alexa-tracking
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
TOPAN BADAI DI ALAM BUNIAN
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5d7b2137337f9308ec2b4678/topan-badai-di-alam-bunian

TOPAN BADAI DI ALAM BUNIAN

TOPAN BADAI DI ALAM BUNIAN
Spoiler for sumber:


SELAMAT DATANG DI CERITA ANE, GAN. JANGAN LUPA CENDOL, KOMEN, SUBSCRIBE, YA?

ANE SANGAT MENGHARGAI KOMENTAR YANG MANUSIAWI. KOMENTAR JOROK, KASAR DAN TIDAK BERETIKA, SILAHKAN TINGGALKAN THREAD ANE.

THANK YOU, HAPPY READING.

DAFTAR ISI

1. Muasal

2. Hilang

3. Hutan

4. Terkejut

5. Jin Qorin

Bersambung ....
profile-picture
profile-picture
profile-picture
OrangMal4m dan 13 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh triyuki25
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Halaman 1 dari 3

DAFTAR ISI

profile-picture
syafetri memberi reputasi
Diubah oleh triyuki25

1. MUASAL

Dua orang sahabat sedang duduk di tepi pantai di suatu senja nan muram. Tak terlihat indahnya langit, selain awan yang kian berat digantungi jelaga hitam. Pertanda sebentar lagi hujan akan mendera kawasan pantai tersebut.

"Aku sudah tidak mungkin bersama Rinai lagi, Dai. Bagaimanapun kerasnya aku berusaha, tetap saja aku tak bisa menyukainya. Dari hari ke hari aku hanya membuatnya tersiksa. Lebih sering meninggalkannya di rumah. Sedang aku menghabiskan waktu di luar. Ini bukan pernikahan yang aku inginkan, Dai. Andai saja Bapak tidak memaksakan kehendaknya, tentu aku tidak akan pernah merasa sebersalah ini."

Badai cukup lama termangu mendengar curhatan sahabatnya itu. Lelaki tampan, gagah dan selama ini selalu digilai para gadis, sekarang terlihat gundah dan kusut masai. Bukan sekali dua kali Topan menceritakan kegundahannya tersebut. Namun, jauh di dalam hati Badai, dia merutuki kebodohan sahabat karibnya itu. Bagaimana tidak, sedikit pun tidak ada keburukan yang diceritakan Topan mengenai istrinya itu. Hanya saja, Badai tidak bisa mencintai perempuan lembut tersebut. Hambar dan tidak ada tantangan sama sekali, begitu yang Topan rasakan.

"Aku tidak tahu harus berkata apa, Pan. Hanya saja menurutku cobalah berpikir rasional. Lihat kebaikan dan keburukan Rinai. Mana yang paling banyak. Dari semua ceritamu, tidak sekali pun kamu menyinggung keburukannya. Bukankah itu pertanda dia seorang istri idaman? Aku hanya tidak ingin kamu salah mengambil langkah. Sebagai sahabat, aku ingin yang terbaik untukmu. Apalagi pernikahan kalian sudah berjalan dua tahun. Itu seharusnya sudah cukup untuk mengenali pribadi masing-masing." Badai merapatkan lengannya. Berusaha mengusir hawa laut yang kian dingin.

Bibir Topan bergetar resah. Ada sesuatu yang ingin ia sampaikan, tapi begitu berat. Ada malu yang menyergap di hatinya.

"Kamu tahu, Dai? Sampai detik ini, aku ... belum pernah ...." Topan kian resah. Dia menggigit bibirnya kesal. Rasanya ada sesuatu yang hendak meledak di dalam hatinya.

Badai seketika membelalakkan mata. Walau Topan menggantung ucapannya, tapi dia tahu ke mana arah kalimat karibnya itu.

"Kau gila!" teriak Badai antara percaya dan tidak. Ini sungguh suatu keajaiban. Seorang Topan yang mata keranjang dan pantang melihat perempuan cantik, mengabaikan istrinya yang sah. Demi apa coba?

