alexa-tracking
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Entertainment / The Lounge /
Apakah Ibu Masih Mencintaiku Jika Aku Tak Lagi Beragama?
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5d75ba9ea7276869c535244c/apakah-ibu-masih-mencintaiku-jika-aku-tak-lagi-beragama

Apakah Ibu Masih Mencintaiku Jika Aku Tak Lagi Beragama?



Saya dibesarkan dalam keluarga Muslim. Keluarga saya bukan tergolong kelompok garis keras, dan masih sangat dipengaruhi oleh tradisi Jawa. Namun sejak saya kecil, Ibu telah memasukkan saya ke taman pendidikan Alquran. Di sana saya diajarkan membaca dan menghafal ayat-ayat untuk salat, meskipun saya tidak pernah benar-benar mengerti artinya.

Saya belajar tentang bumi dan manusia di kelas sains dan agama di sekolah. Saya mempertanyakan guru saya di kelas agama tentang penciptaan bumi dan bagaimana narasi Adam dan Hawa tidak sesuai dengan kaidah ilmu pengetahuan. Dia menjawab dengan dingin bahwa agama dan sains adalah dua hal yang berbeda, dan kemudian tidak mengacuhkan saya selama satu bulan..

Tumbuh besar dalam lingkungan multibudaya membuat saya berpikir bagaimana mungkin kita semua berasal dari Adam dan Hawa sementara kita semua sangat berbeda. Saya juga diajarkan bahwa orang-orang yang tidak mengikuti agama saya akan masuk neraka.

Kemudian saya pergi ke luar negeri untuk menjadi sukarelawan, mengunjungi sebuah kuil Yahudi dan gereja Kristen ortodoks, dan belajar tentang para Muslim di Eropa. Di India, saya bertemu kelompok Sikh, Zoroastrian, Baha'i, dan Hindu, yang keyakinan dan ritualnya berbeda dengan Hindu Bali. Saya pun mulai mempertanyakan segalanya. Apa yang membuat agama saya paling benar dibandingkan ratusan atau bahkan ribuan keyakinan lainnya?

Selama dua tahun, saya tidak percaya pada apa pun. Saya marah dan bingung, dan saya memberontak melawan agama saya. Saya tidak salat, tidak berpuasa selama Ramadhan, bahkan tidak merayakan Idul Fitri karena saya sedang berada di Eropa dalam program sukarela.

Di India, saya diajarkan tentang makna hidup oleh seorang  yogi dari sudut pandangnya, dan bagaimana Tuhan benar-benar hidup di dalam diri kami, dan pengajaran tersebut menempatkan saya pada jalan spiritual. Saya membaca banyak buku tentang Islam yang sangat mendalam dan indah. Saya menyelesaikan Alkitab, saya membaca tentang agama Buddha, dan saya belajar Sikhisme di sebuah gurdwara. Kini saya percaya bahwa ada satu kekuatan yang menciptakan segalanya, dan saya percaya bahwa cinta, kebaikan, dan toleransi adalah nilai-nilai yang ingin saya jalani setiap harinya.

Saya mencintai keluarga saya, terutama Ibu yang saya ajak bicara mengenai semua hal. Tetapi ketika sudah menyangkut agama, ia selalu mengatakan, “Mama cuma mau kamu cepat-cepat dapet hidayah.” Dia berharap saya akan segera mendapat bimbingan ilahi. Namun saya pikir saya sudah mendapatkannya.

Saya tidak percaya pada Tuhan, tapi tidak juga membenci agama. Saya percaya tidak ada agama yang buruk, yang buruk hanya orang-orangnya. Tapi apa yang benar-benar saya percayai sekarang adalah bahwa hanya cinta dan kebaikan yang dapat menaklukkan segalanya.

Tidak seperti kebanyakan orang tua di Indonesia, orang tua saya tidak pernah memaksakan batas waktu bagi saya untuk menikah. Namun, mereka memiliki satu syarat: laki-laki itu harus Muslim, dan hal itu menjadi masalah buat saya. Saya sedang menjalani hubungan dengan seorang laki-laki yang saya cintai, terlepas dari fakta bahwa dia adalah seorang ateis. Dia bahkan tidak keberatan jika harus masuk Islam untuk memuluskan jalan kami dengan keluarga, tetapi saya tidak ingin hidup dalam kebohongan.

