KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Entertainment / The Lounge /
Sebuah Titipan dari Gunung Lawu
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5d92342ef4d6952fae5b3870/sebuah-titipan-dari-gunung-lawu

Sebuah Titipan dari Gunung Lawu

Sebuah Titipan dari Gunung Lawu

Sal masih mengingat jelas pengalaman yang dialaminya tujuh tahun lalu, saat kedua kalinya ia mendaki gunung bersama klub pecinta alam yang diikutinya sejak tahun pertama kuliah. Saat itu semangat mudanya masih sangat membara, deretan puncak gunung yang ada di Pulau Jawa menjadi target untuk ia taklukkan.

Gunung Lawu merupakan gunung kedua yang Sal daki semasa menjadi mahasiswa baru, setelah Gunung Merbabu. Semasa SMA Sal memang sudah mengikuti ekskul hiking di sekolahnya. Namun pengalamannya belum terbilang banyak.

Ia memang selalu terobsesi untuk bisa menaklukkan beberapa puncak gunung di tanah Jawa. Sal sangat terinspirasi oleh Ayahnya yang juga gemar mendaki. Namun Ayahnya tidak pernah mengajaknya untuk mendaki bersama, melainkan menyuruh anak lelakinya tersebut untuk bisa menaklukkan puncak ketinggian tanpa keberadaan sang Ayah.


Sebuah Titipan dari Gunung Lawu


Beberapa kisah tentang gunung yang diceritakan oleh Ayahnya selepas mendaki selalu membuat Sal terkesima. Salah satunya adalah Gunung Lawu, yang merupakan salah satu gunung di Pulau Jawa yang ingin ia jelajahi.

Ayahnya sering menceritakan soal kemegahan Gunung Lawu di hadapan Sal, karena setahun sekali Ayah Sal selalu mengunjungi gunung tersebut. Berbagai pertanyaan pun muncul di kepala Sal, namun tak satupun dijawab oleh Ayahnya.

Pitakonmu bakal kejawab yen kowe bisa nemokake,”

(semua pertanyaanmu akan terjawab jika kamu bisa menemukannya sendiri)

Sal tidak mengerti apa yang dikatakan oleh sang Ayah hingga kemudian ia berhasil mendaki gunung yang berada di antara perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur tersebut. Pengalaman lelaki bernama Salmantyo Dewangga atau yang kerap disapa Sal saat mendaki Gunung Lawu merupakan salah satu yang paling tidak bisa ia lupakan. Karena secara tidak langsung, hal tersebut  menjadi titik balik yang mengubah cara pandang hidupnya.

 ***

Tahun 2012.

Dua hari lagi pendakian akan dimulai. Sal sudah mempersiapkan semuanya, termasuk latihan fisik yang telah ia mulai sejak seminggu ini. Setiap sore ia selalu berlari mengelilingi gedung rektorat di kampusnya. Gedung pusat milik salah satu perguruan tinggi negeri di Yogyakarta tersebut jika sore hari biasanya menjelma menjadi lintasan lari.

Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) pecinta alam yang Sal ikuti akan mengadakan sebuah pendakian massal. Pendakian menuju puncak Gunung Lawu ini juga diikuti oleh beberapa mahasiswa dari kampus lain yang ada di Yogyakarta.

Sal sangat tidak sabar. Ia sangat bersemangat untuk menaklukan Lawu.

Sal pun tidak lupa mencari tahu apa saja kisah yang disimpan oleh gunung yang berada di Jawa Tengah tersebut. Konon Gunung Lawu merupakan tempat dimana Prabu Brawijaya V, raja terakhir Majapahit melakukan moksa.

Selain itu, menurut penuturan para senior kampusnya, Gunung Lawu juga menyimpan kisah misteri mengenai keberadaan Pasar Setan atau Pasar Bubrah yang kerap dijumpai oleh para pendaki. Dalam Pasar Bubrah ini para lelembut Gunung Lawu akan berkumpul menjadi satu. Dan seperti layaknya sebuah pasar pada umumnya, dalam Pasar Bubrah ini harus terdapat sebuah “transaksi” bagi orang-orang yang menjumpainya.

