CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Kacamata Si Anak Indigo (E. KKN)
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5d5f5908c820844f9e356e1e/kacamata-si-anak-indigo-e-kkn

Kacamata Si Anak Indigo (Ed. KKN)

Assalamualaikum wr.wb
Hallo agan dan aganwati pembaca yang budiman ini adalah pertama kalinya ane nulis thread. Ini adalah cerita pengalaman yang ane alami selama ane menjalani kehidupan dan pada kesempatan ini ane berfokus pada pengalaman sewaktu ane kkn beberapa tahun silam. Awalnya ane enggan menulis cerita ini, disamping karena pasti udah banyak banget yang nulis cerita semacam ini dan juga karena ane berpandangan biarlah pengalaman ini hanya ane dan seorang teman yang tau. Namun pandangan itu berubah karena temen ane yang pernah ane ceritain pengalaman ini mendesak ane untuk membagikan cerita ini. Dia mengatakan "pengalaman adalah ilmu, dan ilmu itu harus di bagi" jiwa keilmuan ane bergetar saat itu (alah macam ilmuan aja pake jiwa keilmuan segala) dan jadilah hari ini ane coba menggerakkan jari-jari ane untuk nulis cerita ini dengan tujuan ada yang bisa kita ambil sebagai pelajaran.
Sebelum kita masuk ke bagian cerita sebelumnya ada yang ane harus sampaikan di sini, yaitu meski cerita ini adalah pengalaman ane sendiri, namun di dalam penulisan cerita ini tidak ane pungkiri bahwa ada beberapa hal yang ane kurangi dan ane lebihkan sedikit dari keadaan aslinya, hal ini semata bertujuan agar mudah di mengerti oleh kita semua.
Selamat membaca dan semoga bisa jadi pelajaran buat kita bersama.
Index
Prolog
Part 1: Pembekalan
Part 2: Hari Kedatangan
Part 3: Hari Pertama
Part4: Perkenalan (1)
Part 5: Different Dimension
Part 6: Kesurupan (1)
Part 7: Kesurupan (2)
Part 8: Perkenalan (2)
Part 9: Perkenalan (3)
Part 10: Kisah memilukan (1)
Part 11: Cerita memilukan (2)
Part 12: Tentang Clara
Part 13 : Dia Yang Tak Terlihat
Part 14: Perintah Sang Guru
Part 15: Kembali Ke Padepokan
Part 16: The Secret
Part 17: Kejadian Memalukan
Part 18: Perencanaan Makrab dan Peringatan Asti
Part 19: Malam Keakraban (1)
Part 20: Malam Keakraban (2)
Part 21: Awal Petaka
Part 22: Sang Penunggu
Part 23: Kesurupan Massal
Part 24: Penegasan Hubungan
Part 25: Ketenangan Yang Mencekam
Part 26: Serangan Penghuni Batu
Part 27: Di Culik Asti
Q&A
Part 28: Pencarian
Part 29: Pernikahan Di Alam Gaib
Part 30: Rahasia Asti
Part 31: Teror Penghuni Desa
Part 32: Syukuran Yang Ternodai (1)
Part 33: Syukuran Yang Ternodai (2)
Part 34: Syukuran Yang Ternodai (last)
Part 35: Pesan Dan Salam Perpisahan
Part 36: Permintaan Eva yang Aneh
Part 37: Dia Mengintai
Part 38: Pengasih
Part 39: Kepergian Siska
Part 40: Pembalasan
Part 41: Kematian (1)
Part 42: Kematian (2)
Epilog
Praktek Lapangan
profile-picture
profile-picture
profile-picture
aan1984 dan 49 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh kingmaestro1
Halaman 1 dari 41
Kritik dan saran yang membangun akan sangat ane hargai, asal disampaikan dengan sopan dan tidak membuat ane down dalam menulis emoticon-Smilie
profile-picture
profile-picture
profile-picture
andrian990 dan 4 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh kingmaestro1
Quote:
profile-picture
profile-picture
profile-picture
knoopy dan 5 lainnya memberi reputasi

Part 1: Pembekalan

Hari yang di janjikan telah tiba, Sembari menunggu ane duduk di bawah pohon yang tumbuh disepanjang perkarangan kampus sambil menghisap rokok. Tiba-tiba handphone ane berbunyi, ane liat tu ponsel ada sebuah nomor yang gak di kenal, sejenak ane mengerutkan kening lalu segera menjawab panggilan tersebut
Quote:

Otak ane langsung berputar mencari nama Clara dan ketemu, dia adalah salah satu nama yang ada di daftar peserta kkn yang satu kecamatan ama ane.
Nb: Di kota tempat ane tinggal adalah lumrah memanggil kakak kepada orang yang belum di kenal.
Dan percakapan via handphone itu kembali berlanjut
Quote:

Dan percakapan itu berakhir, tak lama kemudian ada seorang cewek menghampiri ane dan menyapa
C: maaf ya kak saya telat
A: no problem kak masih dalam batas kewajaran kok
C: yang lain belum keliatan ya kak
A: belum kek nya kak
C: maaf ya kak, semoga 5 menit lagi mereka udah pada nongol
Benar aja 5 menit kemudian satu persatu orang yang ada dalam daftar nama itu pun muncul, setelah semuanya lengkap kami pun duduk membentuk lingkaran di teras auditorium. Pertemuan singkat itu hanya membahas tentang perkenalan dan jadwal pembekalan besok serta jadwal untuk mengadakan survey, sedangkan untuk proker akan di bahas pada pembekalan hari berikutnya.
Di kampus ane pembekalan di adakan selama 2 hari, hari pertama adalah pembekalan umum, artinya semua peserta kkn di kumpulkan dalam satu tempat untuk mendapatkan pembekalan sedangkan hari kedua asalah pembekalan bersama DPL masing-masing kecamatan
Spoiler for DPL : Dosen Pembimbing Lapangan adalah dosen yang bertanggung jawab menyerahkan peserta kkn kepada camat di kecamatan yang bersangkutan dan melakukan monitoring 1 bulan sekali serta menjemput peserta kkn bilamana waktu kkn telah berakhir :

Setelah perkenalan singkat tersebut ane jadi tau nama dan wajah mereka yang tergabung dalam kelompok kkn ane, meskipun ane telah menduga, tapi ane tetap aja terkejut mengetahui bahwa ane yang paling tua dalam 21 orang yang tergabung dalam kecamatan yang sama.
Begitu mengetahui kenyataan itu, suasana yang tadinya lumayan hangat sesaat menjadi canggung karena tadi ada yang sudah dengan pedenya memanggil ane dengan sebutan nama, ya meskipun ane ga sama sekali mempermasalahkan itu. Di tengah suasana yang jadi canggung tersebut tiba-tiba ada satu anak yang nyeletuk
"udah tenang aja ga usah canggung gitu kak Ari juga gak akan marah ya kan masbro?".
Anak itu adalah Radith junior ane di Warta Kampus, dan perkataannya itu langsung ane tanggapi "Iya ga usah sungkan gitu, manggil ane ma ga usah pake kakak segala panggil nama aja secara meski ane and kalian berbeda 2 semester tapi soal umur kita cuma beda 1 tahun kok" perkataan ane langsung di sambut sama Clara "ah ga deh kak kami tetap manggil kakak aja. Soalnya mau beda 1 tahun atau beda 1 hari, senior tetaplah senior ya kan guys?" Pertanyaan itu langsung di sambut dengan koor setuju dari teman-teman yang lainnya "ya itu sih terserah kalian aja" kata ane sambil meraih kotak rokok dari saku kemeja. Setelah itu terjadilah obrolan-obrolan ringan di lingkaran itu.
Ohya nama-nama dari teman kkn ane itu adalah Clara, Radith, Opy, Chiko, Chika, Rian, Desi, Putra, Wiwit, Azka, Febri, Andri, Sandra, Oky, Melan, Sintia, Weni, Claudia, Ana, Eva.
Di tengah obrolan itu ane baru sadar kalau di antara mereka ada yang kembar cewek dan cowok, itu ane sadari setelah ane lebih memperhatikan mereka.
Setengah jam kemudian lingkaran itu pun bubar untuk melanjutkan kegiatan masing-masing, begitu juga ane.


