alexa-tracking
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
JAMPE POPOTONGAN [KISAH NYATA]
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5da45bb72f568d1e24326c71/jampe-popotongan-kisah-nyata

JAMPE POPOTONGAN [KISAH NYATA]

JAMPE POPOTONGAN [KISAH NYATA]

Spoiler for Baca ini!:


PREV STORY << PELET PERAWAN [TAMAT]

PREV STORY << AMARAH DESA JIN [TAMAT]

JAMPE POPOTONGAN (JAMPI MANTAN SUAMI)

Seorang pemuda terduduk disebuah saung dengan beralas bambu yang dibuat sedemikian rupa hingga menjadi sebuah alas panggung dengan atap dari daun kelapa, ditengah sawah yang luas.

Pemuda itu memang terlihat sudah lumayan dewasa, belum menikah sama sekali. Umurnya diperkirakan sekitar 27-28 tahunan, dengan jenggot tebal tak memanjang, kulit coklat gelap dengan badan kurus berotot kering itu dikenal dengan nama Dedi. Tak banyak yang ia lakukan hanya merenungi nasibnya sekarang ini.

Mungkin tidak hanya ditanah sunda, tapi jika ada pemuda yang dengan umur yang sudah matang belum menikah itu menjadikannya sebuah masalah. Dedi sering minder karena dia tidak percaya diri dengan dirinya, dia sering berpikir jika fisik dan kemiskinannya adalah masalah utamanya sekarang.

Waktu itu tahun 2004, ketika aku masih SD berumur sekitar 8 tahun.

Suatu sore,
Bapakku datang kerumah dengan seseorang yang ku tahu sebelumnya, dan dia itu adalah dedi. Dedi hanya tersenyum kepadaku yang sedang makan dengan ibuku.
Bapakku duduk di kursi ruang tamu begitupun dedi yang duduk persis disebelahnya

"Diuk rada dituan atuh ded!" (Duduk agak kesana dong ded) ucap bapakku sembari tertawa kecil
Dedi hanya membalas senyum kemudian menggeser sedikit menjauh dari bapakku.
Umurku yang sekecil itu hanya menatap biasa melihatnya,
"Atuh mah, jieunkeun kopi atuh" (mah, buatin kopi dong!) Seru bapakku menyuruh ibuku yang baru saja selesai makan bersamaku.


Ibuku pergi ke dapur dan membuatkan kopi untuk bapak dan Dedi.

Singkatnya, dedi mulai bekerja dengan bapakku. Pikirku karena kasihan melihat keluarganya yang tidak terlalu berkecukupan dalam memenuhi kehidupannya sehari-hari.
Dedi tinggal bersama ibunya yang janda, adik laki-lakinya yang berbeda 6 tahun dengannya dan 3 keponakannya yang diketahui ibunya sedang bekerja di Arab saudi. Tapi jarang sekali memberikan uang kepada mereka. Maka dari itu seringkali mereka melakukan pekerjaan apapun tanpa mengeluh.

Meskipun dedi sering merasa minder, tapi dia juga sempat menyukai banyak wanita dikampung kami. Berkali-kali penolakan berujung dengan kesedihan yang dialami dedi. Meskipun begitu wanita kampungpun mempunyai selera yang sangat tinggi.
Karena bekerja dengan bapak, aku sering bertemu dengannya dirumah. Dedi adalah pemuda yang ramah, dia mempunyai etika yang sangat baik. Dia sangat murah senyum.

Hingga suatu ketika, wajahnya tidak seperti biasanya, dia hanya terdiam dengan ekspresi yang sedih. Hal itu memancing ibuku untuk bertanya keadaannya,
"Kunaon ded? Teu biasana?" (Kenapa ded? Gak biasanya) Tanya ibuku. Aku yang berada disitu pula sedang menonton Tv, menoleh sengaja dengan keingin tahuan yang besar
"Teu aya nanaon teh!" (Gak ada apa-apa teh!) Jelasnya kemudian tersenyum.

Ibuku hanya mengangguk tak memaksa dedi untuk bercerita.
Setelah menerima uang dari bapakku, dedipun pulang.

Sepulangnya dedi, uwakku datang kerumah dengan membawa makanan. Sudah tradisi dikampung ini untuk bertukar makanan.