Namun hal tersebut tidak menyurutkan semangat Sal untuk mendaki, karena keberadaan “Pasar” tersebut konon biasa dijumpai oleh mereka yang mendaki via jalur Candi Cetho. Sedangkan pendakian massal yang Sal ikuti akan melintasi jalur Cemoro Sewu.


Sebuah Titipan dari Gunung Lawu


Jalur pendakian dari Candi Cetho merupakan salah satu favorit dari para pendaki karena menawarkan pemandangan yang indah. Namun sekaligus merupakan jalur yang paling angker dan ditakuti ketimbang dua jalur lainnya untuk mendaki Gunung Lawu. Medan dari jalur ini bisa dibilang didominasi oleh tanjakan terjal serta jurang yang cukup dalam. Jalur dari Candi Cetho ini  juga diyakini sebagai gerbang perlintasan ke alam gaib.

Heh Sal, ngopo kok ngalamun terus ket mau?” Tanya Umar, sahabat dekat Sal yang juga akan ikut mendaki Gunung Lawu.

(Heh Sal, kenapa kok melamun terus dari tadi?)

Orapopo kok Mar. Aku wis ora sabar pengen tekan Lawu,”

(Nggakpapa kok Mar. Aku cuma udah nggak sabar ingin segera sampai ke Lawu,”

Hmmm, tenane? Mikir opo kowe?

(Hmmm, yang benar? Mikir apa kamu?)

Meskipun Sal tidak menjelaskan apapun, namun Umar seolah paham jika ada sesuatu yang sedang dipikirkan oleh sahabatnya. Sal pun tidak mengerti dengan perasaan yang sedang ia hadapi. Ia bersemangat untuk bisa menaklukkan Gunung Lawu, namun terdapat ketakutan dan perasaan mengganjal yang tidak bisa ia jelaskan. Karena tiba-tiba saja Sal teringat dengan Ayahnya dan cerita yang ia sembunyikan di balik Gunung Lawu.

Wis Sal, tenangno pikirmu,” kata Umar mencoba menenangkan sahabatnya.

(Udah Sal, tenang, nggak usah dipikir)

 

 ***

Di pagi hari yang cerah, Sal, Umar bersama dengan para rombongan berangkat dari Yogyakarta menuju Solo dengan menggunakan kereta Prambanan Express. Sesampainya di Stasiun Balapan, perjalanan menuju Tawangmangu pun dilanjutkan menggunakan bus. Kemudian masih disambung lagi dengan perjalanan menuju Cemoro Sewu.

Sore hari pun tiba. Rombongan dari Yogyakarta tersebut memutuskan untuk memulai mendaki selepas magrib.

Sal yakin dapat melewati perjalanannya kali ini. Namun jauh di dalam lubuk hatinya masih terbesit sedikit perasaan yang mengganjal. Ia masih tidak dapat menjelaskan apa yang sebenarnya ia rasakan. Sal selalu mencoba untuk mengabaikan perasaan yang membuat hatinya tidak tenang tersebut, namun selalu muncul kembali dan muncul kembali.

Pitakonmu bakal kejawab yen kowe bisa nemokake.

Entah, tiba-tiba saja kata-kata yang pernah diucapkan oleh Ayahnya tersebut selalu menghantui kepalanya.

Satu jam setelah memulai pendakian, para rombongan tersebut pun tiba di Pos Satu. Tidak ada rombongan lain selain Sal dan kawan-kawannya di beberapa warung yang ada di pemberhentian pertama tersebut. Setelah beristirahat sejenak, mereka pun melanjutkan pendakian menuju Pos berikutnya.

Dua jam kemudian mereka sampai di Pos Dua. Jalur antara Pos pertama dan kedua via Cemoro Sewu ini memang dikenal panjang. Dan sama seperti sebelumya, di Pos Dua tersebut tidak terlihat rombongan lain. Namun pada saat Sal dan rombongannya sejenak beristirahat, tampak tiga orang pendaki yang sedang turun dari atas, kemudian disusul beberapa pendaki lainnya.

Sebelum kembali melanjutkan perjalanan menuju Pos Tiga, para rombongan ini berhenti sejenak untuk menyiapkan energi dan mental. Jalur dari Pos Dua menuju Pos Tiga memang dikenal terjal. Sal tampak pucat, dan Umar kembali melihat keraguan yang ada di wajah sahabatnya.

