alexa-tracking
Kategori
Kategori
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5da3e96310d29539c1617040/kunikahi-sahabatku

Kunikahi Sahabatku

Kunikahi Sahabatku




Nimas tertegun di ranjang pengantinnya.

Dari sana ia bisa melihat Saga yang pulas di sofa ruangan itu. Wajah pria itu terlihat tenang, napasnya teratur, hanya poninya yang tampak agak berantakan. Kemeja putih bekas akad masih melekat di tubuhnya.

Di matanya, Saga tidak lebih dari sahabat.

Namun, aksi heroiknya kemarin sungguh membuat Nimas tidak enak hati.

Semua berawal dari kaburnya Andre di hari pernikahan. Harusnya dia yang kini berada di kamar itu bersama Nimas, bukan Saga. Harusnya Nimas tidak mengorbankan Saga demi menutupi rasa malu keluarganya.

Saga, teman Nimas sejak kecil.

Sejak dulu, laki-laki itu rela melakukan apa saja untuk Nimas. Saga belajar bela diri untuk melindungi Nimas dari anak-anak yang suka mengganggunya. Saga dan Nimas seolah tidak pernah terpisahkan.

Namun, saat keduanya beranjak dewasa, semua mulai berubah. Nimas dan Saga menjadi jarang bertemu karena kesibukan masing-masing. Hingga suatu hari Nimas bertemu Andre dan menjalin hubungan serius.

"Udah bangun?" Lamunan Nimas buyar saat sebuah suara serak yang begitu dikenalinya terdengar begitu dekat. Ia menoleh ke sumber suara.

"Eh, u-udah, Ga."

Kaku. Sunyi. Namun, Saga terlihat begitu tenang. Laki-laki itu mendekati ranjang.

"Boleh gue duduk di sini?"

Mereka berpandangan sejenak.

"Duduk aja." Sekuat tenaga Nimas menahan gejolak dalam hatinya. Pada situasi normal, Nimas akan baik-baik saja duduk berdekatan dengan Saga.

Namun, saat ini situasinya berbeda. Mereka berada di kamar pengantin. Kamar mereka berdua. Kamar pengantin yang bahkan spreinya masih putih bersih dan rapi. Cahaya redup dari lampu tidur membuat suasana makin mendebarkan bagi keduanya. Suasana yang harusnya romantis justru menjadi hal yang meresahkan mereka.

"Apa rencana lo ke depan?" tanya Saga hati-hati. Laki-laki itu tentu tidak mau Nimas salah tangkap dengan maksud pertanyaannya. Bagaimana pun pernikahan ini hanya demi meyelamatkan harga diri Nimas dan keluarganya.

Nimas masih membisu. Wajah sendunya belum hilang sejak kemarin. Namun, setidaknya air mata  sudah tidak lagi terlihat.

"Rencana apa maksud lo, Ga?" Nimas balik bertanya. Wajah ayunya sedikit mendongak.

Lagi-lagi keduanya beradu pandang. Namun, Saga cepat membuang pandangan ke arah meja rias demi meredam degup jantungnya yang tidak menentu. Saga menarik napas berat hingga terdengar di telinga Nimas.

"Kita nggak lagi main sandiwara, kan?"

Nimas tidak punya jawaban untuk pertanyaan Saga, setidaknya untuk saat ini. Nimas benar-benar merasa seperti terjebak akibat keputusannya sendiri. Sudah tepatkah keputusannya dengan menerima Saga?

Nimas masih diam.

Saga beranjak dari duduknya. Ia berjalan pelan dengan menyelipkan kedua telapak tangannya di saku celana. Laki-laki jangkung itu sepertinya ingin memberikan Nimas waktu untuk berpikir.

"Ga!" seru Nimas.

Saga yang tangannya hampir menyentuh gagang pintu, berhenti. Ia menoleh. Matanya menatap Nimas.

"Gue nggak peduli kita sandiwara atau enggak. Yang gue tahu, gue berusaha buat lo bahagia. Lupain aja pertanyaan gue tadi."

