alexa-tracking
Kategori
Kategori
Pengumuman! KASKUS mau ada event baru! Isi survey ini dan dapat badge!
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5d5351b42f568d38561424af/mencari-ara

Mencari Ara

Seseorang bisa datang dan pergi kapan saja, di mana saja dan dengan cara seperti apa. Kadang kita terlalu hanyut dalam kebersamaan sehingga tak menyiapkan bagaimana caranya agar tak terlalu kehilangan, ketika orang yang disayangi memutuskan untuk pergi. Mungkin inilah kenapa akhirnya banyak dari kita merasakan sakit yang mendalam lantaran lupa menyiapkan diri untuk menikmati perpisahan.
Pagi ini begitu syahdu. Suara takbir masih menggema dari pengeras suara dari Masjid-masjid sekitar rumah. Suara renyah anak-anak terdengar syahdu, entah bagaimana mampu menghipnotis bagi yang mendengarnya untuk segera mungkin mengikuti alunan takbir. Sedangkan dalam pikiran ini, di dalam ruangan yang entah sejak kapan diharumi oleh bebauan kertas yang sudah mulai menua dan diselimuti oleh debu namun sungguh enak untuk dinikmati. Wangi kopi yang tak mau kalah pun setiap harinya selalu hadir dalam ruangan yang tak begitu luas ini. Laptop selalu menyala untuk kembali mencatat setiap peristiwa yang terjadi di masa setalah kemerdekaan bangsa ini diproklamirkan oleh Bung Karno dan Bung Hatta.
"Bos udah nanyain naskah-naskah dari bulan April sampe Mei tahun 1948", pesan yang sangat tak tepat datangnya. Menjelang hari raya kurban dan juga berada di akhir pekan seperti ini rupanya masih saja ada yang perlu dikerjakan. Belum lagi ada hal yang sangat mengganjal dalam pikiran ini yang telah hadir dalam beberapa hari terakhir.
Buku-buku berjejer tersusun berantakan. Jika biasanya tersusun rapih maka berbeda dengan yang terjadi dalam ruangan ini. Buku yang selalu berantakan, entah sudah berapa kali dirapikan oleh sesosok Ibu yang sangat putih hatinya yang selalu berkata "buku sama kertasnya ya dirapikan biar nyamuk-nyamuk gak bersarang di kamar mu", dan kalimat itu selalu gue balas dengan singkat dan padat "iya bu", namun pada akhirnya hal ini selalu terjadi dan berulang kali hingga akhirnya gue menyadari hati seorang ibu tak akan pernah lelah untuk mengingatkan anaknya agar menjadi lebih baik lagi.
Sore itu setelah membuat kopi dengan rumus satu sendok makan kopi dipadukan dengan sedikit gula dan satu gelas air mineral yang baru dimasak aromanya sangat mencolok di dalam hidung. Lelah menyalin naskah lama akhirnya memutuskan untuk segera mampir dalam dunia lain untuk menikmati cerita-cerita yang enak dibaca, ringan dan menyembunyikan makna mendalam. Tulisan bukanlah sekedar jejeran huruf yang tersusun sehingga menciptakan banyak kalimat dan makna, namun mereka akan terasa hidup jika dituliskan dengan kejujuran dan kegelisahan yang mendalam. Maka banyak dari para pembaca yang mengalami rasa kedekatan dengan penulisnya atau bahkan bisa saja merasakan jatuh cinta. Jika dipikirkan mungkin akan terasa aneh, namun hal tersebut kerap kali terjadi kepada beberapa orang.
Jatuh cinta dengan penulis, yang bahkan melihat senyum manisnya saja tak pernah tapi kenapa bisa terjadi? Entahlah. Perkembangan teknologi komunikasi pada saat ini telah banyak mengubah pola hidup manusia. Marshal McLuhan bahkan telah memprediksi bahwa pola komunikasi manusia menjadi semakin meluas dan serempak sehingga dunia menjadi semacam "desa besar"/ global village.
Perkataan McLuhan tentulah benar dengan apa yang terjadi belakangan ini. Gue yang belakangan ini gemar membaca cerita di forum-forum menulis rasanya memiliki kedekatan dengan apa yang dialami oleh si penulisnya. Tulisan yang dibuat dengan secara baik akan menimbulkan efek tersendiri bagi para pembacanya, entah tersenyum, tertawa, bersedih hati atau bahkan menangis kerap kali terjadi.