"Aku tidak tahu apa yang salah, Dai. Aku benar-benar tidak bernafsu sama sekali melihat Rinai. Setiap kali aku ingin mendekatinya, timbul saja rasa mual, muak dan malas melihatnya. Seolah-olah dia itu menjijikkan. Aku ... tolong aku, Dai! Ada apa sebenarnya denganku?" Topan menjambak rambutnya frustrasi.

"Tapi sama perempuan lain kamu begitu beringas, Pan?"

"Itu yang membuatku tidak mengerti, Dai. Aku merasa kasihan dengan Rinai. Dia tidak pantas mendapatkan suami sepertiku. Perasaan bersalahku semakin dalam dari hari ke hari. Bagaimana menurutmu, Dai? Aku ceraikan saja dia?"

Badai menghela napas sejenak. Memang kalau dipikir-pikir, hubungan yang terasa hambar tidak mungkin dipertahankan. Daripada saling melukai, bukankah berpisah adalah langkah terbaik?

"Baiklah, Pan. Sekarang kamu mungkin sedang tertekan. Saranku, cobalah minta petunjuk pada Allah. Semoga diberikan jalan dan kemudahan."

Topan merasakan hatinya berdesir nyeri. Tuhan? Sudah begitu lama dahinya tidak menyentuh lantai. Saking lamanya, dia tidak lagi hapal bacaan sholat. Semakin malu rasa hatinya.

"Mari kita pulang. Aku yakin, semuanya pasti akan baik-baik saja. Bukankah badai selalu berlalu, Pan?" Badai tertawa lebar dan merangkul bahu Topan dengan penuh persahabatan.

TOPAN BADAI DI ALAM BUNIAN
Spoiler for sumber:


Bersambung ke Part 2.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
redbaron dan 6 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh triyuki25
lanjutttt..muantabbb ini..
sinyooo atuttt...
emoticon-Takut
Pekiwan... Lanjutkan... Gaskeun emoticon-Ngacir2
profile-picture
triyuki25 memberi reputasi
nunggu lanjutannya...

emoticon-2 Jempol
emoticon-Sundul
profile-picture
profile-picture
syafetri dan triyuki25 memberi reputasi
Quote:


Jangan lupa cendolnya gan
profile-picture
syafetri memberi reputasi
Quote:


Cendolnya lempar segelas, Gan.
profile-picture
profile-picture
syafetri dan boel19c memberi reputasi

2. HILANG

Benar saja. Badai benar-benar berlalu membawa Rinai besertanya. Meninggalkan Topan yang akhirnya menyesali keputusan yang ia ambil. Dia tidak saja kehilangan istri yang begitu baik, tapi juga sahabat yang sering ia curhati.

Dia tidak marah ke Badai. Hanya saja semuanya jadi canggung sekarang. Tidak mungkin dia bisa merebut Rinai kembali. Membawa bekas istrinya itu pulang ke rumah. Sudah ada Badai yang menjadi pelindungnya. Mencintai wanita itu dengan cara yang benar. Menganggap Rinai sebagai istri yang akan selalu menjadi ratu di hatinya.

Tiga tahun berlalu, tidak ada lagi kontak dengan Badai. Topan lebih menyibukkan diri dengan bekerja dan bekerja. Sampai akhirnya titik jenuh memenuhi pikirannya.

"Pergilah ke tempat di mana kau merasa senang, Pan. Sesibuk apa pun kau bekerja tidak akan mampu menghilangkan luka yang kau toreh sendiri. Kau yang mencampakkan Rinai, sekarang kau pula yang terluka. Sudahlah! Move on! Lepaskan semua beban di hati kau itu." Pak Petir menaruh segelas minuman di atas meja di samping ranjang. Kemudian melemparkan bantal yang bertebaran di lantai ke atas badan Topan yang tergeletak di kasur. Anak bujangnya itu masih saja bermalas-malasan di Sabtu yang berawan.

