alexa-tracking
Kategori
Kategori
Pengumuman! KASKUS mau ada event baru! Isi survey ini dan dapat badge!
5 stars - based on 3 vote 5 stars 0 stars
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5d5409b6b8408837123f0bf2/the-way-you-are

The Way You Are

Quote:




Friendship is not always about finishing each other's sentences or remind you to the lyrics you forget. Many times, friendship is about how fluent are both of you in speaking silence.

-- Maxwell.




profile-picture
profile-picture
agungdar2494 dan S.HWijayaputra memberi reputasi
Diubah oleh ladeedah
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!

Two Boys, One Girl

Cerita ini gue awali di sofa, tiga orang; dua pria satu wanita; di dalam sebuah country house dua kamar di kawasan Newcraighall, Edinburgh, UK, kira-kira setahun yang lalu. Anjir! Terdengar kayak mau shooting threesome double penetration wkwkkw!

Sayangnya tiga orang manusia itu hanya menatap TV dalam diam. Dua ekor anjing; Lexi (Golden Retriever) di pelukan Mamanya, Gen (Siberian Husky) tidur di kaki Papanya, dan satu lagi Vin (German Shepherd) mungkin sedang kejar-kejar burung di pekarangan belakang rumah, seperti Papanya yang suka kejar-kejar wanita.

Mereka adalah Hans, Dee dan Max. Yes ini tentang keluarga kecil gue. Dee karena as you know, nama gue sangat Jawa berawal dengan huruf D dan itu susah disebut sama orang bule jadi disingkat Dee sejak gue pindah ke Melbourne, ummm, 28 tahun silam. Saat ini umur gue 17 tahun. Hahahaha!

Hans adalah suami gue dan Max adalah......Max. Keduanya bule. Hans adalah keturunan Indonesia dan Belanda, tapi Indonesianya pun sudah campur aduk ga karuan sedangkan Max adalah Slavic. Yohoho Adidas Boi!

Kami sedang nonton Stranger Things saat itu. Maraton season 1 dan 2 karena tidak ada satupun dari kami yang punya waktu untuk nonton TV meskipun Netflix, Amazon Prime, dan Virgin Media (TV kabel) selalu terbayar setiap bulan. Gue selalu ingin meng-cancel plan-plan ini tapi:

Hans: Kalo aku gabisa tidur pas kamu lagi ga mau aku ajak boom boom syakalaka gimana, Sayang!

Max: Kasian The Boys loh Dee pas kita tinggal kerja, nanti kalo nonton yang banyak iklannya mereka jadi bawel kayak lo!

Uughh!

Sudah setahun saat itu kami tinggal di Edinburgh atas alasan pekerjaan Hans dan Max. Mereka bekerja di satu perusahaan konstruksi hanya berbeda bagian, Hans di bagian Department of Environment, Land, Water and Planning dan Max di bagian Department of Geodetic Surveyor. Perusahaan ini baru dibuka dua tahun yang lalu. Berpusat di Melbourne, ini adalah cabang pertama di luar Australia.

Pekerjaan kedua orang ini selalu bersinggungan. Ibaratnya Max yang nemu lahan, Hans yang menganalisa plus minusnya lahan tersebut, begitulah kira-kira mudahnya. Mereka berdua orang yang punya kantor tapi tidak pernah ditempati karena sibuk di lapangan.

Gue lelah mendengar diskusi mereka yang selalu ngomongin kerjaan di rumah. Gue tumbuh besar dengan seorang Papa yang adalah Bos Hans saat di Melbourne. Kuping gue sudah pengang dengar tentang fisika, properti dan konstruksi termasuk menghadapi seragam jaket oren+hard hat+baju+boots+celana bernoda semen dan cat. Sekarang gue hidup dengan DUA ORANG DEMIKIAN.