Lantas gue kembali teringat dengan Ernest G. Bormann, baginya manusia adalah homo narrans, yaitu mahluk yang saling bertukar cerita atau narasi untuk menggambarkan pengalaman dan realitas sosialnya. Akhirnya diri gue kembali tenggelam pada masa kuliah dan mengingat kembali bagaimana Bormann menjelaskan Teori Konvergensi Simbolik miliknya. Manusia akan secara kolektif membangun kesadaran bersama melalui proses pertukaran pesan. Kesadaran simbolik yang terbangun dalam proses tersebut kemudian menyediakan semacam makna, emosi, dan motif untuk bertindak bagi orang-orang atau kumpulan orang yang terlibat di dalamnya.
Dan pada era sekarang gue sadar untuk membangun kesadaran bersama tidak perlu bertatap langsung tetapi bisa juga dilakukan dengan membuat tulisan-tulisan yang berfokus pada tema tertentu yang disebar luaskan melalui internet. Tulisan tersebut sendiri akan sampai kepada para pembacanya sehingga pada akhirnya akan menimbulkan kesadaran bersama.
Kopi yang baru saja gue buat tak terasa semakin mendingin. Aroma kopinya sudah banyak menghilang. Rasanya sudah tak seperti baru dibuat. Banyak yang mengatakan bahwa minum kopi paling enak saat airnya masih panas, jelas itu adalah kebenaran yang tak bisa gue tolak.
Layar laptop berganti ke layar handphone. Naskah koran lama macam Sin Po, Berita Indonesia, Harian Rakjat dan masih banyak lainnya kini berubah dengan pilihan-pilihan cerita yang ringan dan enak dibaca. Pikiran gue melayang kembali ke masa KKN, ketika menemukan sebuah tulisan yang menceritakan hal tersebut. KKN gue lewati dengan bercengkrama dengan banyak anak-anak. Salah satunya bernama Imam. Bocah kecil yang pendiam, duduk dibangku paling belakang dan lebih banyak diam dibandingkan dengan teman-temannya. Dibalik sosoknya tersebut ternyata menyimpan kecerdasan yang sangat menonjol dibanding dengan teman sekelasnya. Rasa malunya hilang ketika gue dan temen gue yang lainnya melontarkan pertanyaan atau memberikan soal di papan tulis. Dengan percaya diri dia berani menjawab dan jawabannya selalu benar. Tuhan selalu memberikan cerita kepada makhluknya. Imam tak pernah keluar kelas ketika istirahat atau jarang ke kantin untuk membeli sesuatu. Gue nanya ke dia kenapa seperti itu. "Aku gak punya uang jajan kak", dia jawabnya dengan ringan dan diakhiri dengan senyuman. Dan sejak saat itu gue sadar banyak hal yang harus disyukuri termasuk keterbatasan yang kita miliki.
Sekarang kembali gue sadar, apa yang dinyanyiin sama Bang Haji Rhoma Irama si raja dangdut. Kalu sudah tiada baru terasa bahwa kehadirannya sungguh berharga. Kepada McLuhan juga gue percaya kalau pada era sekarang tak perlu lagi bertatap muka dalam berkomunikasi. Dan gue juga percaya dengan Bormann bahwa setiap kisah yang memiliki kesamaan dengan orang di dalamnya akan menimbulkan berbagai macam perasaan yang ditimbulkan.
Ara seorang gadis yang tulus dan memiliki hati yang lembut kini telah pergi dari kehidupan gue. Rasa sesak di dada karena kamar dipenuhi dengan kertas-kertas dan tumpukan buku tak ada apa-apanya dibanding dengan rasa ditinggalkannya.
Rasa sayang memang bisa tumbuh kapan saja dan di mana saja. Begitupun dengan perpisahan, bisa kapan saja dan di mana saja. Secangkir kopi telah habis. Meminum kopi memang tak seperti meminum minuman lainnya. Iya perlu dinikmati setiap kecapannya. Rasanya pada sentuhan pertama dengan mulut sungguhlah kenikmatan luar biasa. Ara pun telah menghilang, namun rasanya masih ada dalam mulut dan meninggalkan ingatan yang manis. Seperti secangkir kopi buatannya. Di malam itu, saat gue bertemu dengannya. Di alam mimpi.


profile-picture
crystal.bright memberi reputasi
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
untuk apa dicari, dia telah tertelan di old batavia.
profile-picture
profile-picture
eghy dan Superwae10 memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Balasan post s.i.n.y.o
Siap gan
Quote:


Ara Ara
profile-picture
Superwae10 memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Balasan post comrade.frias
Tolong cariin ara gan
profile-picture
comrade.frias memberi reputasi
Quote:


Buat Apa ?