"Saga!" Nimas turun dari ranjang. Ia mendekati laki-laki yang kini sudah resmi menjadi suaminya itu, lalu berhenti tepat di depannya. "Gue egois banget, ya? Gue cuma mikirin perasaan gue dan keluarga."

"Semua udah kejadian. Pilihannya hanya dua. Kita tetap bersandiwara atau belajar menerima. Itu aja, nggak ada yang lain."

Nimas tertegun mendengar jawaban Saga.

Akhirnya, Nimas hanya mampu menatap punggung sahabatnya yang berlalu. Keresahannya semakin menjadi. Pilihan yang mereka miliki memang hanya pura-pura atau belajar menerima, seperti yang Saga katakan.

Bersambung.

Sumber Gambar: ini
profile-picture
profile-picture
profile-picture
alizazet dan 42 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh nofivinovie
Halaman 1 dari 8

Bab Dua

Untuk sejenak, Saga menarik napas, kemudian membuangnya perlahan. Mata sipit itu mengarah pada ikan-ikan koi yang sedang berkecipak berebut pelet dari tangannya. Pikirannya sedang sedikit melayang.

Di saat itulah, Pak Sasongko datang.

Deheman kecil pria berkepala botak itu berhasil menarik Saga dari awang-awang.

Keduanya saling berpandangan yang kemudian menerbitkan senyum di bibir tipis Saga. "Om pagi-pagi udah bangun aja?" Kikuk.

Pria setengah tua di samping Saga itu tertawa kecil. "Saya biasa pagi-pagi bangun. Tapi ngomong-ngomong, Nak Saga sekarang jadi mantu saya. Manggilnya masih tetap 'Om', nih?"

Saga garuk-garuk kepala. Merasa tidak enak sekaligus bingung akan dirinya sendiri. Ia merasa linglung.

"Eh, i-iya, Saga panggil 'Papa' aja."

Sasongko tertawa, geli akan kelakuan menantunya.

"Kamu bukan orang baru di rumah ini."

"Tapi baru di situasi seperti ini."

"Ya, ya, saya paham."

"P-Pa, apa Saga melakukan hal yang tepat?"

"Hmmm, kalau itu, jujur saja saya nggak bisa komentar apa-apa. Di satu sisi, saya bersyukur karena Nak Saga menyelamatkan muka kami. Tapi, di sisi lain, saya khawatir dengan kalian." Sasongko menatap wata sipit mennatunya.

"Saga tidak keberatan sama sekali dengan pernikahan ini. Tapi, Saga nggak yakin Nimas berpikiran sama." Saga menunduk. Tangan kanannya kembali menebar pelet-pelet ikan di jernihnya air.

Kecipak air terdengar saat hewan bersirip itu berebut makanan. Warna putih yang berkombinasi warna oranye dan kuning, terlihat sangat cerah di dalam kolam. Namun, hal itu sangat berlawanan dengan suasana hati Saga yang sedikit diliputi kabut.

Sasongko ikut memperhatikan ikan-ikan itu. Ia juga mengamati cara Saga menabur pelet-pelet ke permukaan air. Pemuda itu melakukannya dengan perlahan dan sangat hati-hati.

Sasongko mengenal Saga sudah sejak anak itu balita. Saga dan Nimas memang cukup sering bermain bersama. Kadang Nimas yang pergi ke rumah Saga, begitu sebaliknya. Dan, ternyata takdir membawa Saga dan Nimas pada takdir yang seperti ini.

"Saya percaya kamu laki-laki baik."

Sasongko menepuk bahu sang mantu.

Saga menoleh ke arah mertuanya. Keduanya bertatapan, saling memandang sebagai sesama laki-laki. Hanya saja, Saga tidak yakin dengan dirinya sendiri. "Apa yang harus Saga lakukan, Pa?"

"Hanya satu."

"Apa itu?"

"Buat Nimas selalu tersenyum. Kamu bisa, 'kan?" Sasongko kembali menepuk bahu kanan menantunya. Tanpa menunggu jawaban, pria botak berkaca mata itu pergi. Langkahnya tampak bergegas.

