alexa-tracking
Kategori
Kategori
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5d9d2f1528c99129ed786f6f/kuas-telaga-ayu

Kuas Telaga Ayu

Kuas Telaga Ayu

"Aku ingin bertemu ibumu, boleh?
Kata Retno, asistenmu, bakat merias dan senyummu itu menurun darinya. Persis seperti miliknya." Meski sedikit terhenyak, kata-kata Panji tak membuatku berubah posisi, tetep berkutat pada koper make up seraya memilah bedak, eyebrow, maskara dan peralatan lain di balik aroma petang kamar JW Marriott yang sudah disediakan oleh pihak penyelenggara. Kamar elegan bernuansa gold dengan mini bar ini sudah menjadi tempat melepas penatku selama dua hari.

"Benarkah? Mungkin kau kurang mencermati perkataan Retno, tidak ada kesamaan seperti itu. Tapi jika iya, kau ingin mengenalku sebagai siapa? Raras atau Telaga Ayu?"

"Tentu saja kau!"

"Lalu kenapa ingin menemui ibuku?"

"Aku serius denganmu, karena itu aku ingin menemuinya."

Senyumku nyaris tak nampak. Perkataan seorang Raden Panji Harjamukti lebih ringan dari bulu, mudah tersapu angin dari pada debu. Itu hanyalah suara sekejap, akan hilang tanpa aba, ia menguar bersama decakan. Ya seperti itu buatku.

Sebelum Panji, dua orang dalam dua tahun yang lalu pernah bicara demikian. Namun tindakan keduanya tak seserius yang mereka katakan.

Setelah cinta dan keseriusan dibuktikan dengan pertemuan dua buah keluarga, bibit bebet bobot menjadi timbangan bernilai tinggi. Keduanya sama-sama mundur, alasannyapun sudah bisa ditebak, timbangan yang tak seimbang.

Dua kegagalan itu nyaris membuatku tak lagi percaya dengan yang namanya cinta. Tapi tidak setelah mengingat segala yang dilakukan ibu.

Dia bukti sepanjang masa yang didaulat oleh cinta. Aku percaya pada ibu. Dia malaikat yang tak pernah berdusta, sekalipun hatinya terjerembab, tapi kasihnya tetap berpadu bagai simfoni lembut penghantar tidur.

* * *

Aku mempertajam pandangan pada kuas yang sedang kubereskan. Bulu lembut yang menyatu dalam pipihan logam kecil berwarna kuning itu belum sepenuhnya bersih. Tidak pernah bersih lebih tepatnya, kuas itu diberikan ibu sudah sedemikian bentuknya. Di sisipan bulu-bulu ada bekas blush on warna merah yang masih tersisa. Kini kutindih lagi dengan warna coral. Sebelumnya lagi ada dusty rose dan pink juga warna-warna lain yang berbaur.

Kata ibu, kuas itu akan menemani langkahku, dan benar adanya, sejak mulai menggunakan kuas itu, orderan pertama muncul, dari dosenku. Beliau menginginkan riasan natural dengan sanggul rendah untuk menghadiri wisuda putri keduanya.

Seminggu kemudian, sang putri sendiri yang datang bersama tunangannya. Meminta paket rias lengkap untuk acara mereka.

Dengan dibantu ibu, aku juga pernah mendandani para penari yang akan tampil pada pagelaran seni budaya ulang tahun kabupaten. Ibu tak hanya menyalurkan tenaga, tapi memberikan separuh nyawanya. Ini debut besar pertama, ibu membarakan kepercayaan diriku untuk turun tangan memulas make up pada semua penarinya. Sedangkan bagian pemasangan sampur dan asesories, itu bagian ibu.

Kuas pemberian ibu juga pernah mengantarku pada kesuksesan merias salah satu putri keraton. Dalam acaranya, aku diliput eksklusif, tayang pada stasiun tv swasta sebagai acara Mantu Solo Putri.

Dari acara itu, namaku dikenal. Dalam setahun tak terhitung berapa wajah artis yang pernah kupoles. Dari Solo aku hijrah ke ibu kota, membangun rumah rias bahkan sekarang memiliki sanggar pelatihan. Nama Raras Telaga seperti naik tahta, menyabet beberapa penghargaan, mulai diperhitungkan di kancah nasional dan patut berjejer dengan perias-perias tersohor negri ini.