Aku mendengar uwakku menceritakan hal tentang dedi dan keluarganya
"Nya eta, karunya si dedi" (kasian si dedi) kata uwakku memulai pembicaraan
"Oh heeuh, kunaon emang teh?" (Oh iya, kenapa emangnya teh?)
Aku terus menguping pembicaraan ibu dengan uwakku. Cerita yang lumayan panjang kudengar. Ternyata


"Ibunya dedi, yakni Bi Uun diganggu oleh beberapa warga, mereka membuang dagangan bi uun yakni ikan, bi uun memang sering berkeliling kampung untuk menjual ikan-ikan tapi entah mengapa seringsekali bi uun mendapat perlakuan buruk dari warga sekitar, mulai dari dibicarakan aibnya sampai diperlakukan tidak senonoh"

Para warga sering menganggap keluarga dedi itu sebagai hinaan, mereka seringkali menertawakan kondisi keluarga dedi. Rumah yang hampir seperti gubuk, berdindingkan bilik dan lantainya hanya tanah, membuat keluarganya menjadi bulan-bulanan iseng para warga.
Rumah mereka berada diujung persawahan dibatas hutan, jauh dari pemukiman warga lain. Aku sering melihat rumahnya ketika ku biasa mencari belalang disawah yang sudah dipanen. Tampak reot pikirku. Rumah itu nampak sudah tak layak lagi untuk dihuni.

Hingga suatu ketika, sebuah kejadian yang menjadi buah bibir dikampungku terjadi tidak jauh dari rumah dedi diperbatasan hutan dan persawahan dikampung ini.

Begini ceritanya...

2 orang anak laki-laki beumur kisaran 15 tahun berjalan melewati rumah dedi dengan satu buah golok yang dipegang salah satu anak itu, sebut saja Dian dan adang. Dian dan adang berniat mencari jambu mete atau kita sering menyebutnya Mede. Yang memang banyak tumbuh dihutan belakang rumah dedi.

Kala itu waktu sudah tengah hari, adzan dzuhur pun baru saja berhenti berkumandang. Dian dan adang tak pernah merasa ada hal yang aneh, ini memang hutan yang biasa mereka masuki ketika mencari buah atau kayu bakar.

Setelah melewati rumah dedi, mereka berdua hanya memandang rumah reot itu kemudian masuk kedalam hutan.

Dengan seksama mereka menghampiri setiap pohon jambu mete dan melihat-lihat keatas mencari buah yang sudah matang dengan warna jingga sampai merah segar. Banyak sekali buah yang mereka temukan, hanya saja daging buah tidak mereka ambil, mereka hanya mengambil biji-biji metenya untuk mereka bakar dan makan.

2 jam mereka berkeliling didalam hutan dengan pohon-pohon besar menjulang, lelah menangkap mereka. Direbahkannya badan mereka berdua diatas dahan pohon mangga yang tidak terlalu tinggi tapi berbatang besar

Berniat untuk beristirahat sejenak sebelum mereka pulang.

"Dang, sia pernah nempo jurig?" (Dang, kamu pernah lihat hantu?) Tanya dian iseng

Adang hanya menggeleng dengan potongan buah mangga mentah berada digigitannya.

"Hayang nempo embung?" (Mau lihat gak?) Kata dian meneruskan

"Embung teuing!" (Nggak mau lah) jawab adang cuek

"Ah borangan, yeuh ku aing bere nyaho mun sia hayang nempo jurig!" (Ah penakut, nih aku kasih tahu kalo kamu pengen lihat hantu!) Jelas dian bangun dari baringnya

"Ih pan cik aing geh embung!" (Ih kan kata gua juga gak mau!) Ketus adang

"Heeuh ges repeh, yeuh kieu carana!" (Udah diem aja, gini nih caranya) ujar dian memegang bahu adang.

Adang hanya terlihat sedikit panik sembari mengupas mangga mentah ditangannya.

"Sia botakan hulu sia, terus kerok halis sia, laju sataranjang terus ngaca! Tah sia bakal nempo jurig dikacana! Hahaha" (kamu botakin kepala kamu, terus cukur alis kamu, kemudian telanjang dan berkaca! Nah kamu bakal melihat hantu dikacanya! Hahaha) jelas dian diakhiri tawa yang sangat kencang.

Adang terlihat diam dan bingung" atuh etamah aing dian!" ( Itumah gua atuh dian) jelas adang sembari memukul dada dian hingga terjatuh dari dahan.

