alexa-tracking
Kategori
Kategori
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5da01a4809b5ca6ca63e2acb/mantan-terindah

Mantan Terindah

Mantan Terindah

Mantan Terindah
Cerpen
Penulis: Daffo

🌿🌿🌿

"Yura, Mas akan keluar kota seminggu. Proyek bendungan yang di Sumedang perlu dipantau. Bos meminta Mas yang pergi ke sana," tutur suamiku, Mas Adri, yang selama dua tahun ini menemani hari-hariku.

"Iya, Mas," ucapku sambil meletakan kopi yang Mas Adri minta ke meja di sampingnya.

"Kamu enggak apa-apa kan di rumah sendirian?" tanyanya dengan pandangan beralih kepadaku. Aku mengangguk. "Nanti kalau mau, Mas akan nyuruh Aruni menginap di sini," tambah Mas Adri.

"Enggak perlu, Mas. Aku berani, kok. Kan ada Bi, Anik. Kasihan kalau Aruni nginap di sini, jarak dari sini ke kampusnya kan jauh banget, Mas."

"Oke deh, kalau gitu. Kamu hati-hati ya, selama Mas enggak ada." Aku kembali mengangguk kali ini sambil memasang senyum manis kepadanya.

Ya, selama dua tahun kami menikah, aku sangat jarang tersenyum kepadanya, terlebih waktu awal-awal menikah. Sungguh, aku sangat menolak pernikahan ini. Aku benci pria bernama Adri Maulana yang sekarang menjadi suamiku ini. Kami dijodohkan dan Mas Adri tidak menolak sedikitpun tentang perjodohan ini, padahal aku sangat berharap pria itu sepakat denganku untuk menentang perjodohan ini.

Hanya dengan mengatas namakan persahabatan, orang tuaku rela menyerahkan putri semata wayangnya kepada putra sahabatnya itu.

"Adri, anak yang baik, Ra ...," sahut ayahku malam itu.

"Dia juga sudah mapan secara finansial. Punya rumah, kendaraan, dan pekerjaan tetap. Dan yang terpenting Papa tahu bibit bobot bebetnya. Dia berasal dari keluarga baik-baik. Ayahnya Adri adalah teman Papa waktu kuliah dulu."

"Tapi Yura enggak cinta sama dia, Pa. Pokoknya Yura enggak mau."

"Cinta bisa tumbuh belakangan, sayang ...." Mama ikut meyakinkan aku.

"Menikah tanpa cinta adalah omong kosong, Ma ... Yura punya pacar, dia sangat mencintai Yura dan Yura juga sangat mencintai dia."

Papa mendelikan matanya padaku penuh amarah, aku tahu dari awal papa tidak suka sama pacarku. Alex.

"Anak band itu? Kamu mau makan apa kalau menikah dengan dia? Ngamen sana sini enggak jelas juntrungannya. Laki-laki kok rambutnya dikuncir, tatoan lagi. Papa ingin yang terbaik buat kamu, sayang."

"Bulshit! Papa sama Mama enggak sayang aku! Huhuhu." Aku memangis sambil lari ke kamar.

Alex adalah pria terbaik dalam hidupku. Hidupnya bebas seperti burung camar. Aku jatuh cinta dengan pria itu karena cara pandangnya tentang kehidupan. Aku yang terkukung dengan aturan yang harus makan tiga kali sehari dan tidur siang, berikut rentetan les privat, seperti mendapat oase di padang tandus ketika bertemu Alex.

Lelaki itu yang membawaku hujan-hujanan sambil naik motor untuk yang pertama kali dan dia yang mengenalkanku pada hal-hal unik.

Yang paling aku ingat adalah saat aku camping berdua dengannya di atas bukit. Dia membuat lagu khusus untukku lalu menyanyikan lagu itu dengan suaranya yang merdu diiringi petikan gitar kesayangannya. Kemudian kami tidur di bawah langit yang berselimut milyaran bintang dan ditemani api unggun kecil yang perlahan padam. Malam itu Alex benar-benar menjagaku, tanpa melakukan hal-hal yang tidak seharusnya.

Dari luar Alex memang seperti anak badung. Namun, jika kamu mengenalnya, Alex adalah pria berhati lembut dan sangat menghormati wanita.

Alex berasal dari keluarga sederhana. Ibunya hanya penjual pakaian di pasar tradisional sedangkan ayahnya entah di mana. Dia pergi saat Alex masih dalam kandungan ibunya. Itulah yang Alex bilang padaku.

"Ra, kamu boleh pergi kapan saja kalau kamu memang mau. Tapi, satu yang harus kamu tahu, aku tidak akan pernah pergi dari kamu, walau hatiku harus tercabik," kata Alex saat aku menceritakan rencana perjodohanku.

Saat itu aku hanya menggeleng sambil menangis. Sungguh, aku tidak mampu bersuara karena merasakan sesak di dada oleh kesedihan ini.

Alex mengusap kepalaku, lalu mengangkat daguku, dia tersenyum. Namun, aku bisa melihat kesedihan menggunung di iris matanya.

