alexa-tracking
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Sports / Sports /
Membandingkan Bulutangkis Dengan Sepak Bola. Kapan PSSI Mau Belajar Dari PBSI?
5 stars - based on 3 vote 5 stars 0 stars
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5d745506af7e932ec344bb58/membandingkan-bulutangkis-dengan-sepak-bola-kapan-pssi-mau-belajar-dari-pbsi

Membandingkan Bulutangkis Dengan Sepak Bola. Kapan PSSI Mau Belajar Dari PBSI?

Membandingkan Bulutangkis Dengan Sepak Bola. Kapan PSSI Mau Belajar Dari PBSI?
gbr diambil dari : bolasport.com

Pertama-tama saya harus menekankan bahwa ini hanya sebuah opini pribadi, kalau ada salah kata mohon dimaafkan, kalau ada yang ingin berdiskusi dan berdebat saya sambut dengan tangan terbuka. Tujuan tulisan ini hanya membuka sebuah diskusi saja.

Semenjak saya lahir dan besar di Indonesia, ada tiga olahraga yang sejauh sepengetahuan saya memiliki jumlah penggemar yang besar di Indonesia ini : Sepakbola, Bulutangkis, danTinju.

Saya ingat sewaktu hanya ada satu stasiun TV di Indonesia, setiap kali ada siarang langsung TVRI yang berhubungan dengan tiga olahraga di atas, bisa dijamin jalan di depan rumah saya langsung sepi, karena sebagian besar orang memilih untuk menunggu di depan TV. Kalah menangnya atlet Indonesia di tiga jenis olahraga ini, akan menjadi bahan pembicaraan selama berhari-hari.

Saya tertarik membahas bulutangkis dan sepakbola, karena sedemikian besar animo masyarakat Indonesia terhadap kedua olahraga tersebut, namun seakan seperti bumi dan langit, prestasi antara bulutangkis dan sepak bola.

Berikut ini beberapa perbandingan saya antara bulutangkis dengan sepakbola :

Prestasi di dunia Internasional
Bulutangkis : atlet-atlet bulutangkis Indonesia berprestasi di tingkat internasional, sampai-sampai tidak sedikit negara-negara luar yang mempekerjakan mereka sebagai pelatih tim nasional bulutangkis mereka.

Sampai sekarang Indonesia masih menjadi langganan juara di berbagai kompetisi bulutangkis tingkat internasional. Bahkan saya rasa tidak berlebihan kalau saya katakan, bahwa Indonesia adalah salah satu negara yang menjadi acuan jika kita bicara tentang bulutangkis.

Sepakbola : pernah  merajai asia, perlahan-lahan prestasi persepak bolaan Indonesia justru terus menerus menurun, hingga rasanya mulai terjun bebas, ketika negara-negara seperti Filipina, Vietnam dan Kamboja yang dulu jadi lumbung gol bagi Indonesia, sekarang justru menjadi ancaman.

Ada beberapa atlet sepakbola yang berprestasi di tingkat Internasional, tetapi sampai saat ini, rasanya masih sulit untuk dikatakan mereka sudah berhasil menerobos masuk pasar internasional. Belum ada sosok seperti Hidetoshi Nakata atau Park Ji Sung, yang menjadi perintis masuknya pemain sepakbola dari negara-nya masuk ke kompetisi utama di dunia.

Alih-alih mengirim pemain Indonesia merajai di kompetisi luar negeri. Yang terjadi justru arus masuknya pemain asing kelas tiga ke Indonesia dan sekarang banyak naturalisasi pemain asing yang bagi saya pribadi terasa sebagai satu kemunduran, bukan kemajuan.

Supporter
Bulutangkis : jarang terdengar ada dilakukan oleh suporter bulu tangkis. Jarang, atau bahkan tidak pernah, ada kerusuhan saat menonton pertandingan bulutangkis. Dengan demikian, tidak ada perasaan khawatir untuk datang dan menonton secara langsung. Hal ini menurut saya juga berpengaruh pada prestasi dunia bulutangkis kita.

Rasa aman berpengaruh dengan luasan masyarakat yang datang dan berpartisipasi baik sebagai supporter maupun pemain. Yang tentu saja kemudian berpengaruh terhadap pertumbuhan dan prestasi olahraga ini.

Sepakbola : jaman saya kecil dulu, setiap kali ada pertandingan antara Arema vs Persebaya, otomatis jalan raya sepi karena pemilik mobil berjaga-jaga dengan arus suporter yang pulang setelah menonton pertandingan.

Bukan apa-apa, siapa pun yang menang, luapan emosi dari kelompok suporter yang kalah, seperti sudah jadi satu agenda.

Kompetisi
Bulutangkis : kompetisi berjalan dengan ketat, mulai usia yang sangat muda. Kalau pernah datang ke klub-klub bulutangkis seperti misalnya Suryanaga di Surabaya, anda bisa lihat bocah kecil berlatih dedngan keras.

