alexa-tracking
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Cinta Dua Generasi (Novel bukan Picisan)
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5d737b37c820844e0149b49f/cinta-dua-generasi-novel-bukan-picisan

Cinta Dua Generasi (Novel bukan Picisan)

Tampilkan isi Thread
Halaman 4 dari 6
Quote:


masang perangkap eh jejak dulu dsini emoticon-Big Grin
Quote:

Silahkan gan :v
profile-picture
profile-picture
penikmatindie dan michaaaaa memberi reputasi
gw belum baca nih. krna penulisannya kurang sedap dipandang.
coba di perbaiki penulisannya gan. biar enak bacanya
kalau bisa untuk dialog percakapannya di quote atau dikasih tanda bacanya...

lancrotkan...
emoticon-Cendol (S)
Diubah oleh nichi07
apakah Bima adalah anak dari pak Herman?
ceritanya menarik gans
ntapss jiewa emoticon-Leh Uga
udpate gan
lanjutken gannemoticon-Toast
Belum update ni gan?emoticon-Lempar Bata
Updatelaemoticon-Cendol Gan
9. Tanpa kabar, tiba-tiba saja Vienna datang ke rumah setelah kejadian semalam. Katanya, ingin menemui mama Wulan. Tapi seperti biasa, bundaku sedang bekerja dari pagi sampai sore. Jadi, ia memilih untuk ikut denganku bekerja di toko Koh Hendra. Aku sudah berusaha melarangnya, karena aku merasa tidak enak dengan Koh Hendra kalau harus membuatnya menerima pegawai lagi. Tapi Vienna tetap saja bersikukuh untuk ikut, dia akan membantu sukarela tanpa gaji katanya, dia juga ingin mengenal Meisha, dan ingin menghabiskan waktu denganku di liburannya kali ini. Sekarang, aku sedang berusaha mencari kata-kata yang tepat untuk menjelaskan kedatangan Vienna ke toko ini. Mata Meisha menatapku tajam saat aku datang dengan seorang perempuan, meminta penjelasan.
"Jadi, perkenalkan ini adalah Vienna, Vienna ini adalah Meisha" ucapku berusaha mencairkan suasana, yang ternyata gagal.
"Oh, jadi ini Vienna yang kau sebut-sebut bidadari itu, mengapa kau membawanya kesini?" nada permusuhan terdengar jelas dari nada suaranya. Aku merasa sangat malu, karena secara tidak langsung Meisha baru saja mengatakan kalau aku sering membicarakan Vienna.
"Dia ingin bekerja di toko Mei, di mana Koh Hendra?"
"Maaf Bim, tapi saat ini kami tidak memerlukan pekerja tambahan."
"Aku hanya ingin membantu, tanpa bayaran." Vienna berusaha menjelaskan.
"Baiklah kalau begitu, aku akan memberitahu papa nanti Bim, papa sedang membeli sesuatu." Lalu Meishapun langsung melanjutkan perkerjannya.
"Jadi kau memanggilku bidadari?" godanya
"Lupakan yang diucapkan Mei." ucapku mengelak.
"Mengapa kau memanggilku bidadari Bim?" tanyanya lagi.
"Entahlah, karena kau cantik Vie."Ucapku ragu.
Kulihat pipinya memerah, buru-buru dia pergi.
Kamipun mulai merapikan beberapa barang, dan melayani pelanggan. Saat toko sedang sepi, kami habiskan waktu dengan bernostalgia tentang masa kecil, dan yang terjadi kepada Vienna dan aku saat berpisah selama sepuluh tahun.