Nek ora kuat leren sik Sal,” kata Umar sambil menyodorkan gula jawa pada Sal untuk menambah energi.

(Kalau sudah tidak kuat, istirahat dulu Sal)

He eh. Kuat kok,”

 ***

Rombongan pun melanjutkan perjalanan menuju Pos Tiga.

Bisa dibilang jika trek ini merupakan salah satu yang terberat di jalur pendakian Gunung Lawu via Cemoro Sewu. Sal mulai linglung. Setiap beberapa puluh langkah ia berhenti sejenak. Nafasnya sesekali mulai terengah, namun langkahnya tidak gentar untuk bisa mencapai puncak.

Sayup-sayup ia mendengar seseorang memanggil namanya. Seperti suara seorang perempuan.

Sal...., Sal...., ndeneo Sal....,”

(Sal..., Sal....., kesini Sal....)

Suara tersebut menggema di telinganya. Di tengah hatinya yang sedang gusar dan dinginnya suhu yang ditampakkan Gunung Lawu, Sal terlihat gusar. Ia mencoba untuk mengabaikan suara tersebut namun selalu terdengar. Lirih namun jelas menggetarkan gendang telinganya.

Sal..., arep nengndi? Lewat kene Sal....,”

(Sal..., mau kemana? Lewat sini Sal...)

Waktu mulai menunjukkan pukul sebelas malam. Sal yakin jika pasti Pos Tiga sudah tidak jauh lagi. Ia pun mencoba untuk tetap semangat mendaki.

Namun suara perempuan tersebut seolah semakin dekat. Suara yang halus dan lirih tersebut seolah membisik tepat di telinganya.

Sal...., Sal...., ndene Sal..., melu aku...,

(Sal..., Sal....., kesini Sal....., ikut aku....)

***

Tiba-tiba Sal terpisah dari rombongan. Tidak satupun orang ia lihat di depannya –sejak awal Sal berada di posisi akhir, diikuti oleh Umar di belakangnya. Namun tidak juga ia melihat keberadaan Umar.

Pandangan Sal mulai berubah. Jauh di depannya ia melihat sebuah bangunan, mirip dengan sebuah kerajaan kuno yang sering ia lihat dalam buku-buku sejarah. Ia tidak tahu bangunan apa itu. Ia bahkan ragu, mengapa di tempat seperti ini mengapa bisa ada bangunan semacam itu.

Sal...., ndeneo..., eneng sek arep ketemu kowe...

(Sal..., sini..., ada yang ingin bertemu denganmu..)

Suara perempuan yang lirih tersebut semakin jelas terdengar, seolah mengajak Sal untuk datang mendekatinya.

Sebuah Titipan dari Gunung Lawu

Di hadapannya tiba-tiba ia melihat seorang perempuan cantik. Tubuhnya terbalut dengan pakaian tradisional lengkap dengan selendang dan aksesori lainnya yang menyerupai pakaian perempuan dari kerajaan Jawa kuno. Perempuan tersebut pun terlihat memakai mahkota berwarna emas berlapis batu permata warna hijau dan merah yang berkilauan.

Perempuan itu menghampiri Sal. Ia mengajaknya untuk terus berjalan ke depan.

Ayo Sal, melu aku,” katanya dengan suara yang lirih, sambil menghempaskan sebuah selendang tepat mengenai wajah Sal.

(Ayo Sal, ikut denganku)

Hawa dingin merasuki tubuh Sal. Tiba-tiba ia merasakan rasa pegal yang begitu hebat di persendian tangannya. Telinganya berdengung. Kepalanya pun mulai memberat. Sal bingung dan tidak tahu apa yang sedang ia hadapi saat ini.

Perempuan yang tidak dikenal tersebut kemudian menggenggam tangan Sal dan menggandengnya untuk mengajaknya pergi. Namun tiba-tiba saja Sal merasa ada yang menarik tubuhnya secara paksa.

SAL! Ngopo kowe?!”  Umar meneriakinya, wajahnya pun terlihat khawatir.

(SAL! Ngapain kamu?!)

Umar menarik carrier yang menempel di punggung Sal dengan sigap. Rupanya ia melihat Sal berjalan menjauhi rombongan.