Kompetisi berjalan dengan ketatnya dari satu jenjang usia ke jenjang usia berikutnya, tidak mudah bagi seseorang yang bercita-cita menjadi seorang atlet bulutangkis untuk lolos pelatda, apalagi pelatnas.

Sepakbola : kompetisi berjalan dengan diwarnai banyak isu yang tidak sedap. Di usia muda, isu orang tua yang menyisipkan sejumlah uang agar anaknya bisa dimasukkan ke dalam tim, ada isu pelatih yang mencuri umur.

Di kompetisi profesional, isu jual beli skor, wasit yang bisa dibeli, bahkan sampai pengurus PSSI-nya pun tidak terhindar dari isu-isu tidak sedap.

------------------------------------------

Bagi saya pribadi, timnas sepakbola Indonesia lebih kejam dari mantan isteri/pacar. Kalau mantan isteri/pacar, sakitnya tuh cuma sekali, setelah itu bubar. Kalau timnas, dari waktu ke waktu, selalu ada saja berita yang menjanjikan

Setiap kali ada kompetisi di tingkat internasional (meski hanya tingkat ASEAN), selalu ada harapan yang perlahan membubung tinggi. Sebelum kemudian hati kita dihancurkan dengan penampilan yang mengecewakan.

Bagi saya pribadi menonton siaran langsung timnas Indonesia, tidak kalah seru dengan menonton la liga atau Piala Champion, bukan karena skill permainan yang ditampilkan, tetapi karena kedekatan emosional antara saya dan timnas yang sedang bertanding.

Tetapi seperti cinta tak berbalas, janji prestasi PSSI sampai sekarang belum juga terbayarkan.

Bagi saya pribadi mungkin yang paling berkesan adalah kiprah timnas di Piala Asia 1996. Meskipun mereka gagal lolos dari grup, tapi perjuangan mereka melawan tim-tim kuat, membuat saya respect terhadap timnas waktu itu.

Harapan saya pada pemerintah, bersihkan PSSI dari benalu-benalu yang membuat PSSI busuk dari dalam. Sanksi FIFA buat saya tidak masalah, tidak ada gunanya diijinkan berkompetisi di tingkat internasional, jika tidak ada prestasi yang ditunjukkan.

Perbaiki kompetisi dalam negeri, berhenti berusaha mencari prestasi dengan cara instan, mengirim pemain elit keluar negeri seperti proyek Primavera, atau sekarang dengan jalan naturalisasi pemain asing, menurut saya bukanlah cara untuk membentuk timnas yang berprestasi.

Lebih baik belajar dari kompetisi yang ketat dan berjenjang yang terbentuk di olahraga bulutangkis. Pemain akan tumbuh kuat dalam kompetisi yang sehat dan ketat.

Sementara saya, seperti ABG bucin, dengan hati penuh luka, aku dalam diam menanti prestasi sepakbola Indonesia.

Sumber : opini pribadi
profile-picture
profile-picture
profile-picture
hvzalf dan 11 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh lonelylontong
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Halaman 1 dari 4
benar jg ya belum pernah dengar suporter bulutangkis berantem
nice thread
profile-picture
profile-picture
profile-picture
balapbekicot dan 3 lainnya memberi reputasi
Lihat 1 balasan
mendingan jadi penggemar badminton daripada penggemar sepakbola Indonesia
alasannya udah dijabarin ya ama TS emoticon-Ngacir
profile-picture
pein666 memberi reputasi
kalo menurut saya antara bulu tangkis sama sepak bola itu ngga apple to apple
karena segmentasi sepak bola sm bultang itu menurut ane beda
Lihat 2 balasan
Balasan post secondstriker06
Tapi menurut saya, pola kompetisi yang ketat, berjenjang dan sehat, yang ada pada bulutangkis, bisa dicontoh oleh PSSI.

Membangun timnas sepakbola yang kuat jangan pakai cara instant (proyek primavera, naturalisasi pemain asing, dsb). Tapi bangun kompetisi yang benar, mulai dari usia muda, sampai kompetisi profesional.

Kalau kompetisi dalam negeri sudah sehat, baru kita bisa berharap ada timnas yang kuat.

Supporter jangan berpikir dangkal dan kedaerahan, tapi lihat juga gambaran yang lebih luas.

Ingat pemain2 tim lawan itu, kalau hebat, nanti jadi pemain timnas.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
pengomon dan 2 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh lonelylontong
PSSI perlu dibekukan minimal 5 tahun & stop dana bantuan dr pemerintah,
biar PSSI bisa benar2 bersih dr mafia2 & benalu...

Pemborosan anggaran krn sangat minim prestasi...
profile-picture
profile-picture
profile-picture
wahyu.ramadhan dan 3 lainnya memberi reputasi
lebih suka nonton badminton daripada nonton bola emoticon-I Love Indonesia
Balasan post secondstriker06
@lonelylontong Sepakat gan

Bottom Up, bukan Top Down

Saya juga mikir lucu kita berharap banyak dengan timnas Bola kita yang jauh dari kata HEBAT.