LE COUP DE foudre

Yang gua lakuin pada saat ini ialah bolak-balik membuka aplikasi chating. Berharap dia kembali membuka akunnya dan mau berkomunikasi lagi dengan intens dengan gue. Kesalahan gua yang kemarin rupanya cukuplah fatal dengan mencoba pamit kepadanya atas apa yang terjadi padanya. Hal yang pertama adalah meminta maaf, kedua menepati janji kepadanya dan ketiga adalah mencoba percaya akan ketidakmungkinan hubungan ini dan bisa memberikan manfaat kepadanya sebaik mungkin, setidaknya sampai hari itu tiba.
"Kamu percaya takdir?" ucapnya di sela-sela kita membicarakan hal yang tak penting, namun bagi kita berdua itu adalah upaya untuk menciptakan rasa kekitaan diantara kami berdua. "Takdir ya mungkin seperti ini", jawab gua dengan ringan namun berat untuk melanjutkan kalimat selanjutnya. Sebuah pertemuan yang tak disengaja dan lambat laun timbul rasa sayang diantara kami berdua. Yang tak bisa dipisahkan dari itu semua adalah takdir telah menetapkan bahwa suatu saat diantara gua dan dia harus siap berpisah.
Gua abaikan terlebih dahulu tumpukan kertas di samping kanan meja kerja ini. Kertas-kertas yang berisikan koran-koran lama hasil penelitian di Perpustakaan Nasional. Yang memberitakan kejadian-kejadian penting dari tahun 1945-1949. Nantinya hasil dari itu semua akan dijadikan buka tentang Sejarah Hukum Pada Masa Setelah Kemerdekaan. Untuk isinya suatu saat nanti akan gue jelaskan. Yang pasti tiap harinya ada puluhan lembar yang harus diketik ulang sesuai dengan ejaan jaman tersebut. Awalnya memang rumit namun lambat laun gue terbiasa dengan ejaan " U" menjadi "Oe", " Nya" menjadi "Nja" atau lebih familiar lagi "Jakarta" menjadi "Djakarta".
Suatu saat ketika dirinya sedang dalam perjalanan jauhnya dia menyampaikan, " Kak, itu mata kamu", katanya. Gue langsung menjawabnya dengan heran, kenapa dengan mata gue padahal kita tidak sedang bersama. Lalu dia melanjutkannya, "matamu melemahkanku, sama seperti ketika aku melihatmu. Dan jujur ku tak pernah merasa seperti ini. Mungkin inikah cinta pada pandangan pertama", ucapnya. Jujur gue dengernya merasa sangat tersanjung. Orang yang paling gue sayang berucap seperti itu. Dan gue juga gatau itu hasil kalimatnya atau berasal dari lirik lagu. Yang pasti gue mendengarnya sampai di hati, dan itu disampaikan dari hati yang paling tulus.
Cinta pada pandangan pertama atau bagi orang Prancis disebut dengan Le Coup De foudre. Siapa yang mempercayai cinta pada pandangan pertama. Bagaimana mungkin kita bisa jatuh cinta kepada orang yang sebelumnya tidak kita kenal. Tapi semua itu berbanding terbalik dengan kisah yang gua alami dengan dia. Kami sebelumnya tak saling kenal. Hanya saling tatap dan membaca tulisan masing-masing. Dan dari situlah kami saling mencintai dan saling ingin melindungi. Dirinya yang tenggelam dengan masa lalunya dan gue yang terlena dengan buku-buku dan kertas-kertas yang debunya kian menebal.
Dan akhirnya lamunan panjang gue tersadar dengan adanya Om Gondrong bagi yang tidak mengetahui maksudnya, Om Gondrong adalah "Orkes Melayu Dangdut Dorong". Lagi-lagi lagu Rhoma Irama menggelegar seantero lingkungan. " Ku rindu tawa ketika bercanda, tawa renyah penuh gembira", kalau tidak salah liriknya seperti itu. Dan jangan ditanya judulnya apaan karena gue pun gatau itu judulnya apa. Yang gue kenal cuma suara khas dari Si Raja Dangdut tersebut. Syair dan dakwah adalah motonya. Tapi entah kenapa anaknya bisa terjerumus ke dalam lubang narkoba, entahlah apa penyebabnya dan gue gamau pusing dengan kehidupan para publik figur seperti mereka semua. Yang gue persoalkan adalah kenapa ni pasukan Om Gondrong bisa bawain lagu yang pas dengan isi hati gua. Saat ini gue sedang merindukan lo kak. Mungkin kesalahan gua kemaren cukup fatal, tapi berikanlah kesempatan kedua buat gua kak.
Ara yang kini telah menghilang dalam kehidupan gua, akun chatingnya sengaja gak diaktifin dan semoga akun sosmed lainnya pun tidak dimatikan. Karena hanya dari sana gua bisa mengetahui kabarnya. Gua takut ada sesuatu yang terjadi padanya. Semoga yang paling gua harapkan adalah dirinya gak lupa untuk minum air putih. Karena tubuhnya sangat membutuhkan itu.
Semalam bulannya cukup bagus dan besok pun purnama akan sempurna menampakan dirinya kepada penduduk bumi. Kemarin sore mataharinya cukup bersinar bulat, cahayanya tak terlalu silau untuk dipandang. Gua berharap kepada matahari dan bulan agar mampu menyampaikan penyesalan gua atas apa yang telah terjadi. Dan tentunya menitipkan rindu ini yang semakin menggebu di dalam hati.