Hari pembekalan kedua, kami bersama DPL pun merancang draf kasar dari proker yang akan kami laksanakan, setelah selesai sang Dpl pun bertanya
D: ohya untuk strukturnya bagaimana? Siapa yang jadi Koordinator Kecamatannya?.
Semua matapun mengarah ke ane, awalnya ane belagak ga sadar aja tapi makin lama suasana makin ga enak nih ane pun menoleh
A: lah, ini kenapa semua mata melototin ane gini?
D: ok fiks, yang bakal jadi koordinatot kecamatan S adalah kamu.
Sekita ane kaget karena ada keputusan tanpa adanya perundingan terlebih dahulu
A: ga..ga mau ane, masa ga ada musyawarah dulu
R: ada kok kak, kami udah musyawarah lewat mata, ya kan guys
Semua: yoi mamen
A: mata lu picek!
D: Jadi bagaimana Ari, apa kamu mau ngecewain para adik-adik yang sudah setuju ini
A: wah curang nih main keroyokan, ya udah deh ane setuju.
Semua: yeah...
A: iya.. Iya ane hargai keputusan kalian tapi jangan nyesel ya ane jadi koordinator. Acara pun berlanjut untuk menentukan ketua masing-masing desa beserta perangkatnya
Untuk Desa K, desa dimana ane menjadi pesertanya diputuskan untuk tidak memilih ketua lagi karena mereka semua maunya ane yang jadi ketua, sedangkan untuk sekretaris desa ane adalah Clara dan bendaharanya adalah Chika, 4 anggota adalah Oky, Desi, Wiwit dan Eva. Sedangkan untuk desa S ketuanya adalah Radith sekretarisnya adalah Melan sedangkan bendaharanya adalah Opy, 4 anggotanya adalah rian, Putra, Febry dan Sintia. Untuk desa P ketuanya adalah andri, sekretarisnya Azka dan bendharanya adalah Weni 4 anggotanya adalah Chiko, Claudi, Ana dan Sandra.
Di situ ane sadar kalau di desa ane cuma ane dan Oky yang cowok selebihnya adalah cewek dan ane pun protes
A: wah ga adil ni pak, masa di desa saya cowoknya cuma 2
D: siapa bilang ga adil, ini sangat adil kamu kan senior pasti bisalah.
Jawaban itu membuat ane mati kutu.
Setelah masalah perangkat selesai maka selanjutnya adalah penentuan jadwal observasi dan siapa aja yang akan melakukan observasi itu
A: pak gimana kalo observasinya kita laksakan 2 hari lagi dan untuk siapa aja yang ikut observasi, kalo di ijinin saya ga keberatan
D: ok, usulan bagus makin cepat di laksanakan observasi makin bagus dan soal boleh atau tidaknya kamu ikut observasi, sebagai koordinator kecamatan kamu memang harus, kudu, wajib ikut.
Mendengar jawaban dpl itu semua yang ada di situ ketawa termasuk ane, dan pada akhirnya semua setuju kalo observasi dilakukan 2 hari lagi, sedangkan yang akan ikut observasi adalah ane, Sintia, Radith, Dpl, Clara dan Eva. Kami sepakat akan menggunakan mobil pribadi ane untuk melakukan observasi itu
Spoiler for Pada part berikutnya ane akan menggunakan kata Lo dan Gue serta istilah-istilah zaman sekarang:
profile-picture
profile-picture
profile-picture
knoopy dan 12 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh kingmaestro1

Part 2: Hari Kedatangan

Hari ini adalah hari keberangkatan kami untuk melaksanakan program kkn, sebagaimana yang telah di sepakati sebelumnya bahwa kami berangkat menuju lokasi kkn dengan menggunakan bus dan beberapa motor.
Gue yang ga tahan perjalanan dengan bus memilih untuk menggunakan motor selain itu, untuk kegiatan belanja ke pasar atau ke kota tentunya akan sangat efektif kalo bawa motor. Beberapa jam sebelum keberangkatan terjadi perubahan rencana, Clara yang awalnya akan menggunakan bus bersama temen cewek lainnya, sekarang memilih untuk naik motor bareng gue.
C: Kak, Ara naik motor bareng kakak ya? Please
A: Lho, kemaren katanya lu mau naik bus aja dek
C: Iya kak, tapi baru inget ara kan pemabok
A: Hmhm, tanya yang laen deh
Radith, Chika, Eva dan Chiko yang mendengar percakapan itu langsung nyeletuk
R: udah ga apa-apa kak biar Ara ama kakak aja(meniru gaya Clara memanggil dirinya sendiri)
EC: iya kak no problem kok
A: ya udah deh kalo ga ada yang keberatan
Nb: Clara suka banget manggil dirinya sendiri dengan Ara.
3 jam kemudian kami sampai di lokasi kkn, setelah sebelumnya kami di kumpulkan di kantor bupati untuk melakukan upacara serah-terima. Setibanya di lokasi kkn kami di sambut mesra ama pak camat dan masyarakat di sana. Sebelum kami di lempar ke posko masing-masing, kami dipersilahkan untuk rehat sebentar di kantor kecamatan. Sembari kami melepas lelah, pak camat dan pak kepala desa S menyampaikan sebuah informasi yang sedikit berbeda dengan waktu kami survey pertama kalinya.
Quote:

Mendengar berita itu gue langsung bilang "sebenarnya ga masalah sih kaya gitu tapi itu semua tergantung ketua kkn desa S". Ga ada satupun yang buka suara mendengar usul gue itu dan suasana pun menjadi sunyi.
Demi memecahkan kesunyian itu gue langsung ambil keputusan " ya sudah pak, jika itu yang terbaik kami bisa memakluminya untuk sementara biar temen-temen desa S tinggal di sini bersama kami". Entah kenapa mendengar keputusan gue itu Clara tiba-tiba membentak gue sambil melototkan matanya ke gue
Quote:

Melihat hal itu Dpl pun segera menengahi dengan mengatakan bahwa itu adalah keputusan yang terbaik dan anggota yang ber kkn di desa S harus menerimanya.
Setelah itu kami pun di antar menuju rumah yang akan menjadi posko kami, sementara yang ber kkn di desa P telah di jemput oleh kepala desa P dan rombongannya. Sambil berjalan menuju posko kami, gue masih berpikir kenapa tiba-tiba Clara bisa membentak gue kaya gitu, awalnya sih gue gondok banget di bentak kaya gitu di depan banyak orang, tapi kalau gue pikir-pikir lagi ada yang aneh pada wajah Clara, saat dia ngebentak gue wajah Clara bukanlah wajahnya yang selama ini, wajah itu seperti wajah orang tua dan matanya pun seperti bukan matanya. Ada apa dengan Clara? Wajah siapa yang tergambar di wajahnya waktu ngebentak gue?.
Pertanyaan gue bakal terjawab di part selanjutnya.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
mincli69 dan 13 lainnya memberi reputasi

Part 3: Hari Pertama

Rumah itu adalah semi rumah panggung, gue bilang semi karena lantainya yang tidak terlalu tinggi dari tanah. Rumah itu terbuat dari papan yang masih kelihatan bagus dan berlantai papan juga, sehingga menimbulkan bunyi apabila melangkah. Rumah itu terdiri atas 1 dapur, 1 ruang tamu yang cukup luas dan 3 kamar, itulah posko kami yang cowok, di rumah itu kami tinggal bersama pemiliknya yaitu seorang kakek yang meski usianya sudah cukup uzur tapi badannya masih tegap dan tenaganya masih sangat prima, beliau sangat ramah kepada semua mahasiswa yang berkkn yang selama ini menempati rumah itu. Beliau hanya tinggal sendiri, karena sang istri lebih dulu meninggal 5 tahun yang lalu. Di samping rumah itu ada sebuah rumah panggung yang juga terbuat dari papan, lantainya selain lantai dapur semua juga terbuat dari papan, dan itulah posko untuk para cewek.
Tadinya kami akan di tempatkan di posko yang sama, tapi karena masalah yang telah gue ceritain di part sebelumnya, maka untuk sementara waktu kami menempati 2 posko.
Kesab pertama yang gue rasain dari rumah ini adalah ada sepasang mata yang terus memperhatikan kami sejak kami tiba di rumah ini.
Pagi ini setelah semalam berisitirahat dan menata barang, hal pertama yang kami lakukan adalah sarapan dan akan di lanjutkan dengan survey untuk menentukan proker kelompok dan individu baik untuk proker desa maupun kecamatan.
Karena gue termasuk orang yang kaga bisa 'kena' nasi sebelum siang, maka pagi ini ketika semua berkumpul hendak makan, gue ngeluarin persedian roti yang gue bawa sebelumnya, melihat hal itu Radith yang emang asalnya bermulut usil langsung nyeletuk
R: Wuih, horang kayah makannya roti
A: Kaya gundul lu pacul, gue mah emang kaga bisa makan nasi kalo pagi-pagi gini
Co: oo kaya orang eropa gitu ya makannya roti hahaha
Jadilah pagi itu kami sarapan sambil terus menggoda tentang kekurangan gue itu. 15 menit kemudian acara makan pun selesai, setelah istirahat sebentar kamipun berkeliling desa untuk melihat apa saja yang bisa di jadikan proker. Dalam berkeliling inilah gue ngerasain bahwa desa ini tidak benar-benar kosong ada makhluk lain yang juga ikut bermukim disini, hal ini di buktikan dengan terkadang gue melihat seperti ada orang yang berkegiatan di kedua sisi jalan desa, namun setiap gue berniat menghampiri mereka tak lagi keliatan.
Di part ini gue ga akan menjelaskan setiap detail dari makhluk yang gue liat karena penjelasan itu di mulai dari part perkenalan.
Tiba-tiba mata gue menangkap sebuah batu yang menurut gue ga terlalu besar, karena bentuknya yang pipih seperti perahu gue tertarik dan mendekat ke batu itu setelah dekat gue pun mencoba memeluk batu tersebut, tapi aneh sungguh aneh, batu yang kira-kira hanya sedikit lebih luas dari cobek itu tidak pernah membuat kedua tangan gue saling bertemu ketika gue mencoba untuk memeluknya, seakan-akan batu tersebut bertambah ukurannya. Kelak batu inilah muara petaka yang akan kami alami selama 3 bulan ke depan.
Setelah ± 5 jam mengelilingi desa ini, kami pun memutuskan untuk kembali ke posko guna mandi dan menunaikan shalat ashar.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
mincli69 dan 10 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh kingmaestro1

