alexa-tracking
Kategori
Kategori
4.67 stars - based on 3 vote 5 stars 0 stars
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5d52c4d8a7276816155f179e/rahasia-malam

Rahasia Malam

Rahasia Malam


Rahasia Malam

Rahasia Malam


Salam Pembuka


Assalamu’alaikum Wr. Wb

Sebelumnya saya meminta izin kepada senior di forum ini yang sangat pandai dalam menulis sebuah alur cerita. Walaupun disini sama sekali tidak ada istilah senior atau junior, tapi rasa hormat saya kepada kalian yang lebih mahir dan pandai dalam merangkai kata untuk dijadikan cerita harus tetap saya junjung. Izinkan saya untuk menuangkan bakat menulis yang masih sangat amatir sekali. Karena menulis bagi saya itu sangat menyenangkan, dan kenangan akan selalu berada dalam lubuk hati yang terdalam.

Tak lupa juga saya berterima kasih kepada kalian semua para pembaca thread ini. Terima kasih sudah meluangkan banyak waktu untuk membaca cerita sendu ini. Apabila ada salah kata dari setiap cerita yang saya bawakan mohon di maafkan. Karena saya hanya manusia biasa yang tak luput dari dosa.

Cerita dalam thread ini hanyalah Fiktif belaka. Apabila ada kesamaan nama ataupun latar kejadian mohon untuk di maklumi dan jangan di samakan dengan dunia nyata kalian. Saya pun disini adalah penduduk baru di kaskus. Jadi ketika ada suatu kata ataupun cerita dalam thread ini yang menyinggung perasaan kalian, saya meminta maaf yang sebesar-besarnya.

Karena saya yang masih cupu dalam menulis, cerita ini juga tidak terlalu panjang seperti cerita user lainnya yang memiliki Index begitu panjang. Saya akan berusaha untuk dapat menghibur pembaca agar tidak terlalu kecewa dengan cerita ini. Next kedepan, Insya Allah saya akan berusaha memberikan sajian yang lebih baik dari ini.

Mohon berikan komentar dan kritik yang membangun supaya kedepan saya perbaiki lagi apa-apa yang kurang di Thread ini. Dan nantinya pun bisa kita nikmati bareng-bareng. Jangan lupa, Siapkan kopi dan teh hangat, lalu nyalakan musik Lo-Fi untuk menemani jalannya cerita yang sedang kalian baca sekarang ini. Selamat menikmati.

Wassalamu’alaikum Wr.Wb


Spoiler for Blurb:






Spoiler for Info:
Polling
54 hari lagi-3 Suara
Bagaimana pembawaan cerita dalam Thread ini? 
profile-picture
profile-picture
profile-picture
Tmofer dan 10 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh tuffinks
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Halaman 1 dari 10
salah masuk kamar bini orang kao
profile-picture
eghy memberi reputasi
Rahasia Malam
[Bagian 1]


Awan yang sedari tadi meniup-niupkan angin disela gerlapnya malam mengiringi langkah demi langkah dari seorang pria jaket hitam bersepatu kets yang lusuh mengarungi jalanan kota Malang. Sejenak langkah kaki dari pria kumal itu terhenti. Didapatinya pandangan dari jarak 20 meter sesosok wanita berambut ikal sendiri duduk menepi dari hiruk pikuk keramaian dunia. Perlahan rasa penasaran merasuki pikirannya, hingga beberapa meter telah ia lalui untuk memberanikan diri mendekati sosok wanita itu.

"Loh, Eni?" percakapan pembuka mengagetkan wanita itu.

"Hah? Siapa ya?" jawaban tak sedap terlontarkan.

"wah lupa ya, kamu Eni Yustanti kan? aku temen SMA kamu dulu"

"Temen SMA? sebentar, kayak pernah ingat wajahnya... Oooh Galuh Pradipta kan?" mulai mengingat sosok pria kumal itu.

"Haa, inget tuh. Ngomong-ngomong ngapain disini sendirian?" tanya si Galuh menghangatkan suasana

"Ehmm, nggak ada sih. Cuma ingin menghibur diri aja" sambil melihat keatas awan

"Menghibur diri? Lalu mana si Edo?" Tanya Galuh sambil melihat sekitar

Edo adalah pria tampan kekasih Eni. Sejak SMA dulu, kehadiran Edo di hidup Eni kerap kali menghalangi langkah Galuh ketika ia akan mendekati Eni. Namanya telah menjadi momok tersendiri untuk Galuh pada saat itu.

"Edo..??" lagak Eni bertanya

"Yaaa, Edo Pacar ka...."

"Eh kebetulan kamu disini, temenin aku ke pameran buku yuk. Ada buku yang mau aku cari nih" sahut Eni dengan menarik lengan Galuh dan mengalihkan pertanyaannya.

"Hmmm iyadeh iyaa" berjalan terbata-bata karena mengikuti tarikan tangan dari Eni

Tempat pameran buku itu hanya berjarak 200 meter dari tempat awal mereka bertemu. Disanalah nostalgia perasaan Galuh mulai menari-nari di dalam lubuk hatinya. Ia teringat akan masa-masa indah sejak sekolah dulu sebelum hadirnya sosok Edo. Pasalnya Eni adalah wanita pertama yang menghantui perasaan Galuh sejak SMA. Hingga 3 tahun lamanya setelah lulus, mereka tak pernah bertemu.

Galuh saat itu sudah mulai banyak melupakan tentang sosok Eni. Walaupun terkadang masih terbayang sekilas wajahnya. Bahkan sampai beberapa wanita di sekitarnya ia anggap seperti sosok seorang Eni. Perasaannya itu tak kunjung terungkap karena ia takut akan kehadiran sang kekasih dari Eni. Bukan berarti Galuh takut dengan Edo, melainkan ia tak percaya diri karena wajahnya yang hitam ke cokelatan dan kumal. Sedangkan Edo putih tinggi, tampan dan tajir.

Itulah yang membuat Galuh mengurungkan diri untuk mengutarakan perasaannya kepada Eni sejak dulu. Galuh menyadari bahwa ia tidak akan bisa bersaing dengan Edo untuk memperebutkan Eni yang cantik jelita, langsing berparas indah bak gadis korea.

***

“Yah, kok nggak ada sih.” Gerutu Eni

“Apanya yang nggak ada?”

“Buku favoritku, padahal baru aja terbit.” Rasa sesal menggenangi perasaan Eni

Wajah cemberut Eni yang membiaskan pancaran kesejukan. Bukannya terlihat menyebalkan, tapi justru dimata Galuh malah semakin terlihat menggemaskan akan tingkahnya.

“Udah nanti aku carikan, emang buku apa sih?” Tanya si Galuh bermaksud menghibur Eni

“Judulnya ‘Semesta pun Ikut Menyeru’. banyak yang bilang buku itu bagus ceritanya, tapi pengarangnya misterius sampai sekarang. Dari buku sebelumnya pun tidak ditulis nama pengarangnya. Hanya biografi samar dan nama penerbit.” Sambil memperlihatkan buku edisi sebelumnya

Galuh kaget dengan buku- buku koleksi Eni. Bahkan buku terbitan baru yang sedang dicari oleh Eni sempat menggegerkan perasaannya,

Ternyata buku itu... Gumam Galuh dalam hati

Namun Galuh ingin memastikannya kembali, apa benar buku itu adalah favoritnya? Sejak kapan ia mengoleksi semua itu? Apa yang membuat ia tertarik, padahal banyak buku yang jauh lebih baik dari itu? Ribuan pertanyaan terlontarkan dalam hati Galuh. Namun ia mengalihkan semua pertanyaan itu.