"Gedebuk" suara badan dian yang membentur tanah dengan dedaunan kering diatasnya. Dian hanya terus tertawa sambil mengeluh kakinya yang sedikit sakit.

"Modar sia!" (Rasain lu) kata Adang kemudian tertawa.


Tapi pada saat itu juga, adang tak mendengar suara dian yang tadi masih tertawa, dilihatnya ke bawah. Dian terlihat mengamati sesuatu dari kejauhan, itu membuat adang kemudian turun dari atas pohon.

"Yan, aya naon?" (Yan ada apa?) Tanya adang dibelakang dian sembari mengambil kantong keresek berisi biji jambu mete yang ia taruh diakar pohon mangga besar itu.
"Ssst, repeh... Itu naon nu hideung ngarumbay!" ,,(Ssst, diam... Itu apa yang hitam tergerai)


Bersambung
PART 2

PART 3

PART 4

PART 5

PART 6

PART 7

PART 8

PART ENDING
profile-picture
profile-picture
profile-picture
kemintil98 dan 24 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh rosemallow
Halaman 1 dari 9
pocong kuntilanak wewe gombel sundel bolong susana genderuwo tuyul kuyang valak siapapun hantunya mari ngumpull
profile-picture
profile-picture
profile-picture
agahigh dan 2 lainnya memberi reputasi
carita alus.. diantos gan..
ditunggu lanjutannya gan
emoticon-2 Jempol
Quote:


Quote:


Siap insyaallah update setiap hari
profile-picture
AllKreatif memberi reputasi
Heleh.....kentang deui
Mending ke pasar aja kalo mau beli kentang mah
Dasar kehed emoticon-Lempar Bataemoticon-Blue Guy Bata (L)
lanjutkeun kang emoticon-Cool
kan ieu kajadianna tahun sabrahanya?... #kepo
Lihat 1 balasan
Quote:


Di cerita sudah ada gan 😁 2004
Wiiihhh.. sedapp, gw demen kisah2 nyata bernuansa horor,
Nitip sendal & masa depan gw gan
emoticon-Cool
Quote:

Jiaahhh sijuragan udah nongol duluan emoticon-Leh Uga
Quote:


oh nya punten aya geuning,, teu ngeh emoticon-Maaf Agan

Quote:


wah masuk sini si agan, lanjut lagi dong kelanjutannya si arya gerget nih..

====================================================

ane cuman nungguin dari 2 agan ini ceritanya bagus2.
profile-picture
AllKreatif memberi reputasi
ditunggu updatenya
lanjutkeun atuhhhh...
Quote:


Maklum saya doyan yg namanya ghaib

emoticon-Ngakak
Ninggalin jejak dulu, mudah2an gak kentang
Tah... carita nu kieu yeuh nu urang beuki mah.

lanjut kang , kade ulah nepi kentang. emoticon-Cendol Gan
profile-picture
profile-picture
deconfliker dan tllaisn memberi reputasi

JAMPE POPOTONGAN [PART 2]

Adang menatap sembari menyipitkan matanya, ia melihat sebuah benda berwarna hitam dengan serat yang tergerai. Mereka berdua kemudian bertatap mata satu sama lain, memberikan isyarat untuk pergi menghampiri benda yang berada diatas ranting pohon dengan semak tinggi dibelakang pohon dari ranting tersebut.

“doangnamah ijuk yan etamah!” (kayanya ijuk itumah yan!) jelas adang mencoba menebak-nebak benda apa yang menarik perhatian mereka tersebut.

Tak menghiraukan perkataan dari adang, dian maish terus saja mencoba berjalan. Suara dedaunan dan ranting kering terinjak tidak membuat mereka gentar untuk berjalan perlahan menghampiri benda itu.

Mereka terus berjalan, ditengah rindangnya pepohonan.

Aaaaak aaaak aaak

“Astaghfirullah” suara gagak mengagetkan mereka. Wajah keduanya Nampak sedikit panik. Terlihat beberapa burung gagak terbang kemudian melompat-lompat dari satu dahan kedahan lainnya.

“geus ulah ditempokeun!” (udah jangan diliatin!) suruh dian sembari menepuk pundak adang.

Beberapa meter jarak mereka dari benda itu. Mereka mengamatinya dengan seksama benda hitam itu.