Beberapa tahun yang lalu, tangan ini belum lihai menggarap wajah-wajah calon pengantin, merubahnya hingga manglingi calon suami ataupun saudara yang hadir dan menjadi saksi hari bahagia mereka.

Dulu aku seorang anak yang merasa aneh, teman-teman menjauhiku hanya karena banyak bertanya. Pada siapapun. Bukannya tidak paham, tapi karena aku merasa butuh penjelasan lebih.

Seperti saat di sekolah, guru menerangkan Bandung menjadi salah satu kota yang menghasilkan produk berbahan jeans, karena menyangkut jeans, aku jadi ingat tiga kancing kecil yang selalu menempel di bagian saku celana jeans, lalu kutanyakan alasan adanya kancing kecil itu. Bagiku tidak melenceng, tapi temanku justru menghembus napas kesal.

Ibu lalu menghiburku dengan cerita. Aku suka jika ibu bercerita, unik, dan yang lebih menyenangkan, ibu selalu menjawab apapun yang kutanyakan. Tak pernah menampakkan wajah sebal seperti yang sering ditunjukkan teman-teman.

Ibu mengelus rambutku, saat bulir hujan pertama menyentuh tanah, dan udara dingin menusuk sendi. Ia merapatkan selimut rajut sambil bercerita tentang makna di balik sebuah warna.

Mula-mula warna hijau, melambangkan alami, martabat dan kekayaan. Kealamian yang menghadirkan suasana sejuk. Itu mengapa taman belakang ditanami banyak perdu dengan rumput. Ibu suka suasana seperti itu.

Lalu setelah menyebut berbagai macam makna warna, ibu juga berkisah tentang wanita penyuka merah. Aku memaku arti warna itu, melambangkan gairah, berani, kegembiraan dan energi.

Wanita itu bernama Rikma Kemala. Persis sesuai lambangnya, seorang wanita bergairah, selalu menyunggingkan senyum. Dia bukan type wanita penurut, belum saatnya berhenti jika masih bisa mematahkan pendapat orang. Dia sering beradu argumen. Bicaranya lantang dan cepat, banyak orang mengira dia mengabdikan diri sebagai penyiar.

Lama-lama aku juga penasaran, seperti apa si Rikma Kemala itu. Jika dirasa, aku memiliki banyak kesamaan dengannya. Apa ibu membicarakanku dan mengubah tokohnya menjadi fiksi?

Entah yang jelas kepada ibu semua kesedihanku bermuara. Menguap begitu saja tanpa meninggalkan beban. Aku bangga menjadi anak Telaga Ayu yang bahkan dengan telaten mengajari memoles kuas untuk pertama kali.

"Jangan ragu, Nduk! Kuaskan dengan mantap, toreh apa yang ada dalam anganmu, dalam merias kau boleh menerka bahkan menebak lebih dulu hasilnya sebelum warna-warna itu kau torehkan. Asal bisa memadukan dengan tepat, tak ada kata tak berhasil." Ibu menepuk pundakku pelan, jemarinya merambat turun untuk mengambil tangan yang sedang lesu memegang kuas.

Ia mengangkatnya, menyuruhku menutup mata kemudian membayangkan wajahnya yang saat itu duduk di hadapanku dan berperan menjadi model.

"Saat merias, mata berperan sebagai kaca, ia cukup meneliti hasil. Sedangkan kelihaian tangan, bisa berperan sebagai indra penglihat. Jadi meskipun matamu ditutup, tangan akan bergerak dengan menggandeng naluri, mencari dimana dia harus menoreh warna. Pikiranmu itulah wajah tanpa batas! Kau bisa bayangkan warna apa yang cocok untuk kulit Ibu yang sawo matang?"

"Apa ya? Emh ... apa merah?" Aku meneliti rangkaian bundar-bundar warna yang berada dalam kotak bertumpuk itu. Lama, sungguh, aku tak bisa memilihkan warna untuknya. Wanita yang kupanggil ibu itu sudah nampak cantik. Meski dia ahli dalam bidang kecantikan, tapi sungguh, lebih anggun jika wajahnya natural tanpa make up.

Sejak kecil, dia mengajariku banyak hal, termasuk bagaimana menutupi mata sembab saat putus cinta masa ABG. Mata melendungku dikompres, kemudian menekankan punggung sendok yang cembung ke kedua kelopaknya. Ibu kemudian memoleskan sedikit make up untuk menutupi bekasnya.