“Wah, ternyata kamu suka baca novel romance juga ya?” Ketawa kecil meledek Eni

“Eh, emang kamu juga suka?”

“Enggak sih. Kebanyakan cerita dari novel itu hanya halusinasi dan fiksi.” Sambil mengalihkan pandangan dan mulai berjalan menjauhi Eni.

“Jangan salah, kamu belum baca novel dari si misterius ini. menurut beberapa sumber kebanyakan karangannya diambil dari kehidupan dia sendiri loh. Aku penasaran sama cerita lanjutannya. Ceritanya selalu nyambung dari satu buku ke buku selanjutnya”.

“Memangnya kamu tau darimana? searching coba di Google, nggak ada satupun judul buku dari dia yang keluar. Coba lihat novel yang kamu bawa, lihat di Google mana ada? pengarangnya aja nggak jelas, kamu bilang menurut beberapa sumber, aneh nggak sih?”

“Justru buku yang seperti ini yang aku cari. Dia (si pengarang) nggak mau di publish oleh media. Tapi banyak media yang mengambil kisahnya untuk diterbitkan jadi novel.” Teriak Eni karena kesal dengan Galuh yang sedari tadi mengejek buku favoritnya.

Langkah Galuh sejenak terhenti. Lalu dilanjutkannya berjalan kembali semakin menjauhi Eni menuju meja kasir.

“Bang Galuh…” sapa penjaga toko buku

“Ssst, jangan kenceng-kenceng, aku mau tanya.” Kata Galuh sambil menutup mulut si penjaga toko

“Ngapain abang kesini, kok tumben?” Obrolan pelan dari si penjaga toko

“Cuma pengen jalan-jalan aja. Novel ‘Semesta pun Ikut Menyeru’  masih ada nggak?” tanya Galuh sambil menengok kanan kiri

“Aduh, udah Sold Out bang. Ini ada satu saya simpan. Tapi mau saya beli nunggu gajian”

“Yaudah itu aja aku beli punyamu. kamu simpan dimana?” Sambil mencari bukunya

“Loh, jangan bang!! bang Galuh kan peng...” Sontak suara penjaga toko meramaikan tempat pameran buku itu

"Sssstt..." Sambil menutup mulut si penjaga toko

Pengunjung yang berlalu lalang keluar masuk dari tempat tersebut sempat menyoroti pandangan dari percakapan mereka berdua.

“Aduuuh, udah ku bilang. Jangan kenceng-kenceng.” Keluh Galuh

“Hehehe, sorry sorry bang. Keceplosan. Lagian juga buat apa bang Galuh cari buku itu. Kan bang Galuh yang nulis tuh buku, bisa sewaktu-waktu dicetak tanpa cari bukunya di toko saya”

“masalahnya ini mepet. Ada seseorang yang pengen banget beli buku itu. Dia lagi disini, tolong bantu aku dong.” Sambil merayu penjaga toko agar diberikan buku karangannya

"Hayoo, pasti yang cari cewek ya bang? Alhamdulillah, akhirnya mister Galuh dapet jodoh juga." Rasa syukur dari penjaga toko sambil menengadahkan kedua tangannya

“hee, hee… apa-apaan sih. Bukan, cuma temen sekolah dulu kok. Mana bukunya, cepet!!” Sambil tergesah-gesah agar penjaga toko buku mau memberikannya

“Cihuuy, bang Galuh mah jarang seperti ini. Biasanya terlihat cuek. Ini kok mendadak panik ya, oh semestaku tlah terhisap ruang hitam, namun punggungmu melegakan bintang-bintang” dibawanya buku yang di cari Galuh sambil si penjaga toko meragakan puisi dari sebagian isi ‘Semesta pun Ikut Menyeru’

“Dasar, nggak lucu”

----


“loh! itu bukunya masih ada. Aku mau dong." Sahutan Eni dari kejauhan

Eni berlari mendekati Galuh ke meja kasir.

“Kenapa bukunya nggak di display bang? dari tadi aku cari di setiap lorong pun nggak nampak.” Tanya Eni sambil penuh kesal

“Bukannya nggak mau ngedisplay neng, tapi emang bukunya udah Sold Out dari jam 6 sore..."
"Ini buku sebenernya saya simpan mau saya beli, tapi karena bang Galuh yang minta jadi saya kasihkan.” Ujar penjaga toko buku bermaksud menjelaskan Eni yang kesal
“Jadi ini ya bang, cewek yang cari bukunya? Pantesan bang Galuh panik, cakep pisan eih.” Tanya penjaga toko buku dengan lirikan dan senyuman seolah penuh maksud.

“Iyaa, udah-udah.. mana bukunya.” Sela Galuh

“Makasih ya. Berapa ya bang harganya?” Tanya Eni sambil mengambil uang dari dalam dompet

“Udah, Nggak perlu eneng cakep. Ini buku juga karangannya bang…”

Belum selesai si penjaga kasir menjelaskan, Galuh langsung menarik tangan Eni

“Eni, Ayo ikut aku jalan-jalan ke Taman.” Galuh menarik Eni keluar dari pameran buku tersebut
"Oh iya, uangnya ku taruh dekat etalase kang. Kembaliannya ambil aja. Makasih yaa.." Teriak Galuh yang bersama dengan Eni semakin menjauhi tempat pemeran buku

Sembari berjalan menuju Taman, Eni menanyakan tentang siapa penjaga toko pameran buku tadi. Mengapa begitu akrab dengan Galuh.

“Kamu kenal sama penjaga toko buku tadi?” Tanya Eni sambil membolak balikkan setiap halaman buku yang di bacanya ‘Semesta pun Ikut Menyeru’

“Iya, dia orang perantauan dari Bandung. udah 3 tahun disini jaga toko buku itu.” Sambil memegang ponsel mengetikkan beberapa kalimat, entah akan dikirim ke siapa
“Kamu sendiri ngapain jauh-jauh dari Palembang kesini? Mau samperin Edo?” Tanya balik Galuh

“Aku kangen kota ini. Udah 3 tahun lamanya setelah lulus SMA aku nggak pernah kesini..."
"Kabarnya dari kerabat dekatku juga pengarang buku favoritku ini dari kota ini. Makanya aku sempetin waktu buat cari informasi..."
"Siapa dibalik pengarang buku ini. hmmm seandainya bisa ketemu dia.” Pandangan Eni bertolak ke atas sambil di dekapnya dalam pelukan buku novel itu

“Hahaha, Kamu jauh-jauh dari Palembang Cuma mau cari orang nggak jelas dari pengarang buku itu? buang-buang waktu aja tau nggak.” Rasa haru Galuh yang terselimuti dengan tawa seolah ia tak percaya akan pernyataan dari Eni

“Eeeh kok kamu ketawa sih. Ya suka-suka aku dong. Apa salahnya aku main kesini. Lagipula disini juga rumah keduaku” Eni mengejek sambil berjalan lebih cepat didepan Galuh

Galuh pun terhenti lama. Di pegangnya ponsel 5 inci miliknya dan melanjutkan kalimat yang sedari tadi tak kunjung dikirim.