Sedikit tentang My Father, beliau sudah tidak di dunia ini lagi. Beliau sarjana Fisika di Indonesia, double Master Degree di Melbourne, dan PhD juga di Melbourne. Di usianya yang ke 48 tahun Papa meraih Level D dalam Academic. Beliau bukan dosen, tapi beliau Researcher dan pekerjaan Building Consultant beliau tekuni karena memang risetnya berhubungan dengan struktur material. Pekerjaan Papa adalah menganalisa efek angin dan pencahayaan terhadap struktur material suatu bangunan. Misalnya untuk gedung berkaca, kacanya harus berapa milimeter ketebalannya, sudutnya harus berapa agar tidak pecah saat ada angin, warnanya harus apa agar tidak terlalu memuai saat summer atau menyusut saat winter. Begitulah ketekunan Papa.

Level D setara dengan Professor di Asia, keistimewaan Level D dalam akademia: beliau tidak bisa dipecat dari akademia apapun keadaannya termasuk dalam hal ini di pekerjaannya sebagai Consultant, gimana rasanya punya kerja dengan gaji gede dan lo kagak mungkin dipecat apapun kesalahan lo?? Gue juga ga tau wkwkw!

Atas alasan itulah, Papa sangat dihormati dan gue dimudahkan atas kerja keras beliau: gue gampang dapet kerjaan di bidang beliau. Makanya belajar yang rajin, biar dapet respect dan anak kalian terjamin lahir batin. Gue aja males belajar!

Karena gue juga bosan nganggur dan iri dengan serunya kerja, akhirnya gue pun mencari pekerjaan. Gue ngelamar di kantor yang sama dengan Hans dan Max karena gue memiliki peluang besar untuk masuk sana.

Gue diterima di bagian Facility Management. Pekerjaan yang OKE bermodalkan "My Father told me a lot about it" saat wawancara, ditambah sebagian besar bosnya pindahan dari Australia dan kenal Papa, mereka tidak meragukan pengetahuan Papa sebagai Head of Project Consultant di Melbourne, ditambah gue juga alumni Fisika seperti Papa, padahal gue hanyalah sarjana yang cumlaude pun tidak, nasakom (nasib IP satu koma) iya, mereka percaya jika gue mewarisi kecerdasan sama seperti beliau. Wkwkwk, bullshit!

Gue pun kerja. Enggak dong, gue ga langsung jadi Manager. Fair disini, semuanya harus memulai dari 0 kalo ga punya pengalaman. Gue cuma dapet bypass langsung diterima.

Jadi bangunan-bangunan yang sudah jadi, apapun itu mau gedung apartemen, perkantoran, perhotelan, saat sudah selesai dibangun akan di desain dong. Mulai dari karpet, wallpaper, lampu, bedding/tempat tidur, kamar mandi, dapur dan lain-lain. Itu tugas Interior Designer. Gue adalah bagian yang menerima request dari para designer ini, melaporkannya ke atasan gue dan menghubungi Property Department untuk menghubungi para penjual lampu, bath up, kompor, keset dan lain-lain. Begitulah posisi gue. Setiap hari kerjaan gue nelepon sana-sini dan email sana-sini.

Bulan pertama fine. Gue sangat sibuk. Gue selalu PP bareng Hans dan Max. Kami punya dua mobil di rumah, satu mobil Mini Cooper 5 pintu milik Hans dan gue, satu mobil Range Rover Velar milik Max. Kemana Porsche kesayangan Hans? Dijual! Hahaha!

Akan ada cerita tentang ini.

Setiap kerja kami hanya bawa satu mobil karena Hans dan Max punya mobil kantor untuk mondar-mandir dan pulangnya bareng lagi. Setidaknya demikian rutinitasnya. Selain itu Hans dan Max sering ke London, dan kalian tau betapa macetnya London? Jakarta! Yes, no lies. Cuma macet teratur dan ga banyak motor aja. Jadi mereka juga lebih sering pilih naik transport umum.