"Mau ke mana aku, Pak? Sudah habis masaku berkeliaran di dunia ini. Biarkan aku menjadi lapuk di kamar yang pengap ini. Mati pun aku di sini, takkan membuat kehidupan bertambah baik. Biarkan aku sendiri, Pak."

Pak Petir hanya bisa mendesah kecewa. Topan tidak lagi penuh dengan semangat. Semenjak bercerai dari Rinai, hidupnya ibarat kerakap di atas batu. Mati enggan, hidup pun segan.

"Ya, terserah kaulah, Topan. Kau membuatku malu. Percuma nama kau Topan, kalau hanya gara-gara perempuan berupa rinai yang setitik, membuat hidup kau karut-marut. Malulah pada jakun!" Pak Petir keluar dari kamar sambil membanting pintu.

Kesenyapan serta merta memenuhi kamar Topan. Lelaki itu berbalik menatap langit-langit kamar. Pandangannya menerawang, berusaha mencerna jalan hidup yang ia lalui. Kenapa begitu penuh luka? Ke mana perginya Topan yang dulu selalu bahagia? Ke mana perginya Topan yang dulu hidup dalam kepastian?

Kerongkongannya terasa kering. Bukan saja karena lelah pikiran, tapi juga rokok yang ia isap sudah tidak terhitung jumlahnya. Topan mengambil minuman di atas meja. Menyesapnya pelan, kemudian kembali berbaring dan memejamkan mata.

'Duniaku mungkin sudah tenggelam dalam kesedihan. Tidak ada lagi wanita yang bisa kujadikan kekasih hati. Cintaku seolah-olah telah mati. Mungkin ini karma karena telah menyakiti banyak kaum hawa. Haruskah aku menghilang dari dunia ini? Pergi ke alam yang bisa membuatku lindap? Sendiri dan tidak ada satu pun orang yang bisa menemukanku. Andai saja tempat itu ada, aku akan mencarinya sampai ketemu. Tuhan, di manakah cintaku berada? Kesepian ini benar-benar membuat hatiku gersang.

Topan terus bertanya-tanya sampai akhirnya lelap membawanya lenyap ke dalam nirwana.

Cukup lama rasanya Topan tertidur. Ketika ia terbangun, kejut mendadak menghantam kepalanya.

Bersambung ke part tiga
profile-picture
profile-picture
profile-picture
redbaron dan 5 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh triyuki25

3. Hutan

Dia terperanjat mendapati di mana ia sekarang. Matanya menatap sekeliling dengan perasaan bingung dan juga takut.

"Di mana ini?"

Hawa dingin perlahan-lahan merayap pelan, merasuki setiap pori-pori di kulitnya. Topan meraba lengannya, bahunya, sekujur tubuhnya. Dan dia benar-benar kembali dibuat tidak percaya ketika menyadari tak ada selembarpun benang di badannya.

"Ya Tuhan, apa yang telah terjadi? Kenapa aku berada di tempat ini? Mana bajuku?" Topan terus menceracau seperti orang linglung. Dia benar-benar heran dengan apa yang menimpa. Pikirannya mengatakan kalau tadi ia masih tidur di dalam kamarnya.

Sekarang?

Bagaimana ia bisa ada di hutan ini? Di tepi sebuah telaga dengan hawa dingin yang mencucuk. Kabut tebal bergumpal-gumpal di depannya. Bunyi binatang malam saling sahut-sahutan.

Topan menggelungkan badannya. Ia mulai menangis. Mulai merasa ketakutan.

"Mungkin aku sudah mati. Ya, mungkin sekarang aku berada di alam barzah. Ya Tuhan, aku mati kenapa? Kenapa aku, ya Allah?" Topan terisak-isak. Seumur hidup, tidak pernah ia merasa setakut ini. Tidak pernah meneteskan air mata untuk suatu hal yang tidak ia pahami. Satu hal yang ia yakini, saat ini dia telah mati.