“Galuh. Siniii... jangan main ponsel mulu”

Seruan indah panggilan itu mengalihkan pusat perhatiannya. Seolah pohon dan rerumputan pun ikut mengayunkan langkah agar segera datang menghampiri wanita berparas Melayu yang tak jauh darinya.

“Coba baca kata-kata indah dari buku ini, kok hampir sama denganku ya?” Jarinya menunjuk kearah kalimat yang membuatnya memancarkan keningan mata

“Mana? coba lihat…”
“Apaan nggak keliatan apa-apa?” Di dekatkannya buku itu sampai berjarak 3 cm dari depan matanya

“Iiih kamu ini selalu nggak pernah serius..."
"Dari dulu sampe sekarang musti bercanda. Ini loh baca baik-baik.” Cubitan keras dari Eni karena Galuh tak membacanya dengan serius

“Alah pede amat sih kamu. Mungkin hanya kebetulan.” Sontak perkataan Galuh yang tidak ingin lebih jauh membaca tulisan karangannya sendiri itu

“Hmmm, iya juga sih. Tapi hampir semua novel yang dia karang. Kok berasa mengarah ke aku ya? terus juga nyambung sama kehidupanku.” Sambil mengingat buku-buku yang pernah ia beli dan baca dari karangan si penulis misterius

Galuh hanya terdiam memandang mata Eni yang penuh dengan kilauan bintang. Ia tak bisa berucap sedikitpun tentang rasa penasaran Eni tentang cerita di balik Novel itu

Quote:


Back To Beranda
profile-picture
profile-picture
profile-picture
yusufchauza dan 3 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh tuffinks
Rahasia Malam
[Bagian 2]


Spoiler for Episode Sebelumnya:


Karena rasa penasaran yang semakin menjadi, Eni pun mempertanyakan kepada Galuh tentang siapa dibalik pengarang misterius itu. Namun Galuh hanya mengalihkan pembicaraannya. Ia hanya tertawa terbahak-bahak ketika Eni sedang bertanya tentang latar belakang pengarang buku favoritnya, yang menurut Galuh sendiri Novel Romance adalah karangan halusinasi dan fiktif belaka.

Tiga hari kedepan ia akan segera kembali ke Palembang. Waktu yang begitu singkat tak akan ia sia-siakan untuk mencari tahu tentang keberadaan pengarang buku favoritnya. Setiap buku yang terbit, semakin lama semakin menggambarkan sosok seorang wanita yang mirip dengannya. Bahkan rasa penasaran itu semakin bertambah karena adanya kabar dari kerabatnya bahwa cerita itu diambil dari kehidupan nyata dan pengarangnya berasal dari kota dimana ia dulu dibesarkan. Dan Novel itu pun menceritakan perjalanan cinta dari si pengarang tersebut.

Malang, adalah tempat tinggal ia dulu. Ketika keluarganya masih utuh sebelum mereka berdua memutuskan untuk berpisah. Ana yang tak memiliki saudara kandung memutuskan untuk memilih hidup bersama ibundanya di tanah Sumatera Selatan.

***

Obrolan dari penjaga toko buku yang samar menyebut nama si pengarang buku favoritnya itu, menjadikan teka-teki tersendiri yang harus di pecahkan oleh Eni.

“Eh ngomong-ngomong, tadi abang penjaga tokonya bilang apa ya? kayaknya dia belum selesai ngobrol, kita udah pergi duluan.” Tanya Eni yang penasaran tentang penjelasan Penjaga toko buku

“Entahlah, aku juga nggak kedengeran.” Jawab Galuh seolah menolak pengakuan penjaga toko atas dirinya

“Yang aku denger tadi, dia bilang kalau ini buku juga karangannya bang… siapa ya? samar tadi suaranya. Kamu sih keburu narik tanganku.” Ngelirik wajah Galuh karena kesal

“Udah lah nggak penting juga bahas penjaga toko buku ataupun penulis itu.” Ujarnya sambil berdiri diatas meja Taman

Galuh memandang keatas langit, menikmati kerlap kerlipnya bintang yang seolah memberikan isyarat bahwa inilah waktu yang tepat untuk mengutarakan isi hatinya. Bisikan hangat dari bintang mulai membius hati Galuh.

Jangan konyol Galuh, ini terlalu cepat. Kau sendiripun ragu darimana untuk memulainya. Kau itu tak pantas dengannya. Sudahlah lupakan. Namun pikiran dari sisi gelapnya juga ikut mengendalikan perasaan yang penuh dengan kebimbangan.

“Emang buat kamu sih nggak segitu penting.. Tapi buat aku, tadi bener-bener penting”
“Kamu kan kenal sama penjaga toko buku itu. Pliss lah tanyain buat aku.” Lanjutnya.

….. Galuh tetap memandang kerlap kerlipnya langit.

“Galuh, kamu dengerin aku nggak??” Bentak Eni

“Hmmm, Apa?” Lamunannya perlahan sirna. Lalu ia duduk didekatnya.

“Memangnya apa menariknya dari dia sih, sampai kamu begitu nekatnya jauh-jauh datang kemari cuma pengen temuin dia?” Tanya Galuh yang penasaran seperti apa reaksi Eni jika nantinya bertemu dengan pengarang misterius itu.

“Sebenarnya aku ingin mempertanyakan, Novel ini untuk siapa? Apa memang benar cerita ini diambil dari kisah cintanya? Lalu bagaimana cara dia bisa membius pembaca, sampai aku pun terbawa dalam cerita itu. Seolah wanita dalam kisah itu Aku….”

Eni menceritakan banyak hal kepada Galuh tentang kandungan dari isi Novel yang telah ia baca sebelumnya. Ia benar-benar salut tentang sosok penulis itu yang entah mengapa namanya tak mau di publish. Ia pun banyak berharap seandainya nama itu banyak yang mengenal, dan bukunya pun diterbitkan hingga ke penjuru kota, akan ada berapa banyak orang yang terinspirasi tentang kisah-kisahnya.

Karena Eni sendiripun juga mengalaminya. Dia terbawa alur cerita dari Novel itu. Seolah-olah Eni lah karakter utama dari sosok cerita dalam Novel cintanya.

Namun Galuh yang di dekatnya mendengarkan cerita itu selalu menyela harapan-harapan yang Eni katakan. Ia selalu mengatakan bahwa pengarang Novel tersebut hanyalah fiksi dan sekadar berhalusinasi. Ia tak percaya akan adanya pengarang seperti itu.

Beradulah argument-argument dari mereka yang tak ada habisnya. Eni yang selalu menyanjung pengarang dan buku favoritnya, sedangkan Galuh yang selalu menolak sanjungan Eni atas buku dan pengarang yang ia dambakan.

Hingga pukul 10 malam memisahkan pertemuan pertama mereka yang sejak tiga tahun lamanya tak pernah bertemu.