Pembinaan ini URGEN
profile-picture
lonelylontong memberi reputasi
sekarang DJARUM udah ngumumin kalau bakalan angkat kaki buat cari talenta muda ke pelosok pelosok negeri
dengan kata lain pupus sudah regenerasi dari para atlit dengan nama besar saar ini seperti Minions ataupun Ginting , Jojo DLL

selamat ya , selamat membanggakan sepakbola dengan supporter yang teramat anarkis serta PSSI korup yang sangat busuk emoticon-shakehand

nama Indonesia dimata orang luar semakin hari semakin menjadi TOXIC dalam kancah olahraga tinggal tunggu waktu untuk meredup dan terpuruk saja emoticon-Angkat Beer
profile-picture
profile-picture
esaka.kedua dan todzzz memberi reputasi


Quote:


makin mantap kan kehidupan Bangsa ini, emoticon-I Love Indonesia

profile-picture
Betjanda memberi reputasi
Quote:


Dan susahnya supporter2 itu kalau diingatkan, malah cenderung defensif dan membela kelakuan2 yg negatif dgn berbagai alasan.

Sebuah sikap yang tidak dewasa, alih2 memperbaiki diri, mereka memilih utk saling lempar kesalahan.
profile-picture
pengomon memberi reputasi
Quote:


Menurut saya, Dibanned FIFA atau enggak, orang2 benalu di PSSI tetep bisa cari pemasukan. Intinya sih kalo tarkam lokalan doang sudah menguntungkan, ngapain harus capek2 mikirin internasional. Toh banyak supporter bola lokal yg jalan pikirannya pendek, mudah digerakkan dan ditipu.

Nah andai liga Sepakbola lokal dibekukan, pelarangan hajatan bola lokal selama 30 tahun, baru deh yg petinggi2 benalu itu pada ngamuk, kehilangan sumber duit.
profile-picture
profile-picture
pengomon dan lonelylontong memberi reputasi
Diubah oleh karyanakbangs4
Lah PBSI bisa maju karena dah punya blue print pembinaan atlet yang jelas.Sebenarnya PSSI juga punya tapi gara-gara Alm.Nugraha Besoes semua jadi sirna.Saya lihat di PBSI gak pernah lahir orang macam Alm.Nugraha Besoes jadi bultang masih bisa berprestasi sampai sekarang.Tapi semenjak PB Djarum diusik KPA(njing)I dan yayasan Lentera A(njing)nak saya berani taruhan beberapa tahun ke depan bultang Indonesia bakal kalah lawan negara asing aseng asong.Dan saat itulah satu-satunya prestasi Indonesia yang mendunia tinggal juara baca Al quran saja.
profile-picture
lonelylontong memberi reputasi
Quote:


Sedih amat gan prediksi masa depannya.

emoticon-Mewek

Terus terang ane suka ngiri ama Jepang, kalau lagi baca manga olahraga mereka.

Bayangin aja mulai dr tingkat SD sdh ada kompetisi antar sekolah, mulai tingkat propinsi sampai nasional.
profile-picture
pengomon memberi reputasi
Jangan bandingkan penonton bultang dengan bolaemoticon-Leh Uga
Penonton bultang lebih bersahajaemoticon-Cool
Penonton bola ya gitu deh, kemarin keroyok orang sampe matiemoticon-Cape d... (S)

Ane bukan penonton bultang ya, tapi tau pas mereka dapat emas kemarin di asean gamesemoticon-Matabelo
profile-picture
lonelylontong memberi reputasi
Quote:


Lah kalo prestasi baca al quran juga dinyinyirin, dimaki maki, dianggap kemunduran, maka saat itulah indonesia tidak punya prestasi apapun. emoticon-Ngakak

Tidur tiduran aja udah emoticon-Ngakak
profile-picture
pengomon memberi reputasi
Diubah oleh karyanakbangs4
Quote:


Ya karena di Jepang gak ada lembaga gabut tukang borosin anggaran macam KPAI dan yayasan lentera anak makanya event apapun disana pasti lancar tanpa hambatan.Nah kalau di Indonesia mau buat event olahraga kayak di Jepang pasti dipalak dinas,federasi olahraga daerah,ormas,si hijau dan coklat bersaudara.Satu-satunya event yang sedikit palakan di Indonesia cuma lomba baca Al quran saja makanya ane berani prediksi kaya gitu
profile-picture
lonelylontong memberi reputasi
Quote:


Dengan atmosfer seperti itu, minimal ga ada kesan negatif dr orang tua yang anaknya pgn terjun ke dunia bulu tangkis.
Quote:


Penonton bola itu udah mirip spt ormas, bahkan ada AD/ART, ada ketua, skretaris, bendahara, korlap. Lah kalo bulutangkis cuman buat seneng2 doang, nonton dirumah aja juga udah cukup.
kasih makan 22 orang dan ribuan pengikutnya beda sama kasih makan....5 orang dan ratusan pengikutnya? itu aja sih emoticon-Ngacir
Kapan PSSI Mau Belajar Dari PBSI?

Jawabannya: Tak akan pernah

emoticon-Cool
Halaman 1 dari 4


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di