“Ieumah doang buuk ning dang!” (inimah kaya rambut dang!) ujar dian
Adang yang mencoba melihat sekeliling hutan merasa tidak enak. Dengan mata yang melihat benda itu adang berkata “ih heeuh ning buuk!” (wah iya ini rambut)
Dian mengernyitkan dahinya kemudian berjalan lebih dekat dan menyentuh benda yang mereka pikir itu rambut. Tak ada yang dilakukan adang, ia hanya mengikuti apa yang dilakukan dian.

“yan geus balik yuk ah!” (yan, udah pulang aja yuk!) ajak adang cemas
“ih ngke heula, aing panasaran ieu buuk saha?” (ih, nanti dulu. Aku penasaran ini rambut siapa?) ketus dian.

Adang hanya terdiam dengan wajah yang kesal, ia tak ada pilihan selain tetap disini bersama dian. Jika pulang ia harus pulang sendirian.

Dianpun menarik rambut itu agar terjatuh dari atas ranting, tak bersuara hanya gertakan ranting yang patah karena tarikan dian yang keras menarik rambut itu. Sekarang rambut itu menjuntai keatas tanah dan betapa kagetnya wajah mereka.

“Panjang ning nepi asup ka ruyuk?” (wah panjang banget sampai masuk ke semak-semak) ucap dian heran

Saking penasarannya, dian mengangkat rambut itu kemudian dia gulung menggunakan lengannya seperti menggulung kabel yang panjang. Adang terus saja melarang apa yang dilakukan dian, dia sangat ketakutan sekali. Karena menurutnya aneh ada rambut sepanjang ini berada dihutan seperti ini. Tapi ketakutan adang kalah dengan rasa penasaran dian, mereka terus masuk kedalam semak sembari menggulung rambut itu.

Sungguh teman yang sangat menyebalkan, dalam benak adang. Buat apa harus menggulung rambut itu dan mencari tahu darimana asal rambut ini, gumam adang.

Semakin jauh mereka masuk kedalam semak-semak, semakin besar pula gulungan yang ada ditangan dian, karena merasa bingung dan pegal, dian mengambil dahan pohon untuk menggantikan tangannya.

Semakin jauh mereka masuk kedalam semak, rambut itu terlihat menggulung sangat panjang. Rambut hitam kusut itu terlihat menggunung melilit dahan pohon yang dipegang oleh dian. Perasaan adang kian memburuk. Ia ingin sekali untuk pergi pulang, tapi apa daya dia sudah masuk lebih dalam ke dalam semak-semak pohon harendong ini.
JAMPE POPOTONGAN [KISAH NYATA]

Dia terus berjalan dibelakang dian yang dengan serius menggulung rambut itu, memang dipikir ini sangat mustahil sekali ada manusia mempunyai rambut sepanjang itu. Adang berkecamuk, dia takut hal ini membuatnya mempunyai pengalaman mengerikan didalam hutan yang sering terjadi hal-hal diluar nalar manusia.

"Dang sia hitut lain?" (Dang, kamu kentut ya?) Tanya dian sembari menutup hidungnya dengan tangan kirinya

"Ngeunah bae, hanteu!" (Enak aja, enggak!) Jawab adang kesal

"Terus ieu bau naon?" (Trus, ini bau apa?) Ujar dian keheranan

Adang mulai mencium aroma yang dimaksud dian, aroma busuk seperti bangkai ini membuat adang terdiam sejenak kebingungan. Aroma yang sangat membuatnya ingin sekali untuk muntah. Dian menghentikan langkah kakinya,

"Ah, bau bangke hayam leuwueng meren!" (Ah, bau ayam hutan kali!) Ujar dian berusaha berpikiran positif

"Heeuh meren" (iya kalik!) Jawab adang mencoba cuek dengan bau tersebut

Akan tetapi, semakin jauh mereka menggulung rambut tersebut, semakin menyengat aroma busuk yang mereka cium. Sangat busuk, hingga membuat mereka membuka kaos mereka dan dibuatnya sebagai penutup hidung mereka, sembari terus berjalan.

Tak lama, mereka keluar dari semak-semak itu dan kemudian mereka tersadar berada di belakang rumah Dedi yang memang masih banyak pohon, karena rumahnya memang berbatasan dengan hutan.

Mereka berdua diam sejenak memandang bagian belakang rumah dedi yang sangat tak layak untuk dihuni, biliknya yang sedikit koyak dengan warna yang menghitam itu terlihat sangat mudah sekali untuk dirubuhkan.