Arep nengdi Sal? Ojo nglindur! Jalur e awakdewe ki ndono Sal!” kata Umar seolah ingin menyadarkan Sal yang sedari tadi ia lihat linglung.

(Mau kemana Sal? Jangan ngigo! Jalur kita itu ke sana Sal!)

Umar menunjuk para rombongan yang hampir sudah tidak terlihat lagi. Umar kembali melihat adanya gelagat yang tidak beres pada sahabatnya tersebut. Ia pun mendampingi Sal untuk lebih mendekat pada rombongan. Sementara Sal hanya tertegun sambil mencoba menebak apa yang sebenarnya sedang terjadi.

 ***


profile-picture
profile-picture
profile-picture
cos44rm dan 6 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh cicitegu
***
Karena mendapati Sal dengan kelakuan aneh dan tak biasa, Umar pun mencoba untuk mendampinginya. Perhatiannya tidak pernah terlepas dari sahabatnya itu, hingga kemudian sampailah mereka di Pos Tiga beberapa menit setelah rombongan sampai terlebih dahulu.

Sebagai anak baru dalam urusan pendakian, Umar merasa khawatir dengan sikap Sal. Ia ragu apakah kawannya itu bisa kuat sampai puncak. Umar memang dikenal mudah sekali merasa panik, namun kali ini ia meyakini ada sesuatu yang tidak beres dengan sahabatnya. Ia pun berencana untuk melaporkan kondisi Sal pada Faras, ketua mapala yang mereka ikuti.

Sal, tunggu ya. Jangan kemana-mana, pokoke tunggu,” perintah Umar pada Sal sambil menunjuk bongkahan kayu untuk diduduki.
Ojo lungo nek aku durung ndene meneh!” Umar meminta Sal untuk menunggunya.
(Jangan pergi kalau aku belum kesini lagi!)
Umar pun mencari Faras, ia meminta untuk bisa singgah lebih lama di Pos Tiga ini atau malah sekalian bermalam saja dan melanjutkan perjalanan keesokan harinya.

Sebuah Titipan dari Gunung Lawu


Melihat angin malam yang berhembus begitu kencang, sebagian rombongan memutuskan untuk melanjutkan pendakian keesokan harinya. Sebagian lagi memutuskan untuk tetap melanjutkan pendakian dan membuat tenda di Pos Lima, karena Pos Tiga ini tidak terlalu luas dan dikhawatirkan jika membangun tenda terlalu banyak di sini akan mengganggu jalur pendaki lain.

Umar menceritakan kondisi Sal pada Faras, pria berambut gondrong tersebut menduga jika sahabatnya ini sedang mengalami “gangguan”. Namun Faras tidak yakin jika Sal mengalami gangguan mistis. Menurut analisanya, Sal hanya kelelahan dan tidak tahan dengan suhu dingin di ketinggian Gunung Lawu sehingga membuatnya linglung. Terlebih karena perjalanan menuju Pos Tiga ini memiliki medan treking yang sangat menanjak.

Sambil membawa perlengkapan medis, mereka pun kemudian mencari Sal untuk memastikan kondisinya. Faras dan Umar mendatangi bangku bongkahan kayu tempat Sal duduk saat sejenak ditinggal oleh Umar.

Namun Sal tidak ada.

Lho, endi bocahe?” tanya Faras
(Lho, mana anaknya?)
Mau tak kon nunggu kene Mas, jajal mungkin nang gardu,
(Tadi aku suruh nunggu sini Mas, coba mungkin dia ada di gardu)
Faras dan Umar pun kemudian mengitari Pos Tiga dan mencari Sal. Setiap orang mereka tanyai, namun hasilnya nihil.

Sal menghilang.

***
Sal resmi dinyatakan hilang. Selama dua hari Tim SAR yang ada di Gunung Lawu dibantu dengan beberapa komunitas pecinta alam mencari keberadaannya. Mulai dari titik terakhir ia terlihat hingga ke jalur pendakian lainnya, namun tidak membuahkan hasil.

Segala upaya masih terus dilakukan. Beruntung, pada hari ke tiga, pria berusia 20 tahun ini akhirnya ditemukan. Sal ditemukan oleh Tim SAR di dasar jurang sedalam tujuh meter di sekitar puncak Gunung Lawu. Entah apa yang bisa membawanya ke sana, namun secara ajaib lelaki berambut cepak ini ditemukan dalam kondisi masih bernyawa. Hanya saja ia mengalami luka di bagian pelipis karena terbentur batu saat terjatuh.

