CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Entertainment / The Lounge /
Karena Haid, Pendakianku Berubah Menjadi Mimpi Buruk Yang Takkan Kulupakan
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5d8ccdef018e0d72ff2311f0/karena-haid-pendakianku-berubah-menjadi-mimpi-buruk-yang-takkan-kulupakan

Karena Haid, Pendakianku Berubah Menjadi Mimpi Buruk Yang Takkan Kulupakan

Karena Haid, Pendakianku Berubah Menjadi Mimpi Buruk Yang Takkan Kulupakan

Jam tanganku sudah menunjukkan pukul 5 sore saat itu. Aku dan Miranti sedang mempersiapkan perlengkapan masak untuk membuat makan malam. Makan malam seadanya khas pendaki gunung, mie rebus dan sosis. Sedangkan Andre dan Kevin masih sibuk mendirikan tenda yang akan digunakan kami untuk tidur nanti malam. Kami berempat bukanlah sepasang kekasih, melainkan sahabat yang bertemu sejak awal ospek kuliah.

Ini adalah pertamakalinya bagiku dan Miranti mendaki gunung. Gunung yang kami daki ini adalah gunung Arjuno. Sebuah gunung berketinggian 3.339 Mdpl yang berada di provinsi Jawa Timur. Sebenarnya aku malas sekali untuk mendaki gunung ini. Alasannya karena aku lebih suka bermanja-manja diatas kasur dengan smartphone yang terkoneksi dengan Wi-Fi. Dan juga karena aku sedang haid hari ini. Tapi karena mereka terus memaksaku dan tiket sudah terlanjur dibeli ya mau gimana lagi.

"Makanannya udah jadi?" Tanya Andre yang membuyarkan lamunanku.

"Yee gimana mau jadi, apinya aja belom ada yang bikin" Saut Miranti menjawab pertanyaan Andre.

"Yaudah sini-sini gw bikinin apinya biar cepet masak, udah laper banget gw" Balas Andre sambil menyusun ranting-ranting kayu kering agar mudah untuk dibakar.

"Nah gitu dong, Kerja!" Saut Kevin dari depan tenda sambil meluruskan kaki-kakinya.

"Yee sikampret" Jawab Andre singkat.

Andre dan Kevin merupakan anak MAPALA di kampusku. Mendaki gunung sudah sering mereka lakukan. Andre memiliki postur yang lebih tinggi dari pada Kevin dan rambut yang panjang yang selalu dibiarkan terurai olehnya. Ya kalau sekilas, Andre ini terlihat seperti MAWANG yang viral karena membawakan lagu kasih sayang kepada orang tua. Sedangkan Kevin adalah tipe anak yang sagat fashionable. Semua barang miliknya memang ori, cuman kadang dia rela makan nasi dengan tempe goreng selama sebulan untuk membeli hasrat fashionnya itu. Sedangkan Miranti adalah wanita bertubuh kecil dengan lesung pipi di pipi kanannya. Mudah sekali menangis kalau pacarnya tidak memberikan kabar padanya. Yah tipe-tipe wanita bucinlah.

Aku sendiri hanyalah anak introvert yang lebih seneng tinggal dikosan, mainan HP sambil nontonin anime. Anak-anak kelas biasa manggilku putri malu. Ya karena nama aku Putri dan aku orangnya pemalu banget. 

"Put bantuin masak mienya, jangan ngelamun aja, kesambet aja lu ntar" Ucapan Andre kembali membuatku tersadar dari lamunanku.

"Iya dreee, bawel" Jawab ku singkat. Ya mungkin karena kondisiku yang sedang haid membuat moodku jadi jelek. Namun tiba-tiba ada aku merasa darah mengalir deras keluar dari tubuhku. Spontan aku ajak Miranti untuk menemaniku memeriksanya.

"Ran, temenin aku yuk, aku kebelet pipis" Kataku kepada Miranti sambil mengedipkan mata seolah-olah memberi kode kepadanya.

"Eh, oh oke oke put" Jawab Miranti terbata-bata tampak mengerti kode yang kuberikan.

Kamipun berjalan menjauh dari tenda dan mencari tempat yang kami rasa aman untuk memerika pembalutku. Sedangkan Miranti aku minta agar tetap berada di sebelahku. Karena aku takut sesuatu yang tidak aku inginkan akan terjadi.

"Loh kok masih bersih" Kataku bergumam pelan.

"Kamu yakin tadi ngerasa ada yang keluar?" Tanya Miranti penasaran.

"Iya, aku ngerasain Ran" Jawabku dengan yakin.