Saga mengangguk. Ia seolah menjawab pertanyaan sang mertua meski Sasongko sudah meninggalkannya. Yang ada dalam pikiran Saga saat ini adalah bagaimana caranya mencairkan kekakuan.

Kekakuan yang sungguh membuat Saga dan Nimas mati gaya. Keduanya yang pada situasi sebelum ini bisa menjadi pasangan terkompak, kini bagaikan orang asing. Berdua tapi bisu. Begitulah kira-kira.

"Ga!"

Saga tersadar dari pikirannya yang sedang merajut asa. Ia menoleh ke sumber suara. Ternyata Nimas. Gadis itu tersenyum kikuk sambil menyerahkan secangkir minuman beruap. Tercium aroma lembut khas teh hijau. Minuman kesukaan Saga.

Saga menerima cangkir itu.

"Repot-repot."

"Namanya juga istri soleha," canda Nimas.

Keduanya tertawa.

"Bisa aja lo," sahut Saga.

Nimas mengerucutkan bibir. Saga menikmati pemandangan itu sambil menyesap minuman di tangannya. Ternyata hal remeh seperti itu bisa membuatnya bahagia. Jika Saga merasa bahagia, apakah Nimas juga?

"Jadi nggak suka?"

Saga hampir tersedak.

Bersambung
profile-picture
profile-picture
profile-picture
g.azar dan 23 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh nofivinovie

Bab Lanjutan

Saga tidak pernah menyangka akan mendengar candaan macam itu. Walau kaget, tetapi hati Saga sedikit menghangat. Mungkin juga efek teh hijau.

Kecanggungan di antara mereka masih kental, sekuat apa pun mereka berusaha menepisnya. Tapi, Saga memilih untuk terus bersikap biasa. Sebisa dan semampunya. Hingga pada akhirnya kecanggungan masing-masing berujung pada adegan saling toleh. Awalnya sekilas, kemudian berulang.

Detik berikutnya, tawa meledak di antara keduanya. Saling toyor, hingga akhirnya Nimas menyenderkan kepala di bahu sang suami. Saga hanya memejamkan matanya.

"Emangnya kita beneran?"

"Apanya?"

Nimas sengaja memancing Saga untuk bicara lebih banyak. Sejujurnya ia rindu kebersamaan mereka yang sempat terenggut beberapa waktu lalu. Nimas merindukan gelak tawa mereka. Nimas rindu suara lembut itu saat sedang berbagi cerita dengannya.

Saga yang begitu antusias ketika bercerita tentang keinginannya memiliki kebun bunga. Entah apa yang ada di dalam pikiran laki-laki itu hingga ia menginginkan hal yang menurut Nimas sedikit menggelikan. Laki-laki dan bunga sangat bertentangan. Tapi, Saga memang lain.

Mungkin karena itu Nimas begitu suka dekat-dekat dengan Saga. Saga yang lembut dan penuh perhatian, pintar, dan ... sedikit aneh. Laki-laki suka bunga itu aneh, bukan?

"Hubungan kita."

"Hubungan yang mana?"

"Maksud gue tentang pernikahan ini."

"Kenapa memang?"

"Kita serius?"

Nimas mengangkat kepalanya dari bahu Saga. Mereka saling tatap. Tapi, dengan cepat Saga mengalihkan fokus matanya ke arah ikan-ikan di bawah sana.

Nimas masih belum yakin untuk memberikan Saga jawaban. Ia justru merasa terjebak oleh perangkap yang dipasangnya sendiri. Ia yang memancing Saga, ia justru yang gelagapan. "Kasih gue waktu," jawab Nimas akhirnya.

"Gue nggak pernah berharap banyak."

Ada rasa nyeri mendengar jawaban Saga yang terdengar begitu lembut, tetapi sangat menusuk. Kalimat itu sukses membuat hati Nimas terasa seperti diremas. Nimas merasa bersalah sudah menggiring Saga ke arah sana. Kini wanita bergaun putih pucat itu bingung mencari kalimat yang tepat untuk kembali mencairkan suasana. Hingga akhirnya ia memilih berdeham.