Bulan kedua gue mulai bosan. Bukan karena pekerjaan, gue bosan selalu dekat dengan Hans dan Max, karena cerita yang sudah diceritakan di rumah diceritakan lagi di kantor oleh orang-orang yang berbeda, atau sebaliknya, bahasan yang sudah gue dengar di kantor dibahas lagi di rumah.

Gue bosan karena nama mereka selalu disebut oleh tetangga-tetangga cubic gue yang belum banyak, entah: tolong mintain laporan ini ke Hans ya, tolong telepon Hans ya, Max minta data geodesi bulan lalu, Max butuh tim tambahan untuk survey di Eltham, dan lain-lain.

Bagian terburuknya: Hans adalah karyawan lama di Melbourne. Kepindahannya ke Edinburgh adalah promosi dari Papa setelah pernikahan kami dengan menaikkan jabatannya menjadi Vice of CEO. Karena Sang CEO: Mister David dan Mister Murray sibuk di Melbourne, Hans sering diserahi tanggung jawab dong.

Dua kali gue menghadiri meeting yang dipimpin Hans.

Dia melihat gue kayak ga melihat istrinya! Dia tanya-tanya gue ga pake Baby, Sweetheart, Pumpkin, Bunny, Sweety Pie, atau Baby Duck kayak di rumah dong! Tapi:

Dee! Buka slide sebelumnya! Ini gimana ceritanya minta toilet harga £500! Itu kantor biasa bukan Penthouse! Panggil anak interior desain sama properti! Bego banget! Kamu jangan iya-iya aja Dee! Bantah aja kalo mereka ngelunjak!

Gue ga pernah kerja bareng Hans dan gue shock saat gue dibentak demikian di hadapan beberapa orang lainnya huhuhu!

Gue sakit hati, gue bosan bekerja satu pekerjaan dengan Hans dan Max, dan gue capek ngomong di telepon menghubungkan para interior designer dengan Property Department. Pokoknya gue harus berhenti.

Bulan ketiga gue berkonsultasi dengan atasan gue. Beliau menyayangkan tapi memaklumi. Gue pun mendapat pekerjaan baru: logistik di restoran. Restorannya cukup besar, punya 4 restoran besar di London dan Edinburgh. Gue bagian belanja dan mendistribusikan barang-barang belanjaan. ITS FUN!

Kembali lagi ke obrolan saat menonton Stranger Things, dimana saat ending season 2: Mike dan Eleven kissing.

"Kalian dulu kayak Mike sama Eleven gitu ya?" Tanya Hans.

"What??" Jawab gue dan Max bersamaan.

"Cinta monyet kayak Mike dan Eleven? Kalian gede bareng kan, ga mungkin ga saling jatuh cinta! Did you two fuck alot?"

..........



Without Me -- Eminem

profile-picture
profile-picture
i4munited dan S.HWijayaputra memberi reputasi
Diubah oleh ladeedah
Oohh my babby uwuwuwuwuwu emoticon-Kiss (S)

Besok gue baca, gw cape mau bubu duluh

Oh ya nih di samping gue ada mas brian emoticon-Genit
profile-picture
ladeedah memberi reputasi
Diubah oleh Anyaa351
Sekali baca langsung suka.

Ijin mantengin ya sis @ladeedah emoticon-Embarrassment
profile-picture
profile-picture
ladeedah dan agungdar2494 memberi reputasi
Wihh ada max ama mas hansemoticon-Embarrassment.. udah lama banget sejak di trit DNSemoticon-Belo
profile-picture
profile-picture
ladeedah dan agungdar2494 memberi reputasi
gue kapan bisa nulis mengalir, dan penuh rasa begini?
profile-picture
profile-picture
ladeedah dan S.HWijayaputra memberi reputasi
Quote:

Yaudah kelonin Brian ya, peluk y rapet emoticon-Big Grin
Quote:

Hai! Kunaon speechless kieu nya tiap baca IDmu emoticon-Hammer (S)
Seems I forgot something that dont even exist in my brain emoticon-Malu (S)
Quote:

Mereka masih idup kok Din wkwk
Quote:

Makasiiih Broo!! Duduk yang manis yes!
profile-picture
profile-picture
agungdar2494 dan S.HWijayaputra memberi reputasi
ketinggalan gak nih? mejeng dulu ah
profile-picture
ladeedah memberi reputasi

Little Maxwell, Little Dee

Maxwell terlahir empat bulan setelah Dee kecil lahir. Dee kecil lahir Mei, Maxwell kecil September. Daddy-nya keturunan Inggris, Mommy-nya Yugoslavia yang lahir di Australia. Kedua orang tuanya memaksa nama anaknya memiliki kedua elemen budaya: British dan Slavic. Untung nama pertama Max itu Maxwell bukan Vladimir, Dmitri, Igor, atau Ivan wkwkw

Baby Maxwell lahir tanpa menangis. Sang Dokter harus membuat dia menangis dengan nabokin pantatnya beberapa kali sampai dia menangis. Saat kecilpun, Maxwell jauh lebih jarang menangis dibanding Kakak laki-lakinya, Bobby.

Perkenalan Maxwell kecil dan Dee kecil pertama kali adalah saat satu sekolah di North Melbourne. Sama-sama murid baru di Prep (setara TKB), mereka memakai name tag yang dikalungkan di leher.

Diajeng.

Maxwell.


"Can you help me coloring my rainbow?" adalah kalimat pertama yang Maxwell kecil tanyakan ke Dee kecil. Maxwell kecil menyerahkan kertas yang sudah bergambar lengkung-lengkung dengan pensil.

"Kok pink semua?" Tanya Maxwell kecil saat Dee kecil warnai semua lengkungnya dengan pink.

"Karena gue suka pink!"

"Tapi pelangi kan warna-warni ga cuma pink?"

"Lo mau gue bantuin ga??"

Maxwell kecil juga tidak banyak bicara. Dia hanya akan bicara jika Miss Mandy, guru wali kelas, meminta dia bicara. Di sisi lain, Dee kecil adalah anak yang amat sangat bawel. Maxwell kecil juga selalu main sendirian, kesukaannya adalah mengumpulkan batu-batu di playground sekolah lalu dia pilih yang paling bagus dan dia bawa pulang.

"Buat apa?" Tanya Dee kecil saat dia lihat Maxwell kecil memiliki banyak batu di tasnya.

“Mau gue warnain di rumah.”

Bocah aneh, pikir Dee kecil saat itu.

Maxwell kecil suka mengikuti Dee kecil, karena sama seperti Max kecil, Dee kecil juga tidak punya teman karena Dee kecil suka marah, tidak mau sharing, dan sering nangis haha. Dee kecil sering dibuli oleh teman-teman yang lain karena perangai buruknya. Semakin dibuli, semakin parah. Begitulah efek berantainya. Maxwell kecil juga tidak pernah mengajak Dee kecil main, atau sebaliknya, tapi Maxwell kecil selalu main dekat Dee main, hingga suatu hari mau tak mau dua anak ini main bersama karena sama-sama tersingkir dari pergaulan.

“Lo mau liat batu-batu gue ga?” Maxwell kecil menatap Dee kecil penuh harap saat mereka sedang mengikuti semut-semut yang menuju sebuah lubang di bawah batu.

“Mau!”

Maxwell kecil menarik tangan Dee kecil masuk kelas dan mengeluarkan dua batu berwarna hijau muda dengan totol-totol putih dan batu lainnya berwarna gold.

“Ini buat lo! Di rumah gue masih banyak lagi!”

“Ga ada yang pink?”

Maxwell kecil menggeleng kecewa.

Gue tidak ingat apa komen gue saat itu, tapi batu itu masih ada hingga saat ini di kamar gue di Edinburgh. Saat gue sudah besar dan melihat batu itu, hasil polesannya terlalu bagus untuk anak berusia lima tahun. Catnya smooth, rata dan solid. Bakat yang Maxwell bawa hingga besar: dia penggambar yang bagus. Bakat yang semakin tampak seiring kami naik kelas, Maxwell selalu mendapat nilai paling bagus di kelas Art.