Tidak terasa, akhirnya selesai sudah pekerjaan hari ini. Vienna sangat bersemangat di perjalanan pulang ke rumah. Aku lihat ibu sedang menyapu teras rumah.
"Bunda!" Teriakku, sambil melambaikan tangan lalu berjalan mendekat.
"Siapa ini Bim?" Mata bunda menatap wajah Vienna, seperti saat Ningsih menatap wajahku.
"Ma, ini Vienna ma. Anak bu Ningsih." Vienna langsung memeluk bunda, sedangkan bunda terdiam kaget, tidak bereaksi.
Bunda melepaskan pelukkan Vienna, lalu menyentuh wajah Vienna.
"Sekarang kamu sudah tumbuh dewasa Vie, cantik." Mata bunda berkaca-kaca.
"Terimakasih ma, Vie merindukan mama sepuluh tahun ini ma. Seperti mimpi, akhirnya Vie bisa bertempu dengan mama dan juga Bima lagi." ucapnya berkaca-kaca.
Kini merekapun saling berpelukan.
Seperti yang terjadi semalam, sudah tiga puluh menit berlalu kami duduk di ruang tamu, menjelaskan kepada bunda bagaimana kami bertemu, dan masih banyak lagi. Tapi saat kami menceritakan kejadian semalam bunda marah besar.
"Mengapa kau tidak bilang, kalau yang mengundangmu adalah Robert Barata! Kau tidak bertemu Herman Barata kan?"
"Bundakan tidak bertanya, dan tidak mungkin aku bisa bertemu dengan Pak Herman bun."
"Ingat Bim, jangan pernah kau datang ke rumah itu lagi."
"Kenapa bun? dan apa alasan bunda berhenti menjadi kepala pelayan?"
"Bunda akan menjelaskan semuanya Bim, tapi nanti saat bunda siap."
"Sudah malam, Vie pulang dulu ma, Bim."
"Dijemput Pak Ahmad?" tanyaku, tetapi raut wajah bunda mengeras dan kaget saat mendengar nama itu, Ahmad.
"Iya, Bim. Mama kenalkan dengan Pak Ahmad? dia sudah bekerja untuk pak Herman lebih dari tiga puluh tahun."
"Tentu saja mama kenal Vie. Bima antarlah Vienna sampai ke mobil."
"Iya bun."

Kuambil buku diari yang hampir penuh dari bawah kasur. Dan kuambil sebuah buku diari yang masih bersih dari tinta pena. Sudah kuputuskan mulai sekarang, aku beri nama buku diari ini buku 'Vienna', karena di dalam buku ini akan aku tuliskan segala hal tentang Vienna. Aku salin beberapa hal tentang Vienna yang dulu sempat aku catat di buku diari lama, dan aku tulis beberapa hal yang telah terjadi dengan Vienna. Dengan perasaan bahagia aku mengakhiri hari ini dan tertidur pulas.


