alexa-tracking
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Entertainment / The Lounge /
Awas ! Gempa Ambon Benturkan Lempeng Agama
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5d9dd3a865b24d1598566344/awas--gempa-ambon-benturkan-lempeng-agama

Awas ! Gempa Ambon Benturkan Lempeng Agama

Spoiler for Gempa:


Spoiler for Video:


Masih ingat dengan kelompok militan Islam yang berbasis di Sulawesi Tengah? Kelompok tersebut mengalami penyusutan setelah diperangi TNI-Polri dan matinya Santoso alias Abu Wardah dalam Operasi Tinombala yang dimulai sejak Tahun 2016 lalu. Kelompok militan Islam yang bisa dibilang teroris itu pun makin mengecil semenjak pentolan kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT) Basri alias Bagong diringkus di tahun yang sama.

Semenjak itu, kelompok militan teroris Sulteng dipimpin oleh Ali Kalora. Namun Ali Kalora bukanlah figur seorang kombatan dan tidak memiliki bakat propaganda. "Kecuali kemampuannya untuk bertahan hidup dalam pelarian," kata Pengamat Terorisme Universitas Indonesia Ridlwan Habib pada 2 Januari 2019.

BBC [Siapa Ali Kalora, pemimpin kelompok radikal Poso, yang 'tidak diperhitungkan']

Akibat dari tekanan pemerintah dan karena memiliki sosok pemimpin yang tidak sekaliber Santoso, maka kemungkinan para anggota kelompok teroris radikal ini mengungsi ke wilayah sekitarnya. Yakni di Ambon dan Papua. Kenapa Ambon? Karena Ambon bukanlah tempat yang asing bagi kelompok radikal. Pada tahun 1999 – 2002 sempat terjadi kerusuhan di Ambon yang telah melambungkan nama Jafar Umar Thalib. Ia pun mendeklarasikan sekaligus memimpin Laskar Jihad.

Menurut Harold Crouch dari Australian National University, Jafar Umar Thalib punya 3000 – 10.000 orang pengikut setia yang dipersenjatai dan memiliki keahlian militer. Beberapa tahun terakhir, Jafar Umar Thalib meluaskan jaringannya ke Papua setelah terjadi aksi kekerasan terhadap Muslim di Tolikara, Papua, 17 Juli 2015. Ia lantas mengeluarkan maklumat Jihad Fi Sabilillah atau perang terhadap kelompok yang menyerang umat Islam.

Namun petualangan Jafar berakhir di Bumi Cendrawasih. Ia dinyatakan bersalah setelah merusak rumah Henock Niki di Papua pada 27 Februari lalu. Jafar divonis 5 bulan penjara. Saat mendekam di hotel prodeo, kesehatannya menurun dan mengembuskan nafas terakhir pada 25 Agustus 2019 di RS Harapan Kita Jakarta.

Tirto [Sejarah Hidup Jafar Umar Thalib: Wafatnya Panglima Laskar Jihad]

Jafar telah tiada. Tapi, pendukungnya tentu saja masih ada. Berdasarkan paparan di atas maka bisa kita ambil kesimpulan, kelompok radikal teroris di daerah Timur kini berdomisili di 3 wilayah, yakni Sulawesi Tengah, Maluku, dan Papua. Akan tetapi, keberadaan mereka di Papua mulai terancam semenjak Menhan Ryamizard Ryacudu mengatakan ada kelompok yang terafiliasi dengan ISIS di Papua. "Sebagai catatan, terdapat kelompok lain yang berafiliasi dengan ISIS telah menyerukan jihad di tanah Papua," kata Ryamizard, 5 September lalu.

Kompas [Menhan Sebut Ada Kelompok Terafiliasi ISIS di Papua]

Artinya pemerintah disinyalir akan memburu kelompok ekstrim radikal di Papua. Tahu akan ancaman tersebut, kemungkinan besar mereka akan berpindah ke tempat yang tidak asing lagi bagi kelompok mereka. Yakni Sulteng dan Maluku. Namun ternyata Sulteng pun tidak aman. Di Sulteng, tepatnya di Morowali, aparat menangkap 5 pria yang diduga jaringan kelompok teroris MIT pada 2 Oktober 2019.