Saya tidak ingin berbohong kepada Ibu. Saya tidak ingin dia berharap melihat saya menjadi religius dengan pakaian longgar dan jilbab panjang, pergi haji, atau umrah setiap tahun. Jika Ibu mengetahui diri saya yang sebenarnya saat ini, dia akan sangat kecewa, dan hal itu tidak saya inginkan.

Ibu, dengan cinta dan kelembutannya, selalu mengingatkan saya akan pentingnya berdoa atau membaca kitab suci. Dia memberitahu saya bahwa jika saya punya anak nanti, dia harus bisa membaca Quran dan menaati ajaran Islam sejak kecil agar saya, sebagai ibu mereka, dapat "diselamatkan" dari api neraka. Saya mengatakan kepada Ibu bahwa saya tidak ingin memaksa anak-anak saya untuk melakukan apa yang tidak ingin mereka lakukan, seperti mengirim mereka ke pesantren. Setiap topik pembicaraan ini muncul, kami berdua tidak pernah mendapatkan titik temu, dan Ibu akan berkata, "Astaghfirullah, semoga Allah segera mengampunimu."

Inilah yang ingin saya sampaikan pada Ibu: “Ibu, aku mencintaimu. Tapi aku yakin Ibu tidak akan masuk neraka karena putrimu ini. Tuhan tahu Ibu sangat baik. Tuhan tahu Ibu berhak mendapatkan yang terbaik. Aku cuma tidak ingin berbohong lagi sama Ibu. Dan kuharap Ibu dapat mencintaiku tanpa syarat, terlepas dari perbedaan di antara kita.” 

profile-picture
profile-picture
profile-picture
gojira48 dan 8 lainnya memberi reputasi
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Halaman 1 dari 4
pengalaman ane,waktu ane nekat jadi mualaf juga sempet di usir dari rumah,nggak lam sih cuma 3 bulan,tp dulu buat ane yang belum punya kerjaan pasti,kebayang aja kayak apa 3 bulan hidup ane emoticon-Sorry
profile-picture
profile-picture
kakekane.cell dan penyukabiru memberi reputasi
mungkin :nyantai
profile-picture
RHnd memberi reputasi
yang penting gk usah marah jika Islam mengatakan orang yang kafir masuk neraka
profile-picture
profile-picture
profile-picture
BANNED.USER dan 2 lainnya memberi reputasi
Agama itu urusan pribadi dengan Yang Maha Kuasa
profile-picture
profile-picture
profile-picture
tigerhunter dan 2 lainnya memberi reputasi
remember brother....
Apakah Ibu Masih Mencintaiku Jika Aku Tak Lagi Beragama?

Apakah Ibu Masih Mencintaiku Jika Aku Tak Lagi Beragama?

Apakah Ibu Masih Mencintaiku Jika Aku Tak Lagi Beragama?Apakah Ibu Masih Mencintaiku Jika Aku Tak Lagi Beragama?Apakah Ibu Masih Mencintaiku Jika Aku Tak Lagi Beragama?

Apakah Ibu Masih Mencintaiku Jika Aku Tak Lagi Beragama? Apakah Ibu Masih Mencintaiku Jika Aku Tak Lagi Beragama? Apakah Ibu Masih Mencintaiku Jika Aku Tak Lagi Beragama?

Apakah Ibu Masih Mencintaiku Jika Aku Tak Lagi Beragama? Apakah Ibu Masih Mencintaiku Jika Aku Tak Lagi Beragama? Apakah Ibu Masih Mencintaiku Jika Aku Tak Lagi Beragama?
profile-picture
kakekane.cell memberi reputasi
di wkwkw land , ga beragama masih dipandang jelek
jd saran gw pura2 beragama aj jd KTP, ntar klo ud mandiri scra finansial pindah dr rumah ortu dan jalani yg lo prcaya

begitu banyak planet galaksi dll apakah benar Tuhan cuma menurunkan ajaran ke 1 tmpt tertentu di planet yg kecil(bumi) dan hanya pada abad 7 atau bahkan zaman sblum masehi?
kenapa tidak diturunkan zaman modern di mana penampakannya bisa didokumentasikan divideokan ada jejak digitalnya
dan mengapa tafsiran kitab suci bisa beda2 ,ga bisakah Tuhan turun dan menjelaskan ajarannya secara gamblang dan ga ambigu?
kalau bisa kenapa ga dari dulu dan kenapa penulisan kitab sucinya kyk gtu?

teori evolusi ud kebukti, banjir air bah zaman nuh dan exodus tidak ada buktinya menurut arkeolog

free will: apakah semua sudah ditakdirkan Tuhan atau ada free will? kalau ada free will dan semua sudah ditakdirkan buat apa?

