alexa-tracking
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Sekolah yang Sukses Bukan yang Banyak Siswanya
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5da08495c9518b4c405cc5a3/sekolah-yang-sukses-bukan-yang-banyak-siswanya

Sekolah yang Sukses Bukan yang Banyak Siswanya

Sekolah yang Sukses Bukan yang Banyak Siswanya
"Sepertinya gaji kita bakal naik," kata Ustadz Hendra, guru Fisika, saat jam istirahat di ruang guru.

"Yakin, gaji kita akan naik? Jangan-jangan hanya tugasnya saja yang bertambah?" sahut Ustadz Sandi, guru Bahasa Indonesia.

SMA Al Munawwir sudah cukup lama berdiri, sudah 22 tahun usianya. Tetapi, tenaga pengajarnya belum bisa menikmati gaji besar. Maklum, sekolah di bawah naungan pesntrenn di kota kecil memang sulit berkembang. Dulu, sebelum didirikan SMA, tenaga pengajar Pesantren Al Munawwir tidak digaji. Tujuan mereka memang bukan uang, tetapi mencari ridho Allah, jadi tidak ada yang komplain meskipun tidak dibayar.

Gus Salman sudah pulang dari Mesir. Beliau sudah lulus dari Universitas Al Azhar. Enam tahun beliau belajar di sana. Beberapa minggu yang lalu Kyai Firman, ayah Gus Salman, mengumumkan bahwa Gus Salman akan menjadi pimpinan utama Yayasan Al Munawwir, menggantikan beliau.

Semua guru tahu bahwa Gus Salman lumayan modern pemikirannya. Belum jadi pimpinan utama saja beliau sudah banyak membuat inovasi-inovasi menarik yang membuat Al Munawwir menjadi lebih menarik. Tidak jarang juga beliau menyampaikan pada guru-guru bahwa dalam waktu dekat, santri Al Munawwir akan bertambah banyak. Beliau akan berusaha untuk membuat Al Munawwir berkembang pesat dalam waktu dekat.

Ustadz Haris dan Ustadz Faris sering berbincang berdua. Keduanya baru tiga tahun mengajar di Al Munawwir, keduanya sama-sama lulusan pesantren tradisional. Beliau berdua selalu pelan kalau berdiskusi, sering kali menjauh dari keramaian jika ada suatu hal penting untuk dibicarakan.

Ustadz Haris dan Ustadz Faris tidak sepakat dengan ambisi modern yang berorientasi pada hal duniawi. Menurut beliau berdua mendirikan pesantren itu bukan untuk memperbanyak santri, bukan untuk pamer banyaknya santri. Menurut beliau berdua, seorang pendidik harus menjaga niat dan tujuan yang lurus. Lembaga pendidikan yang tampak menarik dan jumlah santri yang banyak itu bukan ukuran kesuksesan lembaga pendidikan.

***

Waktu tak terasa terus berlalu begitu cepat. Gus Salman sangat agresif dalam memimpin Al munawwir. Beliau berhasil mengajak kerja sama beberapa investor untuk pembiayaan Al Munawwir. Sejak di mesir beliau memang cukup aktif di beberapa organisasi, sehingga punya banyak relasi. Karena itulah, tak butuh waktu bertahun-tahun, Al Munawwir beliau sulap menjadi seperti hotel megah di ibu kota. Terheran-heran orang dengan perubahan Al Munawwir, gedung asramanya dan sekolah seperti hotel bintang lima, fasilitasnya lengkap. Programnya banyak.

Peserta didiknya bukan lagi anak-anak desa, tapi banyak dari kota-kota besar. Mereka tertarik dengan program tahfidz, Bahasa Arab dan Bahasa Inggris yang ditawarkan, tentu juga dengan fasilitas yang mewah. Bahkan santri tak perlu lagi membersihkan pesantren, sudah ada OB yang terjadwal bersih-bersih. Gaji para ustadz Al Munawwir pun naik. Awalnya hanya Rp 1.000.000,-, sekarang gaji mereka Rp 4000.000,-. Sungguh angka yang fantastis bagi orang yang hidup di kota kecil.

"Kamar mandinya kok kotor sih, Ustadz!" salah seorang wali santri perempuan komplain pada Ustadz Faris. Wajahnya cemberut tampak marah.

Ustadz Faris marah sekali tapi ditahan. Kondisi pesantren sudah berubah. Kesederhanaan sudah tidak ada lagi. Latihan sabar seakan mustahil dialami santri. Uang sudah meraja. Fasilitas pesantren sudah serba mewah. Berbeda, dulu di pesantren ini banyak wali murid yang pakaiannya lusuh, tapi wajahnya penuh senyum, lembut kata-katanya. Santri masak sendiri. Wali santri sering bantu Bu Nyai masak di dapur. Sangat berbeda dengan wali murid sekarang, pakaiannya bersih gemerlapan, tapi wajah sering cemberut, banyak hal dikeluhkan, sombong dan angkuh. Wali murid yang kaya-kaya itu sibuk mengurusi hal-hal duniawi. Tak penting bagi mereka barokah guru.

Ustadz Faris dengan berat hati segera membersihkan kamar mandi. Bukan beliau malas, tapi dalam islam, seorang pelajar wajib mengabdi pada guru. Pemuda islam wajib berbakti pada kedua orang tua dan gurunya. Tapi yang terjadi sekarang berbeda, para orang tua yang kaya mengajari anaknya bersikap seperti bos di depan gurunya.

"Ada laporan lagi dari tetangga," kata Ustadz Hendra saat baru masuk ke ruang guru. "ada santri yang lempar batu ke rumah tetangga."

"Lapor ke siapa?"

"Ke Pak Satpam."

"Sekarang kita benar-benar disibukkan dengan hal duniawi. Komplain wali santri hampir tiap hari. Santri-santri manja sekali. Kita sering disalahkan dan tidak boleh menghukum santri."

Ustadz Faris kadang bertanya-tanya dalam hati, kenapa Kyai Firman setuju dengan cara Gus Salman yang terlalu sibuk mencari kepuasan wali santri? Para Ustadz tidak sepakat dengan Gus Salman. Kebijakannya merendahkan para ustadz, seakan para ustadz diposisikan sebagai babu, sedangkan wali santri dan para santri diposisikan seperti bos.

"Santri tidak mau hormat karena merasa membayar kita," kata Ustadz Haris pada Ustadz Faris.

"Kalau mereka jadi orang sukses nanti, semoga mereka masih mau menghormati orang tuanya yang ditanggungnya."

bersambung
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di