Cukup lama Topan bersimbah perasaan. Setelah agak tenang dia mencoba bangkit dan memeriksa sekitar.

TOPAN BADAI DI ALAM BUNIAN

Spoiler for sumber:


Dia mendekati sebuah pohon besar. Berusaha mencari ceruk yang hangat. Biasanya tanah menyimpan panas alami yang bisa digunakan untuk menghangatkan badan.

Ketika ia sampai di pohon besar, tetiba saja dia melihat sekelebat cahaya putih terbang di atasnya. Kejut Topan bukan alang kepalang. Kakinya serasa ditanamkan ke tanah ketika perlahan-lahan sosok tersebut melayang mendekat ke arahnya.

"Kau? Siapa kau? Berani-beraninya muncul di pemandian para Dewi?"

Topan tidak menjawab. Justru mulutnya ternganga melihat mahkluk di depannya. Seumur-umur ia tidak pernah melihat wanita secantik ini. Kecantikan yang begitu sempurna. Sepasang mata kehijau-hijauan dengan kulit wajah seterang rembulan empat belas hari. Begitu bercahaya.

Busana yang ia kenakan bagai pendekar-pendekar persilatan zaman dulu. Berwarna putih susu. Di dahinya melingkar sejenis tiara berkilauan.

"Kenapa diam? Apa mulutmu mendadak gagu dan bisu? Atau telingamu sontak pekak?" Kali ini perempuan itu mengacungkan pedang tajam ke wajah Topan. Lelaki itu mendadak sadar dari lamunannya.

"Aku ... aku tidak tahu. Aku hanya tiba-tiba saja sudah ada di sini. Tolong, jangan sakiti aku!"

Perempuan itu menatap tajam ke arah Topan. Mulai dari kepala turun ke dada, ke perut, di saat itulah ia menjerit murka.

"Pemuda kurang ajar! Kau benar-benar tidak tahu sopan santun." Topan benar-benar tidak mampu berkelit ketika sang dara melayangkan tendangannya. Topan terpental dan tercebur ke dalam kolam.

"Apa yang kamu lakukan?" Topan berteriak marah begitu berhasil keluar dari kolam. Perempuan itu memunggunginya. Pedang di tangannya memancarkan kilauan yang membuat mata menyipit.

"Pemuda busuk! Kenakan pakaianmu cepat dan berhembuslah dari telaga ini!" Bentakannya memenuhi kawasan yang sunyi senyap.

"Aku tidak tahu di mana pakaianku! Aku sudah ada di sini dalam keadan telanjang bulat. Tolong, tolong katakan, aku sedang ada di mana saat ini?"

Perempuan itu tidak menjawab. Tubuhnya berkelebat memotong beberapa helai daun keladi hutan.

"Cepat tutup tubuhmu dengan daun keladi ini! Aku mendapat bisikan dari Ratu untuk membawamu segera ke istana!"

"Ratu? Istana?" Topan hendak tertawa terbahak-bahak. Namun, ia urungkan. Saat ini, dia yakin, dia sedang tidak ada di alam manusia. Tangannya segera menggapai daun keladi. Menutupi auratnya yang telanjang.

Perempuan itu bergerak mendekati Topan. Mata mereka saling bertemu.

"Aku Dewi Alam Bunian. Penjaga hutan ini akan membawamu ke istana Puti Andam Suri. Aku tidak tahu kenapa manusia sepertimu bisa terpesat ke alam ini. Yang jelas, begitu kau masuk ke sini, akan sangat sulit bagimu untuk keluar."

Lemas sudah rasanya tulang belulang Topan mendengar ucapan perempuan bernama Dewi Alam Bunian itu.

"Apakah kita sekarang ada di ... Telaga Dewi?" Topan memastikan perkiraannya. Kalau benar, pantas saja dia merasa familiar dengan telaga ini.