"Ini senada warna kulitmu, jadi tidak terlalu mencolok, masak anak Ibu kuyu, apalagi gegara cinta. Kalau sudah tau efek nangis itu seperti ini, jangan diulangi. Kamu harus lebih kuat lagi."

"Bu!"

"Ya ...."

"Ibu pintar. Terima kasih."

"Iya, sama-sama."

"Bu!"

"Ya ...."

"Apa ibu pernah jatuh cinta lalu menangis karenanya?"

Ibu duduk di sebelahku. Tangannya meraih sisir, lalu memberi aba-aba agar aku tidur pada pangkuannya.

"Menangis dan cinta, itu bukan melulu berujung derita. Kadang air mata juga berperan dalam bahagia. Jika ditanya pernah jatuh cinta, ibu pernah. Lalu jika kau bertanya lagi ibu menangis karenanya, jawabannya iya."

"Aku ingin seperti Ibu, Ibu pernah jatuh cinta, juga menangis karenanya, tapi sekarang Ibu sudah menemukan bahagia dengan Ayah. Ya kan?"

Ibu tersenyum, tak menjawab apapun, ia lebih memperhatikan anak rambut yang jatuh liar di keningku, menyisirnya dengan hati-hati. Ibu bahagia dengan ayah, itu yang kulihat jelas. Mereka berfoto serasi saat ulang tahunku, tersenyum bersama saat kami bercanda di ruang keluarga.

Ayah tak pernah ingkar, meski kerja di luar kota, ia selalu pulang tepat waktu seperti yang dijanjikan pada ibu. Ayah adalah pahlawanku, ada satu kejadian silam, ketika aku bermain dan terserempet mobil hingga kehilangan banyak darah.

Ibu bilang, darah persediaan rumah sakit kosong. Dokter meminta untuk menghubungi kerabat atau siapapun yang bergolongan darah sama. Ibu kemudian menghubungi ayah, karena golongan darah kami sama. Ayah kembali bertolak padahal baru beberapa jam pesawat yang ditumpanginya mendarat di kota tempat ia tinggal selama ini.

Ibu orang lembut, gadis Solo yang tak neko-neko. Ia anak dari salah satu abdi keraton. Namun hal itu tak membuatnya manja. Ia berdiri sendiri dalam membangun usahanya, pernah menjadi buruh cuci untuk membelikanku susu, di saat usaha rias tak bisa disambi karena kehadiran seorang bayi. Ia memilih istirahat, membantu rumah makan milik tetangga, menyabuni tumpuk-tumpuk piring sambil bersenandung, berharap aku tetap nyaman tidur pada bak plastik hitam yang di dalamnya sudah dilapisi kain dan bantal kecil.

Ibu lulusan sekolah kesenian Yogyakarta, bertemu ayah saat ada acara sekolah di mana ayah menjadi tamu undangan alumni. Hubungan keduanya berlanjut ke pernikahan beberapa tahun kemudian.

Ibu memiliki kakak perempuan yang tak kalah cantik. Berbeda dengan ibu yang cenderung pendiam, kakaknya lebih cerdas dan pemberani. Mereka berdua anak sundulan, kelahirannya hanya berjarak limabelas bulan. Sikap mungkin berbeda, tapi mereka memiliki kesamaan selera, makanan, minuman, juga tentang, cinta. Keduanya pernah mencintai lelaki yang sama.

Kata ibu, kakaknya itu pernah menemuiku saat umurku baru delapan hari, dan mendengar tangisanku yang keras, dia juga menangis. Aku seperti memarahi dia, katanya. Ibu bercerita sambil tertawa mengenang. Iya mengenang, karena malam setelah kejadian itu, kakak ibu meninggal. Masih muda, usianya baru duapuluh dua tahun ketika Tuhan menugaskan kanker payudara untuk menyediakan jalan kematiannya.

* * *

Dua orang yang pernah hadir di dalam hidupku beberapa tahun silam, nampak mantap membawa orangtuanya untuk berbesan dengan Telaga Ayu, namun kemantapan itu sirna ketika mengetahui aku dan ibu hanya tinggal berdua, sedangkan
ayah tinggal sendiri di kota lain.

Orang pertama mundur tak membuatku patah arang. Apalagi kami hanya menjajaki perkenalan singkat. Dua bulan. Bukan jodoh, pikirku.