Kedekatan Dee kecil dan Maxwell kecil semakin erat saat Mama-Mama mereka berteman dan sering jalan-jalan bareng karena sama-sama Ibu Rumah Tanggga pengangguran. Rumah Dee kecil dan Maxwell kecil tidak dekat kala itu. Rumah Dee kecil lebih dekat ke sekolah, tapi rumah Maxwell perlu naik tram atau bawa mobil karena kalau jalan kaki butuh sekitar setengah jam.

Rutinitas IRT pengangguran di belahan dunia manapun kalo punya temen biasalah ngerumpi di taman-taman atau level Mama-Mama kami saat itu paling banter ngopi karena harga Pandora mahal! Wkkwk!

Kedua IRT ini saking klopnya dan saking nganggurnya, mereka memutuskan ikut dance club. BUKAN MODERN DANCE ya tolong! Haha! Sesuai usia dan impian dan kebetulan diskonan pendaftaran, mereka mengikuti Tango Class. Oh Man! Siapa yang ga pengen bisa Tango! Yep. Tango. Kami semakin nempel karena kami selalu duduk di pojokan ruang berkaca, mewarnai, baca buku, atau lari-lari di hall saat Mama-Mama kami latihan selama dua hingga tiga jam.


“Dee, Papa ada jadwal ngelab malam hari ini. Mama juga ada latihan dance sampai jam delapan malam. Kamu mau ikut Papa ke kampus lagi? Atau ikut Mama latihan?” Papa membenarkan ikatan rambut Dee kecil yang selalu berantakan lagi sebelum sampai ke gerbang sekolah.

Rutinitas yang selalu dia lakukan di gerbang depan sekolah: mengencangkan ikat rambut Dee kecil.

“Dee mau ke rumah Maxwell aja! Nanti Papa jemput Dee di rumah Maxwell!”

“Maxwell? Dee kan belum pernah ke rumah Maxwell? Dan Mamanya Maxwell juga latihan dance sama Mama. Papa Maxwell baru pulang jam tujuh malam kerjanya.”

“Kan ada Bobby di rumah Maxwell.”

Bobby adalah Kakak Maxwell, terpaut tiga tahun dengan Sang Adik.

“DEE!” Maxwell kecil menghampiri Dee kecil. Papa mamandang dua anak itu dengan ragu.

“Maxwell sering di rumah sendiri? Bobby ada ga?” Tanya Papa.

“Ada Om! Bobby di rumah hari ini! Kalo Bobby ga di rumah juga aku sering di rumah sendiri!”

Sore itu Papa menjemput Dee kecil dan Maxwell kecil lalu mengantar ke rumah Maxwell.

“Ini simpan koin di saku kamu, jangan diambil kecuali untuk telepon umum! Ga boleh main api! Ga boleh main di luar! Ga boleh--”

“Iyaa Paaaa! Go away hush hush! Daaaaa!” Maxwell kecil dan Dee kecil tertawa cekikikan masuk ke rumah Maxwell kecil.

Itu adalah pertama kalinya Dee kecil main ke rumah Maxwell kecil.

Di Australia sendiri tidak ada aturan yang menegaskan usia berapa anak boleh ditinggal unsupervised di rumah, kecuali di Queensland. Di Queensland, jika anak dibawah 12 tahun sendirian di rumah DAN ketauan oleh pihak berwajib (mungkin tetangganya bawel dan lapor ke polisi) maka orang tua si anak bisa dikenai pasal hukum.

Namun Papa Dee kecil adalah orang yang sangat cerdas. Bagi Papa Dee kecil, meninggalkan anak di rumah bukan tentang usia berapa, tetapi memperhitungkan tingkat kedewasaan si anak, antara lain:

Berapa lama Dee kecil dan Maxwell kecil akan sendirian? Apakah lingkungan perumahan aman? Apakah ada anggota keluarga lain di rumahnya? Dan apakah anggota keluarga ini aman saat dekat dengan anak-anak?