***

“Udah-udah, iya deh kamu yang menang. Udah mau jam 10 nih. Mau duduk disini menunggu sang pengarang misterius itu? hahaha.” Ketawa Galuh dengan wajah konyol meledek Eni yang menutup debat mereka

“Iiih, apaan sih…”
“Yaudah pulang dulu aja sana.” Eni mengalihkan perhatian kea rah lain

“Eeeh, ngambek lagi nih anak,, udah lah baikan… tadi cuman bercanda doang”

….Eni tetap mengalihkan perhatian

“Udah dong jangan cemberut gitu. Ntar idung pesekmu makin nggak keliatan ketutup mulut mancungmu.. Uluh uluh.” Rayuan Galuh sambil mencubit bibirnya bermaksud menghibur hati Eni yang kesal.

“Aaah,, iyaa iyaa baikan. Yaudah, sekali lagi kamu berani menghina pengarang sama buku favoritku, awaass!!" Ancaman Eni yang kesal terhadap sikap Galuh yang nggak menghargai karya orang lain.

“Iyaa… Iyaa… Bawel. Mau ku anter pulang nggak? Kebetulan aku juga udah lama nggak pernah ke rumah om kamu.” Seru ajakan Galuh.

“Janji dulu.” Sambil melekingkan jari kelingkingnya.

“Iyaa janji.” Di tunjuknya jari telunjuk Galuh

*Plaaakk!!

“Aduuh, sakit tau.” Kata Galuh sambil memegang pipinya yang sakit tertampar.

“Lagian kamu nggak serius sih. Rasain… Weeekk!” Eni meninggalkan Galuh yang merintih kesakitan.

“Eeeh,, jadi ku anter nggak?” Tanya Galuh sambil mempercepat jalannya mendekati Eni

“Boleh juga.”
“Tapi ngomong-ngomong, apa gebetanmu nggak marah nantinya kalau kita kepergok berduaan gini? Ntar salah paham lagi.” Eni tertawa sambil menoleh keramaian di sekitar

“Tenang aja, gebetanku jauh kok. Rumahnya nggak di sini.” Jawab galuh yang sok punya gebetan.

“Eh, LDRan nih sekarang?? Anak mana dia? kenalin aku dong.” Sambil menjambak rambut Galuh

Galuh hanya terdiam dan menarik tangan Eni yang berada diatas kepalanya. Menempellah kedua jemari mereka dan dipegangnya punggung dari tangan Eni.

Eni pun sontak reflek mengibaskan tangan Galuh yang terlalu lama memegangi tangannya.

“Lalu hubunganmu gimana sama Edo?” Tanya Galuh dan mengalihkan pandangannya.

.... Sesaat Eni terdiam.

“Hmmm, Entahlah…”
“Eh mana motormu? Aku tunggu disini ya." Selimur Eni yang mengalihkan pertanyaan Galuh karena Enggan menjawabnya.

Apa yang terjadi dengan hubungan mereka berdua ya? Ah sudahlah. Gerutu Galuh dalam hati.

Galuhpun segera mengambil motor miliknya lalu menghampiri Eni untuk mengantarkan pulang ke rumah pamannya.

Quote:


***

Dengan motor klasik yang sedikit usang, Galuh mengantarkan perjalanan pulang dari Taman kala pertemuan mereka sejak 3 tahun silam tak bertemu. Rasanya garing sekali karena tak ada sepatah katapun dari mereka berdua. Yang ada hanyalah hembusan angin jalanan. Eni yang memegang erat pinggang Galuh, membuat hatinya semakin tersedu-sedu.

“Eh, Malang udah banyak kemajuan ya? kemarin-kemarin aku dari beberapa wisata disini. Dulu nggak banyak seperti sekarang.” Obrolan Eni yang mulai mengisi kehampaan mereka berdua.

“Memangnya... Sejak kapan kamu di Malang?” Tanya Galuh yang fokus melihat kedepan.

“Udah 4 hari ini aku disini.” Jawab Eni sambil menikmati sekitar jalanan yang mereka telusuri.

“Truss, ngapain kesini? temuin Edo ya?”

“Kamu kenapa sih dari tadi Edo mulu Edo mulu… Nggak ada pertanyaan lain apa?”
“Aku kesini mau temuin Fira yang katanya mau ngasih tau soal pengarang buku ini. Yaudah sekalian main ke rumah paman nginep lama disini.” Jelas Eni.

“Fira? Fira siapa?”

“Sahabat kecilku,, kamu mana kenal… Udah ah males aku bahas buku ini sama kamu. Ujungnya nanti juga di ledek.” Gerutu Eni.

*ciiitt..

“Makasih ya udah anterin dan temenin aku malam ini.” Kata Eni sambil turun dari motor usang itu.

“Iyaa sama-sama. Jangan kapok naik motor bututku loh.” Sambil melepas helmnya.

“Enggaklah, asik kok. kapan-kapan aku mau kamu bonceng lagi dah.” Kata Eni yang begitu senang menaiki motor Galuh.

Galuh hanya tersipu malu

----

“Loh, kok jadi Galuh yang anterin kamu pulang? Bukannya tadi Edo ya yang jemput kamu di rumah?” Kata pria tinggi besar dibalik pagar.

Edo?? Galuh bertanya-tanya dalam hati.

“Ehmm, iya om.. Tadi Edo ada acara mendadak, jadi kebetulan ketemu Galuh, yaudah aku pulangnya bareng Galuh.” Jawab Eni yang sambil mengalihkan pandangan.

“Ooh, iyaudah sini mampir dulu Galuh.” Ajakan pria besar dibalik pagar itu.

“Nggak usah deh om.. Saya langsung pamit aja. Lagian juga udah terlalu malam.” Katanya yang sedikit kesal karena Eni yang tak mau berterus terang sejak ia bertanya tentang Edo.

“Aku pulang dulu En… Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikum salam, ati-ati dijalan." Sahut Eni


Back To Beranda
profile-picture
profile-picture
profile-picture
yusufchauza dan 6 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh tuffinks

Rahasia Malam

Rahasia Malam
[Bagian 3]


Spoiler for Episode Sebelumnya:


“Galuuh… bangun, udah subuh. Sholat nak” seruan suara perempuan yang bersamaan dengan mengetuk-ketuk kamar.

“iyaa iyaa buk, udah bangun kok.” Sahutnya dari balik pintu.

Rabu, adalah hari dimana pria kumal ini memulai kebiasaan menulisnya. Di temani secangkir kopi hangat dan musik-musik Lo-Fi mengawali perbincangannya dengan pena yang sedari tadi di gengamnya. Ponsel disamping meja hanyalah untuk pelengkap semata. Ponsel itu hanya dipakai untuk merekam tulisan pada setiap jejak kehidupan yang telah ia lalui selama ini. Sudah berapa tahun lamanya ponsel ini terasa suwung tanpa ada chat dari seorang wanita. Hanya beberapa obrolan kecil dari rekan-rekannya yang sering ia acuhkan.