"Ra, kamu adalah anak satu-satunya, orang tua kamu pasti sedih kalau kamu menentang keputusan mereka."

Demi Tuhan, aku tidak ingin mendengar kalimat itu dari mulut kekasihku. Aku ingin dia mengatakan, "Ra, ayo kita pergi! Kita kimpoi lari saja," atau apapun itu yang penting bukan kalimat barusan.

"Apakah kamu menyuruhku untuk menerima perjodohan ini?" tanyaku pilu. Alex menunduk sambil menggigit bibir. Aku tahu ini juga berat untuknya. 6 tahun bukanlah waktu yang sebentar untuk menjalin hubungan, terlebih selama 6 tahun itu, aku dan Alex sama sekali tidak pernah bertengkar seperti pasangan lain. Aku diperlakukan seperti ratu olehnya. Lalu sekarang masalah paling berat menerjang hubungan kami.

"Seenggaknya pria yang dijodohkan denganmu adalah pria yang lebih baik segala-galanya dariku," ucap Alex masih dengan kepala tertunduk.

Aku bergeming. Tidak percaya dengan apa yang aku dengar dari mulut Alex. Pria yang lebih baik segala-galanya darimu? Tahukah Alex, kamu lah pria terbaik untukku.

Pria itu tidak melakukan perlawanan sedikit pun. Pasrah. Menyerahkan wanita yang dicintai kepada pria lain, seperti pecundang. Entah kenapa aku mendadak emosi, aku sebal dengan sikap pasrah kekasihku itu. Aku bangkit berdiri, lalu pergi meninggalkan Alex di sana sendirian.

🌿🌿🌿

Aku melepas Mas Adri pergi keluar kota. Sebelum melangkah ke mobil, ia mengecup keningku dengan lembut lalu jemari lenjangnya mengusap perutku, menyapa anaknya yang masih sebesar biji jagung.

"Papa pergi dulu ya, sayang ...," sahut Mas Adri dengan senyum. Aku mencium tangan Mas Adri lalu ia masuk ke mobilnya.

"Hati-hati, Mas." Mas Adri mengangguk, lalu melajukan mobilnya ke jalanan.

Mas Adri adalah suami yang sangat baik dan perhatian, tapi entah kenapa aku masih belum bisa memberikan hatiku sepenuhnya untuknya. Karena di hatiku masih ada Alex.

Hari ini aku berencana untuk mencari keberadaan Alex. Setelah menikah memang aku putus komunikasi dengannya. Menurut kabar, Alex pergi ke Bali untuk melebarkan karirnya sebagai musisi, tapi beberapa hari yang lalu aku mendapat info dari teman mayaku yang kebetulan mengenal Alex, katanya pria itu telah kembali ke Jakarta dua bulan lalu. Ia tidak tahu alasan Alex kembali, padahal job-nya di Bali sedang deras.

Aku harus menemukan Alex di manapun ia berada. Mumpung Mas Adri tidak ada, ini kesempatanku untuk menemui Alex. Aku sadar ini salah, tapi sungguh aku ingin bertemu dengannya.

Aku pergi ke tempat yang biasa dikunjungi Alex dulu, mengumpulkan info sebanyak-banyaknya, dan pergi ke tempat yang dikatakan oleh si pemberi info itu, tapi nihil. Aku tidak menemukan lelaki itu.

"Alex, di mana kamu? Aku rindu ...," ratapku. Yura ... apa kamu tahu? Apa yang kamu lakukan dan rasakan itu dosa besar. Nurani mencoba mengingatkanku. Namun, aku tidak menghiraukan. Entah kenapa rasa ingin bertemu ini sangat besar. Apakah ini sebuah firasat? Entahlah, aku tidak tahu.

Besok aku akan mencari Alex lagi. Berharap kali ini membuahkan hasil.

🌿🌿🌿

Hari kedua pencarianku masih belum berhasil, tapi pada hari ketiga aku mulai mendapat titik terang saat aku bertemu dengan salah satu tetangganya.

"Bang Alex saat ini di rumah sakit, Mbak," ucap ibu bertubuh gempal itu.

"Apa? Kalau boleh tahu siapa yang sakit, Bu?"

"Bang Alex yang sakit," jawabnya. Perlahan tanganku yang hangat berubah dingin, aku takut terjadi sesuatu yang buruk pada pria itu. Namun, aku berharap Alex tidak sakit parah.

"Kalau boleh saya tahu, di rumah sakit mana ya, Bu?"

"Siloam," jawabnya lugas. Tanpa buang waktu aku langsung pergi ke rumah sakit yang disebut ibu itu. Aku berlari-lari kecil mengejar angkot yang akan membawaku ke rumah sakit itu, tanpa memedulikan janin dalam perutku.

Akhirnya aku sampai di rumah sakit. Perlu perjuangan untuk mandapatkan informasi ruangan tempat Alex dirawat. Aku benar-benar melupakan tubuhku yang memerlukan asupan makanan dan minuman. Yang aku pikirkan hanya Alex.

Kakiku gemetar saat akan memasuki ruangan itu. Inilah momen yang ditunggu selama dua tahun ini, tapi aku tidak menyangka pertemuanku dengan Alex akan terjadi di tempat ini.

