alexa-tracking
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Kumpulan Pentigraf_Ra (Teman Masa Kecil)
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5d9dd120349d0f452e5bdf1b/kumpulan-pentigrafra-teman-masa-kecil

Kumpulan Pentigraf_Ra (Teman Masa Kecil)

Kumpulan Pentigraf_Ra (Teman Masa Kecil)

Ilustrasi: www.pinterest.com

Teman Masa Kecil

Suasana rumah paling mewah di kampung itu, mulai ramai oleh celoteh para kerabat dan tamu yang hadir. Pada dinding-dindingnya telah terpasang hiasan cantik khas suatu perayaan. Di sudut berbeda, beberapa orang hilir mudik, menata berbagai jenis makanan dan minuman. Nur terlihat di antaranya. Sembari mengecek persiapan acara, sesekali dia menatap layar ponsel di tangannya. Kebetulan pemuda itu bertugas sebagai panitia dan ditunjuk langsung oleh pihak keluarga mempelai wanita, Rayna, teman masa kecilnya.

“Rombongan sudah datang!" seru seorang kerabat. Atas perintah ibunya Rayna, Nur bergegas menuju kamar utama. Memastikan persiapan sang calon pengantin. Rasanya terlalu lama jika hanya untuk riasan sederhana, yang sesuai dengan permintaan teman kecilnya itu. Nur memanggil dari luar kamar, lalu hanya terdengar jawaban 'iya’, tak lebih. Ditatapnya daun pintu itu, masih menutup rapat. Seolah ditindih ribuan batu kali, napasnya terasa berat. Hatinya pedih. Nur terluka.

Ijab kabul pun telah usai. Rayna dan Hendar telah sah menjadi pasangan suami istri. Semua berbahagia. Tidak terkecuali dengan Nur, meski kedua sudut matanya mulai membasah. Pemuda itu gontai, melangkah menjauh. Mencari ruang agar tak seorang pun sadar apa yang menderanya. Mendapati senyum bahagia Rayna hanya akan mengoyak luka yang hampir terkatup. “Jika saja, wanita yang memberikan kita air kehidupan bukan orang yang sama, Dek,” lirihnya pilu.



#cerpen_tiga_paragraf
#Pentigraf_Ra


===========*******=========


Akhir Dari Persahabatan


Ruangan kafe bernuansa tradisional jawa itu terasa berbeda bagi Reni. Setahun lebih menjadi pelanggan setia, tetapi, baru kali ini tak ia dapatkan kenyamanan. Reni mendengkus kasar. Berkali ia membenarkan posisi duduk. Jika saja bukan karena janjinya pada Rike, sudah barang tentu ia memilih pergi. Umpatan pun meluncur begitu saja dari bibir mungilnya. "Rese lu, Ri. Lu 'kan bisa kasih tau dari awal tujuan lu ngajak gue ketemuan di sini. Inget! Ini yang pertama dan terakhir reuni antara kita bertiga."


"Maksud lu, Ren?" jawab Rike bingung. Sesaat ditatapnya Reni. Tujuh tahun terpisahkan oleh Samudera Hindia, ia rasa banyak hal disembunyikan Reni darinya. Pertanyaan demi pertanyaan menggerombol dalam benak. Namun, tak mampu ia ungkap. Gadis itu hanya mampu menghela napas dalam-dalam. Ia pikir mengadakan reuni kecil-kecilan tak ada salahnya. Akan tetapi, rencananya kali ini justru menimbulkan riak perdebatan antaranya dan Reni. Sahabatnya itu berkeras tak ingin bertemu dengan orang yang hendak tiba. Padahal seingatnya, Reni tak memiliki musuh sama sekali. Juga, yang akan ditemui tak lain adalah sahabat keduanya semasa sekolah dasar.


"Nah, tuh, muncul juga si Yuli," seru Rike antusias seraya menyambut kedatangan sosok yang menjadi perdebatan barusan. Dipeluknya gadis berambut ikal mayang itu penuh kerinduan. Namun, tak demikian pada Yulia. Apalagi saat matanya bersirobok dengan Reni. Jengah tak mampu ia sembunyikan. Sedangkan Reni, wajahnya kian menegang dan memilih undur diri pada Rike. "Sorry, Ri. Gue gak bisa lama. Setengah jam lagi gua janji dampingin nyokap ke pengadilan. Oh, ya … lu 'kan baru tiba di Bandung. Jaga jarak aman kalo duduk bareng pe-la-kor."



#Pentigraf_Ra
Diubah oleh rirandara
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Diubah oleh rirandara
Buket Bunga


Risna berdiri cukup lama tak jauh dari tepi jurang. Entah apa yang membuatnya begitu menikmati suasana sekitar. Beberapa kali ia menyibakkan helai rambut yang menutup wajah akibat tersapu lembutnya angin senja. Pada genggaman, satu buket mawar menemani kesendirian gadis itu. Bibirnya tetap sama, tak terlihat lengkung bahagia maupun sedih. Datar, sangat datar. Kehilangan seseorang yang begitu dicintai, membuat gadis bermata coklat larut dalam hampa.


“Cintamu terlalu mengikatku, Ris.” Masih terdengar jelas saat Dani berucap. Sakit! Susah payah Risna mempertahankan hubungan dengan pemuda itu, walau tertatih dan hanya menyisakan pahitnya kenangan. Kebersamaan yang terjalin delapan belas purnama membawa bahagia untuknya, tapi di luar dugaan, tidak untuk Dani. Hati kecilnya memberontak.

 
Perlahan Risna mendekati bibir jurang. Manik coklat itu sekejap terpejam. Lantas beberapa saat bayangan Dani berkelebat dalam gelap. Sadar, Risna pun segera melempar buket mawar putih, bunga kesukaan Indri, wanita yang jatuh bersama Dani pada minggu senja, dua bulan lalu. “Berterima kasihlah! Berkatku kalian bisa bersama, tanpa harus berpura-pura pada dunia.” Senyum getir pun berhasil ia ukir. Gadis itu menjauh. Menanggalkan segala dendam.




#Pentigraf_Ra


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di