Kembalilah

Tiga Tahun Kemerdekaan Indonesia
Arti Republik Indonesia Bagi Perdjuangan
Kemerdekaan Nasional
Dari Proklamasi ke Linggardjati Sampai Renville
Begitulah judul berita yang dimuat harian Merdeka pada tanggal 16 Agustus 1948. Setelah kemerdekaan di tahun 1945, masih banyak pihak yang mengatakan bahwa kemerdekaan bangsa Indonesia adalah buatan bangsa Jepang. Proklamasi 17 Agustus 1945 adalah pernyataan kehendak semurni-murninya dari bangsa kita untuk hidup bebas, hidup merdeka, dan tidak dibelenggunya lagi oleh penjajahan. Kemerdekaan ini sama seperti Kemerdekaan bangsa Amerika yang berasal dari hasil revolusi terhadap penjajahan Inggris, dan sama seperti Kemerdekaan Belanda adalah hasil dari revolusi terhadap kekuasaan Philips II dari Spanyol. Dan kemerdekaan Indonesia adalah proses revolusi terhadap kekuasaan penjajahan pula terhadap fasisme Jepang.
Sejak diproklamasikan Kemerdekaan Indonesia terus menemui hadangan. Pokok masalahnya adalah oleh karena hak dasar dari bangsa Indonesia untuk hidup sebagai bangsa merdeka, sebagai bangsa yang berdaulat penuh sebagaimana dijanjikan oleh Charter Atlantic dan Piagam PBB tidak diakui oleh Belanda. Masalah ini tak kunjung selesai baik dari jalan Damai ataupun jalan kekerasan.
Sudah beberapa hari semenjak Ara memutuskan untuk pergi dan sampai saat ini gua juga belum dapat menyakinkan dia agar mau kembali dalam hubungan ini. Gua adalah orang yang sangat mudah terganggu konsentrasinya jika sedang mengalami hal yang tidak mengenakan. Pekerjaan memang dapat terus berjalan dengan baik, namun tatapan mata gua gak bisa berbohong, ada harapan yang begitu besar agar Ara segera kembali.
Hari ini gua kembali berkunjung ke sebuah perpustakaan. Buku mungkin adalah pelarian yang tepat untuk menghilangkan rasa sakit di hati ini. Ada banyak sekali koleksi di perpustakaan ini. Paling banyak memang buku-buku tentang Hukum, namun koleksi buku-buku sejarahnya juga tak kalah banyak. Belum lama ada riset yang menyatakan bahwa jumlah perpustakaan di Indonesia merupakan terbanyak nomor dua di dunia. Di sisi lain sebuah riset juga menyatakan bahwa budaya baca di negeri ini sangatlah buruk dan menempati urutan kedua dari bawah. Banyak upaya untuk memajukan minat baca masyarakat, ada yang mendirikan perpustakaan di tengah-tengah lingkungan masyarakat dan bahkan ada yang tergerak hatinya untuk berkeliling sambil menjajakan buku-buku gratis untuk dibaca oleh masyarakat. Tentu upaya-upaya tersebut memang belum terlihat hasilnya, namun hal ini harus diapresiasi karena merupakan terobosan yang menarik di agar masyarakat kita terbiasa membaca.
