo bosan memandangi kepadatan sekeliling jalan. Hanya iringan musik yang sedikit jadi obat kejenuhannya.

Berbeda dengan lelaki bertubuh bidang disamping Alexo, yang masih rileks. Hanya lebih banyak bergeming dengan ponselnya.

"Nah!" Celetuk Kokoi tiba-tiba, tak begitu mengejutkan.

"Apaan nah nah?"

"Tuh," Tunjuk Kokoi mengarah ke pertigaan jalan, "coba kita ambil jalan itu aja, yang belakang juga pada belok kesana kan?" Sambungnya menyarankan.

"Nggak usah bercanda deh!"

"Gue nggak bercanda, Samsul!" Kokoi menyodorkan ponselnya, memperlihatkan jalur alternatif agar terhindar dari kemacetan.

Sedari tadi Kokoi sengaja mengecek Google Maps. Memastikan dugaannya tepat, "Pertigaan ini kan ngarahnya kesini," Jemarinya bergerak lihai, melenggok-lenggok ke layar ponsel, "ambil jalur pantura aja."

"Coba lihat," Alexo meraih ponsel Kokoi, menatap jeli jalur rekomendasinya, "yakin kita mau lewat sini?" Tanyanya mempertimbangkan saran, sebelum mengiyakan.

Kokoi mengangguk mantap, "Ya.. daripada hampir satu jam lebih kayak begini. Lagian didepan nggak kelar-kelar juga minggirin pohonnya."

Ada benarnya perkataan Kokoi, harus berapa jam lagi mereka menanti laju jalan?

"Boleh deh."

Tanpa berpikir lebih lama, Alexo menurut. Ia membelokkan setir menuju pertigaan yang dimaksud Kokoi. Kemudian mengikuti arah jalan yang ditampilkan Google Maps.

Bersamaan dengan itu, satu pesan WhatsApp masuk:

"Jadwal presentasi bersama Investor besok pukul 4 sore, Pak."

"Tolong ralat schedule menjadi pukul 8 malam ya. Saya terjebak macet, sedang ambil jalur lain. Di Maps kisaran pukul 7 malam baru tiba di Surabaya. Infokan mitra segera."

"Oh iya. Baik Pak, akan saya sampaikan langsung."

***

"Koi!!" seru Alexo lebih kencang lagi, masih berusaha menahan langkah Kokoi. Tapi hanya diabaikan sia-sia.

Alexo mendengus pasrah.

Sedangkan Imel bernafas lega. Bibirnya mendadak merekah. Tapi sejenak bola matanya terjeda, menyipit tajam ke arah si pengemudi yang baginya minim empati itu.

Bisa-bisanya lebih mengutamakan kepentingan diri daripada menolong nyawa seseorang!

Imel mengabaikan Alexo yang masih menggenggam setir mobil. Ia segera menyusul langkah Kokoi, menghampiri Ibunya.

"Permisi," pinta Kokoi agar diberi ruang.

Tanpa perlu arahan, Kokoi mengangkat tubuh Nunu. Lalu berjalan sempoyongan menuju mobil.

Tak satupun warga tergerak untuk membantunya. Hanya mentap dan membuntuti pergerakannya.

Imel turut mengikuti langkah Kokoi dari belakang. Diam-diam sudah takjub dengan lelaki itu, sejak di detik kedua.

"Bukain pintu!" Suruh Kokoi.

Imel mengangguk menurut.

Pemuda itu melepas tubuh Nunu dan membaringkannya di kursi tengah. Kemudian menyuruh Imel masuk.

Kokoi kembali masuk, duduk di kursi depan seperti semula. Setelahnya, Alexo melajukan mobil menuju rumah sakit terdekat.

"Terus jumpa investor kita malam ini gimana, Koi? Duh!" Tanya Alexo gentar ditengah perjalanan, lalu menggaruk rambutnya yang tak gatal.

"Entar gue atur," Jawab Kokoi santai.

Alexo benar-benar tidak habis pikir dengan sepupu sekaligus partner kerjanya itu. Heran dengannya yang lebih memilih membantu satu nyawa, daripada investor yang sudah menunggunya terlalu lama. Padahal kan harusnya bisa menghubungi ambulance saja? Pikirnya.

