alexa-tracking
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Cinta Dua Generasi (Novel bukan Picisan)
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5d737b37c820844e0149b49f/cinta-dua-generasi-novel-bukan-picisan

Cinta Dua Generasi (Novel bukan Picisan)

Cinta Dua Generasi (Novel bukan Picisan)
Credit : pandaibesi666


Rasanya akan mengurangi keseruan cerita ini, jika kuberitahu cerita apa ini, maka lebih baik langsung saja ku ceritakan, dan silahkan membaca.

1. Prolog
Bima, biasa orang memanggilku. Ralat, setelah kutimbang, orang biasa lebih memilih untuk memanggilku si gondrong, itupun sangat jarang sekali mereka memanggilku. Hanya bunda, Koh Hendra pemilik toko kelontong tempatku bekerja, dan beberapa orang lainnya memanggil aku Bima. Ya, aku bukan orang yang mudah bergaul, dan juga kurasa tidak ada yang mau berteman denganku. Ini adalah hari ketujuh aku bersekolah di sekolah terbaik di Jakarta, atau mungkin tidak berlebihan jika kukatakan sekolah terbaik sekaligus termahal di Negri ini, Indonesia. Hanya anak dari pejabat-pejabat atau pengusaha kaya raya, yang mampu membiayai anaknya untuk sekolah disini, sekolah penghasil lulusan calon sukses, atau lebih dikenal dengan nama B.I.S. (Barata International School). Barata nama pemilik sekolah ini, seorang pengusaha kaya dan cerdas, setidaknya begitu yang kudengar dari bunda, Koh Hendra, dan siswa-siswa yang sedang bercengkrama satu sama lainnya di kantin. Sedangkan aku, duduk sendirian di pojok kanan kantin, tanpa ada satu orangpun yang sudi duduk denganku, barangkali karena tak ada yang tahu siapa itu Tabara pikirku, dan memang kenyataannya akupun tak tahu siapa itu Tabara,yang kutahu hanya itu adalah nama belakangku, dan bunda tidak pernah bercerita sedikitpun tentang ayahku. Lalu kembali aku memikirkan kejadian 7 hari yang lalu. Hari pertama aku bersekolah disini untuk melanjutkan pendidikanku setelat tamat dari smp."Halo, perkenalkan aku Bima Tabara." Ucapku ketika giliranku tiba, ya walikelas meminta kami untuk berdiri dan memperkenalkan nama masing-masing."Apa bidang pekerjaan ayahmu?" Tanya  siswa yang duduk di belakangku."Aku tak punya ayah" jawabku sedikit gemetar, entah sudah berapa kali aku menjawab pertanyaan ini, tetapi tetap saja aku bergetar ketika ditanya tentang ayah. Bunda tidak pernah bercerita apapun tentang ayah. Pernah sekali aku bertanya padanya, hanya kemarahan dan amukan yang kudapat darinya. Tak pernah sekalipun aku melihat seperti apa bentuk wajah ayahku.
"Lantas, bagaimana dengan ibumu?"Tanyanya lagi. "ibuku adalah seorang tukang cuci di rumah tetangga." kurang dari setedik setelah aku mengatakan itu, tiba-tiba saja seisi sekelas yang tenang berubah menjadi ricuh.
"bagaimana bisa dia bisa sekolah disini?" Dan masih banyak suara-suara lain yang sangking banyaknya, tidak dapat kutangkap semuanya.
"sudah-sudah, silahkan duduk, dan lanjutkan siswa sebelahnya"ujar sang guru, yang walaupun tidak membuat suasana kelas menjadi tenang seperti sebelumnya, tapi membantu mengurangi keributan didalam kelas yang terjadi karena aku.Terpikirla aku akan perkataan bunda.

"Apa benar tidak bisa bersekolah di tempat lain saja?" Tanya bunda, berbanding terbalik dengan ekspetasiku saat akan memberitahukan berita bahagia ini, bahwa aku mendapatkan  beasiswa di B.I.S., bukan beasiswa berupa potongan spp, tetapi benar-benar beasiswa penuh, dengan kata lain aku bisa belajar di sekolah terbaik di Negri ini, tanpa mengeluarkan biaya sedikitpun.
"Hanya sekolah ini bun yang bisa memberikanku beasiswa, lagipula kita tidak punya uang untuk membayar biaya sekolah sendiri, aku juga mungkin bisa melanjutkan studi  ke luar negri gratis dan memperbaiki keadaan kita bun."ucapku berseri-seri, bahkan Koh Hendra pun menyelamati aku ketika aku memberitahunya tentang berita ini. "Belajarla sungguh-sungguh, kelak ketika kamu sukses, jangan lupa dengan kokoh ya." pesannya.
"Bila memang itu maumu, yasudah..."

tteett....tteett....

