alexa-tracking
Kategori
Kategori
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5da0050b0577a92a2f7b8194/broken-home

Broken Home



Story of Life
Broken Home
Oktober 10, 2019

Melihat ke masa lalu bagi sebagian orang bukanlah hal yang mudah. Aku yakin bahwa tiap orang punya kisah yang berbeda. Aku tak menyalahkan masa laluku, namun kenangan pahit tetap tersimpan dan menjadi pembelajaran yang sangat berharga.Tak ada yang bisa memperbaiki masa lalu yang ada adalah memperbaiki masa sekarang agar tak menjadi hancur melebihi masa lalu.
...
Inilah kisah keluargaku..
Pernah berpikir bagaimana rasanya berada di keluarga yang broken home? Sedikitpun ga pernah terbayang dibenakku akan mengalami hal ini, rasanya seperti bom yang tiba-tiba diledakkan di keluargaku kala itu. Berbagai macam bisik-bisik orang tentang perkara buruk ini sungguh membuatku ingin meronta. Pernah suatu kali ku dengar kalimat "eh, banyak anak yang broken home itu rata-rata hidupnya ancur ya.." Bagai sindiran yang menjadi mimpi buruk sepanjang hidup. Jika melihat teman-temanku yang penuh canda tawa bersama keluarganya, aku menatap lirih ke diriku sendiri dan jiwa manusiawi mulai muncul. Iri, ya itulah kondisi perasaanku. Tamparan yang cukup keras di usiaku, di tuntut untuk dewasa, di kekang oleh kondisi, namun aku hanya bisa berpasrah diri dengan keadaan yang ada. Kututup pintu kamarku, hanya aku sendirian.. memanjatkan doa agar keadaan ini bisa kembali pulih dan aku mendapatkan kebahagiaan seperti mereka.
...
Papa dan mamaku bercerai ketika aku mau menginjakkan kaki di kelas 3 SMP.
Awalnya kami merupakan keluarga layaknya keluarga lainnya. Kotabumi, ya di situlah aku, mama, kung-kung(kakek), popo (nenek) dan kakak laki-lakiku tinggal, sedangkan papa tinggal di Metro dikarenakan ia memiliki pekerjaan disana. Papa sering mengunjungi kami setiap bulan dan menginap sekitar 3-4 hari di rumah, dan jika hari libur gantian kami yang menginap dan menghabiskan waktu libur keluarga kami di Metro. Untunglah saat itu sudah agak modern sedikit, jadi bisa melepas rindu dengan menelpon papa.. cukup me dengar suaranya saja sudah melegakan hati, apalagi kalau ketemu, senang sekali rasanya. Keluargaku adalah keluarga yang sederhana, kebahagiaan kami benar-benar nampak ketika kami semua kumpul bersama, gak perlu liburan ke luar kota atau negeri, yang penting moment bareng-barengnya itu. Ngbrol bareng, ngteh, nonton acara tv sampai larut malam, mijitin papa, ngusilin satu sama lain.. moment itu yang sampai sekarang masih melekat di memori ini.
Moment paling favorit aku di rumah adalah menjelang menyantap makanan karena mulai dari persiapan makan aku yang membantu mama memasak sampai menghidangkan, terkadang koko juga usil nyicip-nyicip makanan lalu kabur ketika mama ngomel-ngomel. Padahal aku juga sering melakukan itu tanpa sepengetahuan mama, kadang mama menggerutu "perasaan masaknya banyak, kok jadinya dikit ya?" celetuk mama sambil melihat hasil masakan yang hilang 1/4. Ya, begitulah keusilanku. Setelah hidangkan di hidangkan di meja makan dengan cantik, kami pun menikmatinya bersama, kalau dipikir-pikir sesederhana itu ya sebuah kebahagiaanku.. gimana dengan kalian? bagaimana kalian bahagia? dan seperti apa kalian mendeskripsikan kebahagiaan kalian?
Oh iya, keluarga kami tentunya ga luput juga dari yang namanya pertengkaran rumah tangga, ya ga afdol gitu kalo rumah tangga ga ada berantem-berantemnya, ia kan? Begitulah kira-kira pemikiran positifku jikalau papa mama lagi bertengkar. Namun, aku tak menyangka ternyata dibalik pertengkaran itu mama memendam kepedihan sendirian. Semakin ditumpuk dan terus ditumpuk..
Hari terus berlalu.. dan suatu hari popo jatuh sakit dan harus dilarikan ke RS terdekat dari rumah. Tangisku pecah kala itu, beliau merupakan orang terdekat bahkan jika aku sakit orang pertama kali yang kuberi tahu adalah popo. Popo tipe orang yang sangat suka menyembunyikan sesuatu, terlebih masalah kesehatannya. terpancar dari wajahnya ia berusaha berjuang sendiri, namun pada kenyataannya setiap hari aku melihat popo mengkonsumsi obat-obatan, cukup banyak. Pernah kutanyakan "po, obat apa itu? kok tiap hari popo minum?", dan dengan singkat beliau mengatakan "buat rematik, biar ga sakit kakinya". Dan semenjak itu aku tak pernah bertanya lagi obat-obatan itu. Popo tampak sehat dan bugar, hanya saja ia memiliki asma. Tapi ku tak pernah melihat asmanya kambuh. Sepertinya "berusaha kuat" dalam menghadapi sesuatu itu sudah mengalir ke dalam darahku juga, yg mengartikan bahwa terkadang aku juga seperti itu..