Sementara itu, Eni yang dilanda rasa penasaran semakin tak terkendali. Pukul 9 pagi ia kembali menghampiri toko buku yang telah ia kunjungi bersama Galuh dan bermaksud menanyakan perihal tentang obrolan semalam yang tak sempat ia dengar dari penjaga toko buku tersebut. Alih-alih Eni ingin menemui si Penulis buku favoritnya, karena dirasa tokoh wanita dalam novel tersebut sama seperti dia dan menanyakan beberapa hal lain.

***

“Permisi.” Sapaan Eni membuka pintu di toko buku tersebut.

“Loh, bukannya eneng yang semalem sama bang Galuh ya?” Kata si penjaga toko buku sambil membersihkan kaca etalase di meja kasir

“Iyaa betul bang. Abang ada waktu nggak buat ngobrol sebentar sama saya?”

“Memangnya mau ngobrol soal apa neng?”

“Ehmmm gini bang… semalem obrolan abang yang terpotong itu apa ya lanjutannya? Saya denger sekilas kalo abang bilang pengarang ini itu bang…. bang siapa maksud abang?” Tanya Eni sambil menunjukkan buku yang semalam ia dapat

“Walah, jadi eneng cakep belum tau pengarangnya siapa? Saya kira udah tau”

Padahal yang bersamanya semalam adalah orang dibalik buku itu. Yang saya tau bang Galuh hanya ngasih tau sama beberapa orang terdekatnya kalau buku Novel itu adalah karangan dia. Apa mungkin eneng ini bukan temen dekat bang Galuh ya? Gumam penjaga toko keheranan

----


“Kang Asep, buku dongengnya cuman ini ya?” Teriakan dari pelanggan lain yang sedang mencari buku dongeng.

“Ada kok kang, bentar saya ambilkan yang lain.” Sahut penjaga toko buku dan menghampiri pelanggan itu

Tak sempat terjawab pertanyaan dari Eni yang sedang dilanda rasa penasaran itu, ada lagi pengunjung lain yang bertanya kepada si penjaga toko buku. Karena kebetulan liburan akhir pekan, toko itu mendadak ramai dikunjungi orang. Banyak dari kalangan pemuda pecinta Novel yang silih berganti mendatangi toko buku tersebut.

Sembari menunggu abang penjaga toko buku, Eni melihat-lihat buku-buku novel yang terpajang di sebelah rak etalase kasir. Terdapat beberapa buku yang sebagian ia miliki. Ada nama terselip dari barisan buku tersebut, 'G. Dipta' di dapatinya nama penulis itu dan diraihnya dari rak buku yang kebetulan juga Eni memiliki buku yang sama dengan buku itu. Namun yang membedakan tak ada nama pengarangnya dalam bukunya. Apa buku miliknya bajakan yang telah dicetak ulang. Tapi saat itu ia beli di toko buku ternama di kota Palembang. Ah masak bajakan sih gumamnya dalam hati.

“Eh, gw nggak sabar nih mau baca novel kelanjutannya. Udah 3 bulan gw tunggu belum juga terbit. Penasaran tuh cerita.”

“Iya sama rin, gw juga penasaran. tapi kabarnya udah terbit sih. cuman gw belum tau judulnya apa… Dipta mah gitu orangnya, suka main rahasia.”

Perbincangan pengunjung yang terdengar oleh Eni sempat mengagetkannya. Semakin gemuruh hatinya yang dipenuhi dengan rasa teka-teki. Siapa itu 'G. Dipta', benarkah dia nama penulis yang selama ini ia cari.

----


“Kang Asep… Bukunya Dipta udah terbit belum?” tanya pengunjung yang sempat Eni dengar obrolannya sesaat tadi

“Yah, neng Siska telat tanyainnya. Kan udah terbit seminggu yang lalu. Baru aja Sold Out semalem. Saya aja nggak sempet beli atuh.. Udah keborong semua” jawab kang Asep si penjaga toko

“Yaah, gimana sih? kan udah gw bilangin, gw pesen 2… Nanti pas kesini gw ganti… Ah gimana sih kang” keluhan dari kedua wanita itu

“Iyaa neng, maaf banget. Untuk Novel yang satu ini memang di cetak sedikit. Nggak sebanyak Novel sebelumnya” ucap kang Asep yang mencoba menenangkan pelanggan itu.

Eni kaget mendengar percakapan mereka. Semakin tersulut percikan tanya yang akan membara dalam hatinya. Dipta siapa yang mereka maksud? Apa benar Dipta yang juga dia cari? Permaninan macam apa ini. Mengapa penulis ini membuatnya gila dan makin tergoda untuk memecahkan rahasia siapa sebenarnya dibalik buku itu.

“Aaarrrghh untuk apa aku mencarinya, sedangkan ia saja tak mengenalku. Memang benar kata Galuh, kalau aku hanya kepedean”

Fikiran Eni yang sedari tadi mengoyak-oyak untuk tidak terlalu mencarinya. Namun disisi lain ia ingin sekali bertemu dengan pengarang tersebut. Karena tak lama ia akan menamatkan sekolahnya di Bidang Sastra. Alih-alih belajar bagaimana cara membuat novel seperti karangannya. Dan beberapa perihal tentang tokoh wanita dalam Novel tersebut.

*Tiittiitt

Terdengar notifikasi dari ponsel Eni yang di chat oleh adik iparnya dari Palembang “kak, jangan lupa keripik apelnya. Smile titik dua tutup kurung”

Oh iya hampir lupa aku kalo udah janji ke adek. Gumamnya

Eni lalu bergegas pergi untuk mencarikan pinta si adek yang sudah 5 hari ini telah tenggelam tertimbun oleh rasa penasaran dari si dia. Dia si penulis yang mengguncang daya ingatnya.

“Bang Asep, nanti saja ya.. Saya mau ada urusan.” Teriak Eni berpamit sambil membuka pintu toko buku.

“Eeeh iya neng, ati-ati” sahut kang Asep

3 jam berlalu, Eni mondar mandir di pusat kota untuk menepati janji sang Adek yang jauh disana. Di bawanya beberapa keripik Apel, buah Apel khas Malang dan makanan ringan lainnya yang memenuhi genggaman jemarinya, membuat dia lupa dan mengurungkan untuk kembali ke toko buku kang Asep.

***

Quote:


“Aduuh, dalem banget sih.” Mata Eni yang sedari tadi berbinar-binar membaca isi dari Novel itu. Dalam kamar yang cukup luas ia tertawa dan terseduh sendiri seolah Novel itu berbicara dengannya.

*Toktoktok!!

“Ada temanmu di depan” kata seorang pria dibalik pintu kamarnya dan membuyarkan suasana hati yang sedang tenggelam dalam lautan cerita

Siapa juga malam-malam kesini, pasti Edo. Gumamnya dengan berjalan menyusuri tangga. Dilihatnya dari jauh sosok lelaki berkumis tipis dan beberapa jenggot yang berantakan entah ia cukur terakhir kali kapan.

“Hmmm, kamu lagi.” Ucapnya yang seolah langsung menonjok pria itu.

“Yaah, masih ngambek? Kan udah baikan kemarin”
“Mau Jalan-jalan nggak? Daripada boring dirumah.” Ajakan pria itu yang bermaksud meredam.

