alexa-tracking
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / News / Berita dan Politik /
Kota-Kota Dilanda Kabut Asap: Mata Perih, Dada Sesak, Muntah-Muntah
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5d7db802c0cad75a0074d080/kota-kota-dilanda-kabut-asap-mata-perih-dada-sesak-muntah-muntah

Kota-Kota Dilanda Kabut Asap: Mata Perih, Dada Sesak, Muntah-Muntah

Kota-Kota Dilanda Kabut Asap: Mata Perih, Dada Sesak, Muntah-Muntah

CUMA suara ribut slang-slang hidrolis saat pilot menurunkan roda yang menandakan pesawat akan mendarat. Daratan di bawah hampir tidak kelihatan. Putih semua.

Karena grogi, saya sempat menghubungi salah seorang pilot senior anggota Dewan Kehormatan Ikatan Pilot Indonesia, kapten Yusni Marian. ”Tenang saja, untuk ukuran negara tropis, ILS (instrument landing system) bandara-bandara Indonesia sudah bagus kok. Termasuk yang di Kalimantan dan Sumatera,” paparnya.

Benar saja, tahu-tahu badan pesawat sudah bergetar dan menggelinding di landasan pacu Bandara Sultan Syarif Kasim II, Pekanbaru, Riau. Pada Kamis lalu (12/9) itu semua lampu landasan menyala terang meski baru pukul 15.00 WIB.

Lega, tentu saja. Tapi, berada di Pekanbaru hari-hari ini, kelegaan adalah barang mahal dan langka.

Inilah kota yang hari-hari ini memiliki kualitas udara membahayakan gara-gara jerubu (kabut asap) yang berhulu dari kebakaran hutan dan lahan. Senasib dengan ibu kota Riau itu adalah Kabupaten Siak di sebelah timur.

Dua kawasan tersebut mencatat rekor indeks standar pencemar udara (ISPU) terburuk dengan skala 500 hingga 800 PSI (pollutant standards index). Padahal, ISPU lebih dari 300 saja sudah dinyatakan hitam alias berbahaya bagi kesehatan siapa saja. Tak kenal usia atau jenis kelamin.

Data dari Kementerian Lingkungan Hidup, 49.266 hektare hutan dan lahan terbakar di Riau pada periode Januari sampai Agustus tahun ini. Ada enam provinsi lain yang ribuan hektare hutan dan lahannya mengalami petaka serupa. Tapi, Riau yang terparah.

Di jalanan dari bandara menuju hotel cekikan jerubu itu terasa benar. Jika menatap pada sebuah deretan bangunan, bangunan pertama dan kedua tampak jelas warnanya.

Bangunan yang lebih jauh, ketiga, keempat, dan seterusnya, sudah berkurang jauh saturasi warnanya. Bangunan kelima dan seterusnya cuma samar-samar saja di antara kabut.

Sehabis magrib, laporan harian dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana menunjukkan data yang mencengangkan. Indeks PM (partikel mikron/semakin banyak partikel ini, semakin buruk kualitas udara) 2.5 udara Pekanbaru menyentuh angka dramatis: 331 alias berbahaya.

Jadi, sudah berapa ribu mikronkah partikel beracun yang saya hirup selama perjalanan dari bandara ke hotel tadi? Tapi, saya baru beberapa jam saja di sini. Bagaimana dengan warga setempat yang telah berhari-hari, bahkan berpekan-pekan, menyesapnya?

Mengutip Riau Pos, mulai awal tahun ini tercatat 281.626 orang mengalami infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Khusus September saja, sampai pekan kedua, jumlahnya menembus 4.306 orang.

Keesokan paginya (13/9) saya membuktikan apa yang dikatakan Tasirman, sopir taksi yang membawa saya dari bandara ke hotel sehari sebelumnya. Benar belaka.

Jam terpekat di Pekanbaru adalah pagi hari, pukul 06.00 WIB. Gelap. Pendar cahaya lampu jalan, neon box, videotron-videotron di mal masih terlihat kuat. Seolah-olah mata kita dipasangi diffuser.

Saat mulai terang, yang terlihat hanya putih sepanjang mata memandang. Cuma bangunan-bangunan terdekat yang terlihat jelas. Juga, kendaraan-kendaraan bermotor yang jauhnya kurang dari setengah kilometer.

Pada Jumat pagi lalu itu di jalanan Pekanbaru hampir tidak terlihat orang-orang berlalu-lalang memakai pakaian dinas maupun seragam sekolah. Tak terkecuali di sekitar Masjid An Nur yang merupakan pusat aktivitas warga.

