alexa-tracking
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / News / ... / Beritagar.id /
Boeing pastikan ahli waris JT610 terima Rp2 miliar
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5d537c7d88b3cb2ef57c9c3f/boeing-pastikan-ahli-waris-jt610-terima-rp2-miliar

Boeing pastikan ahli waris JT610 terima Rp2 miliar

Boeing pastikan ahli waris JT610 terima Rp2 miliar
Petugas melakukan pendataan terhadap keluarga korban jatuhnya pesawat Lion Air JT-610 rute Jakarta-Pangkalpinang di Crisis Center Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, Selasa (30/10/2018).
Perusahaan produsen pesawat, Boeing Company, menargetkan pencairan dana santunan bagi ahli waris korban kecelakaan Lion Air JT610 dan Ethiopian Airlines ET302 berlangsung Oktober 2019.

Total dana yang akan didistribusikan mencapai AS$50 juta (sekitar Rp711,5 miliar) terbagi untuk 189 ahli waris korban kecelakaan Lion Air JT610 dan 157 ahli waris korban kecelakaan Ethiopian Airlines.

Dari pembagian itu, setiap ahli waris diperkirakan akan menerima AS$145 ribu atau sekitar Rp2 miliar. Dana santunan ini merupakan bantuan keuangan jangka pendek, di luar proses litigasi yang sedang berjalan.

Proses litigasi yang dimaksud menyangkut gugatan yang dilayangkan sejumlah keluarga korban Lion Air JT610 kepada Boeing Company. Nilai gugatan yang dilayangkan berkisar AS$800 ribu sampai AS$1 juta.

Keterangan tertulis Duta Besar RI untuk Amerika Serikat (AS) Mahendra Siregar mengatakan, Boeing bakal menunjuk Kenneth Feinberg dan Camille Biros sebagai pengacara perusahaan dalam proses pendistribusian dana santunan itu.

Untuk proses pencairan, para calon penerima harus memegang surat keterangan ahli waris yang sah sesuai hukum masing-masing negara korban. Para ahli waris tidak diharuskan menandatangani pernyataan Release and Discharge atau jaminan tidak akan melakukan tuntutan hukum.

Ahli waris dapat memperoleh dana secara langsung dari Kenneth Feinberg dan Camille Biros atau diwakilkan oleh pengacara yang ditunjuk.

Bila ahli waris memilih diwakilkan pengacara, maka ada persyaratan tambahan yang harus dipenuhi, yakni perjanjian tertulis antara pengacara dan ahli waris. Selain itu, pengacara yang ditunjuk juga tidak boleh memungut bayaran atau pro bono.

Skema pendistribusian dana belum dijabarkan dengan detail. Setidaknya, proses itu bakal dimulai pada Oktober 2019. Mengenai kecepatan pendistribusian akan sangat bergantung pada ketersediaan persyaratan administrasi para ahli waris.

Pihak KBRI di Washington DC akan terus mengawal proses pendistribusian dana santunan dengan pengacara Boeing Company untuk selanjutnya mengomunikasikan dengan para ahli waris.

Informasi lebih lanjut terkait proses pencairan dana dan persyaratan administrasi bisa menghubungi Atase Perhubungan KBRI Washington DC melalui email saptandri@embassyofindonesia.org atau telepon +1-202-775-5222.
KNKT rilis laporan akhir
Sejalan dengan proses pencairan dana santunan oleh Boeing Company, Komisi Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) juga dijadwalkan merilis hasil investigasi akhir atas kecelakaan JT610 pada Oktober 2019.

Laporan akhir ini bakal melengkapi hasil temuan awal yang dirilis satu bulan setelah kecelakaan terjadi, 29 Oktober 2018.

Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan Polana Banguningsih Pramesti menerangkan, laporan akhir KNKT ini nantinya akan diserahkan kepada Boeing Company, Lion Air, US Federal Aviation Administration (FAA), dan otoritas terkait lainnya.

Ketua Sub-Komite Investigasi Kecelakaan Penerbangan KNKT Nurcahyo Utomo sebelumnya menyatakan, kelengkapan laporan investigasi kecelakaan hanya tinggal menunggu data-data tambahan dari Boeing.

“Ketika data itu sudah diberikan, maka laporan akhir ini akan rampung dan kami serahkan kepada otoritas terkait,” sebut Nurcahyo dalam Channel News Asia.

Dalam rilis laporan sebelumnya, KNKT membenarkan ada kepanikan di kabin kokpit pesawat Lion Air JT610 sebelum jatuh di Perairan Karawang, Jawa Barat, pada 29 Oktober 2018.

Reuters, Rabu (20/3/2019), secara eksklusif memberitakan bahwa pilot Lion Air Boeing 737 MAX 8 bernomor registrasi PK-LQP tersebut sedang mencari solusi melalui buku panduan sesaat sebelum pesawat rute Jakarta-Tanjung Pinang bermuatan total 189 penumpang itu jatuh di Perairan Karawang.

Situasi itu ditulis dengan basis keterangan dari tiga orang sumbernya. Namun, Reuters mengaku tidak mendengarkan rekaman kotak hitam atau Cockpit Voice Recorder (CVR).

Berdasarkan laporan pada November 2018, kapten pilot Bhavye Suneja menangani pesawat dan kopilot Harvino mengurus radio komunikasi. Dua menit berada di udara setelah lepas landas dari Bandara Soekarno Hatta di Cengkareng, Tangerang, Banten, Harvino melaporkan ada "masalah flight control" kepada petugas Air Traffic Control (ATC).

Tetapi Harvino tidak menjelaskan dengan detail flight problem itu. Sementara Suneja tetap menjaga pesawat pada ketinggian 5.000 kaki.

Sumber pertama mengatakan kepada Reuters bahwa Harvino menyinggung soal "kecepatan" kepada Suneja, sementara sumber kedua mengungkapkan indikator masalah muncul di layar di depan Suneja.

Suneja kemudian meminta Harvino untuk membuka buku manual dan memeriksa silang apa yang terjadi. Sembilan menit kemudian, pesawat mengeluarkan peringatan stall dan Suneja menurunkan hidung pesawatnya.

Stall berarti pesawat sulit lagi dikendalikan dan kehilangan daya angkat. Dua sumber itu kemudian menyimpulkan bahwa Suneja dan Harvino hanya membahas soal kecepatan dan ketinggian, padahal hidung pesawat sudah menukik.
Boeing pastikan ahli waris JT610 terima Rp2 miliar


Sumber : https://beritagar.id/artikel/berita/...ima-rp2-miliar

---

Baca juga dari kategori BERITA :

- Boeing pastikan ahli waris JT610 terima Rp2 miliar KPK tetapkan 4 tersangka baru dalam kasus korupsi e-KTP

- Boeing pastikan ahli waris JT610 terima Rp2 miliar Mediasi gugatan pencemaran minyak di Balikpapan gagal

- Boeing pastikan ahli waris JT610 terima Rp2 miliar Benih lobster senilai Rp13,8 miliar coba diselundupkan ke Singapura

Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di