"Iyadeh.."
"Tapi ini bukan kencan loh ya." Lanjutnya mempertegas

Pria itu hanya mengangguk. Walaupun dalam hatinya sedang berjingkrak kegirangan.

Kedai kopi pinggiran di dekat Taman adalah tempat favorit pria berkumis tipis itu. Dimana kedai itu telah menjadi saksi dari beberapa karyanya yang telah terbit. Karena tempatnya yang tak terlalu ramai di kunjungi orang. Di samping itu juga harganya yang manusiawi membuatnya tak terlalu banyak mengeluarkan anggaran.

Pria lusuh itu hanya anak dari keluarga sederhana. Hidup di kalangan proletar yang tak suka muluk-muluk. Meskipun yang diajaknya saat ini adalah anak dari keluarga terpandang, ia yakin bahwa wanita itu bukanlah dari kalangan borjuis yang gengsi di tempat seperti ini.

Dua gelas Jus dan satu piring cemilan diatas meja pesanan dari kedua anak insan itu. Di sampingnya seorang pujangga yang telah menghilang ribuan hari yang lalu. Bulan yang dulunya pergi menjauh, kini bersebelahan hanya berjarak beberapa Centi.

5 menit, 10 menit, 15 menit berlalu bisu. Suara motor dan mobil yang berlalu lalang terdengar sunyi, hingar bingar suara manusia di sekitar terasa hambar. Tatkala melihat wanita berambut ikal yang di kuncirnya itu sedang larut dalam buku yang di dapatnya tempo hari bersamanya. Ia hanya bergeming, bibirnya berkomat-kamit hanyut dalam barisan kata.

"Udah ketemu orang nggak jelas itu?" Galuh memecah hening. Eni hanya menggelengkan kepala namun matanya tetap fokus pada setiap bait kata yang dibacanya.

"Oh iya, aku jadi teringat." Eni menutup bukunya dan mengingat sesuatu

"Apa?"

"G. Dipta itu siapa ya? Kamu kenal?"

"Kamu tau nama itu darimana?" Tanya Galuh yang sempat kaget

"Ehmm, tadi siang aku ke toko buku kang Asep. Pas liat-liat buku di rak dekat etalase ada nama itu di buku yang sama dengan punyaku." Ujar Eni

"Ehemm... Terus?" Tanya Galuh yang berlagak tak tau apa-apa

"Aku ngerasa kalo 'G.Dipta' itu deh pengarangnya.. Sedangkan di bukuku nggak ada nama itu, padahal aku belinya di toko buku ternama di Palembang, mana mungkin bajakan?"
"Tapi pas aku lihat bukunya nggak ada biografinya juga, Aneh..." Lanjutnya

.... Galuh hanya terdiam sambil meminum jus yang ada diatas meja.

"Kok kamu diem sih? Kasih pendapat kek.." Gerutu Eni yang kesal

“Hmmm,, nanti aku bantu cari tau deh.” Lagaknya yang seolah membantu

Waktu menunjuk Pukul 20:45 WIB. Gadis itu harus segera dipulangkan. Karena pria berbadan tinggi besar tadi telah berpesan jangan larut lebih dari pukul 9. Waktu yang begitu cepat bergerak tak mampu Galuh ajak untuk berkompromi sejenak agar berhenti. Lagi-lagi, bulan itu menjauh.

Sesampainya di rumah, Eni meninggalkan nomor ponselnya untuk berkabar dengannya. Tak disangka-sangka Gadis rupawan itu dengan mudah memberikannya tanpa menunggu ia meminta.

***

“Kasih kabar kalo udah dapat info dari dia ya…” Maksud Eni adalah si penulis misterius itu.
“Tapi ingat, jangan kirim pesan yang nggak penting dan banyak basa basi.” Tegas Eni

Galuh mengangguk dan hanya tersenyum. Walaupun dalam hatinya kembali berjingkrak kegirangan. Namun disisi lain, Galuh tak ingat kapan terakhir kali ponselnya terisi pulsa. Entah nomor itu masih aktif atau sudah hangus ditelan waktu. Yang ia tau hanyalah nomornya selalu berganti setiap kali dibutuhkan. Entah untuk bekerja atau semacamnya


Back To Beranda
profile-picture
profile-picture
profile-picture
yusufchauza dan 4 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh tuffinks

Peran Pengganti

Rahasia Malam


Peran Pengganti


Spoiler for Episode Sebelumnya di Rahasia Malam Bagian 3:

Selain pandai mengungkapkan fakta dalam buku-buku novelnya, kini lelaki itu juga pandai menyembunyikan fakta. Ia bukan sekadar seorang penulis yang misterius, ia juga seseorang yang misterius didepan gadis rupawan itu. Visinya adalah membahagiakan gadis itu. Misinya jangan sampai kepergok Edo, sang pacar gadis itu. Harapannya dapat menggantikan Edo. Kenyataannya hanyalah sebagai peran pengganti sang pacar.

Lelaki itu sedang terjebak dalam fiksi seperti apa yang ia katakan pada sang gadis bahwa Novel itu hanya cerita fiksi. Namun saat ini dialah yang terjebak dalam fiksi itu. Eni yustanti adalah segala sesuatu tentang keanggunan yang menawan. Ibunya benar-benar menyayangi anak sematawayangnya itu. Sewaktu kecil, Eni sering di bully oleh teman-teman sekelasnya karena dirinya yang begitu cengeng.

Namun semasa SMA, Eni tumbuh menjelma menjadi gadis yang mampu mencuri banyak hati para pemuda di sekolahnya. Segala sesuatu fisiknya begitu elok dipandang. Cobalah tilik kulitnya yang putih kekuningan. Rambutnya yang bergelombang begitu indah. Hidungnya yang, walaupun tak se mancung hidung orang Eropa. Tubuhnya yang semakin menumbuh, semakin mampu menyulut lawan jenis saat menatapnya akan membayangkan yang tidak-tidak.

3 tahun silam, merupakan insiden yang sangat manyakiti perasaannya. Kedua orang tuanya memutuskan untuk berpisah. Eni yang hanya bisa menerima keadaan itu hanya dapat berpasrah, walaupun dia benar-benar terpukul akan keputusan mereka.

Saat itu juga ia sudah sangat jarang sekali untuk berkunjung di kota kelahirannya, Malang. Dan itulah yang membuat lelaki kumal itu kehilangan sebuah mutiara besar. Walaupun saat itu entah dia benar-benar tak pernah ke kota ini lagi, atau hanya sesekali menjenguk kesini untuk mendatangi sang kekasih.

Edo, merupakan seorang lelaki yang begitu beruntung mendapatkan hatinya. Tak sedikit pria yang datang dan ditolak oleh gadis itu. Namun tidak dengan ketampanan lelaki putih tinggi tampan itu. Dan ada satu lagi embel-embel pelengkapnya. Dia adalah anak dari seorang pejabat daerah. Bagaimana mungkin Galuh yang hanya anak dari kalangan proletar bisa bersaing dengan anak seorang pejabat. Sebuah hal yang sangat mustahil baginya untuk terus berjuang merebut hati gadis itu. Entah dia menyukai anak pejabat itu karena murni cintanya, atau hal lainnya. Ia tak begitu memperdulikan.