Namun, Pasar Perempatan Alengka masih berdenyut. Kendatipun para pedagang dan pembeli harus buka tutup masker saat bertransaksi.

Tera Piliang yang saya temui setelah berbelanja bercerita, dirinya adalah satu di antara sedikit anggota keluarganya yang masih beraktivitas di luar ruangan saat musim-musim asap seperti ini. Dari pasar dia hendak menuju tempat kerjanya di sebuah kedai kopi menaiki angkot. ”Kalau anak-anak sudah saya kurung di dalam ruangan,” tuturnya.

Sejak Selasa (10/9) Pemprov Riau dan pemerintah kota/kabupaten di sana memang meliburkan secara bertahap seluruh aktivitas pendidikan. Niat awalnya memang agar para pelajar dan mahasiswa tidak terlalu banyak terpapar udara yang tercemar jerubu di luar ruangan.

Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Semakin banyak waktu bagi mereka untuk bermain di luar. Contohnya saya saksikan Jumat pagi lalu itu di sekitar Jalan Nanas di Kecamatan Sukajati, Kota Pekanbaru. Sekelompok anak-anak bermain riang di halaman deretan ruko.

Satu di antara mereka adalah Afriani. Empat hari sebelumnya dia muntah-muntah di sekolahnya, SDN 153 Pekanbaru.

Pada masa-masa pagebluk jerubu seperti sekarang ini, kesehatan anak-anak memang paling rentan anjlok. Afriani menuturkan, Senin lalu (9/9), saat terakhir dia sekolah, ada tiga kakak kelasnya yang juga muntah-muntah.

”Dibawa ke UKS (unit kesehatan sekolah),” cerita dia di samping sang ibu Wasni, saat saya berkunjung ke rumah mereka.

Afriani lantas diantarkan pulang oleh salah seorang guru ke rumah. Wasni kemudian membawa sang buah hati ke RS Santa Maria untuk diasapi. Sampai Jumat (13/9), Afriani sudah lebih dari sepuluh kali diasapi.

Tapi, kabut asap terbukti tidak hanya melemahkan anak-anak. Kuni Masrohanti, salah seorang wartawati Riau Pos yang menghabiskan hari-harinya berkeliling Pekanbaru dengan sepeda motor, pun merasakan jahatnya asap.

”Rasanya perut seperti penuh gitu. Kala sudah mau muntah, saya menepi, langsung muntah saja,” tuturnya.

Sejak asap semakin pekat, beberapa organisasi memang membuka posko kesehatan untuk melayani masyarakat yang mulai mengalami gangguan pernapasan. Sejak asap semakin pekat pada Kamis (12/9), Gubernur Syamsuar mengirimkan surat edaran ke semua pemerintah kota/kabupaten agar menyiagakan puskesmas masing-masing untuk menampung warga.

Menjelang magrib, di Jumat yang sama, saya sudah tiba di Siak Sri Indrapura, ibu kota Kabupaten Siak, yang terpisah jarak hampir 100 kilometer dari Pekanbaru. Kabut asap tampak menggantung tebal.

Dengan jarak pandang tak lebih dari 1 kilometer. Lampu harus terus dihidupkan. Keindahan dermaga Sungai Siak yang terletak di samping kompleks masjid dan makam Sultan Syarif Kasim II juga sudah tak lagi dapat dinikmati.

Tidak ada lagi anak-anak muda yang berjalan di tepian sungai dan taman-taman yang indah itu. Apa yang mau difoto?

Sisi sebelah utara sungai sudah tidak terlihat. Buram saja semua. Bahkan, Jembatan Tengku Agung Sultana Latifah yang terkenal indah dipandang dari kejauhan juga nyaris tak tampak.

Di Kecamatan Bunga Raya, 27 kilometer sebelah utara Siak Sri Indrapura, kabut asap pekat membuat Ucu Sukapto, ketua Masyarakat Peduli Api (MPA) Desa Tuah Indrapura, sesekali terbatuk. Dia baru saja tiba dari balai desa untuk menghadiri panggilan rapat dari kepala desa yang juga menderita batuk.

Namun, menurut Ucu, secara umum aktivitas warga tidak terganggu. Tiap pagi tetap saja melenggang menuju kebun masing-masing untuk menggarap tanah. ”Tapi ya itu, naik sepeda motor dari sini ke kantor camat saja, mata sudah perih, dada juga sesak,” tuturnya.