"Benar! Kau beruntung bertemu denganku. Andai Rajo Sikumbang yang menemukanmu, mungkin kau sudah dicabik-cabik dan disantapnya sebagai makan malam."

Topan hendak bertanya lagi, tapi mendadak lidahnya terasa kelu. Bibirnya tidak bisa digerakkan. Dewi Alam Bunian tersenyum tipis. Dia memegang bahu Topan, lalu meminta lelaki itu memejamkan mata.

"Jangan kau buka sebelum aku perintahkan." Tubuh keduanya berpendar-pendar dengan cahaya yang sangat indah. Dari kejauhan terdengar suara seruling yang teramat merdu.

Dalam seperkedipan mata, sosok Topan dan Dewi Alam Bunian lenyap dari tepi telaga. Kawasan itu kembali sunyi dan senyap. Desau angin kembali mendesah lirih. Ranting-ranting pohon saling bergesekan, menyuarakan dentingan biola yang tak berdawai.

Bersambung ke Part empat (4)
profile-picture
profile-picture
profile-picture
redbaron dan 6 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh triyuki25

4. Terkejut

"Di mana Topan, Pak?" Badai berdiri gelisah di depan Pak Petir. Lelaki tua itu hanya diam tanpa menjawab pertanyaan Badai.

"Pak, aku hanya ingin tahu keadaan Topan. Sudah beberapa hari ini dia mendatangiku ke dalam mimpi. Apa yang telah terjadi pada sahabatku itu, Pak?" Sahabat karib Topan itu mulai kehilangan kesabaran mendapati Pak Petir yang menatapnya nanar.

"Sahabat? Kau bilang kau sahabatnya? Hahaha! Kau justru pembunuh! Gara-gara kau mengawini si Rinai, si Topan menjadi gila! Dan sekarang kau berlagak seperti tanpa dosa! Aku tidak bisa memaafkan kau, Badai!"

Badai jatuh berlutut di kaki Pak Petir. Dia menangis terisak-isak. "Maafkan aku, Pak. Aku hanya tidak ingin Rinai terluka. Selama ini, Topan hanya bisa menyakiti hati dan perasaannya. Aku tidak tahu kalau Topan mulai mencintai Rinai begitu mereka bercerai. Aku benar-benar menyesal, Pak. Tolong beritahu aku, Pak, Topan ada di mana, Pak?"

Pak Petir menghapus pipinya yang basah oleh air mata. Dia menatap Badai yang masih memohon-mohon di depannya.

"Aku sudah mengirimnya ke puncak Singgalang. Jika tidak ada lagi manusia yang bisa membuatnya jatuh cinta, mungkin orang Bunian masih menyisakan satu cinta untuknya."

Badai benar-benar terkejut. Dia menatap Pak Petir dengan tatapan tidak percaya. "Bagaimana mungkin, Pak, engkau melakukan itu?"

Pak Petir menatap tajam bola mata Badai. "Tentu saja mungkin bagiku. Kau lupa, kalau ibu Topan bukanlah manusia! Sama seperti dirimu, Badai! Kalian makhluk setengah jin, setengah manusia!"

"APAAA?"

Bersambung ke Part 5
profile-picture
profile-picture
profile-picture
redbaron dan 5 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh triyuki25
emoticon-Cendol Gan
profile-picture
triyuki25 memberi reputasi
keliatanya berbau petualangan
profile-picture
triyuki25 memberi reputasi
Quote:


Iyap, adventure, thriller, romance, complete.
Quote:


Makasih cendolnya, Sis
Ditunggu updateannya gan 👍
baru tau gue ini jadi hot thread! yeyy
.....ijin nenda gan.....
profile-picture
triyuki25 memberi reputasi
ditunggu updatenya gan.. emoticon-Blue Guy Cendol (L)emoticon-Blue Guy Cendol (L)
profile-picture
triyuki25 memberi reputasi
Halaman 1 dari 3


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di