Tapi alasan itu kembali tercetus pada orang kedua, juga sesaat setelah keluarga kami bertemu.

Apa yang salah? Dari dulu, ayah memang berkala untuk menemuiku dan ibu. Hanya beberapa hari, kemudian pamit untuk bekerja kembali.

Tapi karena kedatangan mereka, aku jadi tahu, ayah pamit bukan hanya untuk bekerja, tapi juga untuk pulang ke rumahnya sendiri, setelah ada hal yang membatasi interaksi antara dirinya dan ibu.

Akta perceraian.

Pada satu kesempatan, saat aku dan ibu menikmati puncak mekar kusumawijaya di teras samping. Menggenggam seduhan teh poci pada tangan kami masing-masing. Kutanyakan apa alasan perceraian mereka, tapi ibu hanya diam. Lalu
berkata semua baik-baik saja meski tak lagi terhubung pernikahan.

"Tapi kenapa mereka mempermasalahkan itu? Menolak dengan alasan yang sama. Apa yang salah?"

"Tidak ada yang salah. Kamu itu anak ibu. Apapun yang terjadi Raras adalah anak Telaga Ayu. Ngerti?"

Aku mengangguk, lalu tetiba mengenang saat sepasang pemimpin daerah itu pamit untuk mewakili anaknya. Dia meminta maaf padaku, sempat memeluk bahkan mengelus pipi dengan lembut.

"Kami minta maaf, mungkin kamu dan Lanang memang tak berjodoh." Aku diam, terlalu berat untuk membuka mulut dan menyetujui pernyataan itu.

"Kamu cantik, senyummu bahkan mirip sekali dengannya."

"Ibu?"

"Bukan, Rikma Kemala."

Derit kursi mahoni yang beradu lantai membuyarkan lamunanku. Ibu berhenti melangkah saat aku memanggilnya,

"Bu ...."

"Ya ...."

"Jadi, siapa Rikma Kemala? Kenapa ibunya Lanang bilang senyumannya mirip denganku? Apa dia ada, bukan sekedar tokoh fiksi?"

Ibu diam.

"Bu, apa ada yang tidak kutahu?"

Ibu melerai napas, melangkah pergi. Ada sebersit rasa salah, aku berniat menyusulnya untuk minta maaf, tapi urung karena ibu kembali dengan foto kusam.

Rikma Kemala ditunjukkan ibu lewat lembar foto bergambar lelaki dan perempuan yang selama ini kukenal sebagai kakak ibu dan, ayah.

"Ibu hanya ingin Mbakyu pergi dengan tenang, ibu memaafkan mereka dengan pernikahan sekaligus perceraian."

Dua cincin yang melingkar di jari manis serta tanggal yang tertera di balik foto mereka berdua cukup menjawab tanya yang tak sempat kulayangkan.

Empat bulan sebelum tanggal kelahiranku.

Hasrat bertanyaku yang menggebu jika mengetahui hal baru tak menampakkan gelagat untuk fakta ini.

Sekarang aku tahu kenapa warna merah tetap menempel nyata sebagai warna pertama meskipun sudah tertutup oleh warna-warna lain. Aku memang anak Telaga Ayu, tapi tidak lahir dari rahimnya. Ada darah Rikma Kemala yang turut mengalir di tubuhku. Bulu hitam kuas blush on yang diwariskan ibu itu seperti menyimpan deret cerita.

* * *

Kini aku kembali pada aroma menthol bercampur kopi yang menyatu pada diri seorang Raden Panji Harjamukti, anak ningrat salah satu petinggi negeri ini.

"Bagaimana jika lusa kita berangkat?" Mata Panji memancar harap. Penawaran lelaki yang kupacari sejak setahun lalu itu masih terasa menggelitik. Jikapun terlaksana, ada fakta yang harus dia temui selain ibu. Perihal senyum dan bakat milikku yang sesungguhnya diwariskan oleh dua orang berbeda.

Aku tak peduli apa yang jadi keputusannya setelah tahu fakta itu. Bagiku Telaga Ayu adalah malaikatku, rahim bukan satu-satunya jalan untuk wanita menjadi seorang ibu, Telaga Ayu telah melahirkan anak bernama Raras lewat kesabaran tanpa batas.

Selesai
Diubah oleh lenoisainnar
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di