Apakah Dee kecil dan Maxwell kecil yang masih berumur 7 tahun ini bisa menghadapi situasi emergency? Misalnya ada kebakaran, apakah mereka tau cara melarikan diri dari rumah?

Apakah Dee kecil dan Maxwell kecil saling mengingat nomer telepon emergency yaitu 000 untuk polisi? Apakah mereka hafal nomer telepon Papa Mamanya jika ada emergency? Apakah mereka bisa memakai telepon rumah? Telepon umum? Apakah mereka selalu menyimpan koin bersama mereka di kantong mereka saat tidak ditemani orang tua untuk alasan emergency menelepon orang tua di telepon umum?

Apakah Dee kecil dan Maxwell kecil mudah takut atas sesuatu, misal ada mati lampu mendadak? Petir? Hujan es? Dan apa yang akan mereka lakukan jika ada sesuatu yang membuat mereka takut?


Hari itu Papa menelepon setiap jam dari jam lima sore hingga jam tujuh malam, memastikan dua anak kecil tersebut masih hidup wkwkw.

Maxwell kecil ternyata lebih dewasa dibanding Dee kecil karena Maxwell kecil sudah bisa bilang: “Hey, don’t be worried, Bram! We will be allright!”

They did a great job that day karena setelah hari itu, mereka diijinkan untuk tinggal di rumah jika tidak ingin pergi bersama Mama atau Papa, bergantian kadang di rumah Dee kecil juga. Tapi seperti yang selalu Papa khawatirkan, mereka tidak pernah ditinggal lebih dari tiga jam.

Dee kecil dan Maxwell kecil selalu sekelas sejak Prep, namun seiring usia yang semakin besar, mereka juga berteman dengan teman-teman lainnya. Salah satunya adalah Sarah yang mulai mereka akrabi sejak kelas empat. Kebetulan rumah Sarah kecil ternyata dekat dengan rumah Dee kecil sehingga Sarah kecil sering ikut bergabung di rumah. Papa merasa lebih aman dan kadang menambah waktu main mereka bertiga jadi 3.5 jam, meskipun sangat jarang.

“Oi Beanstalk!”

Dee yang sudah kelas lima sedang bermain bersama Sarah di lapangan basket, melempar bola tennis ke dalam ring karena tidak ada bola basket saat itu dan memakai bola kaki untuk main basket cukup berat juga. Panggilan itu berasal dari Greg, siswa kelas enam yang terkenal nakal dan suka mengejek. Greg memang sering terjebak masalah dan sering kena detention/hukuman dengan harus social working membantu petugas di kantin atau merapikan buku-buku di perpustakaan. Rambut Greg jabrik berwarna merah dengan freckels tersebar di wajahnya yang tidak pernah tersenyum.

The Face of Greg! Dee kecil hanya bilang itu ke Papa saat wajah Papa atau Mama merengut galak tanpa senyum.

Dee kecil adalah salah satu objek ejekan Greg karena Dee sangat kurus.

Karena Dee kecil cukup populer kala itu dengan sering menceritakan buku-buku yang dia baca dengan berani saat Assembly (perkumpulan semua kelas setiap hari Jumat).

Karena Dee kecil namanya sering menjadi Student of The Week atas alasan kecil misalnya membantu Miss Ferosa membereskan kelas atau menyelesaikan jurnal PR membaca buku cerita lebih dulu.

Anak-anak grade senior pun akhirnya mengenal Dee kecil. Termasuk Greg. Beberapa menyapa Dee kecil ramah. Beberapa dengki. Greg rupanya sangat dengki lahir batin pada Dee. Setiap ada kesempatan memanggil Dee: lidi, batang kacang, tiang listrik, kurang gizi atau apapun akan dia sebutkan.

“Go away Greg!” Teriak Dee kecil dan Sarah kecil saat Greg mendekati mereka.

