alexa-tracking
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / News / ... / Beritagar.id /
Hadapi resesi ekonomi, e-commerce diimbau jangan terus bakar uang
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5da019789a972e0c4d5ed432/hadapi-resesi-ekonomi-e-commerce-diimbau-jangan-terus-bakar-uang

Hadapi resesi ekonomi, e-commerce diimbau jangan terus bakar uang

Hadapi resesi ekonomi, e-commerce diimbau jangan terus bakar uang
Mantan Menteri Keuangan, Chatib Basri, dalam diskusi publik bertajuk ‘Dampak Tokopedia terhadap Perekonomian Indonesia’, di Djakarta Theater, Jakarta, Kamis (10/10/2019).
Ancaman resesi global yang menggamblang di depan mata dikhawatirkan akan berdampak pada ekosistem ekonomi digital yang sedang melejit dalam beberapa tahun terakhir.

Resesi ekonomi yang dialami oleh beberapa negara diprediksi akan membuat aliran dana investor yang selama ini masuk ke perusahaan digital raksasa akan melambat. Kondisi ini dinilai mengkhawatirkan, mengingat sejumlah perusahaan startup yang sudah mencapai level unicorn diketahui masih belum mencapai titik impas (break even point) atau balik modal.

Menurut ekonom yang juga mantan Menteri Keuangan, Chatib Basri, perusahaan e-commerce jangan terlalu mengandalkan perhitungan Gross Merchandise Value (GMV) sebagai indikator keuangan.

Perusahaan diimbau untuk menjaga indikator laba dan rugi (profit and loss) dalam pengelolaan keuangannya. Metode 'membakar uang' yang lazim dilakukan oleh e-commerce pun sudah saatnya dikurangi.

GMV adalah total nilai penjualan seluruh barang di platform e-commerce selama kurun waktu tertentu. Pengukuran GMV dilakukan untuk mengetahui apa yang disukai konsumen dalam marketplace.

"Saya ingin mengingatkan kalau boleh, saya ini ekonom yang agak ortodoks, saya tidak terlalu percaya dengan yang namanya GMV. Karena kalau suatu hari resesi global terjadi, itu source dari financing mau tidak mau akan mulai menurun," ujar Chatib dalam acara diskusi publik "Dampak Tokopedia terhadap Perekonomian Indonesia" di Djakarta Theater, Kamis (10/10/2019).

Menurutnya, sah-sah saja jika startup ingin berinvestasi ke pertumbuhan, tetapi mereka harus sadar bahwa memiliki bisnis yang berkelanjutan (sustainable) lebih penting saat ada krisis finansial.

"Kalau sampai ada sudden stock (penurunan pasar saham), fundraising-nya berhenti, maka dampaknya akan bisa sistemik," ujar Chatib.
Dampak sistemik Hadapi resesi ekonomi, e-commerce diimbau jangan terus bakar uang
Co-Founder dan CEO Tokopedia, William Tanuwijaya, dalam diskusi publik bertajuk 'Dampak Tokopedia terhadap Perekonomian Indonesia', di Djakarta Theater, Jakarta, Kamis (10/10/2019).
Pendapat Chatib mengenai dampak sistemik dari perusahaan e-commerce bukan tanpa alasan. Kehadiran platform e-commerce raksasa, seperti Tokopedia misalnya, memiliki dampak yang signifikan terhadap perekonomian domestik.

Riset yang dilakukan Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Universitas Indonesia (LPEM UI) menemukan bahwa Tokopedia diperkirakan berkontribusi hingga Rp170 triliun bagi ekonomi Indonesia pada 2019. Nilai tersebut jauh di atas tahun lalu, sekitar Rp58 triliun.

Riset itu juga menunjukkan bahwa GMV yang dicatat oleh Tokopedia sudah mencapai Rp73 triliun pada 2018 atau setara dengan 0,5 persen PDB Indonesia. Angka ini diproyeksi naik hingga Rp222 triliun pada tahun ini atau 1,5 persen dari perekonomian Indonesia.

Hasil riset dari LPEM FEB UI ini menemukan bahwa Tokopedia juga turut menambah total pendapatan rumah tangga sebesar Rp19,02 triliun, setara dengan peningkatan pendapatan sebesar Rp441 ribu untuk setiap angkatan kerja Indonesia.

Wakil Direktur LPEM UI, Kiki Verico, mengatakan selama satu dekade Tokopedia telah menciptakan 857 ribu lapangan kerja baru, dari penjual aktif Tokopedia yang berada Aceh sampai Papua.