Keberuntungan masih berpihak padanya, meskipun saat itu ia tidak sadarkan diri.

***
profile-picture
profile-picture
profile-picture
cos44rm dan 3 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh cicitegu
***
Sal...., ndene, Sal....,” suara perempuan itu terus memenuhi isi kepala Sal. Hingga akhirnya ia kalah oleh rasa penasaran dan mengikutinya.

Sal bangkit dari bongkahan kayu tempat ia duduk. Kakinya melangkah mendekati sumber suara perempuan tersebut.
Tiba-tiba dari kejauhan, terlihat sesosok perempuan muda menghampirinya, rupanya sosok yang Sal lihat sebelumnya.

Ayo melu aku, Sal..
(Ayo ikut denganku Sal)

Sal mengangguk.

Seolah terhipnotis, Sal pun mengikuti perempuan berparas ayu itu. Hingga kemudian ia membawa Sal memasuki dimensi lain.

Pemandangan yang dilihat oleh Sal sangat berbeda. Ia tidak lagi melihat hutan, semak belukar, ataupun bebatuan yang terjal. Sal seolah berada dalam sebuah padepokan yang begitu asing. Ia melihat beberapa rumah berupa gubuk yang terbuat dari kayu, lengkap dengan penghuninya. Orang-orang yang ia lihat pun tidak tampak seperti biasa. Ekspresi wajah mereka begitu dingin, sehingga membuatnya merinding.

Ora usah wedi, Cah bagus,” kata perempuan ayu tersebut.
(Tidak usah takut, anak tampan)

Perempuan itu membawa Sal melewati sebuah gerbang kayu yang penuh ukiran dan begitu tinggi. Gerbang tersebut menghubungkan padepokan penduduk yang ia lihat dan membawa mereka memasuki sebuah kerajaan yang begitu megah.

Ayo Sal, mlebu,” kata perempuan itu.
(Ayo Sal masuk)

Perempuan tersebut mempersilakan Sal memasuki sebuah bangunan yang begitu besar, membawanya menemui “seseorang” yang ingin bertemu dengannya; seperti yang ia bilang sebelumnya. Hanya ada satu kata yang bisa menggambarkan keadaan kerajaan dimensi lain yang sedang Sal masuki: megah.

Sebuah Titipan dari Gunung Lawu


Ndene, Cah Bagus. Ora usah wedi,”
(Kesinilah, anak tampan, jangan takut)

Di hadapannya, Sal melihat sosok lelaki yang sangat gagah dan duduk di atas sebuah singgasana. Lelaki itu menyuruh Sal untuk medekatinya.
Sosok itu duduk di atas sebuah singgasana yang tidak biasa, seolah menunjukkan jika ia memiliki tahta dan kekuasaan. Bahkan perempuan bewajah ayu yang membawanya ke tempat asing itu melakukan sembah sujud padanya. Sepertinya sosok ini bukanlah sosok biasa, pikir Sal dalam hati. Wajahnya sangat rupawan, badannya gagah, dan pakaiannya pun seperti seorang raja Jawa kuno. Namun Sal tidak mengenali siapa sosok yang sedang ada di hadapannya itu.

Aku ngundang kowe ndene amergo ana sing arep tak titipke marang awakmu, cah bagus. Babagan Bapakmu, Jumantara,” kata pria itu
(Aku mengundangmu kemari karena ada yang ingin aku titipkan kepadamu, anak tampan. Tentang ayahmu, Jumantara)

Sal kaget mendengar nama ayahnya disebut. Seketika ia ingat jika ayahnya memang sering berkunjung ke Gunung Lawu namun ia tidak mengerti apa alasan di baliknya.

Panjenengan sinten? Wonten menopo kaliyan Bapak kula?
(Anda siapa? Ada apa dengan bapak saya?)

Rupanya lelaki itu merupakan salah satu penunggu Gunung Lawu, titisan dari raja terakhir Majapahit, Prabu Brawijaya V yang moksa di gunung ini.

