alexa-tracking
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / News / ... / Sejarah & Xenology /
Dihiasai Emas, Gajah Aceh Jadi Benteng Kesultanan Aceh
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5d53cbaee83c72097021ffe0/dihiasai-emas-gajah-aceh-jadi-benteng-kesultanan-aceh

Dihiasai Emas, Gajah Aceh Jadi Benteng Kesultanan Aceh

zaman kerajaan pada saat perang, tidak selalu menggunakan kuda sebagai tungganganya gan.. ada juga yang pake gajah.emoticon-Salam Kenal gajah emas.

Dihiasai Emas, Gajah Aceh Jadi Benteng Kesultanan Aceh

MINEWS, BANDA ACEH – Hari Gajah sedunia yang ditetapkan PBB pada 12 Agustus ini mengingatkan populasi dan keberadaan mamalia terbesar di dunia ini. Di Sumatera, konflik manusia dengan gajah tak terhindarkan. Gajah diburu dan dimusuhi. Akibatnya, populasi gajah semakin menurun.

Padahal dulu gajah dan manusia justru hidup berdampingan. Kerajaan-kerajaan di utara Pulau Sumatra telah menjadikan gajah sebagai bagian tak terpisahkan dari kerajaan. Menurut sejarawan M Junus Djamil, seorang raja di Pidie Aceh memilih gajah sebagai tunganggannya.

Seperti dikutip dari Historia, Sultan Perlak pada berkuasa pada 1146 juga gemar mengendarai gajah berhias emas. Malah, pengelana asal Italia, Marcopolo menyebut Samudra Pasai sebagai kerajaan yang mempunyai banyak gajah, dan sebagian besar kepunyaan raja.

Ibnu Batutah dalam risalahnya menulis lebih detail soal gajah di Samudra Pasai. Gajah-gajah itu bagian armada perang kerajaan. Jumlahnya 300 gajah. Meski untuk berperang, gajah-gajah itu tetap dihias. Menurutnya, kekuatan dan kemegahan armada Gajah Samudra Pasai hanya bisa disaingi oleh Kerajaan Delhi (India).

Ketika Kesultanan Aceh berdiri pada paruh pertama abad ke-16, gajah tetap menjadi hewan andalan, selain kuda. Sultan-sultan Aceh masa itu tersohor sebagai penunggang gajah yang mahir. Gajah-gajah pun dirawat dengan baik.

Saat itu, gajah-gajah liar di pedalaman diburu bukan untuk diambil gadingnya, melainkan untuk dijinakkan. Setelah jinak, gajah terbaik dan terbesar akan dijadikan gajah sultan. Sisanya untuk armada perang Aceh.

Gajah-gajah perang itu dihias seindah mungkin dengan emas dan permata.
Kebanggaan Kesultanan Aceh terhadap gajah berlanjut hingga abad ke-17. Iskandar Muda, calon sultan, akrab dengan gajah sejak kecil. Indra Jaya, seekor anak gajah, menjadi teman bermain Iskandar Muda kecil. Kakeknya, Sultan Alau’ddin Riayat Syah, memberikan gajah itu saat Iskandar berumur 5 tahun. Iskandar senang menerimanya.

Dia menghabiskan sebagian besar waktu bermainnya dengan anak gajah itu. Menginjak usia 7 tahun, dia mulai berburu gajah liar yang berada dalam hutan. Saat beranjak dewasa, Iskandar Muda telah mahir menunggangi gajah.

Tamu-tamu asing Kesultanan Aceh terpukau dengan gajah-gajah di sana. Sebaliknya, Aceh membanggakan gajah-gajahnya pada tamu-tamu asing. Untuk menyambut tamu asing, gajah dipersiapkan sebaik mungkin, baik perangai, kesehatan maupun perhiasannya.

John Davies, seorang navigator Inggris, mengungkapkan pengalamannya mengunjungi istana sultan pada 1599. “Saya berkendara ke istananya dengan seekor gajah,” tulis Davies dalam “Kunjungan Pertama Belanda Berakhir Buruk, 1599,” dimuat dalam Sumatera Tempo Doeloe.
Menurut Davies, gajah saat itu dapat digunakan sebagai alat eksekusi hukuman mati. Gajah bisa merobek badan orang hingga pecah berkeping-keping. Hukuman mati dengan gajah dikenakan pada pezina dan pembunuh.

Meski gajah sempat menjadi alat eksekusi, fungsi utama gajah sebagai simbol kebesaran kesultanan Aceh tak terbantahkan. Augustin de Beaulieu, pedagang Prancis, menyaksikan bagaimana Aceh merupakan panggung teater besar para gajah pada 1621. Dalam catatannya, “Kekejaman Iskandar Muda”, dimuat dalam Sumatera Tempo Doeloe, dia menyebut Aceh memiliki 900 ekor gajah.

Karena melimpahnya armada gajah, Aceh tak memerlukan benteng kota.
Takeshi Ito dalam tesis berjudul The World of The Adat Aceh, menulis Aceh tak hanya mengoleksi gajah tapi juga mengeskpor atau membarternya dengan sejumlah kuda atau hewan lain ke beberapa wilayah seperti Srilanka.

Pada masa Sultanah Safiatuddin (1641-1675), kepemilikan gajah tak terbatas lagi pada sultan. Orang kaya boleh memilikinya.
Sayangnya kebesaran gajah di Sumatera saat ini sudah tidak seperti dulu. Nasib gajah semakin merana. Dimusuhi warga dan nyaris punah.



gajahnya dikasih emas gak tuh.. emoticon-Coolgimana gak keren.



-selamat membaca-

 

Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di