Saga menoleh sekilas, kemudian menyesap tehnya lagi. Laki-laki itu menyodorkan teh yang tinggal beberapa mililiter itu kepada Nimas. Yang disodori malah memasang wajah tidak berdosa sambil mempertontonkan gigi-gigi putihnya.

Bersambung....
profile-picture
profile-picture
profile-picture
g.azar dan 11 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh nofivinovie
Lihat 1 balasan

Bab 4

Suara dehaman dari belakang membuat mereka serempak menoleh. Ternyata Sasongko yang keluar pintu dan mendekati sepasang pengantin baru itu. Kemudian, sebuah amplop diulurkan Sasongko kepada Saga. Senyuman manis tampak tersungging di raut tuanya.

Saga menerima amplop itu dengan ragu.

"Papa harap kalian bersenang-senang."

"Ini apa, Pa?" Saga membolak-balik amplop. Sesekali matanya diarahkan pada Sasongko. Tapi, Sasongko tidak memberikan jawaban.

Laki-laki itu malah pergi meninggalkan Nimas dan Saga. Tinggallah mereka berdua saling pandang. Nimas menautkan alis.

Saga memberikan amplop itu kepada Nimas.

"Lo buka aja!" Nimas menolak amplop itu dan menyuruh Saga membukanya. Akhirnya Saga menuruti perintah Nimas.

Perlahan, Saga membuka benda yang dipegangnya.

"Tiket?" Mereka berpandangan. "Bulan ma ...." Saga menggantung kata terakhir. Matanya diarahkan pada Nimas.

"Bulan madu?"

"Iya," jawab Saga.

Nimas berpikir sebentar. Ia tidak menyalahkan siapa-siapa atas situasi ini. Dari awal dia sendiri yang mengambil sikap.

Nimas merebut tiket dari tangan Saga. Saga sedikit terkejut dan panik karena mengira Nimas akan marah. Tapi, ternyata Nimas hanya ingin membaca tiket itu secara keseluruhan. Nimas membaca kalimat-kalimat yang ada di tiket tersebut dengan keras.

"Yuk, siap-siap!" Nimas melipat tiket tersebut dan menggenggamnya di tangan kanan, lalu tangan kirinya menarik kemeja Saga bagian perut. Saga merasa bagai kerbau yang dicocok hidungnya.

"Lo serius?" Saga masih bingung. Ia sama sekali tidak menyangka Nimas menerima ini dengan sangat mudah.

Nimas menoleh dan tersenyum.

"Serius, Suamiku tersayang!"

"Ta-tapi--"

"Nggak ada tapi-tapian. Kita bukan anak kecil, Saga. Berhenti main-main!"

"Main-main apa?"

"Main sandiwara."

Glek!

"Jadi serius?"

"Berapa kali lagi lo mau nanya?"

"Lo nggak lagi mabuk, kan?"

Nimas menghentikan langkah.

"Ya gue mabuk!"

Setelah itu Nimas berlari meninggalkan Saga. Laki-laki itu hanya geleng-geleng melihat kelakuan istrinya. Dan, sebuah senyum terbit di bibir tipis Saga.

***

Bandar udara I Gusti Ngurah Rai menyambut kedatangan Saga dan Nimas.

Mereka terlihat menarik koper kecil.

"Wah udah lama kita nggak ke sini," ujar Nimas di sela-sela langkahnya. Suara roda koper yang bergesekan dengan aspal beradu dengan suara nyaring dari pesawat. "Ga, tunggu!"

"Ya," jawab Saga. Laki-laki itu menunggu Nimas yang sedikit tertinggal. "Jalannya lama," gerutu Saga. Nimas yang sudah berhasil menyusul hanya memamerkan senyum manis.

Keduanya berjalan beriringan. Sesekali Nimas berceloteh tentang tempat-tempat mana saja yang ingin dikunjunginya. Saga hanya menggangguk.

Nimas terus berceloteh hingga mereka bertemu taksi daring yang mereka pesan. "Ke Dwaraka Ubud, ya, Pak," ujar Nimas. Si sopir menutup bagasinya yang sudah dipenuhi oleh koper sang penumpang. Tidak lama kemudian mereka mulai menembus kemacetan menuju Ubud.