Alexo khawatir. Perjalanan Jakarta-Surabaya bisa terancam sia-sia. Pasalnya disiplin waktu juga merupakan bagian terpenting untuk membangun kepercayaan terhadap mitra kerja mereka.

"Kita jauh-jauh kesini buat ketemu beliau man! Kalau nanti beliau cancel gimana?" Ujar Alexo kembali mengingatkan penuh resah, "bisa berantakan semua ini planning kita."

Kokoi tidak menjawab.

Terbesit rasa bersalah ketika telinga Imel menangkap percakapan mereka, "Maafkan saya yang merepotkan," Potong Imel memelas.

Tidak ada sahutan di antara keduanya.

Alexo tiada henti menggeleng heran. Pria di sebelahnya pun terus berkutat dengan ponselnya. Berkali-kali menelpon. Lalu mengetik pesan untuk dikirim pada seseorang.

Melihat Kokoi yang sedang menarikan jarinya di atas layar, Imel baru teringat untuk lekas mengabari Bapak terkait kejadian ini.

"Kisaran berapa menit lagi sampai rumah sakit?" Tanya Kokoi sedikit menoleh ke arah Imel.

"Emm.. 20 menit lagi mungkin Om," Sahut Imel usai mengirim pesan kepada Bapak. Ia kembali menatap ke wajah perempuan yang sedang dipangkunya. Sesekali mengusap-usap rambut sang Ibu. Kemudian menggenggam jemari dingin Nunu, yang sedang berbalap dengan dinginnya AC mobil.

Sejujurnya Imel hendak meminta agar AC mobil dimatikan saja. Tapi ia tidak enak hati, karena baginya meminta bantuan saja sudah cukup mengganggu kedua pemuda itu.

"Maaf, bukan om-om," tutur Kokoi membenarkan saat kembali menatap ke arah depan.

Imel mengangguk cepat, "Oh iya maaf, Pak!"

***
profile-picture
profile-picture
profile-picture
redbaron dan 4 lainnya memberi reputasi
Quote:

Udah Update y Kak , Thanks Buat emoticon-Cendol Gan
Quote:

emoticon-2 Jempol
profile-picture
delia.adel memberi reputasi
Quote:


Ok deh siskakak
Dua



Sesampainya di rumah sakit, Nunu dibawa ke ruang UGD.

Kepala Imel masih dipenuhi kekhawatiran. Takut bila yang terluka adalah bagian dalam Ibu. Mengingat, dada Nunu mudah sekali berdebar bila mendengar suara yang mengejutkan.

Desis gagang pintu yang terbuka tiba-tiba contohnya. Itu saja sudah sangat mengganggu tidurnya. Entah memang indikasi penyakit yang sengaja diabaikan, atau hanya kebiasaan. Yang jelas ia tidak tahu. Karena sejauh ini Nunu baru pertama kali masuk rumah sakit.

Gadis itu sempat mencurigai Ibunya mengidap penyakit lemah jantung. Tapi, ia harap tidak demikian. Dan kejadian malam ini membuat kadar ketakutannya makin bertambah.

Langkah Imel tiada henti mengelilingi sudut ruang. Sesekali ia menjinjit, berusaha mengintip wajah Nunu yang terhalang tubuh sang Dokter.

Salah seorang perawat mencoba menenangkan Imel, sambil menggiringnya keluar. Menyuruh untuk menunggu. Nunu harus dikepung sementara waktu, untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.

"Tapi tapi saya..." Kalimat Imel terhenti digaris pintu ruang yang telah tertutup rapat.

Sejujurnya, ia ingin tetap ada di sisi Nunu. Entah sebab apa. Imel hanya ingin bersinggah didalam saja.

Mau tidak mau Imel harus menunggu di luar ruangan, sambil menggigit jemari. Lalu berputar-putar ditempat, masih mencemaskan kondisi Ibunya. Harapannya semoga tidak sampai parah.

Imel baru teringat. Dua pemuda yang datang bersamanya tadi kemana? Rupanya mereka telah menghilang. Tidak ada disekelilingnya.

Imel tidak sadar bahwa sebelum tiba tadi langkah Kokoi sudah terhenti di ambang pintu, karena ponsel Kokoi berdering. Sebab itu Kokoi beranjak mengasingkan diri. Alexo pun turut membuntut dari belakang.