"Yakin Put? Atau jangan-jangan kamu cuman halusinasi aja kali gara-gara kecapean" Kata Miranti berusaha meyakinkan aku.

"Apa iya ya?" Tanyaku mulai ragu.

"Nah kan, yaudah yuk balik ke tenda, udah mulai gelap nih" Ajak Miranti sambil menarik tanganku dan berjalan menuju tenda.

Karena Haid, Pendakianku Berubah Menjadi Mimpi Buruk Yang Takkan Kulupakan

longreads.com

Tenda yang kami bawa hanya satu buah. Walau begitu ukurannya cukup besar untuk kami berempat. Sebenarnya kami bisa saja menyewa satu tenda lagi. Hanya saja aku dan Miranti tentu akan keberatan bila disuruh membawa tenda. Sedangakn Kevin sudah membawa banyak logistik dan alat masak. Jadi mau ga mau kami tidur dalam satu tenda. 

Kondisi yang semakin malam membuat kami memutuskan untuk pindah ke dalam tenda. Selain karena udara yang semakin dingin, angin yang berhembus juga semakin kencang. Untuk menghangatkan suhu malam itu, masing-masing dari kami memegang cangkir berisi coklat panas. Sebuah kenikmatan yang luar biasa bisa menikmati secangkir coklat panas di udara yang dingin ini. Ditambah suasana di dalam tenda yang penuh dengan gurauan sehingga membuat kami tertawa terbahak-bahak dan lupa bila sedang berada di gunung. Namun tawa kami tiba-tiba terhenti ketika aku mendengar suara terseret-seret dari luar tenda.

ZREKKKKK....ZREKKKKKK....

"Eh bunyi apa tuh?" Tanyaku penasaran.

"Bunyi apaan?" Tanya Kevin bingung.

"Coba dengerin deh, kayak ada suara orang jalan kakinya diseret-seret di luar tenda" Jawabku polos.

"Masa sih Put? Kok aku ga denger" Tanya Miranti sambil memeluk erat tangan kiriku. Sedangkan Andre dan Kevin saling bertatap-tatapan. Keduanya nampak menyadari ada yang aneh, cuman masih berusaha tenang agar Miranti tidak semakin takut.

TERRRRRRR.....

Kali ini sumber suara jelas berada di belakangku dan Miranti. Dari suaranya seperti ada orang yang menggores tenda menggunakan jari-jari tangan. Walau hanya sebentar aku masih bisa merasakan suara tersebut. 

"Eh, eh kalian denger bunyi itu ga?" Tanya Miranti pelan.

"Ah itu paling bunyi ranting pohon aja kali Ran, kan diluar anginnya kenceng banget" Jawab Kevin berusaha menenangkan suasana.

"Iya atau mungkin itu jemurannya si Kevin yang lupa diangkat, haha" Lanjut Andre sambil tertawa. Lelucon Andre berhasil membuat Kevin ikut tertawa, sedangkan aku hanya bisa tersenyum karena masih merasa takut dan Miranti masih meremas tangan kiriku. Namun tiba-tiba Andre dan Kevin berhenti tertawa. Dari ekspresinya tampak seperti orang yang kaget bercampur takut.

"Kenapa Dre? Vin?" Tanyaku penasaran.

"Lu denger ga Vin?" Tanya Andre pelan.

"Suara nenek-nenek?" Jawab Kevin ragu-ragu. Dan Andre hanya bisa mengangguk. Aku sendiri tidak mendengar suara yang mereka maksud. 

Karena Haid, Pendakianku Berubah Menjadi Mimpi Buruk Yang Takkan Kulupakan

plus.kapanlagi.com

Suasana malam-malam itu benar-benar semakin menakutkan. Aku sendiri menahan diri untuk tidak panik, karena aku takut kondisi akan semakin parah bila aku ikut panik. Dan ternyata yang aku khawatirkan malah lebih buruk, Andre dan Kevin juga mulai goyah. Akupun mencoba mencari cara agar kondisi bisa kembali kondusif. Walaupun aku yakin ini akan sulit karena suara-suara semula yang hanya gesekan kuku atau suara seretan, kini bertambah dengan munculnya suara perempuan yang tertawa dan menangis silih berganti. Dan yang terparah aku mendengar suara eraman seolah-olah ada raksasa yang bergumam diatas tenda kami.