Part 4: Perkenalan

Usai shalat magrib berjamaah di masjid kami pun diperkenalkan secara resmi ke masyarakat desa oleh pak kades, dalam perkenalan tersebut gue mewakili teman-teman mengenalkan satu persatu peserta kkn dan menyampaikan maksud dan tujuan kami berkkn di desa ini.
Acara ini di tutup beberapa menit sebelum waktu shalat isya di mulai. Usai shalat isya gue dan radith cs berniat untuk pulang ke posko, baru saja kaki kanan gue keluar pintu masjid tiba-tiba pundak gue di tepuk dari belakang, spontan gue langsung menoleh ke belakang rupanya seorang bapak lah yang menjadi pelaku penepukan pundak gue, sebelum sempat gue bertanya bapak tersebut berkata lirih, sangat lirih lebih lirih dari percakapan orang di perkuburan
Quote:
.
Agan dan aganwati heran maksud perkataan bapak tersebut? Meskipun ini adalah ke 1678 kalinya gue mendengar perkataan serupa tapi tetap aja gue heran terutama di bagian "dibalik kekuatan ada tanggung jawab" apa kekuatan gue? bagaimana gue bisa bertanggung jawab kalau kekuatan gue aja gue kaga tau? Baru akan menanyakan maksud perkataan bapak itu, bapak itu telah melangkah pergi langkahnya cepat banget. Sejenak gue termenung menerka-nerka maksud perkataan bapak tersebut sampai suara Radith yang mengajak gue segera pulang membuyarkan ketermenungan itu.
Sewaktu gue melintasi pagar masjid gue liat ada seorang cewek yang masih lengkap dengan mukenanya berdiri tak jauh dari pagar itu, karena cacing di perut udah pada tawuran, gue hanya mengangguk dan tersenyum kecil sewaktu tu cewek ngeliat ke arah gue. Dalam pikiran gue, toh masih ada Radith Cs di belakang, waktu itu posisi gue berjalan ada di depan mereka, gue ga terbiasa berjalan di belakang atau sejajar dalam rombongan, gue percepat langkah kaki gue menuju posko karena gue denger Radith cs sedang berbisik-bisik, suara berbisik itu cukup terdengar jelas di telinga gue meski dengan jarak yang lumayan jauh. Waktu itu gue ga terlalu ambil pusing isi dari obrolan berbisik mereka karena gue berpikir itu pasti gosip, namun beberapa meter di depan langkah kaki gue terhenti, samar gue mendengar suara yang berkata
Quote:

Sekali lagi gue ga ambil pusing mungkin saja itu suara mereka yang di belakang yang belum bosen untuk bergosip.
Setibanya di posko gue langsung makan malam, usai makan gue nyalain rokok dan duduk di bawah pohon kakao yang tumbuh di halaman posko cewek, setelah rokok itu habis gue isep gue pun melangkahkan kaki ke rumah pak kades yang terletak tidak begitu jauh dari posko kami, sengaja gue pergi seorang diri disamping gue mau bahas soal proker pribadi gue yang berjumlah 3 proker karena memang segitu jumlah yang di tentukan oleh pihak kampus juga gue mau nanyain soal batu yang tadi siang gue liat.
Sesampainya di rumah beliau setelah sedikit berbasa-basi dengan beliau dan istri beliau gue menyampaikan maksud kedatangan gue ke rumah beliau.
1 jam gue berada di rumah beliau dan memutuskan untuk pulang ke posko karena gue harus ngadain sedikit rapat bersama Radith cs, dalam perjalanan pulang gue masih menerka-nerka alasan pak kades ga mau menceritakan dengan detail soal batu tersebut, beliau hanya mengatakan kalau bisa hindari melintasi batu tersebut setelah senja hari, kebetulan batu itu terletak di perbatasan antara desa K dengan desa S, gue yang punya sifat selalu ingin tau tentu sangat kaga puas mendengar jawaban beliau itu, tapi apa daya gue juga kaga berhak memaksa beliau. sesampainya di posko radith cs sedang ngobrol-ngobrol ngalor ngidul, mereka belum membahas proker sepertinya mereka menunggu gue. Melihat gue datang Oky langsung nanya ke gue
O: Darimana kak? Kok habis makan kaga keliatan
A: Dari rumah pak kades ada yang mau gue tanyain
R: Alah dari rumah kades atau si dia nih
Ini anak emang usilnya kaga tau diri gue milih mengacuhkan pertanyaan itu
C: acieh, kakak gercep juga ya, baru sehari udah main sambar anak gadis orang.
Kontan gue heran mendengar perkataan Clara, anak gadis siapa yang gue sambar? Sejauh ini gue belum melakukan dialog apapun ama cewek dari desa ini, namun segera gue tepis rasa heran itu mengingat ada hal yang lebih penting.
setengah jam kemudian rapat tersebut gue akhiri dengan hasil bahwa proker pribadi sesuai dengan yang di sarankan pak kades tadi sewaktu gue kerumah beliau akan berorientasi pada ekonomi, agama dan pengetahuan di desa tersebut.
Pukul 22.00 waktu setempat, ketika anak-anak cowok lainnya memilih untuk main gaple di posko cowok, gue masih berkutat di depan laptop di meja makan yang ada di dapur posko cewek, malam itu gue akan ngebuat proposal untuk proker gue yang pertama di temani secangkir kopi yang di buatin Clara beberapa menit yang lalu. Di tengah gue sedang merangkai kata-kata, sayup gue dengar langkah kaki dari ruang tengah, langkah kaki itu terdengar seperti mengendap-endap gue yang mengira itu adalah Clara atau yang lainnya langsung berkata "Udah ga lucu tau, kalo mau ngagetin gue, gue ma udah tau" kaga ada sahutan dari ruang tengah, penasaran gue pun menoleh kearah pintu penghubung antara ruang tamu dan dapur yang tertutup oleh gorden. Alangkah terkejutnya gue ketika yang gue liat bukanlah Clara atau yang lainnya, dari bawah gorden yang kaga sampe ke lantai itu gue ngeliat sepasang kaki yang sangat pucat dan ada beberapa goresan luka, yang membuat gue lebih terkejut adalah kaki itu sama sekali kaga menyentuh lantai seketika badan gue menegang, seakan ga percaya dengan pengliatan itu gue gosok-goskan mata gue dan setelah itu sepasang kaki itu menghilang. Gue berusaha menenangkan diri dengan beranggapan bahwa itu adalah halusinasi, sayup gue mendengar gelak tawa Radith cs dari rumah sebelah itu ngebantu gue buat rileks lagi dan gue pun lanjut untuk ngebuat proposal. 15 menit kemudian entah karena cuaca yang emang dingin, ruangan tempat gue duduk seketika terasa seperti lembab, padahal itu bukan rumah yang telah di tinggal selama bertahun-tahun rumah itu di huni oleh seorang nenek yang merupakan kakak dari pemilik rumah sebelah. Suasana itu terasa kurang nyaman bagi gue dan menganggu konsentrasi gue, gue pun memilih untuk pindah ke rumah sebelah. Begitu sampai di rumah sebelah gue menemukan radith cs udah pada molor, pantes gue kaga dengar lagi suara tu bocah-bocah, huuh dasar anak mami masih sore udah pada molor, gue pun duduk di sofa yang membelakangi pintu penghubung ruang tengah dan dapur. Gue kembali tenggelam dalam keasyikan gue buat proposal, menit demi menit berlalu, gue udah sepenuhnya hanyut dalam keasyikan merangkai kata-kata, secara tiba-tiba tanpa ada izin sebelumnya listrik padam, ruang tamu yang tadinya temaram menjadi gelap, hanya cahaya layar laptop gue yang menyinari, gue kaga berusaha untuk nyari lilin ataupun penerang lainnya, ah sebodo amat anak -anak mami udah pada molor dan baterai laptop gue masih cukup untuk gue pake nyelesain proposal yang tinggal dikit lagi, setelah selesai gue kembali membaca proposal itu dengan teliti, gue menghindari terjadinya kesalahan tulis ataupun kesalahan kalkulasi, di tengah keasyikan gue membaca itu secara kaga sengaja mata gue menangkap sesosok bayangan yang terpantul dari layar laptop gue, gue pun menoleh untuk mengetahui sosok itu Radith atau Oky yang ke bangun hendak mencari senter, begitu kepala gue tertoleh ke belakang, badan gue langsung menegang, gimana kaga dalam jarak 2 centi dari wajah gue ada wajah yang sangat rusak dengan mata melotot memandang gue, wajah itu mengeluarkan darah dari semua lubang yang ada di wajahnya, wajah itu tidak memiliki hidung, namun mulutnya memanjang ke bawah mulai dari tempat yang seharusnya hidung berada di sana sampai ke bagian dagu, seketika mulut gue terasa kaku gue bukan orang yang penakut meski juga kaga bisa di bilang pemberani sih, tapi kali ini jantung gue ketar-ketir juga, refleks tangan gue berusaha untuk mendorong wajah itu untuk menjauh karena hidung gue menangkap bau anyir dari wajah itu, namun wajah itu kaga bergeser barang se senti pun, akhirnya tangan yang tadi buat ngedorong wajah itu gue pake buat nutup hidung dan gue kembali duduk menghadap laptop. Sampe di sini gue heran karena kaga ada bau anyir dari tangan gue yang jelas-jelas habis nyentuh wajah itu. Tak berapa lama listrik kembali menyala dan ruangan itu kembali terang meski terangnya sendu banget, gue kembali menoleh untuk memastikan wajah mengerikan tadi kaga ada lagi, ternyata eh ternyata itu wajah masih ada, masih dengan jarak yang sama, namun kali ini gue bisa liat dengan jelas dan bukan hanya wajah gue juga bisa liat tubuh tu wajah, wajah itu dengan keadaan membungkuk memperhatikan gue dengan jarak yang masih kaya tadi, rambutnya panjang dan awut-awutan, tubuhnya menggunakan semacam daster berwarna hitam, gue beranikan diri untuk menyapanya, assalamualaikum mbak/nek/buk saya numpang tinggal di sini ya jangan ganggu ya saya kaga bakal macam-macam, kalo mbak/nenek/ibu kaga ganggu ntar saya teraktir deh, wajah itu hanya menyeringai dan mengedipkan mata besarnya, lalu dia menegakkan kembali tubuh nya, gue jadi bisa liat tinggi badannya yang hampir menyentuh plafon rumah itu, sosok itu pun membalikkan tubuhnya dan berjalan ke arah dinding samping rumah dan menghilang, gue langsung menghela napas lega gue lirik jam tangan ternyata waktu udah menunjukkan pukul 02.00 dini hari, gue pun bangkit dari duduk dan berjalan ke menuju kamar mandi yang berada di luar bangunan rumah untuk berwudhu. Kamar mandi itu hanya berdinding seng yang di cor semen setinggi 10 centi dan tidak memiliki atap, kamar mandi itu sesuai namanya hanya bisa digunain untuk mandi, mencuci baju serta buang air kecil, sehingga kalo mau pup harus ke posko cewek. Usai shalat malam gue pun bersiap tidur setelah mematikan laptop gue, sebelum gue membaringkan badan gue ngebanguni Radith,Oky dan yang lainnya untuk shalat tahajud, tapi kaga satupun yang bangun, dasar tergoda rayuan setan lu pada.
Spoiler for Tentang keheranan gue atas ucapan Clara tadi akan di jelaskan di part pandangan temen-temen gue, untuk itu di harapan kepada agan dan aganwati untuk tidak menskip cerita, karena cerita ini gue tulis dengan 2 sudut pandang:
profile-picture
profile-picture
profile-picture
mincli69 dan 13 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh kingmaestro1