Kini popo yang selalu tersenyum ceria kulihat tubuhnya terbaring lemas, nafasnya terengah-engah, dengkuran panjang terus mengiringi hembusan nafasnya. Malam itu aku yang masih mengenakan baju tidur berdiri tepat di sebelah bibiku sambil mengenggam erat tangannya, "ii.." panggilku, sebutan ii dalam keluargaku biasanya diperuntukkan untuk bibi, kakak perempuan dari mamaku. "popo parah banget ya sakitnya? apa ga bisa sembuh?" tanyaku polos, kutatap raut wajah bibiku dan melintasi mata yang menahan tangis itu. Refleks aku memeluk bibi, dan aku menangis kembali. Ku lirik sekelilingku dan ku dapati keluarga dari mama tampak sudah hampir lengkap, yang dari luar kota juga hadir di situ. Tepat di malam itu ketika semua keluarga berkumpul popo menghembuskan nafas terakhir, tanpa kata, namun air mata.
Pakaian putih bak gaun pengantin sekarang sudah melekat di badan popo. Terbaring di sebuah kotak yang di bubuhi kain putih bersih, bau khas formalin sangat tercium, kebiruan sekujur tubuh, badannya dingin dan kaku. Ingin kupeluk erat-erat tubuh itu. Kehilangan bukan sesuatu yang menyenangkan, terlebih ketika sudah banyak moment yang tercipta.
...
Suasana duka masih menyelimuti rumah, terkadang tercium bau-bauan, terdengar suara langkah kaki ketika semua orang sudah terlelap. Di lingkungan rumah masih terdapat kepercayaan, jika ada orang meninggal belum tujuh hari berarti arwahnya masih berkeliling di rumah itu. Percaya atau tidak percaya sebenarnya aku tidak mengalami secara langsung. Mama dan beberapa saudaraku yang mengalami pengalaman mistis itu. Tiap sudut rumah memiliki kenangan bersama popo, menyakitkan ketika harus memutar kembali memori bersama orang yang telah pergi. Masa-masa berat bagiku karena harus beradaptasi dengan kondisi dimana tidak ada lagi sosok popo di sisiku. Kesedihan ini belum juga berlalu masalah demi masalah datang di rumah kami. Salah satu faktornya adalah karena kepergian popo dan sudah tidak ada lagi hakim yang menjadi penegak di rumah itu.
...
Tak selang beberapa minggu kemudian, muncul masalah di rumahku. Perdebatan antara papa dan mama. Aku tak mengikuti jelas bagaimana alurnya karena ketika papa mama berdebat hebat di rumah aku di ajak ke kamar oleh ii atau koko. Mereka berusaha untuk tidak memperkeruh keadaan dan tak ingin membuatku khawatir. Namun, pikiranku sudah terlanjur lari kemana mana dikarenakan aku melihat ada beberapa orang yang turut ambil alih di antara masalah papa mama. Sepertinya ini masalah yang cukup berat dan rumit..
Kata "PISAH" muncul di sela pembicaraan dan nadanya cukup keras sehingga sampai ketelingaku. Bagaimana rasanya ketika itu aku sendiri dikamar, takut dengan keadaan yang sangat serius di ruang tengah, dan pikiranku kacau. Aku ingin keluar, tapi gak bisa karena aku ga tahu apa yang aku harus bicarakan.
"Pikirin dulu, anak-anak.. suanta anti, mau dikemanakan mereka"
"Aku uda cape pak, dia yang ga pernah ngertiin. Terserah nanti tanya anak-anak mereka maunya ikut siapa. Intinya aku mau pisah"
Tiba-tiba pintu kamarku terbuka, dan kulihat kokoku masuk. Refleks aku nangis terisak di bahu kokoku, air mata mengalir deras, "aku...aku..." penggalan kata yang ga bisa kuteruskan namun aku berteriak dalam hati "kenapa? apa papa mama ga sayang lagi sama kita? aku gamau papa mama pisah, sun tolongg jangan biarin itu terjadi", koko menepuk bahuku, ia hanya dua tahun di atasku tapi dia cukup dewasa dalam hal ini. Ia menyuruhku untuk tegar, ia akan mengusahakan agar papa dan mama tak berpisah, namun jika nantinya ia gagal kami harus bisa menghadapi kenyataan dan tetap menjalani hidup, baik itu tinggal bersama papa atau mama.
Hari itu menjadi sejarah panjang, masalah demi masalah menghampiri.. Aku dan koko akan terus berjuang sampai bisa memengan erat tali kekeluargaan kami agar tidak terputus. Dan papa mama, aku tak tahu bagaimana jalan pemikiran mereka, memantau kondisi adalah cara terbaik bagi aku dan koko..


Bersambung...
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Puk Puk Puk yang kuat yak


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di