food for thought ya emoticon-Big Grin
profile-picture
profile-picture
profile-picture
lapetbasi dan 3 lainnya memberi reputasi
Paling banter kagak dapet warisan lo. Makanye cari duit yang bener biar bisa beli rumah buat bangun kontrakan.
profile-picture
kakekane.cell memberi reputasi
Seberapa perdulinya ente terhadap ibu ente maka ibu ente 1000x lebih perduli dengan ente karna itu adalah peran,
layaknya pepatah "kasih ibu sepanjang masa kasih anak sepanjang galah"
seorang ibu akan berusaha semaksimal mungkin bahkan hinga akhir hayatnya untuk merubah pikiran dan pandangan anaknya apabila dia menganggap pilihan sang anak itu salah, bukan hanya untuk konteks pilihan agama tetapi mencakupi semua hal baik itu jodoh prilaku dan apapun itu yg bersangkutan dgn pilihan walaupun sang anak punya hak memilih karna faktor usia dan kedewasaan , karna baginya sang anak tetap putri kecilnya dan sebagai ibu dia ikut bertanggung jawab atas pilihan putri kecilnya tsb itulah peranan seorang ibu,
dan ente akan merasakan hal yg sama di usia yg tergolong sama pula bahwa gimana perasaan dan kekhawatiran seorang ibu atas pilihan anak2nya untuk kehidupannya...
Sebuah keputusan yg besar akan berpengaruh bagi orang2 yg di cintai karna kita gak hidup sendiri karna resiko terburuk dari sebuah keputusan itu tempat kembalinya untuk memperbikinya hanya keluarga yg bersedia dgn tangan terbuka merangkul anda kembali, Semoga bisa di fahami☺️
profile-picture
profile-picture
profile-picture
tamadate6 dan 2 lainnya memberi reputasi
au ah.
otak guee kagaaa nyampee..
profile-picture
kakekane.cell memberi reputasi
listen to your heart
profile-picture
kakekane.cell memberi reputasi
ente dah kebanyakan nonton sinetron... sampe tuhan pun sudah tak ada lagi dipikiran TS...

Tidak ada hak manusia untuk mengakui tidak ada tuhan, itu berarti manusia itu sendiri merasa dirinya sebagai tuhan..

kasian ibu nya ts... sudahlah membesarkan anak malah dibalas dengan pendapat ... budi tak terbalas, sakit tak tergantikan...

Percayalah sakit ibumu ketika melahirkanmu pun belum bisa kau bayar.. lantas atas nama cinta yg mana yg kau sebut itu bisa menaklukan segalanya...

Ibumu meminta mu menjalankan syariat .. tapi cinta mu memerintahkan kau untuk menjauhi dan bahkan tidak percaya pada syariat yg ibumu ajarkan... lantas cinta apa yang kau beri untuk ibu mu ?

Kau bakal berkata bahwa banyak cara mengexpresikan cinta.. namun percayalah... ibu mu pasti hanya menginginkan kau jawab cintanya dengan jalannya syariat agama mu pada dirimu.. lalu kau masih menjawab dengan berbagai pendapat dan opini yang kau dapat dan kau masih bilang berhak atas cinta kepada ibumu ?

Tahukah kau.. di syariat agama islam .. agama ibumu ... salah satu amalan yang akan kelak menolongnya ketika ibumu sudah meninggal adalah doa anak yg sholeh.. bagaimana bisa cintamu yg jelas membuat kau meninggalkan agama mu menjadikan anak yg sholeh ? bahkan berdoa pun kau tak tahu kepada siapa doamu ? masih kah cintamu mampu menaklukan segalanya padahal cinta ibu mu sendiri kau abaikan ?

profile-picture
profile-picture
profile-picture
tamadate6 dan 2 lainnya memberi reputasi
Lihat 2 balasan
sebenarnya itu hak TS untuk tidak beragama.
tetapi jgn lupakan hak orang tua TS juga yg mungkin tidak menganggap TS sebagai anaknya lagi.

setiap keputusan itu bebas diambil asalkan sudah siap atas resikonya...emoticon-Traveller
profile-picture
profile-picture
humas.fpi dan kakekane.cell memberi reputasi
Kebanyakan bakalan ada koflik diawal. Ane sendiri memutuskan untuk menjalani hidup sebagai orang muslim meski keluarga ayah semuanya non muslim. Diawal memang ada sesuatu, kalau kita jalani apalagi bisa sukses, tetap dihormati
profile-picture
profile-picture
BANNED.USER dan kakekane.cell memberi reputasi
Balasan post streisouls
Quote:



bener ibuny sudah susah2 melahirkan TS, tp apakah TS minta dilahirkan?
masalah kepercayaan agama itu personal dr hati, kalau TS cuma jalanin tp tidak mengimani bukannya sama aja ya ga ada artinya?