Sebab ketika anak pejabat itu masih belum hadir dalam hidupnya, Galuh lah yang selalu menemani hari-harinya diluar jam sekolah. Entah saat mengantarkan ia les privat, entah saat ia butuh teman curhat tentang sahabatnya yang iri dengan dirinya, atau hal lain. Gadis itu selalu mau untuk di bonceng motor butut dan diajaknya pergi kemana pun dan dimanapun tempatnya untuk bertemu. Ia tak pernah malu dengan itu semua. Namun entahlah, selepas Edo datang dalam hidupnya. Seolah semesta yang ada dalam diri Galuh sirna begitu saja. Tak jarang Eni yang dulunya sering di chat atau di telfon Galuh selalu membalas dan diangkat dengan cepat tiba-tiba mendadak nomornya tidak aktif dan chatnya pun tak pernah dibalas.

Sejak saat itulah Galuh mulai memutuskan untuk perlahan melupakan gadis itu. Ia hanya bisa menerima dan memahami akan keadaan yang telah terjadi. Ia tak berfikir negatif tentang gadis itu. Namun yang ia sayangkan, mengapa moment itu begitu cepat, mengapa musim semi begitu cepat berlalu dingin.

Kenangan yang indah itu masih tersimpan di hati Galuh. Apakah gadis itu juga masih menyimpan semua kenangan itu? Atau telah dikuburnya dalam-dalam? Galuh hanya bisa bertanya-tanya dalam hatinya setiap malam. Ia hanya memandang langit setiap malam, berharap ada bintang jatuh yang mengabulkan harapannya.

***

Setahun telah berlalu, semenjak gadis pujaannya pergi ke tanah Sumatera untuk ikut dan bertempat tinggal dengan ibunya di Palembang, Eni telah sedikit kehilangan kepercayaan dari sang kekasih. Pasalnya Eni sering memergoki lelakinya bersama dengan wanita lain di sebuah mall. Aini lah yang ada dibalik layar untuk memberikan kabar kepada sahabatnya yang jauh itu. Dia yang berteman baik sejak duduk di sekolah menengah membuat Eni yakin akan berita yang disampaikan oleh sahabatnya itu. Namun gadis itu tak bisa langsung menuduh lelakinya. Ia perlu cukup bukti kuat untuk memastikan bahwa kekasihnya benar-benar selingkuh.

Tak lama, selang berapa hari setelah Aini mengirimkan sebuah foto tentang lelakinya bersama wanita lain. Sahabat Eni lainnya juga memergoki lelaki itu berciuman dengan gadis lain di Cafe daerah suhat. Kali ini dia benar-benar memastikan bahwa lelakinya sedang berselingkuh.

Dia yang kerap kali izin untuk lembur mengerjakan tugas kampusnya itu selama ini hanya skenario. Tak jarang Edo selalu termakan kata-katanya sendiri ketika meminta izin kepadanya ketika akan pergi. Setiap kali Edo bercerita selalu tak sesuai dengan cerita-cerita sebelumnya. Kemarin ia bilang pukul 8 malam izin pergi ke rumah rekannya, ternyata besoknya ia bercerita tentang kejadiannya semalam namun berbeda. Ia berkata bahwa acara semalam benar-benar seru. Padahal kemarin ia izin sedang pergi ke rumah rekannya untuk mengerjakan tugas kampus. Itulah yang membuat Eni mencurigai gerak-gerik kekasihnya beberapa hari belakangan. Entah karena jarak yang memisahkan mereka berdua sehingga lelaki itu dapat bergerak dengan bebas disini, atau karena sang kekasih sudah bosan dengan Eni yang jauh di tanah Sumatera.

Pertengkaran malam itu membuat hubungan mereka semakin renggang. Cuma main-main katanya. Cuma salah paham jelasnya. Namun karena begitu lugunya seorang Eni, membuatnya tetap bertahan dan mencoba memperbaiki. Selang beberapa bulan setelah pertengkaran dahsyat itu, bukannya kekasihnya bersyukur karena masih di beri kesempatan kedua oleh sang gadis, justru malah semakin melunjak dan saat itu pula gadis itu sedang berada di kota Malang. Eni yang bermaksud menghampiri kekasihnya dikota ini karena rindu yang melanda beberapa bulan tak bertemu, malah yang ia dapat lelakinya sedang bersama seorang wanita masuk ke dalam hotel. Entah apa yang mereka lakukan disana. Yang jelas, ini benar-benar fatal. Eni yang benar-benar dikhianati sudah tidak bisa menahan derai air matanya. Ia yang jauh-jauh ke kota ini bermaksud merayakan hari ulang tahun sang kekasih, malah yang didapat adalah tamparan dan kenyataan yang pahit tentang kekasihnya selama ini.

Sayangnya, gadis itu masih saja tidak cukup tegas untuk mengambil keputusan tentang hubungannya. Hubungan itu hanya tetap dibiarkan mengambang layaknya banjir bandang ia hanya terdiam. Antara akan menyelamatkan diri, atau tetap bertempat dan tenggelam dalam banjir yang makin meninggi itu. Ia masih tidak bisa memutuskannya. Tanpa Eni sadari, kelabilannya hanya akan menyakiti dirinya sendiri.

Lima bulan berlalu, hubungan mereka semakin kehilangan arah. Eni yang lelah dengan semua ini mulai terhibur dengan buku-buku Novel yang dikenalkan oleh rekannya. Saat itu Eni yang memasuki jurusan Sastra tengah bingung membuat Novel tentang kehidupan sehari-harinya. Acap kali ia mencari referensi untuk membeli bahkan membaca buku-buku di perpustakaan kampus masih kurang puas dengan isinya. Namun dengan kehadiran buku yang diperkenalkan rekannya itu, membuat hidupnya memberikan warna. Tak sedikit ia selalu berlangganan buku itu setiap kali terbit.

Jika di total, hampir semua buku ia koleksi dan untuk bahan referensi. Di setiap isinya, Eni merasa bahwa buku tersebut seolah menceritakan tentang dirinya, tentang lingkungan disekitarnya dan tentang beberapa latar belakangnya. Semua memang hampir sama dengan kehidupan kesehariannya ketika ia masih remaja. Terlebih ketika sang penulis menerbitkan 3 buku sekaligus tentang kehidupan asmara. Eni yang sudah penasaran sejak dulu ingin mencari tahu tentang keberadaan penulis itu.

Bukan untuk meminta tanda tangan atau selfie seperti fans artis yang berlebihan, melainkan ia ingin belajar banyak hal tentang cara dia menulis, lalu ada beberapa pertanyaan yang akan ia sampaikan perihal Novel yang telah ia terbitkan. Eni yang kebetulan juga berkuliah di bidang Sastra ingin sekali belajar banyak hal apabila diberi kesempatan untuk bertemu dengannya.

***

Pukul 9 pagi begitu cepat melesat bak roket mencuat dari porosnya. Hari terakhir untuk Eni di kota ini. Tujuannya yang ingin menemui sang penulis misterius nihil tak membuahkan hasil. Niatnya untuk menemui Fira sahabat kecilnya juga gagal, karena Fira juga sedang sibuk dengan kerjanya diluar kota yang masih belum bisa pulang. Sempat bertemu dan kencan dengan Edo, tapi sekali lagi Edo mengecewakan Eni. Ia menurunkan di tengah jalan karena alasan yang tidak jelas. Saat itu Eni mendapati sang kekasih sedang ditelfon oleh seseorang, kelihatannya seorang wanita, mungkin mamanya, atau mungkin.. sudahlah itu sudah berlalu.