"Kita harus doa. Kita harus percaya sama kekuatan Tuhan" Kataku yakin kepada mereka. Tapi ternyata berdoa disaat-saat seperti ini malah semakin sulit. Aku sendiri sulit untuk konsentrasi. Selain karena jantungku yang berdebar-debar, bajuku juga sudah basah oleh keringat yang keluar dari tubuh. Aku mulai berkonsentrasi dengan berdoa sambil memejamkan mata. Sekaligus berusaha menenangkan diri.

Lama sekali aku berdoa sampai aku sadar suara-suara tersebut sudah tak ada lagi. Ku buka mataku dan melihat Miranti tertidur di pangkuanku, Andre tertidur sambil memeluk tas carriernya. Dan Kevin tertidur dengan posisi memeluk kedua kakinya. Aku lihat sekitar tempat aku duduk penuh dengan ceceran coklat yang tumpah. Aku raih tanganku untuk membuka resleting tenda. Sebuah cahaya terang menyinari wajahku dan menyilaukan mataku. Aku halau cahaya terang itu dengan tanganku dan menyadari hal yang sulit aku percaya.

Karena Haid, Pendakianku Berubah Menjadi Mimpi Buruk Yang Takkan Kulupakan

hellosehat.com

"Hah? Udah pagi?" Gumamku Heran.

"Kamu serius Put?" Tanya Miranti yang terbangun sambil mengusap-usap wajahnya.

"Iya Ran" Jawabku singkat. Aku lihat jam yang ada di tangan kananku. "Hah, jam 7?" Kataku terkaget karena baru menyadari bahwa hari sudah pagi. Menyadari hal tersebut hatiku setengah tenang dan setengah ragu. Apakah ini sungguhan atau hanya mimpi. Ada apa sebenarnya dengan tempat ini. Batinku dalam hati.

Andre dan Kevin segera kubangunkan, memaksa mereka untuk segera membereskan tenda. Kami tidak lagi memikirkan untuk memasak sarapan pagi. Sebagai gantinya, mie instan yang kami bawa dimakan mentah-mentah untuk menghemat waktu sekaligus untuk mengganjal perut. Namun ada kejadian yang cukup mengagetkan ketika kami membereksan tenda tadi, berjarak 5 meter dari tenda kami ada beberapa batu yang disusun menyerupai kuburan. Tampak seperti kuburan orang zaman dulu yang hanya berupa batu-batu besar pada kedua ujungnya. Padahal saat kami mendirikan tenda, kami sama sekali tidak melihat tenda itu.

Sesampainya di pos pendakian (base camp) kami segera mencari penjual makanan. Perut kami benar-benar terasa lapar, selama perjalanan turun kami mengganjalnya dengan air putih. Mata kami tertuju pada warung soto yang berada tidak jauh dari pos pendakian.

"Bu, pesen soto sama teh angetnya empat" Ucap Andre mengkomandoi keinginan kami.

"Iya mas" Jawab ibu itu singkat.

Tidak ada 5 menit pesanan kami tiba. Kamipun segera melahapnya seperti orang kelaparan.

"Pelan-pelan, masih panas itu, emang ga sempet makan pas mau turun?"

"Enggak sempet bu" Jawabku singkat.

"Loh kenapa? Ada yang ganggu ya?" Tanya ibu itu lagi. Ucapan ibu itu berhasil membuat kami kaget sebentar.

"Haha ibu bercanda. Mendaki gunung ini tuh aman selama kalian selalu berfikiran positif dan tidak sedang datang bulan" Lanjut ibu itu.

Ucapan terakhir ibu itu sukses membuat aku berhenti menyantap soto tersebut. Aku memang menutup-nutupi kondisiku yang sedang datang bulan ini selain kepada Miranti. Ya karena aku malu untuk terus terang kepada Andre dan Kevin. 

"Emang kenapa bu kalo lagi datang bulan?" Tanya Miranti penasaran.

"Ya di gunung kan tempatnya mahluk halus, banyak orang percaya mahluk halus senang dengan darah haid. Makanya tidak dianjurkan saat datang bulan mendaki gunung karena beresiko. Apalagi ibu beberapa kali dengar ada pendaki yang diganggu dan dipindahkan di daerah pemakaman. Entah nyata atau itu hanya mitos" Kata ibu itu sambil membalik gorengan yang digorengnya. Dan cerita ibu itu sukses membuat kami berempat saling berpandang-pandangan. Pendakian ini sukses membuat diriku dan Miranti enggan mendaki lagi.

Tamat.

profile-picture
destinationbali memberi reputasi
setahu aku dr yg aku baca2 di semua gunung pantang mendaki kl sedang haid.... sebaiknya jika sedang haid kita stay di rumah saja


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di