Jumlah ini setara dengan 10,3 persen dari total lapangan pekerjaan baru untuk Indonesia pada tahun 2018. Sebanyak 309 ribu di antaranya bahkan menjadikan Tokopedia sebagai sumber penghasilan utama.

"Dari sisi pemberdayaan ekonomi, platform seperti Tokopedia bisa membantu inklusi dan pemerataan ekonomi yang selama ini dijalankan pemerintah," kata Kiki.

Di Indonesia, pertumbuhan ekosistem e-commerce dan ekonomi digital lainnya diprediksi akan terus meningkat. Dengan demikian, dalam beberapa tahun ke depan, aspek ekonomi Indonesia akan terdampak oleh keberadaan e-commerce. Mulai dari kebiasaan berbelanja konsumen, hingga lapangan pekerjaan.

Google, Temasek, dan konsultan Bain & Company memprediksi pertumbuhan ekonomi digital Indonesia paling unggul di ASEAN hingga 40 persen pada 2019 dengan total nilai barang dagangan bruto mencapai Rp567 triliun. Nilai ini diprediksi bakal terus menggeliat lebih dari tiga kali lipat mencapai AS $130 miliar per 2025.

Pertumbuhan dipengaruhi oleh sejumlah faktor. Di antaranya perubahan perilaku konsumen yang semakin lekat dengan teknologi digital dan penggunaan ponsel. Faktor lainnya adalah adanya gencaran promosi dari penyedia layanan dengan iming-iming kemudahan bertransaksi.
Mengejar profit
Setelah berulangkali mendapatkan suntikan dana hingga jutaan dolar Amerika Serikat (AS) dari investor, para pelaku e-commerce tampaknya semakin serius ingin mandiri. Mereka mencari aneka peluang monetisasi bisnis untuk meraih profit.

Tujuan monetisasi bisnis ini untuk menghindari risiko kegagalan dalam penggalangan dana baru (fundraising). Tokopedia sendiri sudah aktif mengulik potensi pendapatan. Saat ini mereka memiliki sumber pendapatan dari TopAds dan Power Merchant. TopAds merupakan iklan pelapak yang menempatkan produk pelapak berada di urutan teratas dalam daftar pencarian.

Menurut penjelasan dalam situs Tokopedia, sistem pembayaran TopAds adalah cost per click. Pelapak harus membayar setiap kali iklan diklik oleh pengunjung Tokopedia. Sebelum mengaktifkannya, pelapak mengisi kredit TopAds terlebih dahulu dengan nilai Rp100.000 hingga Rp5 juta.

Menurut Founder & CEO Tokopedia William Tanuwijaya langkah tersebut sebagai upaya perusahaan menuju bisnis yang berkelanjutan. Ia mengatakan, bila semuanya berjalan sesuai rencana, perusahaan bisa mencetak EBITDA -- laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi – yang positif, tahun depan.

William percaya diri dengan kondisi keuangan Tokopedia. Dukungan investor besar ditambah keyakinan segera mendapat EBITDA positif membuat Tokopedia siap untuk melantai di bursa saham dalam waktu dekat.

“Jadi, kami berencana untuk pre-IPO dan go public. Sejak hari pertama, kami sudah memikirkan jangka panjang. Kami senang dengan kemajuan kami sejauh ini,”

Selain Tokopedia, perusahaan e-commerce lainnya, Bukalapak juga mulai berambisi menjadi unicorn pertama yang meraih titik impas investasi.

Chief Strategy Officer (CSO) Bukalapak, Teddy Oetomo, fokus bisnis Bukalapak dalam jangka pendek adalah meningkatkan pendapatan, meningkatkan efisiensi biaya, dan menjaga inovasi agar lebih terukur serta terarah. Salah satunya dengan mulai mengurangi promo yang kerap digunakan perusahaan e-commerce untuk menarik hati pelanggan.
Hadapi resesi ekonomi, e-commerce diimbau jangan terus bakar uang


Sumber : https://beritagar.id/artikel/berita/...rus-bakar-uang

---

Baca juga dari kategori BERITA :

- Hadapi resesi ekonomi, e-commerce diimbau jangan terus bakar uang Kota dengan kualitas udara terbaik dan terburuk di dunia (Jumat, 11/10/2019)

- Hadapi resesi ekonomi, e-commerce diimbau jangan terus bakar uang Tudingan Arteria Dahlan terbantahkan lewat foto

- Hadapi resesi ekonomi, e-commerce diimbau jangan terus bakar uang Akbar Alamsyah, korban demo 25 September, meninggal dunia

Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di