Menyadari bahwa ia hanya seorang diri, mata Imel lekas menyergap mencari keberadaan mereka.

Aduh kemana ya dua lelaki penolong itu?

Belum sempat Imel berterima kasih.

Ah itu dia..

Imel berlari cepat. Hendak menghampiri. Sepasang matanya berhasil menangkap dua raga yang sedang berjalan kian jauh darinya.

Namun, baru beberapa langkah Imel berlari, kakinya terpaksa mati di tempat.

"Mel..!" Panggilan seorang lelaki separuh baya itu cukup kencang. Ia melangkah menuju Imel dengan tatapan menyala, mengerikan.

Perlahan makin dekat, dan kini tepat berdiri dihadapan Imel.

"Kamu ini gimana sih?! Jagain Ibu sendiri aja nggak bisa!" Bentak Galang mengagetkan, Ayahnya. Sorot matanya lengkap penuh api.

Tapi tidak lantas membuat Imel takut. Hanya saja mulutnya jadi tiba-tiba menciut.

"Ibukmu juga! Mbok ya kalau jalan itu pakai mata! Ndek mana sekarang?!" Lanjut Galang kian meninggi.

Suara lelaki itu sampai memecah keheningan sudut lorong rumah sakit, membuat beberapa leher berputar ke arah mereka.

Tak terkecuali Kokoi dan Alexo yang turut mendengar dari kejauhan. Gema suaranya yang menjalar, telah membuat langka mereka terhenti sejenak.

Baik Kokoi maupun Alexo saling menyipit heran. Mereka tidak ingin ikut campur. Meski sebenarnya penasaran dengan apa yang terjadi di sana. Agendanya lebih utama. Mereka harus bergegas melanjutkan perjalanan.

Imel membisu, memendam dadanya yang seketika bak usai di baku hantam. Ia memilih tidak menggubris pernyataan Ayahnya.

Datang-datang nggak bisa ngomong tenang apa? Cok tenan!

Kepala Imel sudah berhasil dibuat Galang mendidih. Bila sudah begini, ia hanya butuh udara segar. Tidak bisa membiarkan jiwanya membara dalam kebisuan. Harus lekas diredam.

Setelah menunjukkan letak kamar Nunu, Imel beranjak meninggalkan Galang yang tengah berceramah.

"Mau kemana lagi?" Tanyanya kembali lantang.

"Cari angin!" Jawab Imel agak ketus, "nggak ada kipas angin disini! Pengap!" Sambungnya asal-asalan.

"Orang lagi ngomong malah pergi," Ujar Galang menatap Imel yang tetap diam dan terus melangkah.

Gadis itu berlalu. Sepasang kakinya bergerak mencari sudut rumah sakit yang sepi penghuni. Ia butuh kesunyian. Ingin menyendiri.

***

Di area parkiran, langkah Kokoi kembali terhenti ketika hendak menghampiri mobilnya. Ia merogoh saku kanan, ponselnya berdering lagi.

"Oh gitu, baik Pak.."

"Sekali lagi saya minta maaf ya Pak, karena sudah membuat menunggu terlalu lama. Saya jadi nggak enak,"

"Baik. Terima kasih banyak, Pak."

Kokoi menutup panggilan dengan salam.

"Gimana?" Tanya Alexo gentar.

"Fix... Diundur. Beliau ada agenda lain, jadi nggak bisa nunggu lagi dan nggak keberatan."

Alexo bernapas lega, "Alhamdulillah! Untung aja. Gue lebih tenang jadinya. Terus habis ini kita kemana?" Tanyanya kehilangan tujuan.

Kokoi baru saja ingin membuka suara, sebelum akan memasukkan ponselnya kedalam saku. Tapi tidak jadi, tertahan oleh suara teriakan. Terdengar melengking sedikit samar-samar. Mereka menoleh bersamaan.

Dengan sigap Kokoi menghampiri sumber suara. Disusul Alexo.

"Eh, maksutmu apa ha?" Omel salah seorang perempuan yang sedang duduk di atas motor matic sekitar parkiran.

"Nggak mikir? Yang salah siapa?"

Suaranya masih menggema.

"Jancooook!" Sebelah kakinya menghentak sebal. Kemudian berteriak kencang, makin memenuhi sudut parkiran bagian pojok belakang.