masalah cinta bisa macam2, klo ud dpt income sisihkan untuk ortu, klo ortu sakit bantu dibawa ke dokter dan didampingi, bisa macam2 ga hrs ikut agamanya. jgn guilt trip la ,ketika TS sudah dewasa dia berhak nentuin jalan hidupnya sendiri, ortu2 jg berharap anaknya lbh baik drpd mereka. TS sudah tidak mabok agama , itu sudah lebih baik , mgkin dgn pengetahuannya dia bisa jd volunteer menolong bnyk org tanpa ada kebencian trhadap kafir , ga takut haram2 dan ga perlu meledakkan diri klo seperti dia msh mabok agama emoticon-Big Grin
org tua hrs dihormati tp jgn didengerin smua kata2nya , zaman sudah berubah klo semua anak nurut 100% ama kata org tua
umat manusia ga maju berkembang lebih baik, krn mindset org tua kn msh jadul dan mabok agama
sdgkan manusia hrs beradaptasi dgn zaman dan teknologi bukan mabok agama lagi di zaman modern
profile-picture
profile-picture
gojira48 dan kakekane.cell memberi reputasi
Kayaknya salah kamar deh ente. Thread beginian harusnya di Heart to Heart emoticon-Salah Kamar

Tapi gapapa lah, menarik nih... Ada 3 point yang pengen gw komenin.

1. Saya pun mulai mempertanyakan segalanya. Apa yang membuat agama saya paling benar dibandingkan ratusan atau bahkan ribuan keyakinan lainnya?

Nah, di point ini saja, pemikiran lu sudah salah. Dalam hal agama, kepercayaan, atau apapun itu sebutannya, semua itu pasti sama baiknya. Tidak ada yang paling benar dan tidak ada yang paling salah, semua sama ratanya.

Lalu kita lanjut ke point 2, dan point 3 yah.

2. Di India, saya diajarkan tentang makna hidup oleh seorang yogi dari sudut pandangnya, dan bagaimana Tuhan benar-benar hidup di dalam diri kami, dan pengajaran tersebut menempatkan saya pada jalan spiritual. Saya membaca banyak buku tentang Islam yang sangat mendalam dan indah. Saya menyelesaikan Alkitab, saya membaca tentang agama Buddha, dan saya belajar Sikhisme di sebuah gurdwara. Kini saya percaya bahwa ada satu kekuatan yang menciptakan segalanya, dan saya percaya bahwa cinta, kebaikan, dan toleransi adalah nilai-nilai yang ingin saya jalani setiap harinya.

3. Saya tidak percaya pada Tuhan, tapi tidak juga membenci agama. Saya percaya tidak ada agama yang buruk, yang buruk hanya orang-orangnya. Tapi apa yang benar-benar saya percayai sekarang adalah bahwa hanya cinta dan kebaikan yang dapat menaklukkan segalanya.


Dari point yang gw garis miring dan gw kasih warna merah, pernyataan lu di point kedua dan ketiga itu tidak relevan alias bersinggungan satu dan lainnya. Pertama, di point kedua, lu bilang lu sekarang percaya bahwa ada satu kekuatan yang menciptakan segalanya. Lalu kemudian, di point ketiga, disitu lu bilang bahwa lu gak percaya dengan Tuhan. Jadi yang bener yang mana??

Apakah lu di India sana benar-benar memahami semuanya atau hanya sekedar baca?? Kalau lu bener-bener memahami itu semua, seharusnya lu percaya bahwa Tuhan itu ada. Kenapa? Semua isi pemahaman yang ada dalam setiap agama itu pasti diawali dengan yang sama dan menuju ke akhiran yang sama juga (sebutannya memang berbeda-beda tapi artinya sama).

***

Kesimpulan yang gw baca berarti lu itu sekarang adalah seorang atheis, atau agnostic?? Yah gw anggep aja lu itu butuh bukti keberadaan Tuhan agar lu percaya, begitu saja yah biar gampangnya emoticon-Big Grin

Buktinya yah alam semesta ini. "Yang lebih spesifik dong."