Part 5:Different Dimension

Ada yang aneh begitu gue membuka mata dari tidur, rumah itu bukan rumah yang jadi posko gue, rumah itu berdinding bata merah ruangan itu juga bukan ruang tamu yang gue pake untuk tidur bersama Radith dan balanya, gue bangkit dari tiduran dan memperhatikan dengan seksama, sekarang gue berada di atas kasur dan yang pasti itu bukan kasur yang sama dengan yang ada di kamar posko,di ruangan itu hanya ada gue sendiri Radith dan balanya tidak keliatan, tidak ada suara-suara kegiatan manusia bisa di artikan bahwa di rumah itu tidak ada satu kehidupan pun selain gue, gue pun segera menuju pintu aneh pintu yang gue liat dari tempat pembaringan hanya berjarak sekitar 5 meter seakan sangat jauh dan kaga terjangkau, semakin gue melangkahkan kaki semakin jauh aja tu pintu.
Kampr*t tu pintu ada kakinya ya? Kalo kaya gini terus gimana gue mau keluar ni? Rutuk gue dalam hati, selesai rutukan gue dalam hati seketika itu ada suara menggema dari ruangan itu
Quote:
gue heran tapi gue ikutin saran suara itu dan sampailah gue di halaman dari rumah itu, gue baru tau kalau rumah itu sangat besar, sejauh ingatan gue kaga ada rumah segede itu di desa K, gue pun berjalan menyusuri desa yang bagi gue sangat asing itu.
Sepanjang kaki melangkah kaga satupun kehidupan yang gue liat, otak gue langsung merespon dengan memunculkan satu spekulasi, kalo ini bukan desa tempat gue kkn, gue pandangi sisi kiri dan kanan desa itu baru gue sadari kalo kedua sisinya kontras banget sebelah kiri gue, gue kaga bisa ngeliat apapun selain awan hitam sedangkan sisi kanan gue pemandangan yang sangat indah lebih indah dari desa tempat gue kkn, sejenak gue ga tau harus kemana, sayup gue mendengar suara seperti orang sedang berolahraga gue pun mendatangi sumber suara itu, ternyata suara itu berasal dari suara penonton yang sedang bersorak menyemangati 10 orang pemuda yang sedang bertanding bola basket, otak gue berputar sejak kapan di desa gue ada lapangan basket? Karena penasaran gue pun mendekat ke lapangan itu.
Jantung gue berdetak cepat banget, seakan mau loncat dari tempatnya yang gue liat di sana bukan lah bola yang mereka gunakan untuk mendrible melainkan sebuah kepala lengkap dengan wajah yang menangis spontan gue pun berteriak
"Lu pada gila ya itu kepala woy bukan bola lagian itu kepala siapa yang lu caplok seenaknya", suasana langsung sunyi kaga ada lagi suara sorak-sorai penonton gue pun mengitari pandangan gue ke sekeliling lapangan itu, di situ gue liat penonton yang tadinya keliatan seperti orang normal mulai menarik kepala mereka sampe lepas dengan memegang kepala mereka penonton yang tadinya mengitari lapangan itu bergerak perlahan ke arah gue. Cemas? jelas banget gue cemas, sialan ini desa zombie atau apa sih, pandangan gue beralih ke 10 pemuda tadi, mereka berlari ke arah gue sambil bawa kapak yang gede banget, salah satu dari mereka loncat ke arah gue sambil mengayunkan kapaknya, refleks gue lompat ke belakang, ga ada waktu lagi buat berspekulasi macem-macem secepatnya gue harus cari jalan keluar dari kerumunan ini sebelum mereka makin menyempit dan gue bisa berakhir di cincang orang-orang aneh ini.
Di sana ya di sana, celah itu ada di sebelah utara orang-orang yang berjalan ke arah gue sambil menenteng kepala itu, tanpa buang-buang waktu gue lari sekencang-kencangnya ke arah celah itu sebelum celah tadi hilang, sedikit lagi celah itu menyempit, semakin menyempit dan tinggal hanya berupa garis, gue coba untuk lompat sejauh-jauhnya dan berhasil meski harus nabrak salah satu dari mereka gue berhasil lolos dari kerumunan maut itu, gue terusin pelarian gue itu hingga gue sampe di hutan belantara yang pohon-pohon nya menjulang tinggi dan sangat rimbut, sangking rimbunnya gue kaga bisa liat langit dari sini.
Gue terduduk lemes dengan nafas yang rasanya mau putus, apa cuma sebatas ini kemampuan berlari gue, apa ini akhir dari hidup gue, sumpah saat itu gue merasa sangat putus asa di tengah kenelangsaan itu tiba-tiba muncul seekor harimau dengan ukuran yang nyaris ngebuat gue pingsan, harimau itu memiliki tinggi hampir setinggi tiang gawang bola kaki, harimau itupun duduk di hadapan gue dan meletakkan kaki depannya di paha gue, jantung gue seperti berhenti berdetak ada hewan buas berbahaya ngeletakin kakinya di paha gue, gue yakin banget paha gue bisa aja di cabik-cabik kapanpun binatang itu mau, seketika itu gue seperti mayat hidup, dalam keadaan gue yang nyaris total menjelma seperti mayat hidup, terdengar suara bergema
Quote:
bersamaan dengan hilangnya suara itu harimau yang ada di depan badan gue membalikkan badannya dan kembali duduk seakan mempersilahkan gue untuk naik ke atas punggungnya, kali ini kaga ada heran-heran gue pun langsung naik ke atas punggung harimau itu dan harimau itu berlari dengan kecepatan yang gue yakin kaga ada satupun alat ukur kecepatan yang mampu mengukur kecepatan berlari harimau itu.
Dari kejauhan gue ngeliat desa tempat gue kkn gue senang bukan main akhirnya gue selamat, tapi sebelum sampai ke desa itu tiba-tiba ada bayangan hitam yang cepat banget menyambar gue, ngebuat gue terjatuh dari punggung harimau itu, kepala gue seperti terbentur sesuatu dan semua gelap.
Begitu gue membuka mata yang gue liat adalah wajah ke 20 teman kkn gue, ngeliat gue buka mata chiko pun bersuara
Co: Wah senang banget ya kak Ari, nyenyak banget tidurnya.
A: Nyenyak pala lu pitak gue baru tidur bentar, lagian ngapain kalian subuh-subuh gini ada dimari
Mendengar perkataan gue semuanya saling berpandangan lalu ketawa, gue sewot dong di ketawain kaga jelas gitu
A: Ii sawan lu ya, ditanyain malah ketawa
E: Kak ini nih bukan shubuh tapi malam sekrang itu pukul 20.00 dan ini hari kedua kakak tidur.
What??? 2 hari gue tidur? Perasaan hanya beberapa jam aja gue berada di desa yang asing banget itu dan sekarang ada yang ngasih tau kalo gue udah 2 hari gue tidur, lelucon macam apa ini?
A: lu jangan becanda va, kaga lucu tau
W: kak, kami kaga bercanda kakak emang udah 2 hari tidur
Ga percaya dengan semua omong kosong itu gue pun meraih hp gue yang ada di bawah bantal dan ngeliat kalender di hp, seketika itu gue ngerasa seperti nyawa gue di cabut dari badan begitu ngeliat tanggal yang tertera adalah tanggal 2 hari berikutnya dari yang terakhir gue liat sebelum tidur malam itu. otak gue berhenti mencerna, gue ga sanggup berspekulasi tentang hal yang kaga teraih nalar gue, sebelum kepala gue makin pusing gue segera bangkit dan masuk ke kamar untuk ngambil handuk gue
W: mau kemana kak?
A: mau mandi, kenapa mau ikut?
W: kaga ah, bisa hilang perawan mata gue ntar
R: Gue ikut ya kak(bernada manja)
A: kaga!!! Rugi bandar gue kalo lu ikut
R: ye gitu aja kok sewot sih, kapan lagi sih gue bisa liat roti sobek lu kak
A: kaga ke th***** aja ku sono
Gue pun berlalu dari ruangan itu, dari pintu gue denger mereka ketawa
profile-picture
profile-picture
profile-picture
blackveilbrides dan 14 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh kingmaestro1

Part 6: Kesurupan (1)

Selesai shalat isya gue bergegas ke rumah pak kades untuk memberikan proposal proker yang pertama.
Setelah proposal gue di terima serta jadwal telah di tentukan, gue pun berbincang ringan dengan pak kades tentang apa saja.
Baru 10 menit perbincangan itu berjalan tiba-tiba terdengar suara Oky memanggil nama gue, bukan karna nama gue yang di panggil yang membuat gue keluar, melainkan karna nada dalam suara Oky yang terdengar seperti orang cemas di tambah lagi ia melalukannya dalam jarak yang cukup jauh.
Begitu gue sampe di ambang pintu, tu anak dalam posisi rukuk sambil mengatur nafasnya yang ngos-ngosan, heran gue pun bertanya
A: ada apa ky?
O: itu kak... Itu (masih dengan nafas yang ngos-ngosan)
A: itu apa ky? Ngomong yang jelas!
Tanpa sadar gue membentak, bentakan dalam suara gue di karenakan rasa cemas yang tiba-tiba menyusup begitu melihat isyarat jari Oky yang menunjuk ke arah posko.
Oky sudah bisa mengontrol napasnya dan kemudian berkata
O: itu kak Clara kesurupan dia ngamuk sambil nanya-nanyain kakak
Seketika badan gue terasa lemah mendengar semua itu, kejadian beberapa tahun silam kembali terbayang di pelupuk mata gue, rasa takut kembali hadir menghantui, sesaat gue terperangkap dalam rasa bersalah yang bertahun-tahun bersarang di dalam diri gue.
O: kakak kenapa kak? (Sambil mengguncang bahu gue) ayo cepat ke posko kak kasian Clara
A: lu aja yang kesana Ky, lu cari aja imam masjid itu minta tolong beliau
O: kenapa bukan kakak aja yang bantuin Clara kak?
A: sorry Ky untuk hal ini jangan paksa gue
O: ok gue ga bakal maksa kak, meski gue ga paham kenapa kakak jadi gini, tapi oklah gue akan ke rumah imam itu untuk minta tolong.
Begitu Oky pergi gue kembali berperang dengan batin gue, di satu sisi gue ga tega ngedengar ada orang kesurupan di satu sisi gue ga mau kejadian itu terulang lagi yang membuat gue merasa bersalah setengah mati.
Di tengah pergolakan batin itu suara pak kades datang membuyarkannya
K: kenapa kamu tidak kesana Ri?
A: saya trauma pak, saya takut.
K: trauma kenapa?
A: ada kejadian yang ga mengenakan pak.
K: bapak ga tau kejadian apa itu dan bapak rasa kamu juga tidak berminat menceritakannya, bapak cuma mau bilang satu hal Clara itu adalah junior kami terlebih dia menyimpan rasa ke kamu sehingga perlakuannya terasa lebih istimewa tidak hanya sebatas teman atau sebatas senior dan junior, bapak yakin saat ini yang paling di butuhkannya adalah kamu, kamu yang bisa menyadarkan dia tentunya dengan izin Allah.
Gue memandang pak kades demi mendengar semua kata-kata beliau, seperti mengerti arti pandangan gue pak kades pun mengangguk. Segera gue lari ke arah posko, dengan ilmu meringankan tubuh yang gue dapat sewaktu belajar di padepokan waktu yang gue perlukan untuk sampai ke posko lebih cepat dari waktu seharusnya.
Spoiler for Bagaimana nasib Clara? apakah gue berhasil menyadarkan dia? tunggu kelanjutnya di part kesurupan 2:
profile-picture
profile-picture
profile-picture
blackveilbrides dan 12 lainnya memberi reputasi

Part 7: Kesurupan (2)