Lonceng pertanda waktu istirahat habis membuyarkan kenanganku. Mungkin bunda tahu bahwa orang tak punya sepertiku mungkin akan kesulitan untuk bergaul di sekolah ini, sekolah para siswa yang katanya berpendidikan tinggi, dan kaya raya ini. Berdirila aku dan kutenteng roti yang tadi kubeli dan belum sempat kuhabiskan, dan berjalan menuju kelasku, X MIPA 3. Sesampainya di kelas aku langsung berjalan ke meja belakang pojok belakang kanan, entah kebetulan atau emang orang tanpa teman sepertiku diharuskan duduk di tempat yang tidak terlihat. Tetapi begitulah, berdasarkan denah tempat duduk yang sudah dibuat oleh walikelas, tempat dudukku adalah di paling belakang, sebelah kanan, sendirian.

1 minggu kemudian.....

Seperti biasa, walikelas masuk untuk memberikan briefing (sudah tradisi setiap pagi walikelas datang ke kelasnya masing-masing untuk memberikan informasi, ataupun wejangan-wejangan terhadap muridnya) walau lebih sering dilakukannya adalah memberikan nasihat nasihat picisan, seperti jagalah kebersihan sekolah, belajarlah sungguh-sungguh, dan masih banyak lagi.
"Hari ini, ada kedatangan siswi, direkomendasikan langsung oleh Herman Barata." Lantas bagaikan Dejavu dihari perkenalan aku 2 minggu yang lalu, terulang lagi kejadiannya. Suasa kelas menjadi ramai, dan akhirnya kudapatkan lah informasi. Singkatnya, sudah ada banyak isu-isu bahwa pacar dari Robert Barata, anak dari pemilik sekolah ini akan belajar disekolah ini. Kurasa hanya aku, yang tidak tahu siapa itu Robert Barata, sampai sekarang, baru aku tahu bahwa Heman Barata memiliki anak yang  memiliki prestasi luar biasa, dan sedang bersekolah juga disini, beda angkatan tapi. Ya, dia kelas 11. Tiba-tiba saja suasana kelas menjadi tenang, kuperhatikan wajah siswa-siswi di kelasku. Tak ada satupun yang berkedip, memandang ke depan, ke arah papan tulis. Bingung, akupun menoleh ke depan untuk melihat siapa gerangan yang bisa menenangkan kelas ini.

Memang bukan main cantiknya, hidungnya mancung, rambutnya panjang terurai lurus. Matanya tajam, siap menusuk siapapun yang menatap matanya yang bewarna cokelat itu. Badannya tidak kurus, juga tidak gembrot. Mukanya mulus, putih, seperti tidak pernah keluar rumah, dan pasti banyak uang dihabiskannya untuk perawatan pikirku. Benar-benar seperti Apsara (baca:bidadari) yang biasa kubaca di buku novel.
"Halo, perkenalkan namaku, Vienna."
Astaga, bahkan suaranya pun bisa menghiphotis siapapun yang mendegarnya, lembut dan halus. Berbanding terbalik dengan yang aku alami, tak ada satupun orang yang bertanya pekerjaan orangtuanya, nama belakangnya-pun tak ada yang berani tanya. Mungkin karena kecantikannya, murid menjadi tidak peduli dengan latar belakangnya, mungkin juga karena dia adalah pacar Robert, sehingga tak ada yang meragukan latar belakangnya.