“Lo kurus kek pohon kacang! Tuh kaki awas patah loncat tinggi-tinggi! Kalo patah ga bisa disambung lagi!”

Dee hanya bertatap mata dengan Sarah dan tetap melanjutkan permainan tanpa menghiraukan Greg. Tiba-tiba Greg merebut bola tenis dan melemparkannya keluar pagar.

“Kok gitu sih! Ambil ga!” Dee melawan Greg.

“Kenapa ga ambil ndiri!” Greg mendorong tubuh Dee.

“Lo nakal banget sih! Gue bilangin Miss Campbell (kepala sekolah) ya!” teriak Dee lagi.

“Idih ngadu!” Greg menarik rambut panjang Dee yang diikat pony di belakang kepala. Sangat keras karena tarikan itu membuat Dee teriak kesakitan. Tarikan yang juga membuat Dee jatuh ke lapangan. Greg lari. Dee mengejar Greg.

Mereka terus berlari di lorong kelas meskipun beberapa guru sudah meneriaki mereka untuk berhenti. Lari di lorong kelas hukumannya berat. Greg berhenti dan langsung menyambut Dee yang berlari ke arahnya dengan satu tonjokan yang tepat bersarang di pipi kanan Dee. Seketika Dee tersungkur, berteriak dan menangis.

Satu hal yang Dee ingat di antara tangis kesakitan dan darah yang mengucur dari mulutnya, Dee melihat seorang siswa laki-laki adu tinju dengan Greg.

Maxwell.

Entah dia datang darimana, tapi Maxwell tidak berhenti menyerang Greg meskipun dirinya sendiri beberapa kali juga dipukul oleh Greg, tapi Maxwell tetap berusaha bangkit. Dia serang Greg dengan tinju dan tendangannya.

“STOP IT YOU TWO!!” Teriakan Mister Kogler, guru PE/Penjaskes, membuat teriakan di hall seketika sepi. Mister Kogler memisah paksa bersama guru lain, menarik tubuh dua anak laki-laki yang masih ingin saling serang. Hall sudah penuh dengan siswa-siswa yang menonton gelut Greg dan Maxwell.

Greg, Maxwell, Dee dan Sarah sebagai saksi dipanggil menghadap Miss Campbell.

Wajah Greg dan Maxwell sama-sama lebam dan berdarah, Dee juga, namun tidak separah mereke berdua. Sambil menghadap Miss Campbell, mereka memegang ice pack dari Nurse Sekolah.

“…..Max ikut-ikutan!” tutup Greg diujung pembelaan dirinya.

Tapi Maxwell tidak bicara apa-apa. Hingga interogasi selesai Maxwell juga tetap diam. Mereka bertiga dikenai detention berbeda-beda. Tak cukup dengan detention, orang tua mereka bertiga juga dipanggil ke sekolah hari itu juga. Dee masih mengingat wajah sang Papa yang pucat melihat wajah putri kesayangannya yang lebam dan bibirnya yang bengkak.

“Kamu ga apa-apa? Kenapa bisa begini??”

“The face of Greg hit me, Pa!”

Papa hanya mendengus dan menggigit bibir bawahnya menahan kesal.

Greg dan Maxwell harus membantu Janitor selama satu minggu saat jam istirahat dan setelah pulang sekolah. Dee harus membantu Kantin selama tiga hari.

Dua hari kemudian, Dee menghampiri Maxwell di kamar mandi yang sedang dia bersihkan setelah pulang sekolah. Dia tunggu hingga Maxwell selesai.

“Nonton Paddington di rumah gue yuk!” ajak Maxwell.

“Gue harus pulang. Papa mau bawa gue ke dokter karena masih sakit gusinya.”

“Sini coba gue liat!” Maxwell berhadapan dengan Dee dan melihat luka di bibir juga wajah Dee, lalu dia suruh Dee menunjukkan gusinya yang sakit.

“Sakit banget?”