Tidak terasa, sudah satu bulan berlalu yang berarti liburan telah habis. Setiap hari selama liburan Vienna datang, makin lama hubungan kami makin dekat. Aku semakin mengenal Vienna, begitu juga sebaliknya. Vienna bercerita, dia masih belum bisa menemukan papanya. Ya, sepertiku Vienna tidak pernah bertemu dengan papanya sedari lahir. Menurut mama Ningsih, papa Vienna pergi meninggalkannya sebelum Vienna sempat lahir, padahal mereka tidak memiliki masalah apapun. Vienna juga bercerita bahwa Robert menyukainya sudah lama, akhirnya saat Vienna kelas 9, Robert menyatakan perasaannya. Vienna lalu bercerita kepada mama Ningsih tentang pernyataan cinta dari Robert. Ningsih menyuruhnya menerima cinta Robert, dengan alasan agar Vienna bisa mendapat perlakuan istimewa, hidup bahagia, dan bisa melanjutkan sekolah SMA di B.I.S. Meskipun Vienna tidak mencintai Robert. Dengan terpaksa Viennapun menerimanya, dan memang benar Semenjak itu, Vienna diberikan sopir pribadi, ponsel bagus, segala serba mewah. Akan tetapi Vienna mengaku tidak pernah merasa bahagia, karena dia harus berpura-pura menyukai seseorang yang dia tidak suka. Saat aku menanyakan apa kejadian yang terjadi kepadanya, dia tidak pernah mau menjawab dan mengalihkan pembicaraan. Berdasarkan cerita Vienna juga, katanya semenjak kejadian malam itu Robert tidak pernah berbicara apa-apa kepadanya, dan Robert sudah berangkat ke Amerika dua minggu yang lalu.
Hubungan Vienna dan bundapun semakin dekat, sepulang dari toko Vienna selalu menemui bunda dan menceritakan kehidupannya setelah bunda pergi dari rumah Herman Barata. Bunda juga menitipkan salam untuk Ningsih, sahabat terbaik katanya.
Sebaliknya, hubunganku dengan Meisha makin merenggang. Meisha sudah sangat jarang sekali berbicara denganku, setiap kali aku ataupun Vienna mencoba mengajaknya berbicara Meisha selalu berusaha menyudahi pembicaraan dengan alasan pekerjaan. Dugaanku, Meisha membenci Vienna, entah untuk alasan apa aku masih tidak tahu.
Hari terakhir liburan, Vienna mengucapkan terimakasih karena sudah menemani liburannya, dan dia mengaku ini adalah liburan terbaiknya. Sejujurnya, aku juga merasa seperti itu. Aku merasa sangat bahagia bisa menghabiskan liburan bersama Vienna, dan sebenarnya akulah yang seharusnya berterimakasih kepadanya. Vienna juga memintaku untuk menjaga rahasianya bahwa dia tinggal di rumah Robert, karena jika murid-murid tahu, maka kemungkinan besar akan banyak rumor jelek tentang dirinya. Buku 'Vienna' juga kini sudah dipenuhi tulisan-tulisanku.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
idner69 dan 10 lainnya memberi reputasi
Lihat 1 balasan
keren...ditunggu next apdetnya gan.jgn kelamaan biar ngga lupa sama part sblmnya.capek baca ulang...cek kulkas gan,ada ijo2 ane delivered emoticon-Shakehand2
profile-picture
notararename memberi reputasi
Akhirnya update, seetelah ditunggu2. Mantab gann lanjoettttkan!emoticon-Wowcantik emoticon-Wowcantik emoticon-thumbsup emoticon-thumbsup
profile-picture
notararename memberi reputasi
Balasan post notararename
Akhirnya up date lagi,kerinduanku terobati.
Tapi masih berasa kurang aja nih...emoticon-Wowcantik
profile-picture
notararename memberi reputasi
lanjut lagi gan....
Mantaff gannemoticon-Menang emoticon-Menang
naik kelas ne si bima, mantabb😯
Quote:


Quote:


Quote:


Quote:


Quote:

makasih supportnya gan

Quote:

iya wkwkwk
profile-picture
profile-picture
w2b.millenial dan michaaaaa memberi reputasi
10. Hari ini aku adalah siswa kelas sebelas, begitu pula dengan beberapa murid lainnya. Aku melihat beberapa murid baru dengan seragam sekolah sebelumnya masing-masing memasuki gerbang sekolah malu-malu, beberapa bahagia karena bisa bertemu dengan teman, dan beberapa kecewa karena liburan berakhir. Sedangkan aku, belum menentukan harus bahagia atau kecewa. Aku akan memutuskan itu setelah aku mengetahui apakah aku sekelas dengan Vienna atau tidak. Dengan langkah cepat aku berjalan ke koridor tempat ruangan kelas sebelas berada. Aku baca kertas berisi daftar nama murid yang tertempel di depan pintu tiap-tiap ruang kelas. Kelas pertama tidak terdapat namaku maupun Vienna, kelas kedua tidak, kelas ketiga juga tidak. Sekarang aku sudah memutuskan aku bahagia. Aku menuju ke kelas terakhir XI MIPA-4 dan membaca daftar nama murid yang berada di kelas ini, benar saja aku dan Vienna berada di kelas yang sama. Langsung saja aku masuk ke kelas, yang ternyata masih sepi yang berarti aku bisa bebas memilih tempat duduk. Seperti biasa aku duduk di pojok kanan, sebenarnya aku ingin keluar kelas untuk melihat murid-murid baru. Tetapi, aku ingin menjaga kursi disebelahku agar tidak diduduki oleh orang lain, walaupun aku cukup yakin tidak ada yang ingin duduk denganku. Beberapa menit kemudian, Vienna datang dengan senyum lebar di wajahnya dan langsung menuju ke tempat dudukku.
"Baguslah ternyata kita sekelas Bim."
"Iya, semoga saja walikelas kita yang baru tidak membuat denah tempat duduk. Supaya kita bisa duduk bersebelahan."
"Iya, Bim."
"Jeruptor, belum berhenti dari sekolah" Ucap seseorang disusul dengan tertawaan siswa-siswi kelasku. Aku melihat apa yang sedang terjadi. Seorang lelaki bertubuh jangkung, berambut pendek sedang berdiri di pintu kelas dengan wajah tertunduk. Dia berjalan ke salah satu meja di tengah dan menaruh tasnya di atas meja tersebut, menghiraukan ejekan dari para murid yang lain.
Seorang lelaki yang duduk di depan yang tadi mengejeknya berdiri, berjalan ke tempat duduknya dan melempar tasnya kebelakang. Entah sengaja atau tidak mengenai kepala Vienna, hingga membuatnya hampir jatuh. Aku tidak tahu dia pura-pura tidak melihat, atau memang tidak melihat, ia melanjutkan perundungan yang sedang dilakukannya terhadap seorang lelaki yang dipanggil 'Jeruptor'.
"Uang hasil korupsi tidak seharusnya digunakan untuk sekolah disini, terlebih duduk di antara kami. Tidak sudi!"
Sebenarnya, aku tidak peduli dan tidak ingin mencampuri urusan mereka. Hanya saja tas yang dilempar oleh si tukang rundung tersebut mengenai seorang sahabat yang sangat aku sayangi. Aku langsung berdiri saat melihat mata Vienna berkaca-kaca.
"Woy, sini kau, minta maaf dengan Vienna!" teriakku sambil menunjuk si tukang rundung yang aku tidak tahu namanya itu. Dia menoleh tajam ke arahku.
"Salah dia sendiri duduk di sana." Jawabnya angkuh. Aku kaget dengan jawabannya, tidak biasanya orang berani dengan Vienna. Mungkin berita Vienna dan Robert putus telah tersebar, atau mungkin karena Robert sudah tidak disini mereka jadi berani dengan Vienna, entahlah.
Dengan emosi yang memuncak aku ambil tas yang tadi dilemparnya, dan aku lemparkan tas itu ke kepalanya dengan keras. Kelas yang tadi ricuh karena perundungan yang terjadi terhadap Jeruptor kini senyap, kaget melihat yang baru saja terjadi.
"baik! Si Gondrong Taik!" ucapnya sambil berjalan ke arahku. Akupun langsung bersiap-siap untuk berkelahi. Lalu, seorang temannya memegang tubuhnya dan menghalanginya mendatangiku. Aku juga merasakan, sebuah tangan lembut sedang memegang tanganku.
"Ingat, sudah berapa kali kau diberikan sanksi Ben." Tersadar akan perkataan temannya, si tukang rundung tersebut menatapku tajam dan mengancam.
"Beruntung, ini jam sekolah. Aku tunggu kau di luar gerbang sekolah setelah jam sekolah selesai!" Ucapnya lalu kembali ke tempat duduknya.
Akupun lalu duduk juga dikursiku, aku usap kepalanya.
"Sakit?"
"Sudah tidak terlalu sakit lagi. Bagaimana sekarang Bim? Aku tidak ingin kamu berkelahi karena aku Bim. "
"Siapa bilang aku berkelahi karena kamu Vie? aku melakukan itu karena dia sudah menyakiti aku Vie."
"Yang terkena tas tadikan aku Bim"
"Ya, kalau kamu tersakiti, aku juga tersakiti Vie. Tidak perlu khawatir Vie, kamu kan tahu bagaimana kemampuanku" ucapku sombong untuk menghiburnya.
Seseorang datang, mengakhiri percakapan kami yang belum selesai ini.
"Terimakasih" Aku menoleh, ternyata Jericho, kini aku bisa melihat jelas wajahnya. Wajahnya lonjong, putih, bisa dibilang seorang yang tampan.
"Tidak perlu berterimakasih kepadaku, aku hanya melakukannya karena dia sudah melempar tas ke arah yang salah"
"Tetap saja, aku sudah pasti akan dirundung kalau bukan karena kau."
Lalu, dia menunjuk meja yang ada di depanku dan berkata :
"Boleh aku duduk disini?"
"Silahkan saja"
"Jericho" ucapnya sambil menjulurkan tangannya, setelah duduk.
"Bima" Ucapku sambil menjabat tangannya.
"Ini Vienna" Ucapku sambil menunjuk Vienna, dan Viennapun tersenyum sopan.
"Tentu saja, semua orang di sekolah ini tahu tentang Vienna."
Bu Anna, guru matematika masuk ke dalam kelas dan menyudahi obrolan kami. Ternyata, Anna akan menjadi wali kelas kami untuk satu tahun kedepan. Seperti biasa, beberapa jam pelajaran di hari pertama digunakan bukan untuk belajar, tapi untuk menyusun perangkat kelas, memberikan informasi tambahan seperti jadwal pelajaran, dan hal lainnya.
Tidak peduli, Aku dan Vienna menghabiskan waktu dengan berbicara dengan Jericho.