buat yang mau baca via wattpad

Chapter I
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
Chapter II
10.
11.
12.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
penikmatindie dan 14 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh notararename
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Halaman 1 dari 6
Balasan post notararename
Yaah,ane bener2 sedih dengernya,gan. Sayang banget cerita bagus bgini harus berhenti d tengah jalan,dah final tuh keputusannya,gan?
Ane sih berharap agan ini bisa ditinjau ulang,tapi kalaupun itu udah gak bisa dirubah ane gak berhak ikut campur. Ane cuma berharap apapun yg diputuskan itu adalah yg terbaik.
Semoga kebaikan selalu menyertai,gan.
Permisi kaskusker sekalian,
ada kabar sedih nih gan.
Dikarenakan beberapa hal, ane memutuskan untuk tidak melanjutkan cerita ini. Makasih buat yang sudah baca, dan maaf banget karena ane tidak bisa menyelesaikan cerita ini.
profile-picture
profile-picture
ariid dan jiyanq memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Asikkk sih Bima bakal ngelawan nih. Berantem gaskeun
Makin seru nih... Si aben sdh sehrsnyw dikasih pelajaran
Balasan post notararename
Bima bener2 the real gentlement dah,yakin Vienna makin jatuh hati pdnya.
Btw,dah fit bodynya,gan? Ane angkat dua jempol dah d kasi update nih..emoticon-Toast
akhirnya update, mantab gan. LNJUTTTTT
profile-picture
soleh1177 memberi reputasi
Quote:


tengs apdetnya gan..cek kulkas biar semangat lg nulis emoticon-Leh Uga
profile-picture
notararename memberi reputasi
Akhirnya bisa update lagi. Maaf nih buat pembaca CDG, dikarenakan sibuk, jadi agak lama updatenya. Jangan lupa komen, cendol, dan share thread ini ya supaya threadnya ramai gan.emoticon-Cendol (S) emoticon-Cendol (S) emoticon-Betty (S) emoticon-Sundul Up emoticon-Sundul Up
profile-picture
profile-picture
profile-picture
soleh1177 dan 2 lainnya memberi reputasi
12. Ketika aku terbangun, jam sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi. Yang berarti semalam aku tertidur begitu pulas. Aku berdiri dari kasur, aku buka pintu dan aku lihat rumah Jericho. Rumahnya lumayan besar. Di lantai dua tempatku berada, ada beberapa ruangan, dan tepat di depan kamarku adalah tangga menuju ke lantai satu. Perlahan-lahan aku menuruni tangga. Aku melihat sebuah ruang tamu yang lumayan besar, dengan sebuah televisi ukuran besar. Aku berjalan lagi, aku melihat ada sebuah pintu kaca menuju halaman belakang rumah. Sekarang aku baru sadar, bagaimana parahnya kondisiku saat ini. Pakaianku masih pakaian sekolah yang kemarin aku pakai yang sekarang sudah kotor karena tanah dan darah. Di wajahku aku melihat beberapa kapas tertempel. Di lenganku ada beberapa goresan. Aku buka pintu kaca tersebut lalu berjalan ke halaman. Aku duduk di sebuah gazebo, memikirkan apa yang akan terjadi kedepannya, memikirkan mengenai surat-surat bunda, dan sebelum aku bisa memikirkan lebih banyak, suara perempuan memanggil namaku.
"Bima ya?" Aku menoleh ke arah pintu kaca, seorang perempuan paruh baya sedang tersenyum ramah kepadaku. Mungkin inilah bik Inem, pelayan di rumah Jericho.
"Iya." Jawabku sambil tersenyum juga, yang ternyata sedikit susah akibat luka di wajah.
"Mari masuk, saya sudah menyiapkan baju ganti di kamar. Setelah itu, silahkan makan, saya sudah siapkan makanan di meja tengah."
"Baiklah, terimakasih."