Dee mangangguk. “Lo sendiri udah sembuh?”

“Udah ga kerasa apa-apa!” Maxwell memalingkan wajahnya dan berjalan lagi. Ga kerasa apa-apa tapi biru di mata dan pipinya masih jelas.

“Sini gue liat juga!” Dee memaksa memegang kantung mata Maxwell dan pipinya.

“Ouch, Dee! It hurts!”

“Katanya ga kerasa apa-apa!”

“Stop it you Stupid Dee!”

“Hahahaha I am sorry!” Dee melingkarkan tangannya ke bahu Maxwell.

“Makasih ya Max!” Dee belum sempat berterima kasih pada Max yang sudah membantu menghajar Greg.

Max diam. Papa Dee sudah menunggu di depan gerbang sedang ngobrol dengan Mister Kogler. Dia lambaikan tangan ke Papanya yang juga melambaikan tangan.

“Yaudah gue duluan ya Max! Lo ga bareng gue aja?”

Max menggeleng dan menunjuk ke Mamanya yang sudah menunggu di sisi gerbang yang lain.

“Oke, see you tomorrow, Blue Face!” Ejek Dee.

“Dee!”

Dee menghentikan langkahnya dan menghadap Max lagi.

“Kalo ada yang nakalin lo lagi, jangan lo lawan sendirian! Bilang gue! I will help you and I will protect you with my life!”

“I will, Max! You are my best friend!”

“You are my bestest friend!” Balas Maxwell.

Maxwell mendekati Dee lalu mencium pipi kanan Dee dengan cepat sebelum lari sekencang-kencangnya ke mobil Mamanya tanpa menoleh ke Dee lagi.

I will help you and I will protect you with my life....


The Way I Am -- Eminem


profile-picture
i4munited memberi reputasi
Diubah oleh ladeedah
Quote:


Masih kosong karpetnya Za emoticon-Leh Uga

===

Sorry baru updet, jadi baby sitter dua hari rasanya gue udah butuh terapi emoticon-Ngakak (S)
28 tahun gue kenal lo.
28 tahun gue berlindung di bawah panji lo.
28 tahun gue memegang paspor hijau dengan Garuda kebanggaan lo.

Tidak ada yang berubah dengan bahasa Mama.
Tidak ada yang berubah dengan kegagahan nama Papa.

Gue yang memilih melepas kewarganegaraan Indonesia,

bukan karena ingin jadi berbeda, tapi karena administrasi pasutri beda bendera di negara yang berbeda benua susah ngurusnya.

Klasik Indonesia dengan keunikan ribet birokrasinya emoticon-Frown

Maafkan aku Indonesia.

Dirgahayu...Mantanku yang Terindah emoticon-Frown emoticon-Frown

Gue masih hafal Indonesia Raya dan hormat kok pagi ini emoticon-Mewek

Selamat 17an ya! Selamat lomba2! Selamat menikmati diskonan2! Selamat Ulang Tahun Indonesia! emoticon-Merdeka
profile-picture
i4munited memberi reputasi
Diubah oleh ladeedah
Happy birthday Indonesiaa...

Hai ajeeeng aku lebih suka thread2 model begini daripada thread yang mengguncang hati...haha dasar lemah...aku...

Seru ya punya sahabat cowok kayak max...

Jaman SD dulu di indo klo ada cewek temenan akrab sama cowok dicap aneh
profile-picture
ladeedah memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Balasan post thefresh
Quote:


Gitu ya? Padahal nulis trit ini mengguncang hati gue habis-habisan karena ada peran Papa yang sangat besar di antara Maxwell dan Dee.

Jujur, gue gabisa ga nangis tiap nulis setiap partnya haha

Emosional. Sangat.
profile-picture
i4munited memberi reputasi
yeayyy ada trit dengan tokoh2 ini lagi! emoticon-Peluk


i miss them so much. especially Papa Bram and Dee...
Post ini telah dihapus oleh kaskus.support16


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di