Pandangan mereka kemudian kembali beralih kerambut yang masih berada didahan yang dian pegang, semakin besar gulungannya. Rambut itu ternyata menjalur keatas sebuah pohon randu yang besar tepat didepan mereka berdua.

Adang menghela nafas, tanda ia bersyukur karena ini sudah masuk ke perbatasan kampung, dan ia sudah melihat hamparan sawah pula.

Dian terlihat terdiam ketika wajahnya mengangkat melihat kebagian ujung rambut yang sedari tadi ia gulung itu,

MATANYA TERBELALAK SANGAT LEBAR!

"EH yan, siamah eta teh buuk kunti!" (Eh yan lu mah, ini rambut kuntilanak) seru adang setengah meringis sembari memegang tangan dian yang juga masih memegang ranting pohon yang ia pakai untuk menggulung rambut itu.

Dian tak bergerak sedikitpun, sementara adang terus meronta-ronta menarik badan dian mengajaknya untuk berlari.

Tak disangka, kepala kuntilanak itu menoleh kebawah kearah dian dan adang sembari tersenyum menyeringai dengan gigi yang besar serta mulut yang sobek sampai pipinya, matanya melotot tajam hampir keluar melihati dian dan Adang yang terlihat tak kuasa melihat sosok menyeramkan ini. Tubuh sosok itu sedang terduduk didahan besar pohon randu itu, perlahan terbalik kearah sebaliknya tadi ia menghadap. Wajahnya sangat menyeramkan, dia tak memiliki hidung, wajahnya sangat hitam.

Adang menarik badan dian yang terlihat sangat terkesima dengan sosok itu, hingga membuat badan dian terjatuh. Adang yang sudah tidak kuat lagi langsung berlari ke arah sawah dan meninggalkan dian yang terduduk terjatuh diatas tanah, ia tak kuasa unuk mengangkat badannya, dilepaskannya ranting yang menggulung rambut makhluk itu.
Sosok itu masih terduduk diatas dahan, wajahnya menunjukkan ekspresi yang sangat marah. Dian menangis sejadi-jadinya sembari masih menatap sosok itu.

"BUUK AING" (RAMBUT SAYA!) Teriakan makhluk itu.

Dianpun kembali berteriak sekencang yang bisa ia lakukan "AAAAAAAAKKKKKKKKKK"
Seseorang berlari kearah dian yang terus berteriak tanpa hentinya,

"Jang kunaon?" (Dek, kenapa?) Teriak seorang nenek tua dari kejauhan. Tidak ada jawaban, adang hanya terus menangis. Kemudian nenek itu yang diketahui bi uun berlari dan langsung menarik tangan dian kemudian membawa masuk kerumahnya.

Sementara makhluk itu ternyata sudah menghilang!
Bi uun terlihat sangat panik melihat dian yang masih belum berhenti menangis, dia masih terduduk. Hingga beberapa bapak-bapak berjalan melewati rumah bi uun dengan adang dipegangi salah satu bapak-bapak yakni bapaknya sendiri.

Karena bi uum mengenal bapaknya dian, bi uun memanggil gerombolan bapak-bapak itu. Kemudian merekapun menghampiri bi uun dan langsung masuk kerumahnya, dilihatnya dian sedang duduk menangis. Ditariknya badan dian oleh bapaknya kemudian mengucapkan terimakasih dan langsung pergi pulang diikuti bapak-bapak lain dan juga adang.

"Sia kunaon?" (Kamu kenapa?) Tanya bapak dian sinis

Dian hanya menangis saja sambil berjalan dengan tangan kanan dipegang oleh bapaknya.

"Ceuk si adang nempo jurig? Lain jurig meren, maneh mah nempo bi uun!" ( Kata si adang melihat hantu? Bukan kali, kamu ngeliat bi uun) tegas bapaknya dian.

Dian hanya menggeleng...

"Bi uun pan doang jurig!" (Bi uun kan kaya hantu) celetuk salah satu bapak-bapak, hingga semuanya tertawa. Sedangkan adang dan dian hanya saling menatap ngeri.

Bersambung...

PART 3
profile-picture
profile-picture
profile-picture
kemintil98 dan 8 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh rosemallow
Quote:


Quote:


Quote:


Quote:


Quote:


Quote:


Sudah update!
profile-picture
tomelo memberi reputasi
gulung rambut dah kaya gulung senar layangan wkqkq
lanjut gan
muantabbbb..lanjutkeun ya..ditunggu nech
Halaman 1 dari 9


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di