Yang jelas, desa-desa seperti Tuah sangat dekat dengan lahan-lahan gambut dan perkebunan sawit. Kampung Tapsel di Desa Buantan Besar di utara Tuah dikepung lahan sawit konsesi tiga perusahaan.

Pertengahan Agustus lalu lahan sawit milik PT Teguh Karsa Wana Lestari (TKWL) terbakar hebat. Itu membuat warga yang hanya dibatasi kanal selebar 5 meter semburat dan mengungsi ke desa-desa sekitar. ”Kalau sekarang tinggal asap. Ya batuk-batuk saja,” kata Amei Duha, warga Tuah yang bersama sang istri, Rumiyati Laiya, juga sempat mengungsi ke rumah tetangga di Dam 3.

sumber

Liburkan sekolah selama jerebu masih tebal..!
profile-picture
profile-picture
profile-picture
Ariwanas dan 4 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh bukan.salman
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Halaman 1 dari 7
Koq sama aja ya dengan sebelum-sebelumnya
profile-picture
profile-picture
jkwselalub3n4r dan mulivw memberi reputasi
berita tahunan
Copot pimpinan Polri dan TNI disitu
profile-picture
mulivw memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Dapat dari grup pesbuk, kondisi di sampit kalteng beberapa hari lalu

{thread_title}
profile-picture
profile-picture
profile-picture
MafTrack dan 3 lainnya memberi reputasi
Lihat 1 balasan
sudah biasa
profile-picture
profile-picture
mulivw dan liksemut memberi reputasi
Makan noh bacot katanya tidak ada lagi kebakaran hutan!!
profile-picture
profile-picture
profile-picture
lqmnnhkm dan 5 lainnya memberi reputasi
Kebakaran hutan karena apa???? Dibakar? Atau terbakar sendiri?
Ada studinya???
Indonesia hutan hujan tropis artinya kondisi hutan basah.
Gw selama ini kaga pernah liat ada lahan kosong terbakar sendiri. Pasti disebab ada yg bakar istilahnya nabun.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
Sh3rlockHolmes dan 5 lainnya memberi reputasi
Lihat 6 balasan


Quote:


Kebanyakan karena pembukaan lahan liar
Tapi biasanya oleh perusahaan sawit.

profile-picture
profile-picture
profile-picture
Lord.Dexvils dan 3 lainnya memberi reputasi
Lihat 2 balasan
Balasan post Po0po0
Kalau buka lahan dengan cara dibakar lebih murah yach??
Gimana sawit kaga mau di ban sama eropa?
Harusnya yg punya lahan ditangkap.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
kecebaday dan 2 lainnya memberi reputasi
Quote:


Spertinya itu terjadi kecelakaan ya.. ?
Sampe tebal gitu asep nya..
profile-picture
liksemut memberi reputasi
Kek gini mau pindah ibukota ke hutan? Gimana mau mencegah orang2 buka lahan....1 orang bakar yang laen ikut bakar....apalagi bakal dibekingi orang2 kaya jakartaemoticon-Turut Berduka
profile-picture
profile-picture
lightning23392 dan liksemut memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Jadi Inget nich pas kampanye waktu itu ada yang meng-claim kayak gini :
Quote:

emoticon-Malu
profile-picture
profile-picture
profile-picture
bimayuliaputra dan 5 lainnya memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Balasan post saya.kira
Quote:


Semoga ditemukan doa yg manjur untuk menghentikan kabut asap.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
mulivw dan 2 lainnya memberi reputasi

Kota-Kota Dilanda Kabut Asap: Mata Perih, Dada Sesak, Muntah-Muntah



nape gw jadi inget ini.. bangke!
profile-picture
liksemut memberi reputasi
Nampaknya kabut asap akan bertahan sampai 5 tahun kedepan...

emoticon-Cape d...

Tapi kata cebong para kampret tetep harus mup on

emoticon-Ultah
profile-picture
profile-picture
cellato dan rifaldorizal memberi reputasi
Quote:


ada yg nabrak sawit tuh
Quote:


Ntar ente dikatain belum bisa move on
itu nama LSM nya masyarakat peduli api
gmn mau selesai kebakaran nya
lha wong msh ada yg care sm api nya
emoticon-Leh Uga
profile-picture
liksemut memberi reputasi
Jangan lupa pakai masker
profile-picture
liksemut memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Bagi2 gas mask aja dah mending tuh.
Itung2 simulasi kehidupan nuclear post-appocalypse Kota-Kota Dilanda Kabut Asap: Mata Perih, Dada Sesak, Muntah-Muntah
Halaman 1 dari 7


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di