Sekitar sejam kemudian mereka sampai.

"Terima kasih banyak, Pak," ujar Saga sambil mengangsurkan dua lembar ratusan ribu. Si sopir ingin mencari kembalian, tapi Saga mencegahnya, "Nggak usah, Pak. Itu tip dari kami."

Sang sopir tersenyum santun.

"Semoga langgeng dan bahagia," ujar sopir itu tulus. Kedua penumpangnya hanya mengucapkan terima kasih seraya tersenyum. Tak lama kemudian si sopir pergi. Baru saja Saga ingin melangkah, Nimas sedikit tergelak.

"Lo kenapa?"

Saga terkejut mendengar tawa Nimas.

Bersambung(kira-kira Nimas kenapa?)

AN: Mohon maaf untuk semua teman yang menunggu lanjutan kisah ini, kebetulan saya lagi ngurusin bayi yang demo, jadi harap dimaklum jika jualan kentang.emoticon-Jempol
profile-picture
profile-picture
profile-picture
alizazet dan 12 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh nofivinovie
Lihat 2 balasan

Bab 5

Nimas menghentikan tawanya.

"Lucu," jawab Nimas. Wajah ayunya memerah. "Memangnya kita beneran kelihatan pasangan, ya?" Kembali Nimas tergelak.

Saga yang mendengar nada heran di kalimat Nimas, hanya bisa menarik napas panjang dan membuangnya perlahan. Kemudian ia memilih berlalu. Laki-laki itu berusaha menyembunyikan rasa kecewanya.

***

"Kita mau makan malam di mana?"

"Terserah," jawab Nimas.

"Tumben?" selidik Saga.

"Ya, lagi nggak ada ide," sahut wanita yang kini berstatus Nyonya Saga itu. Biasanya ia adalah orang yang rewel masalah makan. "Lo sendiri aja!"

"Lo nggak lapar?"

"Nggak," jawab Nimas lagi.

Saga mencoba mengerti.

"Yaudah."

Saga memilih keluar vila yang mereka tempati. Pria itu berjalan pelan melewati koridor sempit yang kanan kirinya ditumbuhi bugenvil beraneka warna. Kakinya melangkah keluar area vila, menuju jalanan yang sepi.

Saga menyipitkan mata yang memang sudah sipit saat ada sebuah mobil berlawanan arah dengannya. Ia memang memilih berjalan kaki ketimbang menyewa sepeda motor dari vila. Bukan karena alasan biaya, laki-laki itu hanya ingin menikmati jalan sepi di sekitar vila mewah dengan langkah perlahan. Sejak dulu, berjalan pelan di jalanan sepi atau taman adalah kegemaran Saga. Sepi dan sendiri.

Beberapa saat berlalu, ponsel pintar di saku kemejanya bergetar. "Nimas," gumamnya. Ia menekan tombol hijau.

Di seberang sana terdengar suara manja sang istri yang menanyakan keberadaannya.

"[Ini makananya udah datang.]"

***

Saga mengetuk pintu vila.

"Gue nggak pesan makanan," ucap Saga begitu pintu terbuka. Ia lalu masuk. "Apa memang udah sepaket?"

Di sana, di tepi kolam renang pribadi vila yang mereka tempati, terlihat dua buah kursi berhadapan yang hanya terpisah sebuah meja kecil. Di atas meja terlihat hidangan makan malam, lengkap dengan lilin dan bunga. Harusnya itu romantis. Saga mendekati meja dan tiba-tiba saja bayangan liarnya menyeruak. Dalam angan-angannya, Saga dan Nimas sedang menikmati makan malam itu dengan saling menatap.

Perlahan tapi pasti, tangan kiri Saga meraih jemari Nimas untuk dikecup. Nimas tersenyum dengan tatapan yang semakin sayu. Detik berikutnya, Saga membawa Nimas dalam gerakan dansa romantis diiringi alunan musik lembut yang entah dari mana datangnya. Mereka sama-sama hanyut.

Tapi, sayangnya itu hanya sebuah angan kosong yang mendadak buyar karena toyoran tangan Nimas di bahu kanan Saga. "Gue ngomong dicuekin. Bayangin apaan lo?" selidik Nimas.