Namun di tengah itu semua kini kita juga menghadapi sebuah kekuasaan yang anti terhadap buku-buku kiri. Razia buku kiri bukan lagi dilakukan oleh pihak berwajib saja tapi juga dilakukan oleh organisasi-organisasi umat beragama. Anehnya tindakan sewenang-wenang tersebut tidak mendapatkan tindakan yang tegas dari pemerintah dan bahkan cenderung melakukan pembiaran.
Apa yang paling menyedihkan dari razia buku kiri yang dilakukan oleh kelompok umat beragama? Yaitu salah alamatnya mereka terhadap buku-buku yang mereka tarik dari toko-toko buku. Salah satunya adalah buku "Pemikiran Karl Marx: Dari Sosialisme Utopis ke Perselisihan Revosionisme". Sejatinya buku tersebut adalah bentuk kritik sang penulisnya terhadap pemikiran Karl Marx. Artinya kelompok yang melakukan razia tersebut sangatlah minim pengetahuannya. Dan hal itulah yang semakin menyakinkan gua kalau pemerintah kerap kali kalah oleh kelompok-kelompok umat beragama dan malah sering kali melakukan kompromi politik dengan mereka guna memuluskan hasrat politiknya.
Sejatinya buku-buku kiri adalah buku yang menawarkan ide-ide kritis. Yang paling penting menurut gua buku kiri adalah buku yang melawan tindak kolonialisme dan imperialisme. Bahkan merujuk kepada harian IndoProgrres Bung Karno dalam pidatonya tanggal 28 Februari 1966, dirinya mengatakan "Aku tegaskan tanpa tedeng aling-aling, ya, aku Marxis", begitu ucapnya. Jauh sebelum itu, Bung Karno pernah menerbitkan tulisannya dalam Indonesia Muda: "Nasionalisme, Islam dan Marxisme". Bagi Bung Karno pada saat itu tiga hal yang paling memiliki kekuatan untuk mencapai kemerdekaan bangsa Indonesia ialah dengan kekuatan Nasionalisme, Islamisme dan Marxisme. Karena ketiga hal tersebutlah yang dipeluk oleh pergerakan-pergerakan rakyat di seluruh Asia.
Kemelut di pikiran gua ini akhirnya hanya sebentar dalam mengalihkan kepedihan hati ini yang ditinggal pergi Ara. Gua akan terus berusaha untuk mengupayakan dia kembali. Perjuangan gua memang tak seberapa dibanding dengan perjuangan para pendiri bangsa dalam proses kemerdekaan bangsa ini. Gua harus mengambil hikmahnya bahwa sehabis masalah ini reda gua akan selalu menepati janji gua ke Ara.
"Kamu tau gak apa yang paling penting dari seorang lelaki?", kata Ara waktu itu di tengah asiknya kami berbicara melalui sambungan telepon. Gua belum sempet menjawabnya kemudian dia kembali berucap, "Yang paling penting dari lelaki adalah sejauh mana dia bisa menepati ucapannya". Dan mungkin inilah alasan dia pergi, karena gua gagal menjaga ucapan gua kepadanya.