Ia kemudian menceritakan pada Sal mengenai silsilah raja Majapahit, hingga kemudian Sal mendengar nama ayahnya disebut kembali. Rupanya, darah salah satu kerajaan terbesar di nusantara tersebut masih mengalir dalam diri ayahnya. Ayahnya adalah keturunan jauh dari Majapahit, pun diberi amanah dan tugas khusus untuk meruwat sebuah kerajaan yang kini tak kasat mata yang ada di Gunung Lawu itu.

Jumantara, Ayah Sal, rutin mengunjungi Gunung Lawu sebulan sekali untuk melakukan ritual keselamatan. Ritual tersebut bukan ditujukan untuk dirinya dan keluarganya saja, namun juga bagi kesejahteraan masyarakat Jawa dan orang-orang yang berada di sekitar Gunung Lawu.
Jika Jumantara adalah salah satu keturunan jauh dari Majapahit, maka dalam diri Sal juga mengalir darah bangsawan tersebut, dan bisa dikatakan jika dirinya adalah penerus Jumantara. Karena dalam suku Jawa meyakini jika nasab seseorang diturunkan pada anak. Namun Sal masih tidak mengerti apa kaitannya ini semua dengan dirinya.

Sal,

Lelaki gagah berbadan tegap itu mendekati Sal. Ia kemudian menempelkan telapak tangannya di atas kelopak mata Sal. Matanya kemudian terpejam, seketika Sal merasakan hawa dingin merasuki tubuhnya, namun juga terdapat rasa hangat seolah terdapat sebuah energi yang dihantarkan dari telapak tangan itu.

Ia masih tidak mengerti apa yang dilakukan oleh sosok bertubuh gagah itu.

Iki tinggalanku, tulung dijaga lan ojo sembrana,

(Ini titipanku, tolong dijaga dan jangan main-main)

Lelaki itu kemudian mengangkat tangannya yang menempel pada kelopak mata Sal yang terpejam. Rupanya, sosok itu membuka mata batin Sal. Sal pun mulai memahami apa yang dimaksud oleh pria tersebut, seiring dengan terbukanya mata batinnya. Ia kemudian bisa “melihat” semuanya.

Dalam benak Sal kemudian muncul bayangan Ayahnya yang sedang mendaki Lawu dan melakukan sebuah ritual. Ia pun melihat ayahnya juga berjumpa dengan pria yang sedang ia jumpai saat ini. Kemudian mereka berdua dikelilingi oleh makhluk-makhluk yang mengerikan; seperti sosok perempuan dengan lidah yang menjulur panjang, genderuwo, perempuan dengan wajah yang rusak, siluman monyet, dan masih banyak lagi. Mereka semua mengelilingi ayah Sal yang terlihat sedang menabur bunga dan meletakkan beberapa singkong bakar. Sekumpulan makhluk tersebut pun berebut bunga yang ditabur oleh Jumantara dan menggrayanginya. Ayah Sal kemudian membakar dupa dan mengucap serangkaian persembahan doa.

Sebuah Titipan dari Gunung Lawu


Kini Sal mengerti kenapa ayahnya kerap singgah ke Gunung Lawu. Ia seolah bisa merasakan kemarahan dari makhluk-makhluk yang mengelilingi ayahnya apabila ia tidak datang kemari. Rupanya, pria berusia 45 tahun tersebut selalu memberi “sesajen” atau makanan untuk para penunggu agar tidak marah dan mengamuk di Pulau Jawa.

Jauh dalam hati Sal, ia merasakan perasaan Ayahnya yang sebenarnya enggan untuk melakukan hal ini. Namun Jumantara, ayah Sal, sudah terlanjur terjerumus dalam “tradisi” yang mengalir dalam darahnya, tradisi “memberi makanan” pada mereka yang tidak kasat mata agar tidak berkeliaran mengganggu manusia.

Saiki giliranmu, Le,” ucap lelaki itu pada Sal.

(Sekarang giliranmu, nak)

Mulih o nang omahmu. Kowe pengganti Jumantara, yen bapakmu wis ngadep Sing Kuasa,

(Pulanglah ke rumahmu. Kamu adalah pengganti Jumantara, apabila bapakmu sudah menghadap Yang Mahakuasa)

Pasar Bubrah ora bakal ana yen manungsa ora golek gegara lan tradisi iku tetep kudu dilakoni, Sal. Dewe ora bakal tekan dunyane manungsa menawi ora ana maksud. Elingono,

(Pasar Bubrah nggak akan ada kalau manusia nggak mencari gara-gara, dan tradisi itu tetap harus dilakukan, Sal. Kami nggak akan sampai ke dunia manusia jika nggak ada maksud yang akan disampaikan. Ingat itu.)