Perlahan aku mengetuk pintu di depanku tapi tidak ada sahutan dari dalam. Lalu dengan keberanian tinggi aku membuka pintu itu, lalu pintu terbuka.

Mataku terbelalak ketika melihat seseorang yang berbaring di tempat tidur pasien. Ya, dia adalah Alex pria yang sangat aku cintai. Tapi kemana rambut gondrongnya? Kenapa ia botak dan terlihat kurus? Di bawah matanya ada kantung hitam yang mencolok, serta bibirnya sangat pucat.

Alex terlihat seperti pasien yang menderita kanker.

Aku berdeham berharap Alex terbangun. Lalu ia mengerjap dan perlahan membuka matanya. Setelah matanya terbuka seluruhnya, ia terkejut melihatku yang tiba-tiba ada di sampingnya. Aku melihat ia berusaha mengucapkan sesuatu tapi terlihat kesusahan.

Beberapa detik tatapan kami tidak lepas memandang satu sama lain. Perlahan sekali aku melihat mata Alex meluruhkan bulir bening. Lalu mulutnya sedikit terbuka berusaha mengucapkan sesuatu.

"A ... apa kabar, Yu ... ra?" tanyanya dengan suara serak.

"Baik," jawabku sambil berusaha menyembunyikan sedihku. Alex tersenyum mendengar jawabanku.

Demi Tuhan aku sangat ingin memeluknya lalu menangis di pundaknya dan memberondongkan pertanyaan kenapa ini bisa terjadi padanya?

"Kamu bahagia?" tanya Alex lagi. Kali ini aku tidak berhasil menahan air mataku, sungai kecil dari mataku itu terus meluap-luap menerobos dan terjun bebas ke pipi mulusku.

"Aku ikut senang kalau kamu bahagia. Kamu harus bahagia, Yura. Jadi, aku tidak menyesal telah melepasmu."

"Iya, aku bahagia," kataku bohong. Namun, nampaknya Alex tahu aku sedang berbohong.

"Aku mohon, berbahagialah demi aku, Yura."

Aku tidak mampu menjawab permohonan Alex itu walaupun hanya anggukan. Aku menangis sambil memilin ujung kemejaku dengan menundukkan kepala.

"Sini ...." Alex berusaha menggapai tanganku, aku mengulurkan tanganku padanya agar Alex mudah menggapainya, lalu tanpa diduga Alex menarik lalu mendekapku ke dalam pelukannya.

"Menangis lah, enggak apa-apa." Tangisku semakin pecah di pelukannya. Mungkin karena hormon kehamilanku juga jadi emosiku mudah meledak.

"Maafin aku, Alex ... seharusnya aku ...."

"Kamu melakukan hal yang benar, Yura," potong Alex. "Adri sangat mencintaimu, kamu hidup dengan orang yang tepat. Sebelum kalian menikah, Adri datang menemuiku dia minta maaf padaku. Aku meminta padanya untuk membuat kamu bahagia dan tidak pernah menyakitimu. Dia berjanji padaku akan mengabulkan permintaanku itu. Kalau kamu bersamaku akan menderita. Aku sudah sakit jauh sebelum kita berpisah, Adri pun tahu, aku hanya merahasiakannya darimu. Aku tidak mau kamu susah dan sedih karena aku."

Aku menatap Alex tidak percaya. Benarkah apa yang dikatakannya? Jadi, selama ini Alex sudah sakit parah dan aku tidak tahu? Bahkan Mas Adri tahu tapi dia memilih diam? Tuhan ... kenapa mereka sangat kejam padaku?

"Maafkan aku, Yura ...." Aku bergeming.

"Aku enggak peduli kamu mau maafin aku atau enggak, yang penting aku sudah minta maaf padamu," lanjut Alex.

"Aku akan memaafkanmu, asalkan kamu harus sembuh."

"Pasti!" ujar Alex tegas.

🌿🌿🌿

Satu yang ingin aku katakan padamu, Alex. Kamu adalah pembohong besar. Kamu pernah berkata padaku, "satu yang harus kamu tahu, aku tidak akan pernah pergi dari kamu, walau hatiku harus tercabik," dan katanya kamu akan sembuh, lalu apa sekarang? Aku menggenggam tanah pekuburanmu, aku menabur bunga di atas makammu. Leukimia sudah membuatmu menyerah pada mimpi-mimpimu, pada cintamu, dan menyerahkan aku pada pria yang menurutmu tepat untukku.

Alex ... kamu adalah laki-laki terbaik untukku, tidak ada yang bisa menggantikan posisimu di hatiku, walau Mas Adri sekalipun. Terima kasih untuk tahun-tahun yang penuh warna bersamamu. Katakan bahwa kamu mencintaiku walau itu lewat mimpi. Aku akan senang.

Wahai mantan terindahku, beristirahatlah dengan damai, aku akan selalu berdoa agar kamu bahagia di sana, aku juga akan berbahagia bersama Mas Adri seperti yang kamu pinta.

Hayura.
Kekasihmu.
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di