Ruang Temu

"Kak tidur yuk, kali aja ketemu di mimpi", ucapnya saat itu ketika kami berdua bicara melalui sambungan video call pada salah satu aplikasi chat. Gua hanya menatap wajahnya yang cantik dan periang. Bola matanya hijau daun anggur, yang kerap kali membuat gua terlena dan tak sadarkan diri seakan ingin tenggelam di dalamnya. Tak lama kemudian kami pun memutuskan sambungan video call, walau gue masih pengen bicara dengannya tapi melihat wajahnya yang begitu lelah gua pun harus mengerti. Selamat tidur Ara.
"Kak kenapa tukang koran itu kebanyakan cwo?", ucapnya sembari mengajak gua bermain tebak-tebakan. Gua kadang heran dia dapat tebakan-tebakan itu dari mana. Karena gua sebelumnya belum pernah mendapat tebakan seperti yang dia sampaikan. Ara ini memang pinter sekali mencari topik pembicaraan tentunya agar hubungan atau yang kita bicarain berdua bukan hanya soal perasaan masing-masing, yang lebih banyak rindunya.
"Mmm aku gatau kak", jawab gua jujur. Gua emang rada males mikir dan dia juga gak memaksa gua untuk memikirkannya. Dia tidak pernah bilang "Ah payah kakak mah gatau terus kalu aku tebakin", atau memasang raut wajah kecewa. Dia malah bahagia kalau gua gatau jawabannya.
"Nyerah nih jadinya?", gua pun hanya menganggukkan kepala. "Jawabannya adalah karena cwe gengsi ngasih kabar duluan", langsung disambut dengan tawanya yang begitu riang. Dan disitulah gua bahagia banget, bisa denger dan lihat dia tertawa lepas, wajahnya makin cantik, matanya semakin menawan menawarkan sebuah pelukan dan gua yakin pikirannya pun lepas oleh beban kerjanya yang lumayan menguras otak.
Selepas dia tertawa dia natap gua serius, tak sedetikpun gua lewati momen tersebut. Ketika ditatap olehnya gua sesegera mungkin menyelam jauh ke dalam dua bola matanya. Memasuki segala kehidupannya, menjadi teman berceritanya dan membersihkan luka yang ada di dalamnya. "Kak, peluk!", pintanya. Meski hanya melalui sambungan video call kami pun mencoba berpelukan, hangat dan tenang. Itulah yang dirasakan hati ketika kami berpelukan. Selanjutnya tidak ada percakapan. Perlahan matanya terpejam. Nafasnya mulai teratur. Bibirnya tersenyum manis. Semenit, dua menit, tiga menit dan sampai selamanya ingin gua menikmati momen tersebut. Namun hal itu tentu tak bisa dilakukan demi kenyamanan dia tertidur. Gua matikan, seraya mengucapkan "Selamat tidur Ara".
Pernah suatu ketika dia menyampaikan, "kak semalem aku mimpiin kamu, tapi aku gak liat wajah kamu tapi aku tahu bahwa itu kamu". Gua hanya bilang "kok kakak tau kalau itu aku". Jawaban darinya singkat dan sungguh manis, "hatiku kak yang memberi tahu". Seketika kita hening. Tak ada kata-kata. Hanya menikmati hati yang semakin membesar rasa saling menyanyangi diantara kami berdua. " I love you" ucap kami bersamaan.
Sekarang semua itu hanya tinggal kenangan. Ingatan itu selalu hadir tiap saat. Menjalar dari otak sampai keseluruh aliran darah diri ini. Hari ini 17 Agustus, artinya 74 tahun sudah Indonesia merdeka dan satu minggu sudah gua telah membuatnya pergi dari kehidupan ini. Jika terus diingat mungkin hanya akan menambah sedih dan penyesalan di hati. Mungkin menunggunya mau kembali itu kemungkinan sangat kecil hasilnya. Kesalahan yang pernah gua lakuin memang sangat fatal, membuka kembali rasa trauma masa lalunya. Sekarang gua hanya bisa mendoakan dirinya. Ibu gua selalu memperhatikan raut wajah gua belakangan ini. Beliau sadar anaknya seperti sedang menghadapi masalah dengan Ara. Kadang Ibu juga entah memang kangen dengan Ara atau hanya memancing gua, beliau selalu menanyakan Ara tiap harinya. Gimana Ara, dan sebagainya. Gua hanya menjawab, alhamdulillah Bu, Ara baik-baik saja.
Menyibukkan diri sepanjang matahari bersinar, berolahraga saat mentari mulai tenggelam sembari berharap malamnya gua kelelahan dan dapat tertidur nyenyak. Karena di sanalah harapan masih tersimpan, sebuah ruang temu antara gua dan dia. Di alam mimpi.
profile-picture
crystal.bright memberi reputasi


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di