Aku habiskan waktu dengan berbincang dengan bik Inem. Darinya aku banyak tahu tentang Jericho yang membuatku merasa iba, juga senang karena membantunya saat dia dirundung. Jericho sudah tinggal sendirian jauh sebelum ayahnya ditangkap polisi satu tahun lalu. Dia tinggal sendirian semenjak kelas 7, saat ibunya meninggal akibat kanker. Ayahnya jarang sekali berada di rumah semenjak itu. Jericho yang merupakan seorang yang periang dan ceria, menjadi pemurung dan jarang berbicara. Terlebih setelah ayahnya ditangkap polisi, dia mengurung dirinya selama beberapa hari. Menurut bik Inem, Jericho adalah seorang anak yang cerdas dan baik. Bik Inem sudah merawat Jericho bahkan sebelum Jericho lahir ke dunia ini. Baginya, Jericho sudah seperti anaknya. Aku merasa kagum setelah aku mengetahui ternyata Jericho bersekolah menggunakan uang hasil usahanya sendiri. Ya, dia mengelola sebuah rumah makan yang menurut bik Inem cukup terkenal di kota ini dan sudah memiliki beberapa cabang. Rumah makan seafood bernama 'Jerfood' katanya. Tentu saja aku tidak tahu restoran apa itu, karena sudah pasti aku tidak bisa membayar untuk makan di suatu restoran. Setelah berbicara cukup lama, bik Inem permisi untuk membersihkan rumah, akupun memilih untuk berjalan-jalan mengelilingi rumah ini.
Rumah besar bercat putih ini, memiliki beberapa ruangan di lantai satu, dan beberapa ruangan di lantai dua. Aku tidak tahu pasti apa yang ada dibalik pintu, karena tidak sopan jika aku membuka satu-satu. Tidak sebesar rumah Herman Barata, tapi jauh lebih besar dari rumah kebanyakan orang. Selanjutnya aku menghabiskan waktu dengan menonton televisi dengan layar besar di ruang tamu. Kurang lebih pukul tiga sore, sebuah mobil memasuki pelataran rumah. Bingung dan cemas siapa yang datang kesini. Pintu bagian kanan terbuka, ternyata Jericho. Baru teringat olehku, emang kebanyakan murid B.I.S. Membawa mobil sendiri. Pintu bagian kiri terbuka, seorang bidadari cantik turun. Dengan senyum merekah bidadari itu berlari memasuki rumah dan duduk di sofa sebelahku.
"Masih sakit?"
"Sudah tidak sesakit kemarin."
"Di sekolah gimana?"
"Seperti biasa, tidak terjadi apa-apa."
"Oh baguslah kalau begitu. Sampai jam berapa disini?"
"Mungkin jam enam Bim, kamu masuk sekolah kapan?"
"Hmm, mungkin dua hari lagi Vie."
"Baiklah kalau begitu, kamu sudah menghubungi bundamu?"
"Belum Vie, ponsel aku tidak ada pulsa."
"Oh, ini pakai ponsel aku saja Bim." katanya sambil menyodorkan ponsel mahalnya.
Beberapa kali aku memanggil tidak diangkat. Hampir menyerah, akhirnya bunda pun mengangkat panggilanku.
"Halo, siapa ya?"
"Ini Bima bun. Pakai ponsel Vienna."
"Oh, kok tidak menghubungi bunda Bim kalau mau menginap di rumah teman?"
"Maaf bun, Bima ketiduran semalam. Tadi pagi buru-buru kesekolah jadi baru bisa menghubungi bunda sekarang,"
"Oh begitu, kapan kamu pulang Bim?"'
"Mungkin besok lusa bun."
"Baiklah Bim, hati-hati."
"Iya."
Panggilan berakhir, lalu saat aku ingin mengembalikan ponsel Vienna. Aku melihat sebuah notifikasi pesan dari Jericho : "Kita harus memberitahu Bima." Menyadari ada pesan dari Jericho, dengan salah tingkah Vienna buru-buru mengambil ponselnya.
"Memberitahu apa Vie?" tanyaku penasaran
"Bukan apa-apa Bim." Ucapnya sambil tertawa gugup.
"Jujur saja Vie, ada apa?"
Belum sempat menjawab, Jericho datang dengan muka serius.
"Bim, kau harus tahu yang tadi terjadi."
"Jer!" Teriak Vienna.
"Kenapa Jer?"
"Aben, merundung Vienna terus menerus di sekolah. Sekolah menjadi heboh akibat perkelahian kemarin. Sepertinya mereka juga akan merundung kau ketika kau nanti masuk, karena mereka melihat kau lemah." Vienna menatap Jericho tajam, tetapi Jericho tetap melanjutkan,
"Aku juga aku memberitahu Vienna tentang ini Bim." Sekarang giliran aku yang menatapnya tajam, dan Vienna yang menatap penasaran.
"Jericho!" menghiraukan aku, dia berkata,
"Sebenarnya Vie, kemarin Bima bukannya kalah dengan Aben. Saat kami ke toilet, Kevin menemui kami dan mengancam Bima akan menyebarkan suatu rahasia jika Bima melawan Aben."
Vienna membelalak kaget. Aku langsung berdiri, aku tarik kerah Jericho dan aku tatap matanya tajam-tajam.
"Apa maksud kau? bukannya kau sudah berjanji tidak akan memberitahu Vienna akan hal ini? Hah?"
"Maaf Bim, tapi menurut aku ini lah yang terbaik."
"Bima, kenapa kamu tidak bilang ke aku?" Vienna berkata pelan, aku melihat matanya menjadi merah. Aku lepaskan tanganku dari Jericho, lalu duduk disebelahnya. Dia melanjutkan,
"Maafkan aku Bim, karena aku kamu menjadi babak belur. Kamu dipukul di depan para murid, karena aku Bim!!." Kini dia menangis. Aku memeluknya, menenangkan dirinya. Aku usap rambutnya, dan berkata.
"Tidak Vie, tidak sama sekali. Aku hanya ingin melindungi sahabatku, dan ini semua karena aku mau bukan karena kamu Vie. Jangan menangis dan menyalahi dirimu." Vienna tidak menjawab ucapanku. Setelah beberapa saat akhirnya dirinya mulai tenang, dan berhenti menangis. Aku melanjutkan berkata,
"Besok aku akan masuk sekolah Vie, aku tidak akan membiarkan Aben sialan itu merundung kamu."
"Jangan Bim, tubuhmu masih luka. Bisa-bisa mereka ikut merundungmu."
"Tenang saja Vie. Lebih baik mereka merundungku, daripada kamu yang dirundung."
"Aku mohon Bim, jangan membuatku merasa bersalah. Aku tidak apa-apa, sungguh."
"Vienna benar Bim, walaupun besok kamu masuk. Tidak akan merubah apapun, dengan kondisimu yang sekarang tidak mungkin kau bisa melawan Aben."
"Baiklah kalau begitu." kataku bohong menyudahi argumen ini. Besok aku akan masuk sekolah dan melindung Vienna. Ya, itu sudah menjadi tekadku.