Karena liburan kuliah Eni yang sebentar lagi usai, ia tak bisa berlama-lama disini. Dalam petualangannya untuk mencari penulis misterius, ia dipertemukan dengan teman lamanya. Galuh, yang juga sang pemuja rahasianya. Dan juga penulis amatir yang selama ini Eni cari. Galuh yang sempat keheranan ketika pertemuan pertamanya dengan Eni setelah 3 tahun lamanya tak bertemu mendengar perkataan bahwa gadis pujangganya itu sedang mencari penulis buku rahasia. Lebih mengherankan lagi ketika yang di cari oleh gadis itu adalah buku karangannya sendiri. Ia hanya terkekeh dan tak bisa berbuat apa-apa selain merahasikan siapa orang dibalik buku itu.

*toktoktok

“Assalamu’alaikum”

“Wa’alaikum salam.” Suara pria dari dalam rumah membalas salamnya

“Eni masih ada dirumah om?” Tanya lelaki itu yang sedang terburu-buru. Mungkin kesiangan saat bangun karena begadangnya menulis buku.

“Loh, Eni kan sudah pulang. Baru aja dia diantar Edo ke bandara.” Lagi-lagi lelaki itu menghalangi geraknya untuk mendekati gadis itu. Galuh mungkin hanya terlambat beberapa menit untuk menjemputnya lalu mengantarnya ke bandara. Namun yang menyakitkan adalah ia menyadari, bahwa selama ini hanyalah sebagai peran pengganti Edo. Ia yang kesal kemudian berpamit dari rumah besar itu.

Siang membakar kota selagi lelaki lusuh itu duduk di sebuah kedai kopi didaerah dekat Taman kota. Di keluarkannya rokok kretek dari sakunya. Dihisapnya asap itu dalam-dalam sembari mengingat memori-memori indah bersama gadis itu. Ia hanya bisa mengenangnya. Entah sampai kapan kenangan itu akan selalu mengingatkannya.

“Nih kopinya”
“Kau ini sedang memikirkan apa? Silvia?” Tanya seseorang yang tanpa permisi dan menyodorkan kopi pesanannya. Lelaki itu hanya menghisap rokoknya tanpa mengatakan sedikitpun

“Bang, udah lah lupakan..”

“Aku nggak sedang mikirin Silvia. Lagian tuh cewek siapa? baru kenal kemarin tapi udah sesumbar kalo kita udah jadian.” Sahut lelaki itu.

Galuh adalah lelaki pemikat yang tak mudah terpikat. Bukan karena dia tampan, tapi kumisnya yang tipis dan hidung mancungnya yang acap kali melelehkan hati kaum hawa. Tak sedikit wanita yang jatuh hati ketika melihat cara berbicaranya. Tak sedikit juga wanita yang terpesona dengan gaya berpakaiannya yang jangkis mirip musisi ibukota. Silvia, adalah salah satu dari wanita yang tergila-gila dengan Galuh. Entah ia melihatnya darimana, padahal ia bukanlah seorang konglomerat. bukan juga lelaki tampan mirip artis Ftv. Wajahnya pun begitu kusam, yang entah ia cuci terakhir kali kapan.

“Lalu kalo bukan Silvia siapa dong? si Titin..? kan dia udah menikah.” Sahut lelaki lain berambut pirang yang datang menghampirinya.

“Aaargh.. kalian ini apasih? Aku nggak sedang memikirkan wanita. Sudahlah.” Seloroh lelaki itu sambil mematikan putung rokoknya.

“Oh iya, tadi kamu dicari bang Andri. Belakangan ini nggak nongol kemana? Dia tanya soal bukunya udah siap cetak belum?” Lanjut lelaki berambut pirang itu lalu duduk di sampingnya.

“Minggu depan siap cetak Ben. ini tinggal ku revisi ulang…”
“Bilang ke bang Andri kasih aku waktu 3 hari buat istirahat dulu, nanti setelah jadi ku kabari.” Lanjut lelaki itu lalu pergi meninggalkan kedai tersebut.

“Di rumah ada bir kalo kamu pengen minum. Kelihatan dari wajahmu sedang galau”

Lelaki itu hanya cuek tak mempedulikan celometan si rambut pirang itu.


Back To Beranda
profile-picture
profile-picture
profile-picture
yusufchauza dan 4 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh tuffinks
Dear, Galuh. Gatel banget aye ingin benerin penulisannya emoticon-Hammer
profile-picture
tuffinks memberi reputasi
Quote:


Wkwkwk, banyak kurangnya ya emoticon-Malu
profile-picture
Rapunzel.icious memberi reputasi
Quote:


Gak kok, cuma ilangin tanda kurung aja. emoticon-Blue Guy Peace
profile-picture
tuffinks memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Balasan post Rapunzel.icious
Quote:


Begitu?
Saya mafhum, banyak kurangnya. masih nubi emoticon-raining
profile-picture
Rapunzel.icious memberi reputasi
Quote:


Iyaaah.
Ceritanya udah bagus loh itu
emoticon-2 Jempol
profile-picture
tuffinks memberi reputasi
Quote:


Makasih Eni emoticon-Mewek
profile-picture
Rapunzel.icious memberi reputasi
padahal awalnya sang perempuan tau nama lengkap sang lelaki, tapi kenapa dia gak bisa nebak penulisnya yang namanya secara jelas (G Dipta) mengarah ke sang lelaki? mungkin dia kurang Aqua... well anyway ceritanya bagus... jadi penasaran lanjutannya...
profile-picture
tuffinks memberi reputasi
Quote:


Next, si gadis itu cuma tau kalo cwok yg dia kenal cuman seorang pemalas waktu semasa sekolah dulu. Jadi dia ga yakin kalo cwok yg dia kenal itu seorang pengarang novel. emoticon-Blue Guy Smile (S)
Selamat menikmati jalan ceritanya. Makasih udah mampir emoticon-Add Friend (S) emoticon-Blue Guy Peace
Quote:


Okay... Mainkan brader...
profile-picture
tuffinks memberi reputasi
Salfok sama latar. Malang? Beneran?
profile-picture
tuffinks memberi reputasi
Quote:


Di tunggu ya emoticon-2 Jempol

Quote:


Kenapa sama latarnya? emoticon-Blue Guy Smile (S)
Fiksi kok sist emoticon-Belo
gelap emoticon-Bingung
profile-picture
tuffinks memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Balasan post rahmata.p
Quote:


Apanya yang gelap gan? emoticon-No Hope
Quote:


Ini apa ini? Gak ke-edit keknya

Quote:

Maafkan otakku yang mesum ini emoticon-Hammer
profile-picture
tuffinks memberi reputasi
Quote:


Wah iyaa. Makasih masih emoticon-2 Jempol
profile-picture
angkuedan memberi reputasi
Halaman 1 dari 10


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di