Untung saja kondisi parkiran malam ini tidak ramai orang.

Gadis itu berusaha mengontrol diri perlahan. Sejenak berhenti, lalu mengirup udara kuat-kuat, "Astaghfirullah Gusti..," Ucapnya seraya menepuk-nepuk dadanya.

Tanpa sadar bulir bening beranjak terjun membasahi pipinya.

"Duh! Kok cengeng sih?!"

Imel membelokkan kaca spion motor. Kemudian melihat wajah kusutnya, yang memantul dengan jelas.

"Kok bisa-bisanya sih nyalahin orang?!"

Imel menarik napas sebentar,

"Ya kan.. Harusnya pengendara tae itu lah yang salah! Bisa nggak sih kalau ngomel-ngomel tuh jangan kesini? Denger nggak?" Ia menjitak kepala spion motor dengan keras.

"Heran! Bikin malu orang aja!" Sambungnya masih berbincang dengan pantulan kaca spion, bayangannya sendiri.

"Ada yang bisa saya bantu?" Ucap salah seorang lelaki tiba-tiba, mengagetkan Imel.

Keluhan Imel seketika terhenti. Ia lekas mengusap pipinya yang belum basah sempurna, "Nggak ada!" Bentaknya langsung tanpa menoleh.

"Nggak usah bantu! Nggak lihat orang lagi marah apa? Ganggu aja!!" Sambung Imel ketus dengan sedikit menoleh, hendak menangkap sepasang manik mata yang berdiri di belakangnya.

"Ya elah... Bocah ini lagi?!" Keluh Alexo, bosan berjumpa dengan gadis itu lagi.

Kini Imel menoleh sempurna, tubuhnya meliuk. Matanya berlari menyusuri dua pemuda itu dari atas sampai bawah. Memastikan kenal dengannya.

Sial! Kenapa harus mereka sih yang jadi sasaran?

Imel pikir, mereka berdua sudah lenyap dari rumah sakit. Tak tahunya masih berkeliaran?

"Kalau ditanya baik-baik tuh nggak usah nyolot!" Alexo mulai berkomat-kamit, "udah maksa minta tolong... Kagak bilang makasih... Sekarang nggak tahu diri lagi! Bener-bener lo ya!"

Imel terdiam. Hanya membalas Alexo dengan tatapan menyeringai. Ia tidak suka dengan pria berisik ini. Makin menambah gemuruh dadanya saja.

"Kalo nggak ikhlas ya nggak usah nolong! Gitu aja ikutan nyolot!!" Bantah Imel tidak ingin kalah.

"Lah! Lo yang maksa anying!" Sahut Alexo menunjuk kaku. Tidak terima dengan pernyataan Imel, "kalau bukan cewek pasti udah gue gibeng lo."

"Nggak takut!"

Kokoi mengedipkan mata berulang-ulang ke arah Alexo. Isyarat agar Alexo diam.

"Nggak.. Nggak.. Nggak..!" Ucap Alexo seraya menggeleng, "nggak bisa dibiarin ini anak! Minta maaf nggak? Buru!"

Imel sangat terusik. Ia lekas turun dari motor. Melirik Alexo penuh tatap nanar, lalu mengumpat diam-diam.

Tak lama kemudian matanya berpindah menuju Kokoi, yang sedari tadi hanya menatapnya datar.

Imel sedikit mendongak, tubuh pemuda itu terlalu tinggi untuk disejajarkan dengan bola matanya, "Apa lihat-lihat?" Ucapnya sinis.

"Punya mata," Jawab Kokoi santai.

Imel tidak ingin banyak bicara. Ia mulai memajukan langkah, berjalan mendekati Kokoi. Matanya berlari menyusuri tubuhnya, dari atas ke bawah. Seketika terhenti di jemari Kokoi yang sedang melingkari ponselnya.

Dengan cepat Imel meraih ponsel itu secara paksa. Kokoi reflek melepasnya.

Sontak Alexo melotot, terkejut dengan aksi gila Imel. Bukannya minta maaf malah makin berulah. Ia tidak tahan melihatnya yang asal merampas ponsel Kokoi sesukanya.

"Woy bocah gila! Mau apa lagi lo?"

Kokoi membiarkan gadis itu. Kepalanya menerka-nerka. Hendak diapakan ponselnya. Dibanting karena sudah membuatnya kesal kah? Atau apa?