Beginilah informasi yang aku dapatkan dari Jericho.
Tinggal bersama seorang pembantu di sebuah rumah yang besar. Jericho, orang memanggil dia Jeruptor karena beberapa minggu setelah dia masuk ke sekolah ini, ayahnya yang merupakan mantan anggota DPR ditangkap KPK karena kasus korupsi. Semenjak saat itu dia selalu dirundung, terlebih oleh lelaki tadi yang bernama Aben. Seorang ketua dari sebuah kelompok penerus kelompok Robert. Tetapi, beruntung setelah beberapa bulan, rundungan mulai berkurang. Sayangnya, beberapa minggu yang lalu KPK baru saja memberitakan bahwa hukuman ayahnya akan diperpanjang, karena KPK menemukan kasus korupsi lainnya yang berhubungan dengan ayahnya. Jericho juga mengatakan, hampir semua murid B.I.S. tahu akan Vienna karena kecantikannya, dan karena Vienna adalah pacar dari Robert. Menurutnya juga, aku tidak pernah dirundung walaupun aku bukan dari golongan orang kaya, karena perawakanku yang dianggap banyak orang menyeramkan. Setelah aku timbang memang aku tidak pernah dirundung, lebih dianggap seperti seorang yang tidak terlihat. Menurutnya lagi, setelah kepergian Robert, Kevin salah satu dari lima sahabat dekat Robert kemungkinan besar akan menggantikannya sebagai ketua dari kelompok mereka.

Beberapa menit setelah Bu Anna selesai mengatur kelas ini, bel istirahatpun berbunyi dan murid-murid berhamburan keluar kelas. Tidak terkecuali aku, yang saat ini ingin menuju ke toilet bersama Jericho. Sedangkan Vienna memilih untuk tidur-tiduran di dalam kelas.
Saat aku menuju ke toilet, aku merasakan banyak tatapan mata memandangku. Mungkin berita tentang kejadian di kelas tadi sudah sampai ke murid-murid sekolah. Berusaha untuk menghiraukannya, aku tetap berjalan ke toilet bersama Jericho yang sepertinya merasa salah tingkah ditatap oleh banyak pandang mata.
Satu langkah keluar dari toilet, sebuah tangan muncul tepat di dadaku, menghalangi jalanku. Muncul si pemilik tangan, yang ternyata adalah salah satu dari lima orang teman Robert yang pernah aku lihat saat Robert mengundangku ke acara perpisahannya. Di belakangnya aku lihat empat orang lainnya berdiri dengan tatapan mata penuh kebencian.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
idner69 dan 7 lainnya memberi reputasi
Lihat 2 balasan
Balasan post notararename
konflik nih, banyakin berantem-berantemnya lah wkkwkwkw
profile-picture
notararename memberi reputasi
Balasan post notararename
Gak percuma menyandang nama Bima,berani dan jantan ya!
Tapi pasti bakalan berat kedepannya karena yg dilawan adalah kekuatan uang.
Makasih udah up date.Makin seru ceritanya,gan.
profile-picture
notararename memberi reputasi
akan terjadi pertarungan nih untuk Bima
profile-picture
notararename memberi reputasi
Halaman 4 dari 6


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di