Sal mengangguk. Kemudian Sal “dipulangkan” oleh lelaki tersebut dan seketika ditemukan oleh rombongan Tim SAR yang sedang berupaya mencainya.

***
Namun Sal tidak mengerti mengapa dirinya diharuskan untuk melanjutkan tradisi tersebut, sementara saat itu masih ada ayahnya yang bisa melakukan hal itu. Apakah ia akan dijadikan tumbal? Hanya itu yang terlintas di kepalanya.

Rupanya, tiga tahun berselang dari peristiwa itu, Jumantara meninggal dunia karena kecelakaan yang ia alami. Seolah bisa membaca tanda berakhirnya hayat hidup Jumantara, penunggu Lawu pun meminta seseorang untuk menggantikan perannya tersebut.

Sosok titisan raja terakhir Majapahit tersebut pun mengetahui jika Jumantara memiliki seorang anak lelaki yang dinilai bisa menggantikan perannya. Namun ayah Sal tidak dengan gamblang menyampaikan hal ini pada anaknya jika ia adalah seorang “pewaris”, karena ia tidak ingin menjerumuskan anaknya dalam sebuah tradisi yang harus dijalani.

Jumantara mau menjadikan anaknya sebagai penerus dengan catatan Sal harus mengunjungi Gunung Lawu atas keinginannya sendiri. Karenanya, ia selalu menceritakan keagungan gunung ini pada anaknya namun tidak sedikit pun pernah mengajak Sal untuk mendaki bersama.

***
Tahun 2019.

Tujuh tahun setelah peristiwa hilang di Gunung Lawu pada tahun 2012 tersebut, kini Sal semakin sadar jika dirinya bukanlah “orang biasa”. Ia diberikan sebuah amanat yang harus ia jaga.

Sal, yang di dalam tubuhnya masih mengalir darah Majapahit, harus “menjaga” Jawa agar tetap aman dan terhindar dari amukan para makhluk Gunung Lawu dengan cara rutin menyambanginya dan melakukan serangkaian ritual; yang juga kerap dilakukan oleh ayahnya. Terlebih setelah tiga tahun berlalu ayahnya meninggal, semuanya seolah dilimpahkan kepadanya.

Mata batin Sal yang sudah dibuka oleh titisan raja di Gunung Lawu tersebut pun membuatnya lebih peka. Sal bisa menembus dimensi lain yang berbeda, bahkan mengetahui masa depan dan masa lalu seseorang. Namun jika ia sembrono dengan kemampuannya tersebut, Sal pun akan mendapatkan sebuah “hukuman”.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
cos44rm dan 3 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh cicitegu
reserved
reserved
wehhh ijih bersambung
profile-picture
richokusuma memberi reputasi
@cicitegu kayaknya ada typo diatas gan...antara jumantara 1 thn sekali dan sebulan sekali naik ke lawu...omong2 ceritanya bagus gan.ditunggu ya klo msh ada lanjutan emoticon-Shakehand2
Quote:

Hmmm, cerita ini masih simpangsiur. Banyak versi. Ada yg bilang prabu brawijaya V mokhsa di daerah timur. Ada juga yg bilang di Lawu.

Quote:

Temen ane waktu mendaki pernah masuk pasar setan. Dia balik di bawa botol minuman.
Tapi alhamdulillah, enggak ada masalah apa² sih.
Kalo berangkatnya Bismillah, Insha Allah baliknya Alhamdulillah.
wow keturunan itu ada baik dan buruknya ya
kisah nyata bukan ini?
Lanjut gan emoticon-Ngacir emoticon-Ngacir
nenda
lanjut gan
update gan
pengalaman yang sangat berharga, emoticon-Jempol
Lanjut gan...
lanjut dongg
pake dititipi yaaaa... info bagus nihh... informatif bangettttt... luar biasaaa... mantul deh thread ini... sukak banget sama thread2 ok gini yessss... mantap deh.. lanjutkan gan...


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di