Untuk saat ini kita (baca ilmu pengetahuan) belum bisa menuju kesana, tapi suatu saat pasti kita bisa menemukan jawaban yang lebih spesifik untuk itu. Yang penting, bukti bahwa keberadaan-Nya itu yah memang ada. Itu kan yang penting hehe.

Sama aja kayak gw dulu yang gak percaya bahwa manusia bisa membuat Piramid dan Candi Borobudur, tapi buktinya memang nyata adanya. Bukti bahwa keberadaan Piramid dan Candi Borobudur itu memang ada, dan siapa lagi yang membuat itu kalau bukan manusia, bener kan emoticon-Big Grin

***

Balik lagi ke permasalahan lu. Gw gak peduli kalau lu itu gak percaya dengan agama, tapi lu itu harus percaya dengan yang namanya Sang Pencipta. Urusan kepercayaan di Indonesia ini memang mengkhawatirkan, asli. Mau gak mau, yang punya pemikiran diluar agama (baca open minded) itu pasti akan salah dimata mereka.

Jadi, kalau kata gw, jalanin aja apa yang lu percaya. Lu itu udah dewasa, harus punya prinsip hidup. Lu bukan lagi anak kecil yang harus selalu diberitahu dan diarahkan oleh orangtua lu. Lu juga pasti sudah tahu mana yang namanya salah dan mana yang namanya benar. Jadi kembali ke diri lu sendiri.

Kalau apa yang lu jalani sekarang adalah yang terbaik buat lu, yaudah jalani saja. Dan kalau jalan yang lu tempuh sekarang ternyata salah nantinya, yah itu juga konsekuensi yang harus lu tanggung dengan sendirinya emoticon-Angkat Beer
profile-picture
profile-picture
profile-picture
gojira48 dan 2 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh panjul1993
Lihat 1 balasan
tenang sis... gw tau hidup ini penuh misteri... misteriusnya hidup ini jangan di bawa serius... kita ini negara santai... bawa santai aja let it flow semua ini akan terjawab pada waktunya, walaupun pada saat waktu itu tiba kita udah gak ada lagi di dunia...

gw sebagai salah satu orang yang "penuh pura pura" dalam menjalani agama... gw pun berfikiran sama bahwa, teori monyet dan teori mukjizat itu benar2 bagaikan api dan air tapi dua duanya sama sama nyata dan berwujud.... tinggal kita nya aja menjalani nya sebaik mungkin menghadapi realita spiritual maupun kenyataan logika emoticon-Angkat Beer

~blezzernet
profile-picture
profile-picture
TheTrueMayhem dan kakekane.cell memberi reputasi
jejak
profile-picture
kakekane.cell memberi reputasi
Balasan post streisouls
@DomCobbTotem terlalu maju pikirannya ...umat manusia ga kan pernah maju berkembang klo tidak dikasih kesempatan oleh Allah...

Manusia hanya hambaNya... hidup di dunia dengan aturan aturan yg sudah ditetapkan...

Yakin teknologi mampu mengalahkan segalanya ?

Belajar harus, pinter harus tapi ga jadi kebablasan tanpa Tuhan...

Faktanya teknologi sudah sebegini canggihnya ... hanya bisa mendeteksi gempa, tsunami, gunung meletus.. tapi tidak kan mampu mencegahnya..

Ilmiah sah sah saja... tapi Tanpa ada izin Allah disitu hal yg diakalmu mampu pun bisa menjadi tak berdaya jika tanpa izin Nya...

Buktikan dengan ilmiahmu cegah malam, biarkan siang... bukankah itu sistem alam semesta yg sudah Allah ciptakan untuk kita berfikir..


profile-picture
kakekane.cell memberi reputasi
Susah ya, pingin jujur, tp kalau jujur ibunya ga kuat buat menerima kenyataan.

Kl saya pribadi prefer jaga perasaan ibu dulu aja.

Jadi gini, mbak-nya kan punya pandangan ttg Tuhan yg lebih luas. Artinya pandangan mbak ttg Tuhan, mestinya lebih mampu menaungi pemahaman ibu mbak ttg Tuhan.

Yg besar menaungi yg kecil.

Jgn yg kecil dipaksa utk menampung yg besar. Nanti akan menderita, bahkan pecah, tdk kuat utk menanggung.
profile-picture
kakekane.cell memberi reputasi
Diubah oleh lonelylontong
tidak si karna beragama dr orngtua itu turunan atau warisan bukan pilihan
Halaman 1 dari 4


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di