Saga gelagapan.

"Bayangin apaan?"

Saga masih berusaha menyembunyikan rasa malunya karena ketahuan sedang membayangkan hal yang di luar jangkauan.

"Nyatanya gue ngomong malah bengong."

Saga tertawa sumbang.

"Gue nggak bengong."

Nimas kembali menoyor Saga. Tidak hanya sampai di situ, kali ini jari lentik wanita itu mampir di pinggang sang pria. Bukan sebuah belaian, melainkan cubitan. Saga mengaduh.

"Bohong," semburnya, "jelas-jelas gue ajakin ngomong kaga jawab," lanjut Nimas.

Saga masih ingin berusaha membela diri, tapi Nimas justru menyeret pria itu untuk duduk berhadapan dengannya di kursi yang sudah tersedia.

"Memangnya ini paketan bulan madu?"

Bahu Nimas terkulai karena merasa sia-sia sudah menjelaskan panjang lebar, tapi nyatanya Saga benar-benar tidak mendengarnya. "Udah, ah, makan aja!" katanya kemudian. "Gue males ngulang."

Saga memperhatikan mimik Nimas. Dalam hati, Saga masih tidak menyangka akan bisa berakhir di tempat dan situasi seperti itu bersama Nimas. "Maafin gue...," ucap Saga.

Nimas mengangkat wajah.

"Untuk?"

Ingin sekali Saga meminta maaf atas keputusan yang diambilnya. Tapi bibirnya terasa kelu. Bahkan nyalinya menciut seketika.


Bersambung next ada yang pengen mereka ber-ehm ria nggak?
profile-picture
profile-picture
profile-picture
alizazet dan 11 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh nofivinovie
part lain
profile-picture
profile-picture
profile-picture
Mefrik dan 3 lainnya memberi reputasi
lain lagi
profile-picture
profile-picture
profile-picture
Mefrik dan 3 lainnya memberi reputasi
part lain lagi
profile-picture
profile-picture
profile-picture
Mefrik dan 3 lainnya memberi reputasi
ini lagi
profile-picture
profile-picture
profile-picture
Mefrik dan 3 lainnya memberi reputasi
kunci dulu
profile-picture
profile-picture
profile-picture
Mefrik dan 3 lainnya memberi reputasi
Pilih yang kita pilih widih mantul nih ceritane
profile-picture
nofivinovie memberi reputasi
Wah, kataknya romantis abis nih cerita. Nyimak lanjutannya Sis emoticon-Angel
profile-picture
profile-picture
ajang.dee dan nofivinovie memberi reputasi
Keren. Rapi sekali☺☺
profile-picture
profile-picture
ajang.dee dan nofivinovie memberi reputasi
sahabat jadi cintah
profile-picture
profile-picture
ajang.dee dan nofivinovie memberi reputasi
pej ¹
profile-picture
profile-picture
ajang.dee dan nofivinovie memberi reputasi
Quote:


Yoi gan emoticon-Goyangemoticon-Goyang
profile-picture
profile-picture
ajang.dee dan nofivinovie memberi reputasi
cerita di trit sebelumnya belum kelar woy.
mau bikin cerita kentang lagi?
Gw suka model kisah sepotong2 gini.
Tapi jangan kentang juga dong.emoticon-Mad
profile-picture
profile-picture
profile-picture
ajang.dee dan 2 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh esaka.kedua
ceritanya beneran ... nyesek
profile-picture
profile-picture
ajang.dee dan nofivinovie memberi reputasi
Ikut mejeng di page one
Lanjutkan kaka....
profile-picture
profile-picture
ajang.dee dan nofivinovie memberi reputasi
Carilah sahabat yg cantik
profile-picture
profile-picture
profile-picture
romo212 dan 3 lainnya memberi reputasi
"Gue nggak peduli kita sandiwara atau enggak. Yang gue tahu, gue berusaha buat lo bahagia. Lupain aja pertanyaan gue tadi."
Bikin meleleh.😭
profile-picture
nofivinovie memberi reputasi
Halaman 1 dari 8


×
GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di