Setelah itu, Vienna menceritakan apa yang tadi terjadi di sekolah. Saat masuk kelas, dan melihat aku tidak masuk. Aben dan teman-temannya langsung mendatangi meja Vienna dan Jericho, dan berkata, "Di mana teman sok pahlawan kalian. Kenapa tidak masuk? sakit ya? cepat sembuh ya." Dan beberapa rundungan lainnya. Selain kelompok Aben, murid-murid sekolah yang lain juga membicarakan tentang perkelahian yang kemarin. Vienna mendengar banyak murid yang berkata seberapa lemahnya Bima, karena dipukul habis-habisan. Setelah mengobrol beberapa saat, kami habiskan waktu dengan menonton televisi hingga sekitar pukul enam malam, Vienna pamit pulang karena sudah dijemput pak Ahmad. Setelah Vienna pamit pulang, aku dan Jericho makan malam bersama. Sebelum kami kembali ke kamar masing-masing, dia minta maaf karena sudah memberitahu Vienna tentang kejadian itu yang aku jawab dengan senyuman dan anggukan. Aku masuk ke dalam kamar, lalu menyiapkan seragam sekolah. Tekadku sudah bulat, jika besok Aben merundung Vienna dihadapanku, akan aku pukul dirinya. Meskipun aku akan dihukum, aku tidak peduli!
profile-picture
profile-picture
profile-picture
soleh1177 dan 5 lainnya memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Masih belum update nih?emoticon-Hansip
Quote:


sipp..get well soon emoticon-Shakehand2
Balasan post notararename
Siap,gan.
Cepet pulih ya..
selesai diurut, udah lumayan enak. Next part mungkin besok atau lusa ya
profile-picture
jiyanq memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Balasan post notararename

"maaf banget nih gan belum bisa update, lagi sibuk. Leher juga lagi sakit banget ini gaktau kenapa"

Ane juga minta maaf karena kesannya ngejar2 ente,gan. emoticon-Shakehand2
RL tetep prioritas,up date kapan aja ente siap. Yg penting sampe tamat. emoticon-Jempol
Quote:


Semoga cepet sembuh gan dan baik2 di rl
Quote:


sipp utamain real life ama kesehatan gan..emoticon-Shakehand2
Quote:


Quote:


Quote:


maaf banget nih gan belum bisa update, lagi sibuk. Leher juga lagi sakit banget ini gaktau kenapa.
profile-picture
ableh80 memberi reputasi
Lihat 1 balasan
iya lg nunggu2 apdet nih
profile-picture
notararename memberi reputasi
tumben belum update nih
profile-picture
notararename memberi reputasi
apdet dong bwang hehe, nice story btw!
profile-picture
notararename memberi reputasi
Halaman 1 dari 6


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di