Begitu sampai di halaman posko, gue langsung berlari masuk untuk melihat keadaan di dalam dan begitu gue ngeliat kondisi Clara tak bisa di cegah gue kembali terlempar ke keadaan beberapa tahun silam, kejadian yang sangat mirip perbedaannya kejadian beberapa tahun lalu menolak kehadiran gue sedangkan sekarang tidak ada kata-kata penolakan yang keluar dari yang merasuki Clara, gue terdiam cukup lama ada keinginan untuk mundur dan melarikan diri gue kembali takut, takut kalau keadaan ini akan berujung sama.
Demi mendengar suara teman-teman yang dengan sangat minta gue segera nolong Clara, gue pun menghardik diri gue agar segera bebas dari pusaran ketakutan itu setelah memantapkan diri gue pun berjalan mendekat ke arah kerumunan yang sedang memegang Clara, gue ngambil posisi duduk bersila di samping Clara yang lagi meronta-ronta sambil teriak, gue baca doa yang pernah diajarkan guru gue dan segera memegang ubun-ubun Clara, begitu tangan gue menyentuh ubun-ubunnya seketika ragu-ragu menyusup di hati gue pertanyaan itu kembali terngiang, dengan keras gue berusaha mengenyahkan rasa ragu itu.
Clara menyeringai (lebih tepatnya sesuatu yang merasuki Clara) gue lirik seringaian itu, itu adalah seringaian khas seorang nenek-nenek yang sedang mengejek , gue pandang mata Clara, itu adalah mata yang mengejek dan merendahkan, seakan kaga puas dengan ejekan melalui mata dan seringaian, melalui mulut Clara sesuatu yang berada dalam tubuh itu berkata
Quote:
gue tersentak tau darimana ini setan cerita dulu? Dengan mata membelalak gue kembali pandangi mata mengejek itu, emosi gue tiba-tiba tersulut, tapi telat sebelum gue sempat mengambil tindakan sesuatu itu udah bertindak, tercium bau seperti bau kulit terbakar bau itu datang dari arah tangan gue yang sedang memegang ubun-ubun Clara, gue liat tangan itu melepuh rupanya si penyusup yang merasuki Clara ngajak bercanda dengan melakukan serangan, gue lepas tangan itu dari ubun-ubun Clara, sebelum gue sempat ngapa-ngapain kali ini ada cahaya merah seperti laser keluar dari mata Clara menuju dada gue, karena posisi gue yang sedang duduk gue kaga sempat menghindari cahaya itu, cahaya itu menghantam dada gue sehingga ngebuat gue mencelat ke belakang dan membentur dinding, lumayan sakit terasa di kepala bagian belakang sakit itu tidak seberapa tapi rasa seperti terbakarlah yang ngebuat gue jadi kaga berdaya, leher gue seperti ada yang nyekik sehingga napas gue jadi megap-megap dalam keadaan itu gue sempat ngeliat ke arah Clara dia kaga lagi berontak dan teriak-teriak, tubuhnya ga bergerak hanya gerakan tarikan dan hembusan napas yang keliatan gue lega sampai lupa dengan keadaan sendiri, ga berapa lama gue megap-megap rasa tercekik itu hilang gue pegang leher gue sambil berusaha berdiri, baru aja berhasil negakin satu kaki, dada gue terasa nyeri luar bisa gue mengerang kesakitan dari mulut dan hidung gue keluar darah berwarna merah kehitaman, sakit itu semakin kerasa sakit gue kaga tahan lagi dengan rasa sakit itu gue pun terbaring sambil memegang dada gue lalu kemudian semuanya gelap
profile-picture
profile-picture
profile-picture
mincli69 dan 12 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh kingmaestro1
Lihat 1 balasan

Part 8: Perkenalan (2)

Setengah jam berlalu dari saat pertama gue buka mata di awal pagi, dan gue masih berbaring sambil mencoba mengingat kejadian semalam.
Quote:
itu lah pertanyaan yang terus berputar di kepala gue, akhirnya gue nyerah buat mengingat dan gue pun bergegas keluar kamar untuk mandi, sambil jalan gue menduga siapa yang mindahin gue ke kamar di posko cewek ini, mungkin Radith mungkin Oky mungkin juga yang lainnya.
Begitu gue nongol di ruang tamu Radith cs langsung berdiri dari duduknya semula
A: eh, kenapa pada berdiri udah duduk lagi gue bukan presiden kali.
R: udah bangun kak? Mau mandi ya? Atau mau sarapan dulu?
Dalam hati gue merasa heran tumben banget tuh anak nanyain hal begituan, gue pun berjalan ke Radith dan memegang jidatnya
A: elu sehat kan dit? Ga ada yang kebenturkan?
Mendengar itu semua yang ada selain Radith jadi kaga bisa nyembunyiin senyum gelinya, wajah mereka yang semula tegang perlahan jadi kendur dan kembali berusaha rileks
C: kak, kami mau nanya soal semalam
A: ntar aja ya Ra, gue mau mandi dulu
O: ga bisa sekarang aja kak?
M: iya kak kami penasaran
Melan yang aslinya jarang ngomong pagi ini membuka bibir besinya, apa iya dia sepenasaran itu? sebenarnya apa yang terjadi semalam?
A: pertama gue baru bangun tidur, mulut gue masih bau naga emang lu pada mau apa nyium bau mulut gue? Kedua, asli pagi ini gue laper banget jadi setelah gue mandi dan sarapan, gue kasih waktu kalian 1 jam buat nanya ok?
Semuanya pun mengangguk setuju. 15 menit kemudian gue pun selesai mandi dan sarapan, sambil menghisap rokok gue pun dengerin pertanyaan mereka
R: Kak sebenarnya kakak itu apa? Kenapa malam tadi kakak jadi lain?
A: lain gimana Dit? Gue mah manusia kaya Oky dan yang lainnya.
R: kok ga kaya gue dan yang lainnya kak? Kenapa harus kaya Oky dan yang lainnya
A: ya elu kan bukan manusia, tapi jelmaan kera sakti, usilnya bukan main
O: oo jadi Radith S**g****g donk kak? Pantesan kaga bisa diem
R: diem lu s****
Semua tertawa dengan obrolan gaje itu
M: jadi kak harimau yang di sebelah kakak itu siapa? Kenapa begitu dia muncul, kakak yang ada di samping nya jadi ga keliatan?
A: harimau? Kalo soal itu gue ga tau Mel dan sumpah gue ga inget apa apa soal kejadian semalam bisa pada di ceritain ga
Lalu bergulirlah cerita tentang kejadian semalam.
Jadi sewaktu gue pingsan(anggap aja pingsan karena waktu itu gue ngerasa pandangan gue menghitam) tiba-tiba disamping gue muncul seekor harimau belakang yang cukup tinggi dan besar, hewan buas itu berlari melompati jendela rumah ke arah halaman, sampai di halaman tu hewan ngeluarin suara mengaum dan bertingkah seperti sedang melawan sesuatu, di tengah mereka terpana dengan kejadian itu, sudut mata Melan menangkap tubuh gue yang lenyap dari tempat gue pingsan tadi, seketika dia panik dan meminta yang lain untuk nyari gue, tapi mereka masih terpana dengan adegan pergulatan harimau versus sesuatu yang kaga keliatan, Melan yang memang penakut mengurungkan niatnya mencari gue.
Pergulatan itu masih berjalan tiba- tiba harimau itu berubah menjadi sebuah cahaya hijau kecil dan melesat cepat cahaya hijau itu berbenturan dengan cahaya merah sehingga menimbulkan bunyi seperti gemuruh dan tanah terasa bergoncang seperti dilanda gempa, langit yang tadinya cerah menjadi gelap mendung, kilatpun saling bersahutan, setengah jam dua cahaya itu saling kejar dan membentur sampai akhirnya dua cahaya itu lenyap berganti dengan sosok manusia yang sedang menggendong seseorang dan meletakkan di tanah, kemudian sosok itu memberi isyarat ke mereka yang melihat adegan tadi melalui jendela dengan tangannya, mereka pun mendekat untuk melihat tubuh siapa yang di gendong dan siapa yang menggendong tapi begitu mereka sampai sosok yang menggendong tadi kaga ada yang ada hanya sesosok tubuh yang terbaring di tanah dengan beberapa titik luka, ternyata tubuh itu adalah gue mereka pun segera ngebawa gue ke posko untuk ngebersihin badan dan luka gue.
Ini kali pertamanya gue dengar cerita ini, sempat gue meragu karena pas gue bangun tadi kaga ada satu bekas lukapun di tubuh gue tapi melihat keseriusan di wajah mereka mau ga mau gue percaya dengan cerita mereka
A: sumpah gue ga tau tentang itu semua, memang gue akui gue bisa liat mereka yang kaga nampak, tapi gue ga pernah dengar cerita yang begituan, jadi maaf kalau gue ga bisa jawab pertanyaan kalian
Suasana pun hening seketika masing-masing mereka hanyut dengan pikiran sendiri, keheningan itu di pecahkan oleh pertanyaan dari Clara
C: kak Asti itu siapa?
************************************
Gue jalan dengan kepala pening pertanyaan Clara tadi masih berputar di kepala gue, siang ini gue berencana untuk melihat warga yang sedang bekerja di sawah tujuan gue adalah untuk meninjau kegiatan ekonomi itu untuk melaksanakan proker gue yang emang bersentuhan dengan itu, di tengah perjalanan gue berpapasan dengan seorang warga yang gue kenal dengan nama Arif, salah satu anggota karang taruna di desa ini kami pun berbincang sambil jalan
Ar: jadi gimana ri? Udah kenalan ama yang punya rumah? Mereka senang ga?
A: mereka? Bukannya yang punya rumah itu cuma kek Alam itu ya bang?
Ar: ah jangan pura-pura ga tau deh, kamu juga udah kenalan kan ama cewek yang di dekat gerbang masjid itu?
Langkah gue terhenti, gue tatap bang Arif dengan alis terangkat setinggi-tingginya dan dahi berkerut seberkerut-kerutnya
A: tau darimana bang?
Ar: hahaha santai ri, itu udah jadi rahasia umum disini
A: bisa di ceritain ga bang? Asli kaga ngerti gue
Ar: ntar lu juga ngerti kok, biar orangnya langsung aja yang cerita oke, gue duluan ya
Bang Arif pun berlalu ninggalin gue yang kebingungan sendiri
***************************************
Sehabis shalat magrib berjamaah di masjid gue pun hendak pulang ke posko dan seperti malam sebelumnya gue pun kembali ngeliat seorang cewek yang masih menggunakan mukena lengkap berdiri kaga jauh dari gerbang, kali ini tu cewek seperti sedang menunggu gue, gue bilang kaya gitu karena begitu gue melangkahkan kaki ke gerbang tu cewek mengubah arah tubuhkan mengikuti arah kedatangan gue, suaranya yang terdengar saat mengucapkan 'assalamualaikum' nguatin dugaan gue bahwa tu cewek emang lagi nunggu gue.
Meski kaga ada sahutan dari gue tu cewek masig aja senyum, dia ngulurin tangannya dan bilang
Quote:

Bersambung...........
profile-picture
profile-picture
profile-picture
mincli69 dan 13 lainnya memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Balasan post kingmaestro1
ngebayanginnya serem bener gan.. Bagaimana nasib kita sebagai orang awam ya kalau begini?
profile-picture
kakekane.cell memberi reputasi
Balasan post kingmaestro1
semangat ya untuk lanjt. Saya penasaran kelanjutannya
profile-picture
profile-picture
kakekane.cell dan SMQ29 memberi reputasi
justru lebih tenang ga bisa liat gan
profile-picture
kakekane.cell memberi reputasi
Quote:


Sip.. Doain gan biar semangat terus
profile-picture
profile-picture
kakekane.cell dan littlelulin19 memberi reputasi

Part 9: Perkenalan (3)

Gue pandangi cewek yang masih mengulurkan tangan sambil bibirnya mengulum senyum, Asti nama yang tadi dia sebutkan terus berputar di kepala gue sampai akhirnya gue pun bertanya
A: kamu perempuan yang waktu itu juga berdiri di sini kan?
As: iya, bukan hanya berdiri aja aku bahkan juga nemenin kamu sampai rumah dan hari-hari sebelum ini juga gitu
A: oh iya? Kok aku ga tau?
As: ah itu lantaran kamunya aja yang terlalu cuek sama perempuan
A: oh gitu ya? Kamu juga ngenalin diri ke temen aku ya?
As: iya, terutama perempuan itu, waktu dia kesurupan kemarin aku juga yang rasukin dia sebelum penjaga dia datang dan ngamuk-ngamuk sama kamu
A: oh jadi kamu itu sejenis makhluk halus juga ya?
Begitu gue nyelesein kalimat terakhir gue, baru gue sadari bahwa perempuan yang punya wajah cantik yang berdiri di depan gue bukanlah manusia, dengan pandangan kaga percaya gue tatap mata tu cewek
As: iya aku emang seperti yang ada dalam pikiran kamu (hebat juga ternyata ni cewek)
A: trus kenapa kamu ganggu teman aku dia kan ga salah?
As: oh jelas dia salah
A: salah apa dia?
As: salahnya dia karena dia menyukai kamu
A: lho letak salahnya dimana?
As: karena kamu milik aku makanya dia salah menyukai kamu
A: aku bukan milik kamu, aku cuma milik Tuhan dan orang tuaku.
As: Ya sekarang emang belum sih, tapi akan segera jadi milik aku
A: agresif juga ya kamu jadi cewek
As: ya emang harus gitu, ya udah aku pergi dulu ya kamu juga segera ke posko udah mau shalat isya mereka udah nungguin tuh
Kemudian tu cewek menghilang, gue pun segera melangkahkan kaki ke posko sambil ngedumel " Gila emangya tuh setan perempuan berani banget dia ngeklaim gue milik dia, dia kira gue barang apa?" Malam itu gue ngerasa ada yang lain dengan suasananya, desa yang biasa sunyi itu, malam itu kerasa agak rame gue ngerasa sepanjang jalan selalu ada mata yang ngamatin gue yang memang lagi jalan sendirian tapi karena emang dasarnya gue cuek, gue pun masa bodo dengan itu.
Waktu gue melintasi jalan yang agak menanjak yang di tumbuhin beberapa pohon asem, dengan tanpa permisi sebelumnya sesosok bayangan hitam tinggi besar berdiri di depan gue dengan mata merah menyala tu sosok melotot ke arah gue, gue berusaha tenang dan tetap berjalan melewati tu sosok sambil ngomong "permisi numpang lewat udah laper mau ke posko" Sekitar 10 langkah gue ngelewati tu sosok, gue merasa pundak gue di tepuk refleks gue menoleh begitu gue menoleh tangan itu mencekik leher gue, kesulitan bernafas gue pun megap-megap sambil berusaha nyingkirin tu tangan tapi kaga juga berhasil, gue lemes dan akhirnya pasrah kalau emang malam itu gue harus mati. Di ujung napas yang hampir habis sebuah bayangan menerjang ke arah sosok yang mencekik gue, cekikan itu terlepas, gue terhuyun-huyun mundur ke belakang di depan gue sekarang udah ada seekor harimau yang ternyata adalah bayangan yang menerjang tadi tiba-tiba aja harimau itu menoleh dan berbicara
Quote:
hah? Seekor harimau bicara ke gue? Gue meraba-raba diri apakah gue mulai gila? Masa ada harimau bisa bicara. Harimau itu kembali menatap sosok hitam itu dengan menggeram dan memasang kuda-kuda siap menerkam kapan aja, tak lama kemudian sosok itu menghilang harimau itupun mendekat kegue dan menjilati kaki gue dan terus bersikap layaknya kucing, bulu kuduk gue berdiri semua, ini mah lebih serem daripada di cekik tadi, gila aja seekor binatang buas ada di depan gue bersikap seolah-olah dia adalah kucing, tanpa pikir panjang gue pun lari pontang-panting ke posko, sampai di posko anak-anak pada siap-siap mau shalat isya berjamaah di posko, sejak Clara kesurupan tadi malam mereka memutuskan untuk shalat di posko aja, melihat wajah gue yang pucat mereka pads keheranan, kaga mau membiarkan mereka bertanya-tanya gue pun segera memerintahkan agar shalat isya segera didirikan.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
mincli69 dan 12 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh kingmaestro1

Part 10: Kisah Memilukan (1)