Imel menunduk sinis. Mengabaikan ucapan Alexo yang begitu mengganggu teliganya. Beberapa detik, ia menginjakkan jempolnya pada layar ponsel Kokoi tanpa permisi.

"Balikin nggak?" Alexo berusaha meraih ponsel itu kembali. Sayangnya, gadis itu terlalu gesit menangkisnya.

"Lex..!" Seru Kokoi mencoba melerai. Ia menahan pundak kanan Alexo agar lengannya berhenti menjangkau ponsel yang sedang digenggam Imel.

"Bener-bener nggak tahu etika ini bocah!" Timpal Alexo masih abai. Tak menghiraukan Kokoi.

Mendegar Alexo terus bersuara, Imel menoleh. Kali ini membalas dengan tatapan yang lebih bringas. Sampai ujung alisnya terlalu rapat bertemu.

Bersamaan dengan itu tangan Imel mengepal kuat, dengan kondisi Ponsel Kokoi yang teremas makin erat.

"Bisa diam nggak sih anda ini? Ha?" Balasnya dengan separuh lengan yang terangkat. Sikutnya mengerucut. Seperti sedang ingin meninju.

"Mau saya banting atau anda diem?" Ancam Imel menegas.

Kokoi menarik napas dalam-dalam. Hampir putus akal untuk membisukan keduanya. Ia kembali menarik bahu Alexo yang memaksa bergerak maju.

Alexo menyingkirkan tangan Kokoi, "Nggak bisa dibiarin dia, man! Nggak tahu aturan dia!" Ungkapnya masih tidak terima.

"Iya tahu.. Udah diem dulu," Kokoi menenangkan.

Alexo terpaksa memilih diam, masih menatap Imel kesal. Hening sebentar. Tak lama kemudian, Imel menurunkan tangannya perlahan. Ia berjalan maju mendekati Kokoi kembali. Sampai hanya berjarak dua langkah saja dengannya.

"Nih!" Seru Imel masih gusar. Ia menyodorkan ponselnya, mengembalikan pada pemiliknya.

Tangan Kokoi meraihnya. Ia membalas dengan tatapan setengah tanda tanya. Sebelah alisnya terangkat.

Tanpa berlama-lama, Imel membalikkan badan. Ia berjalan cepat, menjauh meninggalkan keduanya.

"Whoooa... Dasar! Somplak lo!" Ujar Alexo masih geram.

Kokoi hanya diam memandang punggung Imel yang semakin jauh, setengah heran.

Ada apa dengannya?

"Udah ah... Yuk cabut!" Ajak Kokoi sembari menepuk bahu Alexo.

Baginya tidak perlu dibuat beban pikiran. Toh urusan dengan gadis itu juga sudah selesai. Alexo masih terdiam kesal. Saat kedua lelaki itu hendak berbalik arah, suara Imel kembali menggema.

"WOY... PAK TUA!!" Panggil Imel tiba-tiba. Ia memutar separuh tubuhnya.

Kokoi tak jadi berbalik arah. Begitu pun Alexo. Mereka kembali menatap sepasang mata tajam gadis beriris mata coklat itu.

"Juga kamu mas yang nggak punya hati!" Lanjut Imel menunjuk Alexo.

"Gue? Nggak punya hati? Terus lo apa? Nggak punya otak?" Sela Alexo langsung.

Imel membuang napasnya sebentar, " Iya anda nggak punya hati dan makin menambah dada saya jadi emosi! Ngerti?!"

Alexo hendak menyahuti lagi, tapi Kokoi menyuruhnya berhenti. Ia menurut meski ingin sekali segera meninju gadis itu.

"Buat anda, terima kasih! Tapi nggak pakai sorry! Saya masih punya otak!!" Sambung Imel mengeras. Ia kembali mengangkat jemarinya.
Kali ini menunjuk Kokoi, "Dan buat anda Pak Tua! Maaf dari saya yang emosinya berlebih, sampai Pak Tua jadi kena pelampiasannya..."

"Pun terima kasih sudah berbaik hati. Saya nggak tahu anda dari planet mana. Yang jelas saya berhutang budi. Nanti saya kabari Budi, buat bayar hutang saya. Sekian! Bay!" Tutupnya dengan tegas.