Detik [Densus 88 Tangkap 5 Anggota Teroris Jaringan MIT Sulteng]

Ketika Papua dan Sulteng tak lagi aman, maka pilihan terakhir mereka tentunya akan berlabuh Maluku. Bukti ancaman terorisme di Maluku dapat terlihat saat aparat menangkap oknum Polwan di Maluku Utara atas dugaan keterkaitannya dengan jaringan terorisme. Artinya paham radikal sudah mulai tersebar dan berpusat di Maluku.

CNN Indonesia [Densus Tangkap Polwan di Polda Malut karena Terorisme]

Terlebih lagi, akses ke Ambon kini jauh lebih mudah semenjak gempa berskala 6,8 magnitudo terjadi di sana pada hari Kamis 26 September. Tentunya pemeriksaan akan lebih longgar dengan banyaknya relawan kemanusiaan yang membantu warga Ambon. Kemungkinan mereka pun akan menyamar dengan kedok seperti ini sehingga dapat masuk dan menetap di sana. Akibatnya Ambon bisa saja menjadi basis teroris utama daerah timur di masa mendatang.

Situasi Ambon pasca gempa disampaikan oleh Menkopolhukam Wiranto. “Dari laporan kepala BNPB sekitar 700 rumah yang rusak berat ringan dan sedang, sementara ini ada 23 orang yang meninggal dunia. Langkah pemerintah pusat, BNPB, menteri sosial, dan menteri kesehatan sudah langsung melakukan langkah-langkah untuk meringankan beban dari para korban,” ujar Wiranto, Senin 30 September.

Namun Wiranto juga mengatakan bahwa warga yang sudah terlalu lama mengungsi akibat khawatir terjadinya gempa susulan kini telah menjadi beban bagi pemerintah. “Sekarang sedang dilakukan sosialisasi bahwa tidak ada gempa susulan yang lebih besar lagi, tidak ada tsunami, diharapkan masyarakat bisa kembali ke tempat tinggal masing-masing untuk mengurangi besaran pengungsi, pengungsi terlalu besar ini sudah menjadi beban pemerintah baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah,” tutur Wiranto.

Inews [Soal Gempa Ambon, Wiranto: Pengungsi Terlalu Besar Jadi Beban Pemerintah]

Paparan dari Wiranto yang mengatakan warga Ambon sebagai beban pemerintah tentunya dapat menyakiti perasaan warga Ambon. Walikota Ambon Richard Louhenapessy mengungkapkan kekecewaannya atas pernyataan Wiranto. Menurutnya banyak pengungsi yang masih berada di lokasi pengungsian karena trauma dan ketakutan akan terjadi tsunami.

"Itu sangat halus kata-katanya tapi sangat menusuk. Para pengungsi Ambon yang karena takut marilah kembali ke rumah masing-masing dan jangan bebankan pemerintah dengan biaya-biaya pengungsi. Itu kan halus tapi sangat menyakiti. Oleh karena itu, saya juga sudah menghimbau kemana-mana," jelas Richard pada 1 Oktober.

Kumparan [Walikota Ambon Mengaku Malu karena Perkataan Wiranto Terkait Gempa]

Hal yang harus diperhatikan setelah muncul kekecewaan warga Maluku atas pernyataan Wiranto, khususnya Ambon adalah kemungkinan munculnya ketidakpuasan pada pemerintah. Saat ini Papua sedang bergejolak, tak lama kemudian muncul pula KKB Aceh yang juga merupakan eks kombatan GAM ingin mengusir warga bukan asli Aceh dari Tanah Rencong.

Maka tak salah kiranya kita harus waspadai bangkitnya kembali Republik Maluku Selatan (RMS). Kelompok separatis yang muncul sejak Tahun 1950.

Ketika ada dua kelompok yang berseberangan dan berbeda kepentingan maka patut diwaspadai munculnya konflik horizontal. Konflik antara Kelompok radikalis teroris beragama Islam yang berpindah ke daerah Maluku dengan Kelompok Separatis yang mayoritas beragama Kristen. Konflik yang meluas menjadi konflik agama.
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di