Usai shalat isya gue dan teman-teman pun makan malam di ruang tengah posko cewek, sehabis makan Radith cs sedang tenggelam dengan kesibukan mereka membuat draf proker, tak terasa udah 2 minggu kami berKKN disini, mereka pun jadi malu karena belum ada satupun proker yang mereka jalani, maka malam itu gue pun menuntut mereka harus punya minimal 1 proker hal itu gue lakuin supaya jadwal yang udah di tetapkan bersama kaga ada yang molor walaupun satu hari, karena gue pribadi udah nyelesein 2 proker individu yang berarti beban gue tinggal 1 proker individu, 1 proker kelompok desa, dan 1 proker kecamatan, maka gue berniat ngebantuin tu anak-anak bukannya gue kasihan sih cuma biar kaga di anggap bossy aja yang cuma bisa nyuruh-nyuruh, tapi sayang nya tu anak-anak kaga mau di bantuin jadilah akhirnya gue duduk di teras rumah sambil menikmati kopi bikinan sendiri, kenapa bikinan sendiri? Karena bagi gue kopi bikinan gue yang paling mantep kaga kalah deh ama barista-barista terkenal hehehe (ngarang). Sambil menikmati kesendirian itu gue bakar rokok untuk nambah cita rasa ngelamun. Sekitar 1 jam gue menikmati waktu gue, dari belakang terdengar suara langkah kaki mendekati gue lalu sebuah suara memecahkan keheningan yang gue buat
C: Ngelamun kak? Kok ga ngajak-ngajak sih?
Pemilik suara itu ternyata adalah Clara
A: lu kata main game pake ngajak-ngajak mana ada ngelamun ngajak-ngajak
Jengkel juga gue, soalnya dia udah ngerusak quality time gue
C: yee gitu aja sewot elu kak
A: habis lu ngerusak lamunan gue aja
C: ngelamun apa hayo?? Hal jorok ya?
A: iya hal jorok, gue lagi ngelamunin gimana jadinya kalo gue kentut di depan lu hehehe
C: haish.. Polos banget sih lu kak gitu aja kaga ngerti
A: anak kemarin sore udah pandai ngatain gue sekarang ya
C: hehehe peace kak, btw ngelamunin Asti ya?
Cukup kaget gue denger Clara nanyain hal itu, pertanyaan itu kaga pernah gue duga bakal keluar dari Clara
A: emang lu tau siapa Asti dek?
C: ya tau lah kak, jangankan gue yang lain pun udah pada tau, Asti kan gebetan kakak
A: jadi lu masih mikir Asti itu manusia?
C: lah emang dia manusia kan kak? Otak lu kaga gesrek kan kak?
A: sialan lu, ya untuk sekarang anggap aja si Asti itu manusia
C: jadi lu beneran suka kak ama dia?
A: ga ada alasan buat gue suka ama dia
C: masa? Dia kan cantik gitu seksi lagi
A: cantikan juga elu dek dan lu juga ga kalah seksi
Perkataan itu keluar begitu saja beberapa saat lamanya gue baru sadar akan kata-kata gue sendiri, tapi bingung gue mau ralat apa akhirnya gue milih untuk diam. Suasana jadi canggung sesaat, tapi karena gue udah ngerasa canggung duluan gue pun kaga berinisiatif untuk nyairin suasana lagi, Clara pun membuka suara berusaha mengusir canggung diantara kita
C: eh kak, tapi waktu gue kesurupan itu kata Radith elu nangis ya? Kalau boleh tau kakak nangis karena apa? Ga mungkin kan karena gue
Pertanyaan itu adalah pertanyaan yang kaga gue inginkan gue pun berusaha mengalihkan pertanyaan itu
A: eh, lu mau kopi ga dek? Gue bikinin ya enak lho
Gue pun beranjak hendak kedapur tujuan utama gue emang bukan untuk bikinin Clara kopi melainkan untuk mengalihkan pembicaraan, baru aja gue hendak melangkahkan kaki Clara menarik tangan gue dan berkata
C: ga usah kak gue ga mau kopi gue cuma mau dengar cerita kakak aja
Gue diam sesaat sebelum akhirnya gue kembali duduk dan berkata
A: gue ga mau nyeritain itu ra, terlalu berat rasanya
C: gue sih ga mau maksa kak, tapi jangan sampai hal itu ngeganggu fokus kakak, kakak pemimpin disini kan kakak yang bilang kalo kita harus saling berbagi
A: (menghela nafas) oke gue bakal ceritain tapi lu kudu janji kalo cerita ini harus di keep ya
C: oke gue janji kak
Sampai disini dulu ya agan-agan semua, soalnya keadaan disini lagi kaga enak. Insya allah bakalan ane sambung lagi di lain kesempatan
profile-picture
profile-picture
profile-picture
mincli69 dan 11 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh kingmaestro1

Part 11: Kisah Memilukan (2)

A: oke, gue bakal cerita tapi lu janji ya cerita ini di keep
C: oke gue janji
Karna Clara berani janji maka gue pun nyeritain cerita yang ngebuat gue trauma berhadapan ama orang kesurupan.
Cerita ini terjadi sewaktu gue masih tercatat sebagai santri di sebuah pondok pesantren, pesantren gue itu merupakan pesantren untuk putra dan putri, namun untuk asrama, dapur dan ruang belajar nya terpisah, selain dapur semua fasilitas lainnya terpisah lumayan jauh, di pesantren itu gue punya kenalan santriwati yang udah gue anggap sebagai adik sendiri. Singkat cerita adik gue itu ngalami hal yang sama ama yang Clara alami, yang berbeda hanya hasil akhir dan perkataan yang merasuki raga adik gue waktu itu si makhluk berkata "jangan ada yang ngizinin orang yang namanya Ari ke sini, kalau dia masuk aku pamit dan ku bawa anak ini" Mendengar itu temen - temen gue berusaha ngehalangi gue ngebuat gue emosi dan kalap mukul salah satu yang ngehalangi gue dan akhirnya gue berhasil masuk dan ancaman si makhluk itu benar-benar terbukti 2 menit setelah gue masuk ruangan itu nafas adik gue itu perlahan-lahan hilang seiring dengan badan yang semakin dingin.
Tak terasa cerita itu berakhir dengan air mata yang meleleh di pipi gue, Clara pun ngelap air mata gue dengan ujung lengan bajunya
C: yang sabar ya kak, gue juga ikut sedih
Mendengar ucapan itu gue berusaha tersenyum
C: tapi kak gue juga punya cerita tentang gue
A: cerita apa tu?
C: kakak pernah liat wajah gue kadang berubah kan?
A: iya kadang² kaya nenek-nenek terutama pas marah
C: nah itu ada ceritanya
A: seperti apa tu?
Sampe di sini dulu ya agan-aganwati semua
profile-picture
profile-picture
profile-picture
mincli69 dan 12 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh kingmaestro1

Part 12: Tentang Clara

Masih di malam yang sama gue pun menjadi pendengar untuk cerita Clara, Clara bercerita bahwa dia memiliki sesuatu yang bisa di bilang sebagai penjaganya, penjaga itu udah ada sejak turut temurun, entah gimana ceritanya penjaga itu udah jadi satu dengan yang di jaganya, dalam bahasa lainnya ada dua jiwa dalam satu tubuh.
Penjaga Clara ini terkadang suka mengambil alih tubuh yang di jaganya, terutama jika yang dijaga itu dalam keadaan emosi yang meledak, itu terlihat sewaktu pertama kali datang di desa ini (liat part sebelumnya).
C: kakak tau ga nenek itu siapa?
A: kaga, emang itu siapa?
C: nenek itu adalah moyang gue kak, beliau meninggal tidak biasa
A: ga biasa gimana nih?
C: ya meninggal sewaktu lagi berjalan ke dapur, sebelumnya ada cahaya hijau yang lewat
A: jadi maksud lu beliau di santet dek?
C: ada kemungkinan kak
A: hmhm, sayangnya gue belum hidup di jaman itu dek (berusaha melucu)
C: garing tau kak, trus gimana kak cara ngendaliin dia
A: hmhm agak rumit sih, ntar deh gue tanya ke guru gue
C: guru? Emangnya ada?
A: ada
C: tapi kan di sini ga ada signal buat nelpon kak
A: kalo itu rahasia adek sayang
C: ah kakak (bersemu merah)
R: acieeh udah jadian nih traktirannya donk, tapi kak lu kaga cukup satu ya
A: eh setan, main nimbrung aja lu
R: jahat lu kak, manusia seganteng ini lu bilang setan
A: bodo amat! (Sambil berjalan pergi)
C: mau kemana kak? Ikut ( berjalan menyusul)
R: idih pasangan baru ga bisa pisah bentar
A&C: lu pernah liat batu melayang kaga?
R: cieeh kompakan ni yee
C: ni anak minta di santet kayanya
A: udah tinggalin aja biar dia di apelin mbak kunti
R: wah lu jangan gitu donk mas bro
C: bodo amat! ( sambil ngeloyor pergi)
A: tungguin donk sayang (bergaya manja)
C: apaan sih kak
A: lu kalo ngambek gitu nambah cantik dek
C: iih kakak (sambil nyubit pinggang)
A: genit lu ya sekarang dah berani main cubit
C: kakak! (Memukul pundak gue
A: gue suka cewek hardcore (berlari kearah dapur)
C: kakak! (Berlari mengejar)
profile-picture
profile-picture
profile-picture
mincli69 dan 12 lainnya memberi reputasi
nitip sendal gan
profile-picture
profile-picture
profile-picture
g3nk_24 dan 2 lainnya memberi reputasi
nitip sendal juga
profile-picture
profile-picture
profile-picture
kakekane.cell dan 2 lainnya memberi reputasi
Halaman 1 dari 41


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di