Imel kembali memutar badan. Lalu berjalan meninggalkan keduanya dengan emosi yang belum stabil. Seiring dengan pergerakan kakinya yang lebih cepat.

Kokoi dan Alexo masih menatapnya.

"Sakit tuh anak!" Geming Alexo, "dasar aneh!" Sambungnya seraya bersilat ditempat.

Kokoi hanya menggeleng,

Benar-benar aneh memang

*****










profile-picture
profile-picture
profile-picture
redbaron dan 3 lainnya memberi reputasi
Berasa baca novel
Lihat 1 balasan
Balasan post last.minutes
Quote:


emoticon-Jempol
Thanks udah mampir kak
Tiga


***


Dua pemuda itu masuk, lalu menutup pintu mobilnya.

Alexo memasang seat belt dengan hela nafas panjang. Lelah sekali rasanya. Akhir-akhir ini emosinya seakan terpanggil lebih banyak. Kalau boleh meminta, ia ingin kepalanya saja yang lebih banyak terkuras, bukan dadanya.

Alexo lekas menghidupkan mesin mobil, "Jadi.. Kita kemana habis ini?" Tanyanya kehilangan arah tuju.

Tidak ada sahutan.

Alexo melirik lelaki di sebelahnya. Tak tahunya sedang menatap kosong ke arah depan. Pantas saja hening.

"Woy!" Seru Alexo menyadarkan.

Kokoi menoleh. Sepasang alisnya terangkat. Isyarat bertanya. Seakan berat untuk bersuara.

"Lo mikir apa sih?" Ucap Alexo seraya menginjak pedal. Sejenak memundurkan mobil, lalu beranjak keluar dari parkiran.

Kokoi masih tak bersuara.

Alexo kembali melirik ke arahnya. Menangkap sepasang mata yang terus berkedip datar. Hanya saja, kini dihiasi garis bibir yang setengah menungging.

"Pakai senyum segala lagi!" Alexo menyipit heran, "Koi!"

"Hmm."

"Kita kemana, upil?!" Tanya Alexo kembali, sedikit geram karena diabaikan, "lo mikir apa sih pakai senyum-senyum nanggung gitu?"

"Bukan apa-apa," Sahut Kokoi singkat. Ia menarik seat bealtnya yang belum terpasang.

"Wah.. Gue tahu! Lo mikirin cewek tadi ya?" Alexo mulai menebak. Sayang, perkataannya kembali ditendang.

Kokoi masih sibuk melayang dengan pikirannya.

"Sialan! Gue di kacangin!" Keluh Alexo bertambah kesal.

Seiring gerak mobil yang mulai melaju, rasa penasaran Alexo turut terbawa tak menentu, "Apa lo naksir sama cewek tadi?"

Kokoi mendengus pendek. Ia tidak tertarik menjawab pertanyaan Alexo yang terlalu cepat menyimpulkan.

Tatapan yang semula mengarah ke depan, kini berpindah ke bawah. Kokoi melirik ponselnya, mendaratkan satu jempol di atasnya. Sejenak berselancar, memeriksa riwayat terakhir. Mengingat, gadis yang belum ia tahu namanya tadi sempat mengutak-atik. Ia penasaran dengan apa yang membuat Imel merampas ponselnya tiba-tiba.

Tiga kedip kemudian, bibir Kokoi kembali terangkat. Senyumnya terpotong sebelah.

Alexo melirik lagi. Pemuda itu tetap tidak menyahut. Ia curiga.

"Widih... Kayaknya bakal rekor nih!" Godanya mulai sok menahu, "ya.. Gue akui sih cewek tadi nggak cantik-cantik amat. Emang agak manis dikit," Ungkapnya jujur.

Kokoi masih diam.

"Dikit ya... dikit.. Tapi, masa iya seorang Kokoi Mazega naksir cewek aneh macem dia?" Lanjut Alexo menerka.

Hanya alunan musik yang terdengar. Beberapa menit sebelumnya, Alexo langsung memutar playlist lagunya.

Masih tidak ada sedikitpun iringan suara dari Kokoi.

"Woy! Gue lagi tanya baik, diem aja!" Ucap Alexo sedikit lebih mengeras.

Kali ini berhasil membuat jiwa Kokoi terpanggil.

"Apaan si lo ah! Nggak!" Sahut Kokoi cepat.

"Nggak apa? Nggak mikirin atau nggak naksir?"

"Nggak apa-apa," Terang Kokoi apa adanya.

"Gue paling kenal lo ya, Koi! Udah deh jujur aja."

Sejak Kokoi menginjak usia lima tahun, keeratan bersama Alexo bagai dahan yang terus menopang rantingnya.

Berawal dari sekedar sepupu. Lalu berteman, bermain, bersekolah, berbisnis, sampai berkembang menjadi seperti saudara kandung sendiri.

Kedekatan mereka hampir seerat nadi. Mudah bagi Alexo mengetahui setiap gerik Kokoi yang tak biasa.

"Katanya nggak bakal nikah?" Ujar Alexo mulai mengulik perkataan lama Kokoi. Sengaja memancing, agar lekas menyahutinya.

"Emang," Kokoi menjawab santai.

"Terus? Lo mikirin cewek tadi kan?" Alexo sangat yakin dengan dugaannya. Sebuah keanehan bila lelaki itu tiba-tiba memikirkan seorang wanita.

Jangankan memikirkan, untuk merespon beberapa perempuan yang berusaha mendekatinya saja sudah malas. Hingga keberadaan mereka pun perlahan buyar.

Sayang sekali, paras menawannya itu hanya dipakai untuk membuat para gadis hilang tergilas.

Sepanjang hayat Kokoi, hanya ada satu wanita yang berhasil membuatnya bergairah. Kemudian bersinggah. Meski sudah lama berhenti mewarnai hidupnya.

"Nggak tahu," Sahut Kokoi spontan.

Alexo terkekeh, "Udah lah Koi, bilang aja iya. Susah amat."

"Emang enggak," Bantah Kokoi tetap membenarkan.

"Terus kalau nggak mikirin cewek aneh itu, lo mikir apa coba?"

"Gue cuma keinget sama seseorang aja."

"Seseorang?" Bola mata Alexo mulai berlari mencari tahu. "Sonya maksut lo?" Tebaknya mantap.

Sejauh yang Alexo tahu, tidak ada yang bisa mengantarkan Kokoi pada lamunan, selain wanita itu.

Mendengar namanya diperjelas, senyum Kokoi tiba-tiba memudar. Ucapan Alexo benar. Ia tanpa sadar teringat dengan Sonya, perempuan yang menggiring pikirannya seketika terbang.

Kokoi menutup ponselnya. Lalu kembali menatap ke depan. Memandang jalan raya dan bergeming kaku. Ia hanya membisu. Pikirannya pun terhenyak makin jauh menuju masa lalu.

Alexo kembali menatap Kokoi,

Hubungannya gadis aneh itu dengan Sonya apa emang? Oh iya. Duh! Salah omong gue.

Alexo jadi mengerti, sebab mengapa Kokoi tiba-tiba teringat dengan Sonya. Sedari tadi, ia baru menyadarinya. Pasti teringat dengan kisah pilu yang pernah mengisi lembaran hidupnya. Ia jadi tidak enak hati karena sudah turut menyinggung masa lalu Kokoi.

Alexo berhenti melanjutkan topik perbincangan.

"Emm.. Sorry man gue tadi nggak bermaksud buat..."

"Its oke. Kayaknya kita ngopi dulu aja," Potong Kokoi mengalihkan.

"Ashiap bos! Laksanakan!!" Alexo menyahut dengan hormat. Setengah canda agar ketegangannya terpecah.

***

profile-picture
profile-picture
redbaron dan ndank83 memberi reputasi
Ada cahaya di sana. emoticon-Coblos
profile-picture
profile-picture
kingoftki dan caseopia memberi reputasi
Diubah oleh itufiksi
ijin duduk di pojokan min
Jadi
Seperti itu ...
Minyaaak kak
Penampakan cahaya misterius kah di pantura?
UFO?
emoticon-Bingung
izin mejeng di mari...
mudah2an sesuai dengan yg dibilang "Karena membaca kisah ini berpotensi mengacak-acak dada dan kepala"
emoticon-Cendol Gan
tinggalin jejak dulu. mw ane baca tar malam. kayak seru nih emoticon-Ngacir2
hmm menarik ceritanya
tandai dulu lah..
Halaman 1 dari 3


×
GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di